Tampilkan postingan dengan label Corat-coret. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Corat-coret. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Oktober 2020

Berdagang Harus Punya Bakat Dagang?

Selama ini aku selalu ngerasa nggak punya bakat dagang. Begitu juga dengan kakak-kakakku. Mereka berpikiran sama. Maka kalau ada yang mengajak bisnis atau apalah, pasti ciut duluan. Yang ada di pikiran, bakal nggak laku, bakal dikacangin kalau pas promo.

Bukan berarti aku anti banget sama jualan. Pernah juga sih dulu jualan. Pas awal pindah ke Bogor, aku pernah jualan bawang putih, jalan sendiri sampe ke belakang komplek, sambil malu-malu.. hahaa.. Dan itu cuma hitungan hari trus brenti.

Pernah juga pas awal terpuruk dulu, aku jualan baju Keke, nawar-nawarin langsung sama buibu di komplek dan tetangga komplek. Alhamdulillah dibantu sama Bu Wita, Boss Keke di Bogor, lumayan juga pendapatan dari jualan baju itu.. yaa buat menyambung hidup lah.

Trus di Sukabumi, pernah juga jualan tipis-tipis, tapi lupa produknya apaan.. hehe.. saking tipisnya kali ya.. 😁

Tapi sebagai penulis, jelas aku jualan bukuku sendiri. Alhamdulillah ini ngebantu banget buat perekonomian keluarga.. secara cuma jadi guru ya, tau sendiri lah gajinya gimana.. hehe..

Sekarang, aku belum punya buku baru lagi.. huhuu.. hibernasi kelamaan.. sementara kebutuhan terus bertambah. Akhirnya.. pilihanku kembali pada : berjualan. Kali ini aku dapet tawaran untuk memasarkan produk Al-Quran. Ini Al-Quran istimewa yang bisa cetak nama personal di cover depannya. Trus ada kode pewarnaan yang memudahkan buat tilawah dan hapalan.



Aku posting promo produk itu di facebook. Aiih sedih nian.. biasanya aku kalau nyetatus kan yang nge-like ada puluhan hingga kadang lebih dari seratus, eh ini yang ngelike materi jualan aku nggak nyampe 10 orang. Itu pun cuma ngejempol, nggak lanjut ngorder.

Begitu juga di instagram, paling cuma 20-an yang ngasih lope. Dan itu juga nggak pake lanjut ngorder.

Jadi, apa betul ya, harus punya bakat dagang supaya bisa jualan?

Hmm.. setelah aku renungkan.. sepertinya bukan ke arah bakat, tapi yang harus dipunya adalah kesabaran dan ketangguhan. Kalau udah punya itu, pasti bakal jadi pedagang yang ulet, dan tentu hasilnya akan berbanding lurus dengan usahanya.

Awalnya aku pikir, ah udahlah posting sekali, responsnya menyedihkan gitu, nggak usah posting lagi. Tapi setelah kupikir ulang, justru perlu berulang kali. Siapa tahu pas postingan pertama belom tertarik, tapi di postingan aku berikut, orang jadi berminat.

Begitu juga di grup WA. Untuk grup yang bebas membernya berjualan atau promo apa pun, aku mau coba juga posting lebih dari satu kali.

Eh katanya mau come back jadi penulis, tapi malah nyoba mau jualan, gimana nih? Bismillah aja, aku mau jalani. Semoga Allah meridoi. Be a teacherpreneur and writerpreneur.. Aamiin.






Selasa, 15 September 2020

Swab Test, Gimana Rasanya?

Sekarang bulan September. Virus corona masih anteng gentayangan. Kasus pasien positif Covid19 masih terus meningkat. Tapi rangorang tetep juga masih banyak yang abai alias nggak peduli sama protokol kesehatan. Di jalanan banyak yang berkeliaran tanpa masker. Apalagi soal physical distancing, peduli amat dan masa bodo.  

Di tengah situasi yang rawan ini, desakan untuk membuka sekolah kian santer terdengar. Para orangtua, juga siswa, dan tak terkecuali guru, kepingin banget mengakhiri masa PJJ alias Pembelajaran Jarak Jauh alias belajar daring atau online.

Maka dibuatlah aturan ketat buat prosedur menuju sekolah tatap muka. Sekolah harus menyiapkan sarana prasarana yang mendukung pelaksanaan protokol kesehatan sesuai yang digariskan oleh Satgas Gugus Covid19. Selain itu, para guru juga dipastikan bebas dari terpapar virus tersebut.

Metode test yang bisa membuktikan seseorang dinyatakan negatif Covid19 adalah swab test. Sebelumnya sih ada Rapid Test, tapi sekarang Rapid Test dianggap nggak valid buat keperluan itu. Biaya swab test ini jauh lebih mihil dari rapid test yang 'cuma' Rp.150.000,00. Kalau swab test mencapai angka juta gitu deh. Uwow kan..?

Nah, dalam rangka memfasilitasi para guru untuk dapat segera mengetahui kondisi kesehatannya terkait C19, pemerintah memberikan kemudahan dalam bentuk program swab test gratis. Konon cuma bulan ini. Kalau bulan depan baru kepingin ikutan, wah... jatah hangus tuh, dan akan dipersilakan buat bayar sendiri..Uwow lagi, kan..? 

So, aku dan temen-temen guru lainnya pun berangkatlah menuju Labkesda (Laboratorium Kesehatan Daerah). Beberapa di antara kami ada yang ngerasa deg-degan, takut, resah dan gelisah, pokonya semacam gitu lah.. hehe.. wajar aja lah ya.. berbagai pikiran buruk hinggap. Apalagi sebelumnya beredar rumor bahwa swab test ini sakit banget. Apa bener? Baca aja terus ya..



Setibanya di Labkesda, kami registrasi ulang, mencocokkan data yang sudah terdaftar dengan yang ada di sistem. Kami diminta untuk menyerahkan fotocopy KTP dan menyebutkan nomor WA. Setelah itu, antre lagi di meja berikutnya untuk pengecekan akhir. Di meja ini pun kami diberi alat untuk swab test-nya.



Alat swab test yang telah ada di tangan, lalu kita bawa ke tempat pelaksanaan testnya. Jadi tiap orang bawa alatnya masing-masing, nggak akan satu orang menggunakan alat yang sama.

Di ruang pelaksanaan test, aku duduk, sedangkan petugasnya berdiri. Alat swab test dikeluarkan dari wadah. Bentuknya seperti batang yang pipih dengan ukuran kecil. Warnanya putih. Cukup lentur. 

Alat itu kemudian diukurkan jarak dari telinga ke hidung. Hasilnya, sepanjang itulah nanti alatnya dimasukkan ke dalam hidung.



Selesai alat itu dikeluarkan dari hidung, air mataku keluar. Automatically gitu. Bukan sakit, sih. Tapi nggak enaknya tuh kayak kalau berenang trus hidung kemasukan air. Kebayang kan? 



Setelah seluruh proses selesai, sebuah pesan WA masuk. Rupanya ucapan terimakasih dari Pikobar atau Pusat Informasi Jawa Barat Gugus Covid 19. Disampaikan juga bahwa hasil test bisa dilihat di web yang linknya diumumkan di pesan itu.



Jadi ya gitu deh, nggak usah takut sama swab test. Nggak sakit, kok.. :-)  



Sabtu, 10 Oktober 2015

SENJA *)





        Senja membayang. Bola raksasa dengan campuran warna merah-orange tersenyum cerah dalam bulatnya yang sempurna. Angin semilir menyapa ramah. Namun suasana di rumah itu tampak tersaput mendung. Sebuah rumah tua nan asri.
        “Rumah ini dijual saja!"
        Mak Iyoh membeku. Mata cekungnya menyorot pilu. Air mukanya mengeruh. Anja, anak bungsu dan lelaki satu-satunya, menatap menunggu jawab. Namun Mak Iyoh tetap bergeming. Kata-katanya mengumpul di ujung bibir, tak mampu dilepaskannya
        “Mak setuju tidak?” tanya Anja, hati-hati.
Mata Mak Iyoh menerawang. Di dinding, seekor cicak tanpa ekor merayap cepat lalu menyelinap di balik bingkai. Mak Iyoh menghela napas. Bingkai itu memajang foto dirinya bersama suami tercinta, yang telah berpulang ke haribaanNya, setahun silam.
        “Mak pikir-pikir dulu ya...” lirih Mak Iyoh.
        Sepasang anak kembar, usia lima tahun, berlarian dari arah luar, berceloteh ribut.
       “Nini jadi ikut ke rumah kita, kan?”
       “Nini nanti tidur sama kita, ya!"
        Masing-masing lengan Mak Iyoh diguncang-guncang. Perempuan usia enampuluhan itu tersenyum penuh kasih kepada cucu-cucu tersayangnya.    
        “Nini jadi ikut kaan..?” si kembar mengulang pertanyaan.
        “Iya, Nini ke rumah kita, tapi enggak sekarang. Nanti, bulan depan!" tegas Anja.
        “Yaah..!” si kembar memandang kecewa kepada ayahnya.
        Di sudut ruangan, Teta, istri Anja, tenang menyuapi adik si kembar, tak terpengaruh keadaan.

*****

        Mak Iyoh meluruskan kaki kurusnya. Mata tuanya mengelilingi ruangan 2x2 meter yang kini menjadi kamarnya. Sebuah lemari plastik baru, berdiri tegak di samping ranjang yang sedang didudukinya. Aku harus betah di sini, demi anak cucu, tekadnya.
        Kamar baru Mak Iyoh terletak di bagian belakang rumah Anja. Dulunya kamar pembantu. Karena tidak ada lagi ruangan lain, Mak Iyoh tidak keberatan menempati kamar sempit itu.

       Malam belum beranjak tua. Mak Iyoh masih membaca Al-Qur’an dengan suara perlahan. Dari ruang keluarga terdengar gelak tawa. Anja dan keluarganya tengah asyik menyaksikan tayangan komedi dari televisi layar datar di ruangan tersebut.
       Mak Iyoh mengakhiri bacaan Qur’annya saat kaki mulai terasa kesemutan. Ia selalu menjaga sikap. Kaki yang berselonjor, menurutnya adalah posisi yang tidak patut bila sedang mengaji. Maka ditutuplah Qur’an usang miliknya. Hening menyergap. Seketika Mak Iyoh teringat malam-malam sepinya di kampung yang kadang ditingkahi suara jangkrik atau senandung burung hantu. Sebuah simfoni malam yang tak tergantikan keindahannya oleh orkestra mana pun.
        Kepindahan Mak Iyoh ke rumah Anja, kadang masih menyisakan tanya dalam benaknya sendiri. Tepatkah langkah ini? Namun segera dikuatkannya hati. Ini demi anak cucu.
        Teta, bekerja di bank swasta ternama. Ia sangat membutuhkan seseorang untuk menjaga anak-anaknya selama ia tidak di rumah. Pembantu yang ada sekarang, hanya datang pagi pulang sore, dan tidak jarang mangkir karena rupa-rupa alasan. Mak Iyoh diminta untuk menjaga cucu-cucunya. Maka, dipenuhinya permintaan itu, dengan meninggalkan segenap kenangannya di kampung.

*****

       Matahari belum mencapai ubun-ubun, namun kegarangannya mulai tampak. Jarum jam menunjukkan pukul sepuluh lewat lima menit. Seperti hari-hari kemarin, langkah kaki Mak Iyoh mengayun perlahan menuju taman kanak-kanak tempat cucunya bersekolah, memenuhi permintaan mereka.
       "Ni, jemput kita, ya! Aku nggak mau sama Mbak Lis lagi, ah!"
       “Iya, Ni.. Dia suka ngobrol lama di warung bakso Mas Acoy. Males banget!
       Ibu-ibu berkerumun di luar pagar sekolah sambil asyik bicara ngalor-ngidul. Saat tertangkap retina, sosok Mak Iyoh berjalan di kejauhan, seorang ibu membuka topik baru, dan segera disambut sahut menyahut.
        “Kasihan ya, neneknya Rani-Rina, tiap hari berpanas-panas ngejemput cucunya."
        “Malah paginya, sambil ngegendong adik si kembar, ikut antre di Mpok sayur. Tangan satu ngegendong, satunya lagi bawa kantong belanja!"
        “Orangtua, kok, dijadiin pembantu, ya? Ih, amit-amit!
        Padahal Bu Teta kan punya pembantu."

        “Pembantu ganjen! Pacaran mulu sama si Acoy tukang bakso."
        Dia sih enak,  datengnya jam delapanan.  Rumah sudah rapi, si kecil sudah dimandiin, disuapin. Malah yang masak juga sering Mak Iyoh itu."

*****

       Mak Iyoh baru saja mengucap salam pada rakaat terakhir shalat Ashar saat terdengar pintu kamarnya diketuk. Mbak Lis muncul, lalu tanpa dosa pamit pulang, sambil menitipkan jemuran.
       “Roni sudah dimandikan, Mbak?” tanya Mak Iyoh.
       “Belum Ni, masih nyenyak tidurnya. Si kembar juga belum, tuh, dari tadi anteng main Barbie,” jawab Mbak Lis, enteng, seraya berlalu.
        Mak Iyoh menghela napas. Diraihnya Al-Qur’an, lalu memulai tilawah. Belum satu halaman dirampungkan, terdengar tangis Roni memecah sore. Mak Iyoh melangkah tergesa. Rupanya, Roni bangun dalam keadaan mengompol. Sambil menenangkan tangis, Mak Iyoh mencopoti baju yang bau pesing itu lalu menuntun Roni ke kamar mandi. Selesai mandi, Roni minta digendong menuju kamarnya. Bocah tiga tahun berbobot sembilanbelas kilogram itu pun digendong.  Rasa sakit menjalari kaki yang kerap dirasakan Mak Iyoh, ditahannya kuat-kuat.
        Tiba-tiba dari arah halaman belakang, si kembar riuh berseru, "Hujaan.. Ni.. hujaan!"
        Teringat jemuran yang tadi dititipkan Mbak Lis, tanpa memedulikan rasa sakit pada kakinya, Mak Iyoh langsung tergopoh-gopoh menuju jemuran dan menyambar semua pakaian. Lalu semuanya ditaruh dalam boks plastik di ruang setrika. Yang masih agak basah, dipilih dan digantungnya pada gantungan berbentuk lingkaran. Sementara itu, hujan tanpa aba-aba terus mengalir deras.  Saat keluar dari ruang setrika, Mak Iyoh tercekat. Rani-Rina-Roni sempurna basah kuyup, sukses bermain hujan.

*****

       Teta menarik termometer dari ketiak Rina.
       “Hmm.. sama dengan Rani, 38 derajat!" gumamnya dengan nada gusar, memasukkan termometer ke dalam wadahnya.
        Mak Iyoh tertunduk lesu. Tangannya dengan kulit yang mengisut itu memijat lembut kaki Roni yang tertidur pulas di sofa.  Tidak demam seperti kakaknya, suhu Roni setelah diukur 'hanya' 36,5 derajat.
        Teta menyiapkan sirup penurun panas, “Kalian minum obat sekarang!” suaranya ketus.
       “Nini bantu minum obatnya,” Mak Iyoh beringsut dari kursi.
        Teta tak bereaksi. Raut mukanya tetap masam. Disodorkannya sesendok sirup penurun panas kepada putri kembarnya.
       “Kalau sudah minum obat, cepat tidur, supaya panasnya cepat turun!" ujar Teta dingin, tepat saat Mak Iyoh dengan lunglai kembali ke kamarnya.

*****

       Rasa sakit yang menusuk-nusuk kaki semakin ngilu dirasa oleh Mak Iyoh. Balsem yang membaluri sekujur kakinya tidak lagi berarti. Barangkali aku harus minum obat, pikirnya. Mak Iyoh pun membulatkan niat untuk mengungkapkan rasa skit yang dideritanya, namun selalu disembunyikannya itu. Hari Sabtu begini kan libur, mungkin anakku mau mengantar ke dokter, harap Mak Iyoh dalam hati.
       Saat tiba di ruang keluarga, terlihat Teta dalam penampilan rapi dan modis tengah sibuk membujuk si kembar. Sementara si bungsu asyik menonton film anak-anak dari TV Kabel.  Anja, dengan kemeja kotak-kotak dan celana jeans trendy yang membungkus tubuh atletisnya, mengenakan kaos kaki sambil berujar ringan,
      “Mak, aku mau mengantar Teta ke acara reuni temen-temen kuliahnya. Titip anak-anak di rumah, ya!”
       Teta berhasil membujuk Rani-Rina, kemudian mematut diri di depan cermin besar di atas bufet, memperbaiki letak bros, dan tanpa beban menambahkan,
       “Si kembar masih agak anget badannya. Nanti habis makan, suruh pada minum obat, terus langsung tidur!"
       Mak Iyoh mengangguk. Tatapan matanya meredup mengiringi kepergian anak dan menantunya. Ada sesak yang menggumpal di dada.
       Di luar, senja mulai turun. Lukisan alam akan berganti dengan semburat jingga yang anggun. Kehadirannya singkat saja. Ia penghujung waktu yang pantang disiakan, sebelum sang malam menutup hari.

*****

*) Cerpen ini menjadi Pemenang II Lomba Cerpen Majalah Ummi Tahun 2012

Rabu, 20 Juni 2012

Pinta Ibu

Seorang Ibu
Termenung
Menatap si kecilnya yang lucu
Yang riuh berceloteh
Yang lincah bersenda
Yang ramai bercerita
Menggemaskan
Menyenangkan

Terbersit cita
Terlintas asa
Semoga besar kelak
Menenteramkan hati
Membahagiakan jiwa
Bukannya cakap membantah
Bukannya pandai membangkang

Seorang Ibu
Tertunduk
Takzim bersujud
Melangitkan doa
Semoga segala harap
Mewujud nyata

Minggu, 27 Mei 2012

Hadiah Sang Juara


Dug! Dug!
Jantungku berdetak lebih cepat demi melihat Bapak Pejabat dari Kementrian Negara Urusan Kreativitas Rakyat menghampiri podium untuk mengumumkan hasil Lomba Kreativitas Kelompok Ibu-Ibu Kreatif. Ada rupa-rupa lomba yang diadakan, yaitu: Lomba Menulis, Lomba Menari, Lomba Menyulam, Lomba Mengaji,  Lomba Mengisi TTS tentang dunia pendidikan dan kewanitaan, Lomba Lari Estafet, dan Lomba Melukis. Lomba ini berlangsung di ibukota, dengan peserta dari berbagai kota di sekitarnya.

Bapak Pejabat itu mengumumkan satu demi satu para pemenang, dengan gayanya yang sok memancing rasa ingin tahu penonton. Dilambat-lambatkannya irama suara, dibolak-baliknya urutan kejuaraan, dipasangnya mimik wajahnya se-ekspresif mungkin, Bah!

Sorak sorai membahana. Penonton dari berbagai kota itu melonjak-lonjak tatkala namanya atau nama temannya, bahkan nama kotanya saja yang disebut, sebagai pemenang. Aku pun tak kalah girang, karena berhasil menjadi Juara I Lomba Menulis. Beberapa temanku,  dari kelompok-kelompok lain dalam satu kota, Alhamdulillah juga meraih prestasi. Ada yang Juara I, Juara II,  dan beberapa Juara Harapan.

Usai semua pemenang lomba diumumkan, ternyata masih ada satu lagi kategori pemenang. Kota yang menggondol banyak piala Juara I akan menyabet penghargaan sebagai Kota Paling Kreatif. Lalu Bapak Pejabat itu pun, lagi-lagi dengan gaya noraknya, berkoar penuh semangat,
 
“Pemenangnya adalah.. Kotaaaa… apa yaaaa..?”
 
Penonton berseru-seru, memohon-mohon agar segera diumumkan. Dan Bapak Pejabat itu tampak menikmati betul rasa kepenasaranan penonton. Dengan senyum lebarnya yang sarat kepuasan, ia berteriak,
 
“Pemenangnyaaa… Kotaaa… Huuujaaaannn…!”

Wow.. itu kotaku! Berjingkrak-jingkraklah teman-temanku menarikan kegembiraan. Binar-binar kebahagian terpancar dari mata kami. Dan rupanya masih ada pengumuman lain.

“Kota Hujan.. akan mendapat piala dan hadiah uang.. sebesaarrr… liiimaaa puluh jutaaa ruppiaaahh..!” 

Bapak Pejabat itu makin lebar senyumnya karena merasa berhasil membuat suasana semakin gegap gempita. Teriakan histeris membahana.

Bisakah kau bayangkan menerima hadiah uang lima puluh juta rupiah? Sungguh, kejutan luar biasa! Kami senang bukan buatan. Uang itu akan kami bagi secara adil sesuai dengan perolehan prestasinya. Yang Juara I akan mendapat bagian paling besar, dan Juara-juara lain menyusul berdasarkan urutannya.

Kami pulang ke Kota Hujan dengan hati berbunga-bunga. Senyum-senyum manis tersungging di banyak bibir, menepis letih yang tergambar di wajah kami.

Keesokan harinya, kami berkumpul hendak membicarakan masalah hadiah limapuluh juta rupiah itu. Sang Ketua Rombongan angkat bicara.
 
“Sahabat-sahabatku, hingga larut malam tadi, saya berkutat dengan angka, menghitung pembagian hadiah uang limapuluh juta, agar benar-benar adil dan merata.”
 
Takzim kami mendengar kalimat indah itu. Lalu, sambil menghela nafas dalam-dalam, Sang Ketua melanjutkan pembicaraan.
 
“Namun tadi pagi, saya ditelpon oleh Pimpinan Pusat Kelompok Ibu-Ibu Kreatif. Katanya, uang itu adalah sumbangan dari Kementrian Negara Urusan Kreativitas Rakyat bagi Kelompok Ibu-Ibu Kreatif yang sudah memiliki anggota lebih dari seratus orang dan telah memperoleh Sertifikat Kreatif dari perwakilan kota dengan predikat: A!”

Senyap menyergap. Kami saling berpandangan. Manalah ada diantara kami yang memiliki anggota kelompok berjumlah sebanyak itu, dan Sertifikat Kreatif pun belum kami peroleh, karena untuk mendapatkannya konon harus menyogok banyak rupiah kepada Tim Penilai.

Dalam kehampaan itu, suara Ketua kembali terdengar. Kali ini iramanya lunglai.
“Karena kita tidak memenuhi syarat dan ketentuan yang berlaku, maka uang tersebut, katanya akan dikembalikan ke kas Negara.”

Pembantu Cantik

     BRAKK..!!
     Peni tenggelam di balik pintu kamarnya yang bergetar hebat akibat gelegar amarahnya. Di sudut ruang keluarga yang berhadapan dengan kamar Peni, seorang gadis ranum jatuh menggelesot di lantai. Hatinya menggigil ngilu akibat sumpah serapah yang dimuntahkan dari mulut kotor Peni yang emosinya memuncak, tak terkendalikan.
     Gadis itu, Aryati namanya. Ia pembantu di rumah keluarga Rusady.  Usianya 16 tahun. Bening matanya dipenuhi genangan air mata. Lalu merembes mengalir di pipi indahnya yang bak pauh dilayang. Hidung bangirnya memerah. Bibir tipisnya bergerak-gerak menahan isak.
     Mbok Nah, pembantu senior di rumah itu, melangkah mendekati. Tangan keriputnya mengelus rambut Aryati yang legam dan panjang bak mayang terurai.
     “Sudah.. Nduk, yang sabar yaa.. Non Peni kan memang begitu adatnya,” hiburnya.
     “Yati nggak tahan, Mbok.. sering banget dicaci maki begini!” ujar Aryati, tersedu.
     “Non Peni itu selalu mendapatkan apapun yang diinginkannya. Sejak kecil, ayah ibunya pasti memenuhi semua permintaannya. Karena itulah, sekarang ia tumbuh menjadi seorang gadis yang keras,” kata Mbok Nah, berusaha memberi pengertian kepada Aryati.
     Aryati hanya membisu. Lalu keduanya bergegas ke belakang, ke area pembantu. Dapur, ruang mesin cuci, ruang setrika, gudang, dan kamar pembantu, di sanalah wilayah kerja mereka. Tak peduli apa suasana hati, semua pekerjaan harus rampung tak bercela.
     Kala malam beranjak menua, gelap merayap perlahan, adalah saat-saat Aryati merasa hidup. Ditemani semilir angin yang lembut membelai tubuh moleknya, Aryati biasa termenung di halaman belakang, tak jauh dari area pembantu. Ia pandangi air bergemericik jatuh ke kolam kecil yang ditata apik dalam sebuah taman mungil nan asri.
     Seketika matanya terbelalak. Bayangan air menampakkan seraut wajah pemuda tampan. Ia tersenyum manis dengan sorot lembut penuh cinta. Rona merah menjalari pipi Aryati. Ia tersipu, dengan binar bahagia benderang di matanya.
     Pemuda itu bernama Sena. Ia adalah guru privat Peni. Beberapa kali, dalam kehadirannya saat memberikan les, Sena mencuri-curi pandang mencari sosok Aryati. Pandangan yang mengirimkan getar-getar halus, membuat dada Aryati berdentam lebih cepat.
     Plukk..!
     Sesuatu terjatuh menimpa air, menimbulkan sedikit cipratan ke wajah Aryati. Refleks Aryati mengusap wajahnya. Lalu segera pandangannya kembali ke bayangan air dalam kolam. Ia tersentak. Ah.. raut wajah tampan itu telah menghilang. Tiba-tiba telinganya berdenging. Suara Peni menghantam pendengarannya bertubi-tubi.
     “Pembantu ga tau diri.. Ganjen.. Genit.. Merayu-rayu tamu majikannya! Menjijikkan! Seharusnya kamu ga ada di rumah ini, tapi di tempat sampah sana! Ngaca dong.. kamu ini siapa? Kamu pembantu! Tapi kamu pembantu sial..! Sok merebut hati tamuku.. Memuakkan..!”
     Aryati merapatkan tangannya menutup kedua telinga sekencang-kencangnya. Ia limbung. Terengah-engah menuju kamarnya. Lalu ia menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Dadanya naik turun, dengan nafas tidak teratur. Perlahan-lahan ia menghela nafas panjang, lalu menghembuskannya seolah ingin mengeluarkan segala kepenatan pikirannya. Ia berusaha merenungkan semua yang telah menimpanya. Lama-lama, mata cantik berbulu lentik itu pun terpejam.
     “Bangun.. Ti! Sudah shubuh.. ayo, sholat dulu!” Mbok Nah membangunkannya.
     Aryati menggeliat. Barisan semut beriring di atas matanya mengeriut. Lalu dibukanya mata lebar-lebar. Tubuhnya beringsut menuruni tempat tidur. Bersegera wudu, kemudian sholat. Dinginnya air serta segarnya udara subuh, membuat pikirannya terang.
     “Mbok, Yati mau pergi!”
     Mbok Nah terhenyak, menghentikan pekerjaannya yang tengah menyiapkan sarapan.
     “Kamu ngomong apa tho, Nduk?” tanya Mbok Nah.
     “Ini lebih baik, Mbok. Karena Yati nggak bisa di sini terus, selama Pak Sena masih mengajar Non Peni,” jawab Aryati, dengan suara tertahan.
     “Kamu jatuh cinta sama Pak Guru itu?” Mbok Nah bertanya lagi, hati-hati.
     Aryati menunduk. Mbok Nah tidak melanjutkan pembicaraan, ia sudah tahu jawabannya.
     Sebuah surat dititipkan Aryati kepada Mbok Nah untuk Ibu Rusady. Surat yang berisi permohonan maaf karena kepergiannya yang tiba-tiba.
     Mbok Nah mengikuti langkah Aryati dengan hati nelangsa. Delapan bulan lalu, Aryati ikut bersamanya saat mudik setelah lebaran.  Mereka bertetangga di kampung. Aryati bersikeras ingin bekerja, meski ibunya tak sepenuhnya setuju. Sebagai anak sulung, Aryati sangat diperlukan untuk mengurusi adik-adiknya yang masih kecil.
     Kepada Mbok Nah, Aryati mengatakan tujuan tempat kerjanya setelah keluar dari keluarga Rusady.  Ia akan bekerja di sebuah rumah di blok yang lumayan jauh dari kediaman keluarga Rusady. Kabar tentang adanya rumah yang membutuhkan pembantu, didapatnya beberapa hari lalu, dari tukang ayam keliling. Waktu itu, kabar tersebut tidak dihiraukannya. Namun rupanya, sekarang ia benar-benar membutuhkan pekerjaan itu.
     Letih kaki Aryati menyusuri alamat tempat calon majikan barunya. Keringat bercucuran dan tenggorokan kering. Sesampainya di rumah yang dituju, Aryati disambut oleh seorang ibu muda dengan gaya anak remaja.
     “Saya belum punya anak. Jadi kerjaan kamu nggak berat di sini. Tapi rumah harus selalu dalam keadaan rapi dan bersih!” perintah majikan baru yang bernama Selly itu.
     Aryati memulai tugas barunya. Kini ia tengah mengepel lantai. Di sebelah ruangan, riuh ibu-ibu muda sebaya Selly mengobrol.
     “Jadi sekarang kamu udah punya pembantu, Sel?” tanya ibu muda bercelana pendek dengan padanan kaos ketat melekat.
     “Ooh, perempuan berambut sepinggang itu, yang tadi kulihat di samping, membawa ember, itu pembantu baru kamu, Sel?” sambung yang lain sambil mengibaskan rambutnya yang menjuntai-juntai dengan cat oranye yang menjerit.
     “Aku juga tadi lihat. Hati-hati, Sel..” ujar perempuan bertato kupu-kupu di betisnya, seraya mengepulkan asap rokok.
     “Kenapa memangnya?” seorang ibu muda dengan wajah putih mengilat seperti pemain kabuki, tampak penasaran.
     “Cantik Boo..” sahut si tato.
     “Wah, kalau gitu urusannya, mendingan di-cut aja deh, cuma bikin perkara!”
     “Jangan sampe nunggu kejadian dulu, Sel!”
     “Yup! kalau bohay begitu, lagaknya pasti bikin rempong deh..”
     “Laki kita pasti di-embat!”
     “Udah Sel, cari yang lain aja..!”
     Aryati bergegas menyelesaikan pekerjaan mengepelnya. Ia tidak mau mendengar pembicaraan itu lebih lanjut. Tasnya yang masih rapi, segera dicangklongnya. Bersijingkat, ia keluar dari rumah itu melalui halaman samping. Tidak menunggu diusir, Aryati meninggalkan rumah Selly. Langkahnya tertatih. Hatinya meringis.
     Kini ia tidak tahu hendak kemana. Komplek perumahan yang luas itu, membuatnya seolah berputar-putar tanpa menemui jalan utama yang mengarah ke luar.
     Akhirnya Aryati menemui sebuah pos jaga yang kosong. Mungkin tempat arisan ibu-ibu di blok itu atau tempat bapak-bapak nongkrong di malam minggu. Ia duduk menepi. Pos jaga itu bersih. Lantai keramiknya licin bersinar. Nampaknya rutin dibersihkan. Di dindingnya terpasang sebuah cermin berukuran sedang. Aryati mendesah, menatap pantulan wajahnya. Ternyata wajah cantik, tidak seharusnya dimiliki oleh seorang pembantu seperti dirinya. Perempuan lain merasa terhina mencemburui dirinya. Ia hanya layak dicurigai, diolok-olok, ditertawakan. Benaknya dipenuhi tanya, mengapa ia harus cantik? Sedangkan ia hanya gadis desa yang miskin. Kalau bisa, ia ingin memberikan wajah cantiknya dan menukarnya dengan wajah lain yang tidak cantik, yang lebih pas dengan keadaannya sebagai pembantu yang sederhana. Bukankah wajah cantik akan lebih cocok menghiasi gadis-gadis kaya dan berpendidikan tinggi? Mengapa cantik bertengger di wajahnya?
     Sepoi angin menyapa lembut, nampaknya ingin mendamaikan hati Aryati. Seketika Aryati teringat Mbok Nah. Biasanya Mbok Nah memberi kata-kata penghiburan di kala hatinya kusut. Suaranya mengalun, berlatar cinta, terasa menyejukkan. Aryati jadi teringat ayah, ibu, dan adik-adiknya di kampung. Kangen. Seperti yang kerap ia rasakan. Nasehat Mbok Nah kembali terngiang.
     “Ti, aku sih senang kamu nemenin aku kerja di sini. Tapi sebetulnya kamu lebih diperlukan ibumu di kampung. Adik-adikmu kan masih kecil, sedangkan ibumu repot karena harus bekerja lebih keras, semenjak ayahmu sakit-sakitan. Lha, kalau aku kan anak-anakku sudah mentas semua, dan suamiku sudah meninggal. Jadi nggak ada yang harus diurusin lagi, toh? Nanti setelah pulang kampung saat lebaran, kamu nggak usah balik lagi ke sini ya, Ti. Di kampung juga kamu bisa kerja, bantu-bantu di rumah Bu Bidan Marni. Aku perhatikan waktu kamu membantunya, kelihatannya Bu Bidan suka sama kamu karena kamu sesungguhnya anak yang cerdas. Mana tahu kamu nanti disekolahkannya. Perempuan itu, harus pinter, Nduk!”
     Aryati memandang langit yang jernih membiru. Gemulung awan berarak perlahan, mempercantik lukisan alam itu. Sekelompok burung terbang beriringan. Ah, mungkin mereka mau pulang. Aku juga mau pulang, tidak usah menunggu lebaran, pikir Aryati, bersemangat.
     Tas yang berisi pakaian dan uang gajinya selama delapan bulan yang ditabungnya di Mbok Nah, didekapnya erat. Lalu Aryati mulai berjalan. Tak lama ditemuinya sebuah pangkalan ojek. Melesatlah ia menuju gerbang komplek yang berbatasan dengan jalan besar tempat angkot lalu lalang. Aryati naik angkot dengan tujuan terminal. Hatinya mantap untuk pulang.
     Sementara itu, di dalam kamar sejuknya yang ber-AC, wajah Peni bertekuk berlipat-lipat. Sena, guru privatnya menyatakan berhenti mengajarnya, dan mencarikan guru pengganti. Peni tidak mau guru lain. Ia hanya mau Sena, si ganteng yang lembut dengan rahang kokoh dan dagu terbelah. Ditambah dengan tubuh jangkung yang menopang badan atletisnya, membuat Peni terperangkap dalam pesonanya.
     Peni menelungkupkan wajahnya di atas bantal yang empuk. Airmata menderas mengiringi keping-keping hatinya yang hancur. Ia meratapi nasibnya. Mengapa cinta Sena tertambat pada Aryati? Ah, ya tentu saja karena pembantu sialan itu berwajah cantik, rutuknya dalam hati. Berputar-putar pertanyaan mendesing di benaknya. Buat apa Aryati memiliki wajah cantik? Tak ada gunanya, toh? Bukankah ia hanya pembantu? Cukuplah ia berwajah biasa-biasa saja. Aku lebih membutuhkan wajah cantik itu, teriak Peni, dalam hati.
     Tok.. tok.. tok.. terdengar ketukan lembut di pintu kamar Peni. Dengan malas, Peni membalikkan badannya.
     “Mbok Nah, ya..?” serunya.
     “Betul, Non. Ini minuman es jeruknya,” jawab Mbok Nah.
     Mbok Nah masuk kamar, setelah Peni menyuruhnya masuk. Ia meletakkan gelas berisi es jeruk di atas meja belajar dengan hati-hati.
     “Diminum Non.. es jeruknya, biar hatinya adem. Si Mbok ngerti, kalau hati Non Peni sedih karena kepergian Pak Gurunya”, suara Mbok Nah, tulus.
     Peni duduk menghadap Mbok Nah. Ditatapnya perempuan tua yang telah mengurusinya sejak kelas 2 SD hingga sekarang ia duduk di kelas 3 SMU.
     “Mbok, duduk sini,” pinta Peni. Tiba-tiba ia merindukan kehangatan saat ia dulu diasuh Mbok Nah. Lalu saat Mbok Nah duduk di sampingnya, Peni merebahkan kepalanya di atas pangkuan Mbok Nah.
     “Memang sakit.. ditinggal lelaki pujaan hati. Sedangkan kita tak punya sayap utuh untuk terbang mengejarnya. Karena sayap kita patah, oleh tikaman cintanya yang menukik sesaat, lalu terbang menjauh meninggalkan kita yang berdarah-darah,” suara Mbok Nah mengalir sejuk ke seluruh nadi.
     “Kecantikan Aryati telah memorakporandakan semuanya,” keluh Peni.
     “Tak ada yang salah dengan wajah cantik seseorang. Gusti Allah itu Maha Adil. Semua pasti berpasangan. Kamu nggak usah merasa tidak beruntung karena kalah cantik dari Aryati. Setiap perempuan itu sudah ditetapkan kadar cantiknya oleh Yang Maha Kuasa. Kita nggak boleh iri-iri-an. Kita cuma harus bersyukur atas segala pemberian nikmatNya. Non Peni punya ayah ibu yang baik, meskipun mereka sibuk. Punya rumah yang bagus. Orangtua kaya, sehingga Non Peni bisa sekolah tinggi di sekolah yang hebat. Lebih baik Non Peni sekarang memanfaatkan karunia Gusti Allah ini dengan belajar yang baik, biar jadi perempuan yang pinter, kayak cita-citanya Ibu Kartini itu lho. Jangan nambah-nambah perempuan bodoh kayak si Mbok” tutur Mbok Nah sambil terkekeh perlahan.
     “Si Mbok nggak bodoh, cuma nggak dapet kesempatan sekolah aja. Itu buktinya si Mbok tahu tentang cita-cita Ibu Kartini segala,” tukas Peni.
     “Si Mbok masih inget sedikit-sedikit tentang Ibu Kartini seperti yang diajarkan waktu sekolah dulu. Lagipula si Mbok lihat di TV kok, Non,” sahut Mbok Nah.
     “Itu berarti Mbok Nah pinter! Oh ya, sekarang Aryati di mana ya, Mbok?” tiba-tiba Peni jadi memikirkan gadis saingannya itu.
     “Gusti Allah telah menuntunnya pulang. Justru karena kecantikannya itulah, ia menemukan jalan pulang,” jawab Mbok Nah dengan yakin.
     “Jadi Aryati pulang kampung?”
     “Ya, pasti ia sedang dalam perjalanan pulang. Dia lebih dibutuhkan oleh keluarganya.”
     Belaian lembut tangan Mbok Nah mengusap rambut Peni, membuat Peni terbuai dalam kehangatan kasih sayang Mbok Nah. Hatinya melunak, ia menjadi tenang. Tak lama, kantuk mulai menggelayuti matanya. Ia pun tertidur pulas. Persis pada saat yang sama, Aryati terlelap dalam bis antarkota menuju kampungnya. Keduanya menyunggingkan senyum dalam nyenyak tidurnya.
*****