Rabu, 23 Oktober 2013

Karena Hidup Adalah Pilihan Rasa

Judul Buku                :  The Mocha Eyes
Penulis                        :  Aida MA
Penerbit                      :  Bentang Pustaka
Terbit                         :  Cetakan I, Mei 2013
Tebal Buku                :  x + 250 halaman
ISBN                           :  978-602-7888-32-6

Blurb:
Komposisi : Cinta, Kejujuran, Kelembutan, Perubahan, dan Moka
Cara penyajian : Tuangkan kejujuran, kelembutan, perubahan, dan moka ke dalam cangkir. Tambahkan 180cc air cinta, aduk, dan sajikan.
Kehadiranmu menjadi hal yang kutunggu
Kusesap kelembutanmu dengan senyuman, menafikan sedikit pahit karena ternyata terasa manis. Kamu dan aku seperti dua hal yang terlihat senada, tetapi berbeda. Karena aku justru menemukanmu dalam sepotong cinta.
Ya, menunggumu bersatu denganku, seperti mencari rasa cokelat dalam secangkir mochacino karena aku tak akan merasakan manis dalam setiap hal yang tergesa-gesa, kecuali semuanya tiba-tiba menghilang…

Review:
Perasaan manusia itu seperti cangkir, setiap saat diisi dengan berbagai macam hal. Kamu tidak akan merasakan bahagia, jika kamu membiarkan cangkirmu diisi penuh dengan sesuatu yang rasanya pahit. Rasa cangkirmu itu berdasarkan apa yang kamu pilih. (halaman 77)

Novel “The Mocha Eyes” merupakan rangkaian novel bertema “What’s Your Love Flavour” besutan Penerbit Bentang. Berkisah tentang seorang gadis bernama Muara, yang terkungkung dalam hidup dengan rasa kopi pahit hingga kemudian ia menemukan sebuah rasa lain, yaitu moka.

Awalnya Muara adalah mahasiswi yang cerdas, periang, dan ramah. Tiba-tiba sebuah peristiwa buruk merenggut semua keceriaan dan semangat hidupnya. Seorang laki-laki psikopat merampas kegadisannya. Hidup Muara pun berubah total. Ditambah dengan kematian ayahnya akibat shock atas apa yang menimpa dirinya, maka tenggelamlah Muara dalam dunia yang muram berteman kepulan asap rokok dan kopi pahit.
Muara kemudian menjalani hidup terhuyung-huyung dengan image baru sebagai gadis yang aneh, kaku, dan dingin. Ibunya tak henti menasehati agar putri semata wayangnya itu kembali menjadi Muara yang dulu. Namun bukan hal yang mudah bagi Muara melepaskan diri dari trauma dan berdamai dengan masa lalu yang kelam.

Berturut-turut tiga lelaki mengepung pikirannya. Damar, kekasih yang memutuskan hubungan pacaran secara sepihak, meninggalkan luka yang dalam di hati Muara. Lalu, Genta, store manager di tempatnya bekerja, yang jatuh hati kepadanya. Terakhir, Fariz, trainer dan terapis yang ditemuinya saat mengikuti training motivasi yang diadakan perusahaan tempatnya bekerja.

Bagaimana perjalanan hidup Muara selanjutnya, akankah dia berubah? Sanggupkah Muara memaafkan sesuatu yang tidak mungkin diubah lagi? Kepada siapa hatinya menjatuhkan pilihan?

Novel ini cukup berhasil mengambil dua sudut pandang. Sudut pandang pertama, aku sebagai Muara, dan sudut pandang ketiga, penulis menceritakan beberapa tokoh dengan bebas. Karakter Muara tergambar kuat sebagai gadis yang dibelit trauma, meski di bagian akhir perubahan Muara terasa agak tergesa.  Di bagian lain, karakter Fariz yang womanizer, bisa ditangkap dengan baik.

Profesi Muara di restoran fried chicken terdeskripsikan cukup detil. Pun hal-hal yang berhubungan dengan hipnoterapi, disampaikan dengan baik.

Cover novel ini boleh dibilang unik. Menampilkan menu board dengan menu spesial yang bertuliskan judul buku, yang bisa dibuka-tutup. Saat dibuka, tampak quote yang manis yang menggambarkan isi cerita. Bentuk huruf serta ilustrasi yang berkesan klasik, cocok dengan aroma moka.

Kisah cinta yang hadir terasa lembut, manis, menghunjam hati, namun tidak memaksa. “Muara… Ini perkara hatiku, bukan hatimu. Beri kesempatan pada hatimu untuk tidak terbeban dengan hatiku. Biar hatimu menemukan jalannya sendiri. Walaupun aku ingin ada simpangan di jalanmu menuju hatiku.” (halaman 183)

Sejatinya sebuah buku memberikan pencerahan kepada pembaca. Di dalamnya tersirat ajakan-ajakan kebaikan, kalimat-kalimat motivasi, yang menggiring pembaca untuk menemukan hikmah dari sebuah kisah kehidupan. Untuk hal tersebut, novel ini telah melakukannya tugasnya dengan baik. Bagaimana daya memaafkan serta cinta yang tulus bekerja pada diri seseorang, akan memantulkan kebaikan bagi dirinya. Karena dendam yang terus bercokol dalam hati dan pikiran, sama sekali tidak memberikan kontribusi positif. Ia terus memberati langkah. Kita lah yang memilih untuk langkah yang lebih ringan atau terus terbelenggu dendam.

Pada bagian lain, penulis menyuarakan kampanye anti rokok. Juga protes keras terhadap pelaku pelecehan seksual. Betapa jahatnya laki-laki biadab yang melakukan itu, karena perbuatannya yang tak senonoh mengakibatkan si korban hancur, pun keluarga terdekatnya tidak lepas dari menanggung akibat buruknya.


Akhirnya, hidup adalah pilihan rasa. Kopi pun tak selamanya pahit. Dengan sebuah usaha, sedikit coklat yang manis, bila dicampurkan ke dalam kopi akan menghasilkan rasa gurih moka. Maka, hidup tak melulu beraroma satu rasa. Kita sendiri yang menentukan racikan rasanya.

#dimuat di web indoleader (tanpa blurb)



Cinta yang Memerihkan

Judul Buku                :  Surga yang Terlarang
Penulis                        :  Leyla Hana
Penerbit                      :  PT Penerbitan Pelangi Indonesia
Terbit                         :  Cetakan I, September 2013
Tebal Buku                :  viii + 376 halaman
ISBN                           :  9786027800854
Kayak sinetron deh, serba kebetulan. Ungkapan itu kerap terucap sebagai bentuk keraguan terhadap sesuatu yang terjadi secara kebetulan. Senyatanya, kebetulan memang mewarnai kehidupan, entah sebagai tragedi atau bikin happy.
Novel “Surga yang Terlarang” mengisahkan kebetulan yang cukup mengenaskan. Ini kisah sepasang muda yang saling jatuh cinta, tak terucap lewat kata, saling mencintai dalam diam. Dalam perjalanan waktu, mereka kemudian terpisah oleh jarak yang panjang membentang. Masing-masing saling tak mengetahui kabar. Si gadis merasa tak mungkin lagi berharap. Ia pun menerima pinangan seorang lelaki melalui ‘perjodohan’ yang dicomblangi oleh guru mengajinya.
Saat hari ‘H’ pernikahan yang dinanti, serasa sepucuk sembilu menyayat hati. Si gadis terperangah melihat rombongan keluarga suami, tepatnya adik semata wayang suami, ternyata adalah pemuda yang didamba selama ini. Demikian pun sang adik ipar, terbelalak menatap wanita pendamping kakaknya adalah wanita yang tak pernah beranjak dari hatinya.
Menyesakkan, bukan? Leyla Hana, cukup apik merangkai peristiwa kebetulan ini menjadi kisah yang manis. Dengan kalimat-kalimat sederhana, kisah ini terbangun tanpa kesan didramatisir.
Bagian awal novel ini membawa pada nostalgi suasana kegiatan rohis di kampus. Aktivitas ikhwan-akhwat yang terjaga rapat dari percik-percik asmara, saling menundukkan pandangan, hijab yang kukuh ditegakkan, dan semacamnya. Tapi tak ayal, tetap saja ada kasus ‘kecolongan’. Bahkan menimpa petinggi organisasi rohis tersebut. Sang Ketua dan Sekretaris.
Peristiwa semacam itu, sangat boleh terjadi di dunia nyata. Leyla Hana menggambarkannya secara alami. Betapa cinta datang tanpa diundang.  Ia menelusup perlahan, menyebar ke segenap penjuru hati, lalu mencengkeram kuat. Begitu cara cinta bekerja. Maka, berhati-hatilah, pada saat itu bisikan syaithan dapat mengaburkan segala. Karenanya, Islam menerapkan aturan yang jelas. Pembaca digiring halus pada kesadaran itu.
Kemudian melangkah ke jenjang pernikahan, bagaimanakah niat yang seharusnya melatari? Proses yang dilalui Nazma dalam mengarungi biduk rumah tangga bersama Furqon, menunjukkan bahwa ketika langkah suci yang menggenapkan separuh dien ini, diawali niat atas dasar ibadah kepadaNya, maka Allah akan menuntun pada jalan cinta. Setelah terikat ijab dan qabul, Allah tumbuhkan perasaan cinta yang indah pada sepasang sejoli ini.
Bagaimanakah rasa yang dulu pernah menghinggapi Nazma dan Faisal? Mampukah mereka bersikap wajar selayaknya saudara ipar? Masihkah getar-getar cinta bercokol dalam hati mereka? Penulis menuturkannya dalam simponi yang tenang, nyaris tanpa kejutan yang meletup-letup. Namun mendekati bagian akhir, pembaca mulai dibawa pada suasana yang membuat penasaran, karena dimunculkan konflik yang tak bisa diduga ujungnya akan seperti apa.
Novel ini direkomendasikan untuk dibaca oleh lajang yang bergerak usianya menuju jenjang pernikahan. Bagaimana berproses sesuai syariat, bagaimana menata hati dan berserah pada garis takdir akan jodoh yang telah ditetapkanNya, termasuk pula di dalamnya terdapat bagaimana langkah syar’i pada malam pertama sepasang pengantin baru. Bagi para suami dan istri, baik pula membaca novel ini, untuk berkaca dan evaluasi diri, lalu memperbaharui niat dalam mengarungi biduk rumah tangga yang islami.
Bicara setting, deskripsi yang disuguhkan penulis tidak mengecewakan. Suasana KRL, kota Bogor, budaya Betawi, adalah hal-hal yang berhubungan erat dengan penulis, maka pemaparannya cukup memenuhi standar. Demikian pula setting Malaysia dan Palestina, lumayan baik pengolahan hasil googlingnya. Sedang untuk deskripsi perasaan, tak akan dijumpai diksi yang menyentuh dan menawan kalbu. Namun pembaca dapat merasakan emosi yang dibangun, meski pilihan kalimatnya sangat biasa.

Sebagai novel islami, “Surga yang Terlarang” sangat memenuhi syarat. Di dalamnya bertabur nilai-nilai islami yang menambah wawasan pembaca, semisal tentang ekonomi syariah.  Juga menginspirasi untuk menjalani hari sebagai muslim yang tidak hanya sekedar. Maka membaca novel ini, bukan saja memenuhi kesenangan emosi, namun ia pun mengayakan ruhani.



dimuat di nabawia.com

Senin, 21 Oktober 2013

Yang Tercecer dari Diary Freya

Segalanya indah bersamamu
Pagi merekahkan senyum
Embun beningkan rasa  
Mentari pancarkan rona bahagia

Namun senja yang sedianya menjingga
Tiba-tiba tertutup awan gelap
Kita serentak kalang kabut
Eratkan genggaman jemari
Hati bertaut tak ingin pergi

Sayangnya
Asa tak mungkin jua beriring bersama

Maka
Dalam tikaman waktu yang memerih
Kita hanya bisa saling menatap
Karena rasa tak kuasa berbuat apa
Ia terkoyak terburai
Seiring air mata yang menderas
Seiring hati yang terus berdenyar

Bergetar menggemakan namamu

Selasa, 15 Oktober 2013

Peri Sayap Biru

Bos Peri menitahkan tugas berat. Freya tiba-tiba berada dalam dunia yang berbeda. Terpisah dari sahabat-sahabatnya, jauh dari tempat tinggalnya yang dulu. Ia merasa terlunta-lunta. Sepertinya Bos Peri menginginkan Freya menjadi peri yang tangguh, bisa bertahan dalam kondisi sulit, sempit, yang berbeda dengan dunianya yang dulu.

Dari hari ke hari Freya berusaha tetap ceria, meski itu kamuflase. Ia masih bisa tersenyum. Baginya, berkamuflase merupakan satu-satunya hiburan menarik. Ia berlagak di depan siapa pun seolah dunianya cerah ceria. Sementara kala sepi sendiri, ia tergugu dalam derasnya airmata.

Sehelai daun istimewa dimilikinya. Daun berwarna keperakan dengan permukaan lembut namun bertekstur kuat. Daun yang kerap diajaknya berbicara, dan itu membuat hatinya bahagia.

Namun rupanya ujian untuk Freya masih belum cukup. Kini, ia terancam harus terpisah pula dengan daun kesayangannya. Karena daun itu harus terbang melintasi semesta, dan Freya tidak mungkin ikut serta. Freya mengepak lemah. Peri bersayap biru itu masih serasa tidak percaya dengan apa yang dihadapinya

Rabu, 09 Oktober 2013

FF Iseng

Kehilangan itu pedih, Jendral. Meyrha membeku. Matanya menerawang.
Adhya mendekat. “Lu yakin, Rha… mau ninggalin dia?” tanyanya, hati-hati.
Meyrha bergeming. Tampak kristal di matanya. “Gue sayang dia, sayaaang bangeet,” lirihnya.
Tangan Adhya mengelus lembut bahu sahabatnya itu. “Rha… lu… jatuh cinta sama dia?”
“Ya, nggak lah… nggak mungkin!” Meyrha menepis tangan Adhya. “Dia tuh adik, gue kakaknya!”
Adhya terdiam. Ia memilih menenangkan Meyrha tanpa kata.
“Ya, kenapa gue harus ngelakuin hal yang gue ga suka, dan menjauh dari sesuatu yang bikin gue bahagia,” isak Meyrha.
Adhya menghela napas. Ini bukan saat yang tepat untuk mendebat. Ia tersenyum, membiarkan Meyrha mengeluarkan segala yang membuatnya sesak.
“Gue harus pergi dari kehidupan dia. Gue ga boleh ada lagi dalam kesehariannya.”
“Dia tahu rencana lu, Rha?”
Meyrha menggeleng lemah.
“Terus kenapa lu harus ninggalin dia? Kalian kan masih bisa deket kayak dulu…”
“Tapi sekarang segalanya beda, Ya. Ada rasa yang aneh saat gue deket sama dia. Meski itu hanya sebatas sms-an. Dia sama gue merasakan debar yang sama, getar yang tak biasa… dan itu ga boleh terus terjadi!” Bahu Meyrha bergerak naik turun menahan sedu sedan.
Adhya berusaha mencerna kalimat Meyrha yang cukup membingungkan baginya.
“Aku ga boleh egois, Ya… Aku ga boleh membiarkan dia terus hidup dalam dunia semu. Langkahnya masih panjang. Dia baru lulus kuliah. Aku… aku… harus mundur…” Suara Meyrha terbata.
Adhya tak kuasa mengucap apa pun. Meyrha dan ‘adik’nya itu memang tak mungkin bersatu, bahkan mungkin hingga matahari terbit di barat sekalipun.  
“Adhya, baru kali ini gue ngerasain kangen… gue kangeen Ya, kangeeen sama dia…”
“Lu yakin… lu bukan… jatuh cinta sama dia…?”
“Nggak, Ya! Nggak mungkin! Gue cuma ngerasa nyaman cerita sama dia!”
“Mungkin lu hanya belum terbiasa kehilangan kawan cerita, Ra!”
“Dia adik gue, Ya!”
Adhya tersenyum. Sahabatnya betul-betul sedang galau.
Tiba-tiba pembicaraan mereka ter-interupsi oleh pecahnya suara tangis batita. Celananya basah. Saat itu ia sedang tidak menggunakan diapers. Meyrha sigap melepas celana yang basah, sambil berseru, “Queensha, bisa tolong Mama ga, ambilin celana adek…?”

Seorang gadis kecil usia 7 tahun, tergopoh masuk kamar dan menyerahkan celana adik kepada Meyrha. Ia duduk di dekat adiknya yang tampan itu. Kepalanya yang semula menunduk, perlahan mendongak. Wajah princess-nya menatap lekat, “Ma, besok family day di sekolah. Aku malu… nggak punya Ayah…!”

Sabtu, 28 September 2013

Dari catatan Harian Freya

Mungkin bisa menjadi semacam kebanggaan tatkala orang lain melihat kita hebat. Perspektif hebat bisa beraneka rupa. Ada yang hebat tersebab peningkatan karir, kemajuan si buah hati, kesuksesan pasangan, dll. Tapi ada pula yang parameternya bukan merupakan hal yang kongkrit semacam contoh tersebut. Boleh jadi, seseorang dianggap hebat, ketika ia mampu tegar dan sabar menghadapi aneka ujian dan tantangan hidup yang teramat berat.

Seorang teman, Nyi Penengah Dewanti, gadis belia yang menjadi TKW di Hongkong, demikian berbelit liku hidupnya sehingga mengundang decak kagum sekaligus haru pada perjuangan dan pengorbanannya. Kegigihannya serta kecerdasannya mengantarkan ia menjadi seorang penulis handal. Hebat bukan? PRT di tanah air, rasanya mana ada yang bisa se-keren itu prestasi menulisnya?

Di balik kehebatannya, kekuatannya, ketegarannya, tak ada yang tahu persis kedalaman hatinya. Apakah ia se-kuat yang ditampakkannya? Rasa-rasanya sih iya. Sulit menolak praduga bahwa Nyi adalah seorang gadis yang luar biasa tegar dan sabar. Sabar dalam definisi Aa Gym, yaitu sabar yang aktif. Dalam tekanan penderitaan, baik fisik maupun mental, ia terus sabar berjuang, bertahan, ber-aksi positif, sehingga tampil dengan prestasi yang membanggakan.

Lalu, apakah aku demikian? Hoho.. rasanya jauh lah memperbandingkan aku dengan gadis itu. Namun setidaknya, bagi yang mengetahui kemelut yang kuhadapi, hampir bisa dipastikan mereka akan melontarkan puja dan puji, bahwa aku kuat menghadapi cobaan berat. Benarkah begitu?

Sayangnya tidak. Aku, di dalamku, hancur lebur. Aku bisa menangis tiba-tiba, mendadak terbahak, seketika meledak meluap emosi memarah-marahi siapa saja. Tapi tentu yang lebih sering terjadi adalah aku menangis.

Ya, aku cengeng, aku lemah, aku payah! Aku tidak kuat, aku tidak tegar, aku tidak sabar. Semua yang dilihat orang itu kamuflase. Aku sangat menyedihkan, aku sangat mengenaskan.

Aku tahu, seperti halnya semua orang juga tahu, bahwa Allah tidak akan sekali-kali menimpakan cobaan, di luar kesanggupan hambaNya. Tapi nyatanya, terbetik pikir, bahwa ini terlalu berat untukku. Aku lelah, aku capek. Dan yang paling melelahkan adalah bahwa aku tidak boleh mengatakan kalau aku lelah. Aku harus selalu kuat. Dan aku tidak kuat untuk itu.

Seorang teman, Dian Iskandar, pernah mengatakan bahwa seseorang yang berempati sesungguhnya ia tidak memahami benar apa yang dirasakan oleh orang lain, selama ia tidak mengalaminya. Seorang yang selalu lancar memberi ASI kepada bayinya, tidak akan tahu persis bagaimana duka sang ibu yang kesulitan bahkan tidak bisa memberikan ASInya kepada si buah hati. Seorang yang menikah di usia muda, tidak akan sepenuhnya merasakan apa yang berkecamuk dalam benak teman yang hingga melewati jauh usia 30 belum bertemu jodoh. Seorang yang pasca pernikahan langsung mendapat momongan, tidak juga akan memahami pedihnya hati kala mendamba kehadiran si kecil hingga hampir mendekati tahun ke-10 pernikahan.

Aku sungguh merasakan kebenaran rentetan kalimat itu. Orang-orang di sekitarku, meski dengan segala kebaikan dan perhatiannya, yang  aku sangat berterima kasih untuk itu, adakalanya mereka terlalu mudah mengucap kata ‘sabar ya’ padahal kata itu luar biasa sulit aku junjung.

Nyata bukan? Aku cengeng. Aku merasa terpuruk. Tidak punya rumah, apalagi mobil. Barang-barang semacam tv, kulkas, furniture, dll terjual sudah. Perhiasan apalagi, ludes semua. Tabungan terkuras, hingga tabungan yang paling pribadi dan sangat disayang: tabungan haji. Pun asuransi-asuransi pendidikan anak-anak, tak ada lagi yang bersisa. Pekerjaan dan karir, melayang. Maka, kujalani hari dengan rupiah yang diketat-ketat. Menerima belas kasihan dan tatapan iba dari orang-orang, sungguh menyakitkan. Ditambah anak-anak yang menjelang usia remaja, perangainya betapa membingungkan. Aku takut, sungguh takut. Bagaimana mereka menghadapi hari-hari remajanya, hanya bersama dengan seorang ibu yang limbung seperti aku.

Sejumlah tekanan yang kuterima, membuatku semakin merasa tertindih beban berton-ton beratnya. Dan yang lebih membuat sesak adalah, tidak semua beban itu bisa aku bagi. Ada hal-hal yang sangat tidak mungkin aku ceritakan kepada siapa pun. Karena itu terlalu gila. Terlalu akan membuat orang lain menganga. Dan bila sampai terdengar oleh beberapa pihak yang terkait, boleh jadi ia pingsan dalam waktu lama.

Saat suasana hati benar-benar dikepung duka yang melelahkan,dada terasa ingin meledak. Apalagi memikirkan bila semisal mengatakan kepada seseorang bahwa aku sedang gundah, lalu ia bilang, “emangnya ada apa lagi?”

What? Ada apa lagi? Pliiis deh, jadi dikira masalah yang lalu-lalu itu sudah usai, dan sekarang ‘ada apa lagi’? Maka, aku pun lebih memilih diam. Sambil membayangkan aku lari dari semua ini, dan menemukan sebuah gua yang tidak diketahui siapa pun. Aku tenang bersembunyi di dalamnya, menghilang dari dunia nyata.

Tapi ya, tentu saja itu cuma khayalan. Hidup terus berjalan. Membiarkan rumah berantakan, tak peduli segalanya kotor dan tak sedap dipandang, tak bisa terus dilakukan. Nekat kembali pada gaya hidup lama yang berbelanja segala rupa demi kesenangan anak-anak, memenuhi selera lidahnya, adalah tindakan yang akan menyulitkan kelak. Rupiah yang tersedot. Tabungan semakin menipiiis. Dan ujungnya kembali hampa yang meraja.

Aku harus tetap melengkungkan senyum, meski semu. Aku harus tetap membalas senda dan canda, walau pura-pura.

Ah, sudahlah. Mari, kita lihat waktu yang bicara. Akan kemana ia membawaku pada akhirnya.



# Saya hanya bisa melangitkan doa, semoga Freya bisa kembali menjadi dirinya, menemukan bahagianya. I love U, Freya..

Kamis, 26 September 2013

#Cerfet PELANGI RINDU -6-

Cerita pertama

Cerita kedua

Cerita ketiga

Cerita keempat

Cerita kelima

“Jiaaah.. naksir loe?”
“Sembarangan… “ Lya mendelik sebal pada Gandhi. Sesaat kemudian wajahnya kembali serius. Kali ini ia menatap Gandhi. “Dhi, loe nggak perhatiin kalau sohib loe, si Raga, itu punya keanehan?”
Gandhi mengernyitkan dahi. “Maksud loe?”
“Raga punya dunia sendiri di luar dunia nyata-nya. Dan ia terperangkap di dalamnya.” Pandangan Lya melayang ke arah Raga yang tengah menatap hujan dari balik jendela restoran yang sedang sepi.
“Ya ampun, Li… Lagak loe udah kayak psikolog beneran. Padahal kuliah baru tiga semester malah loe tinggalin,” ledek Gandhi.
“Dia kayaknya mengidap gangguan halusinasi. Ini suatu gejala penyakit kejiwaan yang serius. Biasanya dialami oleh penderita schizophrenia.” Lanjut Lya, tanpa peduli pada ekspresi Gandhi yang tampak malas mendengarkan penjelasannya.
“Haduh, Li… jangan-jangan loe sendiri yang sakit jiwa,” ujar Gandhi sambil ngeloyor pergi, meninggalkan Lya yang masih tampak penasaran melihat kebiasaaan Raga berdiri di dekat jendela sambil memandang ke luar.
Sementara itu, Raga tak menyadari dirinya sedang dibicarakan, matanya tetap menatap lurus ke arah jalan. Hujan mulai tipis. Hati Raga bungah. Pelangi yang didambanya, mulai samar terlihat di bentang langit. Senyumnya mengembang.
“Kalya…” desisnya.
Tiba-tiba pundaknya ditepuk. Raga terlonjak kaget.
“Kayaknya kaget banget, Ga. Makanya jangan suka ngelamun,” seloroh Gandhi.
Raga memaksakan diri menarik bibirnya untuk tersenyum. Tanpa sadar ia kembali berpaling ke luar.
Gandhi mendekat ke arah jendela. “Kamu menunggu seseorang?”
Raga terperangah. Gelagapan ia menjawab, “Eh, ng.. nggak kok.”
“Yup! Kalau begitu, kamu temani aku ke daerah Kemang, yuk… Ada restoran temenku baru buka. Ia mengundang kita. Sekalian kita sharing lah. Temenku itu udah punya beberapa cabang. Siapa tahu pengalamannya ada yang bisa kita terapkan.”
Raga bergeming. Ia membayangkan akan kehilangan kesempatan berjumpa dengan Kalya, yang dirindunya. Pelangi hadir tak lama. Bagaimana mungkin ia melewatkan kesempatan yang amat sangat dinantikannya itu. Hampir gila rasanya menahan rindu. Aku harus ketemu Kalya, kali ini.
“Hei, kok malah melamun lagi? Udah yuk, kita pergi sekarang!” ajak Gandhi.
“Ng.. gimana kalau Lya saja yang menemanimu?” Raga mengajukan alternatif. Ia semakin gelisah. Pelangi semakin jelas menampakkan diri. dan retinanya menangkap sosok perempuan tengah berjalan anggun di seberang jalan. Raga tampak panik.
“Sebentar Dhi, sorry… aku ke luar sebentar,” ujar Raga sambil melesat ke luar, tak memedulikan panggilan Gandhi. Nama Kalya berdentum-dentum di benaknya. Ia merasa harus mengejar Kalya, jangan sampai hilang di tengah para pejalan kaki yang mulai ramai hilir mudik, selepas hujan.
Raga berlari secepat yang ia bisa. Sosok Kalya dilihatnya terus berjalan menyusuri deretan toko. Hingga sosok itu berbelok, Raga pun kehilangan jejak. Kalya lenyap setelah berbelok. Raga berusaha memaksa matanya untuk bisa melihat lebih jauh, namun sia-sia. Bayangan sosok Kalya tak berbekas.
Gontai Raga kembali ke restoran. Gandhi yang masih terheran-heran, segera memberondongnya dengan pertanyaan. “Dari mana kamu, Ga? Siapa yang kamu kejar tadi? Temanmu?”
Pandangan Raga kosong. Ia menjawab lemah. “Iya. Temanku.”
“Yang mana sih tadi orangnya?” Gandhi penasaran.
“Kamu tadi melihat perempuan memakai baju putih dengan nuansa pink muda? Rambutnya dilepas melewati bahu.”
Gandhi menelengkan kepalanya, berusaha mengingat. “Kayaknya nggak ada deh tadi.”
Gandhi mulai berpikir, jangan-jangan yang dikatakan Lya tadi benar. Raga mengalami gangguan halusinasi.
“Udah yuk, kita berangkat saja sekarang.” Gandhi melangkahkan kaki ke pintu.
“Ok, sebentar aku ambil jaket dulu.” Raga berbalik ke belakang. Pada saat itu matanya bertubrukan dengan Lya yang sedang memerhatikannya. Lya salah tingkah. Ia menutupinya dengan melemparkan senyum. Senyum termanis yang ia miliki. Raga membalas acuh tak acuh. Sempat terlintas rasa heran, mengapa perempuan itu memandanginya begitu rupa. Tapi segera ditepisnya.
****
Lya menatap Gandhi antusias. Perempuan berkacamata yang memiliki garis wajah oriental itu tampak bersemangat dengan penjelasan Gandhi. Ia tengah mengorek keterangan tentang Raga. Naluri psikologinya muncul. Meskipun sekarang ia sedang cuti kuliah, minatnya pada hal-hal yang berbau psikologi tetap menyala. Ia ‘terpaksa’ memilih cuti demi mengumpulkan rupiah agar kuliahnya kelak bisa dilanjutkan lagi.
“Sepertinya misteri ini mulai terkuak,” cetus Lya.
Gandhi terbahak. “Halah! Loe tuh calon psikolog tapi sok-sok jadi detektif juga , ya.”
“Eh, tapi bener kan, Raga punya pengalaman masa lalu yang amat membekas. Tanpa disadarinya, efek rasa dari pengalamannya itu mengendap di alam bawah sadar, dan akan terangkat ke permukaan saat ia menemukan sesuatu yang dianggapnya menghubungkan ia dengan seseorang atau sesuatu di masa lalunya itu,” papar Lya.
“Gile.. loe pinter juga, Li!” ledek Gandhi. “Tapi gue nggak nyangka, kalau perpisahannya dengan Laras dulu itu sampai bikin dia aneh kayak gitu.”
“Jangan dianggap aneh lah. Hal-hal seperti itu memang terjadi. Dan kita harus menolongnya. Kasihan kan, kalau dia terus menerus terkungkung dengan masa lalunya itu.”
“Tapi ngapain ya, kelakuan anehnya itu, yang selalu bengong melihat ke luar, dilakukannya setiap habis hujan? Kayak kemarin itu, tiba-tiba lari mengejar seseorang, padahal nggak ada.”
Mata Lya membulat. Dia menegakkan kepala. Jari lentiknya mengetuk-ngetuk dagu lancipnya. “Hmm.. terutama saat muncul pelangi…”
Seketika Gandhi tertawa. “Jangan aja, loe bilang kalau Raga mencari bidadari yang turun dari langit, meluncur pake pelangi.”
“Mungkin Laras-nya Raga itu cantik kayak bidadari ya…” Lya setengah bertanya memandang ke arah Gandhi.
Gandhi tersenyum. “Iya sih… dia cantik banget, dan lembut!”
Lya kembali mengurai analisanya. “Mungkin itu sebabnya Raga sangat terpukul. Karena Laras yang cantik dan lembut itu ternyata mengkhianatinya. Dia nggak percaya kalau Laras-nya sanggup berpaling ke lain hati.”
“Tapi nggak jelas juga sih, apa memang benar waktu itu ada orang ketiga di antara mereka,” sergah Gandhi.
*****
Raga menyesap hot capuccino-nya yang tinggal separuh. Di depannya, Gandhi, asyik menyendok pepperoni cheese fusilli ke mulutnya. Raga menghela napas panjang.
“Sorry, bukan maksudku membuka luka lama.” Suara Gandhi memecah keheningan yang tadi sempat tercipta.
“Ah, nggak apa-apa, kok. Aku sudah melupakan Laras. Meski kemarin aku sempat bertemu dia,” ucap Raga. Pandangannya menerawang. Entah, apakah waktu itu sikapnya yang membeku telah menyakiti hati Laras. Hati perempuan terkasihnya, dulu.
“Kamu ketemu Laras?” Gandhi ingin memastikan pendengarannya.
Raga mengangguk.
“Terus?”
Raga terdiam. Ia tak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan Gandhi. Saat pertemuan itu, ia tengah dikepung rindu kepada Kalya. Ia tak menggubris Laras.
“Ga… kamu nggak ingin kembali kepada Laras? Apa benar… dia dulu…” Gandhi menggantung pertanyaannya.  Ia tak menemukan kata yang pantas untuk ‘berselingkuh’ bagi Laras yang cantik dan lembut bak bidadari.
“Aku nggak tahu. Kemarin ia ingin menjelaskan sesuatu. Katanya tentang masa lalu. Katanya ia selalu menungguku. Tapi… entahlah, namanya sudah tercerabut dari hatiku.”
Kembali hening. Tiba-tiba suara hujan masuk ke gendang telinga Raga. Spontan ia melihat ke arah jendela. Titik-titik air berebutan turun menyentuh bumi. Raga melengkungkan senyum. Hatinya dijalari rasa bahagia yang halus. Harapannya terbit, akan ada pelangi nanti yang mengantarkan Kalya ke hadapannya.
“Kalya…” desis Raga.

Gandhi terenyak mendengar Raga menyebut sebuah nama. Kalya? 

******

Alhamdulillah.. selesai sudah melanjutkan cerfet ini untuk putaran pertama. Putaran selanjutnya, saya serahkan tongkat ini kepada Mak Indah aja yaa..
DL nya hari Sabtu pukul 15.00. Makasiiih.. dan maaaf, kalau ceritaku kurang berkenan.. :)