Selasa, 21 Februari 2012

Lets Enjoy The School

Saat si buah hati memasuki fase baru yaitu bersekolah, ada beragam pengalaman di dalamnya. Dari mulai persiapan hingga mengantar pada hari pertama sekolah. Aneka kejadian yang tak terduga, kerap terjadi. Bagaimana menyiasati hal seperti itu? Bagaimana pula tips dan trik agar dapat melalui hari pertama si kecil bersekolah dengan aman terkendali? Bagaimana caranya agar senyum ceria anak-anak tidak berubah menjadi mata yang berkaca-kaca atau teriakan histeris?

Buku "Let's Enjoy The School" menguak banyak problematika seputar mengawal anak di hari pertama sekolah. Ada 18 ibu yang bertutur tentang pengalamannya saat mengantar putra-putri kesayangan memasuki gerbang sekolah. Seorang anak yang awalnya bersemangat ingin sekolah, tiba-tiba kakinya seperti tertancap di tanah saat tiba di pagar sekolah. Ada juga anak yang terbiasa menggunakan bahasa Inggris di rumah, ternyata pada hari pertama sekolah malah terjadi miskom dengan ibu guru. Lalu, pengalaman si kembar yang ditempatkan dalam kelas terpisah. Juga ada cerita tentang anak yang mengamuk hingga menendang dan memukul ibu guru. Serta berbagai kisah menarik lainnya.

Dari pengalaman-pengalaman dalam kisah tersebut, pembaca akan diajak mengenal aneka kebiasaan anak serta dampak yang mengikutinya. Misalnya: kita tidak bisa langsung menyimpulkan bahwa balita yang bersikeras ingin sekolah karena melihat teman-teman di sekitar atau kakaknya yang setiap hari pergi sekolah, adalah benar-benar sudah siap bersekolah. Boleh jadi, ia hanya merasa kesepian di rumah, atau ingin tampak 'keren' seperti teman/kakak yang dilihatnya berpakaian seragam dan menyandang tas.

Buku ini benar-benar bergizi untuk dikonsumsi oleh para orangtua yang akan mempersiapkan buah hati tercinta masuk ke sekolah TK maupun SD. Di dalamnya, para penulis berbagi tips cara anak bersosialisasi, bagaimana menjalin komunikasi dengan guru, menyiasati anak yang mogok sekolah, serta apa yang perlu diperhatikan dalam memilih sekolah yang tepat, yang ramah anak. Selain itu, tinjauan psikologi pun hadir sebagai penambah wawasan.

Ada lagi yang tak kalah menarik dari buku ini, yaitu aneka resep bekal sehat untuk anak. Resep-resep praktis yang mudah dibuat dengan citarasa yang enak dan disukai anak, lengkap dengan fotonya. Ada nasi goreng gulung, bakso bakar, banana sandwich, martabak bayam, dan makanan lain yang mengundang selera.

Bagi para orangtua muda, tidak ada alasan untuk tidak memiliki buku ini. Sedangkan ayah bunda yang putra-putrinya telah melewati masa TK dan kelas 1 SD, maka membeli buku ini pun tidak sia-sia, karena sangat pas sebagai kado. Teman, kerabat, sahabat, dan handai tolan yang memiliki putra/putri balita atau usia menuju SD, tentu akan sangat berterimakasih bila mendapat hadiah buku ini. Oh ya, buat lajangers, tidak ada salahnya juga membeli dan membaca buku ini, untuk menambah amunisi sebagai bekal di masa datang.

Selamat menikmati dan merasakan limpahan manfaatnya.

Judul             :  Let's Enjoy The School
Penulis          :  Naqiyyah Syam, Linda Nurhayati, Shabrina WS, dkk
Penerbit        :  Gurita (imprint Zikrul Hakim)
Cetakan I      :  Oktober 2011

Gado-Gado Poligami - Antara Fiksi dan Realitas

Poligami.. hmm.. tema yang tak lekang dimakan jaman. Selalu ramai diperbincangkan. Mengundang kontroversi antara pro dan kontra. Menuai perdebatan antara mendukung dan menentang. Namun, betapapun riuh pembahasan mengenai poligami, para pelakunya tak surut dari waktu ke waktu, dengan berbagai alasan dan kondisi yang melatari.

Aneka kehidupan poligami mewarnai kehidupan ini. Ada yang beraroma luka dengan airmata tak berkesudahan. Ada tetes kecemburuan yang kental di dalamnya. Ada pengorbanan yang berbanding lurus dengan keikhlasan. Dan, ada pula yang bertabur senyum dengan rona bahagia.

Sebuah buku bertajuk “Gado-Gado Poligami – Antara Fiksi dan Realitas” terbitan PT Elex Media Komputindo, mengurai kisah poligami dengan menampilkan kisah nyata dan kisah fiksi. Macam gado-gado yang memuat bermacam bumbu, maka kisah-kisah ini memiliki rasa yang berlainan. Ada yang manis, asin, hingga pedas. Namun yang pasti, kesemuanya bermuara pada satu rasa, yaitu rasa yang sedap.

Bermula dari lomba menulis flash fiction maksimal 400 kata di facebook, terjaringlah kisah-kisah FF pilihan yang kemudian menjelma menjadi buku ini. Adalah Leyla Imtichanah a.k.a Leyla Hana yang menggagas lomba ini lalu menyusunnya dengan menambahkan kisah-kisah nyata untuk penyeimbang serta pembanding. Maka, terbentanglah di hadapan pembaca, antara fiksi dan realita seputar poligami.

Lomba flash fiction alias fiksi kilat itu sendiri, ternyata mendapat sambutan luar biasa dari para fesbuker. Di luar dugaan, peserta lomba mencapai 300 lebih. Bahkan hingga deadline lewat, masih saja ada yang bersikeras mengirimkan naskahnya.

Kisah-kisah dalam buku ini membawa kita pada perenungan yang dalam tentang dinamika poligami. Plus minusnya, suka dukanya, bahagia dan deritanya. Anda akan dibuat tercengang, takjub, gregetan, dan tersayat pilu. Pun Anda tak dapat mengelak isak, lalu mengulum senyum, bahkan geram berdentam-dentam.

Tengoklah kisah yang bertutur tentang seorang istri yang awalnya merestui pernikahan suaminya yang kedua. Suaminya santun memohon izin dengan alasan yang bisa diterima. Namun mengapa kemudian keluarga yang semula bahagia itu berubah menjadi oleng? Apa yang dilakukan istri pertama agar keluarganya tetap berlayar tenang meski badai menghantam? Kisah perjuangan seorang wanita yang tegar ini hadir dalam kisah apik berjudul “Mengepak Dengan Satu Sayap”.

Kisah-kisah lain yang mengaduk emosi, tentang poligami terselubung. Tidak ada pemberitahuan kepada istri pertama, sekonyong-konyong berita tentang istri kedua lengkap beserta anaknya, menggelegar membuat hati berguncang. Ada yang kehilangan kendali, ada yang tertatih-tatih menata hati, ada juga yang bangkit lalu berjaya. Apa saja yang mereka lakukan? Bagaimana keluarga dekat seharusnya bersikap? Lalu bagaimana nasib anak-anak hasil pernikahan itu? Temukan hikmah yang bertabur dalam kisah-kisah tersebut.

Poligami yang damai berbuah kebahagiaan, juga terjadi dalam kehidupan. Istri kedua yang dipilihkan oleh istri pertama, lalu mereka bahu membahu dalam biduk rumahtangga dengan satu nakhoda yang sama. Sebuah keluarga yang kompak, dengan anak-anak yang akrab kepada dua ibunya. Bagaimana hal semacam ini bisa terjadi? Apa yang melatari peristiwa tersebut? Sungguh merupakan kisah inspiratif.  Judulnya adalah “Senyum Ini Milik Kami”. Kisah-kisah bahagia lainnya yang tak kalah menginspirasi, juga menarik diselami.

Kepiawaian para penulis dalam menuangkan ide dan imajinya, tampak dalam deretan fiksi kilat dalam buku ini. Dengan jumlah kata yang dibatasi, karena sifatnya yang ‘kilat’, pembaca tidak akan kehilangan asyiknya mengunyah cerita. FF berjudul “Secangkir Kopi” benar-benar menguar aroma nikmat, dengan suasana syahdu dalam sulaman kata-kata indah nan romantis. Menyusul cerita yang berjudul “Carikan Aku Teman, Bi” merupakan kisah sederhana yang manis dengan ending tak terduga. Dan rupa-rupa kisah lainnya dalam racikan gado-gado dengan kata kunci: sedap.

Setelah menelusuri kisah-kisah fiksi dan realita, kesimpulan adalah milik pembaca, bagaimana memaknai poligami. Barisan kalimat bertenaga berikut, dicuplik dari tulisan pada cover belakang buku ini. Pernikahan poligami maupun monogami, keduanya sunah Rasul. Pilihan yang diambil, hendaknya menjadi jalan untuk meraup pahala dan surga serta mendapatkan keberkahan di dunia dan akhirat, yaitu keluarga sakinah, mawaddah, wa rohmah. Keberkahan itu hendaknya diraih dengan menjauhkan diri dari perbuatan zalim dan bersifat aniaya terhadap keluarga.

Kehamilan yang Menakjubkan

Kehamilan adalah hal yang didamba bagi seorang wanita yang telah menikah. Berita tentang kehamilan merupakan kabar yang membawa bahagia bagi pasangan suami istri juga keluarga besarnya.  Ada yang mudah mendapatkannya, namun ada pula yang menunggu-nunggu hingga bilangan tahun.

Masa kehamilan yang sembilan bulan lebih itu, menjadi cerita yang beragam bagi para ibu. Rupa-rupa pengalaman dilalui pada masa itu. Bermacam reaksi terjadi dalam diri, baik secara fisik maupun psikis.  Bahagia dan derita bertumpang tindih. Tapi satu yang pasti, bertumbuhnya janin dalam rahim benar-benar nikmat anugerahNya yang wajib disyukuri.

Buku “Kehamilan Yang Menakjubkan” memuat kisah-kisah seputar kehamilan yang dialami para ibu. Tulisan-tulisan ini merupakan kisah terpilih dari sebuah audisi menulis di facebook. Dari 235 naskah yang masuk, dipilih 3 naskah pemenang utama, dan 27 kisah lainnya yang inspiratif dan menarik untuk dibukukan.

Perjuangan para ibu menjalani kehamilan, hadir dalam kisah mengharukan, menakjubkan, memberi kekuatan, memotivasi,  dan ada juga yang membuat tersenyum simpul. Selain kehamilan yang dinanti, ditemui pula kehamilan yang seolah hadir di luar rencana, karena usia si kakak masih berbilang bulan. Pun kehamilan yang berat dijalani dan berujung pada kepergian sang bayi untuk selamanya.

Kisah-kisah dalam buku ini membuka wawasan dan pengetahuan tentang hal-hal yang bersifat medis yang dapat terjadi selama masa kehamilan. Aneka keluhan dan penyakit timbul, namun kita akan temui solusi penanganannya. Maka, buku ini dapat menjadi rujukan yang baik bagi para ibu maupun calon ibu, beserta para ayah dan calon ayah juga. Dan buku ini pun lengkap memuat kisah para bapak dalam mendampingi kehamilan istrinya.

Pemenang pertama tulisan ini ditulis oleh seorang ibu yang hamil dengan infeksi TORCH (Toxoplasma, Rubella, CMV, Herpes) positif. Angka IgG dan IgM-nya tinggi.  Bagaimana kecamuk perasaannya menghadapi kenyataan tersebut? Lalu apa sikap yang diambil ketika dokter langganannya memvonis bahwa resiko bayi lahir cacat cukup tinggi? Apakah ia mengikuti saran dokter untuk menggugurkan janinnya atau malah mempertahankannya? Sang ibu menuturkan pengalamannya dengan gamblang tanpa mengurangi keindahan bahasanya.

Kemudian, tahukah Anda apa itu vaginismus?  Yaitu gangguan psikologis yang amat langka, diderita oleh wanita yang mengalami trauma akut, sehingga ia sulit melakukan hubungan suami istri. Proses penetrasi tidak memungkinkan terjadi karena ketakutan dan kekhawatiran tentang penetrasi. Seluk beluk tentang ini dipaparkan oleh seorang penderita vaginismus, yang benar-benar membagi hikmah bagi pembaca. Bagaimana perjuangan melawan ketakutan itu? Terapi apa saja yang dijalaninya? Lalu bagaimana sikap sang suami menghadapi istri demikian? Benar-benar kisah yang inspiratif!

Menyelami buku ini akan membawa kita pada sikap syukur dan menyadari betapa kehamilan itu adalah sebuah anugrah besar dariNya. Para ibu yang hamil dengan aneka kesulitan, jangan sampai berkecil hati. Kisah dalam buku ini sungguh menggugah semangat dan motivasi untuk tetap menjaga kehamilan dengan sepenuh keyakinan. Pre-eklamasi, kehamilan kembar, plasenta previa total, kista endometriosis stadium lanjut, mioma yang tumbuh banyak dalam rahim, mimisan berkepanjangan, dan berbagai masalah lain yang mengiringi kehamilan hadir dalam buku ini dengan kemasan cerita yang apik.

Jangan khawatir, di samping kisah para ibu dengan kesulitan-kesulitan medis yang dialaminya, ada juga kisah yang berbeda dari itu. Kisah ini tidak memuat sedikitpun hal-hal berbau medis, tapi sebuah pengalaman unik yang selalu mengiringi setiap kehamilannya. Judul kisah tersebut adalah “Hamil = Tiket ke Luar Negeri”. Apa yang Anda bayangkan dengan judul seperti itu? Apakah setiap hamil, sang ibu pergi ke luar negeri? Oh, dugaan yang salah! Sebaiknya baca saja kisahnya dalam buku ini, dan Anda akan tercengang lalu tersenyum setelahnya. Penulis kisah ini bernama Linda Nurhayati. Anda mengenalnya?

Rabu, 01 Februari 2012

Day.. we are still friend, aren't we..?

Day.. hari ini 1 Februari. Bulan baru hari baru. Rindu ini terus mengusik. Aku ingin kita seperti dulu lagi. Kutumpahkan sgala cerita, bahagia, ceria, duka, nestapa. Semuanya. We are still friend, aren't we?

Day.. kerap aku ingin berkata, "Aku cape!" Tapi kata-kata itu tertahan, ada tembok besar menghadang. Serasa ada larangan besar yang menjegal bahwa aku tidak boleh berkeluh kesah.

Rasanya pekerjaan dan beban tiada henti menghinggapi. Maka aku paling bingung bila ada orang yang berkata, "duh, ngapain ya..? ga ada kerjaan nih..!" Ow.. ow.. kapan yaa, aku bisa mengucapkan kalimat seperti itu?

Hari ini nih, Day.. dari pagi sampai sore, teruuus bergerak. Dari mulai beli keperluan Ghulam, rapat PC, ke bank Mandiri, ke konfeksi, dll deh. Di bank, antrinya ampun-ampunan lagi!

Tiba di rumah, lagi-lagi Zidan bikin ulah. Dan.. lagi-lagi aku terhempas. MasyaAllah, Day.. bener-bener deh, pingin bilang, "capeee..". Ga pa-pa ya, Day..?

Selanjutnya aku jadi marah-marah, bawaannya keseeell aja. Tapi, sempet juga ngulek bumbu, masak ayam trus ayamnya dipanggang.

Day, maaf ya, tulisanku ini ga bermutu. But.. we are still friend, aren't we..?

Sabtu, 14 Januari 2012

Jangan Tumbuhkan Generasi Robot

Saat pembagian raport di sekolah anak saya, ada acara ‘quality time’ sebagai bagian dari rangkaian acara sebelum pembagian raport dimulai. Salah satu pengisi acara tersebut, Bapak Munif Chatib, seorang pakar pendidikan yang juga konsultan pendidikan di sekolah tersebut.

Point utama yang disampaikan adalah tentang masalah akademis. Betapa saat ini banyak orangtua yang terjebak pada masalah akademis, dengan mengagungkannya, sehingga beranggapan bahwa prestasi akademis demikian penting lalu abai pada pencapaian prestasi lain.

Tanpa disadari, kondisi tersebut telah membuat anak terperosok pada kewajiban-kewajiban yang mengekang kreativitasnya, demi pencapaian prestasi akademis yang diabadikan dengan nama ‘ranking’.  Anak sibuk les atau berlama-lama di bimbel, agar sanggup menjawab soal-soal ulangan di sekolah dan sukses meraih nilai tinggi. Anak belajar di bawah tekanan untuk sebuah nilai istimewa.

Yang terjadi kemudian, anak-anak belajar, sekedar ‘tahu sesuatu’ dan bukan ‘bisa sesuatu’. Guru-guru berkutat dengan pencapaian kurikulum. Mereka menyampaikan ilmu berdasarkan target yang telah ditetapkan. Keberhasilan pembelajaran ditentukan oleh Nilai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal). Semua bergerak berdasarkan instruksi, minim inovasi. Maka, guru dan murid bak robot yang bekerja sesuai perintah.

Ditambah dengan model Ujian Nasional yang menentukan kelulusan siswa, maka berbagai cara ditempuh siswa, juga sekolah, agar terbebas dari aib ‘tidak lulus’. Sehingga pembelajaran tidak lagi memperhitungkan proses, namun berorientasi pada hasil akhir. Padahal, justru dalam proses itulah, dapat dilihat bagaimana perkembangan siswa dalam menyerap ilmu, dan bagaimana pula kreativitas guru dalam mentransfer ilmu.

Kondisi mengagungkan akademis, diperparah dengan diskriminasi mata pelajaran. Matematika dan IPA dianggap lebih hebat daripada mata pelajaran ilmu-ilmu sosial dan bahasa. Tidak sedikit siswa yang terpaksa memilih jurusan IPA demi memenuhi keinginan orangtua, padahal minatnya lebih besar pada jurusan IPS. Maka, anak-anak itu menjelma menjadi robot yang dikendalikan oleh orangtuanya.

Sampai kapan kondisi ini akan terus berlangsung? Diperlukan kesadaran dari para pendidik, di dalamnya orangtua dan guru, dalam menyikapi hal ini. Pencapaian akademis bukan segalanya, meski bukan berarti boleh dikesampingkan. Ada potensi kecerdasan yang bisa dilihat pada anak, dari ke-9 potensi kecerdasan yang ada. Boleh jadi, seorang anak memiliki satu atau lebih potensi tersebut, yang bila dikembangkan, akan melejitkan dirinya meraih prestasi gemilang.

Kekakuan sistem yang ada, jangan hanya kita sesali dan sibuk menghujat ke sana ke mari. Sistem pendidikan di Indonesia, tidak hanya berbicara soal pendidikan, namun di dalamnya tidak terlepas dari unsur-unsur politis. Butuh kesabaran dan kesungguhan untuk memperbaiki sistem ini. InsyaAllah, menteri pendidikan kita yang sekarang ini, benar-benar berjuang ke arah perbaikan tersebut. Kita harus mendukungnya, karena sebuah proses, tidak bisa kita harapkan instant, sim salabim, berubah sesuai keinginan kita.

Menyadari semrawutnya sistem pendidikan di negeri tercinta ini, hendaknya membuat mata, hati, dan pikiran terbuka, agar tidak melestarikan lahirnya generasi robot. Jangan sampai putra-putri, generasi penerus kita, bergerak hanya mengikuti kendali. Mereka enggan berpikir kritis dan tidak punya nyali. Tapi mereka harus menjadi generasi yang cerdas dan tangguh. Bukan hanya ‘tahu sesuatu’ tetapi mereka ‘bisa sesuatu’ dengan baik.

Menurut Pak Munif, semoga ke depannya, akan hadir perguruan tinggi-perguruan tinggi yang berbasis lokal. Artinya, memanfaatkan potensi lokal untuk digali dan dipelajari menjadi suatu nilai tambah. Misal: Sidoarjo yang terkenal dengan kekayaan laut, berupa udang berkualitas baik, maka di sana didirikan perguruan tinggi yang fokus pada pengolahan dan pembudidayaan udang dengan teknologi canggih. Jangan sampai kita kalah dari Malaysia, yang memiliki universitas bamboo, yang di sana dipelajari tentang seluk beluk bambu, sedangkan bambu-bambu yang dipelajari tersebut didatangkan dari Indonesia. Seharusnya kita, Indonesia yang kaya raya dengan keanekaragaman potensi alam, mampu mendirikan perguruan tinggi yang mengeksplorasi potensi daerah masing-masing.

Rabu, 11 Januari 2012

Senja dan Sahabat

Ketika surya memudar di tepian senja, ingatan tentangmu menyeruak.
Sebongkah rindu mengudara.
Katamu, indah senja serupa dengan persahabatan kita.
Damai.
Lembut.
Tulus.
Kuingat betapa lengkung senyum sabitmu yang selalu manis dalam setiap keluh kesahku, juga derai tawaku.
Karena bagimu, selalu ada riang dalam murung, dan tetap berdendang meski terhuyung.
Kau selalu menyediakan diri untuk segala duka, luka, jua bahagia.
Dan, setelah jarak merenggangkan raga, desau angin membawa bisik lirihmu dalam rapal doa untukku.

Selasa, 03 Januari 2012

Karena Hidup Terus Bergerak

Tahun Baru.. Semangat Baru..
Kalimat itu acap didengungkan orang untuk memicu produktivitas. Resolusi dipancangkan. Deretan rencana disusun. Amunisi disiapkan.

Bagaimana denganku? Yup! ingin hati seperti itu, namun apa daya, mengawali tahun baru aku didera sakit kepala, dilanda meriang. Maka malam tahun baru diwarnai dengan kunjungan ke dokter. Setelah minum obat, seketika aku tidur dengan sukses.. zzzz..

Dalam masa istirahat, kepalaku dipenuhi dengan berbagai pikiran hutang pekerjaan. Ah.. istirahat macam apa ini? Aku teringat raport anak-anak yang belum dibagikan, karena distribusi yang terlambat dari pengurus kabupaten. Undangan rapat pengurus kecamatan memenuhi list sms di Hp-ku. Setelah raport didapat, ternyata banyak kesalahan pencetakan di sana-sini. Berbagai sms kembali menyerbu. Peraturan-peraturan pengisian raport, jadwal pengambilan revisi raport.. bla.. bla..

Sms lain tiba. Tagihan laporan keuangan penyelenggaraan kegiatan pelatihan motivasi anak dan remaja, yang sudah diadakan beberapa waktu lalu. Sebagai bendahara, itu salah satu tanggung jawabku.

Lagi-lagi sebuah sms menghampiri. Kali ini tentang Seminar Parenting. Dan parahnya lagi aku ketuanya. Sms itu meminta supaya aku mengirimkan proposal via email kepada seseorang yang bersedia menjadi donatur.

Belum lagi, keinginanku untuk menulis. Beberapa tulisan ingin kubuat, namun belum terwujud. Bahkan PR besarku adalah tulisan fiksi non islam yang sedang kugarap, masih saja terkatung-katung. Sementara, seorang editor sudah menagih.

Lalu kapan aku bisa benar-benar beristirahat, bahkan bedrest seperti yang disarankan dokter? Hmm.. sulit terjadi. Tapi, Alhamdulillah.. kondisi kesehatanku kini berangsur baik. Aku harus kembali bergelut dengan rupa-rupa kegiatan. Sudahlah pasti urusan rumah dan anak-anak, ditambah dengan berbagai kewajiban terhadap masyarakat. Serta passionku pada menulis.

Ya.. karena hidup ini terus bergerak. Roda waktu terus berputar. Tak ada guna berkeluh tentang padatnya jadwal, sempitnya waktu. Selagi nafas masih mengalun, gunakan kesempatan untuk berkarya.