Tampilkan postingan dengan label Opini Ringan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini Ringan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 September 2016

Pemuda Harapan Bangsa

Kalau sekarang aku ngelihat anak-anak muda yang aktif berorganisasi, pinter bicara di hadapan publik, terampil meng-organise event-event, mumpuni dalam lomba-lomba, fasih dalam ajang debat, apalagi kalau cas-cis-cus in English.. wah, rasanya bener-bener pingin kembali ke masa lalu. Pingin banget aku menjadi bagian dari mereka. Duh, aku dulu ke mana aja, ya..? Padahal rasa-rasanya sih aku punya potensi ke arah sana, tapi sayangnya nggak tereksplor. Huft.. sudahlah, hidup dimulai saja dari sekarang.

Rasa kagumku sama anak-anak muda yang aku sebutin itu pasti langsung muncul saat melihat kiprah mereka. Otomatically gitu deh. Sambil terkagum-kagum, aku juga bahagia melihat generasi muda yang keren banget macam itu. Bukannya sok tua.. emang udah tua.. hahaa.. eits! enggaklah, I'm still young, meski bilangan usia terus merambat naik.. :P

Selain itu, selalu juga terlangitkan berjuta harap agar anakku seperti mereka. Anak-anakku, Ghulam, Zidan, Nadia, Salman, mengisi hidupnya, masa mudanya dengan beragam hal yang positif dan mendorongnya untuk berkembang menjadi pemuda muslim yang cerdas dan berkualitas. Semoga.. semoga.. semoga..

Nah, ketika sekarang aku menjadi wakasek bidang kesiswaan, aku semangat pingin mengikutsertakan anak-anak Adzkia dalam lomba-lomba, agar mereka terasah potensi dan pengalamannya. Soal menang atau kalah, urusan belakang lah. Nothing to loose.

Belum lama ini datanglah surat undangan untuk mengikuti lomba dari SMA Al-Bayan, Cibadak, Sukabumi. Itu boarding school khusus ikhwan yang aku dengar prestasinya berderet-deret. Karena penyelenggaranya sekolah tepercaya, maka aku antusias mendaftarkan anak-anak Adzkia buat ikutan lomba di sana. Nggak semua matalomba ikut sih, cuma MHQ sama nasyid aja.

Sebelum hari 'H', seperti biasanya sebuah event lomba, ada technical meetingnya dulu dong. Aku pun datang ke sana. Lokasinya agak masuk ke perkampungan gitu deh. Biasa lah ya.. pesantren/boarding school letaknya jauh dari keramaian. Kayak Lazuardi, sekolah anakku dulu.

Begitu memasuki gerbang, berjejer anak-anak SMA nya menyambut. Mereka menunaikan 5S.. senyum, sapa, salam, sopan, santun. Dari wajah-wajahnya terpancar aura positif. Enak banget ngelihatnya.

Saat aku turun dari motor, mereka sigap menunjukkan aula tempat technical meeting. Dengan ramah pula mereka mengantarkan aku. Dalam gedung aula, acara baru dimulai. Aku menyimak satu demi acara. Melihat cara anak-anak muda itu bicara. Ketua pelaksana, penanggung jawab acara, dan jajaran panitia lainnya, terampil berbicara di depan umum. Nggak semua sih, tapi yang dah bisaan itu, bagus banget. Suka ngelihatnya. Duh.. semoga anakku juga bisa kayak gitu.

Sampai akhir acara, aku merasa nyaman berada di sana. Rasa optimisme memenuhi dada. Kalaulah para pemuda kita seperti itu kebanyakannya, maka amanlah negeri ini di masa datang. Dan besar harapanku juga, mereka kelak ketika berada di dunia nyata, di tengah-tengah masyarakat, tetap menjunjung tinggi idealisme yang mereka anut sekarang.

Yuk, para guru dan orangtua, sebagai pendidik generasi yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan negeri, mari kita kawal dan beri ruang untuk anak-anak berpikir kreatif, mandiri, juga bertanggung jawab. Semoga bertumbuhlah di tengah kita, para pemuda harapan bangsa, yang membawa perubahan menuju Indonesia yang hebat dan bermartabat.

gambar diambil dari sini





Selasa, 22 Desember 2015

Siapa Tidak Cerdas? Siswa atau Guru?

Saya membaca status teman tentang keponakannya. Si Om itu mengambil raport keponakannya yang klas 2 SD. Anak itu cerdas, daya ingatnya kuat, jago ngegambar, imajinasinya luar biasa, dan bisa menggambarkan sesuatu dengan sangat baik dan detil. Namun betapa kecewanya si Om ketika berdialog dengan guru keponakannya. Gurunya bilang, anak itu dikasih nilai cuma pemakluman aja, lalu disilakan cari sekolah lain karena anak itu beda dari anak normal lainnya.

Kebayang ya, gimana perasaan si Om? Lha, ponakannya cerdas gitu kok dibilang beda dari anak normal. It means, ponakannya nggak normal dong. Hadeuh..

Untuk masalah semacam itu, biasanya reaksi pertama orang-orang langsung menyalahkan sang guru. Wajar kan ya, mosok anak pinter dibilang nggak normal. Itu mah gurunya aja kali yang nggak normal. Tapi kalau menurut saya sih, nggak serta merta gitu juga. Dan bukan berarti ini dalam rangka membela korps ya, sesama guru saling membela. Nggak banget lah.

Jadi gini, kalau kita melihat lebih jauh, pertama kali dilihat dulu jumlah murid dalam satu kelas berapa orang. Kalau kisaran 30-40 anak, memang cukup masuk akal bila guru nggak sanggup menangani murid yang spesial. Secara anak-anak zaman sekarang lebih aktif dan kritis. Mungkin guru kewalahan jika ditambah dengan tugas mengawal anak yang spesial.

Lalu dilihat lagi gimana kesepakatan dengan sekolah. Saat awal masuk biasanya siswa ditest, bahkan ada juga yang menyeleggarakan psikotest. Tentu bisa diketahui kondisi setiap anak. Bila ada anak dengan kecerdasan luar biasa namun secara akademik agak tertinggal dari teman-temannya, maka pihak sekolah idealnya memahami konsekuensi saat menerima anak tersebut sebagai siswa di sekolahnya.

Yang diperlukan kemudian adalah komunikasi. Sungguh, komunikasi sangat memegang peranan penting. Jadi jangan seperti guru si Om yang langsung nge-judge kalo si anak nggak sama dengan anak normal, sehingga terkesan merendahkan dengan label normal-nggak normal. Seharusnya sejak awal sekolah hingga teruus selama masa belajar, komunikasi senantiasa hidup antara guru dengan orangtua. Bisa juga dengan mengadakan buku penghubung khusus yang setiap hari harus diisi guru dan dibaca serta direspons oleh orangtua di rumah. Orangtua harus menyadari bahwa si buah hati memiliki kecerdasan menonjol dalam bidang tertentu, namun perlu bimbingan khusus dalam materi-materi pelajaran di sekolah.
gambar diambil dari sini
 Walikelas harus memiliki kesadaran penuh bahwa di kelasnya ada siswa dengan catatan istimewa yang membutuhkan penanganan khusus. Kesadaran itu terbentuk setelah sebelumnya pihak kepala sekolah atau wakasek bidang kurikulum membahas kondisi siswa tersebut dengan sang walikelas. Komunikasi terbuka seperti itu, dapat lebih mudah menentukan bagaimana bentuk penanganan terhadap si anak.

Potensi cerdas yang dimiliki anak harus dapat tereksplorasi dengan baik. Anak itu perlu mendapat stimulasi yang tepat agar potensinya dapat dikembangkan ke arah yang positif. Sementara ketertinggalannya secara akademik tidak membuatnya malu atau minder di hadapan teman-temannya.
gambar diambil dari sini
Pihak sekolah harus jeli melihat kondisi tersebut. Jangan sampai potensi besar yang ada pada siswa, tidak terasah dengan baik. Sebaliknya, orangtua pun harus ekstra mengawal ketat putranya, mengetahui persis keadaan putranya, dan senantiasa menjalin komunikasi dengan sekolah. Bila ternyata pihak sekolah tidak kondusif memfasilitasi putranya, jangan memaksakan diri untuk membuat pihak sekolah berubah. Artinya, sekolah tersebut memang tidak siap menerima siswa demikian.

Maka carilah sekolah yang tepat, yang lebih ramah anak. Sekolah yang memahami konsekuensi saat menerima siswa dengan kecerdasan istimewa namun sedikit tertinggal secara akademik. Guru yang menjadi walikelas harus benar-benar siap, memiliki mental yang kuat, dan bersedia bekerja keras, karena harus mengulang secara pribadi, materi-materi yang diajarkan di kelas kepada anak tersebut. Guru pun harus mampu mengondisikan anak-anak di kelas agar bisa menerima siswa tersebut dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Setelah itu, guru secara intens berkomunikasi dengan orangtua, sehingga ia tidak capek sendiri di sekolah, namun orangtua di rumah pun harus terlibat penuh dalam mengawal anak tersebut.
gambar diambil dari sini
Dengan kerjasama yang baik seperti itu, insyaAllah tidak akan ada lagi misunderstanding antara pihak orangtua/wali siswa dengan pihak sekolah. Sang anak dapat nyaman bersekolah, dan potensinya mendapat penyaluran yang baik.
gambar diambil dari sini


Sabtu, 10 Oktober 2015

Aku Nonton Bokep Sejak Kelas 2 SD!

Ini benar-benar harus menjadi perhatian para orang tua. Anak-anak kita.. oh, anak-anak kita yang lucu, baik, ceria, dan pintar, ternyata mereka mengalami hal yang sungguh di luar dugaan.

Saat itu, saya sedang asik ngobrol dengan anak-anak laki-laki kelas 7. Cerita demi cerita bergulir. Akhirnya saya tergelitik untuk melontarkan pertanyaan pancingan, "Kalau nonton bokep, udah pernah?"

Anak-anak itu ada yang tergelak, ada yang senyam-senyum. Satu sama lain saling pandang. Lalu meluncurlah cerita seputar pengalaman mereka menonton film-film yang tak pantas itu. Sejujurnya, saya mendengarkan sambil menahan debur pilu yang berdentum-dentum. Bayangkan, anak-anak di usia sekecil itu, berbicara fasih tentang situs-situs porno dan bagaimana cara mencari film-film itu dengan menyebutkan beberapa kata kuncinya.

Sepanjang mereka bercerita, saya berusaha tetap datar agar mereka leluasa terus bicara. Hampir semua mengawali nonton itu karena diajak teman. Dan itu dilakukan saat mereka masih duduk di bangku SD! Setelah sekali nonton, lalu ada yang kedua kali, ketiga kali, dst. Biasanya setelah rame-rame sama temen, mereka akan mengulanginya saat sendiri di kamar.

Setelah mereka banyak bercerita, saya mulai sisipkan pelan-pelan tentang bahaya besar yang akan menimpa mereka kalau kebiasaan ngebokep itu terus dilakoni. Saya katakan juga, Allah tidak suka perbuatan maksiat itu. Mereka rata-rata mengerti. Semua mengangguk-angguk. Katanya, sudah tahu. Tapi kalau lagi nggak ada kerjaan, di kamar sendirian, suka iseng ngeklik itu lagi, trus keasyikan. Duh, Gustiii...

Jangan terburu-buru menyalahkan orang tua, dengan mempertanyakan, "Itu ayah ibunya pada kemana sih?"
Beberapa dari mereka nggak sibuk-sibuk banget, kok. Mereka juga cukup perhatian sama anak-anak. Dari kalangan baik-baik dan rajin mengaji. Lalu, kenapa? Karenaa.. para orangtua itu sama sekali nggak terpikir bahwa anaknya yang imut akan melakukan hal menjijikkan seperti itu. Mungkin mereka hanya mengira, hp berada di tangan anak-anak dihabiskan untuk main games atau chatting sama teman saja.

Yang membuat dada saya sesak adalah, salah satu dari mereka bilang, "Aku kenal film bokep sejak kelas 2 SD!" Lemas rasanya seluruh persendian saya. Anak saya yang bungsu, duduk di kelas 2 SD. Nggak kebayang, anak sekecil itu melahap film biru.. :'(

Ketika saya katakan bahwa kebiasaan ngebokep itu bisa menimbulkan kerusakan atau gangguan otak, anak itu menukas, "Tapi aku tetep pinter! Nggak kenapa-kenapa!"

Believe it or not.. anak itu memang pinter. Terutama pada pelajaran matematika dan sains, sering mendapat nilai seratus. Pelajaran lain juga tetap bagus. Bahkan hafalan Al-Qurannya pun sudah melewati juz 30, dan sudah hafal beberapa surat di juz 29.

Nah, itulah yang mengecoh. Anak-anak itu tampak seperti baik-baik saja. Orangtua tidak curiga. Mereka memberikan hp atau gadget tanpa pengawasan. Bukan karena tidak perhatian, tapi karena ketidaktahuan. Bahwa kewaspadaan perlu ditingkatkan berkali lipat.

Tanpa diketahui, saat jam istirahat, ada juga beberapa anak yang 'praktik' di dalam kelas. Pintu kelas ditutup. Guru-guru tidak ada yang melihat, karena mereka pun beristirahat pula di ruang guru.

Kini saatnya kita semua bergerak. Orang tua, guru, keluarga, dan siapa pun, mari lindungi anak-anak kita. Tingkatkan pengawasan terhadap anak-anak. Waspadai gadget di tangan mereka. Pelajari tips cara mudah blokir situs porno. Tips-tips tersebut bisa di-search di Google. Jangan kalah canggih dengan anak-anak. Para orang tua sudah waktunya melek internet.

Gambar diambil dari sini



Sabtu, 26 September 2015

Di-service Customer Service

Setiap masuk bank, pasti kita akan menemukan Mas-Mas atau Mbak-Mbak yang bertugas di Customer Service. Tugas mereka melayani para pelanggan, entah itu merespons keluhan maupun menjelaskan produk bank tersebut, atau apa pun yang berhubungan dengan kenyamanan pelanggan.

Selama ini aku nggak pernah peduli sama Customer Service. Maksudnya, selama urusanku ditangani, it's Ok. Dan yang disebut urusan adalah hal-hal yang terkait sama bank itu lah. Mereka mendengarkan lalu menjelaskan dengan baik. That's it.

Tapi, ada yang berbeda saat beberapa hari lalu aku masuk ke Bank BNI. Keperluanku cukup sepele sih, cuma mau cetak buku. Aku kan cuma berurusan dengan ATM. Ada transfer masuk, lalu aku ambil. Gitu aja. Aku bukan orang yang rajin menabung. Lha, apa yang mau ditabung? hihi.. uang yang masuk, semua terserap dengan baik, termanfaatkan seluruhnya.. ^^

Nah, cetak buku itu penting buatku. Untuk mengetahui lalu lintas keluar masuk uang. Jadi tahu setiap transfer itu sumbernya dari mana.

Di Bank BNI, cetak buku ditangani oleh Customer Service. Di bank lain kan ada yang sama teller aja. Maka hari itu aku pun mengantri di bagian customer service. Aku duduk manis sambil membaca novel. Nggak lama kemudian, nomorku dipanggil.

Proses cetak buku kan ada bagian menunggu buku tabungannya diketik-ketik gitu, ya.. sambil nunggu, aku lanjutkan membaca. Eh, tiba-tiba si Mas Customer Service-nya sambil ngetik-ngetik, dia bertanya dengan sopan. "Suka membaca ya, Mbak?"

Aku menengadah, mengalihkan pandangan dari buku ke Mas CS itu. Aku pun mengangguk sambil tersenyum. Lalu melanjutkan lagi membaca. Kukira ia cuma basa-basi sekedarnya. Nggak taunya dia ngomong lagi, "Kalau udah suka baca, di mana pun dan dalam waktu apa pun digunakan untuk baca, ya." Masih dengan sikap yang sopan dan manis.

Aku mengiyakan, sambil bilang bahwa aku penulis jadi otomatis lengket sama buku. Lalu Mas CS itu dengan tulus, tanpa basa-basi berlebihan, menanyakan tentang buku-bukuku. Ia menunjukkan perhatian dan memuji sewajarnya. Jadilah perbincangan ringan saat itu berkisar tentang buku.

Sungguh, baru kali itu aku di-service sama Customer Service dengan sikap yang hangat, bukan sekadar melayani kepentingan urusan terkait dengan lembaga yang bersangkutan. Kukira seharusnya begitulah para customer service memperlakukan pelanggannya. Bukan sekedar menaruh permen-permen mungil di mejanya, tanpa menawari kepada pelanggan. Tapi customer diperlakukan dengan keakraban yang menyenangkan, tidak hanya melulu tentang masalah yang dibawa pelanggan. Dan perlakuan itu dilakukan dengan porsi wajar serta tidak berlebihan, apalagi terkesan nyinyir dan genit.




Rabu, 18 Februari 2015

Save Ust.Felix Siauw!



Kalau ada barisan pengagum Ustadz Felix Siauw, maka aku pasti ada dalam barisan itu. Sebenernya sih ngefansnya nggak yang sampe ngikutin banget gimana sepak terjang beliau. Tapi yang jelas, aku kagum banget sama beliau. Gimana nggak kagum? Masih muda, pinter, dengan pemahaman Islamnya yang wow banget. 


Kekagumanku pada Ust. Felix hampir mirip lah sama suka-nya aku ke Ustadz Antonio Syafei, meskipun teuteup lebih besar cintaku pada ustadz yang pakar ekonomi syariah itu..  
Tapi sekarang aku lagi bukan mau ngebahas Ust. Antonio, so.. back to Ust.Felix.
Beliau itu ya, bukunya udah lumayan banyak, wuih.. tambah suka aja sama orang yang pinter dan suka nulis. Aku baru baca dua bukunya. “How to Master Your Habits” dan “Udah, Putusin Aja!”. Buku yang pertama itu kereeen abiz! Kekagumanku berlipat deh. Ust.Felix yang baru mengenal Islam saat dia kuliah, tapi udah begitu dalem pemahamannya. Resensiku untuk buku ini, ada di sini.

Buku kedua, “Udah, Putusin Aja!” bagus banget buat segmennya, yaitu para remaja dan lajangers. Nah, sebenernya buku ini nih yang membuat aku pingin nulis note ini. Belum lama aku dengar kabar bahwa buku ini akan di-filmkan. Ustadz Felix konon heran kenapa bukunya yang nonfiksi itu kok diminati buat jadi film. Dan setelah dipertimbangkan dari berbagai sisi dengan beberapa persyaratan yang diajukan Ustadz Felix, akhirnya deal disepakati buku itu akan diangkat ke layar lebar.

Alasan paling kuat yang dikemukakan Ustadz Felix tentu agar pesan buku tersebut bisa sampai lebih luas menjangkau kalangan bukan penggemar baca. Agar dakwah bisa lebih berkembang. Agar para pelaku pacaran lebih banyak yang tertonjoq. Agar angka kemaksiatan akibat perzinahan terus menurun. Pokoknya semua tujuan mulia itu masuk akal banget, kan?

Konon Ustadz Felix mengajukan syarat bahwa proses pembuatan film itu harus dikawal ketat agar tetap syar’i. Dan pihak film sudah setuju. Karena itulah makanya Ustadz Felix berani menyetujui bukunya difilmkan.

Tapi sebagai seorang pengagum, aku justru khawatir. Ustadz Felix yang selama ini konsisten, teguh, bahkan terkesan sangat keras pada penegakan nilai-nilai Islam, apakah tidak sedang digoyang? Ketegasan sikapnya itulah yang membuatku salut dan menjura pada beliau. Lalu sekarang beliau akan bersentuhan dengan dunia film? Duh, maaf ya.. menurutku, mana ada yang syar’i dari sebuah film? Dalam arti benar-benar memegang nilai-nilai Islam, semisal: hubungan mahrom. Dalam film Kang Abik aja, pemeran suami istri diperankan oleh pasangan artis yang bukan mahromnya.

Aku takut nanti niat baik Ustadz Felix akhirnya malah akan berbalik buruk untuknya. Aku khawatir banget Ustadz Felix masuk perangkap. Filmnya nanti malah mengundang kontroversi. Orang-orang mengecam, dan para haters bersorak. Bukan tujuan dan pesan mulia dari buku itu yang menjadi sorotan, tapi di luar itu, proses filmnya, artis-artisnya, jalan ceritanya, dan sebagainya. Akhirnya pesan kebaikan dan nilai syar’i yang ingin digaungkan malah tenggelam oleh hal-hal yang bersifat teknis. Belum lagi nanti artisnya setelah selesai main film itu, tetap dengan gaya hidupnya yang ngartis dan nggak menjaga aurat.. hadeuh.. mancing omongan aja deh. Seolah film itu akhirnya cuma omong kosong aja.

Menurutku, better Ustadz Felix nggak usah menyetujui tawaran itu. Kalau dakwah yang luas, kukira dakwah beliau di twitter dan fb sudah cukup menjangkau banyak kalangan. Nggak usah merambah ke dunia film segala. Jadi aku akan senang kalau ternyata rencana memfilmkan “Udah, Putusin Aja!” mengalami kegagalan.

Mungkin kekhawatiranku terlalu berlebihan. Tapi ini tersebab kecintaanku pada beliau. I love him coz Allah..

Jumat, 31 Januari 2014

Jauhi Mubazir Bukan Kikir


“Kita nggak semiskin itu kali, Ma!”

Duh, protes anakku tajam banget. Lalu aku pun menjelaskan bahwa gerakan penghematan ini bukan tersebab kemiskinan yang tengah melanda. Halah! Tapi karena pemborosan yang selama ini tanpa sadar dilakukan, termasuk ke dalam perbuatan mubazir. Dan orang-orang golongan mubazir ini disebutkan dalam Al-Quran sebagai kawannya syaithan. Hii.. Na’udzubillah.

Anak-anakku memang sering sembarangan dan seenaknya memperlakukan bahan makanan dan keperluan mandi. Misalnya, kecap yang sudah hampir habis, dengan santai dilempar ke tempat sampah. Padahal seperti yang kubilang, ‘hampir habis’ jadi belum habis, masih ada yang tersisa cukup lumayan di dasar botolnya.

Begitu juga dengan barang-barang keperluan mandi. Shampo dan sabun liquid yang isinya masih ada tersisa di dasar botol, langsung saja botolnya menjadi penghuni tempat sampah.
Ketika aku menegur, anakku menjawab, “Beli aja yang baru, Ma!” Lalu kujawab, “Sayang kan, masih ada sedikit, kok dibuang-buang?” Dan anakku menyahut dengan kalimat yang tertera di awal tulisan ini, dengan ditimpali oleh adiknya bahwa aku pelit.

Aku pun mencontohkan bagaimana caranya agar tidak mubazir pada sesuatu yang masih bisa digunakan. Botol-botol kecap dan saus yang isinya tinggal sedikit, aku jungkirkan posisinya 180 derajat, sehingga isinya akan mengumpul di leher botol, dan akan membuatnya mudah untuk dituangkan.


Begitu juga dengan shampo dan sabun liquid. Saat isinya sudah hampir habis, segera aku balikkan botolnya. Posisi seperti ini benar-benar memudahkan dalam penggunaan shampo dan sabun tersebut. Karena cairannya menjadi lebih cepat mengalir.


Setelah posisinya dibalik , rata-rata pemakaian masih bisa sampai 2-3 kali, lumayan kan? Itu dari satu produk, kalau beberapa produk sekian persen isi terakhirnya  dibuang-buang.. wah mubazirnya berlipat-lipat.. duh.. dosanya juga dong nambah terus.. :(

Nah, demi menghindari dosa yang nggak berasa itu, langkah-langkah anti mubazir harus terus dilakukan. Alhamdulillah, melalui pembiasaan yang konsisten, anak-anakku sekarang mengerti dan melakukan gerakan anti mubazir ini. Tertanam dalam benak mereka bahwa tindakan mubazir akan memasukkan pelakunya ke dalam golongan syaithan. Siapa sih yang mau jadi kawannya syaithan? Amit-amit banget yaa.. menjadi kawan syathan itu kan pastinya di dalam neraka. Maka menjauhi mubazir, bukanlah tindakan pelit alias kikir. Tapi itu adalah usaha sadar yang dilakukan dalam rangka memanfaatkan sesuatu tanpa mubazir.

Boleh juga Anda coba lho.. Semoga bermanfaat.. :)

Jumat, 14 Desember 2012

Kemanakah Rahasia 'kan Menuju?



KEMANAKAH RAHASIA ‘KAN MENUJU?

Dalam hidup ini aneka masalah bertebaran. Suatu ketika ia pasti menimpamu. Dan pada saat itu, berbagi dengan seorang teman dekat, akan sangat membantu. Temanmu tentu akan berempati dan boleh jadi memberi solusi. Kalut mereda dan pikiran lumayan tenang. Dorongan semangatnya akan menguatkan. Bahkan temanmu tak akan pelit mengirim doa menuju langit. Semuanya kemudian perlahan mengikis gundah.

Tapi, kawan, pernahkah kau merasa bingung hendak kau ceritakan kepada siapa masalah yang tengah membelit itu? Kepada sahabat yang ini, ah.. dia kan lagi mau ujian, masa’ harus ditambah berat dengan curhat masalah sahabatnya. Kepada sahabat yang itu, hmm.. dia lagi sibuk menyiapkan ta’arufnya. Lalu sahabat yang lain lagi, dia baru melahirkan, pasti repot mengurusi buah hati. Atau kepada saudara kandung? Nanti khawatir malah jadi beban keluarga.. jadi kepada siapa dong..?

Mungkin salah seorang dari kalian, ada yang merasa tidak pernah mengalami kebingungan seperti itu. Aku pernah, kawan. Meski alasannya tidak persis seperti contoh di atas. Ya, pada saat itu aku bingung. Aku ingin berbagi, ingin bercerita, sekedar melepaskan beban yang mengganduli pikiranku.

Terbersitlah ide untuk menceritakan masalahku kepada seorang teman baik yang belum lama kukenal. Ia belum begitu tahu banyak tentang aku, siapa dan bagaimana aku, maka kupikir bila ia memberi pendapat, tentu akan merupakan pendapat yang objektif. Teman baik itu seorang yang suka menolong, baik hati, ramah dengan senyum manisnya, cerdas, dan cukup rasional. Maka kupercayakan masalahku, pula sedikit rahasiaku, kepadanya. Masalahku saat itu beraneka rupa. Cukup pelik dan rumit. Ada juga sisi-sisi yang beraroma tabu.  

Temanku itu merespons dengan penuh empati. Pendapatnya mengalir berupa analisa yang logis dan mudah dipahami. Kata-kata penghiburan juga dorongan untuk optimis, bertaburan dari lidahnya, menyemangatiku. Aku sungguh merasa lega. Kuucapkan terimakasih tak terkira, sambil tak lupa kusampaikan bahwa baru kepadanyalah rahasia ini kupercayakan.

Dengan segala hal positif tentangnya, seperti yang kuceritakan di atas, aku pun kemudian tenang-tenang saja. Kupikir, masalah dan rahasiaku aman bersamanya. Sampai suatu ketika… dalam satu pertemuan dengan sahabat-sahabatku yang lain.. terkuaklah! Apa?

Begini, kawan.. tak kusangka tak kuduga, sahabat-sahabatku itu, yang amat menyayangiku, dengan suara yang agak terbata dan volume rendah, mengingatkan dengan hati-hati sekali, agar aku tidak lagi menyampaikan rahasia kepada teman baik yang telah kupercaya itu. Mereka kini tahu rahasiaku tersebab si teman baik itu yang mengatakannya kepada mereka.Tercekat aku mendengar itu. Namun aku menahan diri untuk bereaksi. Khawatir emosi meluap. Aku beristighfar. Berbagai kekhawatiran serta merta bermunculan. Apa saja yang diumbar kepada mereka? Siapa saja yang juga menerima info rahasiaku selain mereka? Lalu kontennya, apakah rasa original atau dibumbuinya dengan aneka penyedap dan penguat rasa? Duhai, betapa malunya aku.

Sahabat-sahabatku itu menjamin bahwa rahasia yang mereka terima itu, akan dijaganya. Tak akan kemudian bocor lagi ke banyak orang. Aku tergugu. Teman baikku telah sukses menghancurkan kepercayaanku kepadanya.

Nah, ada tiga sisi yang berperan dalam kisahku ini. Yang pertama, teman baik yang menerima tumpahan masalah dan rahasia. Jadi kawan, bila kau ada di posisi ini, hargai dan sayangi si pencurhat yang saat itu tentu sedang kalut, bingung, gundah, dan sebangsanya. Janganlah kau tambah deretan masalahnya dengan perbuatan konyolmu yang menceritakan rahasia tersebut kepada orang lain. Meski hanya sepenggal dari rahasia tersebut. Apalah lagi bila semuanya. Kau sudah dipercaya. Kau sudah terpilih. Sepatutnya kau menjaga itu. Karena sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak kan percaya.

Yang kedua, orang-orang yang menerima bocoran rahasia. Lihatlah, betapa mulia sahabat-sahabatku. Tatkala menerima info rahasia, mereka bukannya menyebarkannya kembali. Namun dijaganya agar berhenti di mereka saja. Jangan sampai ada lagi orang lain yang tahu. Kemudian, tersebab rasa sayang, mereka mengingatkanku agar tidak terjebak untuk kedua kalinya, menceritakan rahasia kepada teman baik itu. Dan kuharap kau tidak menganggap sahabat-sahabatku sebagai mengadu domba. Karena tujuan mereka jelas, agar aku tidak lagi mengulang kecerobohan dengan membagi masalah kepada orang yang salah.

Yang terakhir, aku sendiri. Berhati-hatilah kawan, saat kau akan mencurahkan segala kesah dan resah. Jangan langsung percaya dengan senyum manis, bahasa mesra, sorot cerdas, dan tajam analisa. Pertimbangkan dan pikirkan yang dalam, kemanakah rahasiamu ‘kan menuju...


Rabu, 14 November 2012

JODOH BUKAN OBAT FLU

Artis cantik itu dengan kenes berujar “Cocok!” saat mengiklankan sebuah merk obat flu. Ya, kesuksesan obat dalam menyembuhkan penyakit sangat ditentukan oleh cocok tidaknya obat tersebut. Betapapun harga obat itu selangit, namun bila tidak cocok, percuma saja. Sementara itu, ada juga obat yang murahnya nggak ketulungan, eh ternyata cespleng.

Ketika kemudian kita mendengar seringnya para selebritas maupun orang biasa, yang berpisah dengan pasangannya, mengemukakan alasan “sudah tidak ada kecocokan”, apakah jodoh ini berbanding lurus dengan obat flu, maupun obat lainnya?

Setiap manusia sesungguhnya sudah ditetapkan olehNya siapa pasangan hidupnya. Jika demikian, lalu mengapa banyak orang bercerai. Konon angka perceraian di negeri tercinta ini cukup tinggi. Mungkin itu akibat para pasangan menganggap bahwa pendamping hidup laksana obat flu, yang bila tidak cocok, maka jangan dikonsumsi lagi, lebih baik cari lagi yang lain.

Sejatinya, pasangan hidup itu menentramkan jiwa. Mereka saling menyayangi satu sama lain, saling membela, saling melengkapi dan mengutuhkan. Lalu apa jadinya bila dalam perjalanan berumah tangga ditemukan kondisi yang di luar dugaan?  Percekcokan tak bisa dihindari. Hingga akhirnya berbuntut perceraian.
Bila sudah begini, apakah Allah salah memilihkan jodoh? Untuk menjawab pertanyaan ini, nyatalah mengapa Allah meninggikan manusia beberapa derajat dibanding makhluk lainnya. Ya, karena manusia diberi akal pikiran. Dan dengan akal pikiran inilah kita bisa menganalisa pertanyaan di atas.

Yang tak terbantahkan dan harus diyakini benar adalah bahwa Allah Maha Tak Pernah Salah. PerhitunganNya pasti tepat. Mustahil meleset. Ketika skenario hidup tiba di fase yang tidak terduga, yang membenturkan, yang membuat terhempas, yang membuat seorang istri atau suami berkonflik satu sama lain, di sanalah kedewasaan, ketenangan, kecerdasan, bermain dalam ranah pikiran seseorang. Memang pasti ada yang salah di sana. Dan itu bersumber dari pasangan itu sendiri. Pada saat itu, dibutuhkan kelapangan hati untuk bermuhasabah, evaluasi diri.  Boleh jadi, masalah yang timbul memang sebuah kekhilafan, maka itu harus ditobati. Ada pula yang karena faktor keluarga, maka itu harus dimusyawarahkan. Demikian, segala hal yang timbul di sana sudah tersedia jalannya, hanya tinggal bagaimana kita menangkapnya dan mengaplikasikannya.

Tidak jarang kita mendengar para pemuda dan pemudi yang belum mendapat jodoh, berucap belum nemu yang cocok. Sesungguhnya cocok yang dimaksud adalah cocok pada saat itu. Sebab dalam perjalanannya, bukan tidak mungkin akan berjumpa dengan aneka ketidakcocokan. Maka, janganlah mengira jodoh itu bak obat yang bila sudah terasa cocok di awal, ia akan membuat nyaman sepanjang masa.

Sekali lagi, Allah mengaruniakan kita dengan perangkat lengkap berupa akal pikiran dan juga kepekaan hati. Bagaimana kita pandai memainkan perangkat tersebut, maka cocok-tidak cocok bukan masalah. Beragam perbedaan bisa diatasi dengan komunikasi yang dilandasi akal dan hati. Masing-masing pihak harus membuka diri untuk menerima pendapat pasangannya. Dan yang lebih penting adalah senantiasa memohon kepadaNya agar senantiasa mendapat lindungan dan tuntunanNya dalam menjalani bahtera rumah tangga. Sebab ada anak-anak (bagi yang memiliki) yang merupakan amanah dariNya yang harus dipertanggungjawabkan. Terkait dengan masalah anak-anak, perlu satu tulisan yang lain lagi. Insya Allah nanti akan saya turunkan segera.

Maka, cocok atau tidak cocok, tergantung bagaimana kita menyikapinya. Bagaimana kita me-menej kendali rumah tangga. Meski tak urung kerap muncul pertanyaan, bila obat itu sudah demikian tidak cocoknya untuk dikonsumsi, hingga menyebabkan sakit-sakit yang lain, yang kemudian mempengaruhi jalannya kehidupan ia dan anak-anak, apakah obat tersebut harus tetap dipertahankan? Ok, saya tunggu jawaban Anda.. J