Rabu, 18 Desember 2013

Sudut Sunyi Itu, Ada


Blurb:
Pernahkah kau terjepit dalam ruang Sunyi.. terdapat pada pojok Sunyi yang tak teraba namun ada..
Melati, wanita shalehah dengan hijabnya yang luas terbentur kesunyian pada pernikahannya dengan Radit meski mereka telah dikaruniai bidadari nan cantik.
Malaya, wanita terlahir dengan sempurna yang merasa SUNYI di usia 35 tahun karena sang malaikta tak juga luruh dalam dekapannya.
Soraya, wanita shalehah yang sederhana dan bertakdirkan memiliki rahim tandus, harus berbagi hati ketika suaminya, Reza, mengajukan izin poligami.. dan ia pun terkais ke kotak SUNYI
Inikah perjalanan takdir anak manusia? Jejak-jejak kecil yang coba ditinggal dengan penuh ketidakberdayaan, asa, perjuangan itu sendiri. Lalu akan mampukah mereka memecah sunyi? Atau hidup hanya menuju takdir belaka tanpa perlawanan..
Hanya kau perlu tahu, Mala. Hidup mengarungi takdirmu, tidak berarti indah selalu.
Seperti apa yang kau lihat padaku, pada Radit.
Yang utama adalah mampu melewati segala takdir Allah dengan kerendahan hati..
Review:
Sebuah novel duet, bagi saya menyimpan rasa penasaran tersendiri. Bagaimana jadinya, sebuah alur cerita dengan sekian konflik yang dialami beberapa tokoh, menjadi sebuah kisah yang padu dengan digerakkan oleh dua kepala, dua pikiran, dan dua style yang sudah mendarah daging dalam gaya kepenulisannya? Ini pasti kerja luar biasa. Dan Sunyi adalah novel duet pertama yang saya baca. Puaskah saya? Mari, ikuti saya.
Novel ini boleh dibilang sederhana. Setting nggak mentereng. Nggak pake deskripsi negeri di berbagai belahan dunia, nggak juga mengusung unsur lokalitas tanah air beta. Tokoh utama adalah para wanita. Mereka biasa saja. Bukan mewakili wanita yang nganeh-nganehi. Latar ekonomi pun tidak mengangkat keluarga yang kaya raya bergelimang harta yang membuat banyak orang ternganga-nganga, dan juga tidak menampilkan kaum papa yang hidupnya nelangsa.Lalu, apa istimewanya novel ini? Nah, justru Anda baru saja mendapatkan jawabannya. Apa? Ya, kesederhanaannya itu. Memangnya sederhana itu istimewa, ya?
Ganti paragrap dulu, Kawan. Menurut saya, sebuah novel itu berhasil berbicara bila ia meninggalkan bekas di hati pembacanya. Dan Sunyi telah melakukannya, tanpa terlihat terengah-engah membangun cerita. Dalam kesunyiannya, Sunyi  menyapa pembaca dengan lembut. Sangat sederhana. Tapi ia berhasil membekas. Ada yang tertinggal di hati begitu menutup lembar terakhir novel ini.
Mungkin terasa klise ya, ketika peristiwa kebetulan, terjadi dalam sebuah cerita fiksi. Ternyata si A kenal sama si B, sementara si C yang mantan pacar A jatuh hati kepada B. Ini contoh, bukan ilustrasi kisah dalam Sunyi. Namun dalam novel ini, memang tidak terlepas dari peristiwa kebetulan itu. Hanya saja, justru dari kebetulan itu, konflik bergerak dinamis, memainkan emosi pembaca. Cantik sekali.
Bagaimana kolaborasi berjalan dalam novel ini? Melarutkah atau bagai minyak bersanding dengan air? Sebagai fans sejati Ifa Avianty (jiaaahh…), saya hafal betul gayanya. Begitu pun gaya Eni Martini, yang sahabat baik saya itu, saya kenal dong. Nah, maka ketika membaca, saya bisa merasakan, “Ini pasti bagian Mbak Eni, yang itu bagian Teh Ifa”.  It’s Ok, kok. Nggak berasa njomplang. Keduanya saling mengisi. Mbak Eni bisa mengiringi gaya Teh Ifa, sebaliknya Teh Ifa pun tampak nggak terlalu kental ke-Ifa Avianty-annya, tapi teuteup ng-Ifa juga.
Yang saya salut dari novel ini, meski sama sekali nggak ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa ini novel islami, tapi nilai-nilai islami cukup pekat. Bahkan beberapa novel dengan label di covernya ‘novel islami’ yang pernah saya baca, kalah jauh nilai islaminya dibanding novel ini. Bukan sekedar nilai islami yang berada di permukaan, tapi ruh islamnya demikian kuat menancap.
Meski novel ini membincang sunyi, tapi ia tetap memiliki sisi komikal. Di dalamnya diwarnai beberapa dialog serta narasi segar dan lucu, yang mengundang senyum bahkan tawa. Sepertinya dari sisi tersebut, kedua penulis ini memang klop.
 Karakter para tokoh nggak terasa goyang. Para penulis menggerakkan tokohnya, natural. Memang di dunia nyata, ada toh orang yang seperti Melati. Wanita shalihah yang tampak memiliki bahagia paripurna, namun sesungguhnya ia memendam sembilu. Nggak ketinggalan hadir juga tokoh yang bikin geregetan macam Reza. Hadeuh.. saya ngefans sama Nicholas Cage, dan tiba-tiba ia mewujud Reza dalam novel ini. Emang di Indonesia, cowok yang mirip Nicholas Cage, ada yak? Ah, yakin ini mah imajinasinya Mbak Eni.. :)
Sekarang, saatnya kita melihat bagian yang terasa mengganjal. Tak ada gading yang tak retak, toh? Tentu novel ini pun. Melihat dari judulnya, sudah jelas bahwa novel ini pasti akan menyuguhkan sesuatu tentang sunyi. Ketiga wanita: Melati, Malaya, Soraya, dalam jalan hidup yang dijejakinya, memiliki ruang sunyi yang berbeda. Maka, sunyi menjadi benang merah kisah mereka. Sayangnya, saya merasa kata ‘sunyi’ terlalu banyak dipaksakan masuk ke dalam cerita. Misal pada halaman 14, dalam setengah halamannya berjejal lima kata ‘sunyi’. Padahal nggak usah terlalu ingin menjelaskan kaitan antara judul dengan isi, pembaca juga ngerti kok.. :)
Salah satu yang kerap menjadi ciri khas karya Ifa Avianty adalah adanya petikan-petikan lagu yang liriknya mewakili  bagian cerita. Biasanya memberi efek so sweet. Dalam novel ini, entah karena penulisnya dua orang, kok rasanya kebanyakan ya?  Akhirnya beberapa lagu, saya skip. Agak males juga, kalau kebanyakan.
Di bagian awal, sosok Melati masih agak sedikit membingungkan. Sebagai seorang pendiam, mungkinkah berteriak lantang di dalam Senayan City dengan orang lalu lalang di sekitarnya? Kemudian diikuti dengan tertawa-tawa heboh pula?
Lalu tentang cover, meskipun secangkir kopi cukup relevan, tapi ketika tahu bahwa Malaya piawai melukis, saya jadi membayangkan cover novel ini berupa lukisan. Lukisan yang menuansakan sunyi. Sepertinya akan tampak cantik.
Pergantian tokoh yang saling bertutur, kadang membuat satu bab memuat lebih dari satu tokoh yang bicara. Maka, dalam satu bab memiliki semacam sub-sub bab. Tapi, kenapa judul sub bab itu ditempatkan di tengah ya? Rasanya lebih enak kalau di sisi kiri.
Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, saya benar-benar jatuh cinta sama novel ini. Endingnya menarik. Tidak happy ending, namun salah juga bila dikatakan sad ending, apalagi open ending. Ia memiliki akhir yang jelas. Sebuah sentuhan akhir yang manis tapi bertenaga. Saya suka sekali, dan benar-benar mendapat pencerahan di bagian ini.
Sangat beralasan, bila dikatakan novel ini recommended. Kisahnya membumi. Tanpa kita ketahui, orang-orang di sekitar, memiliki ruang sunyi yang tak diketahui siapa pun. Ada sisi tersembunyi, di mana sunyi memerangkapnya. Mungkin Anda pun memilikinya, seperti juga saya…..  
Judul Buku                :  Sunyi
Penulis                        :  Eni Martini dan Ifa Avianty
Penerbit                      :  Panser Pustaka
Terbit                         :  Cetakan I, Oktober 2013
Tebal Buku                :  240 halaman
ISBN                           :  978-602-7798-73-1

Mengemas Cinta dalam Pentas Liku-Liku Hati




Judul Buku                :  Teatrikal Hati
Penulis                        :  Rantau Anggun dan Binta Al Mamba
Penerbit                      :  PT Elex Media Komputindo
Terbit                         :  Cetakan I, 2013
Tebal Buku                :  342 halaman
ISBN                           :  978-602-02-2627-9
Harga                         :  Rp. 56.800

Cinta, dengan segenap dinamikanya senantiasa berkelindan dalam kehidupan. Maka tema ini menjadi pilihan yang selalu ranum bagi para penyulam kata, penggiat pena. Dengan beragam turunannya, tema cinta tak pernah membosankan untuk dinikmati.

Adalah Rantau Anggun dan Binta Al Mamba, penulis yang menyuguhkan kisah cinta yang cukup dramatis dalam novel duet perdana mereka, berjudul Teatrikal Hati. Sebuah judul yang cukup metereng, saya kira. Begitu pun tag line-nya: perempuan, cinta, mimpi, obsesi, dedikasi, dan lika-liku perjalanan nurani. Acung jempol kepada duet ini, yang berani meracik rupa-rupa hal dalam debut pertama di dunia fiksi.

Kisah dalam novel ini menampilkan banyak tokoh. Ada Setyani, seorang perempuan Jawa yang cinta mati kepada suaminya nan tampan rupawan, meski hatinya hanya menerima luka dan nista sepanjang pernikahan mereka. Harjun Notodiningrat, sang suami, menerima perjodohan dirinya dengan Setyani, tanpa perlawanan. Harjun menyadari hal tersebut sebagai misi orangtuanya. Jika ayahnya ingin menyandingkan kehormatan keluarganya yang konglomerat dengan keturunan suci keluarga pendakwah, maka ibunya berharap Setyani adalah obat bagi jiwa kelana putra semata wayangnya yang tiada berkesudahan. Harjun tidak peduli. Beberapa bulan ia bermanis-manis dengan istrinya, setelah itu rumah tangga mereka hampa, karena Harjun kembali bertualang dengan perempuan-perempuan yang memujanya.

Tokoh berikutnya ada Linda dan Gwen, putri Setyani dan Harjun. Sifat keduanya bertolak belakang. Linda, sang kakak, mewarisi sifat ibunya yang lemah lembut dan penyabar. Sedang Gwen, pemberontak dan keras kepala. Lalu tokoh lain, ada Zahra, seorang pekerja seni peran yang cerdas. Karirnya bermula dari artis, beralih menjadi sutradara, hingga menjadi produser. Kemudian ada Bagas, dokter berhati mulia, suami Linda. Dan, Hafidh, lelaki yang dijodohkan dengan Gwen.

Kesemua tokoh itu bertutur dalam porsinya, saling berinteraksi satu sama lain. Linda dan Bagas dalam kehidupan rumah tangganya yang dingin karena komunikasi yang kikuk dan kaku. Ditambah tak kunjung hadirnya buah hati yang didamba. Mereka saling mencintai dalam diam, dengan caranya masing-masing.

Gwen, mengalami trauma berat akibat perilaku ayahnya yang brengsek. Ia membenci lembaga pernikahan, dan bersikukuh tidak ingin menempuh jenjang itu. Maka melajanglah ia hingga usia melebihi kepala tiga. Ibu dan kakaknya resah. Tak ketinggalan, sahabat di kantornya pun turut memikirkan. Mereka berusaha menjodohkan. Gwen menolak keras.

Zahra, sutradara muda yang kemudian diamanahi menjadi produser. Ia mendapat tantangan untuk memproduksi film yang bertema humanis dan menyentuh. Ia berjibaku mewujudkannya. Fardan, sang sutradara, adalah kawan di masa lalunya yang memiliki hubungan rasa yang belum tersambungkan.

Begitu banyak konflik saling bersinggungan. Penulis menuturkan lewat sudut pandang PoV 1 dari masing-masing tokoh. Seperti yang disampaikan Shabrina Ws dalam endorsnya, bahwa novel ini seperti kepingan-kepingan puzzle, pelan-pelan menyatu, lalu menjadi utuh. Demikianlah, ada benang merah yang kemudian mengikat cerita ini dan berakhir pada ending tertutup. Sebuah langkah cantik dari penulis.

Konflik yang dialami para tokoh, cukup mengaduk emosi. Jalan hidup Setyani yang mengundang iba sekaligus mencengangkan atas ketabahannya. Lalu perjuangan panjang Linda dan suaminya demi hadirnya sebuah gerak kehidupan dalam rahim Linda. Selain itu, bagaimana Gwen yang berkutat dengan traumanya, cukup menimbulkan rasa penasaran.

Peristiwa demi peristiwa muncul, mengalun, mengentak, serupa pentas teatrikal. Dengan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti namun tak mengurangi keindahannya. Diselingi juga kalimat yang bernuansa puisi, dengan repetisi yang khas.

Bicara tentang karakter, sepertinya penulis menggerakkan tokohnya dengan karakter yang cukup ekstrim. Karakter sabar yang dimiliki Setyani adalah sabar yang sungguh tak terukur. Lalu dokter Bagas yang kikuk, benar-benar mengalahkan Paman Kikuk-nya Husin dan Asta. Linda yang lembut, boleh dibilang tak pernah marah, bahkan merajuk sekalipun, dengan pura-pura ngambek misalnya. Ketika ada pendapat yang mengatakan bahwa, bila penulis berhasil membuat sebal pembaca tersebab karakter tokoh dalam kisah fiksinya, maka ia adalah penulis yang berhasil. Dalam hal ini, penulis menunjukkan keberhasilannya. Saya dibuat sebal oleh sikap Gwen yang keras hati. Saya juga merasa Gwen itu sok cantik. Emang begitu ya, kalau jadi perempuan cantik? Sayangnya, saya belum pernah mengalami.. haha.. Gwen demikian percaya dirinya merasa bagai bidadari yang molek, sehingga setiap ada lelaki yang jatuh cinta kepadanya, dianggap hanya jatuh cinta karena paras jelitanya. Bahkan ia seperti merasa ‘terganggu’ dengan keelokan wajahnya, sehingga tidak bisa melihat kemurnian cinta dan niat lelaki yang bermaksud bersanding dengannya.

Kini, kita beralih pada bagian yang terasa sedikit kurang pas. Hal yang biasa, toh? Karena ‘tak ada gading yang tak retak’. Dengan banyaknya tokoh yang bertutur, terasa kurang tergarap kedalaman olah emosi masing-masing tokoh. Banyaknya persoalan juga membuatnya hanya tampak permukaan, belum tereksplorasi detil dan tautannya dengan problem utama. Contohnya: mimpi Gwen, yang akan tereksplorasi dengan baik bila menggunakan riset ilmu psikologi. Namun pada bagian hasil analisa psikiater, misalnya, terasa kurang tajam. Contoh lain pada profesi-profesi para tokoh: dokter, penyiar, arsitek, pekerja film, sepertinya akan lebih menarik bila ditampilkan detil yang tidak biasa, yang belum diketahui umum oleh khalayak ramai mengenai profesi tersebut.

Setting waktu pun agak ribet. Mungkin typo juga, penempatan waktu yang tidak sinkron. Pada halaman 35, Linda-23 tahun, pada tanggal 12 Maret 1971. Sementara pada halaman 113, Linda-25 tahun, pada tanggal 31 Mei 1971. Bertambah usia dua tahun, tapi tahunnya tetap sama. Perbedaan usia Setyani dengan Harjun pun sepertinya ada kekeliruan. Di bagian awal mereka terpaut usia 7 tahun, tapi di bagian akhir, Setyani meninggal pada usia 56 tahun, sedang beberapa bulan setelahnya, Harjun berusia 60 tahun. Dan membincang waktu lampau di masa kini, sepertinya potensial menimbulkan sedikit rancu, semisal ketika setting tahun 1971, apakah pada jaman itu sudah dikenal istilah cupu (halaman 27), dan spa before married (halaman 30)?

Yang menarik dari novel ini adalah pesan kuat yang tersirat di dalamnya. Bagaimana seorang artis muda yang cantik seperti Zahra, bisa istiqomah berjilbab, dengan konsekuensi surutnya tawaran main. Namun dengan niat yang lurus, Zahra berhasil membuktikan eksistensinya di dunia seni peran. 

Lalu pelajaran dari Setyani adalah, di balik kepasrahannya yang mungkin bagi sebagian wanita (termasuk saya), ‘bukan gue banget’, tapi Setyani dengan keikhlasannya, tetap menjalankan perannya sebagai ibu yang baik. Dan kebaikan yang dilakukannya dengan tulus, ternyata kembali kepada dirinya sebagai kebaikan juga. Bahwa kesetiaannya tidak sia-sia. Ia khusnul khotimah.

Sedangkan Harjun, memperlihatkan betapa kerasnya hati tercipta karena akibat dari maksiat yang dilakukannya. Berzina dan akrab dengan minum minuman keras, menjadi penghalang bagi melembutnya hati. Berbilang tahun Harjun hidup dalam gelimang dosa. Dan bahwa penyesalan itu selalu datang di akhir. Menyesal kemudian tiada berguna.

Bagi pasangan yang sulit segera mendapat momongan, kesabaran Linda dapat dijadikan teladan. Bagaimana ia menghadapi lingkungan yang selalu riuh bertanya, juga melihat teman dan saudara yang asyik bercengkrama dengan putra-putri mungil mereka, menimbulkan luka hati yang tak terjemahkan pedihnya.

Masih ada lagi yang lainnya hikmah kebaikan yang dapat dipetik dari novel ini. Sejatinya, memang sebuah karya melahirkan pencerahan bagi pembacanya, tidak sekadar kisah romansa pelipur lara. Semoga selanjutnya penulis novel ini tetap istiqomah dalam menebar kebaikan melalui jalan pena, dan saya yakin kisah yang disuguhkan nanti tentu akan jauh lebih apik. Salut untuk Rantau Anggun dan Binta Al Mamba.

# Resensi ini diikutsertakan dalam lomba resensi buku BAW dan QuantaBooks

Sabtu, 07 Desember 2013

Membersamai Kopi dalam Fiksi

Judul Buku                :  The Coffee Memory
Penulis                        :  Riawani Elyta
Penerbit                      :  Penerbit Bentang
Terbit                         :  Cetakan I, Maret 2013
Tebal Buku                :  vi + 226 halaman
ISBN                           :  978-602-7888-20-3

Sinopsis:
Ini kisah tentang jatuh bangunnya seorang Dania, melepaskan diri dari kenangan dengan aroma kopi yang mengepungnya, untuk menegakkan kembali usaha coffee shop yang dulu dirintis mendiang suaminya. Diawali dengan kecelakaan yang merenggut nyawa Andro, suami Dania. Andro, yang penikmat kopi sejati, meninggalkan sebuah kafe dengan sajian utamanya: kopi. Kafe itu, selain sebagai sebuah usaha yang menopang kehidupan keluarga mungil Dania yang baru dikaruniai satu balita, juga merupakan refleksi kecintaan Andro pada kopi. Andro sangat menjaga citarasa menu kopi yang disajikan di kafenya, berikut latte art yang artistik menghiasi sajian kopi tersebut.

Dania kemudian tertatih menghidupkan kembali kafenya. Aneka kerikil yang merintangi jalan, dihadapinya seorang diri. Tak kalah berat adalah melepaskan rindu yang membelenggu. Rindu pada Andro, yang setiap jejak dan bayangnya mengisi seluruh ruang dan gerak kafe. Namun kehadiran seorang barista baru bernama Barry, sangat membantu. Kemahirannya nyaris menyamai Andro, dan semangatnya menyala untuk mengeksiskan kondisi kafe yang sinarnya meredup.

Tak dinyana, Pram, seseorang dari masa lalu Dania, muncul sebagai kompetitor. Pram, dengan konsep kedai kopi yang lebih menarik dan inovatif, cukup menggoyahkan grafik jumlah pengunjung bagi beberapa usaha kuliner di sekitar kawasan itu, tak terkecuali kafe milik Dania. Kehadiran Pram, tidak saja mengusik ketenangan Dania dari sisi bisnis, namun ternyata Pram masih menyimpan rasa yang sama, rasa cinta semasa SMA dulu.

Bagaimana perjuangan Dania menghadapi kerasnya persaingan bisnis? Mampukah Dania berperan sebagai single mom? Apakah kekukuhan prinsipnya untuk menutup hati bagi semua lelaki akan bisa bertahan?

Review:
Ini novel kedua seri Love Flavour yang saya baca, setelah The Mocha Eyes. Dan untuk The Coffee Memory, aroma kopinya tercium sangat pekat. Bila dalam The Mocha Eyes, unsur moka mewarnai perjalanan cerita seorang Muara, maka The Coffe Memory benar-benar kisahnya tercelup dalam harumnya cairan berwarna hitam itu. Ngopi banget deh.

Riawani Elyta mengemas konflik dengan hati-hati. Beragam peristiwa dimunculkan dengan cermat. Kombinasi masalah bisnis dengan masalah hati cukup proporsional. Meski dalam beberapa hal mudah ditebak, namun ada juga kejutan-kejutan yang menyelamatkan novel ini sehingga tidak terasa monoton.

Alur yang bergerak sangat lambat nyaris membuat novel ini membosankan. Untunglah, berbagai pengetahuan tentang kopi cukup menarik perhatian saya. Berbagai varian dan topping, betul-betul saya baru tahu dari novel ini. Termasuk tentang latte art, saya juga baru tahu kalau dalam sajian kopi ada hiasan artistik macam itu. Begitupun profesi barista, saya baru tahu juga. Serba baru tahu deh.. :)

Makna secangkir kopi yang tidak sekadar minuman pengisi jeda waktu, digambarkan melalui sikap Andro dalam memperlakukan kopi. Jiwa seorang barista telah merasuk, sehingga ia tahu persis bagaimana menghargai kopi secara layak. Passion dan care pada kopi, bagi Andro adalah mutlak. Ia menjunjung tinggi filosofi dari eksistensi secangkir kopi.

Bagaimana geliat sebuah usaha coffee shop, disampaikan dengan detil yang cermat. Jelas sekali, riset yang dilakukan penulis nggak main-main. Seluk beluk bisnis tersebut sangat fasih dituturkan penulis. Pada bagian ini, ditiupkan juga semangat daya juang untuk bangkit. Nilai kesungguhan dan ketangguhan diperlihatkan oleh tim coffee shop ‘Katjoe Manis’ di bawah pimpinan Dania. Sebuah pesan kebaikan yang disiratkan dengan halus tanpa kesan menggurui.

Untuk melengkapi bagian persaingan bisnis, dimunculkan pula intrik-intrik yang biasa menyertai sebuah perjalanan bisnis, semisal: penyabotan karyawan ahli dan permainan harga. Ditambah kehadiran kakak ipar Dania yang merongrong dengan ambisinya untuk menguasai coffee shop milik mendiang adiknya, membuat Dania merasa gerah. Pada saat itulah, dukungan tim yang solid menjadi senjata utama.

Deskripsi yang ciamik membuat saya ter-wow-wow berasa benar-benar berada di dalam sebuah coffe shop, melihat aneka jenis kopi, beragam properti perkopian, cara menggiling berikut penyajiannya. Ditambah lagi interior unik dan inovatif di coffee shop milik Pram, sepertinya akan menjadi ide menarik bagi para peminat dunia usaha kuliner, khususnya coffee shop.

Seperti halnya rasa kopi yang beraneka, dari yang paling enak hingga yang kurang sreg di lidah, maka dalam novel ini ada juga rasa yang kurang sreg di hati. Pada sisi romance, terasa betapa kepergian Andro untuk selamanya meninggalkan perasaan hampa dan kehilangan yang sangat menyesakkan jiwa. Namun ternyata Dania, dalam waktu yang boleh dibilang tidak terlalu lama, mampu melabuhkan rasa pada lelaki lain. Entah, mungkin ini karena saya terlalu sentimentil, tapi menurut saya, kepergian Andro yang tiba-tiba, akan membekas lara di hati dalam bilangan waktu yang panjang, apalagi dengan segenap kenangan yang tertoreh pada kopi dan ‘Katjoe Manis’.

Lalu, kehadiran Redi, kakak Andro, yang menjadi duri dalam daging, kurang tereksplor geraknya. Hanya sebatas intervensi verbal. Watak culasnya dalam bisnis, sepertinya akan lebih jleb bila ada aksi licik atau tindakan menyebalkan yang dilakukannya, yang sayangnya itu tidak ada.

Peristiwa kebakaran merupakan kejutan yang asyik. Saya kira ini akan dikembangkan menjadi semacam misteri yang mengundang penasaran pembaca. Namun rupanya penulis mengambil jalan aman, yang tenang-tenang saja. Bahwa ini merupakan musibah yang bisa menimpa siapa saja. Maka fungsi bagian ini ‘hanya’ sebagai konflik minor biasa yang mewarnai jalan cerita.

Mengenai typo, biasanya saya tidak pernah mempermasalahkan. Tapi penulisan nama kafe, ‘Katjoe Manis’ yang seharusnya ‘Kajoe Manis’, tentu bukan masuk kategori typo. Sangat disayangkan ketidaktelitian ini. Jelas sekali disebutkan pada halaman 28 bahwa Andro menamai kafenya terinspirasi dari kayu manis, bukan kacu manis.

Dengan segala kelebihan dan kekurangan yang menyertai novel ini, dapat tertangkap jelas pesan yang tersirat melalui aroma kopi yang menguar tajam di dalamnya. Bahwa kopi memiliki filosofi yang beririsan dengan kerinduan, bukan candu. Sebab candu berkonotasi negatif, sedangkan rindu akan mendorong pada perlakuan yang penuh dengan rasa cinta dan tidak menyia-nyiakan (tanggung jawab). Ini berkaitan erat dengan bisnis kedai kopi yang digeluti Dania. Bahwa bisnis coffee shop tidak semata soal nominal dan profit, tetapi juga di dalamnya ada passion (cinta), antusias, dan rasa tanggung jawab. Penulis meramunya dalam sebuah bingkai kisah cinta yang pekat dengan aroma rindu.

Meski sudah hadir buku fiksi mengenai filosofi kopi, namun sebagai sebuah novel yang memuat cerita berdurasi panjang, The Coffee Memory merupakan novel yang recommended. Filosofi kopi, bisnis coffee shop, dan kisah cinta, menjadi kombinasi segitiga yang manis dan mengandung pesan moral yang luhur. Jadi, jangan lewatkan membaca The Coffee Memory sambil menikmati segelas kopi pilihan Anda… hmm.. what a nice moment!


Ketika Cinta Lalu Menjadi Sembilu



Judul Buku                :  Perjalanan Hati
Penulis                        :  Riawani Elyta
Penerbit                      :  Rak Buku
Terbit                         :  Cetakan I, Mei 2013
Tebal Buku                :  iv + 194 halaman
ISBN                           :  602-175-596-0
Biduk rumah tangga tak selamanya tenang berlayar. Adakalanya terhantam gelombang yang menimbulkan guncangan. Penyebabnya aneka rupa, dari stadium dini berupa perbedaan-perbedaan pendapat, hingga stadium lanjut yang lebih serius, semisal: pengkhianatan.
Novel “Perjalanan Hati” mengisahkan biduk rumah tangga Maira-Yudha yang terguncang oleh sebuah rasa di masa lalu. Sebaris nama masih tersimpan rapi di dalam hati. Suara dari masa lalu itu masih berembus kencang, Menyergapku dalam rindu yang dingin (halaman 11). Andri, laki-laki dari masa lalu Maira, sesama aktivis pecinta alam, kembali hadir setelah sekian lama menghilang. Keduanya berada dalam satu rombongan backpacker ke Gunung Anak Krakatau.
Keikutsertaan Maira berarti melanggar janjinya kepada Yudha, bahwa pendakian ke Gunung Leuser sembilan bulan menjelang pernikahannya, adalah pendakian Maira yang terakhir. Namun akhirnya Yudha memberi izin, karena adik Maira dan istrinya juga ikut serta dalam rombongan itu, sehingga Yudha bisa memastikan Maira aman sepanjang perjalanan.
Sesungguhnya bukan hanya itu alasan Yudha. Ia mencium kegusaran Maira tersebab kedatangan mantan kekasih Yudha menemui Maira. Yudha tidak tahu persis apa saja yang mereka bicarakan, tapi ia merasa perlu memberi waktu untuk Maira cooling down. Perjalanan ke Anak Krakatau sepertinya sangat tepat.
Apakah perjalanan tersebut benar-benar me-refresh pikiran Maira yang kusut karena kehadiran wanita dari masa lalu suaminya? Bagaimana pula kedekatannya dengan Andri selama perjalanan? Menyesalkah Yudha atas izin yang diberikannya, karena ia pun sebenarnya tahu bahwa Andri berada dalam rombongan itu?
Perjalanan hati Maira mengalun lembut sepanjang cerita. Konflik yang hadir tidak meletup-letup, cenderung sederhana. Berkisar seputar kegalauan Maira. Andri-nya yang dulu dinanti dan dirindu, tiba-tiba berada begitu dekat. Sosok Andri yang di awal digambarkan cuek, ternyata mengalami pengembangan karakter. Saat berduaan kembali bersama Maira, meski status Maira sudah bersuami,  Andri melancarkan manuver-manuver yang cukup berani. Secara psikologis, hal ini logis karena Andri merasa sudah ‘kalah’, maka ia berusaha merebut kemenangan, yang masih sangat diharapkannya. Ia sangat menyesal atas kesalahannya dulu yang tidak berterus terang mengenai perasaannya.
Maira yang digambarkan sebagai sosok anak gunung banget, ternyata tidak cukup kuat menghadapi gempuran rasa antara masa lalu dan kenyataan hari ini. Semakin jauh aku melangkah, hanya resah yang kian menggumpal (halaman 91). Penulis mengeksplorasi gejolak hati Maira dalam perjalanannya menapaki jejak rasa. Ditaburi dengan diksi yang menawan dan quote-quote manis pada setiap pembuka bab. Perjalanan hati ini pun terasa halus berdesir.
Yang agak terasa mengganjal adalah sikap Yudha yang melepaskan izin untuk Maira pergi, sementara dia tahu dalam perjalanan tersebut ada Andri, lelaki dari masa lalu Maira. Tidakkah tepercik api cemburu di hatinya? Apakah ego kelaki-lakiannya tidak terusik?
Sebuah pelajaran yang patut digarisbawahi dari kisah Maira-Yudha adalah jangan biarkan kisah cinta masa lalu menyelinap dalam kehidupan rumah tangga. Celah kesempatan yang terbuka sedikit saja bisa mengundang peluang untuk menggoyahkan hati. Siapa pun tahu, kalau pria dan wanita itu, seperti dua kutub magnet yang tarik menarik. Tetapi, yang satu tidak akan berusaha mendekat, apalagi sampai menarik, kalau tidak ada sinyal yang dikirimkan oleh pihak satunya lagi. (halaman 100)
Selain Maira, hadir pula tokoh perempuan lain, yaitu Donna. Ia perempuan dari masa lalu Yudha. Karakter yang melekat padanya adalah perempuan yang kuat dan mandiri. Potret perempuan masa kini yang mampu berjalan tegak di atas kakinya sendiri. Ketegarannya bisa menjadi simbol kekuatan seorang perempuan yang sering digambarkan lemah. Betapa ia mampu berlapang dada dan ikhlas melepas masa lalu, kemudian mantap melangkah di kehidupan masa kini dan yang akan datang.
Sebagai sebuah novel dewasa, novel ini sangat santun. Kemesraan suami-istri tidak di-ekspos secara vulgar. Deskripsinya disiasati dengan ekspresi dan bahasa tubuh si tokoh.
Setting tempat mendapat ruang yang cukup. Situasi khas Pelabuhan Merak, kondisi gunung Anak Krakatau dengan lontaran lahar dan material vulkanik lainnya, hadir dalam porsi yang pas sesuai tuntutan cerita. Nampak bahwa penulis melakukan riset yang serius, sehingga deskripsi setting cukup detil dan memikat.
Alur cerita bergerak perlahan pada bagian awal, lalu menjadi lebih cepat saat mendekati akhir. Ending pun terasa agak instant.
Terlepas dari kelebihan dan kekurangan yang mengiringinya, novel ini  memiliki keindahan bahasa yang sangat pekat. Diksi yang cantik dan menyentuh memenuhi sepanjang jalan cerita.  Covernya pun tampak lembut dalam ilustrasi sederhana dengan pilihan warna teduh.
Pesan yang tersirat dapat ditangkap dengan baik. Betapa komunikasi yang mengusung kejujuran, sangat penting dalam sebuah keutuhan rumah tangga. Maka novel ini recommended bagi pasangan suami istri, baik yang usia pernikahannya masih muda maupun yang sudah berbilang tahun, dan baik juga dibaca oleh yang belum berumah tangga untuk bekal kelak bila melangkah ke jenjang pernikahan.


Jumat, 06 Desember 2013

Melarung Rindu di Laguna


Blurb:
Keindahan Blue Lagoon Resort berhasil menyembuhkan luka hati Arneta  setelah putus dari Galang. Setidaknya itulah yang dirasakannya sampai kemunculan Mark, sang general manager baru. Ketenangan Arneta terusik karena sikap dingin cowok blasteran itu. Untuk pertama kalinya ada orang yang berani menegur keterlambatan Arneta, meremehkan kinerjanya, dan mempermalukannya di depan para staf.

Kekesalan Arneta semakin menjadi karena statusnya sebagai anak pemilik Blue Lagoon Resort tidak bisa memuluskan rencananya untuk mendepak Mark. Perang dingin di antara mereka berujung pada sebuah pertaruhan terbesar dan ternekat yang pernah diajukan Arneta. Pertaruhan yang perlahan-lahan membuka sisi asli pribadi Mark. Pertaruhan yang membawa Arneta kembali bertemu Galang.

Laguna biru kesayangannya tak lagi tenang. Luka hati Arneta yang lama terkubur kini terusik lagi dengan kehadiran Galang. Namun, ketika mantan kekasih yang sangat dicintainya itu melamarnya di tepi laguna, kenapa Arneta justru memikirkan sosok lain?

Review:
Saat membaca daftar finalis Lomba Novel Amore, mata saya tertegun sejenak di satu nama. Iwok Abqary. Nggak salah nih? Penulis yang lebih sering ngocol dalam tulisan-tulisannya, terjaring di lomba bergengsi novel romance? Satu lagi, penulis ini juga idola anak saya (10 tahun). Yup! namanya memang cukup dikenal sebagai penulis buku anak-anak. So, nggak pake mikir lama, judul novel ini langsung masuk ke dalam wishlist. Penasaran banget saya…

Dan.. ketika lembar demi lembar novelnya saya nikmati… hmm… novel ini asyik juga. Bahasanya segar seperti segarnya segelas lime squash yang ada di covernya. Dialognya nggak berlebihan, enak dikunyah. Nggak cuma dialog verbal, tapi juga suara-suara bisikan hati, menyempurnakan keasyikan yang dibangun oleh cerita ini.

Settingnya menarik, membidik panorama eksotis negeri sendiri. Pulau Bintan, sebuah destinasi wisata yang cantik dan belum se-menor Bali. Deskripsi keindahannya cukup tersampaikan. Saya bisa membayangkan tenang dan nyamannya laguna tempat Arneta melarungkan serpih demi serpih rindunya. Tempat yang senyap dengan segala pesona ajaibnya yang melenakan: debur ombak, desir angin, pekik camar, riak gelombang, gemerisik dedaunan nyiur, palem, dan ketapang, lengkap dengan payung langit biru yang membentang sempurna. Pas banget untuk meluruhkan segenap kenangan pahit yang mengendap dari masa lalu.
Eloknya Pulau Bintan
(gambar diambil dari sini)

Riset untuk novel ini, terlihat cukup mendalam. Penulis fasih membeberkan seluk beluk bisnis resor, terutama yang berkaitan dengan divisi marketing. Di divisi itulah Arneta nge-pos, dan segala gerak tindaknya berkutat di situ. Saya jadi tahu, bagaimana strategi pemasaran sebuah usaha resor dalam menggaet klien, model promo yang dilakukan, termasuk istilah dalam kegiatan promo, semacam sales call.
Selain bagian-bagian serius, mungkin karena pada dasarnya ini penulis emang suka ngocol, novel ini pun diwarnai unsur kocak. Bukan ngocol yang konyol, tapi semacam bumbu penyedap yang bikin novel ini jadi mak nyuss. Saya benar-benar terhibur, karena bagian-bagian yang lucu ini nggak dibuat-buat, tapi memang hadir alami, dan sukses bikin saya ketawa, dari mulai ketawa skala ringan yang cuma senyam-senyum sampai terkakak-kikik.. J Misalnya dari dialog-dialog chatting Arneta dengan Ayu, sahabatnya yang tinggal di Bandung, juga saat adegan Arneta yang ketahuan memotret Mark dengan sembunyi-sembunyi, dan.. selebihnya, temukan sendiri ya, lumayan cukup banyak kok.

Menarik juga bagaimana penulis menggerakkan tokoh-tokohnya. Nggak ada yang saling mendominasi. Galang, yang sesungguhnya merupakan ‘biang kerok’ penyebab terdamparnya Arneta di Bintan, hadir di bagian nyaris penghujung cerita. Penulis memilih untuk nggak cerewet menceritakannya di awal, dan ketika dia muncul, nggak terkesan ujug-ujug dateng juga. Sudah disiratkan sebelumnya tentang kebiasaan Neta yang suka menyendiri di laguna, dan… penyebabnya nggak akan jauh-jauh dari urusan cinta, kan?

Karakter Arneta dan Mark merupakan kombinasi yang pas. Masing-masing memiliki kekuatan karakter yang khas dan tegas. Mereka berinteraksi dalam alur yang terjaga. Ketika terasa ada semacam plothole, ternyata di bagian selanjutnya ada penjelasan yang menutupi lubang tersebut. Semisal tentang Galang yang dikatakan percaya diri, tapi kok berkelit dari sebuah komitmen? Bukankah itu menunjukkan ketidakpercayadiriannya? Ow rupanya kemudian disebutkan bahwa Galang berasal dari keluarga sederhana dan ia ingin berupaya menapaki jalan sukses agar tampil sebagai pemenang di hadapan keluarga Arneta yang kaya raya.

Nggak melulu mengedepankan perkara cinta, Laguna juga meniupkan semangat pantang menyerah. Betapa sebuah target yang dicanangkan, harus diperjuangkan dengan program yang matang dan terencana baik. Sebuah tantangan harus dijawab dengan kerja keras dan prestasi. Karena dunia kerja membutuhkan orang-orang yang berdedikasi tinggi. Bila itu dipenuhi, maka keberhasilan yang gemilang akan dicapai.

Apakah novel ini semua bagiannya asyik? Nggak juga lah. Tak ada gading yang tak retak, tetap berlaku. Seperti novel Amore yang saya baca sebelum ini, di Laguna pun tercium aroma sinetronistik. Perseteruan seru antara dua orang berbeda jenis kelamin dengan paras menawan… hmm.. kayaknya langsung ketebak kalau itu bakal jadi semacam kamuflase. Dan, Arneta terlihat naïf, dengan segala serangan yang dilancarkan Mark. Tapi, bagusnya, penulis menunjukkan betapa alam bawah sadar Neta tak berkutik juga berhadapan dengan cowok bule yang guantheng ini.. J
tiap hari berantem sama cowok bule kayak gini dan selalu mendapat tatapan dingin macam ini..? mana tahaan..
(gambar diambil dari sini)

Satu lagi, unsur kebetulan. Pada moment yang urgent, ketika Neta butuh klien besar yang mampu mendongkrak profit demi keberhasilan tim marketingnya, muncullah sosok itu. Sosok yang melangutkan jiwa dalam bingkai kenangan getir masa lalu. Kebetulan yang klise. Sangat disukai untuk menjadi pilihan penulis agar memudahkan jalan cerita. Kok Galang sih yang jadi wakil direktur marketing di perusahaan besar yang dibidik Blue Lagoon Resort? Kebetulan banget! Sementara saya, nggak pernah tuh kebetulan ketemu sama mantan pacar dari masa lalu… haha…

Adanya dialog chatting antara Neta dan Ayu, adalah bagian yang saya suka. Percakapan yang lincah, segar, dan mengandung unsur kocak juga. Betul-betul pembicaraan dua orang sahabat yang terkesan natural. Tapii… kenapa untuk membedakan dialog chat itu dengan narasi atau dialog lain, adalah dengan menggunakan cetak tebal pada huruf-hurufnya? Kenapa nggak menggunakan font yang beda? Kan banyak pilihan font yang bisa dipakai yang akan membuatnya lebih artisitik, daripada sekadar hurufnya di-bold.

Deskripsi fisik para tokoh cukup detil dan menarik. Pembaca bisa membayangkan seperti apa sosok Arneta, Mark, dan Galang. Meski penulis tampaknya terpeleset juga, kurang teliti saat menggambarkan mata Mark yang memesona. Pada halaman 110, matanya sewarna hazelnut yang coklat terang, namun pada halaman 227, matanya sewarna almond. But, it’s no big deal, toh tidak memengaruhi jalan cerita. Masih bisa dimaafkan untuk penulis yang baru pertama kali menulis novel romance… J

Anyway, meski tidak bertabur diksi yang memukau, saya acung jempol buat Iwok Abqary yang berhasil yang membangkitkan sisi romantisme yang terkubur di dirinya dalam proses kreatifnya, sehingga menghasilkan novel romance yang manis, segar, dan menyenangkan. Dengan menambahkan ketegangan-ketegangan saat Neta harus menentukan pilihan, menjadi kejutan tersendiri buat saya, tercecap rasa kecut-manis yang enak. Maka menikmati novel ini seperti sedang disuguhkan segelas lime squash.

Akhirnya rasa penasaran saya lunas ketika tiba di penghujung halaman novel ini. Dan, saya nggak nyesel beli karena novel ini cukup memuaskan. So, saya rekomendasikan novel ini buat kamu koleksi. Jangan sampai melewatkan kesegaran segelas lime squash yang menguar darinya… slrruup! ^_^

Judul Buku                :  Laguna
Penulis                        :  Iwok Abqary
Penerbit                      :  Gramedia Pustaka Utama
Terbit                         :  Cetakan I, 2013
Tebal Buku                :  232 halaman
ISBN                           :  978-602-03-0053-5

Harga                         :  Rp. 48.000