Beberapa waktu lalu, saat jalan-jalan ke Gramedia, aku pernah melihat buku "Tuhan, Inilah Proposal Hidupku". Kebetulan sudah ada yang terbuka plastik segelnya, maka refleks kuintip isinya. Hmm.. isinya bagus, pikirku. Sebatas itu saja, belum tergerak untuk membelinya. Tampaknya terkait dengan isi dompet.. -_-
Seiring lipatan waktu, buku itu terlupakan. Hingga saat kunjungan rutin tahunanku ke Islamic Book Fair, aku melihat buku itu di stand Gramedia. Mungkin karena efek diskon, maka aku pun memasukkannya ke daftar belanjaan. Buku itu pun menuju rumahku, bersama tumpukan buku lainnya.
Satu-dua hari, aku masih sibuk dengan buku-buku lain. Kemudian, tiba juga hari ketika aku mulai membuka buku itu dan membacanya seksama. Subhanallah.. buku yang keren.. sungguh-sungguh keren!
Aku tidak bermaksud me-resensi, tapi ingin bercerita tentang penulisnya. Namanya, Jamil Azzaini. Aku tidak terpengaruh, karena merasa tidak/belum mengenalnya. Saat kubaca profilnya, aku tertegun pada kalimat.. "..bersama Mas Erie Sudewo dan teman-teman lain, kami banyak melahirkan program di DD Republika". Pikiranku berputar cepat. Lalu aku terpana, dan terlempar ke tahun 1994, saat aku melamar ke DD Republika dan di-interview oleh seorang yang bernama: Mas Jamil.
Tersentak aku mengingat itu. Ini.. Mas Jamil..? Mas Jamil yang itu.. ?
Oh.. betapa waktu punya kuasa untuk merubah segala. Aku telusuri profil dan jalan hidup Mas Jamil yang sekarang. Betapa lompatan prestasi yang luar biasa telah diukirnya. Dan aku..? hiks.. :'(
Tapi, kuyakin.. tak ada kata terlambat. Tak mengapa, kesadaran demikian lama menghampiri. Yang penting kini, aku bertekad untuk membuat hidup lebih baik 1% setiap hari, seperti yang ditulis Mas Jamil dalam bukunya. Dan, ketika keesokan harinya aku bersua dengan orang STIFIn yang merupakan bagian dari PT Kubik SisiLain yang digawangi Mas Jamil, aku dikabari bahwa putra Mas Jamil saat ini tengah menuntut ilmu di Jerman. Maka, kutanamkan dalam hati juga, kelak anakku akan melanjutkan study ke luar negeri. Agar mereka melangkah dan belajar Iqro' di bumi Allah di mana pun.
Allaahumma Aamiin..
Rabu, 21 Maret 2012
Selasa, 20 Maret 2012
Menyesap Nikmatnya Tarapuccino
Saya suka membaca, lalu akhir-akhir ini suka menulis juga, tapi menuliskan apa yang dibaca, baru 1-2 kali saja saya lakukan. Sekarang saya ingin melakukannya lagi, untuk novel “Tarapuccino”. Entah ini tergolong ke dalam resensi atau bukan.
Novel ini ditulis oleh Riawani Elyta dan Rika Y. Sari. Nama yang pertama disebut, lebih eksis dalam dunia kepenulisan, dengan deretan prestasinya dalam Lomba-lomba Menulis bergengsi tingkat nasional.
Kisah dalam novel ini berpusat pada geliat sebuah kedai roti, bertajuk “Bread Time”, yang dikelola dua orang pengusaha muda, Tara dan Raffi. Gejolak muncul setelah bergabungnya seorang pemuda ahli desain grafis, Hazel, ke dalam bakery tersebut. “Bread Time” yang tengah naik daun itu, mengalami kejadian naas secara beruntun yang nyaris menghancurkan nama baiknya.
Cerita mengalir dengan sentuhan suspense yang cukup kuat. Pembaca dibuat penasaran dengan aneka konflik yang proses menuju penyelesaiannya tidak mudah ditebak. Hadir pula, seorang mahasiswa drop out dan mantan aktivis yang kemudian terlibat dalam sindikat illegal trading, demi menyambung hidup adik-adik tiri dan ibu tirinya juga. Pemuda misterius itu bernama Ahmadiaz Syah Reza. Meski mudah ditebak keterkaitan antara Diaz dengan Hazel, namun bagaimana misteri itu terkuak, disampaikan penulis dengan elegan.
Yang juga mengundang decak kagum pada novel ini adalah kepiawaian penulis mengolah detil. Ini memperlihatkan bahwa penulis seorang yang pintar dan berwawasan luas. Bagaimana penggambaran operasi terselubung sebuah sindikat illegal trading, bagaimana lika-liku dan seluk beluk sebuah usaha kuliner modern, juga betapa kecanggihan IT merupakan hal yang seolah biasa dan ‘seharusnya’ pembaca mengerti, ditampilkan secara detil namun tetap menawan.
Nilai-nilai islami yang kental, yang kerap muncul dalam novel ini, sangatlah patut diacungi jempol. Meski pada beberapa bagian terasa dipaksakan, tapi secara keseluruhan, usaha penulis untuk mengusung nilai-nilai Islam ini, menjadikannya berbeda dengan novel-novel lain. Apalagi halaman pertama ditandai dengan lafaz ‘Bismillaahirrahmaanirahiim’, wow..
Sungguh, ini novel yang berkelas, dengan racikan cerita yang tak biasa. Walau tak lepas dari kisah cinta yang anggun mengalun, namun itu menjadi semacam pemanis saja, karena yang tercium kuat adalah aroma detektif. Penulis pun membiarkan setting berbicara. Benar-benar keren, bahkan saya pun jadi merasa keren karena mengulas novel ini (halah!)
Oh ya, saya suka covernya, manis dan bercita rasa tinggi. Seorang pemuda dengan cinnamon cappuccino dihadapannya, duduk bersampingan dalam jarak yang tidak dekat dengan seorang perempuan berjilbab panjang. Mereka menatap laut dengan latar kota modern, cukup mewakili penggambaran Batam yang menjadi setting sentralnya. Tapi, saya sebetulnya pingin nanya, apakah warna peach itu seperti warna jilbab sang perempuan? Rasanya kurang pas..
Lalu, apa ya kekurangan novel ini? ehm.. secara fisik, saya lebih suka kalau ukuran bukunya tidak berbentuk bujur sangkar. Kemudian, dari segi isi, saya merasa ada ketidaksesuaian waktu pada ending, namun menurut penulisnya sih, bukan hal yang prinsipil. Endingnya yang terbuka, tak masalah, namun kemunculan Hazel yang tiba-tiba dalam kondisi sukses, agak-agak terkesan sinetron.
Anyway busway, ga bakal nyesel kalau beli novel ini. Membacanya adalah sebuah kenikmatan yang nikmat. Dengan pilihan kata yang terjalin apik. So.. tunggu apa lagi..? ayo.. baca!
Novel ini ditulis oleh Riawani Elyta dan Rika Y. Sari. Nama yang pertama disebut, lebih eksis dalam dunia kepenulisan, dengan deretan prestasinya dalam Lomba-lomba Menulis bergengsi tingkat nasional.
Kisah dalam novel ini berpusat pada geliat sebuah kedai roti, bertajuk “Bread Time”, yang dikelola dua orang pengusaha muda, Tara dan Raffi. Gejolak muncul setelah bergabungnya seorang pemuda ahli desain grafis, Hazel, ke dalam bakery tersebut. “Bread Time” yang tengah naik daun itu, mengalami kejadian naas secara beruntun yang nyaris menghancurkan nama baiknya.
Cerita mengalir dengan sentuhan suspense yang cukup kuat. Pembaca dibuat penasaran dengan aneka konflik yang proses menuju penyelesaiannya tidak mudah ditebak. Hadir pula, seorang mahasiswa drop out dan mantan aktivis yang kemudian terlibat dalam sindikat illegal trading, demi menyambung hidup adik-adik tiri dan ibu tirinya juga. Pemuda misterius itu bernama Ahmadiaz Syah Reza. Meski mudah ditebak keterkaitan antara Diaz dengan Hazel, namun bagaimana misteri itu terkuak, disampaikan penulis dengan elegan.
Yang juga mengundang decak kagum pada novel ini adalah kepiawaian penulis mengolah detil. Ini memperlihatkan bahwa penulis seorang yang pintar dan berwawasan luas. Bagaimana penggambaran operasi terselubung sebuah sindikat illegal trading, bagaimana lika-liku dan seluk beluk sebuah usaha kuliner modern, juga betapa kecanggihan IT merupakan hal yang seolah biasa dan ‘seharusnya’ pembaca mengerti, ditampilkan secara detil namun tetap menawan.
Nilai-nilai islami yang kental, yang kerap muncul dalam novel ini, sangatlah patut diacungi jempol. Meski pada beberapa bagian terasa dipaksakan, tapi secara keseluruhan, usaha penulis untuk mengusung nilai-nilai Islam ini, menjadikannya berbeda dengan novel-novel lain. Apalagi halaman pertama ditandai dengan lafaz ‘Bismillaahirrahmaanirahiim’, wow..
Sungguh, ini novel yang berkelas, dengan racikan cerita yang tak biasa. Walau tak lepas dari kisah cinta yang anggun mengalun, namun itu menjadi semacam pemanis saja, karena yang tercium kuat adalah aroma detektif. Penulis pun membiarkan setting berbicara. Benar-benar keren, bahkan saya pun jadi merasa keren karena mengulas novel ini (halah!)
Oh ya, saya suka covernya, manis dan bercita rasa tinggi. Seorang pemuda dengan cinnamon cappuccino dihadapannya, duduk bersampingan dalam jarak yang tidak dekat dengan seorang perempuan berjilbab panjang. Mereka menatap laut dengan latar kota modern, cukup mewakili penggambaran Batam yang menjadi setting sentralnya. Tapi, saya sebetulnya pingin nanya, apakah warna peach itu seperti warna jilbab sang perempuan? Rasanya kurang pas..
Lalu, apa ya kekurangan novel ini? ehm.. secara fisik, saya lebih suka kalau ukuran bukunya tidak berbentuk bujur sangkar. Kemudian, dari segi isi, saya merasa ada ketidaksesuaian waktu pada ending, namun menurut penulisnya sih, bukan hal yang prinsipil. Endingnya yang terbuka, tak masalah, namun kemunculan Hazel yang tiba-tiba dalam kondisi sukses, agak-agak terkesan sinetron.
Anyway busway, ga bakal nyesel kalau beli novel ini. Membacanya adalah sebuah kenikmatan yang nikmat. Dengan pilihan kata yang terjalin apik. So.. tunggu apa lagi..? ayo.. baca!
Kemilau Cinta Bunda Khadijah
Judul : Khadijah (Mahadaya Cinta)
Penulis : Fatih Zam
Penerbit : Tinta Medina - creative imprint of Tiga Serangkai
Cetak I : April 2011
Tebal : 240 halaman
ISBN : 978-602-98552-6-5
Tidak banyak buku yang secara khusus mengurai tentang sepak terjang seorang wanita mulia, Siti Khadijah, istri pertama Rasulullah SAW. Bagaimana sebenarnya pesona kemilau cinta beliau sehingga tak ada perempuan yang sanggup menggantikan posisinya di hati Rasulullah, saya temukan dalam sulaman kisah yang terajut apik pada buku “Khadijah-Mahadaya Cinta”.
Buku karya Fatih Zam ini, sungguh membuka mata hati saya, tentang bagaimana seharusnya laku seorang istri terhadap suami, tentang bagaimana semestinya seorang istri menaruh cinta atas suaminya. Subhanallah, Siti Khadijah benar-benar tipikal istri panutan yang ketulusan pengabdian cintanya kepada suami, demikian luhur pula agung. Penggambaran detil sikap Siti Khadijah kepada Rasulullah, terasa nyata dalam buku ini. Penulis melarikkan kisah cinta pasangan mulia ini dengan bahasa puitis yang halus dan menyentuh.
Khadijah, seorang wanita cantik dan lembut dengan harta berlimpah, menambatkan hatinya pada seorang pemuda sederhana berakhlak terpuji, Muhammad. Pemuda tak berpunya dengan kejujuran tingkat tinggi, telah menawan hati wanita kaya raya nan cerdas dan dermawan. Melayari gelombang lika-liku perjalanan rumah tangga pasangan mulia ini akan mengantarkan kita pada satu kesimpulan bahwa ini adalah kisah cinta terbaik sepanjang masa.
Khadijah mencurahkan segenap energi, materi, dan perasaannya pada perjuangan suaminya. Ia menjadi orang pertama yang meredam gulana sang suami kala ditimpa lara. Senyum nan sejuk dalam wajah teduhnya, peluk lembut dalam dekap hangatnya, senantiasa diberikan Bunda Khadijah kepada suami terkasihnya. Kokohnya kepercayaan yang dipompakan Khadijah, sungguh meneguhkan hati Muhammad dalam mengawali tugas kerasulannya. Maka tak heran, bila dikatakan bahwa sejarah Islam bermula dari sebuah kamar.
Mahadaya cinta Bunda Khadijah mengalir tiada putus bagi suami tercinta, putra-putri tersayang, serta orang-orang di sekitarnya. Sebuah cinta sejati yang bermuara dari cinta kepada Allah dan utusanNya. Maka ketika berbicara cinta, ia menjadi sebuah keniscayaan manakala didasari oleh cinta kepada Sang Maha. Tak kan ada lagi alasan bahwa kita tak mungkin berperilaku bagai Bunda Khadijah, sebab suami kita bukanlah lelaki bergelar ‘Al-Amin’, kekasih Allah. Pun sebaliknya, tak boleh para suami berkelit bahwa tidak mungkin memperlakukan istri bak perangai rasulullah SAW kepada Bunda Khadijah. Sesungguhnya, siapapun dan sebagai apapun pasangan kita, dengan berpijak pada penyerahan cinta utama kepada Allah SWT akan menuntun kita pada persembahan cinta terbaik.
Buku ini, tidak hanya menampilkan kisah kedahsyatan mahadaya cinta Bunda Khadijah. Seperti yang dilakukan Tasaro GK dalam buku spektakulernya, Muhammad, maka Fatih Zam pun menyandingkan tarikh agung ini dengan sebuah kisah romansa fiktif yang elegan. Jalinan cerita cinta antara Nahar dan Laila, mengalun dalam irama syahdu. Lalu, apakah kisah mereka itu manis kesudahannya? Ataukah berujung lara? Sila temukan jawabannya pada ending buku ini.
Akhirnya, saya ingin katakan bahwa, setelah membaca buku ini makin berlipat kecintaan dan kekaguman saya kepada Bunda Khadijah. It’s so inspiring.
Penulis : Fatih Zam
Penerbit : Tinta Medina - creative imprint of Tiga Serangkai
Cetak I : April 2011
Tebal : 240 halaman
ISBN : 978-602-98552-6-5
Tidak banyak buku yang secara khusus mengurai tentang sepak terjang seorang wanita mulia, Siti Khadijah, istri pertama Rasulullah SAW. Bagaimana sebenarnya pesona kemilau cinta beliau sehingga tak ada perempuan yang sanggup menggantikan posisinya di hati Rasulullah, saya temukan dalam sulaman kisah yang terajut apik pada buku “Khadijah-Mahadaya Cinta”.
Buku karya Fatih Zam ini, sungguh membuka mata hati saya, tentang bagaimana seharusnya laku seorang istri terhadap suami, tentang bagaimana semestinya seorang istri menaruh cinta atas suaminya. Subhanallah, Siti Khadijah benar-benar tipikal istri panutan yang ketulusan pengabdian cintanya kepada suami, demikian luhur pula agung. Penggambaran detil sikap Siti Khadijah kepada Rasulullah, terasa nyata dalam buku ini. Penulis melarikkan kisah cinta pasangan mulia ini dengan bahasa puitis yang halus dan menyentuh.
Khadijah, seorang wanita cantik dan lembut dengan harta berlimpah, menambatkan hatinya pada seorang pemuda sederhana berakhlak terpuji, Muhammad. Pemuda tak berpunya dengan kejujuran tingkat tinggi, telah menawan hati wanita kaya raya nan cerdas dan dermawan. Melayari gelombang lika-liku perjalanan rumah tangga pasangan mulia ini akan mengantarkan kita pada satu kesimpulan bahwa ini adalah kisah cinta terbaik sepanjang masa.
Khadijah mencurahkan segenap energi, materi, dan perasaannya pada perjuangan suaminya. Ia menjadi orang pertama yang meredam gulana sang suami kala ditimpa lara. Senyum nan sejuk dalam wajah teduhnya, peluk lembut dalam dekap hangatnya, senantiasa diberikan Bunda Khadijah kepada suami terkasihnya. Kokohnya kepercayaan yang dipompakan Khadijah, sungguh meneguhkan hati Muhammad dalam mengawali tugas kerasulannya. Maka tak heran, bila dikatakan bahwa sejarah Islam bermula dari sebuah kamar.
Mahadaya cinta Bunda Khadijah mengalir tiada putus bagi suami tercinta, putra-putri tersayang, serta orang-orang di sekitarnya. Sebuah cinta sejati yang bermuara dari cinta kepada Allah dan utusanNya. Maka ketika berbicara cinta, ia menjadi sebuah keniscayaan manakala didasari oleh cinta kepada Sang Maha. Tak kan ada lagi alasan bahwa kita tak mungkin berperilaku bagai Bunda Khadijah, sebab suami kita bukanlah lelaki bergelar ‘Al-Amin’, kekasih Allah. Pun sebaliknya, tak boleh para suami berkelit bahwa tidak mungkin memperlakukan istri bak perangai rasulullah SAW kepada Bunda Khadijah. Sesungguhnya, siapapun dan sebagai apapun pasangan kita, dengan berpijak pada penyerahan cinta utama kepada Allah SWT akan menuntun kita pada persembahan cinta terbaik.
Buku ini, tidak hanya menampilkan kisah kedahsyatan mahadaya cinta Bunda Khadijah. Seperti yang dilakukan Tasaro GK dalam buku spektakulernya, Muhammad, maka Fatih Zam pun menyandingkan tarikh agung ini dengan sebuah kisah romansa fiktif yang elegan. Jalinan cerita cinta antara Nahar dan Laila, mengalun dalam irama syahdu. Lalu, apakah kisah mereka itu manis kesudahannya? Ataukah berujung lara? Sila temukan jawabannya pada ending buku ini.
Akhirnya, saya ingin katakan bahwa, setelah membaca buku ini makin berlipat kecintaan dan kekaguman saya kepada Bunda Khadijah. It’s so inspiring.
Sensasi Seru Bersama Nibiru
Judul buku : Nibiru dan Kesatria Atlantis
Pengarang : Tasaro GK
Tebal : 692 halaman
Tahun terbit : 2010
Penerbit : Tiga Serangkai
Orang mengenal Nibiru sebagai planet yang ditengarai kelak akan menghancurkan bumi, namun dalam novel ini Nibiru adalah raja yang bertahta di Kerajaan Pusat Bumi. Daerah kekuasaannya tidak tersentuh dan tidak bisa ditembus oleh penguasa dari kerajaan manapun. Ia merupakan sosok jahat yang muncul setiap 5013 tahun, mengancam kehidupan dunia.
Tokoh sentral dalam novel ini adalah seorang bocah laki-laki bernama Dhaca Suli. Bersama ketiga sahabatnya: Sothap Bhepami, Nyithal Sadeth, dan Muwu Thedhmamu, melewati masa kanak-kanak yang bergerak cepat. Sebelumnya, hidup mereka dipenuhi kenakalan khas anak-anak, namun tiba-tiba peristiwa demi peristiwa fantastis terjadi, membawa pada perubahan yang mencengangkan. Menghadapi kebenaran ramalan akan semakin dekatnya waktu kehadiran Nibiru, keajaiban-keajaiban bergulir. Disinilah aksi fantasi penuh sensasi, dimulai.
Berawal dari ‘mimpi’ Dhaca yang mendebarkan, tentang pertemuannya dengan makhluk aneh nan mengerikan, yang ternyata merupakan penghubung pada kejadian di masa datang. Selanjutnya, cerita bergerak naik turun, dengan setting tempat sebuah kerajaan bernama Kedhalu. Penghuni Pulau Kedhalu memiliki kekuatan super zaman purbakala, bernama pughaba. Ada delapan pughaba, yang menguasai unsur alam (pughaba nyamal), satwa (pughaba nyegay), ruang dan waktu (pughaba kiyrany), ilmu menghilang (pughaba nyinaw), menyembuhkan luka (pughaba bhelsuny), kekebalan (pughaba pesam), kekuatan raksasa (pughaba sutha), dan pengendalian pikiran atau penyingkap tirai gaib (pughaba wanyis). Untuk mematangkan kemampuan pughaba, terdapat sebuah tempat berlatih, bernama Bhepomany. Semua anak wajib berlatih di sana, termasuk Dhaca. Namun Dhaca selalu ogah-ogahan sehingga tidak naik kelas selama empat tahun. Tidak lagi demikian setelah Dhaca mengetahui tentang Nibiru. Setiap mengingat Nibiru, Dhaca tergerak untuk melatih pughabanya dengan sungguh-sungguh.
Petualangan Dhaca bermula sejak ayahnya diculik oleh Jubah Sihir. Ketika itu, Dhaca baru saja menerima 2 benda pusaka dari ayahnya, yaitu: Pedhib Sakti dan Sabuk Lunez. Sebenarnya Jubah Sihir mengincar Dhaca, namun Dhaca berhasil lolos berkat bantuan ketiga sahabatnya. Sebagai gantinya, Jubah Sihir menculik ayah Dhaca.
Jubah Sihir ditengarai sebagai wujud terselubung Annunaki, sang penyihir jahat. Jika Annunaki sudah muncul, Nibiru tak akan lama lagi menampakkan diri. Dan itu berarti keselamatan Kedhalu terancam. Maka demi melindungi seluruh rakyat, Dhaca pun menjadi tanggung jawab istana dan berada di bawah pengawasan Tuan Luminya, Ketua Dewan Bintang Kelompok Pughaba Nyamal.
Lalu, bagaimana petualangan Dhaca bersama ketiga sahabatnya yang dinisbatkan sebagai ‘empat keparat kecil’ itu setelah peristiwa munculnya Jubah Sihir? Akankah kemudian Jubah Sihir menampakkan diri kembali? Bagaimana pula perkembangan kemampuan pughaba keempat keparat kecil itu di bhepomany? Siapakah sebenarnya Bhupa Supu, seorang yang selama ini memiliki tempat istimewa di hati Dhaca, karena banyak memberinya perhatian dan pengetahuan tentang banyak hal? Apa pula yang dimaksud dengan ‘Persekutuan Raja-raja’ dimana Nibiru adalah salah satu di dalamnya, namun Nibiru memiliki kebencian luar biasa terhadap persekutuan tersebut? Dan, Tergog yang berkuasa di Atlantis, musuh besar Nibiru, sejauhmanakah persiapan rencananya untuk memulai perang besar? Lalu, bagaimana ketegangan yang tercipta saat penyerangan Atlantis terhadap Kedhalu dengan kekuatan adidayanya?
Semuanya terjawab dalam jalinan cerita yang membius. Aneka petualangan memenuhi halaman demi halaman buku ini. Mengalir, mengasyikkan. Dengan bahasa yang ringan dan mudah dicerna, buku ini pas diperuntukkan bagi segala usia. Penggambaran detilnya membuat pembaca bak menyaksikan serunya perjalanan fantasi ini.
Alur cerita kemudian bergerak naik turun, mengaduk emosi. Ada episode-episode yang mengharu biru. Tak kurang pula sentuhan suspense yang mencekam, penuh ketegangan. Suasana humor dan kocak pun turut meningkahi, dengan taburan bumbu-bumbu lucu, menampilkan keriangan petualangan empat keparat kecil ini. Bermunculan pula kejutan-kejutan tak terduga. Konflik diciptakan penulis dengan dinamis, dan pembaca tidak dengan mudah menebak ujung sebuah peristiwa.
Unsur keindonesiaan yang merupakan nafas Tasaro dalam karya-karyanya, tampil dalam setting tempat yang bernama Kedhalu, sebuah negeri antah berantah, yang suasananya asri beraroma alam pedesaan khas nusantara. Indah dan permai.
Unsur lain yang selalu ingin dimunculkan Tasaro, adalah unsur keislaman, pun hadir dalam buku ini. Ada Kuil Perak, yang digambarkan sebagai tempat orang-orang suci dan alim. Yaitu, orang-orang santun yang senantiasa saling mengucap salam. Salam yang berhubungan dengan perlindungan Sang Maha Kuasa, yang maksud ucapannya adalah memohon kepada Sang Maha Kuasa agar orang di hadapannya diberi perlindungan. Menjawabnya dengan benar, bermakna serupa. Ucapan salam itu sendiri adalah Assalaamu’alaikum - Wa’alaikumsalaam, yang dialihbahasakan ke dalam bahasa Kedhalu, menjadi: Nyabhamalunyamanyipul – Ganyamanyipulbhamal. Ada juga penggambaran tentang adab makan yang dijalankan oleh penduduk Thedany, sebuah wilayah di Kedhalu Selatan yang kuat unsur keagamaannya. Mereka makan tak bersuara, tidak sambil berdiri apalagi berjalan. Mereka pun dilarang membuang-buang makanan (adaptasi dari larangan bertindak mubazir). Selain itu, dengan takzim mereka senantiasa menyembah pada sesembahannya, menjaga harmoni alam, dan berperilaku baik terhadap sesama. Tidak hanya itu, masih banyak nuansa keislaman yang tersirat dalam buku ini.
Ide Tasaro menciptakan bahasa Kedhalu, cukup menarik. Mungkin agar bukunya ini lebih ‘sah’ sebagai novel fantasi. Kalaupun ada pro-kontra, saya pikir itu biasa. Beberapa pembaca mengeluhkan kesulitan melafalkan bunyi, namun pembaca lain tetap merasa asik-asik saja. Tapi menurut saya, memang akan lebih seru bila terjemahan kata tersebut tidak langsung ke dalam bahasa Indonesia. Setelah kita tahu kode sandi bahasa Kedhalu, bahasa aneh itu menjadi terang benderang. Entahlah, barangkali Tasaro tidak mau membuat susah pembaca juga.
Ada satu hal yang agak mengganggu, yaitu tentang bhepomany, sebuah tempat berlatih untuk mematangkan kemampuan pughaba. Sebetulnya kita bisa tangkap maknanya seperti sebuah padepokan silat. Namun adanya istilah ‘kelas’ menyiratkan itu benar-benar sebuah sekolah, yang mirip-mirip sekolahnya Harry Potter. Padahal kalau dicitrakan laksana padepokan silat, suasana Indonesia yang selalu ditonjolkan Tasaro dalam karya-karyanya, akan lebih terasa.
Terlepas dari itu, novel ini benar-benar membanggakan. Sebuah karya anak negeri dengan kelas dunia.
Pengarang : Tasaro GK
Tebal : 692 halaman
Tahun terbit : 2010
Penerbit : Tiga Serangkai
Orang mengenal Nibiru sebagai planet yang ditengarai kelak akan menghancurkan bumi, namun dalam novel ini Nibiru adalah raja yang bertahta di Kerajaan Pusat Bumi. Daerah kekuasaannya tidak tersentuh dan tidak bisa ditembus oleh penguasa dari kerajaan manapun. Ia merupakan sosok jahat yang muncul setiap 5013 tahun, mengancam kehidupan dunia.
Tokoh sentral dalam novel ini adalah seorang bocah laki-laki bernama Dhaca Suli. Bersama ketiga sahabatnya: Sothap Bhepami, Nyithal Sadeth, dan Muwu Thedhmamu, melewati masa kanak-kanak yang bergerak cepat. Sebelumnya, hidup mereka dipenuhi kenakalan khas anak-anak, namun tiba-tiba peristiwa demi peristiwa fantastis terjadi, membawa pada perubahan yang mencengangkan. Menghadapi kebenaran ramalan akan semakin dekatnya waktu kehadiran Nibiru, keajaiban-keajaiban bergulir. Disinilah aksi fantasi penuh sensasi, dimulai.
Berawal dari ‘mimpi’ Dhaca yang mendebarkan, tentang pertemuannya dengan makhluk aneh nan mengerikan, yang ternyata merupakan penghubung pada kejadian di masa datang. Selanjutnya, cerita bergerak naik turun, dengan setting tempat sebuah kerajaan bernama Kedhalu. Penghuni Pulau Kedhalu memiliki kekuatan super zaman purbakala, bernama pughaba. Ada delapan pughaba, yang menguasai unsur alam (pughaba nyamal), satwa (pughaba nyegay), ruang dan waktu (pughaba kiyrany), ilmu menghilang (pughaba nyinaw), menyembuhkan luka (pughaba bhelsuny), kekebalan (pughaba pesam), kekuatan raksasa (pughaba sutha), dan pengendalian pikiran atau penyingkap tirai gaib (pughaba wanyis). Untuk mematangkan kemampuan pughaba, terdapat sebuah tempat berlatih, bernama Bhepomany. Semua anak wajib berlatih di sana, termasuk Dhaca. Namun Dhaca selalu ogah-ogahan sehingga tidak naik kelas selama empat tahun. Tidak lagi demikian setelah Dhaca mengetahui tentang Nibiru. Setiap mengingat Nibiru, Dhaca tergerak untuk melatih pughabanya dengan sungguh-sungguh.
Petualangan Dhaca bermula sejak ayahnya diculik oleh Jubah Sihir. Ketika itu, Dhaca baru saja menerima 2 benda pusaka dari ayahnya, yaitu: Pedhib Sakti dan Sabuk Lunez. Sebenarnya Jubah Sihir mengincar Dhaca, namun Dhaca berhasil lolos berkat bantuan ketiga sahabatnya. Sebagai gantinya, Jubah Sihir menculik ayah Dhaca.
Jubah Sihir ditengarai sebagai wujud terselubung Annunaki, sang penyihir jahat. Jika Annunaki sudah muncul, Nibiru tak akan lama lagi menampakkan diri. Dan itu berarti keselamatan Kedhalu terancam. Maka demi melindungi seluruh rakyat, Dhaca pun menjadi tanggung jawab istana dan berada di bawah pengawasan Tuan Luminya, Ketua Dewan Bintang Kelompok Pughaba Nyamal.
Lalu, bagaimana petualangan Dhaca bersama ketiga sahabatnya yang dinisbatkan sebagai ‘empat keparat kecil’ itu setelah peristiwa munculnya Jubah Sihir? Akankah kemudian Jubah Sihir menampakkan diri kembali? Bagaimana pula perkembangan kemampuan pughaba keempat keparat kecil itu di bhepomany? Siapakah sebenarnya Bhupa Supu, seorang yang selama ini memiliki tempat istimewa di hati Dhaca, karena banyak memberinya perhatian dan pengetahuan tentang banyak hal? Apa pula yang dimaksud dengan ‘Persekutuan Raja-raja’ dimana Nibiru adalah salah satu di dalamnya, namun Nibiru memiliki kebencian luar biasa terhadap persekutuan tersebut? Dan, Tergog yang berkuasa di Atlantis, musuh besar Nibiru, sejauhmanakah persiapan rencananya untuk memulai perang besar? Lalu, bagaimana ketegangan yang tercipta saat penyerangan Atlantis terhadap Kedhalu dengan kekuatan adidayanya?
Semuanya terjawab dalam jalinan cerita yang membius. Aneka petualangan memenuhi halaman demi halaman buku ini. Mengalir, mengasyikkan. Dengan bahasa yang ringan dan mudah dicerna, buku ini pas diperuntukkan bagi segala usia. Penggambaran detilnya membuat pembaca bak menyaksikan serunya perjalanan fantasi ini.
Alur cerita kemudian bergerak naik turun, mengaduk emosi. Ada episode-episode yang mengharu biru. Tak kurang pula sentuhan suspense yang mencekam, penuh ketegangan. Suasana humor dan kocak pun turut meningkahi, dengan taburan bumbu-bumbu lucu, menampilkan keriangan petualangan empat keparat kecil ini. Bermunculan pula kejutan-kejutan tak terduga. Konflik diciptakan penulis dengan dinamis, dan pembaca tidak dengan mudah menebak ujung sebuah peristiwa.
Unsur keindonesiaan yang merupakan nafas Tasaro dalam karya-karyanya, tampil dalam setting tempat yang bernama Kedhalu, sebuah negeri antah berantah, yang suasananya asri beraroma alam pedesaan khas nusantara. Indah dan permai.
Unsur lain yang selalu ingin dimunculkan Tasaro, adalah unsur keislaman, pun hadir dalam buku ini. Ada Kuil Perak, yang digambarkan sebagai tempat orang-orang suci dan alim. Yaitu, orang-orang santun yang senantiasa saling mengucap salam. Salam yang berhubungan dengan perlindungan Sang Maha Kuasa, yang maksud ucapannya adalah memohon kepada Sang Maha Kuasa agar orang di hadapannya diberi perlindungan. Menjawabnya dengan benar, bermakna serupa. Ucapan salam itu sendiri adalah Assalaamu’alaikum - Wa’alaikumsalaam, yang dialihbahasakan ke dalam bahasa Kedhalu, menjadi: Nyabhamalunyamanyipul – Ganyamanyipulbhamal. Ada juga penggambaran tentang adab makan yang dijalankan oleh penduduk Thedany, sebuah wilayah di Kedhalu Selatan yang kuat unsur keagamaannya. Mereka makan tak bersuara, tidak sambil berdiri apalagi berjalan. Mereka pun dilarang membuang-buang makanan (adaptasi dari larangan bertindak mubazir). Selain itu, dengan takzim mereka senantiasa menyembah pada sesembahannya, menjaga harmoni alam, dan berperilaku baik terhadap sesama. Tidak hanya itu, masih banyak nuansa keislaman yang tersirat dalam buku ini.
Ide Tasaro menciptakan bahasa Kedhalu, cukup menarik. Mungkin agar bukunya ini lebih ‘sah’ sebagai novel fantasi. Kalaupun ada pro-kontra, saya pikir itu biasa. Beberapa pembaca mengeluhkan kesulitan melafalkan bunyi, namun pembaca lain tetap merasa asik-asik saja. Tapi menurut saya, memang akan lebih seru bila terjemahan kata tersebut tidak langsung ke dalam bahasa Indonesia. Setelah kita tahu kode sandi bahasa Kedhalu, bahasa aneh itu menjadi terang benderang. Entahlah, barangkali Tasaro tidak mau membuat susah pembaca juga.
Ada satu hal yang agak mengganggu, yaitu tentang bhepomany, sebuah tempat berlatih untuk mematangkan kemampuan pughaba. Sebetulnya kita bisa tangkap maknanya seperti sebuah padepokan silat. Namun adanya istilah ‘kelas’ menyiratkan itu benar-benar sebuah sekolah, yang mirip-mirip sekolahnya Harry Potter. Padahal kalau dicitrakan laksana padepokan silat, suasana Indonesia yang selalu ditonjolkan Tasaro dalam karya-karyanya, akan lebih terasa.
Terlepas dari itu, novel ini benar-benar membanggakan. Sebuah karya anak negeri dengan kelas dunia.
The Muhammad SAW Effect
Judul : The Muhammad SAW Effect
Penulis : Bambang Trim
Penerbit : Tinta Medina - creative imprint of Tiga Serangkai
Cetak I : 2011
Tebal : 166 halaman
ISBN : 979-602-98552-9-6
Belum pernah saya temui sebelumnya kata ‘efek Rasulullah’, sampai kemudian saya melihat sebuah buku berjudul “The Muhammad Effect”. Hmm.. menarik, dan saya pun membelinya.
Adalah Bambang Trim, penulis buku ini, memaparkan keluhuran pribadi Rasulullah dengan sederet prestasinya dalam membangun peradaban. Pengaruh Muhammad SAW telah melahirkan cakrawala baru dalam kegemilangan Islam. Semangat kebaikannya menginspirasi sejumlah kisah sejarah yang beraroma kebangkitan positif. Semua kesuksesan itu terwujud karena sebuah efek dahsyat yang disebut penulis sebagai Efek Muhammad SAW.
Seperti apa Efek Muhammad SAW itu bekerja, diuraikan gamblang dengan bahasa yang mudah dipahami, tanpa istilah-istilah yang ruwet atau multitafsir. Keteladanan akhlak mulia, semangat juang, daya tahan, mukjizat dan intuisi Rasulullah merupakan magnet yang memiliki daya tarik kuat bagi seseorang untuk senantiasa meningkatkan kualitas diri.
Buku ini mengajak pembaca untuk merenungkan kembali teori-teori pengembangan diri yang diusung oleh penganut The New Age Movement. Penulis merasakan kegelisahan spiritual ketika banyak buku membahas sesuatu berpusat pada keunggulan manusia. Karena itu pembaca diajak untuk menyadari bahwa pengembangan diri dan motivasi sejati hanya terdapat pada teladan terbaik sepanjang masa, Muhammad SAW.
Kegelisahan penulis semakin memuncak setelah membaca buku “The Secret” dan “The Power” karya Rhonda Byrne, juga buku “Law of Attraction” karya Michael J. Losier. Tiga buku International Best Seller ini diagungkan oleh sebagian besar manusia sejagat. Di dalamnya mengungkap sebuah pemikiran dalam bingkai New Age Movement, yang menyakini bahwa pusat kendali segala sesuatu adalah diri sendiri, bukan Tuhan. “Jika Anda berpikir bisa, Anda pun pasti bisa!” begitu jargonnya. Dari situ bermula kekaguman Byrne terhadap hukum tarik menarik (law of attraction) ini. Semesta akan mendukung jika seseorang akan memikirkan sesuatu yang baik dan positif dalam setiap gerak hidupnya. Lalu, Michael J.Losier pun mendefinisikan hukum ketertarikan ini dengan makna: “Segala sesuatu yang saya pikirkan dengan segenap perhatian, energi, dan konsentrasi pikiran saya, baik hal yang positif maupun negatif, akan datang dalam kehidupan saya.” (hlmn 22)
Semua menjadi terang benderang, ketika penulis demikian rinci menguraikan penyimpangan-penyimpangan dalam LoA yang secara samar seolah selaras dengan hukum Islam. “Hukum Tarik Menarik vs Efek Muhammad” terungkap jelas dalam tabel pada hlmn 109-110. Dikuatkan dengan banyak firman Allah dan beberapa hadits qudsi, membuat kita tercerahkan dan meyakini bahwa metode pengembangan diri yang didengungkan para pengusung New Age Movement ini sungguh dangkal. Pijakan sesungguhnya dari pengembangan diri adalah dengan bercermin pada uswatun hasanah, Nabi Muhammad SAW. Sedangkan rahasia hidup, hukum tarik menarik, dan dukungan semesta adalah kuasa Allah.
Semoga Anda tercerahkan pula, dan merasakan getaran dahsyat efek Muhammad SAW kala membaca buku ini. Aamiin.
Penulis : Bambang Trim
Penerbit : Tinta Medina - creative imprint of Tiga Serangkai
Cetak I : 2011
Tebal : 166 halaman
ISBN : 979-602-98552-9-6
Belum pernah saya temui sebelumnya kata ‘efek Rasulullah’, sampai kemudian saya melihat sebuah buku berjudul “The Muhammad Effect”. Hmm.. menarik, dan saya pun membelinya.
Adalah Bambang Trim, penulis buku ini, memaparkan keluhuran pribadi Rasulullah dengan sederet prestasinya dalam membangun peradaban. Pengaruh Muhammad SAW telah melahirkan cakrawala baru dalam kegemilangan Islam. Semangat kebaikannya menginspirasi sejumlah kisah sejarah yang beraroma kebangkitan positif. Semua kesuksesan itu terwujud karena sebuah efek dahsyat yang disebut penulis sebagai Efek Muhammad SAW.
Seperti apa Efek Muhammad SAW itu bekerja, diuraikan gamblang dengan bahasa yang mudah dipahami, tanpa istilah-istilah yang ruwet atau multitafsir. Keteladanan akhlak mulia, semangat juang, daya tahan, mukjizat dan intuisi Rasulullah merupakan magnet yang memiliki daya tarik kuat bagi seseorang untuk senantiasa meningkatkan kualitas diri.
Buku ini mengajak pembaca untuk merenungkan kembali teori-teori pengembangan diri yang diusung oleh penganut The New Age Movement. Penulis merasakan kegelisahan spiritual ketika banyak buku membahas sesuatu berpusat pada keunggulan manusia. Karena itu pembaca diajak untuk menyadari bahwa pengembangan diri dan motivasi sejati hanya terdapat pada teladan terbaik sepanjang masa, Muhammad SAW.
Kegelisahan penulis semakin memuncak setelah membaca buku “The Secret” dan “The Power” karya Rhonda Byrne, juga buku “Law of Attraction” karya Michael J. Losier. Tiga buku International Best Seller ini diagungkan oleh sebagian besar manusia sejagat. Di dalamnya mengungkap sebuah pemikiran dalam bingkai New Age Movement, yang menyakini bahwa pusat kendali segala sesuatu adalah diri sendiri, bukan Tuhan. “Jika Anda berpikir bisa, Anda pun pasti bisa!” begitu jargonnya. Dari situ bermula kekaguman Byrne terhadap hukum tarik menarik (law of attraction) ini. Semesta akan mendukung jika seseorang akan memikirkan sesuatu yang baik dan positif dalam setiap gerak hidupnya. Lalu, Michael J.Losier pun mendefinisikan hukum ketertarikan ini dengan makna: “Segala sesuatu yang saya pikirkan dengan segenap perhatian, energi, dan konsentrasi pikiran saya, baik hal yang positif maupun negatif, akan datang dalam kehidupan saya.” (hlmn 22)
Semua menjadi terang benderang, ketika penulis demikian rinci menguraikan penyimpangan-penyimpangan dalam LoA yang secara samar seolah selaras dengan hukum Islam. “Hukum Tarik Menarik vs Efek Muhammad” terungkap jelas dalam tabel pada hlmn 109-110. Dikuatkan dengan banyak firman Allah dan beberapa hadits qudsi, membuat kita tercerahkan dan meyakini bahwa metode pengembangan diri yang didengungkan para pengusung New Age Movement ini sungguh dangkal. Pijakan sesungguhnya dari pengembangan diri adalah dengan bercermin pada uswatun hasanah, Nabi Muhammad SAW. Sedangkan rahasia hidup, hukum tarik menarik, dan dukungan semesta adalah kuasa Allah.
Semoga Anda tercerahkan pula, dan merasakan getaran dahsyat efek Muhammad SAW kala membaca buku ini. Aamiin.
Jurus Mendulang Ide
Judul : The Art of Stimulating Idea
Penulis : Bambang Trim
Penerbit : Metagraf - creative imprint of Tiga Serangkai
Tebal : 198 halaman
Cetak I : 2011
ISBN : 978-602-9212-25-9
Ide, bagi penulis adalah bahan mentah yang butuh pematangan agar menghasilkan karya yang indah sekaligus bermanfaat. Proses pematangan itulah yang menentukan kualitas karya yang dihasilkan. Namun untuk memercikkan ide di kepala, bukan perkara mudah. Adakalanya penulis mengalami kebuntuan ide. Lalu, bagaimana memecahkan masalah demikian?
Buku “The Art of Stimulating Idea” karya Bambang Trim mengupas tuntas seluk beluk ide. Bagaimana memunculkan ide-ide segar nan brilian, mengeksekusinya, serta menerbitkannya.
Berbagai aktivitas yang mudah dilakukan untuk menstimulasi ide, dijelaskan gamblang. Menurut Bambang Trim, Tuhan menebar begitu banyak ide di semesta ini, lewat fenomena atau kejadian, pengalaman, maupun pemikiran manusia. Segala sesuatu yang diamati, didengar, dirasakan dengan kulit atau lidah, dibau, ataupun dipikirkan bisa menjadi gagasan hebat untuk menulis.
Setelah ide didapat, ia harus diikat dan diendapkan. Lalu bagaimana proses eksekusi ide dilakukan, dijelaskan lewat langkah-langkah yang mudah dipahami. Beberapa pertimbangan tentang minat, bahan tulisan, dan target pembaca yang akan dibidik, dipaparkan juga dalam bentuk format tabel yang praktis. Contoh outline ditampilkan pada penjelasan tentang menyusun kerangka ide.
Antisipasi penjiplakan ide, adalah salah satu hal yang penting dicermati, yang diuraikan dalam buku ini. Sesuatu yang masih dalam bentuk ide tidaklah dilindungi oleh undang-undang hak cipta. Maka kita dapat menemukan di toko buku, berderet buku dengan tema sama, misal: buku tentang keajaiban shalat subuh. Begitu pula buku-buku parenting banyak yang membahas hal yang serupa.
Selain jurus mendulang ide, dibahas pula jurus-jurus insaf bagi penulis. Diantaranya: Insaflah untuk segera menulis, Insaflah untuk tidak memaksakan diri menjadi orang lain, Insaflah untuk melakukan benchmarking.
Masih banyak rahasia terselubung tentang ide yang dibongkar dalam buku ini. Dengan gaya bahasa ringan, jauh dari kesan njelimet, buku ini sangat layak direkomendasikan untuk dimiliki dan dibaca oleh para penulis. Sebagai komporis buku, Bambang Trim menyebarkan api semangat kepada para penulis agar mampu melahirkan buku bermutu. Bahkan beliau berbaik hati menyuguhkan 101 item ide penulisan dari berbagai topik. Setiap item bukan hanya sebaris kalimat, namun disertai uraian maksud ide tersebut.
Jadi, tunggu apa lagi..? Segera temukan ide dan tuliskan!
Penulis : Bambang Trim
Penerbit : Metagraf - creative imprint of Tiga Serangkai
Tebal : 198 halaman
Cetak I : 2011
ISBN : 978-602-9212-25-9
Ide, bagi penulis adalah bahan mentah yang butuh pematangan agar menghasilkan karya yang indah sekaligus bermanfaat. Proses pematangan itulah yang menentukan kualitas karya yang dihasilkan. Namun untuk memercikkan ide di kepala, bukan perkara mudah. Adakalanya penulis mengalami kebuntuan ide. Lalu, bagaimana memecahkan masalah demikian?
Buku “The Art of Stimulating Idea” karya Bambang Trim mengupas tuntas seluk beluk ide. Bagaimana memunculkan ide-ide segar nan brilian, mengeksekusinya, serta menerbitkannya.
Berbagai aktivitas yang mudah dilakukan untuk menstimulasi ide, dijelaskan gamblang. Menurut Bambang Trim, Tuhan menebar begitu banyak ide di semesta ini, lewat fenomena atau kejadian, pengalaman, maupun pemikiran manusia. Segala sesuatu yang diamati, didengar, dirasakan dengan kulit atau lidah, dibau, ataupun dipikirkan bisa menjadi gagasan hebat untuk menulis.
Setelah ide didapat, ia harus diikat dan diendapkan. Lalu bagaimana proses eksekusi ide dilakukan, dijelaskan lewat langkah-langkah yang mudah dipahami. Beberapa pertimbangan tentang minat, bahan tulisan, dan target pembaca yang akan dibidik, dipaparkan juga dalam bentuk format tabel yang praktis. Contoh outline ditampilkan pada penjelasan tentang menyusun kerangka ide.
Antisipasi penjiplakan ide, adalah salah satu hal yang penting dicermati, yang diuraikan dalam buku ini. Sesuatu yang masih dalam bentuk ide tidaklah dilindungi oleh undang-undang hak cipta. Maka kita dapat menemukan di toko buku, berderet buku dengan tema sama, misal: buku tentang keajaiban shalat subuh. Begitu pula buku-buku parenting banyak yang membahas hal yang serupa.
Selain jurus mendulang ide, dibahas pula jurus-jurus insaf bagi penulis. Diantaranya: Insaflah untuk segera menulis, Insaflah untuk tidak memaksakan diri menjadi orang lain, Insaflah untuk melakukan benchmarking.
Masih banyak rahasia terselubung tentang ide yang dibongkar dalam buku ini. Dengan gaya bahasa ringan, jauh dari kesan njelimet, buku ini sangat layak direkomendasikan untuk dimiliki dan dibaca oleh para penulis. Sebagai komporis buku, Bambang Trim menyebarkan api semangat kepada para penulis agar mampu melahirkan buku bermutu. Bahkan beliau berbaik hati menyuguhkan 101 item ide penulisan dari berbagai topik. Setiap item bukan hanya sebaris kalimat, namun disertai uraian maksud ide tersebut.
Jadi, tunggu apa lagi..? Segera temukan ide dan tuliskan!
Tentang Cinta Dua Kutub
Judul : Jean Sofia
Penulis : Leyla Hana
Penerbit : Laksana - Diva Press
Tebal : 413 halaman
Cetak I : September 2011
ISBN : 978-602-978-714-6
Cinta. Ia hadir bagai air. Menyejukkan dan menenangkan. Namun ia bisa datang dengan gemuruh yang riuh. Bagai ombak di laut lepas. Meski di kala lain ia damai bak danau hijau nan memukau.
Siapapun tak ada yang tahu kapan akan dijatuhi cinta. Tiba-tiba ia bisa menimpa tak terduga. Kepada orang yang kadang tak dinyana sebelumnya. Begitu pula yang dialami kedua tokoh dalam novel “Jean Sofia” karya Leyla Imtichanah.
Jean Adrianus Sofia, lelaki berparas tampan dengan hidung mancung bertengger proposional di wajahnya yang putih bersih. Dalam tegap badannya dengan tinggi menjulang sekitar seratus sembuluh centi, darah Tionghoa-Perancis mengalir di dirinya. Ia mahasiswa ekonomi, yang tentu saja memiliki penggemar dari berbagai fakultas.
Sedangkan Sofia, bernama lengkap Sofia Zulaikha, gadis manis berdarah Jawa-Sunda. Ibunya asli Wonogiri, dan ayahnya asli Tasikmalaya. Tampak anggun dan menawan dalam balutan busana muslimah. Ia pun menuntut ilmu di fakultas ekonomi.
Dalam kesempatan kuliah bersama, Jean dan Sofia kerap bertemu. Tak ada yang spesial. Semua berjalan biasa. Namun seiring detik-detik yang berguguran, benih-benih cinta tumbuh di hati kedua insan yang tampak tak pernah bertegur sapa itu.
Mahasiswa ganteng dan mahasiswi cantik saling menaruh hati, apa istimewanya? Tunggu dulu, kawan.. ini kisah yang luar biasa. Sofia dengan atribut muslimah dan latar keluarganya yang sangat Islam berhadapan dengan Jean yang katolik, bahkan adik dari seorang biarawati. Di sinilah penulis meramu konflik dengan apik.
Apakah beda keyakinan mampu membelah cinta? Sanggupkah mereka terus membentengi hati dan menolak cinta dengan kuat? Bilapun masing-masing dari mereka menempuh jalannya sendiri dan menikah dengan pasangan yang seiman, bagaimana bisa mereka menepis keraguan akan keutuhan cintanya?
Leyla Imtichanah, sang penulis dengan deretan karya dan prestasi, menyajikan kisah cinta dua kubu yang bertolak belak belakang ini dengan gayanya yang ringan dan mengena di hati. Tuturannya lembut dan mengandung hikmah yang dalam. Juga sarat dengan nilai spiritual.
Setting kehidupan kampus dan dinamikanya cukup menarik. Lika-liku anak kost serta kegiatan kampus yang khas mewarnai kisah ini. Dialog-dialog antar mahasiswa nampak natural.
Berbicara kekurangan dalam buku ini, tidak banyak. Soal setting waktu, ada baiknya disebutkan tahun berapa. Pembaca nampaknya terbelalak dengan harga murah seporsi makan siang yang masih di bawah lima ribu rupiah. Demikian juga ketika Jean membeli mobil mewah seharga ‘hanya’ tiga ratus juta rupiah. Beberapa adegan juga terasa kurang logis. Ayah Sofia yang sangat kuat memegang nilai-nilai Islam, namun begitu berang menghadapi kemelut rumahtangga anaknya hingga menyuruh bercerai. Pun, saat Sofia bersembunyi di Subang lalu menjalani hidup prihatin. Darimana ia beroleh uang untuk membeli pakaian, sedangkan di awal dikatakan ia hanya membawa pakaian yang melekat di badan saja. Dan hal lain yang terkait adegan kemiskinan ini terasa dipaksakan.
Anyway, meski tidak bertaburan kata-kata puitis, novel ini layak dibaca dan akan menyisakan perenungan tentang hakikat cinta dan kepasrahan kepada Allah, Penggenggam Jiwa. Di dalamnya menggambarkan pergulatan batin dari pencarian jati diri muslim sejati. Dan betapa cinta, seharusnya hanya ditujukan bagi seorang yang cinta kepadaNya. Sehingga jalinan cinta terikat erat dalam cinta kepadaNya, selalu dan selamanya.
Penulis : Leyla Hana
Penerbit : Laksana - Diva Press
Tebal : 413 halaman
Cetak I : September 2011
ISBN : 978-602-978-714-6
Cinta. Ia hadir bagai air. Menyejukkan dan menenangkan. Namun ia bisa datang dengan gemuruh yang riuh. Bagai ombak di laut lepas. Meski di kala lain ia damai bak danau hijau nan memukau.
Siapapun tak ada yang tahu kapan akan dijatuhi cinta. Tiba-tiba ia bisa menimpa tak terduga. Kepada orang yang kadang tak dinyana sebelumnya. Begitu pula yang dialami kedua tokoh dalam novel “Jean Sofia” karya Leyla Imtichanah.
Jean Adrianus Sofia, lelaki berparas tampan dengan hidung mancung bertengger proposional di wajahnya yang putih bersih. Dalam tegap badannya dengan tinggi menjulang sekitar seratus sembuluh centi, darah Tionghoa-Perancis mengalir di dirinya. Ia mahasiswa ekonomi, yang tentu saja memiliki penggemar dari berbagai fakultas.
Sedangkan Sofia, bernama lengkap Sofia Zulaikha, gadis manis berdarah Jawa-Sunda. Ibunya asli Wonogiri, dan ayahnya asli Tasikmalaya. Tampak anggun dan menawan dalam balutan busana muslimah. Ia pun menuntut ilmu di fakultas ekonomi.
Dalam kesempatan kuliah bersama, Jean dan Sofia kerap bertemu. Tak ada yang spesial. Semua berjalan biasa. Namun seiring detik-detik yang berguguran, benih-benih cinta tumbuh di hati kedua insan yang tampak tak pernah bertegur sapa itu.
Mahasiswa ganteng dan mahasiswi cantik saling menaruh hati, apa istimewanya? Tunggu dulu, kawan.. ini kisah yang luar biasa. Sofia dengan atribut muslimah dan latar keluarganya yang sangat Islam berhadapan dengan Jean yang katolik, bahkan adik dari seorang biarawati. Di sinilah penulis meramu konflik dengan apik.
Apakah beda keyakinan mampu membelah cinta? Sanggupkah mereka terus membentengi hati dan menolak cinta dengan kuat? Bilapun masing-masing dari mereka menempuh jalannya sendiri dan menikah dengan pasangan yang seiman, bagaimana bisa mereka menepis keraguan akan keutuhan cintanya?
Leyla Imtichanah, sang penulis dengan deretan karya dan prestasi, menyajikan kisah cinta dua kubu yang bertolak belak belakang ini dengan gayanya yang ringan dan mengena di hati. Tuturannya lembut dan mengandung hikmah yang dalam. Juga sarat dengan nilai spiritual.
Setting kehidupan kampus dan dinamikanya cukup menarik. Lika-liku anak kost serta kegiatan kampus yang khas mewarnai kisah ini. Dialog-dialog antar mahasiswa nampak natural.
Berbicara kekurangan dalam buku ini, tidak banyak. Soal setting waktu, ada baiknya disebutkan tahun berapa. Pembaca nampaknya terbelalak dengan harga murah seporsi makan siang yang masih di bawah lima ribu rupiah. Demikian juga ketika Jean membeli mobil mewah seharga ‘hanya’ tiga ratus juta rupiah. Beberapa adegan juga terasa kurang logis. Ayah Sofia yang sangat kuat memegang nilai-nilai Islam, namun begitu berang menghadapi kemelut rumahtangga anaknya hingga menyuruh bercerai. Pun, saat Sofia bersembunyi di Subang lalu menjalani hidup prihatin. Darimana ia beroleh uang untuk membeli pakaian, sedangkan di awal dikatakan ia hanya membawa pakaian yang melekat di badan saja. Dan hal lain yang terkait adegan kemiskinan ini terasa dipaksakan.
Anyway, meski tidak bertaburan kata-kata puitis, novel ini layak dibaca dan akan menyisakan perenungan tentang hakikat cinta dan kepasrahan kepada Allah, Penggenggam Jiwa. Di dalamnya menggambarkan pergulatan batin dari pencarian jati diri muslim sejati. Dan betapa cinta, seharusnya hanya ditujukan bagi seorang yang cinta kepadaNya. Sehingga jalinan cinta terikat erat dalam cinta kepadaNya, selalu dan selamanya.
Langganan:
Postingan (Atom)






