Tampilkan postingan dengan label Cerita Ramadan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Ramadan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 Juni 2014

Mengantologi Lagi

Awal suka nulis dulu ditandai dengan ikut-ikut audisi antologi. Kalau lolos, seneeng banget karena akan dibukukan. Berturut-turut lahirlah antologiku, dengan beraneka tema dan genre. Ada fiksi dan nonfiksi. Ada parenting, romance, kisah inspiratif, dll. Itu gencar sekitar tahun 2011.

Menginjak ke tahun berikut, 2012, aku mulai jarang mengikuti audisi. Bahkan pada fase ini sempat agak terhenti menulis karena sesuatu dan lain hal yang terjadi di hidupku. Lalu, tahun 2013 mulai menata hati, pikir, dan rasa, untuk kembali menulis. Mencoba ingin sesuatu yang baru. Memancang niat untuk menulis buku solo. Tidak lagi melirik pengumuman-pengumuman audisi antologi.

Ternyata eternyata, menulis pendek itu tetep aja lebih menggoda buatku ketimbang menulis berpuanjang-panjang untuk novel. Dan, ketika seorang kawan baik dari BAW, Adya Tuti Pramudhita, menawarkan menulis antologi Ramadan, aku tergerak untuk ikut.

Ini salah satu sisi positif berada di sebuah komunitas penulis. Info-info cepat tersambung. Tuti ini, mendapat tawaran langsung dari editor Grasindo untuk menyusun antologi bertema Ramadan. Maksudnya kisah-kisah inspiratif berlatar Ramadan. Jadi, pasti terbit, nggak pake antri nunggu lama.

Maka, dalam waktu singkat terkumpullah sejumlah cerita. Semua penulis adalah anggota BAW. Kami berkomunikasi via inbox fb. Dan tanpa hitungan bulan berbulan, kabarnya sudah proses edit. Lalu nggak lama kemudian, sudah ada cover. Setelah itu, dalam waktu singkat sudah pula terdengar kabar akan terbit. Subhanallah..

Judul antologi ini: Once More Ramadan. Blurb-nya aku yang bikin lho.. hehe..
Semoga buku ini menginspirasi pada kebaikan, membawa pencerahan, dan berkah bagi semua, Aamiin..




Marhaban Yaa Ramadan

Ramadan tinggal hitungan jam, bahkan ada yang sudah makan sahur hari ini. Terlepas dari perbedaan awal waktu shaum yang senantiasa mewarnai, aku hanya ingin mengucap syukur. Alhamdulillah.. Alhamdulillah.. terima kasih ya Allah.. Kau tibakan aku menghirup aroma Ramadan yang sudah di ambang pintu. Semoga usiaku tiba hingga menjalani purna bulan suci ini.

Tahun ini, aku betul-betuul berharap (sebetulnya tahun-tahun kemarin juga berharap begini), bahwa Ramadan ini bukan sekadar pengulangan. Tapi Ramadan adalah masa di mana aku memantaskan diri di hadapanNya. Aku ingin berasyik masyuk dengan Al-Quran. Menyingkirkan malas, mengenyahkan kantuk. Meleburkan diri pada kesibukan menunjukkan cinta kepadaNya.

Pengalaman membuktikan, ketika aku sibuk oleh sesuatu hal sehingga abai pada muatan ibadah, maka teruus aja hal itu menyibukkan aku. Misal: mau tilawah bada sholat subuh, trus kepikir.. eh, mau ngerendem cucian dulu, akhirnya nyalain mesin cuci, ngisi air, nyabunin, dst, dst. Kelar itu, tiba-tiba kelihatan kompor belepotan, trus lap-lap dulu deh. Abis itu, adek bangun, minta dibikinin susu, dsb, dsb. Astaghfirullah.. nggak jadi deh itu tilawah akhirnya.

Padahal kalau tilawah itu ditunaikan, nggak akan sampai makan waktu setengah jam, paling 15-20 menit. Sementara kalau iklan yang lewat itu diikutin, malah makan waktu berjam-jam. Betul.. karena teruus aja akan ngerasa belum ngerjain ini belum beresin itu. Pekerjaan memang nggak ada habisnya, jadi jangan ia menjadi pengganggu saat mau melakukan amalan ritual. Mau sholat sunah, buruan kerjakan, jangan mikirin belom ngangkat jemuran. Mau menghafal Al-Quran, segera lakoni, jangan mikirin belom nyucii piring. Toh masing-masing amalan itu nggak akan menyita waktu.

Dan kalau sudah melaksanakan amalan-amalan itu.. sstt.. diem-diem aja. Kemarin tergelitik juga baca status Ecky. Ada orang yang mengurutkan kegiatannya: puasa nyampe, tarawih udah, tilawah udah juga, sedekah 300rb, laluu.. abislah pahala karena nulis status ini. Hehe.. nggak nyadar udah riya tuh. Untungnya sih aku nggak pernah nyetatus model begitu. Tapi mungkin sapa tau aku nggak ngeh membicarakan amalan yang kulakukan secara verbal. Duh.. jangaan deh..

Bismillah ya Allah.. tolong hambaMu ini.. ingin menyambut tamu agung, Sang Ramadan, dengan sebaik-baiknya. Ingin aku menggapai Lailatul Qadar, meraih derajat takwa.. Aamiin.