Tampilkan postingan dengan label Resensi Film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi Film. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 Mei 2012

SEMANGAT MAN JADDA WAJADA

Judul Film     : Negeri 5 Menara
Sutradara      :  Affandi Abdul Rahman
Penulis skenario  :  Salman Aristo
Pemain  :  Gazza Zubizzaretha, David Khoirul, Lulu Tobing, Ikang Fawzi, Donny Alamsyah, dll
Produksi  :  Kompas Gramedia Production dengan Miilion Pictures
Tahun Rilis  :  2012

Sebuah novel yang sukses di pasaran, biasa diangkat ke angkat layar lebar. Kali ini, giliran novel “Negeri 5 Menara”, yaitu novel yang fenomenal dengan mencatat angka cetak ulang yang fantastis. Dan seperti biasa pula, orang kemudian akan menghubungkan film tersebut dengan novelnya. Lalu bagaimana dengan film ini? Apakah tetap memiliki ruh yang ditiupkan novelnya? Ataukah keluar jalur lalu menjelma tak ubahnya sinetron? Atau berada di tengah-tengahnya?

Berbicara mengenai “Negeri 5 Menara” artinya berbicara tentang semangat Man Jadda Wajada. Semangat yang menggerakkan daya juang para tokoh dalam kisah ini untuk berusaha mewujudkan mimpi-mimpi mereka. Siapa yang bersungguh-sungguh, maka ia akan berhasil. Itulah makna kalimat berbahasa Arab tersebut. Maka, keinginan untuk menularkan semangat bersungguh-sungguh itu, yang mendorong A.Fuadi untuk menulis novel ini, berdasarkan pengalaman pribadinya.

Seperti novelnya, film ini berkisah tentang perjalanan Alif, seorang putra Minang yang mengembara ke Pulau Jawa demi menimba ilmu di pesantren bertajuk Pondok Madani, setara tingkat SMA. Di sana, ia berkarib dengan lima orang teman (Said, Raja, Dulmajid, Atang, Baso) yang lalu menahbiskan diri sebagai shahibul menara-karena kebiasaan berkumpul di bawah menara. Di bawah menara itu pula, mereka memancang mimpi untuk mengunjungi lima menara ternama di dunia, suatu saat kelak. Bagaimana perjuangan mereka selama belajar di Pondok Madani? Apakah keinginan Alif yang dulu, untuk bersekolah di SMA sudah sepenuhnya hilang setelah bersekolah di Pondok Madani? Lalu, apakah mimpi-mimpi keenam shahibul menara itu kelak mewujud nyata?

Film diawali dengan penolakan Alif untuk masuk pesantren seperti saran Amak (ibu)-nya. Pemeran Alif (Gazza Zubizzaretha) cukup berhasil mengekspresikan kegalauan akan pilihan sekolah itu, pun ketika ia sudah menjejakkan kaki di Pondok Madani. Sifat pendiamnya dapat tertangkap dari bahasa tubuhnya. Tokoh-tokoh lain memang tidak persis seperti yang ada di novel. Atang, misalnya. Tidak ada kacamata yang biasa melorot di hidungnya, karena Atang di film ternyata tidak berkacamata. Namun, logat bicara dan gerak-geriknya, pas mewakili tipikal orang Sunda. Juga tokoh-tokoh lain, namun perbedaan tersebut tidak terlalu prinsipil. Hanya cukup mengganggu juga, peran Kiai Rais diperankan oleh Ikang Fawzi. Aura kharisma kiai besar- Sang Renaissance Man- itu kurang tampak. Yang patut dihargai adalah usaha para artis untuk mampu berdialog khas Minang, sedang mereka bukan berasal dari sana, semisal Gazza Zubizzaretha (Alif), Lulu Tobing (Amak), dan Sakurta Ginting (Randai).

Mengharapkan isi novel akan terakomodir seluruhnya dalam film, tentu tidak fair. Jalinan cerita nan panjang tidak mungkin terangkum dalam film berdurasi kurang lebih 2 jam ini. Bukan hanya beberapa bagian yang tidak ditampilkan, namun ada juga bagian yang tidak ada di buku justru hadir dalam film. Improvisasi seperti pada adegan perdana di kelas, saat Ustadz Salman mendemonstrasikan keberhasilan memotong kayu dengan sebilah golok tumpul dan berkarat, lebih menguatkan ilustrasi semangat Man Jadda Wajada. Semangat yang mendidih itu terasa lebih menggelora.

Bagian shahibul menara yang berlibur ke Bandung, ke tempat tinggal Atang, sayang sekali tidak ditampilkan seperti dalam buku. Adegan mereka berkeliling bersepeda melintas sekolah khusus putri, tidak perlu dipasang dengan porsi panjang sampai Baso terjatuh dari sepeda. Yang penting justru menghadirkan bagian ketika Atang, Alif, dan Baso berceramah di masjid Unpad dalam 3 bahasa (Arab, Inggris, dan Indonesia) yang lebih mencirikan bahwa santri-santri itu piawai berpidato dalam bahasa asing. Penampilan mereka yang gemilang dan membuat hadirin terpukau, rasanya akan menjadi bagian dari film yang juga akan memikat penonton, dan nafas Pondok Madani akan lebih terasa. Entah apa pertimbangannya, bagian itu malah tidak ada.

Tampaknya film ini ingin menyiratkan bahwa Islam itu terbuka. Terlihat dari adegan saat Kiai Rais, pimpinan pondok pesantren yang kharismatik itu, dengan fasih membetot senar gitar dalam irama musik masa kini. Ini dilakukan beliau saat melihat Raja berlatih gitar dengan kurang mantap. Dan yang lebih ekstrim lagi adalah saat pertunjukan seni dari setiap kelas. Ternyata penampilan hip-hop hadir juga di sana.

Suasana persahabatan keenam shahibul menara, cukup asyik. Mereka saling mendukung, bahu membahu, dan bekerja sama dengan kompak. Kelucuan-kelucuan mewarnai interaksi mereka. Pun suasana mengharu biru terasa menyentuh, semisal kala perpisahan dengan Baso, tidak dapat terelakkan. Akting para pemain yang kesemuanya adalah artis baru, yang lolos dari audisi yang digelar di enam kota di Indonesia, cukup apik dan natural.

Beruntung, setting Pondok Madani benar-benar mengambil lokasi Pondok Modern Gontor. Kalau tidak, tentu akan menuai protes penonton, karena di situlah ruh kisah ini. Namun lagi-lagi sayang, suasana belajar yang keras, penuh perjuangan, bahkan melelahkan, tidak muncul di film. Tidak ada sahirul lail yaitu saat-saat belajar keras untuk menghadapi ujian pada waktu tengah malam hingga subuh. Santri-santri membuka buku pelajaran di tengah malam buta dengan semangat belajar yang menggila, ditemani kopi dan lampu semprong. Melawan kantuk yang hebat menyerang, semua bertekad untuk siap menghadapi ujian. Namun yang tampak, lebih banyak keenam shahibul menara itu beristirahat di bawah menara.

Terlepas dari bagian yang ada menjadi tidak, juga sebaliknya yang tidak ada menjadi ada, sesungguhnya spirit yang ingin disampaikan adalah tetap semangat Man Jadda Wajada. Maka, selagi menikmati film ini, dengan setting alam nan permai, atmosfer pesantren dengan ribuan santrinya, serta backsound musik yang manis, rasailah semangat itu menjalar ke dalam diri dan menginspirasi.

NOVEL DAN FILM, DUA RASA YANG BERBEDA

Judul Film    :  Hafalan Shalat Delisa
Sutradara     :  Sonny Gaokasak
Pemain         :  Reza Rahadian, Nirina Zubir, Chantiq Schagerl, Robby Tumewu, dll.
Awal rilis      :  22 Desember 2011
Produksi      :   Starvision

Sebuah novel best seller kerap diangkat kisahnya ke layar lebar. Pada satu sisi, banyak orang menyambut baik, namun di sisi lain, tidak sedikit pula yang menyangsikan filmnya tidak akan sebagus novelnya. Demikian pula yang terjadi pada novel “Hafalan Shalat Delisa” karya Tere Liye yang difilmkan dengan judul sama.

Bagi yang sudah membaca novelnya, bersiaplah untuk berdamai dengan rasa, ketika menyaksikan film “Hafalan Shalat Delisa”. Jangan berharap terlalu besar bahwa filmnya akan se-menawan novelnya. Meski bukan berarti film ini berkategori buruk. Namun tentu saja, tidak semua bagian dalam novel dapat diterjemahkan utuh dalam film berdurasi kurang lebih 2 jam ini.

Kisah dalam film diawali dengan keceriaan Delisa (Chantiq Schagerl) dan kehangatan keluarganya. Delisa gemar bermain bola bersama kawan-kawan lelakinya. Teman-teman Delisa, ada Umam, bocah gendut yang sering usil, dan Tiur, gadis kecil yang yatim. Dalam keluarganya, ada Ummi Salamah (Nirina Zubir), ibu yang sabar dan shalihah dengan cintanya melimpah ruah kepada keempat putri tercinta. Kakak-kakak Delisa, yaitu Kak Fatimah (Ghina Salsabila) yang dewasa dan penuh tanggung jawab. Juga si kembar Aisyah dan Zahra, yang berbeda karakter. Aisyah (Reska Tania Apriadi) banyak bicara dan sering protes, sedang Zahra (Riska Tania Apriadi) lebih pendiam. Dengan Aisyah, Delisa seringkali bertengkar khas anak-anak.

Delisa berusaha menghafal bacaan shalat agar dapat lulus dalam ujian praktek shalat di sekolah. Selain itu, dalam tradisi keluarga Delisa, bila lulus dalam ujian tersebut akan mendapatkan hadiah seuntai kalung. Delisa sudah memilih kalung cantik dengan liontin berinisial ‘D’ ketika diajak Ummi saat membelinya di toko milik Koh Acan. Pemilik toko emas itu sudah akrab dengan keluarga Delisa.

 Pada hari ujian shalat, Delisa khusyu’ merapalkan bacaan shalat di hadapan guru mengajinya, Ustadz Rahman. Saat itulah, tiba-tiba badai tsunami menghantam. Suasana rusuh. Orang-orang panik dan berpencaran. Namun Delisa tetap teguh pada bacaannya, lalu terombang-ambing dalam air bah yang membuncah itu.

Lhok Nga, desa tempat Delisa tinggal, hancur porak poranda. Semua musnah, rata dengan tanah. Mayat-mayat bergelimpangan dalam kondisi mengenaskan.

Delisa berhasil ditemukan oleh tim penyelamat asing. Personel tim yang pertama kali melihat Delisa, bernama Smith. Delisa lalu dibawa ke rumah sakit darurat. Saat itulah kamera televisi menangkap kejadian itu dan menyiarkannya secara live. Ketika itu, ayah Delisa (Reza Rahadian), yang bekerja di luar negeri, tengah hilir mudik mencari info tentang kemungkinan perjalanan pulang ke Lhok Nga. Abi, demikian ayah Delisa dipanggil, melewatkan tayangan film yang menampilkan gambar putri bungsunya, karena terlalu kalut menghadapi kenyataan terputusnya transportasi dan komunikasi ke Lhok Nga.

Delisa mendapat perawatan intensif, dan terpaksa kakinya harus diamputasi sebatas lutut. Seorang perawat baik bernama Shofi, telaten merawatnya. Delisa pun kemudian bersahabat dengan Smith dan Shofi.

Akhirnya Abi berhasil mencapai Lhok Nga dengan ikut bersama tim penolong. Abi tergugu memandang rumahnya yang tinggal puing-puing saja. Semua kenangan indah bersama keluarga tercintanya membuat Abi terperosok pada rasa kehilangan yang dalam. Ketiga putrinya dikabarkan meninggal. Istrinya masih belum diketahui nasibnya. Namun kepedihan Abi terobati ketika berhasil bertemu dengan Delisa.

Dimulailah babak baru Abi dan Delisa. Mereka berjuang menghadapi kenyataan pahit itu. Bencana tsunami telah merenggut segalanya, keluarga bahagia, sahabat-sahabat istimewa, desa yang menyenangkan, sekolah, meunasah, semuanya. Pada titik inilah, dengan kepolosan dan kebeningan hati yang dimilikinya, Delisa justru lebih kuat dan tabah, pun ketika berpisah dengan sahabat barunya, Smith dan Shofi. Delisa menjadi penyemangat, tidak hanya bagi Abi, tapi bagi banyak orang yang tinggal di tenda-tenda pengungsian. Delisa menebarkan senyuman dan keceriaan.

Film ini mengajak kita untuk memahami sebuah makna kehilangan. Kadang, kehilangan sesuatu dapat membuat kita jatuh terpuruk. Namun lihatlah Delisa, dengan begitu banyak kehilangan yang dialaminya (termasuk sebelah kakinya), ia memperlihatkan percikan semangat bahwa hidup terus berjalan, waktu terus berputar, dan kita harus tetap menjalaninya dengan tegar.

Kepiawaian akting pemain, membuat film ini menarik ditonton. Abi, dengan aneka perasaan berkecamuk, konflik emosi yang tinggi, kekuatan ekspresi, berhasil diperankan dengan baik oleh Reza Rahadian. Demikian juga, Chantiq yang ciamik memerankan Delisa nan polos dan tulus.

Meski lokasi film yang bersetting Aceh ini bukan diambil di tanah rencong, tapi irama musik khas Aceh yang mengiringi adegan-adegan dalam film, cukup membuat film ini beraroma Aceh. Lokasi film ini yaitu di daerah Ujung Genteng, Sukabumi.

Gambaran tsunami yang ganas cukup mewakili dahsyatnya peristiwa 26 Desember tujuh tahun silam. Sayangnya, durasi bencana tersebut singkat saja, tidak memperlihatkan betapa hantaman air itu meluluhlantakkan lokasi selain sekolah. Tapi, hal ini disiasati dengan pemandangan desa Lhok Nga pasca tsunami, yang menampilkan beberapa korban berserakan dalam kondisi menyedihkan.

Bagi penonton yang belum membaca novelnya, tentu cukup puas menyaksikan film yang menyentuh ini.  Tapi tidak bisa dipungkiri, bagi yang sudah lebih dulu jatuh cinta dengan novelnya, akan mendapati sejumlah kekecewaan. Bagian-bagian dalam novel tidak hadir dalam film. Tidak ada Ummi yang sibuk menjahit, sedikit sekali peran Ibu Guru Nur, hilangnya Kak Ubai, bahkan tiba-tiba Ustadz Rahman cukup mendominasi. Pun parahnya luka yang dialami Delisa, berbeda dengan kisah dalam novel. Rambut Delisa tidak dicukur habis akibat banyaknya luka di kepala. Sedikit pula lebam dan parut memanjang di bagian wajah.

Jika dalam novel, nilai-nilai Islami sangat kental, maka dalam film ada bagian-bagian yang dikurangi. Konflik saat Delisa kesulitan menghafal kembali bacaan shalat pasca musibah, tidak tampak. Suster Shofi tidak digambarkan sebagai perawat muslimah yang berkerudung. Dan tidak ada adegan prajurit Smith menjadi muallaf, lalu berganti nama menjadi prajurit Salam. Namun kalimat “Delisa cinta Ummi/Abi  karena Allah” cukup menjadi kekuatan film ini.

Terlepas dari deretan bagian dalam novel yang tidak tervisualisasikan, film ini tetap layak direkomendasikan sebagai film keluarga yang mendidik. Seperti harapan sang penulis novel agar pesan moral dalam kisah ini bisa sampai ke lebih banyak orang, bahkan yang tidak suka membaca sekalipun. Semoga hikmah melimpah dari film ini membawa kebaikan.  Tidak hanya mampu menguras airmata, namun memberi pencerahan kepada penonton.

Tak ada gading yang tak retak, bukan? Keindahan kata-kata yang dijalin Tere Liye dalam untaian kisah memukau “Hafalan Shalat Delisa” boleh jadi sulit untuk diterjemahkan utuh dalam bentuk film. Bukan hal yang mudah mewujudkan kekuatan kata-kata yang bertenaga dalam sebuah karya visual. Karena novel dan film, adalah dua rasa yang berbeda.



SEMESTA MENDUKUNG

Judul Film     : Semesta Mendukung
Sutradara      :  Jhon de Rantau
Penulis skenario  :  Hendrawan Wahyudianto, Jhon de Rantau
Pemain  :  Revalina S.Temat, Lukman Sardi, Helmalia Putri, Sayef Muhammad Billah, dll
Produser  :  Putut Widjanarko
Tahun Rilis  :  2011


Sebuah film produksi Mizan teranyar yang dirilis akhir Oktober ini, bisa dinikmati segala usia. Terinspirasi dari banyaknya anak-anak Indonesia yang bertarung di arena olimpiade sains Internasional. Kata “Mestakung’ sendiri diilhami dari jargon yang dipopulerkan Prof. Johanes Surya. Sang begawan sains ini menuangkan ide dan semangat dalam bukunya yang bertajuk “Mestakung”.

Berlatar pulau Madura, tepatnya Sumenep, film ini menggambarkan kisah anak SMP yang berjuang menuju laga sains Internasional. Mengambil alur mundur maju, film diawali dengan tokoh utama yang berada di dalam pesawat lalu menuturkan musabab ia mengangkasa menuju ibukota.

Adalah Arif, anak kampung yang cerdas, hidup serba kekurangan bersama ayahnya yang sopir serabutan. Ibunya pergi tujuh tahun silam, konon bekerja ke negeri tetangga, Singapura.  Penuh ketekunan Arif mengumpulkan uang demi membayar seseorang agar mencari ibunya. Orang itu, Paman Alul, tetangga yang bekerja di Malaysia. Menurut Arif, karena Malaysia berdekatan dengan Singapura, tentu Paman Alul berpeluang besar menemukan ibunya. Paman Alul memanfaatkan kesempatan tersebut dengan memasang tarif tinggi, dan Arif bertekad menyanggupi.

Di sekolah, Arif adalah murid kesayangan Bu Tari, guru Fisika. Bu Tari melihat keistimewaan Arif yang mampu menerapkan Fisika dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini terlihat saat Arif berinteraksi dengan teman-temannya. Selain di sekolah, Arif pun mampu menggunakan nalarnya ketika memprediksi sapi mana yang akan menang dalam lomba karapan sapi.

Melihat potensi Arif, Bu Tari mendorongnya untuk mengikuti lomba sains tingkat propinsi. Awalnya Arif menolak. “Kalau saya ikut lomba, kapan saya mencari uang?” kilahnya. Namun Bu Tari tetap menyerahkan formulir pendaftaran berikut surat pengumumannya. Ketika membaca surat pengumuman, mata Arif terbelalak. Sontak ia mau mengikuti lomba yang berhadiah jutaan tersebut.

Perjuangan Arif yang getol berkutat dengan buku-buku Fisika bersama pendampingan Bu Tari, ternyata kandas. Bapak kepala sekolah tidak menyetujui dengan alasan klasik, tidak ada dana.

Bu Tari tidak menyerah. Ia menghubungi kawan lamanya, Pak Tio, di FUSI (Fisika Untuk Siswa Indonesia). Dikirimnya CD yang berisi kepintaran Arif saat menerapkan Fisika praktis. Rupanya, Bu Tari pun dulu aktif di FUSI namun karena terdapat perbedaan prinsip dengan salah seorang rekan, Bu Tari berkhidmat menjadi guru di kampung, membina anak-anak di pelosok agar mencintai sains.

Pak Tio, pengajar di FUSI tertarik pada Arif dan bersengaja terbang menemuinya untuk mengajak bergabung di FUSI. Di asrama FUSI, sejumlah siswa digodok sambil diseleksi untuk mengikuti lomba sains Internasional. Lagi-lagi awalnya Arif menolak, dengan alasan sama: ia harus cari uang, tidak ada waktu untuk lomba. Namun kemudian Arif berubah pikiran. Ia bertekad ingin berusaha tembus seleksi, karena ternyata lomba sains Internasional diselenggarakan di Singapura.

Tekad Arif membulat demi rindunya nan tak terperi kepada ibunda tercinta. Apalagi setelah ia mengetahui bahwa Paman Alul hanya memanfaatkan dirinya untuk diperas. Alamat ibunya yang telah diberikan Paman Alul beberapa waktu lalu, membuatnya yakin bisa menelusuri sendiri bila ia berhasil menginjak Negeri Singa itu.

Paman Alul kecewa karena ‘mangsa’nya terlepas. Kemudian ia membeberkan masa lalu buruk ayahnya. Kebiasaan berjudi, telah membuat ibunya mengelana ke negeri seberang. Arif kecewa bukan buatan. Ia menanyakan kebenaran kabar tersebut. Namun ayahnya mengelak, akhirnya berang. Hubungan ayah-anak itu pun menegang.

Saat Arif hendak berangkat ke Jakarta, ayahnya luluh. Mereka berdamai, saling memeluk erat. Arif pun terbang ke Jakarta dengan restu ayahnya.

Sampai di situ, film bergerak maju. Apa yang terjadi saat Arif di asrama FUSI, bagaimana interaksi dengan siswa lain, bagaimana hasil seleksi, hingga seperti apa keinginannya berjumpa dengan ibunda, semua diramu dengan letupan konflik yang cukup. Artinya, film dibuat tidak terlalu datar, namun juga tidak terlalu bergejolak. Bila film keluarga biasanya menguras airmata, maka dalam film ini, cukup membuat hati tergetar dengan lelehan airmata tak begitu deras.

Akting para pemain tidak buruk dan tidak menonjol. Nama-nama besar seperti Fery Salim, Revalina S.Temat, dan Feby Febiola tampil biasa saja. Hanya Lukman Sardi yang tetap tampil berkarakter.

Pemain baru yang memerankan tokoh Arif, rasanya kurang pas. Untuk peran seorang anak yang hidup tanpa pengasuhan ibu, sejak usia awal SD hingga usia SMP, pertumbuhan fisik Arif terlalu pesat. Arif tampil dalam sosok remaja tinggi besar untuk ukuran seusianya.

Kekuatan dialog kurang muncul, bahkan ada yang terkesan bertele-tele.  Pemain lokal sebagai figuran, nampak agak kaku. Namun setting cukup berbicara. Ladang garam yang kerontang, karapan sapi, jembatan suramadu, sangat kuat menampilkan pesan.

Hal lain yang membuat penonton sedikit mengernyit adalah kostum Bu Tari. Sebagai guru sekolah negeri di kampung, penampilannya cenderung modis. Mungkin untuk menggambarkan bahwa guru fisika bukan model guru-guru kuno yang menyeramkan.

Ajakan untuk mencintai sains tercium kuat dari film ini. Tentang fisika, atau sains umumnya, diperlihatkan bahwa sebenarnya sains dekat dengan kehidupan. Fisika adalah pelajaran asyik dan menyenangkan. Tak perlu dibuat rumit, namun mainkan saja logika dan imajinasi.

Ok, film ini layak direkomendasi untuk ditonton keluarga. Di dalamnya juga menyuguhkan manisnya persahabatan. Pula meniupkan semangat pantang menyerah. Ia mengajak untuk terus bermimpi dan berusaha meraih impian tersebut. Jika itu dilakukan, semesta akan mendukung.

Bermimpilah, berjuanglah, maka.. mestakung!






3 HATI, 2 DUNIA, 1 CINTA


Judul Film     : 3 hati, 2 dunia, 1 cinta
Sutradara      :  Benni Setiawan
Penulis skenario  :  Benni Setiawan
Pemain  :  Reza Rahadian, Laura Basuki, Arumi Bachsin, Rasyid Karim, Henidar Amroe, Robby Tumewu, Ira Wibowo, dll
Produksi  :  Mizan Production
Tahun Rilis  :  2010

Seorang pemuda muslim, seorang gadis katolik, will they live happily ever after?

Rosid adalah pemuda idealis yang punya mimpi untuk menghidupkan sastra. Ia seorang penulis lepas dan kerap tampil sebagai pembaca puisi. Kekagumannya sangat besar kepada  WS Rendra.  Dalam perjalanan hidupnya, Rosid yang berasal dari keluarga muslim taat keturunan Arab, menjalin kisah kasih dengan Delia, gadis Katolik berparas manis, seorang aktivis kampus.

Kisah cinta mereka mengalami sandungan karena beberapa perbedaan. Selain agama, latar keluarga pun berbeda. Ayah Rosid seorang pedagang pakaian di pasar dan rumah mereka tampak sederhana. Sedangkan Delia, anak seorang pengusaha kaya, tinggal di rumah mentereng lengkap dengan kolam renang yang mewah. Rosid yang hanya lulusan SMA bervespa butut, sementara Delia, anak kuliahan bermobil BMW.

Masing-masing orangtua menentang hebat, percintaan mereka. Ayah Delia, berusaha mengarahkan Delia untuk melanjutkan kuliah di Amerika, sedangkan Rosid dijodohkan dengan Nabila, seorang gadis cantik berjilbab yang lembut dan sholeha.

Apakah Delia menerima tawaran ayahnya untuk kuliah di Amerika, yang sebetulnya itu adalah cita-cita Delia sejak SMA? Lalu bagaimana dengan perjodohan Rosid dan Nabila?

Tiga hati, Dua Dunia, Satu Cinta merupakan film kisah cinta beda agama yang digabungkan dengan aneka masalah sosial lain, dengan latar perbedaan etnis dan budaya. Meski bertema berat dan serius, film ini mengalir dengan selipan komedi segar. Masalah sensitif tentang wacana pernikahan beda agama, disodorkan tanpa menggurui, tidak saklek hitam dan putih, namun mengajak penonton berpikir cerdas dalam merenungi masalah agama.

Meski berbalut kisah cinta, namun dalam film ini sama sekali tidak ada adegan kontak fisik yang menunjukkan aktivitas berpacaran. Rosid sangat kuat memegang prinsip ‘belum muhrim’ dan Delia menghormati prinsip itu. Bahkan berpegangan tangan pun tidak dilakukan.

Tidak melulu bercerita tentang cinta, film yang diadaptasi dari novel karya Ben Sohib, Da Peci Code, dan Rosid dan Delia ini, juga mengangkat masalah tradisi budaya versus ajaran agama yang tidak jarang menimbulkan konflik. Pemaksaan kehendak dari ayah kepada Rosid untuk berpeci putih, berbenturan dengan pemikiran Rosid yang terbuka dan lebih moderat. Kemudian muncul aksi radikal dari sekelompok pemuda yang mengatasnamakan Islam, terhadap kegiatan diskusi yang dilakukan Rosid dan teman-temannya, yang di-cap sebagai kegiatan aliran sesat. Adegan-adegan tersebut tampil cerdas, membuka mata dan pikiran, untuk meninggalkan segala prasangka dan mengedepankan komunikasi terbuka.

Perbedaan kontras bentuk peribadatan Rosid dan Delia, dihadirkan nyata. Delia dengan takzimnya berdoa di gereja, sementara Rosid khusyuk berdzikir di atas sajadah. Namun, ada pula yang terasa berlebihan, yaitu saat akan menyantap hidangan. Delia melipat tangan berdoa sebelum makan, lalu menyilangkan tangan di dada. Dan Rosid dengan kepala tertunduk mengangkat kedua tangannya, lalu diakhiri dengan mengusap muka. Padahal dalam kenyataannya, bila kita berdoa sebelum makan, cukup berdoa dalam hati tanpa gerakan apa-apa.

Film ini bukan film melodramatik yang menguras airmata, namun penggambaran cinta orangtua kepada anak, cukup menyentuh. Terasa mengaduk emosi dan menggugah hati. Panggilan kepada Rosid, tetap berbunyi ‘Ocid’. Dan cinta mereka, meski tak terucap, namun sungguh tergambar. Betapa cinta Ummi kepada Ocid begitu luas tak berbatas, meski kadang harus berbenturan dengan sikap hormatnya kepada Abah. Demikian pula akhir sikap Abah (ayah Rosid) kepada Rosid, menyadarkan penonton tentang bagaimana seharusnya posisi orangtua terhadap anak. Bila di awal, Abah sangat keras menolak percintaan putranya, bahkan sampai mengultimatum tidak akan mengakui anak bila kisah cinta itu dilanjutkan, namun dialog penutup terdengar luarbiasa. “Sampai kapan pun Abah tetap tidak setuju dengan percintaan kalian. Namun apa pun pilihanmu, Ocid tetap anak Abah”.

Sayangnya, ending cerita yang menarik, dirusak oleh penyajian caption yang menyajikan pemecahan instan terhadap konflik dalam cerita yang sudah demikian apik dibangun. Padahal tanpa caption itu, diharapkan penonton akan lebih dewasa menyikapi persoalan ini. Mungkin pembuat film, masih memiliki keraguan akan kedewasaan sikap penonton.

Pemilihan judul pun terasa kurang asyik. Dengan bertaburan angka, kadang membuat orang tertukar-tukar melafalkannya. Dan penggambaran judul tersebut terlalu gamblang. Tiga hati maksudnya Rosid, Delia, dan Nabilah. Dua dunia, yaitu pasangan perbedaan, antara Islam-Katolik, sederhana-kaya raya, tidak sekolah-kuliah, kolot-moderat. Satu cinta, ya cinta kepada Rosid, si kribo eksentrik bertampang keren.

Terlepas dari itu, kita patut angkat topi pada prestasi film ini yang menyandang predikat sebagai film terbaik pada FFI 2010. Diikuti dengan prestasi lain, yaitu: Sutradara Terbaik (Benni Setiawan), Aktor Terbaik (Reza Rahadian-pemeran Rosid), Aktris Terbaik (Laura Basuki-pemeran Delia), Aktor Pendukung Terbaik (Rasyid Karim-pemeran ayah Rosid), Skenario Adaptasi Terbaik (Benni Setiawan), dan Penata Artistik Terbaik (Oscar Firdaus). Memang sangat asyik menyaksikan akting Reza yang natural, serta Laura yang tampil seolah tak ada kamera di depannya. Juga Abah (ayah Rosid), yang galak namun berhati lembut.

Dengan suksesnya film ini meraup begitu banyak Piala Citra, tetap saja ada pihak yang merasa tidak puas dengan film ini. Sesuatu yang wajar, bukan? Apalagi dengan mengusung tema yang cukup kontroversial, maka tidak mungkin bisa menyenangkan semua pihak. Yang jelas, pesan dari film ini bahwa pernikahan beda agama tidak semata soal akidah, namun masalah-masalah sosial dan psikologis tidak terlepas darinya.