Sabtu, 28 September 2013

Dari catatan Harian Freya

Mungkin bisa menjadi semacam kebanggaan tatkala orang lain melihat kita hebat. Perspektif hebat bisa beraneka rupa. Ada yang hebat tersebab peningkatan karir, kemajuan si buah hati, kesuksesan pasangan, dll. Tapi ada pula yang parameternya bukan merupakan hal yang kongkrit semacam contoh tersebut. Boleh jadi, seseorang dianggap hebat, ketika ia mampu tegar dan sabar menghadapi aneka ujian dan tantangan hidup yang teramat berat.

Seorang teman, Nyi Penengah Dewanti, gadis belia yang menjadi TKW di Hongkong, demikian berbelit liku hidupnya sehingga mengundang decak kagum sekaligus haru pada perjuangan dan pengorbanannya. Kegigihannya serta kecerdasannya mengantarkan ia menjadi seorang penulis handal. Hebat bukan? PRT di tanah air, rasanya mana ada yang bisa se-keren itu prestasi menulisnya?

Di balik kehebatannya, kekuatannya, ketegarannya, tak ada yang tahu persis kedalaman hatinya. Apakah ia se-kuat yang ditampakkannya? Rasa-rasanya sih iya. Sulit menolak praduga bahwa Nyi adalah seorang gadis yang luar biasa tegar dan sabar. Sabar dalam definisi Aa Gym, yaitu sabar yang aktif. Dalam tekanan penderitaan, baik fisik maupun mental, ia terus sabar berjuang, bertahan, ber-aksi positif, sehingga tampil dengan prestasi yang membanggakan.

Lalu, apakah aku demikian? Hoho.. rasanya jauh lah memperbandingkan aku dengan gadis itu. Namun setidaknya, bagi yang mengetahui kemelut yang kuhadapi, hampir bisa dipastikan mereka akan melontarkan puja dan puji, bahwa aku kuat menghadapi cobaan berat. Benarkah begitu?

Sayangnya tidak. Aku, di dalamku, hancur lebur. Aku bisa menangis tiba-tiba, mendadak terbahak, seketika meledak meluap emosi memarah-marahi siapa saja. Tapi tentu yang lebih sering terjadi adalah aku menangis.

Ya, aku cengeng, aku lemah, aku payah! Aku tidak kuat, aku tidak tegar, aku tidak sabar. Semua yang dilihat orang itu kamuflase. Aku sangat menyedihkan, aku sangat mengenaskan.

Aku tahu, seperti halnya semua orang juga tahu, bahwa Allah tidak akan sekali-kali menimpakan cobaan, di luar kesanggupan hambaNya. Tapi nyatanya, terbetik pikir, bahwa ini terlalu berat untukku. Aku lelah, aku capek. Dan yang paling melelahkan adalah bahwa aku tidak boleh mengatakan kalau aku lelah. Aku harus selalu kuat. Dan aku tidak kuat untuk itu.

Seorang teman, Dian Iskandar, pernah mengatakan bahwa seseorang yang berempati sesungguhnya ia tidak memahami benar apa yang dirasakan oleh orang lain, selama ia tidak mengalaminya. Seorang yang selalu lancar memberi ASI kepada bayinya, tidak akan tahu persis bagaimana duka sang ibu yang kesulitan bahkan tidak bisa memberikan ASInya kepada si buah hati. Seorang yang menikah di usia muda, tidak akan sepenuhnya merasakan apa yang berkecamuk dalam benak teman yang hingga melewati jauh usia 30 belum bertemu jodoh. Seorang yang pasca pernikahan langsung mendapat momongan, tidak juga akan memahami pedihnya hati kala mendamba kehadiran si kecil hingga hampir mendekati tahun ke-10 pernikahan.

Aku sungguh merasakan kebenaran rentetan kalimat itu. Orang-orang di sekitarku, meski dengan segala kebaikan dan perhatiannya, yang  aku sangat berterima kasih untuk itu, adakalanya mereka terlalu mudah mengucap kata ‘sabar ya’ padahal kata itu luar biasa sulit aku junjung.

Nyata bukan? Aku cengeng. Aku merasa terpuruk. Tidak punya rumah, apalagi mobil. Barang-barang semacam tv, kulkas, furniture, dll terjual sudah. Perhiasan apalagi, ludes semua. Tabungan terkuras, hingga tabungan yang paling pribadi dan sangat disayang: tabungan haji. Pun asuransi-asuransi pendidikan anak-anak, tak ada lagi yang bersisa. Pekerjaan dan karir, melayang. Maka, kujalani hari dengan rupiah yang diketat-ketat. Menerima belas kasihan dan tatapan iba dari orang-orang, sungguh menyakitkan. Ditambah anak-anak yang menjelang usia remaja, perangainya betapa membingungkan. Aku takut, sungguh takut. Bagaimana mereka menghadapi hari-hari remajanya, hanya bersama dengan seorang ibu yang limbung seperti aku.

Sejumlah tekanan yang kuterima, membuatku semakin merasa tertindih beban berton-ton beratnya. Dan yang lebih membuat sesak adalah, tidak semua beban itu bisa aku bagi. Ada hal-hal yang sangat tidak mungkin aku ceritakan kepada siapa pun. Karena itu terlalu gila. Terlalu akan membuat orang lain menganga. Dan bila sampai terdengar oleh beberapa pihak yang terkait, boleh jadi ia pingsan dalam waktu lama.

Saat suasana hati benar-benar dikepung duka yang melelahkan,dada terasa ingin meledak. Apalagi memikirkan bila semisal mengatakan kepada seseorang bahwa aku sedang gundah, lalu ia bilang, “emangnya ada apa lagi?”

What? Ada apa lagi? Pliiis deh, jadi dikira masalah yang lalu-lalu itu sudah usai, dan sekarang ‘ada apa lagi’? Maka, aku pun lebih memilih diam. Sambil membayangkan aku lari dari semua ini, dan menemukan sebuah gua yang tidak diketahui siapa pun. Aku tenang bersembunyi di dalamnya, menghilang dari dunia nyata.

Tapi ya, tentu saja itu cuma khayalan. Hidup terus berjalan. Membiarkan rumah berantakan, tak peduli segalanya kotor dan tak sedap dipandang, tak bisa terus dilakukan. Nekat kembali pada gaya hidup lama yang berbelanja segala rupa demi kesenangan anak-anak, memenuhi selera lidahnya, adalah tindakan yang akan menyulitkan kelak. Rupiah yang tersedot. Tabungan semakin menipiiis. Dan ujungnya kembali hampa yang meraja.

Aku harus tetap melengkungkan senyum, meski semu. Aku harus tetap membalas senda dan canda, walau pura-pura.

Ah, sudahlah. Mari, kita lihat waktu yang bicara. Akan kemana ia membawaku pada akhirnya.



# Saya hanya bisa melangitkan doa, semoga Freya bisa kembali menjadi dirinya, menemukan bahagianya. I love U, Freya..

Kamis, 26 September 2013

#Cerfet PELANGI RINDU -6-

Cerita pertama

Cerita kedua

Cerita ketiga

Cerita keempat

Cerita kelima

“Jiaaah.. naksir loe?”
“Sembarangan… “ Lya mendelik sebal pada Gandhi. Sesaat kemudian wajahnya kembali serius. Kali ini ia menatap Gandhi. “Dhi, loe nggak perhatiin kalau sohib loe, si Raga, itu punya keanehan?”
Gandhi mengernyitkan dahi. “Maksud loe?”
“Raga punya dunia sendiri di luar dunia nyata-nya. Dan ia terperangkap di dalamnya.” Pandangan Lya melayang ke arah Raga yang tengah menatap hujan dari balik jendela restoran yang sedang sepi.
“Ya ampun, Li… Lagak loe udah kayak psikolog beneran. Padahal kuliah baru tiga semester malah loe tinggalin,” ledek Gandhi.
“Dia kayaknya mengidap gangguan halusinasi. Ini suatu gejala penyakit kejiwaan yang serius. Biasanya dialami oleh penderita schizophrenia.” Lanjut Lya, tanpa peduli pada ekspresi Gandhi yang tampak malas mendengarkan penjelasannya.
“Haduh, Li… jangan-jangan loe sendiri yang sakit jiwa,” ujar Gandhi sambil ngeloyor pergi, meninggalkan Lya yang masih tampak penasaran melihat kebiasaaan Raga berdiri di dekat jendela sambil memandang ke luar.
Sementara itu, Raga tak menyadari dirinya sedang dibicarakan, matanya tetap menatap lurus ke arah jalan. Hujan mulai tipis. Hati Raga bungah. Pelangi yang didambanya, mulai samar terlihat di bentang langit. Senyumnya mengembang.
“Kalya…” desisnya.
Tiba-tiba pundaknya ditepuk. Raga terlonjak kaget.
“Kayaknya kaget banget, Ga. Makanya jangan suka ngelamun,” seloroh Gandhi.
Raga memaksakan diri menarik bibirnya untuk tersenyum. Tanpa sadar ia kembali berpaling ke luar.
Gandhi mendekat ke arah jendela. “Kamu menunggu seseorang?”
Raga terperangah. Gelagapan ia menjawab, “Eh, ng.. nggak kok.”
“Yup! Kalau begitu, kamu temani aku ke daerah Kemang, yuk… Ada restoran temenku baru buka. Ia mengundang kita. Sekalian kita sharing lah. Temenku itu udah punya beberapa cabang. Siapa tahu pengalamannya ada yang bisa kita terapkan.”
Raga bergeming. Ia membayangkan akan kehilangan kesempatan berjumpa dengan Kalya, yang dirindunya. Pelangi hadir tak lama. Bagaimana mungkin ia melewatkan kesempatan yang amat sangat dinantikannya itu. Hampir gila rasanya menahan rindu. Aku harus ketemu Kalya, kali ini.
“Hei, kok malah melamun lagi? Udah yuk, kita pergi sekarang!” ajak Gandhi.
“Ng.. gimana kalau Lya saja yang menemanimu?” Raga mengajukan alternatif. Ia semakin gelisah. Pelangi semakin jelas menampakkan diri. dan retinanya menangkap sosok perempuan tengah berjalan anggun di seberang jalan. Raga tampak panik.
“Sebentar Dhi, sorry… aku ke luar sebentar,” ujar Raga sambil melesat ke luar, tak memedulikan panggilan Gandhi. Nama Kalya berdentum-dentum di benaknya. Ia merasa harus mengejar Kalya, jangan sampai hilang di tengah para pejalan kaki yang mulai ramai hilir mudik, selepas hujan.
Raga berlari secepat yang ia bisa. Sosok Kalya dilihatnya terus berjalan menyusuri deretan toko. Hingga sosok itu berbelok, Raga pun kehilangan jejak. Kalya lenyap setelah berbelok. Raga berusaha memaksa matanya untuk bisa melihat lebih jauh, namun sia-sia. Bayangan sosok Kalya tak berbekas.
Gontai Raga kembali ke restoran. Gandhi yang masih terheran-heran, segera memberondongnya dengan pertanyaan. “Dari mana kamu, Ga? Siapa yang kamu kejar tadi? Temanmu?”
Pandangan Raga kosong. Ia menjawab lemah. “Iya. Temanku.”
“Yang mana sih tadi orangnya?” Gandhi penasaran.
“Kamu tadi melihat perempuan memakai baju putih dengan nuansa pink muda? Rambutnya dilepas melewati bahu.”
Gandhi menelengkan kepalanya, berusaha mengingat. “Kayaknya nggak ada deh tadi.”
Gandhi mulai berpikir, jangan-jangan yang dikatakan Lya tadi benar. Raga mengalami gangguan halusinasi.
“Udah yuk, kita berangkat saja sekarang.” Gandhi melangkahkan kaki ke pintu.
“Ok, sebentar aku ambil jaket dulu.” Raga berbalik ke belakang. Pada saat itu matanya bertubrukan dengan Lya yang sedang memerhatikannya. Lya salah tingkah. Ia menutupinya dengan melemparkan senyum. Senyum termanis yang ia miliki. Raga membalas acuh tak acuh. Sempat terlintas rasa heran, mengapa perempuan itu memandanginya begitu rupa. Tapi segera ditepisnya.
****
Lya menatap Gandhi antusias. Perempuan berkacamata yang memiliki garis wajah oriental itu tampak bersemangat dengan penjelasan Gandhi. Ia tengah mengorek keterangan tentang Raga. Naluri psikologinya muncul. Meskipun sekarang ia sedang cuti kuliah, minatnya pada hal-hal yang berbau psikologi tetap menyala. Ia ‘terpaksa’ memilih cuti demi mengumpulkan rupiah agar kuliahnya kelak bisa dilanjutkan lagi.
“Sepertinya misteri ini mulai terkuak,” cetus Lya.
Gandhi terbahak. “Halah! Loe tuh calon psikolog tapi sok-sok jadi detektif juga , ya.”
“Eh, tapi bener kan, Raga punya pengalaman masa lalu yang amat membekas. Tanpa disadarinya, efek rasa dari pengalamannya itu mengendap di alam bawah sadar, dan akan terangkat ke permukaan saat ia menemukan sesuatu yang dianggapnya menghubungkan ia dengan seseorang atau sesuatu di masa lalunya itu,” papar Lya.
“Gile.. loe pinter juga, Li!” ledek Gandhi. “Tapi gue nggak nyangka, kalau perpisahannya dengan Laras dulu itu sampai bikin dia aneh kayak gitu.”
“Jangan dianggap aneh lah. Hal-hal seperti itu memang terjadi. Dan kita harus menolongnya. Kasihan kan, kalau dia terus menerus terkungkung dengan masa lalunya itu.”
“Tapi ngapain ya, kelakuan anehnya itu, yang selalu bengong melihat ke luar, dilakukannya setiap habis hujan? Kayak kemarin itu, tiba-tiba lari mengejar seseorang, padahal nggak ada.”
Mata Lya membulat. Dia menegakkan kepala. Jari lentiknya mengetuk-ngetuk dagu lancipnya. “Hmm.. terutama saat muncul pelangi…”
Seketika Gandhi tertawa. “Jangan aja, loe bilang kalau Raga mencari bidadari yang turun dari langit, meluncur pake pelangi.”
“Mungkin Laras-nya Raga itu cantik kayak bidadari ya…” Lya setengah bertanya memandang ke arah Gandhi.
Gandhi tersenyum. “Iya sih… dia cantik banget, dan lembut!”
Lya kembali mengurai analisanya. “Mungkin itu sebabnya Raga sangat terpukul. Karena Laras yang cantik dan lembut itu ternyata mengkhianatinya. Dia nggak percaya kalau Laras-nya sanggup berpaling ke lain hati.”
“Tapi nggak jelas juga sih, apa memang benar waktu itu ada orang ketiga di antara mereka,” sergah Gandhi.
*****
Raga menyesap hot capuccino-nya yang tinggal separuh. Di depannya, Gandhi, asyik menyendok pepperoni cheese fusilli ke mulutnya. Raga menghela napas panjang.
“Sorry, bukan maksudku membuka luka lama.” Suara Gandhi memecah keheningan yang tadi sempat tercipta.
“Ah, nggak apa-apa, kok. Aku sudah melupakan Laras. Meski kemarin aku sempat bertemu dia,” ucap Raga. Pandangannya menerawang. Entah, apakah waktu itu sikapnya yang membeku telah menyakiti hati Laras. Hati perempuan terkasihnya, dulu.
“Kamu ketemu Laras?” Gandhi ingin memastikan pendengarannya.
Raga mengangguk.
“Terus?”
Raga terdiam. Ia tak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan Gandhi. Saat pertemuan itu, ia tengah dikepung rindu kepada Kalya. Ia tak menggubris Laras.
“Ga… kamu nggak ingin kembali kepada Laras? Apa benar… dia dulu…” Gandhi menggantung pertanyaannya.  Ia tak menemukan kata yang pantas untuk ‘berselingkuh’ bagi Laras yang cantik dan lembut bak bidadari.
“Aku nggak tahu. Kemarin ia ingin menjelaskan sesuatu. Katanya tentang masa lalu. Katanya ia selalu menungguku. Tapi… entahlah, namanya sudah tercerabut dari hatiku.”
Kembali hening. Tiba-tiba suara hujan masuk ke gendang telinga Raga. Spontan ia melihat ke arah jendela. Titik-titik air berebutan turun menyentuh bumi. Raga melengkungkan senyum. Hatinya dijalari rasa bahagia yang halus. Harapannya terbit, akan ada pelangi nanti yang mengantarkan Kalya ke hadapannya.
“Kalya…” desis Raga.

Gandhi terenyak mendengar Raga menyebut sebuah nama. Kalya? 

******

Alhamdulillah.. selesai sudah melanjutkan cerfet ini untuk putaran pertama. Putaran selanjutnya, saya serahkan tongkat ini kepada Mak Indah aja yaa..
DL nya hari Sabtu pukul 15.00. Makasiiih.. dan maaaf, kalau ceritaku kurang berkenan.. :)

Minggu, 25 Agustus 2013

Galau? Emang Gak Boleh?

Kayaknya galau lebih sah dipake buat anak-anak muda bangsanya para abegeh ya. Terus, yang model amak-amak macam aku nih, apa dong namanya? Padahal kita, para emak, ngalamin juga lho.. (“kitaa..? elo aja ‘kalai..” para emak riuh menyangkal)

Emang sih, tema kegalauannya pasti beda lah yaw. May be para abegeh lebih didominasi sama urusan cinta-cintaan, temen-temen, cita-cita, konflik sama ortu, de-es-be. Nah, kalau emak-emak ya, seputar dunia rumah tangga lah, urusan anak, dapur, suami, atau karier di kantor.

Aku nih juga rasanya sampe sekarang masih dihinggapi si galau itu. Kan galau itu 11-12 sama bingung, geje, resah gelisah gundah gulana, tho? Tema besarnya ya.. apalagi kalau bukan urusan keluarga sama jalan hidup aku.. jiaah.. gayane, segala jalan hidup..

As U know, aku kan ceritanya mendadak jadi penulis, pas awal-awal punya akun fb. Gegara tulisan perdanaku lolos di audisinya proyek antologi Tias Tatanka-Gola Gong. Gimana aku gak tercengang-cengang coba, trus efeknya aku jadi kedemenan nulis dan nulis lagi.

Lama-lama, gabung di komunitas penulis, ngobrol-ngobrol dan interaksi lainnya sama mereka, memberi pengalaman berbeda buat aku. Aku dapet pencerahan banyak. Dan berjumpa dengan beragam karakter, meski pada dasarnya kalau di dumay mah rata-rata pada baek sih. Alhamdulillah, belom (dan jangan sampe) nemuin yang aneh-aneh.

Saking pada baiknya temen-temen aku itu, tulisanku sering bertaburan puja dan puji dari mereka. Trus, karena tingkat kepedean aku emang malah sering terjun bebas, gegara susah nembus media, aku jadi kepikir jangan-jangan pujian itu adalah semacam bentuk penghormatan atau penghiburan sesama teman.

Nah, beberapa jam yang lalu, naskahku (lagi-lagi) sukses terlempar . Kali ini dari audisi novel di salah satu penerbit yang bekerja sama dengan sebuah tim pencari bakat yang keren. Betapa.. kalah itu pedih, Jendral..

Sebenernya aku udah hafal banget sama kalimat-kalimat: setiap naskah akan menemui jodohnya, semua akan ada waktunya, kali ini belum saatnya, jodoh naskah ini ada di tempat lain, etc, etc. Tapi teuteup aja, aku berasa pilu dan.. galau.

Yup! Galau.. apakah memang tulisanku demikian amatlah buruk? Apakah sesungguhnya aku gak bisaan jadi penulis? Mungkinkah tempatku bukan di dunia tulis menulis? Hohoho.. konyol gak sih..? Padahal banyak hal yang harus aku pikirin ya, kok sempet-sempetnya pake acara galau segala.. :P

Jadi ya macam begini lah, di awal nulis berasa galau, tapi seiring aliran ceritaku, nanti di ujung-ujungnya sih aku nyadar. Sebenernya bukan nggak boleh kali ya, berasa galau.. cuman jangan lama-lama, jangan kebablasan, sampe ngeganggu stabilitas aktivitas.

Yo wes lah, nulis mah nulis aja, kerja juga teuteup kerja, pan butuh rupiah atuh supaya anak-anakku teuteup bisa makan dan sekolah. Soal lolos atau nggak tulisan-tulisanku, biar waktu yang bicara aja kali yaa.. Kalau blog aku sunyi senyap sepi sendiri, no problemo lah.. aku mah teuteup nulis.


Tapi, masalahnya itu cucian piring numpuk, setrikaan segunung, lantai belom disapu dan dipel, halaman juga kotor, yg ngerjain sapaa..? hahaha.. ini galau edisi lain.. Nulis ya nulis, tapi jangan lupa sama posisi sebagai upik abu.. :)

Jumat, 23 Agustus 2013

LARA PRILA

“Maaf, Bu Prila.. anak saya mau pindah ke kelas B saja…”

Itu masih bagus ada basa-basinya, ada juga yang langsung main tarik tangan anaknya lalu memindahkan ke kelas B. Bu Prila bergeming. Memandang diam, lalu tersenyum getir. Hatinya dirundung lara.

Ingin rasanya Bu Prila berontak dari keadaan ini. Tiba-tiba ia harus mendapati dirinya mengajar di sekolah yang masih, mohon maaf, agak kurang maju. Para orangtua murid masih memegang paradigma lama tentang model pendidikan anak usia dini. Kepala sekolah yang kurang inisiatif. Rekan kerja yang masih belum disiplin dalam menerapkan konsep. Aarrgh..

Sepanjang satu dasa warsa, Bu Prila menjadi kepala sekolah. Terbiasa memenej dan memimpin. Seketika saat ini harus menjadi pelaksana. Berhadapan dengan kondisi, di mana bila ia berada dalam kondisi tersebut di sekolah yang lama, tentu ia sudah bersegera merapikannya. Segera menginstruksikan kepada para guru tentang apa yang harus dilakukan bersama. Namun, saat ini, apa daya. Sebagai orang baru, tak elok rasanya bila terlalu banyak mengatur dan campur tangan.

Bu Prila mendapat amanah memegang kelas A di sekolah baru. Anak-anak yang masih imut. Tentu pendekatannya berbeda dengan kelas B yang dipersiapkan untuk masuk SD. Namun, di sekolah baru, usia anak-anak kelas A ternyata amat beragam. Dari yang batita hingga balita. Bayangkan, anak-anak usia kelompok bermain, bahkan ada yang masih belum 2 tahun, berada bersama-sama dalam satu kelompok di kelas. Sudah barang tentu, anak-anak yang imut itu belum bisa diharapkan untuk mampu berkonsentrasi untuk jangka waktu lama. Bukan masanya mereka duduk tenang dan diam.

Hanya dalam hitungan 1-3 hari, manalah mungkin bisa tampak hasil pada anak-anak. Mereka masih dalam proses adaptasi. Tapi orangtua murid sukanya instan. Mereka spontan mengeluh, anaknya hanya bermain-main. Lha, anak kecil memang masanya bermain, Buu..

“Kalau mengikuti kata hati, rasanya ingin aku hengkang dari sekolah itu. Aku ingin berkhidmat menjadi penulis,” gumam Bu Prila. Sayang disayang, Bu Prila masih sangat hijau sebagai penulis. Mentah tak terkira. Perlu perjuangan, butuh latihan, untuk menempatkan dirinya sebagai penulis yang berkemampuan baik. Pilihan katanya masih terbata-bata. Penguasaan tekniknya masih di bawah rata-rata. Masih harus belajar, belajar, dan belajar. Bu Prila merasa sanggup untuk memacu dirinya dalam proses belajar. Ia haus ilmu. Ia mau bersungguh-sungguh belajar.

Poor Bu Prila… dengan kondisi seperti itu, tidak tepat kiranya bila menjadikan profesi penulis sebagai matapencaharian utama. Yup! Bu Prila memiliki 5 anak yang harus ditanggungnya. Dan ibu yang mana, yang tidak sayang anaknya. Bu Prila pun rela mengorbankan hasratnya. Agar anak-anak tetap bisa makan dan bersekolah. Agar masih ada rumah untuk mereka bernaung. Ia harus membagi waktunya dengan rupa-rupa kewajiban. Mencari nafkah, mengurus rumah, menjadi upik abu, mendampingi anak-anak, dan di sela itu harus pandai mencari celah waktu untuk kesukaannya belajar menulis. Beberapa PR menulis, tersendat. Buku-buku yang akan diresensi masih berjajar. Sementara keinginan menulis novel masih terus tertunda. Hiks.. Dengan kondisi fisik yang tidak biasa bekerja keras sebelum ini, maka proses adaptasi tubuhnya butuh waktu. Hingga kini masih terhuyung dan terseok. Keinginan untuk bisa banyak menulis, harus dipendam kuat-kuat.

“Mungkin aku egois, sok tahu, atau post power sindrom..? what? Post power sindrom? Hahaha.. maksudnya ga mau menjadi bawahan? No.. no.. bukan itu!” Bu Prila memulai racauannya. Hasrat menulis yang menggebu, terus bermain di benaknya. Tapi… ingatannya hinggap pada peribahasa ‘berharap burung terbang tinggi, punai di tangan dilepaskan’.

Ternyata galau bukan saja milik para abegeh. Bu Prila, yang parahnya masih suka merasa beda tipis sama abegeh, pun dihinggapi kegalauan. Mungkinkah ini tantangan baginya? Saatnya berjibaku berada jauh dari zona nyaman? Sanggupkah dirinya berpantang untuk sederet keluh kesah? Mampukah berdamai dengan takdir?

Air mata masih selalu saja menjadi kawan baik Bu Prila. Kadang hatinya serasa ingin meledak. Pita suara ingin berteriak. Mengapa di saat gundah, tak boleh bilang lelah? Mengapa di kala letih, harus menahan untuk merintih?

Jalan hidup memang misteri. Siapa nyana tiba-tiba berada di suatu ruas kehidupan yang penuh belukar? Betapa ajaib seketika digempur gelombang badai.

Bu Prila kemudian mengerti. Ini jalan yang sudah ditetapkanNya. Hanya kepadaNya segala kesah tertumpah ruah. Ia harus bersegera menujuNya. Tersungkur dalam sujud panjang di keheningan malam.


Namun sebagai manusia biasa, Bu Prila butuh jua melepas penat. Kadang hatinya bergerak memuntahkan segala rasa, yang kemudian harus ditelannya kembali. Ia pun lantas bermohon kepadaNya untuk diberi kekuatan. Berharap ditunjukkan jalan kala merasa berada di persimpangan. Maka doa-doa pun membubung menuju langit. Di antara larik-larik doa itu, adakah doa milikmu juga?

Selasa, 20 Agustus 2013

Gimana Gak Percaya, Kalau Allah Maha Baik?

Dalam lingkaran perjalanan hidup manusia, semua mafhum bahwa perputaran roda akan mempergilirkan kondisi susah-senang, lara-bahagia, sedih-gembira, tangis-tawa. Semua dalam kadar berbeda-beda. Agar kita bisa melihat keragaman, mampu memaknai rupa-rupa keadaan. Maka, seterpuruknya seseorang, jika matanya menyalang, ia akan melihat bahwa dirinya tak sendiri, bahkan boleh jadi orang lain lebih lagi tersuruk dalam kepedihan.
Untuk kondisi duka, biasanya berderet-deret kalimat pelipur lara akan bertaburan demi menghibur pula menyemangati. Bersabarlah, karena Allah beserta orang-orang yang sabar. Ujian kesedihan ini adalah bentuk kasih sayang Allah. Kalau sekarang mampu melewati ujian ini, artinya sukses naik kelas menuju tingkat kualitas yang lebih baik. Allah akan mengangkat derajat, melalui ujian ini. Etc, etc.
Demikian pun yang aku alami. Seketika berada dalam kondisi yang tak terbayangkan sebelumnya. Begitu banyak yang berubah. Serba kehilangan. Butuh adaptasi yang amat sangat. Mau tak mau harus bekerja keras. Zona nyaman menjauh. Rasanya terhuyung-huyung, terseok-seok, tersaruk-saruk..
Pada saat itu, Subhanallah, terasalah kasih sayang orang-orang terdekat. Mereka menghujaniku dengan aneka penyemangat, peluk hangat, ukhuwah  erat. Meski terkadang yang diucapkan terdengar klise, walau terkadang muncul dalam benak bahwa ucapan itu mengawang karena mereka tak sungguh mengalami kepahitan yang terjadi. Namun semua sungguh benar adanya.
Satu yang pasti dari sekian banyak ucap itu, bahwa Allah tiada mungkin mendzalimi hambaNya. Ternyata benar, Allah ingin kita dekat. Dan nyata betul, Allah tidak meninggalkan kita bila kita bersandar hanya kepadaNya. PertolonganNya seringkali hadir tak terduga. Membuat ingin rasanya mendekapNya. Di antara beban yang menghimpit, selalu ada ‘tanganNya’ yang seketika memapah dan membimbing, membuat hati lega lalu senyum tercipta.
Fabiayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz dzibaan. Bersyukur. Bersyukur. Bersyukur.
Kerap tak terlintas, tiba-tiba kemudahan datang. Meski mungkin kecil buat orang lain, namun terasa sangat besar dan berarti bagiku. Rupanya Allah pun suka memberi kejutan yang manis. Aih, indah nian.
Suatu hari, aku mendapati bagian tubuhku membutuhkan obat. Sayangnya, harga obat itu aku tahu cukup mahal untuk ukuranku saat ini. Tapi kupikir kesehatanku tentu juga amat penting. Maka tak kuhiraukan rupiahku akan berkurang, aku melangkah mantap menuju apotek. Alhamdulillah, di sana sang apoteker sedang datang berkunjung. Ia sahabat yang masih terhitung kerabat dekat. Kuutarakan maksudku mencari obat. Setelah mencarinya, ia mengangsurkan obat tersebut seraya berkata, “Persediaan kami tinggal yang ukuran besar ini. Mau?”
Terbayang rupiah yang tentu lebih besar tersebab ukuran obat dalam volume lebih banyak. Namun kumantapkan untuk mengangguk. Saat kutanya berapa harganya, tiba-tiba, “Ambil aja,” ucapnya tulus. Subhanallah, rupanya Allah telah membisikkan ke telinganya agar obat itu digratiskan saja buatku. Kukira sungguh dalam hitungan detik, bisikan itu menghampirinya. Tak direncanakan sebelumnya.
Setelah menyampaikan terima kasih yang dalam, aku meninggalkan apotek dengan penuh syukur. Merasa masih ingin berterima kasih, kulayangkan pesan singkat yang isinya lagi-lagi ucapan terima kasih. Dan tahukah kau, apa jawaban saudaraku?
“Itu dari Allah.”
Subhanallah.. Betapa Maha Baiknya Allah, mendekatkanku kepada orang yang baik.
Lalu, pernah juga saat transaksi lainnya, si pedagang tiba-tiba memberikan potongan harga yang cukup signifikan. Rupanya ia dibisikiNya juga untuk menolongku. Itu terjadi bukan sekali dua.
Siapa bisa menduga, seseorang ‘kan tergerak untuk melakukan kebaikan kepada kita, tanpa campur tangan Dzat Yang Maha Kuasa untuk menggerakkan hati seseorang?
Betapa Maha Baiknya Allah. Aneka cara diperlihatkan, rupa-rupa jalan ditampakkan. Agar mata hati ini terbuka. Agar syukur tak henti melantun di lisan, tak jeda menggema di hati.
Terima kasih Yaa Allah… untuk segala kejutan yang manis… dan tentu untuk telah memberiku sahabat-sahabat yang baiik… yang meski terbentang jarak di antara kami, yang meski tak sekali pun kami bersitatap, namun Kau dekatkan hati kami, hingga doa-doa para sahabat yang satu demi satu menyerbu langit, menjadi pendukung dan penyemangat bagiku.

Sungguh aku percaya, betapa Maha Baiknya Engkau, Yaa Allah…

Selasa, 13 Agustus 2013

Setelah Ramadan... #Renungan tentang Sholat

Hampir selalu berulang. Saat Ramadan berlalu, yang mengendap adalah lapisan sesal. Berapa lapis..? Ratusan.. ! Hiks..

Aku pun coba menghibur diri. Ya sudah.. tilawah tak bertambah, hafalan masih hanya sekian, infak kurang banyak, shalat sunnah seperti yang sudah-sudah.. tapi yang sedikit itu haruslah terus menjejak selama 11 bulan ke depan. Intinya.. istiqomah.

Yang pertama.. sholatnya dulu. Betapa urusan sholat yang sangat mendasar ini masih saja belum bisa aku lakukan dengan khidmat. Apalagi ketika membaca buku: "Dan Sholat pun Mengadu..." Ya Allah, sungguh hamba masih lalai di hadapanMu.

Inilah golongan orang yang terkadang memajukan dan mengundurkan. Mereka tidur, pula bermalas-malasan. Mereka bermain-main seraya bersenda gurau. Mereka shalat jika mereka terbangun. Mereka shalat jika mereka selesai dari canda mereka. 

Duhai, aku sadari.. aku masih berada dalam golongan itu. Suara azan tak membuatku bersegera seketika mengambil wudlu. Alarm sepertiga akhir malam menjerit-jerit hanya menggerakkan tanganku untuk segera membungkamnya. Padahal aku sudah hafal benar bahwa shalat lebih baik daripada tidur.

Astaghfirullah... aku ingin betul bisa menghayati panggilan azan dengan baik. Ingin betul bersegera untuk shalat demi menghadapMu. Mematikan hp, laptop, televisi, lalu menghidupkan hati. Merasakan panggilanNya. Menyambut seruan meraih kemenangan.

Asy-syahid Hasan Al-Banna berkata: "Bergegaslah untuk mengerjakan shalat ketika kamu mendengar suara adzan dalam keadaan seperti apa pun". Setelah itu, sabda Rasulullah: "Kerjakanlah shalat dengan perasaan tenang dan penuh rasa hormat".

Benar-benar dibutuhkan keikhlasan hati dalam menunaikan sholat. Ketika panjang waktu yang digunakan, terasa merenggut waktu untuk berkegiatan, sesungguhnya bila waktu yang terambil itu benar-benar diikhlaskan, maka berkah waktu akan terasa nikmat. Tak ada yang terambil, tak ada yang sia-sia. Waktu yang terlewat itu, sama sekali tak akan merugikan. Kuncinya, ikhlas.

Namun, berat nian mengunci ikhlas dalam hati. Hawa nafsu dan bisikan syaithan gigih pula menguntit. Berupaya menggelincirkan. Maka tak ada jalan selain mohon ampun dan mohon lindunganNya.

Betapa iman naik turun. Betapa iman harus terus dijaga dan diperbaharui. Karena itulah, doaku senantiasa selepas shalat adalah: Ya Allah, tetapkan hatiku dalam keimanan kepadaMu.

Bismillah.. semoga.. 11 bulan ke depan, catatan amal ibadahku tidak turun drastis, tidak terjun bebass.. Dan aku bukan sekedar menjadi umat Ramadhaniyah, tapi menjadi hamba Rabbaniyah.


Senin, 22 Juli 2013

Ketika Hujan Menyisakan Pelangi

Judul Buku                :  Rainbow
Penulis                        :  Eni Martini
Penerbit                      :  Elex Media Komputindo
Terbit                         :  Cetakan I, Juli 2013
Tebal Buku                :  vi + 201 halaman
ISBN                           :  978-602-02-1609-6


Usai hujan turun, kerap tampak sebuah busur warna-warni melengkung indah menghiasi langit. Itu pulalah yang sering menjadi tamsil kala sebuah keadaan yang berat dihadapi, maka pada akhirnya akan tiba sesuatu yang indah bak pelangi sehabis turun hujan.

Nah, aku baru saja menelusuri pelangi versi Mbak Eni Martini dalam novel terbarunya Rainbow, terbitan Elex Media. Rasanya seperti betul-betul mengalami hujan yang membuat kuyup, namun setelahnya pelangi cantik tersenyum menampakkan diri.

Ini kisah sebuah rumah tangga baru. Pasangan muda yang serasi. Akna dan Keisha. Cantik dan ganteng. Saling mencintai. What a nice couple. Boleh jadi membuat iri, melihat kebahagiaan mereka. Namun sebuah rencana yang terancang sempurna, perayaan romantis memperingati first anniversary mereka, tiba-tiba porak poranda. Sebuah kecelakaan merenggut kebahagiaan yang tampak di depan mata. Tidak ada perayaan romantis, yang ada hanya menangis. Akna, suami gagah dan selalu menjadi pelindung, kehilangan kaki kanan karena amputasi yang tak terelakkan. Berubah ia, menjadi rapuh bak kayu lapuk yang dimakan jaman.

Bagaimana perjalanan rumah tangga mereka kemudian? Mampukah Akna bangkit dari keterpurukan akibat perasaan tak berguna sebagai orang cacat? Berhasilkah Keisha menyemangati Akna untuk kembali menjadi seorang suami normal? Apa saja yang Keisha lakukan demi tetap menjaga kondisi perekonomian keluarga karena Akna dirumahkan dari perusahaan?

Lika-liku perjuangan Keisha, jatuh bangunnya menghadapi Akna yang seketika berubah bagai monster, dirangkai dalam jalinan cerita yang manis. Penokohan berhasil dibangun rapi. Akna yang matang menjadi Akna yang hancur, Keisha yang selalu dimanja menjadi Keisha yang mandiri, lalu para sahabat, Emi dan Romi, semua hadir dalam porsi yang pas.

Meski novel ini tergolong ringan, namun ia membawa pesan moral yang dalam. Betapa sebuah keadaan tenang bisa berganti penuh gejolak. Musibah yang datang bisa sama sekali tak terprediksi. Dan kita semua harus siap untuk itu. Tidak berhenti pada titik pasrah, namun harus disertai dengan kesediaan untuk berdamai dengan takdir. Mustahil Tuhan membiarkan hambaNya terseok sendiri. Ketika kita sungguh-sungguh berusaha keras, positif thinking, disertai doa yang tak putus, maka yakinlah pintu akan terbuka menuju hikmah kebaikan yang melimpah. Setidaknya ia mendewasakan.

Novel ini jauh dari monoton. Di dalamnya ada sisi-sisi romantis yang maniiis dan lembuut, ada pula sisi komikal yang riang, kocak-kocak bergembira. Pada bagian yang mengharu biru, tak terasa pipi membasah, ga mengekspos banget kesedihan, tapi pilunya terasa halus dan menyentuh.

Selain manis legit pahit getir masalah rumah tangga, lengkap dengan konflik campur tangan mertua, novel ini pun menghadirkan sisi indah persahabatan. Sikap Emi, sahabat Keisha, dan Romi, sahabat Akna, tulusnya terasa sampai ke hati.

Kalau bicara kekurangan, tentu tak ada gading yang tak retak. Retakan yang terdapat dalam novel ini masih biasa-biasa saja. Aku hanya sedikit terganggu dengan beberapa typo. Lalu beberapa ‘hehehe’.. rasanya ga perlu ada deh, Mbak Eni.. :)  Oh ya, panggilan Keisha, juga agak-agak membingungkan. Panggilan sayang dari Mamanya, Kekei atau Keike? Atau dua-duanya? Untuk cover, kupikir akan lebih cakep kalau ada ilustrasi pelangi yang melatari. Meski cover yang sekarang ini pun sudah cukup menawan dan eye catching.

Ada lagi yang bikin novel ini asyik. Cuplikan lagu-lagu turut mewarnai beberapa adegan. So sweet deh. Dan, setelah baca novel ini, aku sempat berpikir jadi novelis itu kayaknya susah ya. Deskripsinya sangat detil dan untuk beragam hal. Di novel ini, ketika membicarakan tentang masakan, segala bumbu dijelaskan dengan gamblang. Baik itu masakan Perancis, pun masakan dari Tanah Batak. Lalu tentang seluk beluk online shop, tentang rupa-rupa barang keperluan bayi, sampe proses pemakaian kaki palsu. Semuanya rinci. Penulis benar-benar menguasai materi. Tapi ada beberapa juga yang rasanya terlalu ‘cerewet’.. mungkin ini cetusan alam bawah sadar sang penulis yang memang enerjik dan lincah berbicara.. :)

Salut buat Mbak Eni Martini yang berhasil dengan cantik mengemas kisah Akna-Keisha dalam sebuah novel yang keren. Buat yang penasaran sama novel ini, sila segera memburunya di Gramedia dan toko buku lainnya.
Moga kita bisa mengambil hikmah dari setiap kejadian yang hadir dalam setiap episode kehidupan. Bisa menikmati cantiknya pelangi yang muncul di ujung hujan. Meski konon kini tak setiap hujan menyisakan pelangi, namun pelangi hakiki ada di dalam hati yang ikhlas.

Trimakasih Mbak Eni, yang senantiasa menghadirkan pelangi dalam persahabatan kita..