Tampilkan postingan dengan label Tumpahan Hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tumpahan Hati. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Maret 2017

Menolak Cinta = Jahat?

Ya ampuun.. akhirnya aku nemu juga gimana caranya nulis post baru buat blog via hp. Hahaa.. katrok..? Tak apeu lah.. yang penting sekarang dah tahu, moga jadi nggak males nulis. Seenggaknya nggak kudu buka laptop, bisa dari hp aja.

Eh, itu judulnya kenapa gitu? Begini, temans.. tadi pagi ada seorang kawan yang curhat. Usia kawanku itu setengah dari usiaku.. hehe.. Kawanku emang dari berbagai lapisan usia. Malah muridku yang masih belasan usianya, sering kuanggap kawan pula.

Back to curhat tadi pagi, kawanku itu galau tersebab pria yang suka kepadanya. Jadi, ada 2 cowok yang sama-sama serius. Yang dateng belakangan inilah yang bikin galau.

Lelaki pertama udah nancep di hati sih sebenernya. Tapi lelaki kedua ini gayanya gentle sekallee. Baik lah judulnya, pake banget. Secara cinta berat, yaa wajar aja sih kalau dia baik.

Nah, kawanku ngerasa nggak enak hati, mau meng-cut si lelaki kedua, karena emang dia nampak tulus. Lagipula kalau inget sama takdir mah, belum tentu juga kan, kawanku itu akan berjodoh sama lelaki pertama.

Menurut aku sih, harus ada ketegasan dari kawanku itu. Dia tetapkan pilihan dulu. Seenggaknya ada yang di-cut seorang lah, jadi nggak php-in dua-duanya. Lelaki pertama kebetulan beda kota, jadi mereka LDR-an ceritanya, jarang ketemu.

Pas aku bilang supaya kawanku tanya hatinya pilih yang mana, dia bilang "malaikat juga tahuu.. si pertama lah yang jadi juaranya.." Hahaa.. bacanya sambil nyanyi ala Dee yaa.. 😂

Masalahnya, kawanku ngerasa jadi orang paling jahat sedunia, ketika nge-cut lelaki kedua. Aku bilang, nggak lah. Lelaki itu kodratnya dapet 2 opsi : diterima atau ditolak. Sebaliknya, perempuan harus melakukan 2 opsi juga : menerima atau menolak.

Maka, kalau​ jadi laki, ya harus siap ditolak. Itu konsekuensi alam. Sementara perempuan, nggak boleh php, nggak boleh maruk, nggak boleh takut kehilangan fans, maka harus tega nolak cinta. Kan nggak mungkin kita nerima semua laki-laki yang suka sama kita, kan?

Yang penting, cara nolaknya harus bener, bicara baik-baik, dengan halus dan santun. Nggak usah sok kebanyakan fans lah. B ajah.

Aku bukannya menyetujui kawanku itu menjalin hubungan kayak pacaran gitu ya. Tetep aku dorong dia buat istikhoroh. Bermohon yang terbaik sama Allah.

Perkara jadi jahat atau nggak, tergantung niat juga. Tujuan nolak cinta kan bukan untuk menyakiti hati orang. Malah pembelajaran kali ya, dalam proses pendewasaannya. Supaya bisa strong menghadapi kenyataan hidup.. da hirup mah peurih, Jang.. 😁

Semoga lah buat para gadis dan jajaka, dimudahkanNya untuk menggenapkan separuh dien. Terjaga selalu auratnya. Tetap istiqomah dalam akhlakul karimah. Sing saralamet..
ekenapa berasa tua gini ya.. penuh petatah-petitih.. hehe.. bukan tua, ding! Tapi dewasa dan bijaksana.. 😛

Tetap semangat ya, kawan.. semoga yang terbaik untukmu.


Minggu, 12 Maret 2017

Tentang Andi

Awalnya aku nyetatus di fb tentang Andi, cuma murni nyetatus aja. Tapi waktu itu bukan asal nyetatus lah, aku berusaha bikin status yang ada nilai kebaikannya. Nah, saat itu aku menangkap kebaikan dari pembicaraan dengan salah seorang murid, sebut saja Andi.. hehe.. kemudian sebut saja Andi itu menjadi berkelanjutan.

Lalu berselang beberapa kali status, aku kembali posting tentang kebaikan Andi. Dan entah yang keberapa kalinya, temen-temen yang komen menunjukkan rasa sukanya. Makin lama nampak seperti punya fans si Andi ini. Ada yang penasaran, ada yang kirim salam, dan ada yang pingin bisa lihat tampangnya kayak apa.

Aku bilang juga ke Andi tentang reaksi orang-orang itu. Dia senyam-senyum aja.. :)

Trus, kenapa aku pilih nama Andi? Nggak ada maksud apa-apa sih, cuma itu aja yang kepikir tentang nama khas anak laki-laki. Nama yang pasaran, kan?

Dulu waktu awal-awal, si Andi biasanya aku kasih lihat statusku di fb itu. Dia tersipu-sipu seneng gitu.. hehe.. Tapi makin ke sini udah nggak lagi lah. Biar aja semua mengalir.

Kesan yang orang tangkap dari Andi, dia tuh anak yang baik banget. Aslinya nggak terlalu kayak gitu sih.. hehe.. Namanya juga anak beranjak remaja, ya ada aja nyebelinnya, nggak melulu baik. Tapi pada dasarnya dia emang baik, dan pemikirannya dewasa. Otaknya encer pula.

Untuk sekarang ini aku belum mau membuka siapa Andi. Biar aja cuma aku dan Andi sendiri yang tahu. Bukannya sok rahasia, tapi nanti aja lah kalau Andi dah lulus esempe.. hahaa.. masih lama beud.. Sekarang aja Andi baru kelas 7.

Beberapa teman menyarankan supaya kisah Andi ini dibukukan, atau dibikin komik lagi, kayak Hasna. Kepingin sih, tapi masih bingung menentukan konsep. Dan mengeksekusinya butuh waktu.. huhuu.. sibuk mulu.. :(

Sebenernya kemaren udah diajukan konsepnya di audisi naskah Elex, tapi belum berkesempatan lolos. Konon nanti akan diadakan audisi lagi. Semoga nyangkut deh. Atau aku mau lewat jalur reguler aja, mudah-mudahan gayung bersambut.

Untuk balik menekuni pengerjaan satu naskah utuh, duh.. aku butuh energi luar biasa. Pulang kerja tuh bawaannya pingin tidur aja. Belom lagi nemenin anak-anak, rasanya habis waktu. Beneran deh, pingiiin banget bisa menuntaskan satu naskah utuh. Semoga Serial Andi bisa menjadi jalan kearah sana.

Senin, 21 November 2016

Kangen Nulis

Rasanya klise, ketika suatu aktivitas nggak bisa dilakukan lalu alasannya adalah sibuk. Tapi itu memang terjadi sama aku. Seharian dari pagi sampe sore, berkegiatan di sekolah, pulang ke rumah tinggal capek.

Padahal aku kangen nulis. Kangen yang sebenar-benarnya. Maka aku iri sama temen-temen yang bertaburan karyanya dimuat di media, atau menang lomba menulis ini dan itu.

Sebenernya sih nggak muluk-muluk, asal bisa rutin nulis di blog aja, aku udah seneng. Lha, ini mah blog sampe dah berdebu, berlumut, bahkan banyak sarang laba-labanya gini.

Terakhir nulis ternyata bulan September, dan sekarang November. Oh, tidak.. selama bulan Oktober samsek nggak nulis. Gimana bisa bernapas panjang ngenovel lagi. Atau bikin komik lagi.

Setiap ada yang menanyakan kapan buku baru akan terbit, rasanya tertonjoq. Kepingiin.. namun apa daya..

Pingin lanjutin novel Zia, pingin bikin komik lagi, pingin ngeresensi lagi, pingin nyerpen dewasa lagi pun..

Cuma segitu sih, tapi syussyahnyeu..

Mau nulis sekuel Zia aja, malah banyak ragu-nya. Takut mengecewakan gitu. Soalnya Zia dapet award, jadi seenggaknya kualitas tulisan nggak boleh nurun. Dan justru aku takut tulisanku malah garing.. huft..

Buat komik, aku dah siapin bahan referensinya. Bela-belain beli dengan harga berjuta-juta. Tapii.. belom mulai juga.. :(

Tapi, mungkin betul kata temenku, kadang sesuatu itu ada masanya, dan kita harus rela menerimanya. Dan aku belum bisa. Hati kecilku menolak kenyataan bahwa aku sekarang memiliki keterbatasan terkait kondisi kesehatan fisik dan psikis. Itu kadang bikin stress. Betapa nggak? pingin nuliiss, tapi mata terus memberat.

So, niat harus lebih kenceng lagi kayaknya. Kemaren itu pernah ada tugas bikin cerpen anak, dan dalam waktu relatif singkat, aku bisa menuliskannya. Langsung di-acc pula. Terbukti, kalau sungguh-sungguh mengerjakan, ada 'tangan' Tuhan yang membantu.

Selasa, 06 September 2016

Ibu, Sang Pembela

                 Di sekolah tempat saya mengajar, diberlakukan aturan larangan membawa handphone. Hal ini agar anak-anak bisa terlepas dari ketergantungan pada hp, serta menumbuhkan sikap tanggung jawab dan kemandirian. Karena biasanya orangtua bersikukuh membekali hp pada anak-anaknya dengan alasan agar anak mudah dipantau, terutama saat jam pulang. Wah, kalau anak selalu dikuntit orangtua terus, kapan anak belajar mandiri dan tanggung jawab? Tanpa hp, diharapkan anak akan tumbuh sikap tanggung jawabnya untuk bersegera pulang ketika jam pulang sekolah, sehingga orangtua tidak khawatir. Maklumlah, full day school kan pulangnya sore. Kalaupun anak ada kegiatan selepas jam pulang, maka anak harus punya kesadaran untuk memberitahukannya kepada orangtua, sebelum berangkat sekolah.
                 Eh, bukan berarti sama sekali nggak boleh bawa hp. Kalau memang ada hal yang urgent, boleh aja bawa hp. Tapi orangtua harus meminta izin dulu kepada walikelas atau wakasek kesiswaan. Dan selama berada di sekolah, hp harus dititipkan kepada walikelas atau Kesiswaan. Baru boleh diambil ketika akan pulang.
                 Nah, kemarin diadakan razia hp. Saya dan Divisi Kedisiplinan OSIS bergerak memasuki kelas-kelas, saat jam sholat dzuhur dan asar. Jadi ketika kelas kosong karena anak-anak berada di masjid, kami menggeledah isi tas nya. Dan.. ditemukanlah beberapa hp.
                 Sebagai wakasek bid. kesiswaan, saya menyita hp-hp tersebut. Anak-anak tidak bisa langsung mengambil hp miliknya pada sore itu, saat mereka akan pulang. Tapi hp baru bisa diambil esok hari, dan yang mengambil harus orangtuanya.
                 Anak-anak tersebut bisa menerima konsekuensi itu, karena mereka tahu telah melanggar peraturan sekolah. Namun ada 1 anak yang sangat gelisah dan menginginkan hp-nya kembali. Anak ini memang salah satu target razia kali ini, karena beberapa hari lalu diduga sering membawa hp dan tidak dititipkan ke walikelas atau Kesiswaan.
                 Dia datang kepada saya sambil merengek minta diizinkan untuk mengambil hpnya. Alasannya, ibunya sedang berada di luar kota. Kalau nanti ibunya menghubungi, dia nggak angkat hp, nanti ibunya khawatir. Saya bilang, nggak masalah. Ibunya akan saya hubungi untuk dikabari bahwa hp anaknya sedang disita, jadi tidak bisa dihubungi dari sore itu hingga esok hari.
                 Saya pun menelpon ibunya. Tampak ibunya kaget dan reaksi spontannya langsung ingin melindungi sang anak. Sang ibu tahu, anaknya pasti sangat menginginkan hpnya kembali. Ia pun beralasan bahwa saat itu ia sedang berada di Jakarta untuk suatu urusan, maka nanti bila ingin menghubungi anaknya tentu sulit.
                 Duh, rempong betul, pikir saya. Padahal ayah anak itu ada di rumah, kan ibunya bisa menghubungi lewat si ayah bila ingin mengetahui keadaan putra tercintanya.
                 Saya tegaskan pada ibu anak itu, bahwa peraturan sekolah berlaku untuk semua anak. Jadi tidak mungkin anaknya mendapat perlakuan istimewa dengan diperbolehkan langsung mengambil hpnya sore itu, tanpa orangtua pula. Semuanya baru bisa diambil esok hari oleh orangtua.
                 Ibu itu pun lalu bilang, "Anak saya nggak biasa bawa hp. Cuma tadi pagi itu memang saya yang suruh, karena saya mau ke Jakarta, jadi supaya saya bisa gampang menghubunginya."
                 Saya tertegun. Duhai, demikanlah seorang ibu. Betapa ia langsung muncul sebagai pembela anak, padahal ia tahu anaknya bersalah.
                 Anak itu sudah beberapa hari lalu diduga sering bawa hp. Ada beberapa saksi mata tepercaya yang melaporkan kepada saya. Jadi tidak mungkin ketika ibunya bilang bahwa anaknya tidak biasa bawa hp. Itu mah ibunya aja yang nggak tahu. Terbukti, laporan para saksi mata itu benar, dengan ditemukannya hp sang anak di dalam tasnya.
                Ibu itu masih agak berdalih lagi namun saya berusaha tetap konsisten. Kemudian ia ingin bicara dengan anaknya. Saya bilang, "Ada pesan apa, Bunda? Nanti saya sampaikan." Saya pikir, urusan akan tambah panjang kalau pake acara ngobrol dulu antara ibu dan anak tersebut. Akhirnya, sang ibu menitipkan pesan agar anaknya nanti ketika tiba di rumah, untuk segera menelpon ibunya. Lalu sang ibu meminta maaf kepada saya, dan saya pun segera menyudahi pembicaraan.
                Sang anak tertunduk lesu. Lunglai ia berjalan pulang.
                Begitulah para ibu. Acap menunjukkan sayang yang berlebih, namun sesungguhnya ditempatkan pada porsi yang tidak tepat.
                Mari bijaksana menyayangi anak!
gambar diambil dari sini



Rabu, 29 Juni 2016

Tentang Tangguh

Ada rekan kerja saya, namanya Bu Irma. Pembawaannya tenang, lembut, pokoknya super kalem. Amanah kerjanya cukup besar. Tanggungjawabnya adalah QA Kurikulum. Saya sungguh kagum melihat sikapnya, meski kadang greget juga sama ketenangan sikapnya. Soalnya kalau saya mungkin dah pingin mrepet sana-sini, tapi beliau tetap cool abizz..

Bu Irma nggak tau kalau saya diam-diam adalah pengagumnya. Sampai suatu ketika saat bukber, kebetulan saya dan Bu Irma lagi 'cuti', jadi tinggal kami berdua di meja karena yang lain sedang sholat magrib. Saya bilang, "Pingin lihat deh, paniknya Bu Irma kayak gimana?" Bu Irma cuma tersenyum lalu menutup muka. Ia merasa malu karena saya memujinya.

Tak lama, datanglah Ibu owner, yang juga ternyata sedang 'cuti'. Saya tanya sama beliau, "Bu, pernah melihat Bu Irma panik, nggak?"

Bu Irma lagi-lagi tersipu lalu menutup muka. Sedang Bu owner pun tersenyum bijak lalu memandang saya. "Bu Irma ini orang hebat. Beliau selalu berusaha melakukan the best that she could. Setelah segala upaya dilakukan, ia akan berserah. Jadi baginya, tak ada alasan untuk bersikap panik."

Saya tercengang. "Saya belum nyampe ke maqom itu."

Bu Irma tersenyum. "Subhanallah, sungguh betapa maha hebatnya Allah yang telah menutup aib-aib saya, sehingga yang tampak di mata Bu Linda seolah-olah saya begitu baik. Padahal mah ..."

Bu owner menanggapi. "Bu Irma pandai menyembunyikan apa yang tengah bergejolak, sehingga semua nampak adem ayem."

Pembicaraan terhenti. Teman-teman yang selesai sholat magrib mulai berdatangan. Tak lama kemudian kami selesai bukber dan keluar dari resto menuju tempat parkir. Dalam perjalanan menuju tempat parkir itu, Bu owner menjejeri saya. "Ada wanita-wanita yang diuji demikian berat. Seperti Bu Irma. Tapi beliau mampu menerimanya dengan sabar. Maka Allah menganugerahkan ketangguhan baginya."

Saya tercenung. Bu owner melanjutkan, "Selain Bu Irma, ada juga yang lain kan?" Saya mengangguk, teringat cerita beliau tentang salah seorang rekan yang mengalami perpisahan dalam rumahtangganya.

"Demikianlah setiap orang mendapat ujian yang berbeda-beda. Bukan kita yang menentukan apakah ujian si A lebih berat dari si B, atau sebaliknya. Karena masing-masing sesuai kadar beratnya dengan kesanggupan yang sudah terukur oleh Allah, nihil salah," lanjut Bu owner. "Dan Bu Linda juga. Wanita tangguh lainnya yang saya kenal." Bu owner lalu membuka pintu mobil dan duduk di balik kemudi, siap membawa kami pulang.

Saya pun mengulang kata-kata Bu Irma.. "Subhanallah, sungguh betapa maha hebatnya Allah yang telah menutup aib-aib saya.."

sumber gambar
Semoga menjadi doa.. saya benar-benar tangguh menjalani sisa hidup ini. Mendampingi anak-anak dengan segala problematikanya. Menekuni pekerjaan dengan segudang amanah yang besar. Menjadi wanita shalihah dengan akhir yang baik...

Minggu, 24 April 2016

My Children is Not Mine

Seorang teman baik bercerita tentang anak sulungnya yang sudah masuk di boarding school, namun kemudian menolak tinggal di asrama. Alhasil setiap hari sang bunda mengantarjemput si buah hati dengan jarak tempuh kurang lebih 40 km untuk satu kali perjalanan. Padahal sang bunda memiliki agenda yang padat setiap harinya. Namun di sela kesibukannya, ia rela berpayah-payah demi anaknya.

Sang bunda keukeuh menyekolahkan anaknya di sekolah yang jauh itu, karena menurutnya itulah yang terbaik buat si anak. Sekolah-sekolah di sekitar rumah dan lingkungan pergaulan di sana, tidak kondusif bagi perkembangan seorang remaja. Begitu, pendapat sang bunda. Ia tidak ingin anaknya jatuh terperangkap dalam pergaulan yang buruk. Karenanya, si anak harus dijauhkan dan ditempatkan di lingkungan yang baik.

Demikianlah naluri seorang Ibu. Selalu berusaha ingin melindungi dan memberikan yang terbaik untuk anak. Namun sayangnya, kerap niat tulus ini tak terbaca oleh anak. Ia menangkap isyarat lain. Gejolak jiwa remajanya tetap merasa bahwa bukan di sanalah pilihannya. Dan benturan pun tak terhindarkan.

Seketika aku teringat pada si sulung. Dulu, selepas SD, aku antarkan ia sepenuh cinta ke sebuah pesantren. Sejuta harap menggumpal di dada, anakku akan menjadi seorang yang shalih, cerdas, dan berkualitas. Tak tampak ada tanda-tanda perlawanan. Bahkan saat awal masuk sekolah itu, ia menjadi peserta MOS teladan. Ketika teman-teman seangkatannya riuh menangis ingin pulang, anakku tetap tegar dan bersikap manis.

Masih terekam baik dalam ingatanku, kala pertama meninggalkannya di hari aku mengantarkan ke pesantren. Rasanya ingin menangis berderai-derai, namun sekuat hati aku tahan. Anakku, cintaku, tak boleh melihat aku berurai air mata. Tampaknya aku bagai ibu yang kejam, tapi aku harus lakukan itu. Meski hatiku rasa terhimpit gunung saking beratnya meninggalkan anakku.

Hari demi hari aku lalui sambil tak sabar menunggu tiba hari Minggu. Hari dimana aku boleh menengok anakku. Saat itu kami belum punya mobil, maka aku berpayah-payah naik bis yang berderak-derak bunyinya. Kebanyakan bis-bis itu memang sudah butut. Dan aku pun harus merelakan diri berhimpitan di tengah sesaknya penumpang, sambil berdiri karena bis sudah sangat penuh.

Terkadang sebelum hari Minggu, aku tetap menuju ke pesantren. Sekadar membelikan makanan dan minuman, yang kemudian hanya bisa aku titip di Pak Satpam. Karena di luar hari Minggu, tidak diperkenankan bertemu dengan anak.

Setelah kehidupan kami membaik, dan sebuah mobil menempati garasi rumah, aku pun setiap Minggu menyetir ke pesantren. Membawa anakku jalan-jalan dan makan. Karena anak tidak boleh dibawa pulang, hanya boleh dibawa jalan-jalan hingga waktu yang telah ditentukan.

Seiring lipatan waktu, anakku terus menunjukkan prestasi. Berkali-kali ia menjadi juara dalam lomba. Lomba membuat komik berbahasa Inggris, lomba puisi, lomba membuat surat, dll. Dalam setiap acara pertemuan orangtua siswa pun, anakku selalu tampil, entah itu sebagai pembawa tashmi' maupun penampilan seni. Ah.. bahagianya hati ini.

Dari sisi akademik, anakku juga masuk 10 besar. Begitupun dalam pergaulan sosialnya, anakku terpilih sebagai kepala kamar.

Rasanya semua sempurna, bukan? Lalu, tibalah hari itu, tepatnya malam itu. Anakku tiba-tiba pulang ke rumah. Di sekolahnya sedang acara. Pengawasan melonggar. Anakku pergi tanpa ada yang mengetahui. Ia naik bis sendiri.

Bisa dibayangkan betapa remuk redam hatiku. Anakku, harapanku, cintakasihku, ternyata melakukan sesuatu yang tak terbayangkan sebelumnya. Tapi aku harus tetap hati-hati. Sekuat hati aku menahan diri untuk tidak mencecarnya. Hingga akhirnya, pengakuan darinya serasa menghantam jiwaku.

"Selama hampir setahun ini, aku udah melakukan apa yang Mama inginkan. Aku jadi juara ini itu, jadi ketua, hafal juz 1, semua demi Mama. Supaya nggak malu-maluin Mama, kan Mama sekretaris komite. Udah cukup, 1 tahun. Sekarang aku mau melakukan apa yang aku mau. Aku mau pindah sekolah, pas kelas 8."

Waktu itu memang sudah di akhir semester. Tinggal menunggu pembagian raport. Anakku sudah merencanakannya. Ia merasa saat itu adalah waktu yang tepat.

Sambil menahan gejolak rasa pedih perih, aku berpamitan pada pihak pesantren. Berterima kasih setulusnya atas segala bimbingan dan arahan untuk anakku. Ah.. rasanya ada yang tercerabut dari hatiku.

Setelah itu aku menawarkan beberapa sekolah untuk dipilih anakku. Aku tak mau lagi memilihkan. Biar semua keputusan berada di tangannya. Aku antarkan ia melihat-lihat beberapa sekolah. Hingga akhirnya pilihan jatuh pada sebuah boarding school di Sukabumi. Bukan pesantren, tapi boarding school yang islami.

Cerita tentang sekolah yang ini, nanti lagi deh. Satu yang pasti dari pengalamanku, apa pun yang kita idamkan untuk si buah hati, kadang tak selaras dengan kenyataan. Adakalanya semesta tak mendukung. Maka, selalulah berkomunikasi dengan anak. Libatkan ayahnya. Libatkan ayahnya. Libatkan ayahnya.
gambar diambil dari sini
 Anak kita bukan milik kita. Apa yang kita inginkan, harus dirundingkan bersama si anak. Karena anak pun berhak mengetahui dan turut menentukan. Setelah itu, intenslah terus membersamainya. Walau bagaimana pun, tugas kita lah untuk mengawalnya. Kerahkan segala usaha. Lalu sempurnakan dengan gempuran doa tiada putus. Mari senantiasa kita peluk erat anak-anak kita dengan doa.
gambar diambil dari sini



Kamis, 31 Maret 2016

Sebuah Peradaban Hilang!

Maaf, judulnya agak-agak lebay.. hehe.. Tapi memang itu menunjukkan ekspresiku yang sungguh kaget bukan kepalang. Ini terjadi ketika aku berkunjung ke Jatinangor setelah lebih dari 15 tahun meninggalkan wilayah penuh kenangan itu. Wah, kenangan apa tuh..? sstt.. fokus ah.. >0<

Ketika ada ajakan temen untuk silaturahmi ke rumah seorang penulis kondang di Jatinangor, aku mengiyakan sambil berpikir pingin napak tilas juga rasanya. Aku ngebayangin mau berangkat subuuh, trus di Bandungnya naik bis damri jurusan Jatinangor yang finishnya di Unpad. Dan karena aku nanti nggak mungkin sempet sarapan dulu, jadi yang kebayang tuh mau sarapan di warung nasi Sari Bundo atau Munggaran. Walaupun kecenderungan lebih ke Munggaran. Kayaknya lebih ngangenin, dengan menunya yang sederhana tapi beragam. Trus, suasana pinuhnya yang bikin hareudang itu.

Sayang disayang, aku terlambat. Jadi boro-boro subuh, yang ada malah berangkat di saat hari mulai terang, sekitar pukul 6. Yawdah, aku nikmati ajalah. Daripada nyesel-nyesel, nggak akan mengubah waktu, toh? Termasuk ketika maceeett menghadang, aku berusaha lapang sajo.

Singkat cerita, aku tiba di Cileunyi. Rasa waas mulai merayapi hati. Apalagi aku melanjutkan perjalanan dari Cileunyi dengan naik ojeg, jadi lebih bebas menikmati pemandangan.

Yang pertama, IPDN. Wah, udah beda nih, pikirku. Selanjutnya, Ikopin.. oh, tak ada lagi wajah lamanya. Lalu, kiri kanan semakin asing. Oh my.. Oh my.. Mana tempat kost Iyiek a.k.a Inkud? Kok ada apartemen segala..?

Seiring melajunya ojeg, aku makin terbengong-bengong. Toko-toko, kios-kios, kedai-kedai tampak semarak. Jatinangor-ku.. oh, Jatinangor-ku manaa..?

Foto diambil dari Grup Reuni Sastra di Facebook
Lalu, jreeng.. ada ITB. Setelah ituu.. U-eN-Pe-A-De.. is that U..? tanyaku. Huhuu.. benar-benar aneh..
Di mana gerbang Unpad yang jadi pangkalan Bis Damri..? Trus manaa jalan yang agak nanjak dikit ke arah luar gerbang menuju tempat kost aku, yang waktu malem itu aku hampir jatuh kepleset trus ditolong sama dia..? hahaayy..
Foto diambil dari Grup Reuni Sastra di Facebook
 Benar-benar hilaang, kawan! Tempat kost pertama aku, lalu tempat kost yang punya Pak Lurah, dan terakhir Pondok Kartika, semua hilaang.. PBB alias Pondok Babakan Bandung, tempat kost Zizi sama Emma, markas Himade, warung nasi Adi Ada Ajah.. lenyaap..

Kalo aku sebutin semua satu-satu tempat kost temen-temen sama tempat-tempat strategis lainnya, percuma deh kayaknya. Karena semua sungguh telah raib. Jadi spontan aku bilang, sebuah peradaban hilang. Sebuah masa dari sebuah generasi telah sirna. Generasi aku maksudnya, angkatan 90-an.

Entah hotel atau apartemen, tegak berdiri mentereng. Bangunan-bangunan keren lainnya menyesaki Jatinangor. Duhai, rasanya ada yang tercerabut dari hati..
Foto diambil dari sini


Sabtu, 09 Januari 2016

Kesibukan Orangtua Vs Undangan Rapat dari Sekolah

gambar diambil dari sini
 Sekolahku belum mulai KBM (Kegiatan Belajar Mengajar). Jadi anak-anak masih liburan. Baru mulai masuk hari Senin besok, 11 Januari.

Sebelum mengawali semester baru, aku berniat mengundang orangtua satu kelas (kelasku aja) untuk ketemuan dengan agenda utama adalah evaluasi semester lalu dan bagaimana menghadapi semester selanjutnya. Lalu aku bikin woro-woro di grup WA dan BBM. Segelintir Bunda menyambut baik, beberapa bilang maaf nggak bisa hadir, dan.. eh, malah ada seorang Ayah yang jaka sembung, dia posting iklan produk kecantikan. Hadeuh si bapak.. diundang rapat malah jualan.

Berhubung yang gabung di grup WA dan BBM rata-rata orangnya itu-itu juga, dan jumlahnya cuma setengah dari keseluruhan, maka aku pun mengirim sms satu-satu ke semua orangtua. Di akhir sms aku minta mereka agar sms balik untuk konfirmasi kehadiran.

Ada tuh satu Bunda yang di WA langsung bilang iya mau hadir. Aku seneng, karena pingin ketemu sama Bunda satu itu, secara foto profilnya blondie gitu rambutnya.. hihi.. nggak ding, emang pingin silaturahmi, pingin komunikasikan tentang anaknya. Trus nggak lama, dateng smsnya bilang maaf nggak bisa hadir karena ada acara lain. Hadeuh.. kebiasaan deh, waktu ambil raport juga gitu. PHP.

Lalu mulai pada sms deh, ada yang bilang mau hadir, ada juga yang nggak. Tapi itu jumlah ortu yang sms balik, nggak sampai setengahnya. Yang setengahnya lagi cuek beybeh.

Hmmph.. cukup sedih sama kondisi ini. Aku tuh pingin bisa ngomong ke semua ortu. Gini lho.. kondisi anak-anak sekarang. Yuk, kita lebih tingkatkan kualitas kebersamaan sama anak-anak. Kualitasnya lho yaa.. jadi jangan sampe isi komunikasi orangtua sama anak, cuma omelan dan tuduhan aja ke anak.

Beberapa anak kan curhatnya hampir sama. Mereka ngerasa kalo di rumah dimarahin or diomelin mulu sama ortu. Jadi mungkin ortu nasehatin atau menegur pake kalimat yang puanjang-panjang plus diulang-ulang. Akhirnya malah pesan nggak tersampaikan dengan baik. Yang ada malah anak nangkepnya, "aku dimarahin mulu".

Nah, aku tuh pingin komunikasikan hal itu ke orangtua. Supaya mereka bisa memahami sudut pandang anak. Lha, sebenernya kan kalo kita sendiri juga ya, ditunjukin kesalahan pake kalimat yang puanjaang trus diulang-ulang, pasti sebel kan? Anak juga gitu, brow..

Trus, soal gadget. Ini nih.. kudu banget orangtua kasih pengawasan. Di sekolahku akan diluncurkan GMH (bersamaan dengan GMT-Gerakan Matikan Televisi-yang udah launching duluan). GMH adalah Gerakan Matikan Hp. Waktunya dari mulai azan Magrib sampe sholat Isya. Rencananya bertahap. Sekarang sampai selesai sholat Isya, sekitar jam 7-an ya. Nanti ditingkatkan sampe jam 8. Ini untuk pembiasaan melepaskan diri dari ketergantungan sama Hp.

Pokoknya hal-hal yang menjadi pembahasan di pertemuan sama orangtua, semua tentu berkaitan sama kondisi anak. Namun sayang di sayang, orangtua yang hadir ternyata hanya 10 orang saja, yaitu 9 Bunda dan 1 Nenek (nenek lincah ini mah).

Aku sejujurnya kecewa dan sedih. Orangtua betul-betul lebih mementingkan pekerjaannya di kantor. Memang nggak semua. Ada 1 Bunda yang menejer toko roti dengan cabang di mana-mana, tetap menyempatkan hadir. Tapi yang lainnya tuh, maaf.. pekerjaan di kantor tak bisa ditinggalkan. Dan ketika aku bilang, nanti kalau pekerjaan di kantor nggak terlalu padat, saya tunggu di sekolah ya, kita ngobrol tentang ananda. Tanggapannya nggak antusias gitu, seolah 'lha, saya kan kerja!'

Kewajiban orangtua terhadap sekolah bukan hanya bayar SPP, tapi harus juga berkomunikasi dengan walikelas, membahas perkembangan anak. Memang sih beberapa anak dalam posisi aman, tapi bukan berarti orangtua lantas santai-santai saja. Anak-anak tetap perlu dikawal dan diperhatikan.

Kondisi sekarang yang serba instant dan serba mudah, membawa dampak juga ke anak. Mereka kurang tangguh, kurang punya daya juang. Ketika menghadapi tantangan dan kesulitan, semangatnya kendor, ujungnya menyerah. Nah, hal-hal semacam itu yang perlu diketahui orangtua, lalu kita bahas dan dicari model pendekatan yang tepat. Karena setiap anak kan berbeda.

Memang sih aku yakin, orangtua pasti nggak bermaksud abai sama anak. Mereka pikir, nggak memenuhi undangan rapat dari walikelas bukan merupakan bentuk nggak perhatian sama anak. Sebab mereka bekerja juga kan alasannya pasti demi anak. Dan yang nggak dateng rapat, bukan melulu orangtua yang kerja kantoran, tapi orangtua yang di rumah pun ada juga yang nggak dateng. Alasannya sih sama: sibuk dengan pekerjaannya juga.

Alasan yang sangat ampuh ya, sibuk. Lalu kenapa berkomunikasi langsung dengan walikelas tentang perkembangan anak, tidak dimasukkan ke dalam daftar kesibukan?

Jumat, 01 Januari 2016

Mau Ngapain di 2016?

 Aku termasuk orang yang nggak terlalu peduli sama ritual tahun baru. Bahkan ketika hari terakhir di tahun 2015, aku nggak sempet nggak nyadar. Aku heran, kenapa ponakanku yang kerja di luar kota kok pulang. Dan dia menjawab, "Kan besok libur tahun baru..!" Oh, aku baru ngeh, besok tanggal 1 Januari tahun baru. Begitu pun malamnya, aku sama sekali nggak terusik dengan hingar bingar keriaan ritual menyambut tahun baru. Aku lelap dari pukul 21 hingga subuh esok paginya.

Kira-kira jam 6 pagi, sahabat baikku mengirim sms, mengucapkan selamat tahun baru. Aku jawab, aku lupa kalau hari ini tahun baru. Trus dia kasih saran supaya aku bikin target di 2016 ini. Hmm.. kepingin sih, tapi ngeri juga.

Kenapa ngeri? Karena takut nggak terlaksana. Untuk dunia kepenulisan, aku sama sekali belum punya naskah utuh. Sementara di 2015 bukuku terbit 4, lalu di 2016 seenggaknya menyamai kan? masa' menurun ya? Duh, 4 buku lagi? rasanya nggak mungkiin..

Tapi, ketakutan itu perlahan meminggir. Percakapan di grup WA bersama teman-teman penulis, cukup menyuntik semangatku. Mereka itu hebat-hebat, bisa menjadi motivator andal. Bisa bikin aku tersentak dan sadar. Selama ini aku banyak memaklumi diri sehingga produktivitas menulis merosot tajam. Aku nggak pernah lagi meresensi buku. Apalagi ngisi blog. Aku ngerasa badanku ambruk sepulang kerja. Laptop lebih banyak menganggur di sudut kamar. Dan aku membiarkan diriku lelap selepas Isya.

Sekarang di hari pertama ini, aku ingin bertekad, menata hati dan pikiran, lalu me-manage waktu dengan baik. Aku selalu merasa disesaki oleh masalah-masalah internal yang menyebabkan kelelahan fisik dan psikis. Sungguh, aku ingin melawan semua alasan yang menyebabkan produktivitas menulisku terjun bebas.

Aku ingin seperti kawan-kawan yang lancar menulis dalam hitungan 1-2 jam saja, mampu menghasilkan tulisan yang runtut dan asik dibaca. Sementara aku suka ngerasa tulisanku garing aja.. haha..

Nah, ternyata perasaan nggak percaya diri itu diprotes berat sama temen-temenku. Ada yang bilang, aku ini punya banyak potensi tapi nggak tereksplor karena nggak pede itu. Aku tercenung. Ini menggedor kesadaranku. Aku harus mengubah diri.

Kukira, baiknya sebuah tulisan bisa terasah oleh jam terbang. Mungkin karena akhir-akhir ini aku jarang nulis, akhirnya aku merasa kaku, yang berefek pada rasa percaya diri yang menurun drastis. Selalu merasa tulisanku buruk sementara ketika aku membaca tulisan orang lain kok enak-enak ya.

So, beneran deh. Diawali postingan pertama ini, aku mau rutin nulis setiap hari. Terserah deh mau garing mau nggak, yang jelas aku mencoba mendokumentasikan sebuah kejadian yang mungkin bisa membawa pada kebaikan. Tiap hari harus nulis. Harus!
Aku juga harus memetakan rencana naskah yang akan aku wujudkan di 2016. Masih tetap di dunia anakkah? atau merambah ke cerita dewasakah? Semua harus aku ukur dan evaluasi. Karena sebuah mimpi jangan hanya menjadi mimpi kosong tersebab tak diiringi sebuah perencanaan pelaksanaan.

Ya Allah, bantu saya.

Senin, 23 November 2015

Menyapa Kenangan

gambar diambil dari sini

Asiknya gabung di satu komunitas itu, bisa diskusi segala macem. Komunitas yang aku ikuti, bukan komunitas gaje ya, tapi membernya para penulis yang ramah dan baik hati. di sana bergabung berbagai kategori penulis. Ada yang namanya udah berkibar sebagai novelis, ada yang jawara dimuat di media, ada yang langganan juara lomba nulis, ada penulis cerita dewasa, cerita remaja cerita anak, ada blogger, pokoknya seru deh.

Awalnya komunitas itu ada di fb lalu beberapa member bikin grup WA-nya juga. Nah, di WA inilah yang wacana diskusi selalu asik dan variatif. Dari hal-hal yang memang bersinggungan langsung dengan dunia tulis menulis, berkombinasi dengan segala hal yang terlintas di benak. Bisa masalah kesehatan, pendidikan anak, politik, agama, sampai hal-hal yang remeh temeh. Tapi, catet yaa.. remeh temeh bukan berarti gosip nggak karuan lho.. tetap sesuatu yang bermakna.. tsaaah..

Nah, kemaren tuh entah dari mana mulanya, tetiba topik berputar pada masalah kenangan lalu. Ada Neida yang dikenal suka sekali 'mengunyah kenangan' alias termantan.. hahaa.. Terus, Hairi Yanti yang memulai cerita tentang kenangannya waktu kelas 6 SD. Semacam cinta monyet gitu lah.. hahaa..

Cerita Yanti itu seperti menyeret pada kenanganku sendiri waktu kelas 6 SD juga. Hahaayy..
Dulu, di depan mejaku, duduk anak cowok yang entah siapa yang mulai, katanya kami saling suka. Dia suka aku, begitu pun sebaliknya.. *senyum-senyum sendiri nih..

Dia itu perawakannya kecil, pinter, dan tulisannya baguus banget. Cocok sama aku yang juga pinter waktu itu (eh, sekarang juga masih pinter ah.. hahaa..). Namanya.. engh.. aku sebut nggak yaa.. Ah, nggak aja ah.. :)

Tampangnya lumayan manis. Matanya kadang menyipit kalau lagi ketawa. Punya jiwa pemimpin. Larinya kenceng (lagi-lagi idem sama aku, yang dulu jago lari jarak pendek). Mahir menggambar.

Nah, di penghujung kelas 6 kan ada ujian praktek olahraga. Setiap anak harus membuat sendiri nomor pesertanya, dari karton gitu. Maka beramai-ramai pada ngorder sama dia, minta dibikinin. Karena dia kan dah tepercaya pasti bikinnya bagus. Temen-temen pada nyetor nomor peserta masing-masing sama dia. "Aku nomor segini ya, saya nomor segini ya.."

Apakah aku ikut-ikutan minta dibikinin juga? Tidak, sodara-sodari. Aku diem aja. Lho, bukannya dia 'pacar' aku? Harusnya aku minta dibikinin juga dong. Hmm.. nggak gitu deh ceritanya. Jadi, walaupun kami berteman akrab, dan konon saling suka, tapi kami menyimpan rasa ini dalam diam.. haha.. Aku ngerasa nggak enak aja kalau ikut-ikutan ngerubutin dia. Lagipula, aku pingin tahu, apa dia bakal bikinin kartu nomor peserta itu buat aku..

Singkat cerita, dia sudah selesai membuatkan kartu nomor peserta untuk para pengorder. Semua dibagikan. Semua riuh bilang trimakasih sama dia. Aku diam, melihat dari jauh. Lalu ketika proses distribusi kartu selesai, dia menghampiriku. Sambil tertunduk malu-malu, dia menyerahkan kartu nomor peserta untukku. "Nih, buat kamu."

Aku menerimanya dengan malu-malu juga. "Kok kamu tahu nomor aku?" tanyaku. Dia mengangkat wajahnya. Menatapku sambil tersenyum manis. Tanpa kata. Dan aku mengerti, senyum itu adalah jawabannya.

"Makasih ya, kamu dah bikinin kartu buat aku," ujarku sambil membalas senyumnya.

Dia mengangguk. "Maaf ya, kalau kartunya jelek."

Aku menggeleng. "Nggak kok, kartunya bagus. Tulisan kamu bagus."

Lalu kami menunduk sambil terus tersenyum. Duhai, rasanya seperti berada di taman bunga.. hahaayy..

Kini, kita akan berada di bagian melow dari cerita ini. Saat hari perpisahan, kami semua tampil di atas panggung, menyanyikan lagu perpisahan. Sedih rasanya, karena dia mau melanjutkan SMP ke Bandung. Dan, setelah acara selesai, kami berdua bertemu di balik panggung. Saat itu aku memegang hadiah sebagai pemegang ranking 5 besar. Dia mengucapkan selamat kepadaku.

"Selamat, ya. Nanti kamu pasti keterima di SMP Negeri 2." (SMPN 2 adalah sekolah favorit di kotaku)

Aku mengangguk. Kami terdiam. Senyap.

"Kamu jadi pindah ke Bandung?"

Dia terdiam. Hening sesaat. Lalu dia mengangguk. "Iya," jawabnya lemah.

Kami bertatapan sejenak. Menunduk bersama, kemudian.

Suasana melow itu tak berlangsung lama. Beberapa anak menghampiri kami, seolah nggak menyadari bahwa kami lagi dirundung haru. Mereka ramai membicarakan rencana melanjutkan sekolah. Ya, untung juga sih mereka datang. Jadi bisa mengganti suasana.

Setelah sekian waktu berlalu, saat zaman kuliah, aku bertemu dengan seorang teman SMA. Yang aku tahu, ibunya telah meninggal. Lalu dia mengabarkan kalau ayahnya menikah lagi. And U know who is her new wife? Ternyata ibunya si dia. Rupanya ayah dia sudah lama meninggal. Spontan aku langsung menanyakan bagaimana kabarnya dia. Ternyata dia masih di Bandung, sibuk di sana, dan jarang pulang. Dan aku nggak berani nanya-nanya terus, karena takut temenku itu curiga.. ^^

Ketika facebook marak, dan orang-orang menemukan teman-teman TK, SD, SMP, SMA, dan akhirnya musim reuni, teman-teman SD-ku pun mulai mengontak aku. Mereka merencanakan reuni, dan mulai membicarakan si ini sekarang di kota ini, si itu di kota itu, dsb. Lagi-lagi aku langsung menanyakan tentang dia. Dan ternyata, teman-teman kehilangan kontak dengan dia. Terakhir kabar yang didengar, dia sudah menikah dan tetap tinggal di Bandung. Dia pun nggak ada kontak fb.

Yah sudahlah.. kenangan lebih indah bila tetap berwujud kenangan..

"Kita sepakat meninggalkan masa silam. tapi, diam-diam suka mengunjunginya" -- Krisna Pabichara
gambar diambil dari sini

Sabtu, 21 November 2015

ZIDAN LOMBA

Ini cerita tentang Zidan, anakku yang kedua. Sekarang dia kelas sembilan. Aturan sih, tahun ini masuk SMA. Tapi kemaren dia nggak ikut UN karena.. engh.. sakit.. dan.. dia tuh dah berbulan-bulan sebelumnya sering bolos sekolah.

Sedikit flashback, Zidan memang termasuk cukup rumit menjalani hari-harinya. Maklumlah, ketika musibah menimpa, dia lagi masa baru menginjak usia remaja. Jadi galaunya lumayan bikin pusing aku. Tapi aku nggak bisa nyalahin dia juga sih. Dengan segala hal 'ajaib' yang kita sekeluarga alami, wajar aja kalau terjadi keguncangan dalam dirinya.

Singkat cerita, akhirnya dia mengulang kelas sembilan. Sementara teman-temannya sudah duduk di bangku SMA. Alhamdulillah, dia nggak pernah bolos lagi. Dia sekolah dengan baik. Rupanya dia mulai menyadari telah ketinggalan waktu satu tahun.

Sujud syukur sama Allah melihat dia tiap hari berangkat sekolah. Mungkin bagi orang lain mah biasa aja ya, melihat anaknya sekolah. Tapi buat aku, subhanallah, bersyukur banget. Ya, begitulah, kadangg apa yang sederhana untuk seseorang, mugkin sangat berarti luar biasa bagi orang lain. Hal itu juga berlaku untuk sebuah kemalangan. Hal yang buruk bagi seseorang, mungkin bagi orang lain, segitu tuh sudah berupa sebuah pencapaian. Misal, Ibu yang punya anak cerewet, merasa kesal dengan kecerewetan anaknya. Sebaliknya, Ibu yang anaknya penderita autis, justru mendambakan anaknya kritis dan cerewet seperti itu.

Balik lagi ke Zidan. Aku lagi seneeeng banget. Gurunya sms, bilang bahwa Zidan menunjukkan kemajuan. Dia mau ikutan lomba bidang studi di sebuah SMA Negeri. Waah, surprise banget rasanya. Pantas saja, dia nanya-nanya lokasi SMA yang dimaksud. Trus, nanya-nanya juga soal Bahasa Indonesia.

Pada hari pelaksanaan test, aku dorong dia dengan doa. Katanya, dia ikutnya lomba mapel Bahasa Indonesia. Ok, sebagai guru Bahasa Indonesia, aku sudah membekali dia sebelumnya dengan soal-soal dan membahasnya.

Hingga siangnya, gurunya mengabarkan via sms, ternyata Zidan masuk peringkat 16, sehingga masuk semifinal. Subhanallah..

Kebayang nggak sih, tu anak dulunya boro-boro mikirin sekolah, lha tiap hari kan bolos aja. Eh, tiba-tiba sekarang ikut lomba mata pelajaran dan berhasil berprestasi. Lombanya pun ternyata berubah, jadi bukan hanya satu bidang studi, tapi lima: Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, IPA, Matematika, dan IPS.

Gurunya meminta aku agar melatih Zidan untuk persiapan menghadapi semifinal keesokan harinya. Ternyata semifinal berbentuk Lomba Cerdas Cermat perseorangan. Aku pun melatih dan menemaninya belajar. Untungnya punya buku soal-soal UN, jadi mempelajari buku soal itu. Cuma soal-soal IPS yang nggak ada. Zidan nyari sendiri di google.

Keesokan harinya aku ikut menemani ke lokasi lomba. Alhamdulillah, guru pendampingnya mensupport. Beliau mengajakku ikut. Jadi, kami berangkat bareng dalam mobil si Bapak Guru itu.

Pas aku lihat pengumuman di tempat lomba, ternyata jumlah peserta seluruhnya ada 158 orang. Zidan berada di peringkat 16. Sungguh pencapaian yang luar biasa.

Meski pada akhirnya Zidan gagal masuk final, tapi aku tetap mengapresiasinya dengan antusias. Masuk semifinal itu udah demikian membanggakan. Dan Alhamdulillah, bagi para semifinalis (16 besar) berhak mendapatkan fasilitas masuk SMA Negeri tersebut tanpa test lagi.

Sujud syukur banget, Zidan dah dapat tiket masuk SMA Negeri yang berkualitas bagus. Hanya sayangnya, lokasi sekolah itu cukup jauh, dan melewati pabrik garment yang rawan macet. Jadi kalau berangkat dari rumah harus pagi-pagi. Zidan sih mau-mau aja daftar ke SMA Negeri itu, tapi masih mikir-mikir juga.
Aku cuma berharap, yang terbaik untuk Zidan. Semoga.
Kenangan sama Zidan waktu masih imut.. :)



Sabtu, 10 Oktober 2015

Aku Nonton Bokep Sejak Kelas 2 SD!

Ini benar-benar harus menjadi perhatian para orang tua. Anak-anak kita.. oh, anak-anak kita yang lucu, baik, ceria, dan pintar, ternyata mereka mengalami hal yang sungguh di luar dugaan.

Saat itu, saya sedang asik ngobrol dengan anak-anak laki-laki kelas 7. Cerita demi cerita bergulir. Akhirnya saya tergelitik untuk melontarkan pertanyaan pancingan, "Kalau nonton bokep, udah pernah?"

Anak-anak itu ada yang tergelak, ada yang senyam-senyum. Satu sama lain saling pandang. Lalu meluncurlah cerita seputar pengalaman mereka menonton film-film yang tak pantas itu. Sejujurnya, saya mendengarkan sambil menahan debur pilu yang berdentum-dentum. Bayangkan, anak-anak di usia sekecil itu, berbicara fasih tentang situs-situs porno dan bagaimana cara mencari film-film itu dengan menyebutkan beberapa kata kuncinya.

Sepanjang mereka bercerita, saya berusaha tetap datar agar mereka leluasa terus bicara. Hampir semua mengawali nonton itu karena diajak teman. Dan itu dilakukan saat mereka masih duduk di bangku SD! Setelah sekali nonton, lalu ada yang kedua kali, ketiga kali, dst. Biasanya setelah rame-rame sama temen, mereka akan mengulanginya saat sendiri di kamar.

Setelah mereka banyak bercerita, saya mulai sisipkan pelan-pelan tentang bahaya besar yang akan menimpa mereka kalau kebiasaan ngebokep itu terus dilakoni. Saya katakan juga, Allah tidak suka perbuatan maksiat itu. Mereka rata-rata mengerti. Semua mengangguk-angguk. Katanya, sudah tahu. Tapi kalau lagi nggak ada kerjaan, di kamar sendirian, suka iseng ngeklik itu lagi, trus keasyikan. Duh, Gustiii...

Jangan terburu-buru menyalahkan orang tua, dengan mempertanyakan, "Itu ayah ibunya pada kemana sih?"
Beberapa dari mereka nggak sibuk-sibuk banget, kok. Mereka juga cukup perhatian sama anak-anak. Dari kalangan baik-baik dan rajin mengaji. Lalu, kenapa? Karenaa.. para orangtua itu sama sekali nggak terpikir bahwa anaknya yang imut akan melakukan hal menjijikkan seperti itu. Mungkin mereka hanya mengira, hp berada di tangan anak-anak dihabiskan untuk main games atau chatting sama teman saja.

Yang membuat dada saya sesak adalah, salah satu dari mereka bilang, "Aku kenal film bokep sejak kelas 2 SD!" Lemas rasanya seluruh persendian saya. Anak saya yang bungsu, duduk di kelas 2 SD. Nggak kebayang, anak sekecil itu melahap film biru.. :'(

Ketika saya katakan bahwa kebiasaan ngebokep itu bisa menimbulkan kerusakan atau gangguan otak, anak itu menukas, "Tapi aku tetep pinter! Nggak kenapa-kenapa!"

Believe it or not.. anak itu memang pinter. Terutama pada pelajaran matematika dan sains, sering mendapat nilai seratus. Pelajaran lain juga tetap bagus. Bahkan hafalan Al-Qurannya pun sudah melewati juz 30, dan sudah hafal beberapa surat di juz 29.

Nah, itulah yang mengecoh. Anak-anak itu tampak seperti baik-baik saja. Orangtua tidak curiga. Mereka memberikan hp atau gadget tanpa pengawasan. Bukan karena tidak perhatian, tapi karena ketidaktahuan. Bahwa kewaspadaan perlu ditingkatkan berkali lipat.

Tanpa diketahui, saat jam istirahat, ada juga beberapa anak yang 'praktik' di dalam kelas. Pintu kelas ditutup. Guru-guru tidak ada yang melihat, karena mereka pun beristirahat pula di ruang guru.

Kini saatnya kita semua bergerak. Orang tua, guru, keluarga, dan siapa pun, mari lindungi anak-anak kita. Tingkatkan pengawasan terhadap anak-anak. Waspadai gadget di tangan mereka. Pelajari tips cara mudah blokir situs porno. Tips-tips tersebut bisa di-search di Google. Jangan kalah canggih dengan anak-anak. Para orang tua sudah waktunya melek internet.

Gambar diambil dari sini



Selasa, 29 September 2015

Deja Vu

Tahu deja vu kan? Menurut wikipedia, definisinya gini : Déjà vu (pengucapan dalam bahasa Inggris: /ˈdeɪʒɑː ˈvu, pengucapan bahasa Perancis: [/deˈʒa ˈvyː/]) adalah frasa Perancis yang artinya secara harafiah adalah "pernah melihat" atau "pernah merasa". Maksudnya adalah mengalami sesuatu pengalaman yang dirasakan pernah dialami sebelumnya.

Nah, aku ngalamin yang 'pernah melihat' itu. Jadi, dulu tuh saat aku kelas satu SMP, aku inget banget pernah suka sama anak cowok. Dia anak SMP juga, tapi beda sekolah. Setiap pagi aku ketemu dia, karena melewati jalan yang sama menuju sekolah. Aku sekolah di SMPN 2, dia di SMPN 1. Sekolah kami berdekatan, ada di satu jalur yang sama, cuma terhalang 3 bangunan.

Aku nggak pernah tahu namanya siapa. Aku juga diem-diem aja, nggak bilang siapa-siapa. Yah, semacam secret admiror gitu deh.. hehe.. Lagipula bukan cinta sih kayaknya, cuma suka aja, seneng ngelihatnya. Soalnya dia manis banget menurutku saat itu.

Akhirnya aku nggak tahan juga sih. Aku cerita ke sahabat aku, dan dia bukan yang tipe ember. Nggak ada yang tahu lah aku suka sama dia.. secara dia juga beda sekolah. Lagipula aku nggak yang terlalu gimana gitu ya, cuma acap berharap agar hari lekas menjadi pagi.

Dia kayaknya setahun di atasku. Soalnya pas kelas 3 (sekarang kelas 9), aku dah nggak pernah lihat dia lagi. Pastinya dia dah masuk SMA. Trus aku..? yaah sedih lah.. tapi nggak patah hati juga. Karena ya biasalah.. anak SMP.. kemudian muncul lagi gebetan-gebetan baru. Hanya, jujur aja, rasanya sama dia, aku pertama kali kepincut sama yang namanya cowok. Waktu SD sih ada juga yang suka saling ledek si ini pacar si itu, si itu pacar si ini. Dan aku juga termasuk yang ada disebut pacaran sama si.. --- (nggak usah sebut nama ah.. ^^ ) Tapi itu kan model suka-sukaan yang dikomporin orang, terus biasa aja, biasa banget, maklum anak SD. Nah, kalo sama si anak SMPN 1 itu betul-betul aku suka dari lubuk hatiku sendiri... tsaaah...

Sejak nggak pernah ketemu dia itu, blas aku bener-bener yang nggak pernah nemu sosok dia lagi. Dia bener-bener ilang dari peredaran kehidupanku, dan rasanya terlupakan karena beraneka episode kemudian mewarnai hidupku. Sampee.. sebulan yang lalu. Hah.. ada apa dengan sebulan lalu? aku ketemu dia lagi? nggak lah... sinetron banget.

Jadi gini, tahun ajaran baru dunia persekolahan kan dimulai akhir Juli. Aku mengajar di kelas 7A sampai 7F. Pas awal-awal mengajar mah belom terlalu hafal sama wajah-wajah semuanya. Nah, lama kelamaan, aku ngerasa deja vu. Ada anak yang mirip dia yang dulu itu. Nggak mirip-mirip banget sih, mendekati gitu deh. Gaya cueknya sama. Tinggi badannya kurleb sama. Cuma dia itu dulu rasanya lebih kurus. Dulu kan dia seragamnya celana pendek, jadi kaki cekingnya kelihatan. Kalo sekarang kan sekolahku sekolah Islam, jadi anak-anak pakai seragamnya celana panjang.

Sempat tertegun sejenak lihat anak muridku itu.. hihi... sampai aku berpikir, jangan-jangan anak itu anak dia ya? Jadi pingin ngelihat dia kayak apa sekarang.. haha... pikiran konyol.. ngapain jugaa..

Terus gimana dong aku sama anak itu? biasa aja, lagi... nggak ada perlakuan istimewa buat dia. Harus adil dong, sama semua anak murid. Lagipula, udah menguap lah segala rasa centil-centil kayak gitu. Nggak ada ceritanya, pake acara terkenang-kenang.

Tapi harus diakui, deja vu itu seru. Ketika pertama kali merasakannnya, tiba-tiba serasa terlempar ke masa silam. Dan lembaran-lembaran momen manis dulu itu satu demi satu meluncur keluar dari memoriku. Cukup senyum-senyum aja sih, sekadar teringat kenangan lalu.

Aku jadi mikir, berarti orang-orang yang CLBK itu awalnya deja vu gitu juga kali ya. Cuma mereka pada baper, jadinya kebablasan. Makanya segala sesuatu itu tergantung orangnya sih. Ketika kesempatan ada, maka hati dan pikiran yang berperan. Perasaan jangan ikut-ikut deh. Bahaya. Nanti bakal ketagihan. Kangen nggak abis-abis. Hadeuh.. untung nggak, rugi iya.

                                                                                                                                                                                                                                                                    

Sabtu, 26 September 2015

Di-service Customer Service

Setiap masuk bank, pasti kita akan menemukan Mas-Mas atau Mbak-Mbak yang bertugas di Customer Service. Tugas mereka melayani para pelanggan, entah itu merespons keluhan maupun menjelaskan produk bank tersebut, atau apa pun yang berhubungan dengan kenyamanan pelanggan.

Selama ini aku nggak pernah peduli sama Customer Service. Maksudnya, selama urusanku ditangani, it's Ok. Dan yang disebut urusan adalah hal-hal yang terkait sama bank itu lah. Mereka mendengarkan lalu menjelaskan dengan baik. That's it.

Tapi, ada yang berbeda saat beberapa hari lalu aku masuk ke Bank BNI. Keperluanku cukup sepele sih, cuma mau cetak buku. Aku kan cuma berurusan dengan ATM. Ada transfer masuk, lalu aku ambil. Gitu aja. Aku bukan orang yang rajin menabung. Lha, apa yang mau ditabung? hihi.. uang yang masuk, semua terserap dengan baik, termanfaatkan seluruhnya.. ^^

Nah, cetak buku itu penting buatku. Untuk mengetahui lalu lintas keluar masuk uang. Jadi tahu setiap transfer itu sumbernya dari mana.

Di Bank BNI, cetak buku ditangani oleh Customer Service. Di bank lain kan ada yang sama teller aja. Maka hari itu aku pun mengantri di bagian customer service. Aku duduk manis sambil membaca novel. Nggak lama kemudian, nomorku dipanggil.

Proses cetak buku kan ada bagian menunggu buku tabungannya diketik-ketik gitu, ya.. sambil nunggu, aku lanjutkan membaca. Eh, tiba-tiba si Mas Customer Service-nya sambil ngetik-ngetik, dia bertanya dengan sopan. "Suka membaca ya, Mbak?"

Aku menengadah, mengalihkan pandangan dari buku ke Mas CS itu. Aku pun mengangguk sambil tersenyum. Lalu melanjutkan lagi membaca. Kukira ia cuma basa-basi sekedarnya. Nggak taunya dia ngomong lagi, "Kalau udah suka baca, di mana pun dan dalam waktu apa pun digunakan untuk baca, ya." Masih dengan sikap yang sopan dan manis.

Aku mengiyakan, sambil bilang bahwa aku penulis jadi otomatis lengket sama buku. Lalu Mas CS itu dengan tulus, tanpa basa-basi berlebihan, menanyakan tentang buku-bukuku. Ia menunjukkan perhatian dan memuji sewajarnya. Jadilah perbincangan ringan saat itu berkisar tentang buku.

Sungguh, baru kali itu aku di-service sama Customer Service dengan sikap yang hangat, bukan sekadar melayani kepentingan urusan terkait dengan lembaga yang bersangkutan. Kukira seharusnya begitulah para customer service memperlakukan pelanggannya. Bukan sekedar menaruh permen-permen mungil di mejanya, tanpa menawari kepada pelanggan. Tapi customer diperlakukan dengan keakraban yang menyenangkan, tidak hanya melulu tentang masalah yang dibawa pelanggan. Dan perlakuan itu dilakukan dengan porsi wajar serta tidak berlebihan, apalagi terkesan nyinyir dan genit.




Jumat, 28 Agustus 2015

BELAJAR PASSION DARI USTH. SUCI

Juli 2014 aku mulai menjalani profesi baru sebagai guru SMP. Sebelumnya, lebih dari sepuluh tahun aku berkutat di dunia Taman Kanak-Kanak. Pengalaman baru buatku, meski masih sama-sama di lingkaran yang sama, lingkaran sekolah. Tapi, dulu aku kepala sekolah, jaraaang banget mengajar. Dengan posisi sebagai guru, otomatis aku harus masuk kelas dan mengajar.

SMP tempat aku mengajar namanya SMPIT Adzkia, sebuah Islamic full day school. Aku harus stand by di sekolah dari pukul 07.05 sampe 15.45. Waktu kedatangan  harus tepat. Langsung dapet 'punishment' kalo telat meski 1 menit. Tapi kalo pulang lebih dari 15.45 sih nggak ada reward.. hehe..

Di sekolah ini, aku nggak sendiri sebagai guru baru. Ada beberapa teman yang barengan masuk di tahun yang sama, di antaranya Usth. Suci. Oh ya, di sekolah ini, semua guru dipanggil Ustadz dan Ustadzah. Guru TU sekalipun yang nggak mengajar, tetep dipanggil kayak gitu.

Kedekatanku dengan Usth. Suci makin rapat. Setiap pulang sekolah, kami selalu bareng. Sebenernya sih, lebih tepat, aku nebeng di motornya.. hehe.. Daan, aku juga menceritakan satu rahasia besarku sama Usth. Suci. I trust her. Dia mah bukan type ember, jadi rahasiaku aman bersamanya. Mau tau? ssttt... namanya juga rahasia.. ^_^

Usth. Suci baru pertama kali ini mengajar. Sebelumnya dia analis di sebuah perusahaan kosmetik. Dia kan lulusan sekolah analis kimia di Bogor. Nah, di sekolah ini dia didapuk menjadi guru matematika dan IPA.

Seiring berjalannya waktu, tampak Usth. Suci sering merasa nggak nyaman. Dia mengeluhkan respons anak-anak saat dia mengajar. Yah, anak-anak memang kadang nggak kooperatif. Sementara materi yang dipelajari belum dikuasai, tapi mereka malah nggak antusias. Bikin mangkel ati deh..

Usth. Suci ngerasa berbeban. Buat dia, jadi beban moral ketika mengajarkan sesuatu trus anak-anak masih aja pada nggak ngerti dan nggak bisa. Aku lihat, dia selalu menyiapkan materi dengan baik. Tapi kadang anak sulit melepaskan mindset bahwa Math is hard. Yang pinter mah asik belajar Matematika sama Usth. Suci, yang nggak bisa teuteup aja nyantai.. hadeuh..

Sampai suatu hari, aku terhenyak mendengar curhatnya. Dia mau pilih resign aja. Duh.. aku sediih bakal ditinggal sama temen terbaik di sekolah. Tapi mau gimana lagi, ya? Nggak mungkin juga aku maksa Usth. Suci buat stay di Adzkia sementara dia ngerasa nggak nyaman. Dia ngerasa mengajar bukan passionnya. Nah, di situ aku tertegun. Aku ngerasa Usth. Suci asik banget ya, bisa ngerti passionnya apa.

Dulu aku menjalani peran sebagai pengelola taman kanak-kanak, nggak mikir apa itu passion-ku atau bukan. Kesian ya.. hihi..

Aku jadi sadar, ketika sesuatu dilakoni, maka itu harus diiringi dengan pengetahuan tentang passion. Seperti Usth. Suci, kalau dilihat dari luar sih, nggak nampak berat menjalani tugasnya sebagai guru. Dia mengajar dengan baik. Tapi ternyata, passionnya bukan di situ. Aku jadi mikir, passion itu penting banget, supaya kita tetap happy.. :)

Apakah setelah itu Usth. Suci say goodbye? Ternyata nasib berkata lain. Ketika Usth. Suci bilang mau resign, Yayasan memberi semacam solusi dengan memindahkannya ke bagian lain yang membuat Usth. Suci nggak akan berinteraksi di kelas dengan anak-anak. Ia terbebas dari mengajar, tapi berkutat di Divisi Sarana dan Prasarana.

Galau lah Usth. Suci. Maksud hati mau hengkang, tapi masih dipertahankan oleh sekolah. Akhirnya Usth. Suci pun menerima tawaran menjadi staff Divisi Sarana dan Prasarana. And then.. apa yang terjadi selanjutnya? Ternyata ada hal-hal yang membuat kenyamanannya kembali terusik. Seringkali idealismenya berbenturan dengan kebijakan yayasan. Dia harus menahan diri, namun lama-lama tak kuasa juga.

Mendengar curhatnya yang kembali ingin resign, aku merasa sedih. Di satu sisi, aku nggak mau ditinggal teman terbaikku, tapi di sisi lain aku nggak mau juga dia tertekan. Aku pun menyarankan dia untuk mengajukan surat pengunduran resmi. Semata demi kebaikan dan kebahagiaannya.

Kabar terakhir kudengar, pengunduran dirinya akhirnya diterima. Bulan depan tak akan lagi Usth. Suci datang ke Adzkia. Dia sudah akan lepas statusnya dari pegawai Adzkia. Duhai, betapa pilu rasanya hati. Ada yang ruang yang kosong di dalamnya. Ketulusannya, perhatiannya, pengertiannya tak akan terganti.

Usth. Suci sudah mengajarkan satu hal penting buatku, passion. Maka kini, aku mengerti, passionku adalah mengajar dan menulis. Jadi, jangan ada lagi yang mengajak aku untuk jualan-jualan, entah itu namanya marketing, reseller, atau apa pun. Intinya tetap jualan. Produk-produk kecantikan, alat rumah tangga, obat-obat suplemen, atau apalah, bukan passionku.

Tapii.. kalau jualan buku karyaku.. teuteup sih. Kan itu mah masih berhubungan dengan passionku sebagai penulis. Ini bukan ngeles lho, penulis era abad ini, dituntut juga memasarkan karyanya. So.. ayoo beli buku karyaku.. :)

Minggu, 08 Maret 2015

Cerita Tentang Jalu

Sekolahku setiap tahun menyelenggarakan kegiatan Expo. Kegiatan itu berupa unjuk karya dan penampilan siswa. Sebagai guru baru, aku excited menyambut kegiatan ini.

Karya dan penampilan siswa harus ditampilkan oleh setiap grade. Kami, grade 7 menyepakati tampilannya adalah tari Saman untuk akhwat dan puisi berantai untuk ikhwan. Tapi itu baru 7A, 7B, dan 7C. Aku mengusulkan satu tampilan lagi dengan personil dari 7D dan 7E. Kasian dong.. masa’ mereka nggak diajak tampil. Aku keukeuh pingin menampilkan musik, dengan dibantu oleh 7C sebagai andalan pemain musiknya, yaitu Keanu dan Jalu.

Tarik ulur-tarik ulur dilakukan, akhirnya aku mengusulkan perkusi. Apalagi Usth.Widi bilang, suaminya bisa ngelatih. Deal, akhirnya tampilan perkusi dari barang bekas.

Saat pengondisian pertama, aku yang mengumpulkan anak-anak yang kupilih untuk ikut perkusi. Ada banyak anak yang aku rekrut. Ada yang antusias, ada yang nyebelin karena slanga-slenge.

Singkat cerita, ternyata pihak sekolah nggak mengizinkan pelatih dari luar. Maka aku pun terceburlah melatih perkusi. Untungnya ada Keanu dan Jalu. Taste musik mereka bagus banget. Jadi lebih memudahkanku karena banyak membantu. Keduanya bisa kuandalkan untuk bantu aku cari nada buat lagu yang akan kami tampilkan, atau cari ketukan-ketukan yang asyik buat tabuhan perkusi kami.

Keanu dan Jalu, sama-sama mungil. Mereka bener-bener a nice couple.. hihi.. Sama-sama jago main gitar juga. Keren bangeet..

Kalau Keanu lebih bisa diajak bicara karena lebih komunikatif. Jalu, lebih pendiam. Gayanya Jalu cool banget. Bikin penasaran dan bikin gemes cewek-cewek di sekolah. Dulu sih, dia sama sekali nggak ada yang tahu. Maklum, pendiam banget. Tapi apa yang terjadi saat kami, tim perkusi, tampil dalam gladi bersih Expo? OMG! Cewek-cewek menjerit histeris lihat dia. Ck.. ck.. ck.. udah kayak show musik beneran. Jalu banyak fansnya!

Gaya mukul perkusinya Jalu emang keren. Mainin sticknya juga cakep. Personil lain nggak ada yang kayak gitu. Eh, ada juga sih, sebenernya Haidar juga. Tapi Jalu lebih asyik kelihatannya.

Hadeuh... pas hari ‘h’ tiba, Jalu lagi-lagi jadi bintang. Penampilannya menyihir penonton, terutama para akhwat. Semua merangsek maju ke depan panggung. Tangan mereka semua pegang gadget merekam penampilan tim perkusi.

Aku kebanjiran pujian. “Ustadzaah.. perkusi kereeen bangeet! Apalagi Jalu... whaaa.. bikin jatuh cinta!” Dan aneka kalimat senada, yang kesemuanya pasti ada menyebut Jalu.

Para penggemar Jalu itu bukan cuma akhwat kelas 7, tapi kakak kelas 8 dan 9 juga! Jadinya anak-anak kelas 7 pada merengut, “Iih Ustadzah, ngapain sih kakak-kakak kelas pada ngefans sama Jalu juga...?” Hmm... justru kakak-kakak kelas itu yang lebih heboh.

Aku melihat fenomena ini sebagai bentuk takdir Allah yang begitu rahasia. Ketika Allah menghendaki terjadi, ya terjadi lah. Kebayang, dulu tuh Jalu yang culun, nggak ada yang kenal siapa dia. Tapi sekarang? Cuma akhwat kudet aja yang nggak tahu siapa Jalu.

Kepopuleran Jalu yang sangat melejit itu membuat personil lain di tim perkusi agak kurang nyaman sepertinya. Bisa dipahami juga sih. Penampilan perkusi itu kan penampilan tim. Yang bagus ya semuanya. Karena semua berkontribusi. Tapi reaksi penonton seolah cuma Jalu yang hebat. Ketika ada sesi nge-jam sendiri-sendiri, pas giliran Jalu yang menabuh, jeritan para akhwat membahana. Begitupun setiap Jalu melakukan aksi memainkan stick.

Untungnya Jalu memang asli pendiam. Dia sama sekali nggak nampak sombong dengan fans yang bejibun itu. Jadi sikapnya tetap biasa di hadapan teman-teman satu tim. Bahkan saat di panggung pun, setiap jeritan yang dialamatkan kepadanya, sikap Jalu tetap cool. Jadi, Alhamdulillah tidak ada friksi dalam tim. Kebayang kalau Jalu-nya belagu, pasti temen-temen satu tim jadi bete.

Aku berharap semoga Jalu tetap down to earth. Tetap cool seperti dulu. Dan buat Keanu, semoga nggak iri berkepanjangan.. :) Demikianlah roda berputar. Keanu yang juga lucu dan jago main musik, mungkin pada saatnya nanti akan punya banyak fans juga. I love both of U..
Hayoo.. yang mana Jalu, yang mana Keanu..? :)


Rabu, 18 Februari 2015

Save Ust.Felix Siauw!



Kalau ada barisan pengagum Ustadz Felix Siauw, maka aku pasti ada dalam barisan itu. Sebenernya sih ngefansnya nggak yang sampe ngikutin banget gimana sepak terjang beliau. Tapi yang jelas, aku kagum banget sama beliau. Gimana nggak kagum? Masih muda, pinter, dengan pemahaman Islamnya yang wow banget. 


Kekagumanku pada Ust. Felix hampir mirip lah sama suka-nya aku ke Ustadz Antonio Syafei, meskipun teuteup lebih besar cintaku pada ustadz yang pakar ekonomi syariah itu..  
Tapi sekarang aku lagi bukan mau ngebahas Ust. Antonio, so.. back to Ust.Felix.
Beliau itu ya, bukunya udah lumayan banyak, wuih.. tambah suka aja sama orang yang pinter dan suka nulis. Aku baru baca dua bukunya. “How to Master Your Habits” dan “Udah, Putusin Aja!”. Buku yang pertama itu kereeen abiz! Kekagumanku berlipat deh. Ust.Felix yang baru mengenal Islam saat dia kuliah, tapi udah begitu dalem pemahamannya. Resensiku untuk buku ini, ada di sini.

Buku kedua, “Udah, Putusin Aja!” bagus banget buat segmennya, yaitu para remaja dan lajangers. Nah, sebenernya buku ini nih yang membuat aku pingin nulis note ini. Belum lama aku dengar kabar bahwa buku ini akan di-filmkan. Ustadz Felix konon heran kenapa bukunya yang nonfiksi itu kok diminati buat jadi film. Dan setelah dipertimbangkan dari berbagai sisi dengan beberapa persyaratan yang diajukan Ustadz Felix, akhirnya deal disepakati buku itu akan diangkat ke layar lebar.

Alasan paling kuat yang dikemukakan Ustadz Felix tentu agar pesan buku tersebut bisa sampai lebih luas menjangkau kalangan bukan penggemar baca. Agar dakwah bisa lebih berkembang. Agar para pelaku pacaran lebih banyak yang tertonjoq. Agar angka kemaksiatan akibat perzinahan terus menurun. Pokoknya semua tujuan mulia itu masuk akal banget, kan?

Konon Ustadz Felix mengajukan syarat bahwa proses pembuatan film itu harus dikawal ketat agar tetap syar’i. Dan pihak film sudah setuju. Karena itulah makanya Ustadz Felix berani menyetujui bukunya difilmkan.

Tapi sebagai seorang pengagum, aku justru khawatir. Ustadz Felix yang selama ini konsisten, teguh, bahkan terkesan sangat keras pada penegakan nilai-nilai Islam, apakah tidak sedang digoyang? Ketegasan sikapnya itulah yang membuatku salut dan menjura pada beliau. Lalu sekarang beliau akan bersentuhan dengan dunia film? Duh, maaf ya.. menurutku, mana ada yang syar’i dari sebuah film? Dalam arti benar-benar memegang nilai-nilai Islam, semisal: hubungan mahrom. Dalam film Kang Abik aja, pemeran suami istri diperankan oleh pasangan artis yang bukan mahromnya.

Aku takut nanti niat baik Ustadz Felix akhirnya malah akan berbalik buruk untuknya. Aku khawatir banget Ustadz Felix masuk perangkap. Filmnya nanti malah mengundang kontroversi. Orang-orang mengecam, dan para haters bersorak. Bukan tujuan dan pesan mulia dari buku itu yang menjadi sorotan, tapi di luar itu, proses filmnya, artis-artisnya, jalan ceritanya, dan sebagainya. Akhirnya pesan kebaikan dan nilai syar’i yang ingin digaungkan malah tenggelam oleh hal-hal yang bersifat teknis. Belum lagi nanti artisnya setelah selesai main film itu, tetap dengan gaya hidupnya yang ngartis dan nggak menjaga aurat.. hadeuh.. mancing omongan aja deh. Seolah film itu akhirnya cuma omong kosong aja.

Menurutku, better Ustadz Felix nggak usah menyetujui tawaran itu. Kalau dakwah yang luas, kukira dakwah beliau di twitter dan fb sudah cukup menjangkau banyak kalangan. Nggak usah merambah ke dunia film segala. Jadi aku akan senang kalau ternyata rencana memfilmkan “Udah, Putusin Aja!” mengalami kegagalan.

Mungkin kekhawatiranku terlalu berlebihan. Tapi ini tersebab kecintaanku pada beliau. I love him coz Allah..