Senin, 12 Juli 2021

Menjadi Single Parent bagi Anak yang Sudah Besar Itu Lebih Mudah, Benarkah?

 

“Untung ya, anak-anaknya sudah besar. Kalau masih kecil-kecil kan repot. Nggak kebayang deh, ribetnya ngurus krucil, sendirian.”

Kalimat seperti itu kerap dilemparkan kepada ibu tunggal yang anak-anaknya sudah melewati masa kanak-kanak. Seakan kondisi anak yang lebih besar membuat ibu tunggal posisinya lebih mudah. Benarkah demikian?

Iya lebih mudah, karena …

1.     1. Tingkat kemandirian anak yang sudah besar, lebih baik

Kita tahu bersama, anak-anak kecil apalagi balita, butuh bantuan dan pengawasan ekstra. Makan masih harus disuapi, mandi harus dimandikan, bahkan mainan bekas mainnya pun seringkali harus dibantu untuk dirapikan. Belum lagi kalau main lupa waktu, kita harus menyusulnya ke rumah temannya. Lain halnya bila anak sudah besar. Biasanya mereka sudah lebih mengerti, lebih bisa dikasih tahu. Hal ini karena tingkat kemandirian yang lebih baik, sehingga anak yang sudah besar relatif lebih terkendali.

2.  2. Penguasaan emosi yang lebih terkontrol

Anak-anak kecil yang keinginannya tak terpenuhi atau berada dalam kondisi yang tidak nyaman, mudah saja mengekspresikan emosi, bahkan di depan umum. Bisa menangis kencang, berteriak-teriak, memukul-mukul, hingga meraung-raung sambil menggelosor di lantai. Pada anak yang lebih besar hal tersebut tidak lagi terjadi, karena mereka lebih bisa mengontrol emosi, dan memiliki rasa malu sehingga tidak menunjukkan sikap mengamuk.

3.    3. Bisa diandalkan untuk membantu pekerjaan rumah

Anak-anak yang sudah besar biasanya cakap melakukan pekerjaan rumah ringan, seperti mencuci piring, menyapu, mengepel, hingga memasak sederhana. Maka sang ibu akan sangat terbantu karena pekerjaan-pekerjaan tersebut bisa didelegasikan kepada anak-anak untuk mengerjakannya. Kalau anak-anak yang kecil memberantaki rumah, maka sebaliknya, anak yang agak besar merapikan. Ini membuat Ibu bisa menarik napas lega.


Nggak gitu ah, karena …

           1.       Masalah yang dialami anak yang sudah besar, lebih kompleks

Sewaktu anak masih kecil, Ibu disibukkan oleh kegiatan-kegiatan yang cenderung menguras tenaga, dalam membersamai anak. Maka lelah yang timbul adalah lelah fisik. Sedangkan anak yang lebih besar, lebih banyak menimbulkan lelah hati bagi Ibu. Masalah seputar anak remaja dan menjelang dewasa menyedot pikiran dan emosi. Menenangkan anak remaja tidak cukup dengan iming-iming permen atau es krim. Butuh tarik ulur perasaan. Alih-alih mengademkan masalah, yang terjadi malah tersulut emosi. Sehingga masalah bertambah runyam. 

2.       Kemampuan mengungkapkan pendapat lebih besar

Bila anak-anak kecil mudah dibujuk dengan kata-kata, maka anak yang lebih besar justru pandai menggunakan kata-kata untuk memprotes atau menyuarakan pendapat. Ibaratnya, Ibu baru saja mengucap sepatah kata, tetapi anak sudah membalas dengan sebaris kalimat. Sungguh ini bisa memancing emosi.

Selain itu, mereka pun butuh penjelasan lebih banyak apabila dilarang atau disuruh sesuatu. Yang terkadang justru Ibu berpikir bahwa seharusnya si anak sudah tahu, karena mereka sudah besar. Alhasil, anak menuntut penjelasan sementara Ibu menuntut pengertian. Akhirnya teperciklah konflik. 

3.       Lebih mendengar orang lain daripada Ibu

Anak-anak yang sudah besar memiliki lingkaran pertemanan lebih kuat. Mereka saling melindungi dan memercayai antarteman. Tidak jarang nasihat Ibu dianggap angin lalu, sedangkan kata-kata teman sangat diperhatikan dan merasuk kalbu.

Apalagi bila anak sudah memiliki pacar. Seperti pengalaman seorang Ibu yang terluka hatinya ketika si anak mengatakan bahwa ia bangun pagi karena ditelpon sang pacar. Padahal dari sebelumnya, Ibu sudah berulang kali memanggil dan mengetuk pintu kamar agar anaknya bangun. Namun ternyata, si anak bangun bukan oleh upaya Ibu yang gigih membangunkan anaknya, melainkan suara pacar yang membangunkan via telpon.

 

Lalu bagaimanakah kiat Ibu tunggal menghadapi dinamika seputar pola asuh dan pola didik anak, ketika anak-anak sudah melampaui masa kanak-kanak? 

Berikut 3 tips yang bisa diterapkan yang dapat menjadi solusi.

Pertama, perkaya wawasan dengan ilmu parenting. Materi-materi ilmu parenting yang informatif bisa didapat melalui web yang memberi porsi pada masalah seputar dunia keluarga. Dengan pendalaman ilmu parenting, akan membuat pikiran lebih terbuka dan mampu memahami masalah yang membelit. Sehingga kemudian dapat dicari jalan keluar yang realistis dan relatif mudah ditempuh. 

Dengan pengayaan ilmu parenting, akan lebih mengarahkan pada upaya solutif dan bukan sekadar mengeluh atas masalah yang dihadapi. Pembahasan dan pemaparan dari para ahli, tentu akan lebih membukakan mata tentang beragam konflik dan intrik yang mungkin terjadi dalam dunia anak serta remaja.

Khusus pada masalah single parent, biasanya ada pembahasan tersendiri. Tips dan kiat ditawarkan sebagai alternatif pemecahan masalah. Misalnya, bagaimana menghadapi stress sebagai Ibu singleparent, cara mengatasi tantangan mengasuh anak bagi single parent, dan lainnya. 

Kedua, menjalankan relaksasi saat kepusingan melanda. Ketika masalah anak bertubi-tubi yang rasanya bikin kepala mau pecah, maka segera lakukan relaksasi agar pikiran dan perasaan lebih tenang dan terkendali. Bisa dengan terapi napas, olahraga ringan, memandang langit, atau hal lain yang membuat pikiran rileks dan hati bahagia. Karena sebagai single parent yang tidak memiliki bahu untuk bersandar, maka praktik relaksasi yang disebutkan di atas, akan sangat membantu.

Terakhir, mendekatlah kepada Tuhan. Senantiasa memohon petunjuk dan bimbinganNya. Tuhan tidak mungkin salah memilih seseorang untuk menjalani hidup sebagai ibu tunggal, maka bergantung kepadaNya adalah pilihan yang harus ditempuh. Kita harus yakin bahwa Tuhan tidak akan pernah membuat hambaNya sengsara dan menderita. Maka masalah yang menimpa, pasti sudah dibarengi dengan solusinya. Hanya saja terkadang kita yang belum dapat menemukan solusi tersebut. Atas petunjukNya, niscaya jalan menuju solusi akan terbuka.

Kesimpulannya, setiap kondisi pasti ada konsekuensi yang mengiringi. Entah itu anak-anak masih serupa rombongan krucil, maupun yang sudah beranjak remaja bahkan dewasa, tidak ada yang disebut lebih sulit atau lebih mudah. Jadi mulai sekarang berhentilah melontarkan pernyataan seperti yang tertera di awal tulisan ini. Kita harus bisa menimbang sesuatu sesuai dengan takarannya.

Akhirnya, mari kita senantiasa menerima dan bahagia dengan kondisi yang ada. Kurangi mengeluh dan kedepankan sikap solutif.

Be a happy Mom! 😊  




Senin, 19 Oktober 2020

Menumpah Amarah kepada Ibu *)

Suatu hari, boleh jadi kau kesal kepada ibumu, merasa tindakannya membuatmu susah. Maka ingatlah, betapa dulu semasa kecil, kau membuatnya jauh lebih lebih susah. Kau sungguh merepotkannya. Tapi ibumu tetap mengurusimu sepenuh kasih dan sayangnya. 

Mungkin kau lantas berkelit, "Siapa pula yang minta dilahirkan? Aku nggak minta menjadi anaknya sehingga harus merepotinya?"

Hey, anak muda.. Kau kira ibumu juga memesan minta kau menjadi anaknya? Tentu kalau bisa memilih, ibumu akan minta anak yang santun, bukan semacam kau yang leluasa bicara tanpa tata krama. 

Hentikan sikap pongahmu. Hingga di ujung waktu, ibumu takkan berkurang cinta dan sayangnya, meski hatinya berdarah-darah tersebab luka oleh perkataanmu. 

Cukuplah kau menuding ibumu sebagai ibu yang tak becus mendidik anak-anaknya sendiri. Segala apa yang dilakukannya tak lain dan tak bukan selalu demi anak-anaknya.

Ada hal-hal yang tak kau ketahui dari ibumu. Mungkin kau mengira salahnya sendiri mengapa memendam masalah begitu rupa. Tapi, senyatanya tak sesederhana itu. 

Tentu saja bukan berarti ibumu ingin disangka sebagai ibu yang hebat. Ia hanya ingin diperlakukan sebagai ibu. 

Semoga kau mengerti. 


*) seperti dituturkan Ibu A kepadaku 

Minggu, 18 Oktober 2020

Berdagang Harus Punya Bakat Dagang?

Selama ini aku selalu ngerasa nggak punya bakat dagang. Begitu juga dengan kakak-kakakku. Mereka berpikiran sama. Maka kalau ada yang mengajak bisnis atau apalah, pasti ciut duluan. Yang ada di pikiran, bakal nggak laku, bakal dikacangin kalau pas promo.

Bukan berarti aku anti banget sama jualan. Pernah juga sih dulu jualan. Pas awal pindah ke Bogor, aku pernah jualan bawang putih, jalan sendiri sampe ke belakang komplek, sambil malu-malu.. hahaa.. Dan itu cuma hitungan hari trus brenti.

Pernah juga pas awal terpuruk dulu, aku jualan baju Keke, nawar-nawarin langsung sama buibu di komplek dan tetangga komplek. Alhamdulillah dibantu sama Bu Wita, Boss Keke di Bogor, lumayan juga pendapatan dari jualan baju itu.. yaa buat menyambung hidup lah.

Trus di Sukabumi, pernah juga jualan tipis-tipis, tapi lupa produknya apaan.. hehe.. saking tipisnya kali ya.. 😁

Tapi sebagai penulis, jelas aku jualan bukuku sendiri. Alhamdulillah ini ngebantu banget buat perekonomian keluarga.. secara cuma jadi guru ya, tau sendiri lah gajinya gimana.. hehe..

Sekarang, aku belum punya buku baru lagi.. huhuu.. hibernasi kelamaan.. sementara kebutuhan terus bertambah. Akhirnya.. pilihanku kembali pada : berjualan. Kali ini aku dapet tawaran untuk memasarkan produk Al-Quran. Ini Al-Quran istimewa yang bisa cetak nama personal di cover depannya. Trus ada kode pewarnaan yang memudahkan buat tilawah dan hapalan.



Aku posting promo produk itu di facebook. Aiih sedih nian.. biasanya aku kalau nyetatus kan yang nge-like ada puluhan hingga kadang lebih dari seratus, eh ini yang ngelike materi jualan aku nggak nyampe 10 orang. Itu pun cuma ngejempol, nggak lanjut ngorder.

Begitu juga di instagram, paling cuma 20-an yang ngasih lope. Dan itu juga nggak pake lanjut ngorder.

Jadi, apa betul ya, harus punya bakat dagang supaya bisa jualan?

Hmm.. setelah aku renungkan.. sepertinya bukan ke arah bakat, tapi yang harus dipunya adalah kesabaran dan ketangguhan. Kalau udah punya itu, pasti bakal jadi pedagang yang ulet, dan tentu hasilnya akan berbanding lurus dengan usahanya.

Awalnya aku pikir, ah udahlah posting sekali, responsnya menyedihkan gitu, nggak usah posting lagi. Tapi setelah kupikir ulang, justru perlu berulang kali. Siapa tahu pas postingan pertama belom tertarik, tapi di postingan aku berikut, orang jadi berminat.

Begitu juga di grup WA. Untuk grup yang bebas membernya berjualan atau promo apa pun, aku mau coba juga posting lebih dari satu kali.

Eh katanya mau come back jadi penulis, tapi malah nyoba mau jualan, gimana nih? Bismillah aja, aku mau jalani. Semoga Allah meridoi. Be a teacherpreneur and writerpreneur.. Aamiin.






Selasa, 15 September 2020

Swab Test, Gimana Rasanya?

Sekarang bulan September. Virus corona masih anteng gentayangan. Kasus pasien positif Covid19 masih terus meningkat. Tapi rangorang tetep juga masih banyak yang abai alias nggak peduli sama protokol kesehatan. Di jalanan banyak yang berkeliaran tanpa masker. Apalagi soal physical distancing, peduli amat dan masa bodo.  

Di tengah situasi yang rawan ini, desakan untuk membuka sekolah kian santer terdengar. Para orangtua, juga siswa, dan tak terkecuali guru, kepingin banget mengakhiri masa PJJ alias Pembelajaran Jarak Jauh alias belajar daring atau online.

Maka dibuatlah aturan ketat buat prosedur menuju sekolah tatap muka. Sekolah harus menyiapkan sarana prasarana yang mendukung pelaksanaan protokol kesehatan sesuai yang digariskan oleh Satgas Gugus Covid19. Selain itu, para guru juga dipastikan bebas dari terpapar virus tersebut.

Metode test yang bisa membuktikan seseorang dinyatakan negatif Covid19 adalah swab test. Sebelumnya sih ada Rapid Test, tapi sekarang Rapid Test dianggap nggak valid buat keperluan itu. Biaya swab test ini jauh lebih mihil dari rapid test yang 'cuma' Rp.150.000,00. Kalau swab test mencapai angka juta gitu deh. Uwow kan..?

Nah, dalam rangka memfasilitasi para guru untuk dapat segera mengetahui kondisi kesehatannya terkait C19, pemerintah memberikan kemudahan dalam bentuk program swab test gratis. Konon cuma bulan ini. Kalau bulan depan baru kepingin ikutan, wah... jatah hangus tuh, dan akan dipersilakan buat bayar sendiri..Uwow lagi, kan..? 

So, aku dan temen-temen guru lainnya pun berangkatlah menuju Labkesda (Laboratorium Kesehatan Daerah). Beberapa di antara kami ada yang ngerasa deg-degan, takut, resah dan gelisah, pokonya semacam gitu lah.. hehe.. wajar aja lah ya.. berbagai pikiran buruk hinggap. Apalagi sebelumnya beredar rumor bahwa swab test ini sakit banget. Apa bener? Baca aja terus ya..



Setibanya di Labkesda, kami registrasi ulang, mencocokkan data yang sudah terdaftar dengan yang ada di sistem. Kami diminta untuk menyerahkan fotocopy KTP dan menyebutkan nomor WA. Setelah itu, antre lagi di meja berikutnya untuk pengecekan akhir. Di meja ini pun kami diberi alat untuk swab test-nya.



Alat swab test yang telah ada di tangan, lalu kita bawa ke tempat pelaksanaan testnya. Jadi tiap orang bawa alatnya masing-masing, nggak akan satu orang menggunakan alat yang sama.

Di ruang pelaksanaan test, aku duduk, sedangkan petugasnya berdiri. Alat swab test dikeluarkan dari wadah. Bentuknya seperti batang yang pipih dengan ukuran kecil. Warnanya putih. Cukup lentur. 

Alat itu kemudian diukurkan jarak dari telinga ke hidung. Hasilnya, sepanjang itulah nanti alatnya dimasukkan ke dalam hidung.



Selesai alat itu dikeluarkan dari hidung, air mataku keluar. Automatically gitu. Bukan sakit, sih. Tapi nggak enaknya tuh kayak kalau berenang trus hidung kemasukan air. Kebayang kan? 



Setelah seluruh proses selesai, sebuah pesan WA masuk. Rupanya ucapan terimakasih dari Pikobar atau Pusat Informasi Jawa Barat Gugus Covid 19. Disampaikan juga bahwa hasil test bisa dilihat di web yang linknya diumumkan di pesan itu.



Jadi ya gitu deh, nggak usah takut sama swab test. Nggak sakit, kok.. :-)  



Minggu, 19 Juli 2020

Nggak Mau Ngasih Judul

Kenapa nggak mau ngasih judul? soalnya selalu judul aku tuh semacam, Gw Come Back nih, atau Ok, Gw mau mulai nulis lagi.. hadeuh.. janji surga banget ituh. Abis postingan itu, nggak ada postingan lagi.. hahaa.. Padahal katanya come back, mau mulai nulis lagi.. maluuu deh..
Jadi, sekarang ya bebas aja lah, nggak pake judul.

Sekarang dah tahun 2020, gaes. Ini tahun yang dulu kayaknya dibayangin gimanaa gitu. Semacam sebuah moment yang akan menghadirkan sesuatu yang wow.. sebuah era baru dengan kecanggihan tekonologi yang makin melesat. Ternyata eternyataa... unpredictable banget! Tapi kalau tentang kemajuan teknologi, iya lah.. Windows entah dah yang keberapa sekarang. Windows 10 mah dah lewaatt. Hokage juga entah dah ada yang ke-9 apa berapa ya.. ^_^

Trus apa dong yang ajaib di tahun ini? Subhanallah... gerombolan makhluk super mini yang nggak kelihatan bentuknya kalau dilihat pake mata biasa, datang menyerbu bumi. Iya, bumi.. sedunia ini. Bukan cuma Indonesia, negeri tercintah inih. Namanya makhluk itu adalah Virus Corona. Dia datang menebar aroma maut. Korban berjatuhan, kasus pasien positif terus meningkat. Sampe-sampe semua warga bumi nggak bisa beraktivitas normal.

Kerja, sekolah, semua dilakukan di rumah. Yah,, lumayan ribet.. tapi, mo gmana lagi.. ya harus dijabanin.Semua pake sistem online. Kecuali fasum yang emang harus tetep eksis ya, macam rumah sakit, apotek, bank, dan pelayanan umum lainnya.

Kurleb dah 4 bulan ini semua mendekem di rumah. Keluar rumah cuma kalau bener-bener urgent banget. Kalau keluar rumah pun harus pake masker buat menghindari penularan virus. Malah selain ada masker, ada juga yang ditambah pake face shield. Itu tuh penutup muka yang kayak tukang las.

Hidup bener-bener harus ngikutin protokol kesehatan yang sesuai dengan masa cepat tanggap covid 19. Itu nama spesifik virusnya, Corona Virus Disease 19. Angka 19 itu menunjukkan tahun kemunculannya pertama kali, yaitu di penghujung Desember 2019. Udah Desember, di ujungnya pula. Pertama muncul sih di Cina, trus rame di Indonesia mah sekitar pertengahan Maret. Biasalah di republik ini mah banyak drama dulu.

Mungkin karena kelamaan, dah berbulan-bulan gini masih aja nggak bisa beraktivitas normal gegara si kopid, akhirnya rangorang mulai males, dan meninggalkan aturan yang ditetapkan protokol kesehatan. Masker dah pada nggak dipake lagi, cuci tangan jarang-jarang, ngumpul-ngumpul jalan lagi, yaa gitu deh pada nggak disiplin.

Banyak pihak yang menyesalkan sikap masyarakat yang kayak gitu. Tapi ya, tau sendiri lah warga +62 ini emang kelakuannya suka ajaib. Belom lagi tingkah netijen di jagat maya, hadeuh... rupa-rupa deh.

Segitu dulu deh, cerita di awal tahun 2020 ini. Awal? Ini kan dah akhir Juli. Bukannya awal tuh Januari ya? hehe.. maksudku awal nulis nulis di tahun 2020, bosque.. :)

Sabtu, 06 April 2019

Kirain Keren

Hai, namaku Kiara. Aku perempuan yang bekerja di sebuah kantor yang menaungi lembaga pendidikan. Tempat kerjaku asik, temen-temennya cucok. Enak lah. Tapi, namanya hidup nggak ada yang sempurna ya, gaes. Yang bikin bètè di kantor tuh justru si bos.

Untungnya temen-temen pada seideologi, jadi kita seru aja kalau ngejulidin si bos. Kebayang kan, udahlah bos nyebelin, trus temen-temen juga bikin spanneng.. Oh, malapetaka itu mah.

Selain ngejulid tentang kelakuan atau kebijakan si bos yang ajaib, kami kadang suka bandingin sama bos di divisi lain. Sementara bos kami nih nurut banget sambil carmuk sama sang bigbos, nah.. Pak Boss divisi lain tuh ada yang selow gitu 'ngelawan' kebijakan bigbos. Wow, kami ngelihat beliau itu semacam tokoh heroik yang keren.

Ditambah lagi, temen kerjaku yang namanya si Ivy, pernah duluu sebelum masuk Divisi ini, jadi anak buah bos yang ntuh. Dan, si Ivy nambah panas suasana deh.

"Pokonya gaes, dulu aku sama bos yang itu mah enak banget. Beliau tuh emang keren. Kalau nggak setuju sama bigbos, ya ngomong langsung gitu. Tak macam bos kita yang sumuhun dawuh."

"nggak ada kamus pelit di bos yang itu mah. Dulu aja aku sama karyawan lain, kalau dikasih bonus, beuh.. barangnya bukan yang murahan, berkelas gitu deh!"

Kurleb semacam itu omongan si Ivy. Beneran bikin nelangsa aku dan temen-temen yang lain. Dan tentu tambah hot ngejulidin si bos.

Laluu.. di penghujung tahun, tibalah bencana itu. Aku dipindah ke Divisi lain.

"Kiaraa.. jangan pindah, please.."

Temen-temen bikin aku baper deh. Mana mau aku meninggalkan temen-temen kerja yang asik kayak si Ivy, dkk. Tapi sistem di kantorku, emang kadang sak'enake dewe. Main pindah-pindahin aja. Katanya sih buat penyegaran. Lingkup kerjanya toh nggak jauh beda.

Satu-satunya yang lumayan menghibur adalah, bos divisi aku yang baru itu orang yang selama ini kami kagumi dan bikin sirik. Yup! Beliau mantan bos si Ivy.  Tapi tetep aja sih, aku rela nggak dibosin beliau asal masih sama-sama bareng Ivy dkk.

Dengan hati pilu, aku pun pindah lah. Sehari, seminggu, sebulan, dua bulan, tiga bulan, aku kok ngerasa bos baru B aja ya. Mana kerennya?

Selanjutnyaa.. udah bukan B aja, tapi menjurus ke ngeselin. Lama-lamaa.. beneran ngeseliin. .

"Ivyyy .. mana bukti omonganmuu..?"

Si Ivy tersenyum kecut. Ekspresinya abstrak. Campuran antara bingung dan nggak enak hati.

"Tapii.. walaupun aku nggak ngomong, kalian semua kan dah lebih dulu bilang beliau itu keren cara mimpinnya."

Iya juga sih, gaes.. Waktu itu kami yang ngelihat dari jauh, dari luar, kok kayaknya info yang nyampe tentang beliau tuh kesimpulannya beliau tegas dan ngga menya-menye.

Mungkin itu ya, contoh nyata dari peribahasa, "rumput tetangga selalu tampak lebih hijau". Ternyataa, giliran masuk ke area rumput itu, rumputnya banyak yang bolong-bolong trus sekitarnya banyak kerikil halus yang bikin nggak nyaman.

"atau jangan-jangan.. dulu kan bos aku tuh belom merit, nah.. sekarang dah punya bini dan beranak, jadinya karakter beliau berubah.."

Hadeuh.. mulai deh, si Ivy absurd...

Senin, 06 Agustus 2018

Tinggal Tulis, Kakaa..

Suatu hari aku baca status temen yang ala-ala curhat gitu. Tulisannya panjaang tapi enak dibaca. Trus aku komen, pingin juga bisa curhat panjang nan keren kayak gitu. Dan jawaban dia adalah kalimat yang aku tulis di judul.

Hahaa.. ngena banget, deh. Betul, kan? ya emang tinggal tulis aja. Nggak usah mikir susah dan njelimet. Nulis mah nulis aja.

Aku sering ngerasa nelangsa.. ngerasa bahwa aku bukan penulis lagi. Mau mulai nulis lagi, duuh.. beraat..

Jadi, nggak usah mikir soal penulis atau bukan. Nulis ya nulis aja. Belajar menulis yang baik-baik. Belajar memaknai hidup dengan sederhana lalu menuliskannya.

Segala yang aku lihat dan aku dengar bisa menjadi bahan tulisan. Adapun yang aku rasa dan alami, tetap masih belum bisa aku ungkap.. masih tersimpan rapi dalam hati.

Next, mungkin bisa aku coba. Perlahan menuliskan apa yang berkecamuk di hati. Entahlah, aku selalu dikepung rasa takut dan khawatir kalau nantinya tulisanku cuma keluh kesah aja isinya.

Anyway, aku bertrimakasih sama kawan yang menginspirasi judul kali ini. Pasti dia nggak ngerasa kalau komennya nge-jleb buat aku.. hehe..

Ya begitulah ya.. perlunya berhati-hati dengan kata-kata. Kadang hal enteng yang kita lontarkan, ternyata lumayan berdampak bagi orang lain. Alhamdulillah kalau dampaknya berupa kebaikan. Tapi kalau menjadi sesuatu yang menyakitkan, duuh.. jangan sampe deh..

Smoga segala apa yang aku tulis, aku ucapkan.. itu nggak meninggalkan apa pun kecuali kebaikan. Aamiin.

Selasa, 31 Juli 2018

Tak Ada yang Abadi

Ini nulis beneran sambil dengerin lagunya Ariel (Noah) yang judulnya "Tak Ada yang Abadi". Walaupun temanya beda sama yang mau aku tulis, tapi seenggaknya kalimat judulnya diulang-ulang terus di reff nya, pas buat ngingetin aku. Emang beneran gaes, tak ada yang abadi.. 😢

Apa sih yang aku maksud? Jadi ini tentang pekerjaan, yang buat aku nggak sekadar sebagai sarana mencari nafkah, mengais rupiah. Tapi sebagai guru, duniaku sama murid-murid aku tuh macam udah jadi bagian dari hidup aku. Mungkin bagian dari jiwa aku juga. Kedekatan aku sama mereka betul-betul udah menyatu rasanya.

Nah, apakah ketidakabadian itu artinya aku nggak lagi menjadi guru? Bukan gaes.. Aku tetep jadi guru, tapi unit kerjaku dipindah. Aku harus berpisah sama murid-murid lamaku yang anak-anak SMP itu. Amanahku tahun ajaran baru ini mengajar di SMA.

Entah mungkin ada yang menyebutku lebay .. tapi meninggalkan SMP teramat sangatlah berat buatku .Oh my Allah.. aku sayaang banget sama mereka. Airmata tumpah ruah mengingat perpisahan ini.

Lagu ini memang menyadarkan kita bahwa tak ada yang abadi. Tapi tetap aja rasanya hatiku masih tertinggal di SMP. Masih timbul pertanyaan, kenapa harus sekarang? Kenapa harus tahun ini? Aku masih ingin membersamai mereka.. satu tahun ini lagi aja. . 😔

Ternyata betul, move on itu susah. Aku masih berurai airmata saat mengingat mereka. Termasuk saat menulis ini.

Tapi seiring suara Ariel yang terus menerus memekik tak ada yang abadi.. yaah aku harus menguatkan hati. Aku harus ikhlas melepas mereka. Walau gimana pun, keadaan nggak bisa berubah. Keputusan sudah ditetapkan, vonis sudah dijatuhkan.

Mungkin ada juga yang bilang, hellow.. anak-anak muridmu itu boleh jadi udah mulai lupa atau merasa biasa aja dengan ketiadaanku di antara mereka. Rasanya aku nggak peduli.. aku tetap kehilangan dan merindu mereka, sangaatt ...

Aku toh bukan malaikat. Aku manusia biasa yang punya emosi sedemikian. Jadi nggak apa-apa lah sesekali meluapkan rasa. Berkamuflase memang kadang membantu, tapi ada masa ketika topengku sedikit terkuak. Pada ketika itu, menulis seperti ini cukup melegakan sejenak.

Tentu aku harus kuat. Masalah semacam ini nggak boleh membuat aku nampak cengeng. Memasuki tempat kerja baru, adalah hal biasa, bukan? Seperti itu rupanya aku harus memaknainya.

Kesedihan ini sama sekali nggak ada hubungannya dengan penolakan atau protes. Aku tau konsekuensi yang harus dilakoni adalah bersedia ditempatkan di mana pun. Tapi gulana hati ini hubungannya dengan hati dan rasa. Itu saja.

Ok, fine.. I'm here now. I'll do my best.. for my new students..

Sabtu, 27 Januari 2018

I'm Back

Judulnya kepedean .. hahaa.. siapa juga yang nungguin..? emang nggak ngarep ada yang nungguin juga sih.. ^_^

Tadi buka blog buku, ya ampun.. ternyata dah setahun nggak nulis di sana. Rasanya tak termaafkan, ya. Jadi inget kata Andi, "Dulu Ibu bilang, nggak mau jadi Asmen Kesiswaan karena nggak mau sibuk banget, sampe nggak sempet nulis.."

Jleb banget, Di! Ternyata setelah nggak jadi Asmen, teuteup aja aku nggak sempet nulis. Pulang sekolah, hanya lelah yang tersisa. Rasanya sih pingin menolak kenyataan kalau ini mungkin tersebab usia. Nggak bisa dipungkiri, menjalani kepala 4, emang jadi cepet capek. Tapi harusnya jangan dijadikan alasan banget, toh orang lain pun sesama kepala 4, banyak yang produktif. Entahlah, kadang aku ngerasa energi melorot terjun bebaass..

Mungkin karena perjalanan masa laluku yang diterjang badai.. tsaaahh.. mulai deh baper. Heup ah, nggak boleh ngerasa jadi orang yang paling malang sedunia. Orang lain banyak juga yang lebih dahsyat badainya.

Tapi, akhir-akhir ini aku jadi orang yang cengeng banget. Kenapa ya, gampaang tumpah air mata. Mungkin juga karena aku nggak punya 'teman'. Aku nggak pernah bisa cerita sama siapa pun, tentang apa yang terjadi di hidupku. Aku mendengar orang-orang menceritakan aneka masalahnya, dan aku tetap bergeming, mulutku terkunci. Bahkan untuk menuliskannya pun aku tak kuasa. Aku ingin mengubur semuanya. Tapi, mana bisa..? Lembaran ingatan tentang itu, selalu saja terbuka kembali ketika ada sesuatu yang sedikit saja nyambung ke arah itu.

Back to kembalinya aku nulis di sini.. hmm.. semoga bisa konsisten. Terbiasa nulis lagi. Kembali larut dalam lautan kata-kata. Setidaknya aku jadi bisa nyicil utang naskahku yang masih belum tergarap. Ya ampuun.. setiap aku melihat nama Mbak editor di sosmed, spontan deg-degan nggak karuan.. hahaa..

Oh iya, belom lagi utang review buku.. hadeuh.. blog bukunya aja belom bisa kebuka. InsyaAllah mau dicicil juga lah ngereview, kalau blog bukunya dah welcome.. hehe..

Pinginnya sih pingin mengurangi aktivitas sama hp juga nih. Buka-buka grup itu nyita waktu banget. Tapi aku ngerasa bukan ngobrol nggak karuan. Terutama di grup penulis sama grup Keluarga Tasaro, itu mah diskusi-diskusinya menggoda banget buat diikuti.

Pada akhirnya, aku pingin bisa menej waktu dengan lebih baik. Pingin waktu yang berkah. Pingin bisa nulis buku yang bermanfaat. Pingin meninggalkan hal-hal yang sia-sia. Pingin jadi orang keren lah yang prestasinya Oke. Aamiin..  
                                                              gambar diambil dari sini

Selasa, 28 Maret 2017

Menolak Cinta = Jahat?

Ya ampuun.. akhirnya aku nemu juga gimana caranya nulis post baru buat blog via hp. Hahaa.. katrok..? Tak apeu lah.. yang penting sekarang dah tahu, moga jadi nggak males nulis. Seenggaknya nggak kudu buka laptop, bisa dari hp aja.

Eh, itu judulnya kenapa gitu? Begini, temans.. tadi pagi ada seorang kawan yang curhat. Usia kawanku itu setengah dari usiaku.. hehe.. Kawanku emang dari berbagai lapisan usia. Malah muridku yang masih belasan usianya, sering kuanggap kawan pula.

Back to curhat tadi pagi, kawanku itu galau tersebab pria yang suka kepadanya. Jadi, ada 2 cowok yang sama-sama serius. Yang dateng belakangan inilah yang bikin galau.

Lelaki pertama udah nancep di hati sih sebenernya. Tapi lelaki kedua ini gayanya gentle sekallee. Baik lah judulnya, pake banget. Secara cinta berat, yaa wajar aja sih kalau dia baik.

Nah, kawanku ngerasa nggak enak hati, mau meng-cut si lelaki kedua, karena emang dia nampak tulus. Lagipula kalau inget sama takdir mah, belum tentu juga kan, kawanku itu akan berjodoh sama lelaki pertama.

Menurut aku sih, harus ada ketegasan dari kawanku itu. Dia tetapkan pilihan dulu. Seenggaknya ada yang di-cut seorang lah, jadi nggak php-in dua-duanya. Lelaki pertama kebetulan beda kota, jadi mereka LDR-an ceritanya, jarang ketemu.

Pas aku bilang supaya kawanku tanya hatinya pilih yang mana, dia bilang "malaikat juga tahuu.. si pertama lah yang jadi juaranya.." Hahaa.. bacanya sambil nyanyi ala Dee yaa.. 😂

Masalahnya, kawanku ngerasa jadi orang paling jahat sedunia, ketika nge-cut lelaki kedua. Aku bilang, nggak lah. Lelaki itu kodratnya dapet 2 opsi : diterima atau ditolak. Sebaliknya, perempuan harus melakukan 2 opsi juga : menerima atau menolak.

Maka, kalau​ jadi laki, ya harus siap ditolak. Itu konsekuensi alam. Sementara perempuan, nggak boleh php, nggak boleh maruk, nggak boleh takut kehilangan fans, maka harus tega nolak cinta. Kan nggak mungkin kita nerima semua laki-laki yang suka sama kita, kan?

Yang penting, cara nolaknya harus bener, bicara baik-baik, dengan halus dan santun. Nggak usah sok kebanyakan fans lah. B ajah.

Aku bukannya menyetujui kawanku itu menjalin hubungan kayak pacaran gitu ya. Tetep aku dorong dia buat istikhoroh. Bermohon yang terbaik sama Allah.

Perkara jadi jahat atau nggak, tergantung niat juga. Tujuan nolak cinta kan bukan untuk menyakiti hati orang. Malah pembelajaran kali ya, dalam proses pendewasaannya. Supaya bisa strong menghadapi kenyataan hidup.. da hirup mah peurih, Jang.. 😁

Semoga lah buat para gadis dan jajaka, dimudahkanNya untuk menggenapkan separuh dien. Terjaga selalu auratnya. Tetap istiqomah dalam akhlakul karimah. Sing saralamet..
ekenapa berasa tua gini ya.. penuh petatah-petitih.. hehe.. bukan tua, ding! Tapi dewasa dan bijaksana.. 😛

Tetap semangat ya, kawan.. semoga yang terbaik untukmu.


Minggu, 12 Maret 2017

Tentang Andi

Awalnya aku nyetatus di fb tentang Andi, cuma murni nyetatus aja. Tapi waktu itu bukan asal nyetatus lah, aku berusaha bikin status yang ada nilai kebaikannya. Nah, saat itu aku menangkap kebaikan dari pembicaraan dengan salah seorang murid, sebut saja Andi.. hehe.. kemudian sebut saja Andi itu menjadi berkelanjutan.

Lalu berselang beberapa kali status, aku kembali posting tentang kebaikan Andi. Dan entah yang keberapa kalinya, temen-temen yang komen menunjukkan rasa sukanya. Makin lama nampak seperti punya fans si Andi ini. Ada yang penasaran, ada yang kirim salam, dan ada yang pingin bisa lihat tampangnya kayak apa.

Aku bilang juga ke Andi tentang reaksi orang-orang itu. Dia senyam-senyum aja.. :)

Trus, kenapa aku pilih nama Andi? Nggak ada maksud apa-apa sih, cuma itu aja yang kepikir tentang nama khas anak laki-laki. Nama yang pasaran, kan?

Dulu waktu awal-awal, si Andi biasanya aku kasih lihat statusku di fb itu. Dia tersipu-sipu seneng gitu.. hehe.. Tapi makin ke sini udah nggak lagi lah. Biar aja semua mengalir.

Kesan yang orang tangkap dari Andi, dia tuh anak yang baik banget. Aslinya nggak terlalu kayak gitu sih.. hehe.. Namanya juga anak beranjak remaja, ya ada aja nyebelinnya, nggak melulu baik. Tapi pada dasarnya dia emang baik, dan pemikirannya dewasa. Otaknya encer pula.

Untuk sekarang ini aku belum mau membuka siapa Andi. Biar aja cuma aku dan Andi sendiri yang tahu. Bukannya sok rahasia, tapi nanti aja lah kalau Andi dah lulus esempe.. hahaa.. masih lama beud.. Sekarang aja Andi baru kelas 7.

Beberapa teman menyarankan supaya kisah Andi ini dibukukan, atau dibikin komik lagi, kayak Hasna. Kepingin sih, tapi masih bingung menentukan konsep. Dan mengeksekusinya butuh waktu.. huhuu.. sibuk mulu.. :(

Sebenernya kemaren udah diajukan konsepnya di audisi naskah Elex, tapi belum berkesempatan lolos. Konon nanti akan diadakan audisi lagi. Semoga nyangkut deh. Atau aku mau lewat jalur reguler aja, mudah-mudahan gayung bersambut.

Untuk balik menekuni pengerjaan satu naskah utuh, duh.. aku butuh energi luar biasa. Pulang kerja tuh bawaannya pingin tidur aja. Belom lagi nemenin anak-anak, rasanya habis waktu. Beneran deh, pingiiin banget bisa menuntaskan satu naskah utuh. Semoga Serial Andi bisa menjadi jalan kearah sana.

Senin, 21 November 2016

Kangen Nulis

Rasanya klise, ketika suatu aktivitas nggak bisa dilakukan lalu alasannya adalah sibuk. Tapi itu memang terjadi sama aku. Seharian dari pagi sampe sore, berkegiatan di sekolah, pulang ke rumah tinggal capek.

Padahal aku kangen nulis. Kangen yang sebenar-benarnya. Maka aku iri sama temen-temen yang bertaburan karyanya dimuat di media, atau menang lomba menulis ini dan itu.

Sebenernya sih nggak muluk-muluk, asal bisa rutin nulis di blog aja, aku udah seneng. Lha, ini mah blog sampe dah berdebu, berlumut, bahkan banyak sarang laba-labanya gini.

Terakhir nulis ternyata bulan September, dan sekarang November. Oh, tidak.. selama bulan Oktober samsek nggak nulis. Gimana bisa bernapas panjang ngenovel lagi. Atau bikin komik lagi.

Setiap ada yang menanyakan kapan buku baru akan terbit, rasanya tertonjoq. Kepingiin.. namun apa daya..

Pingin lanjutin novel Zia, pingin bikin komik lagi, pingin ngeresensi lagi, pingin nyerpen dewasa lagi pun..

Cuma segitu sih, tapi syussyahnyeu..

Mau nulis sekuel Zia aja, malah banyak ragu-nya. Takut mengecewakan gitu. Soalnya Zia dapet award, jadi seenggaknya kualitas tulisan nggak boleh nurun. Dan justru aku takut tulisanku malah garing.. huft..

Buat komik, aku dah siapin bahan referensinya. Bela-belain beli dengan harga berjuta-juta. Tapii.. belom mulai juga.. :(

Tapi, mungkin betul kata temenku, kadang sesuatu itu ada masanya, dan kita harus rela menerimanya. Dan aku belum bisa. Hati kecilku menolak kenyataan bahwa aku sekarang memiliki keterbatasan terkait kondisi kesehatan fisik dan psikis. Itu kadang bikin stress. Betapa nggak? pingin nuliiss, tapi mata terus memberat.

So, niat harus lebih kenceng lagi kayaknya. Kemaren itu pernah ada tugas bikin cerpen anak, dan dalam waktu relatif singkat, aku bisa menuliskannya. Langsung di-acc pula. Terbukti, kalau sungguh-sungguh mengerjakan, ada 'tangan' Tuhan yang membantu.

Jumat, 09 September 2016

Pemuda Harapan Bangsa

Kalau sekarang aku ngelihat anak-anak muda yang aktif berorganisasi, pinter bicara di hadapan publik, terampil meng-organise event-event, mumpuni dalam lomba-lomba, fasih dalam ajang debat, apalagi kalau cas-cis-cus in English.. wah, rasanya bener-bener pingin kembali ke masa lalu. Pingin banget aku menjadi bagian dari mereka. Duh, aku dulu ke mana aja, ya..? Padahal rasa-rasanya sih aku punya potensi ke arah sana, tapi sayangnya nggak tereksplor. Huft.. sudahlah, hidup dimulai saja dari sekarang.

Rasa kagumku sama anak-anak muda yang aku sebutin itu pasti langsung muncul saat melihat kiprah mereka. Otomatically gitu deh. Sambil terkagum-kagum, aku juga bahagia melihat generasi muda yang keren banget macam itu. Bukannya sok tua.. emang udah tua.. hahaa.. eits! enggaklah, I'm still young, meski bilangan usia terus merambat naik.. :P

Selain itu, selalu juga terlangitkan berjuta harap agar anakku seperti mereka. Anak-anakku, Ghulam, Zidan, Nadia, Salman, mengisi hidupnya, masa mudanya dengan beragam hal yang positif dan mendorongnya untuk berkembang menjadi pemuda muslim yang cerdas dan berkualitas. Semoga.. semoga.. semoga..

Nah, ketika sekarang aku menjadi wakasek bidang kesiswaan, aku semangat pingin mengikutsertakan anak-anak Adzkia dalam lomba-lomba, agar mereka terasah potensi dan pengalamannya. Soal menang atau kalah, urusan belakang lah. Nothing to loose.

Belum lama ini datanglah surat undangan untuk mengikuti lomba dari SMA Al-Bayan, Cibadak, Sukabumi. Itu boarding school khusus ikhwan yang aku dengar prestasinya berderet-deret. Karena penyelenggaranya sekolah tepercaya, maka aku antusias mendaftarkan anak-anak Adzkia buat ikutan lomba di sana. Nggak semua matalomba ikut sih, cuma MHQ sama nasyid aja.

Sebelum hari 'H', seperti biasanya sebuah event lomba, ada technical meetingnya dulu dong. Aku pun datang ke sana. Lokasinya agak masuk ke perkampungan gitu deh. Biasa lah ya.. pesantren/boarding school letaknya jauh dari keramaian. Kayak Lazuardi, sekolah anakku dulu.

Begitu memasuki gerbang, berjejer anak-anak SMA nya menyambut. Mereka menunaikan 5S.. senyum, sapa, salam, sopan, santun. Dari wajah-wajahnya terpancar aura positif. Enak banget ngelihatnya.

Saat aku turun dari motor, mereka sigap menunjukkan aula tempat technical meeting. Dengan ramah pula mereka mengantarkan aku. Dalam gedung aula, acara baru dimulai. Aku menyimak satu demi acara. Melihat cara anak-anak muda itu bicara. Ketua pelaksana, penanggung jawab acara, dan jajaran panitia lainnya, terampil berbicara di depan umum. Nggak semua sih, tapi yang dah bisaan itu, bagus banget. Suka ngelihatnya. Duh.. semoga anakku juga bisa kayak gitu.

Sampai akhir acara, aku merasa nyaman berada di sana. Rasa optimisme memenuhi dada. Kalaulah para pemuda kita seperti itu kebanyakannya, maka amanlah negeri ini di masa datang. Dan besar harapanku juga, mereka kelak ketika berada di dunia nyata, di tengah-tengah masyarakat, tetap menjunjung tinggi idealisme yang mereka anut sekarang.

Yuk, para guru dan orangtua, sebagai pendidik generasi yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan negeri, mari kita kawal dan beri ruang untuk anak-anak berpikir kreatif, mandiri, juga bertanggung jawab. Semoga bertumbuhlah di tengah kita, para pemuda harapan bangsa, yang membawa perubahan menuju Indonesia yang hebat dan bermartabat.

gambar diambil dari sini





Selasa, 06 September 2016

Ibu, Sang Pembela

                 Di sekolah tempat saya mengajar, diberlakukan aturan larangan membawa handphone. Hal ini agar anak-anak bisa terlepas dari ketergantungan pada hp, serta menumbuhkan sikap tanggung jawab dan kemandirian. Karena biasanya orangtua bersikukuh membekali hp pada anak-anaknya dengan alasan agar anak mudah dipantau, terutama saat jam pulang. Wah, kalau anak selalu dikuntit orangtua terus, kapan anak belajar mandiri dan tanggung jawab? Tanpa hp, diharapkan anak akan tumbuh sikap tanggung jawabnya untuk bersegera pulang ketika jam pulang sekolah, sehingga orangtua tidak khawatir. Maklumlah, full day school kan pulangnya sore. Kalaupun anak ada kegiatan selepas jam pulang, maka anak harus punya kesadaran untuk memberitahukannya kepada orangtua, sebelum berangkat sekolah.
                 Eh, bukan berarti sama sekali nggak boleh bawa hp. Kalau memang ada hal yang urgent, boleh aja bawa hp. Tapi orangtua harus meminta izin dulu kepada walikelas atau wakasek kesiswaan. Dan selama berada di sekolah, hp harus dititipkan kepada walikelas atau Kesiswaan. Baru boleh diambil ketika akan pulang.
                 Nah, kemarin diadakan razia hp. Saya dan Divisi Kedisiplinan OSIS bergerak memasuki kelas-kelas, saat jam sholat dzuhur dan asar. Jadi ketika kelas kosong karena anak-anak berada di masjid, kami menggeledah isi tas nya. Dan.. ditemukanlah beberapa hp.
                 Sebagai wakasek bid. kesiswaan, saya menyita hp-hp tersebut. Anak-anak tidak bisa langsung mengambil hp miliknya pada sore itu, saat mereka akan pulang. Tapi hp baru bisa diambil esok hari, dan yang mengambil harus orangtuanya.
                 Anak-anak tersebut bisa menerima konsekuensi itu, karena mereka tahu telah melanggar peraturan sekolah. Namun ada 1 anak yang sangat gelisah dan menginginkan hp-nya kembali. Anak ini memang salah satu target razia kali ini, karena beberapa hari lalu diduga sering membawa hp dan tidak dititipkan ke walikelas atau Kesiswaan.
                 Dia datang kepada saya sambil merengek minta diizinkan untuk mengambil hpnya. Alasannya, ibunya sedang berada di luar kota. Kalau nanti ibunya menghubungi, dia nggak angkat hp, nanti ibunya khawatir. Saya bilang, nggak masalah. Ibunya akan saya hubungi untuk dikabari bahwa hp anaknya sedang disita, jadi tidak bisa dihubungi dari sore itu hingga esok hari.
                 Saya pun menelpon ibunya. Tampak ibunya kaget dan reaksi spontannya langsung ingin melindungi sang anak. Sang ibu tahu, anaknya pasti sangat menginginkan hpnya kembali. Ia pun beralasan bahwa saat itu ia sedang berada di Jakarta untuk suatu urusan, maka nanti bila ingin menghubungi anaknya tentu sulit.
                 Duh, rempong betul, pikir saya. Padahal ayah anak itu ada di rumah, kan ibunya bisa menghubungi lewat si ayah bila ingin mengetahui keadaan putra tercintanya.
                 Saya tegaskan pada ibu anak itu, bahwa peraturan sekolah berlaku untuk semua anak. Jadi tidak mungkin anaknya mendapat perlakuan istimewa dengan diperbolehkan langsung mengambil hpnya sore itu, tanpa orangtua pula. Semuanya baru bisa diambil esok hari oleh orangtua.
                 Ibu itu pun lalu bilang, "Anak saya nggak biasa bawa hp. Cuma tadi pagi itu memang saya yang suruh, karena saya mau ke Jakarta, jadi supaya saya bisa gampang menghubunginya."
                 Saya tertegun. Duhai, demikanlah seorang ibu. Betapa ia langsung muncul sebagai pembela anak, padahal ia tahu anaknya bersalah.
                 Anak itu sudah beberapa hari lalu diduga sering bawa hp. Ada beberapa saksi mata tepercaya yang melaporkan kepada saya. Jadi tidak mungkin ketika ibunya bilang bahwa anaknya tidak biasa bawa hp. Itu mah ibunya aja yang nggak tahu. Terbukti, laporan para saksi mata itu benar, dengan ditemukannya hp sang anak di dalam tasnya.
                Ibu itu masih agak berdalih lagi namun saya berusaha tetap konsisten. Kemudian ia ingin bicara dengan anaknya. Saya bilang, "Ada pesan apa, Bunda? Nanti saya sampaikan." Saya pikir, urusan akan tambah panjang kalau pake acara ngobrol dulu antara ibu dan anak tersebut. Akhirnya, sang ibu menitipkan pesan agar anaknya nanti ketika tiba di rumah, untuk segera menelpon ibunya. Lalu sang ibu meminta maaf kepada saya, dan saya pun segera menyudahi pembicaraan.
                Sang anak tertunduk lesu. Lunglai ia berjalan pulang.
                Begitulah para ibu. Acap menunjukkan sayang yang berlebih, namun sesungguhnya ditempatkan pada porsi yang tidak tepat.
                Mari bijaksana menyayangi anak!
gambar diambil dari sini



Rabu, 29 Juni 2016

Tentang Tangguh

Ada rekan kerja saya, namanya Bu Irma. Pembawaannya tenang, lembut, pokoknya super kalem. Amanah kerjanya cukup besar. Tanggungjawabnya adalah QA Kurikulum. Saya sungguh kagum melihat sikapnya, meski kadang greget juga sama ketenangan sikapnya. Soalnya kalau saya mungkin dah pingin mrepet sana-sini, tapi beliau tetap cool abizz..

Bu Irma nggak tau kalau saya diam-diam adalah pengagumnya. Sampai suatu ketika saat bukber, kebetulan saya dan Bu Irma lagi 'cuti', jadi tinggal kami berdua di meja karena yang lain sedang sholat magrib. Saya bilang, "Pingin lihat deh, paniknya Bu Irma kayak gimana?" Bu Irma cuma tersenyum lalu menutup muka. Ia merasa malu karena saya memujinya.

Tak lama, datanglah Ibu owner, yang juga ternyata sedang 'cuti'. Saya tanya sama beliau, "Bu, pernah melihat Bu Irma panik, nggak?"

Bu Irma lagi-lagi tersipu lalu menutup muka. Sedang Bu owner pun tersenyum bijak lalu memandang saya. "Bu Irma ini orang hebat. Beliau selalu berusaha melakukan the best that she could. Setelah segala upaya dilakukan, ia akan berserah. Jadi baginya, tak ada alasan untuk bersikap panik."

Saya tercengang. "Saya belum nyampe ke maqom itu."

Bu Irma tersenyum. "Subhanallah, sungguh betapa maha hebatnya Allah yang telah menutup aib-aib saya, sehingga yang tampak di mata Bu Linda seolah-olah saya begitu baik. Padahal mah ..."

Bu owner menanggapi. "Bu Irma pandai menyembunyikan apa yang tengah bergejolak, sehingga semua nampak adem ayem."

Pembicaraan terhenti. Teman-teman yang selesai sholat magrib mulai berdatangan. Tak lama kemudian kami selesai bukber dan keluar dari resto menuju tempat parkir. Dalam perjalanan menuju tempat parkir itu, Bu owner menjejeri saya. "Ada wanita-wanita yang diuji demikian berat. Seperti Bu Irma. Tapi beliau mampu menerimanya dengan sabar. Maka Allah menganugerahkan ketangguhan baginya."

Saya tercenung. Bu owner melanjutkan, "Selain Bu Irma, ada juga yang lain kan?" Saya mengangguk, teringat cerita beliau tentang salah seorang rekan yang mengalami perpisahan dalam rumahtangganya.

"Demikianlah setiap orang mendapat ujian yang berbeda-beda. Bukan kita yang menentukan apakah ujian si A lebih berat dari si B, atau sebaliknya. Karena masing-masing sesuai kadar beratnya dengan kesanggupan yang sudah terukur oleh Allah, nihil salah," lanjut Bu owner. "Dan Bu Linda juga. Wanita tangguh lainnya yang saya kenal." Bu owner lalu membuka pintu mobil dan duduk di balik kemudi, siap membawa kami pulang.

Saya pun mengulang kata-kata Bu Irma.. "Subhanallah, sungguh betapa maha hebatnya Allah yang telah menutup aib-aib saya.."

sumber gambar
Semoga menjadi doa.. saya benar-benar tangguh menjalani sisa hidup ini. Mendampingi anak-anak dengan segala problematikanya. Menekuni pekerjaan dengan segudang amanah yang besar. Menjadi wanita shalihah dengan akhir yang baik...

Minggu, 26 Juni 2016

Perjalanan Cinta

       Usiaku terpaut sepuluh tahun dengan suami. Ia seorang yang berwibawa dan.. ganteng. Itu salah satu hal yang membuatku bersedia dijodohkan dengannya. Maklumlah, remaja putri seusiaku biasanya masih mengandalkan wajah rupawan untuk cowok idaman. Di penghujung masa SMA, seorang lelaki mapan dan ganteng sudah menungguku. Siapa tak bangga? Maka tak lama selepas kelulusan SMA-ku, segera aku beranjak ke pelaminan.
Gambar diambil dari sini
       Hari-hari bergulir. Aku mulai merasakan getir karena suamiku ternyata seorang yang kaku dan dingin. Sikapnya sangat komandan. Pendapat dan kehendaknya harus selalu diikuti. Otoriter sekali.
Gambar diambil dari sini
       Demikian seperti itu hingga tahun demi tahun berganti. Anak-anak mulai hadir menghangatkan keluarga. Merekalah pelipur laraku.
       Keinginanku untuk bisa bermanja-manja selayaknya seorang istri kepada suami, mulai menipis. Sudahlah, suamiku memang sepertinya tak pernah menganggap penting hal itu. Baginya, memenuhi segala kebutuhanku dan anak-anak, sudah cukup. Kadang terlintas di benak, apakah ia mencintaiku?
       Berbilang tahun kemudian, Alhamdulillah kami berkesempatan pergi umroh ke tanah suci. Saat tiba di Mekkah, kakiku yang memang kerap bermasalah, mulai beraksi. Ketika akan melaksanakan sa’i (lari-lari kecil antara bukit Shafa dan Marwah), rasanya aku benar-benar nggak sanggup, bahkan hanya untuk sekedar berjalan sekalipun. Lalu suamiku sibuk mencarikan kursi roda. Kebetulan saat itu banyak jemaah yang menggunakan kursi roda. Sulit sekali mencari kursi roda yang kosong. Suamiku tampak kalang kabut. Akhirnya setelah berhasil mendapatkan, ia bersungguh-sungguh mendorongku dengan kursi roda. Ia menolak tawaran jasa pendorong kursi roda.
       Selanjutnya, suamiku tiada kenal lelah, dengan setia selalu mendorongku dengan kursi roda, kemana pun kami pergi.  Kebetulan pihak hotel menyediakan. Suamiku selalu tampak khawatir bila aku bilang ingin mencoba berjalan. Pada saat itulah aku merasakan tatapannya yang penuh cinta. Aku bisa merasakan cintanya yang begitu dalam. Ia sungguh menjagaku dengan segenap jiwanya.  Itu membuatku meleleh. Perjalanan ibadah agung itu pun kemudian menjadi perjalanan penuh cinta. Aku merasakan suamiku sungguh mencintaiku. Dan betapa itu sangat berarti bagiku.
       Setelah pulang kembali ke tanah air, hatiku lebih cair. Aku tidak lagi merasa kesal dengan sikap kakunya. Aku tahu, ia mencintaiku, dengan caranya sendiri.
Gambar diambil dari sini

*diangkat dari kisah seorang teman baik* 


 



Selasa, 10 Mei 2016

EUFORIA 30 JUTA



BURUNG KOLEANGKAK MINTA HUJAN *)
(Ditulis kembali dari cerita rakyat Banten)

“Beberapa hari ini, kulihat kau termenung saja. Mengapa?” Seekor burung koleangkak bertanya kepada kawannya yang bertengger tak jauh darinya.
“Yaah... ada sesuatu yang kuinginkan,” jawab burung koleangkak yang ditanya. Ia menghela napas. Kepalanya terangkat, bulu-bulu lehernya yang putih keperakan berkilau tertimpa cahaya matahari.
“Apa lagi yang kau inginkan? Kau burung koleangkak paling cantik. Banyak yang iri padamu. Hmm... terkadang aku juga.”
Burung koleangkak cantik terdiam. Di benaknya masih terbayang sosok manusia yang menurutnya adalah makhluk paling cantik. “Aku ingin menjadi manusia,” desahnya.
“Ah, kau tak pernah puas dengan apa yang telah kau miliki.” Ditinggalkannya burung koleangkak cantik itu sendiri.
Sepeninggal kawannya, burung koleangkak cantik itu menguatkan hati untuk menghadap Dewa. Ia kumpulkan kekuatan untuk memberanikan diri bermohon kepada Sang Dewa demi mewujudkan keinginannya. Dan ternyata Dewa mengabulkan keinginannya. Betapa bahagia membuncah di hati.
“Tapi ada sesuatu yang harus kau tahu.” Dewa mengajukan syarat.
“Saya siap mendengar,” sahut burung koleangkak. Binar matanya yang cemerlang menunjukkan rasa ingin tahu.
“Saat kau tiba di akhir hidupmu kelak, kau harus diperlakukan sebagaimana jenazah manusia, dan disegerakan pengurusannya. Setelah itu kau akan kembali menjadi burung koleangkak.”
Setelah Dewa berucap demikian, burung koleangkak merasakan tubuhnya bergetar. Perlahan helai demi helai sayap eloknya menghilang, dan wujudnya berubah menjadi seorang perempuan. Burung koleangkak merasakan hatinya bergemuruh. Kini ia menjadi seorang manusia. Tubuhnya yang semampai dengan wajah bak purnama, dihiasi oleh bibir yang memerah delima, pipi seranum apel, dan mata bersinar secerlang bintang kejora. Kecantikan itu semakin purna dengan rambut legam tergerai bagai mayang terurai.
Tak henti ucapan terima kasih disampaikannya kepada Dewa. Namun tak lama kemudian ia kembali mengajukan permohonan. Ia ingin ditemani seorang anak. Dewa mengabulkannya. Seorang gadis kecil hadir di hadapannya. Tapi lagi-lagi Dewa menyebutkan sebuah syarat, berupa pantangan yang harus dihindari anak semata wayangnya. Jelmaan burung koleangkak menyanggupi.
Setelah itu dimulailah hari sang burung sebagai manusia. Tanah Banten menjadi tempat hidupnya.
Ia melihat orang-orang bekerja sebagai buruh tani untuk mendapatkan uang. Maka ikutlah ia menjadi buruh tani. Namun karena kecantikannya, ia dimusuhi teman-temannya sesama buruh. Ia lebih banyak dibebani pekerjaan. Tidak ada daya baginya untuk melawan. Semua bersekongkol membuatnya susah.
Dengan hati perih, ia pindah ke desa lain bersama anaknya. Sebuah desa nelayan. Ia kemudian menjadi pembantu pada seorang juragan ikan. Dan keadaan yang sama seperti di desa sebelumnya, terulang lagi. Ia dimusuhi dan dicurigai akan merebut perhatian mandor karena kecantikannya. Maka, dengan perasaan remuk redam, ia kembali pindah ke desa lain.
Di desa yang baru, ia berusaha mencari pekerjaan baru. Namun ia selalu disergap rasa takut, sehingga tak ada satu pekerjaan pun yang dilakoninya. Lantas ia memilih mencari kayu bakar di hutan lalu menjualnya di pasar.
Dengan pekerjaan kasar nan berat, kecantikannya kian memudar. Namun ia merasa lebih bahagia karena tidak ada yang memusuhi. Ditambah lagi anak semata wayangnya demikian sayang dan cinta kepadanya. Ia anak yang baik, patuh, dan rajin membantu.
Meski orang-orang tidak memusuhi, namun mereka tidak terlalu memedulikannya. Jelmaan burung koleangkak itu hanya dikenal sebagai janda miskin, karena ia datang beserta anak tanpa suami. Tetangga bersikap acuh tak acuh saja. Mereka tidak begitu suka pada orang baru. Ditambah status janda membuat orang menjaga jarak. Tapi ada satu tetangga yang selalu bersikap baik kepadanya. Seorang petani dan istrinya. Keduanya kerap memberikan nasi dan lauk pauk seadanya bila dilihatnya janda miskin itu tak punya makanan. Sayangnya, tetangga yang baik hati itu kemudian pindah ke desa lain yang jauh, karena orangtuanya sudah renta dan butuh ditemani.
Sekian tahun berselang, janda miskin jelmaan burung koleangkak berjumpa lagi dengan tetangganya yang baik itu.  Petani sederhana itu telah berubah hidupnya menjadi petani kaya raya. Bakti dan cintanya kepada orangtua, mengantarkan usaha taninya menjadi sukses. Keikhlasannya mengurus orangtua yang sudah renta hingga akhir hayatnya, melahirkan keridhoan orangtua. Ridho orangtua itu berbuah kemudahan-kemudahan dari Tuhan. Panennya melimpah dengan hasil yang baik. Hasil taninya laris di pasaran.
“Wah, aku hampir tidak mengenali sampeyan!1” Janda miskin itu menatap takjub pada petani, tetangganya dulu. Matanya tak berkedip memandang baju petani yang berhiaskan sulaman emas dan kancing perak.
Petani itu tersenyum. Lalu matanya tertuju pada kayu bakar yang teronggok di samping kaki si janda yang tak beralas kaki. “Masih berjualan kayu bakar?”
Janda miskin itu mengangguk lesu. Namun secepat sambaran elang, ia menjawab, “Ya, hidupku masih begini. Tapi aku tetap bahagia. Meski aku tak berharta, namun aku punya satu harta yang tak ternilai.”
Sang petani mengernyit. Sambil membetulkan letak kain sutra yang menyampir di pundaknya, ia bertanya, “Maksudmu?”
“Anakku. Dia harta yang paling berharga. Kelembutan hati dan keindahan perangainya senantiasa membuatku bahagia memilikinya.”
“Aku ingin bertemu putrimu. Tentu ia telah menjadi gadis dewasa sekarang.”
Tak berapa lama, seorang gadis menghampiri. Tangannya yang satu memikul seikat kayu bakar, dan satunya lagi bersiap menenteng ikatan kayu bakar yang ada di dekat kaki si janda. “Aku bawa sekarang ya, kayu-kayu ini.”
“Nah, ini putriku.” Ucapan tersebut menghentikan gerakan si gadis. Ia menoleh ke arah ibunya. “Nok 2, ini tetangga kita dulu. Tetangga yang selalu baik kepada kita.”
Si gadis melihat sejenak, lalu bibir tipisnya melengkungkan senyum. Ia segera mencium tangan si petani sambil mengucap salam penuh khidmat.
“Putrimu cantik. Cocok rasanya dengan putraku.”
Semburat merah jambu tampak di wajah gadis itu. Ia teringat putra tetangganya yang tampan. Sambil tersipu, ia mengucap salam, kemudian berlalu seraya mengangkut kayu bakar.
Petani itu kembali mengutarakan niatnya. “Aku ingin mengambil menantu, anak gadismu.”
 “Oh, terima kasih sudah menjatuhkan pilihan pada putriku. Tapi bagaimana dengan putra sampeyan?” Janda miskin itu menundukkan kepala. Kain penutup kepalanya yang usang jatuh menjuntai.
“Aku yakin putraku setuju dengan pilihanku. Seorang gadis cantik nan lembut dan berbudi.”
Lega hati Si Janda Miskin mendengar jawaban tersebut. Namun kembali mendung nampak di wajahnya. “Bagaimana dengan keadaanku yang miskin? Kami masih tinggal di gubuk yang dulu.”
Sebaris senyum tulus tersungging di wajah Si Petani. “Tidak usah khawatir. Aku memaklumi keadaanmu. Tidak penting beunghar3, yang penting mah bageur4.”
Kesepakatan pun dicapai. Pertunangan dilangsungkan tak berapa lama kemudian. Putra petani jatuh cinta seketika kepada putri koleangkak. Kecantikan serta kelembutannya telah menawan hati sang putra petani. Tanggal pernikahan ditentukan beberapa bulan kemudian.
Setelah kembali pulang ke desanya selepas acara pertunangan, janda miskin dan putrinya menjalani hari-hari seperti biasa. Hingga pada suatu hari, janda miskin itu jatuh sakit. Putrinya dengan telaten menemani dan melayani.
Nok, Ibu ingin makan pisang.”
Gadis yang baik itu menatap ibunya penuh kasih. Ia tidak ingin menampakkan keresahan hatinya, karena tidak ada uang untuk membeli pisang.  Namun ibunya bisa memahami arti helaan napas panjang putrinya.
“Tidak ada uang ya, untuk membeli pisang?”
Gadis itu mengerjapkan mata. Setitik bulir bening membasahi pipinya. Ia ingin sekali memenuhi keinginan ibunya tercinta. Seketika bibirnya melengkungkan senyum manis, penyejuk hati ibunya.
“Tak apa, Mak. Aku bisa minta kepada tetangga. Siapa tahu ada yang punya dan mau memberikannya kepada kita.”
Ibunya mengangguk. Matanya sendu mengiringi putrinya yang beranjak menuju keluar, menemui tetangga.
Dari rumah ke rumah, gadis baik hati itu berkeliling. Namun tak ada seorang pun tetangga yang berkenan memberinya pisang. Gadis itu pun berjalan lunglai, pulang dengan tangan hampa.
“Maafkan aku, Mak. Tak ada pisang untuk emak. Mungkin ada baiknya aku pergi ke rumah calon mertua. Mereka orangtua yang baik hati. Tentu tak berat bagi mereka memberikan sebuah pisang untuk emak,” usul gadis itu.
Ibunya menggeleng lemah. “Jangan, Nok. Rumah besan terlalu jauh dari sini.”
Gundah hati gadis itu. Rumah calon mertuanya memang jauh. Bagaimanalah nanti bila ia pergi ke sana? Siapa yang akan menemani ibunya?
Akhirnya ibunya terlelap di atas bale-bale reyot di sudut kamarnya. Gadis itu ikut rebah di sampingnya, menjaganya. Angin semilir menyelusup melalui lubang-lubang di bilik kamar. Seekor cicak tanpa buntut mengendap-endap hendak memangsa nyamuk di dekatnya.
Menjelang tengah malam, gadis itu terjaga. Segera dilihatnya ibunya. Anehnya, napas ibunya tak terlihat turun naik. Ia segera mengamati lebih saksama. Ternyata tubuh ibunya telah dingin. Seketika menjalar rasa perih menusuk hati, karena ditinggal pergi untuk selamanya oleh ibunda tercinta. Matanya mendanau. Kemudian pipinya membasah. Airmata menderas mengiringi pilu hatinya.
Mak, jangan pergi. Jangan tinggalkan aku. Perpisahan ini terlalu cepat. Aku ingin emak menyaksikan pernikahanku. Aku ingin emak merasakan bahagiaku bersama suamiku nanti. Mak, aku rinduu... aku rindu belaian sayang emak.. aku rindu nyanyian merdu emak...”
Gadis itu merintih dalam kesenyapan. Dengan hati hancur, ditutupnya jenazah ibunya dengan tikar. Ia terus menangis sepanjang malam. Lalu ia mendatangi tetangga mengabarkan wafatnya ibunya. Namun tetangga tak ada yang peduli. Gadis itu tak berputus asa. Ia tetap berharap ada yang tergerak hatinya untuk mengurusi jenazah ibunya, namun harapannya tak terkabul.
Saat fajar menyingsing, gadis itu tidak mendengar suara-suara kemerosak dari tempat jenazah ibunya dibaringkan. Ia baru pulang ketika sinar sang raja siang mulai menampakkan diri. Gegas ia menuju jenazah ibunya. Namun betapa terkejutnya ia, saat membuka tikar penutup jenazah, ternyata ibunya telah raib. Dengan pikiran bagai benang kusut, ia mencari ke seluruh pojok tempat di dalam gubuknya, namun hasilnya nihil.
Lunglai kakinya melangkah ke luar rumah. Mendung menggelayut di wajahnya. Ia duduk bersimpuh di dekat pohon randu besar di halaman gubuknya.
Dalam gulana yang menyekapnya, ia mendengar suara dari atas pohon randu besar. Seekor burung koleangkak hinggap di sana dan terus menerus bernyanyi melantunkan kata-kata yang menyayat hati.
Koleangkak! Anak, ulah sok ceurik cumeurik, tuturkeun kalangkang indung.”  (Koleangkak! Anak, berhentilah, jangan menangis terus menerus. Ikutilah bayangan Ibu)
Gadis itu menoleh ke kiri dan ke kanan, tak ada orang. Lalu nyanyian burung koleangkak di atas dahan pohon randu kembali terdengar. Gadis itu menengadah, mencari asal suara. Tampaklah seekor burung koleangkak yang memandang kepadanya dengan pandangan kasih sayang seorang ibu. Sejenak ia terpaku. Dipandangnya burung itu. Lalu yakinlah ia, bahwa burung koleangkak itu adalah jelmaan ibunya.
Burung koleangkak itu terus menerus bernyanyi. Ia berharap anaknya mengikuti apa yang diucapkannya. Dan gadis itu mulai beringsut. Ia melangkah mengikuti bayangan burung itu. Meski sang burung terus saja terbang dari pohon ke pohon, ia tetap mengikuti tanpa menghiraukan rasa lapar dan dahaga yang menyerang.
Akhirnya, tibalah burung koleangkak di desa petani, calon besannya. Ia hinggap di atas pohon randu, dekat rumah bakal mertua anaknya. Di sana ia bernyanyi. “Koleangkak! Ki Warang.. Koleangkak! Nyi warang.. Geus sakieu bagja kula. Anak mah, nyerenkeun bae.” (Koleangkak! Ki Besan.. Koleangkak! Nyi Besan.. Telah cukup kebahagiaanku. Kuserahkan saja anakku kepada kalian)
Suami istri petani itu saling pandang. Keduanya merasa heran. Suara burung koleangkak itu seperti sengaja ditujukan kepada mereka. Maka segeralah keduanya menghambur keluar rumah, mencari asal suara burung tersebut.
Saat dilihatnya seekor burung koleangkak bertengger di atas dahan pohon randu, yakinlah mereka suara tadi berasal dari burung itu. Sang petani berusaha menangkapnya, tetapi burung tersebut berhasil lolos dan terus terbang membubung ke angkasa. Lalu hilang dari pandangan.
Pasangan suami istri itu kebingungan. Di tengah rasa bingungnya, datanglah calon menantu perempuannya. Gadis itu terhuyung-huyung di sela napasnya yang tersengal-sengal. Ia berlari sepanjang jalan, mengikuti ke mana pun burung koleangkak terbang.
“Kenapa, Nok? Ada apa?” Istri petani bertanya penuh rasa cemas. Suaminya memberi isyarat agar membawa gadis itu masuk ke dalam rumah.
Setelah minum dan duduk dengan tenang, berceritalah gadis itu tentang kepergian ibunya, diiringi isak sedih. Calon mertuanya jatuh iba. Gadis itu sebatang kara kini.
Nok, nggak usah kembali ke kampungmu. Sudah, tinggallah di sini, hingga hari pernikahanmu tiba.”
Maka tinggallah gadis itu di rumah calon mertuanya. Setelah beberapa waktu, ia menikah dengan anak laki-laki pasangan petani itu. Mereka pun resmi menjadi suami istri.
Kehidupan anak perempuan janda miskin itu senantiasa bertabur kasih sayang. Suaminya demikian cinta kepadanya.
“Aku bersyukur kepada Tuhan, memiliki suami sepertimu.”
“Akulah yang lebih bersyukur, karena kau adalah anugrah terindah yang Tuhan berikan untukku. Tak ada yang lain melebihimu. Bagiku, cukup hanya dirimu.”
Selalu kata-kata lembut nan romantis yang terucap di antara keduanya. Mereka benar-benar pasangan mesra yang bahagia.
Duabelas purnama berlalu. Pada sebuah sore yang tenang, kala langit membiru terang dalam bentangannya, berkatalah si suami kepada istrinya. “Sayang, kepalaku terasa gatal. Coba lihat sebentar!”
Demi mendengar permintaan suaminya, si istri membeku. Di benaknya terngiang ucapan ibunya, yang mewanti-wanti sebuah pantangan yang harus dijauhinya.
“Kenapa diam? Sirah Akang ararateul saja5.”
Si istri menghela napas panjang dan berat. “Kalau kita ingin hidup berdampingan selamanya, janganlah kau minta dicarikan kutu. Itu pantangan yang tak bisa kulanggar. Pantangan itu adalah pesan terakhir ibuku sebelum ia meninggal.”
“Ibumu bilang apa?”
Sambil menunduk lemas, si istri berkata, “Ibuku bilang begini: “Bila engkau bersuami nanti, hati-hatilah, jangan sekali-kali engkau mengutui suamimu. Itu pantangan bagimu. Bila engkau tak mengindahkan kata-kataku ini, kau akan menjadi koleangkak, membubung tinggi ke angkasa mengikuti ibumu.”
Suaminya menyimak kisah istrinya dengan hati masygul. Ia ingin bermanja di pangkuan istrinya sambil dikutui. Ia bersikeras agar keinginannya dipenuhi istrinya. Maka dengan berat hati, sang istri menuruti kehendak suaminya.
Sambil mengutui suaminya, si istri menyenandungkan sebuah nyanyian: “Koleangkak! Indung.. Ulah mulang ka khayangan, mun tacan reujeung kula” (Koleangkak! Ibu.. Jangan engkau pulang dulu ke khayangan, bila tidak bersamaku)
Suaminya menikmati betul dikutui. Apalagi sambil mendengar senandung merdu istrinya. Saking terbuainya, ia pun tertidur. Ia tidak menyadari perubahan pada istrinya. Perlahan-lahan tumbuh bulu pada badan istrinya. Menjelmalah ia menjadi burung koleangkak seperti ibunya. Ia pun terbang dan hinggap di bubungan atap.
Ketika sang suami terbangun, ia merasa heran istrinya tak ada di sampingnya. Ah, mungkin sedang membuat emping di dapur, batinnya. Ia pun beringsut menuju dapur. Ternyata tak ada. Berpindah ke ruang lain, tetap tak ada. Suaminya mulai merasakan jantungnya berdentam tak karuan. Tidak pernah selama ini istrinya pergi tanpa meminta izinnya. Hatinya gundah, khawatir terjadi sesuatu yang buruk dengan istrinya. Ia pun melangkah ke luar rumah. Namun tak ada jejak istrinya di sana.
Dari atas bubungan atap, terdengar nyanyian pilu yang disuarakan burung koleangkak berulang-ulang. “Koleangkak Kaka.. Koleangkak Bapa.. Koleangkak Ambu.. Kula mah ulah disiar.. Deuk nuturkeun sakadang indung” (Koleangkak Suamiku.. Koleangkak Bapak.. Koleangkak Ibu.. Aku tidak usah dicari. Aku hendak mengikuti ibuku)
Sang suami menegakkan telinga. Matanya mengelana, berusaha menangkap sosok istrinya. Senandung burung koleangkak itu membuatnya merasa bahwa istrinya tak jauh dari situ. Sementara itu, sang burung koleangkak demi melihat suaminya, langsung menghentikan senandungnya. Burung koleangkak itu memanggil suaminya. Ia mengatakan tak akan lagi mengutui suaminya, karena akan menyusul ibunya sekarang juga. Lalu burung koleangkak itu mengepakkan sayapnya.
Seiring kepakan sayap burung itu, si suami terpana. Ia menatap sayap burung koleangkak yang terus mengepak, hingga melayang semakin jauh, jauh, lalu menghilang dari pandangan. Ia merasa terhempas. Ada yang tercerabut dari hatinya. Danau di matanya meluruh membasahi pipi.
“Istriku.. istriku... “ suara hatinya menjerit pilu.
Dari hari ke hari, tak ada yang bisa mengobati perih hatinya. Ia menyesali suratan nasib yang telah menimpa. Meranalah ia sepanjang waktu.
“Istriku... aku menyesal, tak mengindahkan pantangan ibumu..”
Apa hendak di kata, penyesalan selalu datang terlambat. Sang suami hanya bisa meratap. Cintanya telah hilang. Rindu yang pekat terasa mencekiknya.
Bentang langit luas tak lepas ditatapnya, berharap istrinya akan muncul dan kembali kepadanya. Namun hanya angin yang membalas kerinduannya.
Segala yang ada di dalam rumah, turut berduka. Peralatan masak yang biasa digunakan untuk membuat emping, teronggok bisu di sudut dapur. Baju-baju yang terlipat rapi di dalam lemari, tampak muram. Suara derit pintu seperti pengantar kidung lara bagi luka hatinya yang terus membasah.
Tak ada daya hatinya untuk melawan nestapa. Ia tersungkur sakit. Kian hari badannya kian lemah. Ia sungguh terpukul. Tak ada obat penyembuhnya. Akhirnya ia tak sanggup menanggung derita hatinya. Napasnya pun terhenti. Hidupnya berakhir dalam duka.
Sekian waktu berlalu, dari kisah itu, dalam masyarakat Banten muncul sebuah kepercayaan. Bila ada burung koleangkak berbunyi, itu adalah burung koleangkak yang melanjutkan suara burung koleangkak yang dulu. Burung koleangkak yang dulu mewujud janda miskin, saat meninggal tidak ada yang mengurusi, tidak ada yang memandikan. Maka burung koleangkak itu terus menerus berseru minta dimandikan. Sehingga masyarakat percaya bahwa pekikan burung koleangkak itu adalah seruan minta hujan.
_______
GLOSARIUM
1)        Sampeyan : Anda
2)        Nok : panggilan kepada anak perempuan
3)        Beunghar : Kaya
4)        Bageur : Baik
5)        Ararateul saja : Gatal sekali  

*) ikut serta bertarung dalam Lomba Penulisan Cerita rakyat Kemendikbud 2015