Tampilkan postingan dengan label lomba blog. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lomba blog. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Juli 2021

Menjadi Single Parent bagi Anak yang Sudah Besar Itu Lebih Mudah, Benarkah?

 

“Untung ya, anak-anaknya sudah besar. Kalau masih kecil-kecil kan repot. Nggak kebayang deh, ribetnya ngurus krucil, sendirian.”

Kalimat seperti itu kerap dilemparkan kepada ibu tunggal yang anak-anaknya sudah melewati masa kanak-kanak. Seakan kondisi anak yang lebih besar membuat ibu tunggal posisinya lebih mudah. Benarkah demikian?

Iya lebih mudah, karena …

1.     1. Tingkat kemandirian anak yang sudah besar, lebih baik

Kita tahu bersama, anak-anak kecil apalagi balita, butuh bantuan dan pengawasan ekstra. Makan masih harus disuapi, mandi harus dimandikan, bahkan mainan bekas mainnya pun seringkali harus dibantu untuk dirapikan. Belum lagi kalau main lupa waktu, kita harus menyusulnya ke rumah temannya. Lain halnya bila anak sudah besar. Biasanya mereka sudah lebih mengerti, lebih bisa dikasih tahu. Hal ini karena tingkat kemandirian yang lebih baik, sehingga anak yang sudah besar relatif lebih terkendali.

2.  2. Penguasaan emosi yang lebih terkontrol

Anak-anak kecil yang keinginannya tak terpenuhi atau berada dalam kondisi yang tidak nyaman, mudah saja mengekspresikan emosi, bahkan di depan umum. Bisa menangis kencang, berteriak-teriak, memukul-mukul, hingga meraung-raung sambil menggelosor di lantai. Pada anak yang lebih besar hal tersebut tidak lagi terjadi, karena mereka lebih bisa mengontrol emosi, dan memiliki rasa malu sehingga tidak menunjukkan sikap mengamuk.

3.    3. Bisa diandalkan untuk membantu pekerjaan rumah

Anak-anak yang sudah besar biasanya cakap melakukan pekerjaan rumah ringan, seperti mencuci piring, menyapu, mengepel, hingga memasak sederhana. Maka sang ibu akan sangat terbantu karena pekerjaan-pekerjaan tersebut bisa didelegasikan kepada anak-anak untuk mengerjakannya. Kalau anak-anak yang kecil memberantaki rumah, maka sebaliknya, anak yang agak besar merapikan. Ini membuat Ibu bisa menarik napas lega.


Nggak gitu ah, karena …

           1.       Masalah yang dialami anak yang sudah besar, lebih kompleks

Sewaktu anak masih kecil, Ibu disibukkan oleh kegiatan-kegiatan yang cenderung menguras tenaga, dalam membersamai anak. Maka lelah yang timbul adalah lelah fisik. Sedangkan anak yang lebih besar, lebih banyak menimbulkan lelah hati bagi Ibu. Masalah seputar anak remaja dan menjelang dewasa menyedot pikiran dan emosi. Menenangkan anak remaja tidak cukup dengan iming-iming permen atau es krim. Butuh tarik ulur perasaan. Alih-alih mengademkan masalah, yang terjadi malah tersulut emosi. Sehingga masalah bertambah runyam. 

2.       Kemampuan mengungkapkan pendapat lebih besar

Bila anak-anak kecil mudah dibujuk dengan kata-kata, maka anak yang lebih besar justru pandai menggunakan kata-kata untuk memprotes atau menyuarakan pendapat. Ibaratnya, Ibu baru saja mengucap sepatah kata, tetapi anak sudah membalas dengan sebaris kalimat. Sungguh ini bisa memancing emosi.

Selain itu, mereka pun butuh penjelasan lebih banyak apabila dilarang atau disuruh sesuatu. Yang terkadang justru Ibu berpikir bahwa seharusnya si anak sudah tahu, karena mereka sudah besar. Alhasil, anak menuntut penjelasan sementara Ibu menuntut pengertian. Akhirnya teperciklah konflik. 

3.       Lebih mendengar orang lain daripada Ibu

Anak-anak yang sudah besar memiliki lingkaran pertemanan lebih kuat. Mereka saling melindungi dan memercayai antarteman. Tidak jarang nasihat Ibu dianggap angin lalu, sedangkan kata-kata teman sangat diperhatikan dan merasuk kalbu.

Apalagi bila anak sudah memiliki pacar. Seperti pengalaman seorang Ibu yang terluka hatinya ketika si anak mengatakan bahwa ia bangun pagi karena ditelpon sang pacar. Padahal dari sebelumnya, Ibu sudah berulang kali memanggil dan mengetuk pintu kamar agar anaknya bangun. Namun ternyata, si anak bangun bukan oleh upaya Ibu yang gigih membangunkan anaknya, melainkan suara pacar yang membangunkan via telpon.

 

Lalu bagaimanakah kiat Ibu tunggal menghadapi dinamika seputar pola asuh dan pola didik anak, ketika anak-anak sudah melampaui masa kanak-kanak? 

Berikut 3 tips yang bisa diterapkan yang dapat menjadi solusi.

Pertama, perkaya wawasan dengan ilmu parenting. Materi-materi ilmu parenting yang informatif bisa didapat melalui web yang memberi porsi pada masalah seputar dunia keluarga. Dengan pendalaman ilmu parenting, akan membuat pikiran lebih terbuka dan mampu memahami masalah yang membelit. Sehingga kemudian dapat dicari jalan keluar yang realistis dan relatif mudah ditempuh. 

Dengan pengayaan ilmu parenting, akan lebih mengarahkan pada upaya solutif dan bukan sekadar mengeluh atas masalah yang dihadapi. Pembahasan dan pemaparan dari para ahli, tentu akan lebih membukakan mata tentang beragam konflik dan intrik yang mungkin terjadi dalam dunia anak serta remaja.

Khusus pada masalah single parent, biasanya ada pembahasan tersendiri. Tips dan kiat ditawarkan sebagai alternatif pemecahan masalah. Misalnya, bagaimana menghadapi stress sebagai Ibu singleparent, cara mengatasi tantangan mengasuh anak bagi single parent, dan lainnya. 

Kedua, menjalankan relaksasi saat kepusingan melanda. Ketika masalah anak bertubi-tubi yang rasanya bikin kepala mau pecah, maka segera lakukan relaksasi agar pikiran dan perasaan lebih tenang dan terkendali. Bisa dengan terapi napas, olahraga ringan, memandang langit, atau hal lain yang membuat pikiran rileks dan hati bahagia. Karena sebagai single parent yang tidak memiliki bahu untuk bersandar, maka praktik relaksasi yang disebutkan di atas, akan sangat membantu.

Terakhir, mendekatlah kepada Tuhan. Senantiasa memohon petunjuk dan bimbinganNya. Tuhan tidak mungkin salah memilih seseorang untuk menjalani hidup sebagai ibu tunggal, maka bergantung kepadaNya adalah pilihan yang harus ditempuh. Kita harus yakin bahwa Tuhan tidak akan pernah membuat hambaNya sengsara dan menderita. Maka masalah yang menimpa, pasti sudah dibarengi dengan solusinya. Hanya saja terkadang kita yang belum dapat menemukan solusi tersebut. Atas petunjukNya, niscaya jalan menuju solusi akan terbuka.

Kesimpulannya, setiap kondisi pasti ada konsekuensi yang mengiringi. Entah itu anak-anak masih serupa rombongan krucil, maupun yang sudah beranjak remaja bahkan dewasa, tidak ada yang disebut lebih sulit atau lebih mudah. Jadi mulai sekarang berhentilah melontarkan pernyataan seperti yang tertera di awal tulisan ini. Kita harus bisa menimbang sesuatu sesuai dengan takarannya.

Akhirnya, mari kita senantiasa menerima dan bahagia dengan kondisi yang ada. Kurangi mengeluh dan kedepankan sikap solutif.

Be a happy Mom! 😊  




Minggu, 26 Juni 2016

Perjalanan Cinta

       Usiaku terpaut sepuluh tahun dengan suami. Ia seorang yang berwibawa dan.. ganteng. Itu salah satu hal yang membuatku bersedia dijodohkan dengannya. Maklumlah, remaja putri seusiaku biasanya masih mengandalkan wajah rupawan untuk cowok idaman. Di penghujung masa SMA, seorang lelaki mapan dan ganteng sudah menungguku. Siapa tak bangga? Maka tak lama selepas kelulusan SMA-ku, segera aku beranjak ke pelaminan.
Gambar diambil dari sini
       Hari-hari bergulir. Aku mulai merasakan getir karena suamiku ternyata seorang yang kaku dan dingin. Sikapnya sangat komandan. Pendapat dan kehendaknya harus selalu diikuti. Otoriter sekali.
Gambar diambil dari sini
       Demikian seperti itu hingga tahun demi tahun berganti. Anak-anak mulai hadir menghangatkan keluarga. Merekalah pelipur laraku.
       Keinginanku untuk bisa bermanja-manja selayaknya seorang istri kepada suami, mulai menipis. Sudahlah, suamiku memang sepertinya tak pernah menganggap penting hal itu. Baginya, memenuhi segala kebutuhanku dan anak-anak, sudah cukup. Kadang terlintas di benak, apakah ia mencintaiku?
       Berbilang tahun kemudian, Alhamdulillah kami berkesempatan pergi umroh ke tanah suci. Saat tiba di Mekkah, kakiku yang memang kerap bermasalah, mulai beraksi. Ketika akan melaksanakan sa’i (lari-lari kecil antara bukit Shafa dan Marwah), rasanya aku benar-benar nggak sanggup, bahkan hanya untuk sekedar berjalan sekalipun. Lalu suamiku sibuk mencarikan kursi roda. Kebetulan saat itu banyak jemaah yang menggunakan kursi roda. Sulit sekali mencari kursi roda yang kosong. Suamiku tampak kalang kabut. Akhirnya setelah berhasil mendapatkan, ia bersungguh-sungguh mendorongku dengan kursi roda. Ia menolak tawaran jasa pendorong kursi roda.
       Selanjutnya, suamiku tiada kenal lelah, dengan setia selalu mendorongku dengan kursi roda, kemana pun kami pergi.  Kebetulan pihak hotel menyediakan. Suamiku selalu tampak khawatir bila aku bilang ingin mencoba berjalan. Pada saat itulah aku merasakan tatapannya yang penuh cinta. Aku bisa merasakan cintanya yang begitu dalam. Ia sungguh menjagaku dengan segenap jiwanya.  Itu membuatku meleleh. Perjalanan ibadah agung itu pun kemudian menjadi perjalanan penuh cinta. Aku merasakan suamiku sungguh mencintaiku. Dan betapa itu sangat berarti bagiku.
       Setelah pulang kembali ke tanah air, hatiku lebih cair. Aku tidak lagi merasa kesal dengan sikap kakunya. Aku tahu, ia mencintaiku, dengan caranya sendiri.
Gambar diambil dari sini

*diangkat dari kisah seorang teman baik* 


 



Kamis, 11 Februari 2016

Kisah Sepenggal Sore



Gambar diambil dari sini
           Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi pada perjalanan hidup seseorang. Seiring lipatan waktu, acap ditemui gesekan, benturan, hingga yang terberat serupa goncangan badai. Kesemuanya bisa dikategorikan ujian atau bisa juga hukuman, yang kejadiannya timbul dari sebuah sebab-akibat.
Seorang kawan, Runa namanya, tetiba ditimpa amuk badai dalam kehidupan rumah tangganya, yang berujung pada perpisahan. Kejadiannya sesungguhnya tidak tiba-tiba juga, karena ia bermula dari letupan-letupan kecil yang kemudian berakumulasi,hingga tak tertahankan yang berakibat pada perceraian.
Sore itu, kala langit membiru cerah bertabur awan, aku lihat dia duduk termangu. Pandangannya menerawang jauh. Menatap burung-burung yang mengepak di kejauhan. Perlahan  kuhampiri. Kami duduk bersisian. Sejenak senyap merayap. Lalu tanpa kuminta, ia menyodorkan androidnya. Sambil sedikit bingung, aku klik dan terbukalah linimasa twitternya. Terlihat dia me-retweet promtweet dari host sebuah buku. Buku itu berjudul “Sayap-Sayap Mawaddah” karya duet Afifah Afra dan Riawani Elyta.
        

“Baca!” ujarnya, lemah.
Aku membaca satu persatu status yang menginformasikan isi buku tersebut. Di situ dijelaskan tentang mawaddah. Bahwa mawaddah adalah salah satu pilar penting dalam menjaga kelanggengan sebuah rumah tangga. Mawaddah itu sendiri artinya cinta yang khusus terjalin antarsepasang manusia yang berlawanan jenis, yang telah sah sebagai suami istri. Pilar ini penting untuk dipahami, karena secara manusiawi, manusia memiliki hasrat terhadap lawan jenis. 
Selanjutnya, ulasan tentang urgensi mawaddah dalam menjaga api cinta agar tetap menyala. Disebutkan bahwa rumah tangga tanpa mawaddah akan menimbulkan suasana yang kering kerontang sehingga bukan nikmat yang didapat namun sengsara berkepanjangan.
“Tak ada mawaddah itu dalam hidupku.” Runa bergumam.
Aku menatapnya, menarik napas panjang kemudian. Memang tampak ada yang salah dalam pernikahan kawan baikku itu.
“Seharusnya dulu aku membaca buku itu,” lanjut Runa.
Dan mengalirlah kata-kata dari mulut Runa. Tak terbendung. Katanya, kalau saja dulu membaca buku itu, tak akan ia menelan pil pahit dalam kehidupan rumah tangganya. Karena di buku itu dibahas bahwa mawaddah merupakan cinta penuh gairah antara suami istri, sehingga hadirnya mawaddah dalam kehidupan berumah tangga merupakan sebuah faktor wajib dalam membangun rumah tangga yang harmonis dan menyenangkan. Mawaddah kemudian akan melahirkan rahmah atau perasaan kasih sayang. Dari sanalah, cinta mengabadi dalam rumah tangga yang langgeng.
Runa menyadari, pernikahannya dulu tak didasari cinta sebagaimana cinta yang terjadi di antara muda-mudi yang berpacaran. Tapi bukankah cinta akan muncul bila seseorang mau membuka hati lalu mengalirkan cinta pada pasangannya?
Begitu banyak pasangan yang mengawali pernikahan tanpa proses pacaran. Mereka berpacaran setelah menikah, dengan suami/istrinya yang halal. Perasaan cinta tumbuh seiring kebersamaan yang tulus ikhlas. Kata Runa, dalam buku itu dipaparkan detail bagaimana mencintai pasangan dengan show and prove your love. Itu yang nggak aku lakukan, sesalnya.
Komitmen, rasa percaya, dan tanggung jawab, ternyata tak cukup dalam sebuah rumah tangga. Harus tercipta romantisme di dalamnya. Di promtweet itu diuraikan bahwa romantisme bukan berarti selalu tindak dan aksi yang bikin pasangan melting. Hal-hal sederhana berupa perhatian tulus dan sedikit kejutan kecil pun bisa dikategorikan sebagai romantis. Seperti romantisnya Rasulullah kepada istri-istrinya. Sederhana tapi so sweet. Di buku itu diceritakan bagaimana indahnya romantisme Rasulullah dalam kehidupan rumah tangganya.
Selain kisah tentang Rasulullah, kata Runa, ada juga kisah tentang kisah cinta para shahabat yang bisa diambil hikmahnya. Dan yang tak kalah menarik, ada juga kisah nyata dari 5 orang kontributor yang bertajuk “Miracle of Love in Marriage”.
“Riwayat pengalaman seksual dalam pernikahanku juga dulu tidak sehat,” tukas Runa, tanpa tedeng aling-aling. Dalam buku itu rupanya dibahas juga tentang seksualitas dalam konteks mawaddah, oleh seorang narasumber yang capable dan tepercaya, yaitu dr. Ahmad Supriyanto. Wah, benar-benar buku yang lengkap, pikirku.
Menurut host promtweet itu, buku “Sayap-sayap Mawaddah” menggunakan bahasa yang relatif ringan dan mudah dicerna. Jadi, walaupun pembahasannya berat, nggak bikin kening berkerut-merut. Makanya, buku ini asyik dibaca.
“Aku mau bilang sama adik-adik dan keponakan-keponakan, sebelum nikah harus baca buku ini,” ucap Runa, pasti. Aku mengiyakan. Seketika Runa menoleh, “Hei, kamu juga harus baca, biar rumah tangga kalian makin mesra dan samara senantiasa.” Aku tersenyum.
Kulihat pandangan Runa kembali menerawang. “Semoga penulis buku ini juga nanti akan menerbitkan buku untuk pasangan yang telanjur gagal seperti aku. Mungkin judul bukunya “Sayap-sayap yang Patah”, lirihnya penuh harap.

“tulisan ini diikutsertakan dalam GA promtwit Sayap-sayap Mawaddah”
tema ke-2 :
Mengapa buku Sayap-sayap Mawaddah perlu dimiliki sebagai bekal pernikahan dan bekal menjalani rumah tangga



Minggu, 02 Februari 2014

Kasih Ibu Sepanjang Jalan


Menjadi seorang Ibu itu luar biasa anugerah tak terbandingkan. Mengalami getaran dan gerak kehidupan sebentuk janin dalam rahim, benar-benar karuniaNya yang bernilai bahagia seluas samudera. Apakah kebahagiaan akan terus menyertai seorang ibu saat si buah hati telah lahir ke dunia? Sejatinya, iya. Membersamai buah hati adalah saat-saat yang tak kan terganti.

Sayangnya, keharmonisan hubungan ibu dan anak, tidak jarang menemui halang dan rintang. Anak yang beranjak remaja, bukan lagi anak manis seperti tahun-tahun silam. Gesekan dan friksi boleh jadi tak terhindarkan. Perubahan sikap si buah hati bisa saja membuat ibunda terbelalak. Suaranya meninggi dengan mata menyorot tajam disertai argumentasi yang seolah tak ingin dibantah. Bila sudah begini, hati ibunda tergugu pilu. Merasa diri menjadi ibu yang gagal.

Ibu yang gagal? Yup! Itulah yang saya rasakan. Mendapati anak kedua, laki-laki, bertubi-tubi menuai masalah. Ketika SD, saya rutin dipanggil guru BK. Konsultasi dijalani, solusi dicari. Tidak kurang-kurang saya pun konsultasi dengan psikolog. Kemudian saya temui juga seorang motivator dan terapis yang memiliki keahlian hipnotis. Anak saya dihujani motivasi, dan mendapat terapi hipnotis.

Begitu keluar dari tempat praktik, anak saya terbahak, “Hahaha.. mau sok-sok ngehipnotis aku...” Dan saya hanya mampu mengurut dada, menyaksikan anak saya mengolok-olok sang terapis. Ternyata anak saya tadi hanya berpura-pura. Sebelumnya, guru BK di sekolahnya, yang juga mengantongi sertifikat terapis hipnotis, menyampaikan bahwa anak saya tidak bisa dihipnotis karena tingkat konsentrasinya yang sangat rendah.

Dengan segala usaha yang saya lakukan, termasuk mundur dari beberapa organisasi, prestasi belajar anak saya tetap terjun bebas, emosi negatifnya sering meledak, dan kegandrungannya pada game terus menebal. Saya nyaris frustrasi. Benar-benar serasa tertampar. Saya yang kepala sekolah, penggiat kegiatan penyuluhan parenting, aktif di masyarakat dan organisasi sosial serta organisasi profesi, ternyata tak berdaya menghadapi ulah anak sendiri. Di mana-mana saya berkoar tentang pola asuh yang baik, sinergi ayah dan bunda, komunikasi terbuka, dan sebangsanya. Namun semuanya mental ketika diterapkan pada anak saya.

Saya terpuruk. Perasaan tertekan. Maka mungkin itu sebabnya saya jadi tidak bisa rileks, selalu tegang menghadapi anak saya itu. Akhirnya suasana malah bertambah panas. Duh...

Tidak bisa dipungkiri, saya pun merasa malu. Ini membuat saya semakin down. Bolak-balik saya berdiskusi dengan guru-guru di sekolah anak saya, mereka menyemangati saya, tapi perubahan tak kunjung nampak. Hingga saat wisuda hafalan Quran, anak saya tidak bisa ikut karena belum lulus. Mati-matian saya menahan malu di hadapan teman-teman sesama orangtua siswa, apalagi saya juga adalah pengurus inti komite sekolah.

Keadaan bertambah buruk ketika kemudian rumahtangga saya pun hancur, tersebab sesuatu dan lain hal. Anak saya semakin sulit ‘dipegang’. Ombak yang hebat seperti menerjang lalu menghempaskan saya dengan kejam di batu karang yang keras. Rasanya semesta menuding saya sebagai ibu yang tidak becus. Setelah gagal sebagai ibu, saya pun gagal mempertahankan seorang ayah baginya.

Hingga kemudian saya mendengar cerita teman baik saya tentang adik laki-lakinya. Sang adik sejak kecil hingga masa kuliah seringkali berbuat onar. Ibunya merasa ingin mati saja, saking itu anak seakan tiada henti membuatnya pusing. Namun apa yang terjadi berbilang tahun kemudian? Kini anak nakal tersebut menjadi kebanggaan bahkan sandaran keluarga. Ia menjadi pembela utama keluarga. Tutur  teman saya, mungkin itu tersebab doa ibu yang bergumpal-gumpal terus berdesakan menuju langit, sehingga saat dikabulkanNya, turun deras bagai hujan.

Belum lama juga saya membaca sebuah kisah inspiratif tentang seorang pemuda 20 tahun yang ditinggal pergi untuk selamanya oleh ibundanya. Semasa hidup ibunya, ia adalah troblemaker, bahkan ijazah SMA pun luput didapat. Seiring waktu, tumbuh kesadarannya untuk menjalani hidup sesuai harapan ibunya, dulu. Setapak demi setapak ia melakukan usaha mandiri, hingga lambat laun usahanya berkembang. Keberhasilan secara finansial pun diraihnya. Demikian juga perilakunya terus bertambah sholeh.

Saya membeku. Sesaat tercekat. Eureka. Jawaban telah didapat. Saya harus melewati itu. Menempuh perjalanan mengalahkan waktu. Dengan terus mengais kesabaran dan mengembuskan doa seiring napas. Demi ananda tercinta yang sekarang duduk di kelas delapan. Hidup saya kini untuk anak-anak saya. Kasih sayang hanya buat mereka. Bukankah kasih ibu sepanjang jalan? Dan perjalanan masih panjang...

(#GA_PMW)


Tulisan ini diikutsertakan dalam GA Perjalanan Mengalahkan Waktu


Original Soundtrack novel Perjalanan Mengalahkan Waktu, lyric and music by Jalu Kancana, ada di sini

Jumat, 31 Januari 2014

Jauhi Mubazir Bukan Kikir


“Kita nggak semiskin itu kali, Ma!”

Duh, protes anakku tajam banget. Lalu aku pun menjelaskan bahwa gerakan penghematan ini bukan tersebab kemiskinan yang tengah melanda. Halah! Tapi karena pemborosan yang selama ini tanpa sadar dilakukan, termasuk ke dalam perbuatan mubazir. Dan orang-orang golongan mubazir ini disebutkan dalam Al-Quran sebagai kawannya syaithan. Hii.. Na’udzubillah.

Anak-anakku memang sering sembarangan dan seenaknya memperlakukan bahan makanan dan keperluan mandi. Misalnya, kecap yang sudah hampir habis, dengan santai dilempar ke tempat sampah. Padahal seperti yang kubilang, ‘hampir habis’ jadi belum habis, masih ada yang tersisa cukup lumayan di dasar botolnya.

Begitu juga dengan barang-barang keperluan mandi. Shampo dan sabun liquid yang isinya masih ada tersisa di dasar botol, langsung saja botolnya menjadi penghuni tempat sampah.
Ketika aku menegur, anakku menjawab, “Beli aja yang baru, Ma!” Lalu kujawab, “Sayang kan, masih ada sedikit, kok dibuang-buang?” Dan anakku menyahut dengan kalimat yang tertera di awal tulisan ini, dengan ditimpali oleh adiknya bahwa aku pelit.

Aku pun mencontohkan bagaimana caranya agar tidak mubazir pada sesuatu yang masih bisa digunakan. Botol-botol kecap dan saus yang isinya tinggal sedikit, aku jungkirkan posisinya 180 derajat, sehingga isinya akan mengumpul di leher botol, dan akan membuatnya mudah untuk dituangkan.


Begitu juga dengan shampo dan sabun liquid. Saat isinya sudah hampir habis, segera aku balikkan botolnya. Posisi seperti ini benar-benar memudahkan dalam penggunaan shampo dan sabun tersebut. Karena cairannya menjadi lebih cepat mengalir.


Setelah posisinya dibalik , rata-rata pemakaian masih bisa sampai 2-3 kali, lumayan kan? Itu dari satu produk, kalau beberapa produk sekian persen isi terakhirnya  dibuang-buang.. wah mubazirnya berlipat-lipat.. duh.. dosanya juga dong nambah terus.. :(

Nah, demi menghindari dosa yang nggak berasa itu, langkah-langkah anti mubazir harus terus dilakukan. Alhamdulillah, melalui pembiasaan yang konsisten, anak-anakku sekarang mengerti dan melakukan gerakan anti mubazir ini. Tertanam dalam benak mereka bahwa tindakan mubazir akan memasukkan pelakunya ke dalam golongan syaithan. Siapa sih yang mau jadi kawannya syaithan? Amit-amit banget yaa.. menjadi kawan syathan itu kan pastinya di dalam neraka. Maka menjauhi mubazir, bukanlah tindakan pelit alias kikir. Tapi itu adalah usaha sadar yang dilakukan dalam rangka memanfaatkan sesuatu tanpa mubazir.

Boleh juga Anda coba lho.. Semoga bermanfaat.. :)