Siapa tidak mengenal Ust.Yusuf Mansur? Ustadz muda bertampang imut yang terkenal dengan ajakan untuk bersedekah. Beliau dengan gencar memotivasi jama'ah agar gemar menyisihkan rezekinya di jalan Allah, entah untuk fakir miskin, anak yatim, sekolah-sekolah, dsb.
Konon bila mengikuti tabligh akbar beliau, maka jama'ah akan diminta untuk bersedekah secara spontan. Bahkan sampai ada yang berseloroh bahwa jama'ah "dipalak" karena perhiasan yang sedang dikenakan pun diminta keikhlasannya untuk dilepaskan dan diserahkan sebagai sedekah. Tapi belum lama ini saya melihat ceramah umum beliau yang ditayangkan live di televisi, Ust.Yusuf Mansur ketika meminta jama'ah yang hadir untuk bersedekah, beliau berkata, "Jangan takut, ga usah buka kalung, ga usah copot cincin, ga usah lepas jam tangan, tapi cukup satu persen dari jumlah total tabungan pribadi Anda!"
Materi ceramah Ust.Yusuf Mansur yang paling mengemuka yaitu tentang "The Power of Giving alias Kekuatan Bersedekah". Beliau tidak jarang menghadirkan contoh-contoh kesaksian dari para pelaku sedekah yang memperoleh begitu banyak keajaiban positif setelah mereka menyedekahkan hartanya. Allah menggantikan harta yang dikeluarkannya itu dari jalan yang tidak disangka-sangka. Juga mengabulkan kehendak yang diidam-idamkan secara tidak terduga. Subhanallah..
Awalnya saya tidak terlalu tertarik dengan jargon sedekah dari beliau. Beberapa testimoni tentang "The Miracle of Sedekah" hanya saya kagumi saja, tapi tidak terlalu menembus ke dalam hati. Kerap muncul keberatan-keberatan saat saya akan bersedekah. Timbul pertimbangan-pertimbangan yang semakin menguatkan alasan untuk menunda atau mengurangi nominal sedekah. Astaghfirullah.. betapa syetan berjibaku menghalangi manusia dari segala amal baik.
Ketika beberapa waktu lalu, saya mulai intens mengikuti kajian "Wisata Hati" bersama Ust.Yusuf Mansur, saya mulai merasakan kata-katanya merasuk ke dalam kalbu. Menyadarkan saya. Mencerahkan. Membukakan matahati. Betapa kita harus yakin dengan sepenuh-penuhnya yakin akan kekuasaan Allah.
Seringkali orang meragukan 'resep' beliau tentang bersedekah. Beberapa statement yang muncul, semisal: "Kok sedekah pake pamrih?" "Mau usaha kok malah harus sedekah, kan harusnya dipake ikhtiar untuk modal?" "Kok sama Allah main hitung-hitungan?" dsb
Menurut Ust.Yusuf Mansur, tidak apa-apa toh minta pamrih sama Allah? Daripada sama orang, kan lebih baik minta ke Allah saja. Sedangkan tentang ikhtiar, bukankah berdoa dan bersedekah itu merupakan sebuah aksi, sebuah ikhtiar? Dijalani saja dulu dengan penuh keyakinan. Kalau sudah muncul kata 'kok'.. itu tandanya sudah meragukan.
Singkat cerita, saya pun tergerak untuk menyemangati diri bersedekah meski sedang tidak dalam kondisi lapang. Ketika timbul niat untuk memberikan sedekah rutin sebesar 50 ribu rupiah kepada anak yatim tetangga saya, maka saya kukuhkan betul niat itu meski rasanya jumlah itu entah akan ada atau tidak dalam setiap bulannya. Bahkan untuk bulan berjalan pun, saya masih belum ada bayangan dari mana uang 50 ribu tersebut. Tak lama setelah memantapkan niat, tiba-tiba terdengar salam dari luar. Rupanya seorang kawan datang berkunjung. Ia memberikan oleh-oleh makanan untuk anak-anak kemudian diselipkannya pula amplop di tangan saya. Saat ia pulang, saya lihat isi amplop tersebut.. ada uang 50 ribu di sana. Subhanallah.. ternyata Allah telah memberikan jalan agar saya bisa bersedekah untuk anak yatim tetangga saya itu.
Pengalaman lain adalah saat kakak saya bercerita tentang masjid di kampung kami yang perlu dana untuk perbaikan beberapa bagian yang rusak. Pengurus masjid menyediakan kupon infak untuk donatur yang berminat. Ada yang 100 ribu, 500 ribu, 1 juta, dsb. Seorang tetangga yang belum kunjung punya keturunan, disarankan ibunya untuk berinfak di sana, dengan harapan akan dikabulkan doanya yang ingin memiliki buah hati. Saya pun merasa terinspirasi. Ya betul, berinfak sambil menyebutkan dengan jelas apa keinginan kita.
Dalam kondisi tidak lapang, saya pikir berinfak 500 ribu sudah sangat luar biasa. Benar-benar langkah berani menurut saya yang masih lemah iman ini. Saya pun bertanya pada kakak saya, siapa pengurus masjid yang menjadi PJ pengadaan kupon infak. Saya berniat infak dengan permohonan khusus ingin punya laptop.
Ketika kakak saya masih belum sempat menghubungi pengurus masjid, saya yang pada saat itu bersayonara pada sekolah yang telah lama menjadi tempat mengabdi, kemudian saya mendapat hadiah kenang-kenangan dari sekolah. Apakah hadiahnya? Sebuah laptop, sodara-sodara!
See, baru niat saja, sudah demikian istimewanya jawaban dari Allah. Subhanallah..
Ok, sobat.. semoga menginspirasi.. dan tidak lagi meragukan Ust.Yusuf Mansur.. :)
Minggu, 27 Januari 2013
Jumat, 25 Januari 2013
KASIHAN...
Apa yang terbersit dalam pikiranmu saat mendengar kata "kasihan"? Tentu sebuah kondisi yang menyedihkan, mengharukan, mengenaskan, dan sebangsanya, iya kan? Semisal melihat korban bencana banjir, anak-anak putus sekolah, keluarga yang terhimpit kemiskinan akut, maka secara spontan akan terbit rasa kasihan. Kasihan pada nasib malang yang menimpa orang-orang itu.
Dulu, aku melihat orang-orang malang itu dari berita di televisi atau gambar-gambar di majalah dan koran. Sangat jarang bahkan rasanya tidak pernah aku berinteraksi langsung dengan mereka. Kalaupun berteman dengan yang miskin, tapi nggak miskin-miskin banget.
Saat pertama kali mengalami banjir, aku benar-benar tercengang. Seumur hidup tidak pernah mengalami, tiba-tiba saat itu malam hari, aku pulang kerja, turun dari bis kota, aku mendapati jalan menuju rumah kostku di Jln.Dr.Susilo (kawasan Grogol) sudah terkepung banjir setinggi paha. Glek! Aku jadi teringat pada orang-orang yang sepanjang tahun mengalami banjir rutin.. duh, kasihan.. pikirku..
Lalu, saat aku tinggal di ibukota, ketika itulah aku baru benar-benar melihat dari dekat kehidupan anak-anak putus sekolah. Mereka luntang-lantung, mengemis, ngamen, nyopet, jadi kuli angkut, dan rupa-rupa aktivitas yang sebelumnya hanya kulihat dari berita televisi atau tulisan di media. Lagi-lagi aku merasa kasihan, hingga pipi membasah tak tertahankan.
Kukira, engkau pun pasti pernah mengalami merasa kasihan seperti itu. Hatimu iba melihat penderitaan orang lain. Ah, betapa naas nasib mereka. Pikirmu begitu, bukan?
Tapi, pernahkah kemudian engkau mengalami, justru engkaulah yang dikasihani orang? Mereka menatapmu penuh iba. Mereka membincangkanmu dengan penuh getir, merasa pilu dengan nasib yang kau derita..
Kini aku mengalaminya. Rasanya.. sungguh tidak enak, kawan. Entahlah, bukan berarti aku tidak bersyukur. Tapi ada sisi lain dari hatiku yang merasa tidak menerima perlakuan tersebut. Mungkin batinku menolak, yang pada dasarnya adalah menolak 'derita' yang aku alami tiba-tiba. Kukira itu manusiawi, bukan?
Tiba-tiba hidupku kekurangan secara finansial. Tiba-tiba aku harus terbiasa disumbang orang. Apakah kau pernah membayangkan suatu ketika dalam hidupmu, orang-orang memberi sumbangan kepadamu? Awalnya aku gagap. Bagaimana mungkin, orang-orang yang hidupnya sederhana, tiba-tiba memberi uang 50 ribu agar aku dan anak-anak bisa tetap makan? Atau tiba-tiba anakku sepulang sekolah membawa seporsi baso dalam plastik, karena dijajanin orang. Atau anakku yang semula mau membeli gorengan 2 potong saja, tiba-tiba ada yang membelikan sebungkus nasi uduk komplit. Dan semacam itu lah.
Orang bilang, hidup itu bak roda yang berputar. Dan kini putaran rodaku bergerak menurun ke bawah. Entah, sebatas bawah mana nantinya. Kukira itu akan sangat bergantung dari penerimaanku saat ini. Ya, putaran ke bawah ini banyak mengajariku. Betapa tak ada yang kekal di dunia ini. Hanya Allah jua-lah yang Maha Kuasa.
Lalu bagaimana penerimaanku saat ini? Aku menamainya proses penerimaan. Karena tidak serta merta aku menerima segala perubahan ini dengan sepenuhnya. Semua melalui proses. Aku belajar bersyukur. Aku belajar berbahagia dalam kesempitan.
Sungguh, segala bantuan dan dukungan, baik berupa sumbangan dana maupun dorongan semangat dan doa, semuanya amat sangat berarti. Betapa Allah menolongku melalui tangan-tangan mulia dari hati tulus teman-teman dan saudaraku. Subhanallah..
Kini, aku masih terus menata hati. Proses menuju hati ikhlas membutuhkan keteguhan niat. Menumbuhkan semangat yang senantiasa berkobar, pun butuh perjuangan. Karena hidup ini memerlukan sinergi hati, pikir, dan aksi. Bismillah.. dimana pun posisi roda berputar, Allah pasti bersama kita, selama kita meyakininya..
Dulu, aku melihat orang-orang malang itu dari berita di televisi atau gambar-gambar di majalah dan koran. Sangat jarang bahkan rasanya tidak pernah aku berinteraksi langsung dengan mereka. Kalaupun berteman dengan yang miskin, tapi nggak miskin-miskin banget.
Saat pertama kali mengalami banjir, aku benar-benar tercengang. Seumur hidup tidak pernah mengalami, tiba-tiba saat itu malam hari, aku pulang kerja, turun dari bis kota, aku mendapati jalan menuju rumah kostku di Jln.Dr.Susilo (kawasan Grogol) sudah terkepung banjir setinggi paha. Glek! Aku jadi teringat pada orang-orang yang sepanjang tahun mengalami banjir rutin.. duh, kasihan.. pikirku..
Lalu, saat aku tinggal di ibukota, ketika itulah aku baru benar-benar melihat dari dekat kehidupan anak-anak putus sekolah. Mereka luntang-lantung, mengemis, ngamen, nyopet, jadi kuli angkut, dan rupa-rupa aktivitas yang sebelumnya hanya kulihat dari berita televisi atau tulisan di media. Lagi-lagi aku merasa kasihan, hingga pipi membasah tak tertahankan.
Kukira, engkau pun pasti pernah mengalami merasa kasihan seperti itu. Hatimu iba melihat penderitaan orang lain. Ah, betapa naas nasib mereka. Pikirmu begitu, bukan?
Tapi, pernahkah kemudian engkau mengalami, justru engkaulah yang dikasihani orang? Mereka menatapmu penuh iba. Mereka membincangkanmu dengan penuh getir, merasa pilu dengan nasib yang kau derita..
Kini aku mengalaminya. Rasanya.. sungguh tidak enak, kawan. Entahlah, bukan berarti aku tidak bersyukur. Tapi ada sisi lain dari hatiku yang merasa tidak menerima perlakuan tersebut. Mungkin batinku menolak, yang pada dasarnya adalah menolak 'derita' yang aku alami tiba-tiba. Kukira itu manusiawi, bukan?
Tiba-tiba hidupku kekurangan secara finansial. Tiba-tiba aku harus terbiasa disumbang orang. Apakah kau pernah membayangkan suatu ketika dalam hidupmu, orang-orang memberi sumbangan kepadamu? Awalnya aku gagap. Bagaimana mungkin, orang-orang yang hidupnya sederhana, tiba-tiba memberi uang 50 ribu agar aku dan anak-anak bisa tetap makan? Atau tiba-tiba anakku sepulang sekolah membawa seporsi baso dalam plastik, karena dijajanin orang. Atau anakku yang semula mau membeli gorengan 2 potong saja, tiba-tiba ada yang membelikan sebungkus nasi uduk komplit. Dan semacam itu lah.
Orang bilang, hidup itu bak roda yang berputar. Dan kini putaran rodaku bergerak menurun ke bawah. Entah, sebatas bawah mana nantinya. Kukira itu akan sangat bergantung dari penerimaanku saat ini. Ya, putaran ke bawah ini banyak mengajariku. Betapa tak ada yang kekal di dunia ini. Hanya Allah jua-lah yang Maha Kuasa.
Lalu bagaimana penerimaanku saat ini? Aku menamainya proses penerimaan. Karena tidak serta merta aku menerima segala perubahan ini dengan sepenuhnya. Semua melalui proses. Aku belajar bersyukur. Aku belajar berbahagia dalam kesempitan.
Sungguh, segala bantuan dan dukungan, baik berupa sumbangan dana maupun dorongan semangat dan doa, semuanya amat sangat berarti. Betapa Allah menolongku melalui tangan-tangan mulia dari hati tulus teman-teman dan saudaraku. Subhanallah..
Kini, aku masih terus menata hati. Proses menuju hati ikhlas membutuhkan keteguhan niat. Menumbuhkan semangat yang senantiasa berkobar, pun butuh perjuangan. Karena hidup ini memerlukan sinergi hati, pikir, dan aksi. Bismillah.. dimana pun posisi roda berputar, Allah pasti bersama kita, selama kita meyakininya..
Rabu, 23 Januari 2013
Ketika Semua Tak Lagi Sama
Dalam perjalanan hidup, dulu aku merasa hidupku begitu datarnya. Bersekolah selalu di sekolah negeri terbaik dan mengalami masa jaya berada di top ranking. Kemudian berhasil duduk di PTN dan lulus sebagai lulusan tercepat dan termuda, dengan nilai yang menenangkan. Bekerja, menikah, punya anak. Memutuskan resign, lalu tahun berikutnya mengelola sebuah sekolah taman kanak-kanak. Hidupku secara umum, lancar. Meski pernah juga jatuh terjerembab, namun bisa kembali bangun dan berdiri.
Lalu, muncullah prahara itu. Keluarga kecilku dihantam badai. Aku dan anak-anak terlempar. Kami terdampar di kampung halaman. Dan di sinilah sekarang kami, aku, Ghulam, Zidan, Nadia, Salman, memulai hidup baru.
Aku tidak suka! Aku benci! Aku marah! Tinggal di tempat terpencil seperti ini tidak enak! Aku harus meninggalkan rumahku, kehilangan sahabat, teman dekat, tetangga baik, anak-anak didik, semuanya.. Tidak ada Gramedia, jauh ke ibukota, sulit menghadiri Book Fair, etc, etc.
Aku harus mengucapkan selamat tinggal pada sekolah yang kurintis dari bawah sekali hingga sekarang cukup berkibar. Guru-guru yang masih polos itu, kini kelabakan sepeninggalku. Bahkan aku tidak sempat menatap wajah imut milik anak-anak sekolahku. Juga para orangtua yang selalu mendukung dan siaga membantu. Sayonara semua..
Tidak hanya itu, aku kehilangan banyak partner. Abang tukang ayam, abang bubur, mpok sayur, abang ikan, Pak Ibnu aqua, Tante Hety pulsa dan token, Bu Ruhyat lontong sayur, Bu Mul gorengan, Mamah Ary nasi uduk, Bu Nanik susu kedelai, Mamah Dory siomay, Acoy Bakso, Mas dan Mbak warung depan, dan semuanya.
Tapi demikianlah Allah memperjalankan hidup ini. Sangat boleh jadi, inilah masanya sekolah tercinta, aku tinggalkan. Saat aku Alhamdulillah telah mengantarkan prestasi 'terakreditasi A'. Inilah waktunya Ibu-ibu guru bangkit berjuang mandiri, menerapkan segala ilmu yang telah didapat selama bersamaku. Insya Allah semua akan berjalan baik. All iz well..
Diri ini memang harus senantiasa siap menghadapi kondisi terburuk, yang sebelumnya bahkan tak pernah terbersit selintas pun. Betapa Allah menguji tingkat keimanan dengan rupa-rupa hal berat. Beginilah Allah memperlihatkan rasa cemburunya, agar kita sungguh-sungguh mendekat dan bermesraan denganNya. DibalikkanNya hidup sehingga semua tak lagi sama.. namun satu hal yang tetap sama, adalah bahwa Allah selalu ada bersama hambaNya yang sepenuhnya bergantung hanya kepadaNya.
Maka, jangan takut ketika semua tak lagi sama.. cintaNya kepada kita tak kan berubah, selama kita meyakininya.
Lalu, muncullah prahara itu. Keluarga kecilku dihantam badai. Aku dan anak-anak terlempar. Kami terdampar di kampung halaman. Dan di sinilah sekarang kami, aku, Ghulam, Zidan, Nadia, Salman, memulai hidup baru.
Aku tidak suka! Aku benci! Aku marah! Tinggal di tempat terpencil seperti ini tidak enak! Aku harus meninggalkan rumahku, kehilangan sahabat, teman dekat, tetangga baik, anak-anak didik, semuanya.. Tidak ada Gramedia, jauh ke ibukota, sulit menghadiri Book Fair, etc, etc.
Aku harus mengucapkan selamat tinggal pada sekolah yang kurintis dari bawah sekali hingga sekarang cukup berkibar. Guru-guru yang masih polos itu, kini kelabakan sepeninggalku. Bahkan aku tidak sempat menatap wajah imut milik anak-anak sekolahku. Juga para orangtua yang selalu mendukung dan siaga membantu. Sayonara semua..
Tidak hanya itu, aku kehilangan banyak partner. Abang tukang ayam, abang bubur, mpok sayur, abang ikan, Pak Ibnu aqua, Tante Hety pulsa dan token, Bu Ruhyat lontong sayur, Bu Mul gorengan, Mamah Ary nasi uduk, Bu Nanik susu kedelai, Mamah Dory siomay, Acoy Bakso, Mas dan Mbak warung depan, dan semuanya.
Tapi demikianlah Allah memperjalankan hidup ini. Sangat boleh jadi, inilah masanya sekolah tercinta, aku tinggalkan. Saat aku Alhamdulillah telah mengantarkan prestasi 'terakreditasi A'. Inilah waktunya Ibu-ibu guru bangkit berjuang mandiri, menerapkan segala ilmu yang telah didapat selama bersamaku. Insya Allah semua akan berjalan baik. All iz well..
Diri ini memang harus senantiasa siap menghadapi kondisi terburuk, yang sebelumnya bahkan tak pernah terbersit selintas pun. Betapa Allah menguji tingkat keimanan dengan rupa-rupa hal berat. Beginilah Allah memperlihatkan rasa cemburunya, agar kita sungguh-sungguh mendekat dan bermesraan denganNya. DibalikkanNya hidup sehingga semua tak lagi sama.. namun satu hal yang tetap sama, adalah bahwa Allah selalu ada bersama hambaNya yang sepenuhnya bergantung hanya kepadaNya.
Maka, jangan takut ketika semua tak lagi sama.. cintaNya kepada kita tak kan berubah, selama kita meyakininya.
Rabu, 02 Januari 2013
Tahun Baru.. 2013
Tahun 2012 telah usai. Tahun yang memiliki warna berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Warna kusam bersaput kelabu. Tapi tetap aku syukuri, karena pemberian warna itu dari Tuhan tentu untuk membuatku terlahir kembali nanti dengan warna-warni yang cerah ceria, Aamiin.
Di penghujung 2012, seorang teman baik mengadakan lomba bikin resolusi. Aku tertarik, karena kupikir ini sekalian untuk memacu diri menyusun resolusi untuk kuwujudkan di tahun baru nanti. Kalau hadiahnya sih biasa-biasa aja.. (haha.. sorry ya, Wind..). Sekarang ini kalau lomba, aku cari yang hadiahnya berupa rupiah atau barang-barang yang bernilai rupiah lumayan.. wow, matre yak..? hoho.. kata orang Sunda mah, bakat.. bakat ku butuh.. (maap, yang ga ngerti.. tanya Aki Google aja yaa.. :D )
Namun apa yang terjadi? Ternyata oh ternyata.. aku ga sempet ikut lomba itu. Dan lagi, kupikir kalau aku menulis resolusi yang bisa dikonsumsi untuk public, agak-agak ga enak juga. Soalnya, paling ga, aku akan sekilas menceritakan tentang warna kelabu itu. Yup! secara umum, resolusiku adalah mengubah warna kelabu itu menjadi warna pelangi yang indah. Tapi.. si warna kelabu itu risi juga kalau aku umbar kemana-mana. Ya sud lah, resolusinya kusimpan dalam hati aja.
Sebagai awalan, resolusiku sederhana, tapi beraaaatttt.. Karena butuh konsistensi alias kudu istiqomah. Apaan sih..? Itu lho.. sebagai penggemar Ust.Yusuf Mansur, aku benar-benar ingin mewujudkan apa yang pernah disampaikannya dalam kajian Wisata Hati. Yaitu, setiap hari shalat dhuha, setiap malam mendirikan shalat malam, setiap hari membaca Al-Quran 1 lembar beserta terjemahnya, dan ODOA alias One Day One Ayat menghafal AlQuran.
Duh, kayaknya enteng ya.. tilawah sehari 'cuma' selembar.. padahal target aku seharusnya bisa 1 juz sehari. Terus, menghafal AlQuran pun 'cuma' 1 ayat. Eit, ternyata pada prakteknya jauh dari enteng, sodara-sodari. Dengan si warna kelabu yang masih menguntit (halah! excuse ya..? ) ada yang kelewat juga.. hiks.. :'(
Maka, untuk memudahkan pencatatan (kata Ust.Yusuf Mansur, perjalanan tekad ini harus dicatat setiap hari), aku memutuskan untuk mengawali secara istiqomah per 1 Januari 2013. Namun apa yang terjadi..? Pada tgl 1 itu sholat dhuha terlewat.. oh, tidaak! Aku terlalu sibuk berkutat dengan pekerjaan domestik dan rangkaiannya, hiks.. baru sadar tau-tau matahari sudah tinggi.. :'(
Aku pun menggeser, baiklah.. start sejak tgl 2 deh. Dan, Alhamdulillah pada tgl 2, bada Subuh aku tilawah 1 lembar beserta terjemahnya. Suratnya masih lanjutan dari jejak di tahun 2012. Aku berada di Surat Al-Imron ayat seratusan. Yang aku baca tentang balasan bagi orang-orang kafir serta kenikmatan yang akan dihadiahkanNya bagi orang-orang beriman yang berjihad di jalan Allah, yang terkait sama Perang Badar.
Hafalannya, aku memulai lagi dari AnNaba.. (duh, maluu..). Aku bertekad akan merawat hafalanku. Kumulai dari AnNaba ayat 11, karena insyaAllah ayat 1-10 mah udah lancar. Meski merasa pingin langsung loncat beberapa ayat, tapi tetap aku batasi 1 ayat saja. Karena ternyata ketika kuhafal 15 ayat, pas aku test ulang saat sholat Maghrib.. aku agak terbata-bata.. glek!
Sholat dhuha, hampir urung juga.. oh, pilunya. Tadi itu kan aku mengantar Zidan test di sekolah barunya. Sambil menunggu Zidan test, aku menuju masjid untuk sholat dhuha. Eternyata di masjid sedang ada raker guru. Semua ustadz-ustadzah hadir dan di hadapan mereka berbicara seorang tutor lengkap dengan layar infocus yang besoarr. Aku pun berdoa, semoga Zidan testnya cepet, jadi aku keburu sholat dhuhanya di rumah. Alhamdulillah, doaku dikabulNya, walau beda realisasinya. Bukan Zidan yang selesai test, tapi rakernya break pada jam 10. Tak kusia-siakan kesempatan emas itu. Saat guru-guru keluar untuk istirahat, aku pun menunaikan sholat dhuha di dalam masjid. Legaa rasanya.. trimakasih Allah!
Oh ya, malamnya aku sholat malam. Masih 2 rakaat.. hiks.. Aku bertekad malam besok ditingkatkan menjadi 4 rakaat.
Semoga aku tetap istiqomah.. setiap hari melakukannya dengan sepenuh cintaku kepada Allah. Aku harus berjuang untuk mewujudkannya. Segala halang rintang harus kuterjang. Aku masih terngiang kata-kata Bu Rahmi, "Jangan takut ditinggalkan manusia, takutlah bila ditinggalkan Allah. Pasukan manusia banyak, tapi tentara Allah yang siap menolong akan jaaauuuh lebih banyak bila kita selalu mendekat kepadaNya".
Di penghujung 2012, seorang teman baik mengadakan lomba bikin resolusi. Aku tertarik, karena kupikir ini sekalian untuk memacu diri menyusun resolusi untuk kuwujudkan di tahun baru nanti. Kalau hadiahnya sih biasa-biasa aja.. (haha.. sorry ya, Wind..). Sekarang ini kalau lomba, aku cari yang hadiahnya berupa rupiah atau barang-barang yang bernilai rupiah lumayan.. wow, matre yak..? hoho.. kata orang Sunda mah, bakat.. bakat ku butuh.. (maap, yang ga ngerti.. tanya Aki Google aja yaa.. :D )
Namun apa yang terjadi? Ternyata oh ternyata.. aku ga sempet ikut lomba itu. Dan lagi, kupikir kalau aku menulis resolusi yang bisa dikonsumsi untuk public, agak-agak ga enak juga. Soalnya, paling ga, aku akan sekilas menceritakan tentang warna kelabu itu. Yup! secara umum, resolusiku adalah mengubah warna kelabu itu menjadi warna pelangi yang indah. Tapi.. si warna kelabu itu risi juga kalau aku umbar kemana-mana. Ya sud lah, resolusinya kusimpan dalam hati aja.
Sebagai awalan, resolusiku sederhana, tapi beraaaatttt.. Karena butuh konsistensi alias kudu istiqomah. Apaan sih..? Itu lho.. sebagai penggemar Ust.Yusuf Mansur, aku benar-benar ingin mewujudkan apa yang pernah disampaikannya dalam kajian Wisata Hati. Yaitu, setiap hari shalat dhuha, setiap malam mendirikan shalat malam, setiap hari membaca Al-Quran 1 lembar beserta terjemahnya, dan ODOA alias One Day One Ayat menghafal AlQuran.
Duh, kayaknya enteng ya.. tilawah sehari 'cuma' selembar.. padahal target aku seharusnya bisa 1 juz sehari. Terus, menghafal AlQuran pun 'cuma' 1 ayat. Eit, ternyata pada prakteknya jauh dari enteng, sodara-sodari. Dengan si warna kelabu yang masih menguntit (halah! excuse ya..? ) ada yang kelewat juga.. hiks.. :'(
Maka, untuk memudahkan pencatatan (kata Ust.Yusuf Mansur, perjalanan tekad ini harus dicatat setiap hari), aku memutuskan untuk mengawali secara istiqomah per 1 Januari 2013. Namun apa yang terjadi..? Pada tgl 1 itu sholat dhuha terlewat.. oh, tidaak! Aku terlalu sibuk berkutat dengan pekerjaan domestik dan rangkaiannya, hiks.. baru sadar tau-tau matahari sudah tinggi.. :'(
Aku pun menggeser, baiklah.. start sejak tgl 2 deh. Dan, Alhamdulillah pada tgl 2, bada Subuh aku tilawah 1 lembar beserta terjemahnya. Suratnya masih lanjutan dari jejak di tahun 2012. Aku berada di Surat Al-Imron ayat seratusan. Yang aku baca tentang balasan bagi orang-orang kafir serta kenikmatan yang akan dihadiahkanNya bagi orang-orang beriman yang berjihad di jalan Allah, yang terkait sama Perang Badar.
Hafalannya, aku memulai lagi dari AnNaba.. (duh, maluu..). Aku bertekad akan merawat hafalanku. Kumulai dari AnNaba ayat 11, karena insyaAllah ayat 1-10 mah udah lancar. Meski merasa pingin langsung loncat beberapa ayat, tapi tetap aku batasi 1 ayat saja. Karena ternyata ketika kuhafal 15 ayat, pas aku test ulang saat sholat Maghrib.. aku agak terbata-bata.. glek!
Sholat dhuha, hampir urung juga.. oh, pilunya. Tadi itu kan aku mengantar Zidan test di sekolah barunya. Sambil menunggu Zidan test, aku menuju masjid untuk sholat dhuha. Eternyata di masjid sedang ada raker guru. Semua ustadz-ustadzah hadir dan di hadapan mereka berbicara seorang tutor lengkap dengan layar infocus yang besoarr. Aku pun berdoa, semoga Zidan testnya cepet, jadi aku keburu sholat dhuhanya di rumah. Alhamdulillah, doaku dikabulNya, walau beda realisasinya. Bukan Zidan yang selesai test, tapi rakernya break pada jam 10. Tak kusia-siakan kesempatan emas itu. Saat guru-guru keluar untuk istirahat, aku pun menunaikan sholat dhuha di dalam masjid. Legaa rasanya.. trimakasih Allah!
Oh ya, malamnya aku sholat malam. Masih 2 rakaat.. hiks.. Aku bertekad malam besok ditingkatkan menjadi 4 rakaat.
Semoga aku tetap istiqomah.. setiap hari melakukannya dengan sepenuh cintaku kepada Allah. Aku harus berjuang untuk mewujudkannya. Segala halang rintang harus kuterjang. Aku masih terngiang kata-kata Bu Rahmi, "Jangan takut ditinggalkan manusia, takutlah bila ditinggalkan Allah. Pasukan manusia banyak, tapi tentara Allah yang siap menolong akan jaaauuuh lebih banyak bila kita selalu mendekat kepadaNya".
Sabtu, 22 Desember 2012
PUISI NADIA
Untuk mamah
Mamah,
Engkau adalah wanita nomor 1
dalam hidupku.
Engkau adalah wanita nomor 1
dalam hidupku.
Engkau adalah,
Wanita yang paling,
Aku cintai.
Dan merawatku Dari aku kecil, Sampai sebesar ini.
Maafkanlah aku ini,
aku telah banyak salah padamu,
mamah.
Karena, aku
pernah membentakmu.
ketahuilah mamah, sebenarnya,
aku terkadang suka...........
entah grogi, entah takut a... a.... aku
tak tahu, itu namanya perasaan apa
saat ingin meminta maaf langsung padamu, perasaan itu selalu menghantuiku.
Selamat hari ibu
i LOVE yoU mom
you are my eVERYthing
Ini, gulali cinta untuk mamahku yang tercinta juga.
|
Jumat, 14 Desember 2012
Kemanakah Rahasia 'kan Menuju?
KEMANAKAH
RAHASIA ‘KAN MENUJU?
Dalam hidup ini aneka masalah bertebaran. Suatu ketika
ia pasti menimpamu. Dan pada saat itu, berbagi dengan seorang teman dekat, akan
sangat membantu. Temanmu tentu akan berempati dan boleh jadi memberi solusi.
Kalut mereda dan pikiran lumayan tenang. Dorongan semangatnya akan menguatkan.
Bahkan temanmu tak akan pelit mengirim doa menuju langit. Semuanya kemudian
perlahan mengikis gundah.
Tapi, kawan, pernahkah kau merasa bingung hendak kau
ceritakan kepada siapa masalah yang tengah membelit itu? Kepada sahabat yang
ini, ah.. dia kan lagi mau ujian, masa’ harus ditambah berat dengan curhat
masalah sahabatnya. Kepada sahabat yang itu, hmm.. dia lagi sibuk menyiapkan
ta’arufnya. Lalu sahabat yang lain lagi, dia baru melahirkan, pasti repot
mengurusi buah hati. Atau kepada saudara kandung? Nanti khawatir malah jadi
beban keluarga.. jadi kepada siapa dong..?
Mungkin salah seorang dari kalian, ada yang merasa
tidak pernah mengalami kebingungan seperti itu. Aku pernah, kawan. Meski alasannya
tidak persis seperti contoh di atas. Ya, pada saat itu aku bingung. Aku ingin
berbagi, ingin bercerita, sekedar melepaskan beban yang mengganduli pikiranku.
Terbersitlah ide untuk menceritakan masalahku kepada
seorang teman baik yang belum lama kukenal. Ia belum begitu tahu banyak tentang
aku, siapa dan bagaimana aku, maka kupikir bila ia memberi pendapat, tentu akan
merupakan pendapat yang objektif. Teman baik itu seorang yang suka menolong,
baik hati, ramah dengan senyum manisnya, cerdas, dan cukup rasional. Maka
kupercayakan masalahku, pula sedikit rahasiaku, kepadanya. Masalahku saat itu
beraneka rupa. Cukup pelik dan rumit. Ada juga sisi-sisi yang beraroma tabu.
Temanku itu merespons dengan penuh empati. Pendapatnya
mengalir berupa analisa yang logis dan mudah dipahami. Kata-kata penghiburan
juga dorongan untuk optimis, bertaburan dari lidahnya, menyemangatiku. Aku
sungguh merasa lega. Kuucapkan terimakasih tak terkira, sambil tak lupa
kusampaikan bahwa baru kepadanyalah rahasia ini kupercayakan.
Dengan segala hal positif tentangnya, seperti yang
kuceritakan di atas, aku pun kemudian tenang-tenang saja. Kupikir, masalah dan
rahasiaku aman bersamanya. Sampai suatu ketika… dalam satu pertemuan dengan
sahabat-sahabatku yang lain.. terkuaklah! Apa?
Begini, kawan.. tak kusangka tak kuduga,
sahabat-sahabatku itu, yang amat menyayangiku, dengan suara yang agak terbata
dan volume rendah, mengingatkan dengan hati-hati sekali, agar aku tidak lagi
menyampaikan rahasia kepada teman baik yang telah kupercaya itu. Mereka kini
tahu rahasiaku tersebab si teman baik itu yang mengatakannya kepada
mereka.Tercekat aku mendengar itu. Namun aku menahan diri untuk bereaksi.
Khawatir emosi meluap. Aku beristighfar. Berbagai kekhawatiran serta merta
bermunculan. Apa saja yang diumbar kepada mereka? Siapa saja yang juga menerima
info rahasiaku selain mereka? Lalu kontennya, apakah rasa original atau
dibumbuinya dengan aneka penyedap dan penguat rasa? Duhai, betapa malunya aku.
Sahabat-sahabatku itu menjamin bahwa rahasia yang
mereka terima itu, akan dijaganya. Tak akan kemudian bocor lagi ke banyak
orang. Aku tergugu. Teman baikku telah sukses menghancurkan kepercayaanku
kepadanya.
Nah, ada tiga sisi yang berperan dalam kisahku ini.
Yang pertama, teman baik yang menerima tumpahan masalah dan rahasia. Jadi
kawan, bila kau ada di posisi ini, hargai dan sayangi si pencurhat yang saat
itu tentu sedang kalut, bingung, gundah, dan sebangsanya. Janganlah kau tambah
deretan masalahnya dengan perbuatan konyolmu yang menceritakan rahasia tersebut
kepada orang lain. Meski hanya sepenggal dari rahasia tersebut. Apalah lagi
bila semuanya. Kau sudah dipercaya. Kau sudah terpilih. Sepatutnya kau menjaga
itu. Karena sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak kan percaya.
Yang kedua, orang-orang yang menerima bocoran rahasia.
Lihatlah, betapa mulia sahabat-sahabatku. Tatkala menerima info rahasia, mereka
bukannya menyebarkannya kembali. Namun dijaganya agar berhenti di mereka saja.
Jangan sampai ada lagi orang lain yang tahu. Kemudian, tersebab rasa sayang,
mereka mengingatkanku agar tidak terjebak untuk kedua kalinya, menceritakan
rahasia kepada teman baik itu. Dan kuharap kau tidak menganggap
sahabat-sahabatku sebagai mengadu domba. Karena tujuan mereka jelas, agar aku
tidak lagi mengulang kecerobohan dengan membagi masalah kepada orang yang
salah.
Jumat, 30 November 2012
Memulai Hidup Baru Bersama Modena
Dalam hidup ini beragam masalah dan ujian silih berganti menerpa. Masing-masing dalam kadar yang sesuai dengan kapabilitas manusia yang mengalaminya. Namun adakalanya seseorang merasa mendapat masalah yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Begitu berat. Demikian sulit.
Seorang yang selama hidupnya bergelimang harta tiba-tiba jatuh miskin yang membuat hidupnya terasa amat menderita. Ada yang semula aktif bergerak dan berkarya dalam banyak bidang, seketika jatuh sakit akibat penyakit ganas yang muncul tanpa dinyana lalu menggerogoti tubuhnya dan melumpuhkan aktivitasnya. Ada pula seorang yang hidupnya penuh puja dan puji, dalam waktu singkat berbalik dicaci, dimaki, dan dihina orang. Dan masih banyak lagi contoh lainnya.
Menghadapi aneka masalah yang menimpa, suka tidak suka, mau tidak mau, kita harus siap. Meski kenyataan yang ada, di luar dugaan, ya harus dihadapi dan dijalani. Itulah lakon yang harus diperankan dalam episode kali itu.
Begitu pun yang terjadi pada diriku. Tiba-tiba kehilangan suami, rumah, mobil, dan harta benda lainnya. Rasanya tidak perlu diceritakan asal muasal mengapa itu terjadi. Apa pasal? Karena ceritanya panjaaang. Jadi nantikan saja peluncuran novelku yang baru ya..
Yang perlu digarisbawahi di sini adalah, bahwa kaum perempuan harus siap dengan kondisi yang pahit, dimana ia tiba-tiba harus berperan sebagai single mom. Ia menjadi ibu sekaligus ayah. Ia membacakan cerita, menemani membuat PR, mendidik beribadah, dsb, sekaligus juga harus mencari nafkah, menjadi tulang punggung keluarga.
Lalu apa yang kulakukan? Aku harus mencari tambahan penghasilan di luar profesiku sebagai guru. Anak-anakku urun suara, memberi ide.
“Ma, kita jualan kue aja! Nanti dititip di Bu Ruhyat yang jualan nasi uduk pagi-pagi.”
“Dititip di kantin sekolahku juga bisa, Ma!”
“Atau seperti Bu Nanik, dititip di warung deket stasiun!”
Aku sungguh terharu dengan pengertian anak-anak. Dan aku pun mulai memutar otak. Ah, andai aku punya peralatan dapur yang mendukung. Tentu cita-cita untuk berjualan kue dan makanan akan lebih mudah dan efektif proses pengerjaannya.
Hingga kemudian aku ketemu sahabat baikku, Mbak Anik, yang jago baking ‘n cooking. Aku buka blognya. Ada tulisan tentang hobi masaknya dengan Modena. Lalu aku klik web Modena Indonesia. Wow.. (tapi ga pake koprol).. aku tercengang! Duhai, inilah yang kubutuhkan.
MODENA Indonesia memang keren banget. Usianya pun sudah tergolong senior, 31 tahun! Ya, Modena telah hadir di Indonesia sejak 1981. Produk-produknya menunjang gaya hidup modern masyarakat Indonesia. Ada 3 kategori yang diusung, yaitu cooking, cleaning & cooling. Di dalamnya terkandung aspek estetika desain, fitur yang memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi pengguna (user friendly), teknologinya canggih dan selalu up date, ramah lingkungan pula. Benar-benar pilihan cerdas untuk menciptakan kualitas hidup yang lebih baik dan direkomendasikan bagi masyarakat Indonesia.
Nah, sekarang saatnya memilih alat yang paling vital. Apalagi kalau bukan kompor. Produk Modena menawarkan Built-in Hob (BH) Crista White Series. Banyak variannya nih. Ada Seri Christa BH 1945 W dengan ukuran 90 cm, dan Christa BH 1645 W dengan ukuran 60 cm. Keduanya memiliki 4 tungku. Ada pula yang memiliki 3 tungku yaitu Christa BH 1935 W berukuran 90 cm, dan Christa BH 1735 W ukuran 70 cm. Yang 2 tungku pun ada juga, yaitu Christa BH 1725 W ukuran 70 cm, Christa BH 1425 W ukuran 40 cm, dan Christa BH 1325 W ukuran 30 cm. Untuk menunjang kebutuhan dalam memasak dengan partai besar, tentu kupilih kompor dengan 4 tungku
Selain penampilannya yang cantik dan elegan, kompor Modena ini memiliki spesifikasi bahan yang berkualitas, tatakan tungkunya terbuat dari besi baja cor ( Cast iron grid ) sehingga panas dihantarkan lebih sempurna. Ini hubungannya dengan efisiensi waktu, bukan? Mengingat aku juga harus tetap menunaikan amanah sebagai pendidik di sekolah. Lalu bahan kompornya terbuat dari stainless steel, dijamin anti karat. Keamanannya pun terjaga, karena ada gas safety device yang dilengkapi thermocouple, yang merupakan sensor pengaman otomatis. Ia akan menghentikan suplai gas begitu api padam tiba-tiba.
Setelah memilih kompor, pilihan berikut adalah oven. Produknya bernama Modena Profilo White Series. Ada oven listrik, Profilo 2633 W, dan oven gas Profilo 2663 W. Aku pilih kapasitas besar 56 liter karena frekwensi penggunaan yang tinggi dan dalam jumlah banyak. Bagi yang masaknya biasa-biasa saja, tersedia kapasitas lebih kecil, yaitu 40 liter.
Setelah memilih dua pemeran utama, aku memikirkan bagaimana caranya agar dapurku tetap bersih dan nyaman. Ternyata Modena menjawab masalah ini. Wastafel cuci piring atau Sink dari Modena. Bowlnya terbuat dari bahan stainless steel, yang dipadankan dengan paduan kaca kristal warna hitam. Perawatannya mudah serta usianya dijamin awet. Struktur kaca yang rapat, tidak berpori, membuatnya kuat. Sistem pembuangannya pun didisain ramah lingkungan, tidak menimbulkan polusi aroma. Karena pipa-pipa saluran pembuangan airnya tidak akan membuat bau sisa makanan atau pencucian kembali ke permukaan sink. Sehingga kesegaran dapur tidak terganggu. Dan penyaringan sisa curian dilakukan oleh filter pada lubang pembuangan. Sedang kedalaman bowl yang mencapai hingga 20 cm dengan kapasitas besar, akan membuat dapurku menjadi tempat kerja yang menyenangkan.
serta satu lagi, kulkas showcase tempat menaruh cake atau kue yang harus disimpan di tempat bersuhu rendah atau dingin. Dengan kulkas showcase, cake buatanku akan terpampang dan aku harap dapat menarik yang melihat untuk membeli.
Semoga impianku untuk memulai hidup baru bersama Modena akan terwujud. Aku perlu mencari investor yang mau membantuku membeli produk-produk Modena. Karena ya.. harganya.. U know lah! Eits.. tapi harga yang mahal itu tidak akan membuat rugi. Kenapa? Karena tingkat keawetannya sangat panjang. Jadi, produknya canggih, disainnya cantik, keamanannya terjaga, awet lagi!
Rasanya aku sudah tidak sabar ingin segera memulai usaha kuliner ini. Dan untuk membantuku nanti dalam mencari variasi menu dan resep, ada lho MODENA Cooking Club. Di sana ada juga tips memasak, tips merawat peralatan dapur, hingga tips desain dapur.
Bagi yang ingin tahu lebih dalam tentang Modena Indonesia, bisa di-klik di: www.Modena Indonesia atau di:
- https://www.facebook.com/ModenaIndonesia
- https://www.facebook.com/MODENACooking Club
- https://twitter.com/@MODENAIndonesia
Langganan:
Postingan (Atom)






