Rabu, 26 Februari 2014

Langkah yang Mana?

Pernahkah kawan, kau merasakan bingung menentukan langkah yang mana yang harus ditempuh? Ini bukan soal harus memilih menu harian yang kerap membuat para emak bingung setiap hari, juga bukan soal harus memilih anak yang mana yang lebih dulu dibelikan sepatu, tapi ini benar-benar langkah yang menentukan masa depan, tidak hanya diri sendiri namun anak-anak yang menjadi tanggung jawab dariNya.

Sekarang aku mengalaminya. Setelah selama ini hidupku, seberat apa masalah menimpa, namun rasanya belum pernah aku sebingung seperti saat ini. Ketika kehidupanku berubah begitu rupa, aku masih bisa menjalaninya meski tersaruk-saruk. Namun semakin jauh langkah kutempuh, aku kini bingung, hendak ke mana sebenarnya aku membawa diriku dan anak-anak.

Beragam pertanyaan berkelindan di benak. Inikah sesungguhnya jalan yang kuinginkan? Mampukah aku menempuhnya? dan aneka pertanyaan yang lebih mengarah ke kekhawatiran.

Selama ini aku melangkah sendiri, menopang hidupku dan keempat anakku. Tertawa, tersenyum, menangis sendiri. Bilangan tahun berlalu, aku tertegun. Akan selamanyakah begini? Bagaimana jalan yang akan kutempuh padahal mimpiku adalah berubah kembali, tidak tetap berada dalam kondisi sulit (baca: miskin) begini..?

Kadang aku bertanya-tanya, sudah benarkah apa yang kuutarakan kepadaNya? "Ya Allah, aku menerima segala ujian yang Engkau berikan. Aku pasrah dan berserah kepadaMu. Sungguh aku yakin, betapa tiada sulit bagiMu menjadikanku kembali mengantongi uang berlebih, tinggal di dalam rumahku sendiri lagi, menyetir mobilku sendiri lagi, memiliki beberapa perhiasan lagi, memegang buku tabungan yang  bersaldo cukup lagi, makan enak lagi, jalan-jalan lagi, etc, etc. Aku pun tidak lagi mempermasalahkan kesalahan yang telah dilakukannya. Aku memaafkannya.. tapii, maaaf ya Allah.. sungguh maaaf.. aku tidak ingin kembali lagi kepadanya..."




Minggu, 02 Februari 2014

Kasih Ibu Sepanjang Jalan


Menjadi seorang Ibu itu luar biasa anugerah tak terbandingkan. Mengalami getaran dan gerak kehidupan sebentuk janin dalam rahim, benar-benar karuniaNya yang bernilai bahagia seluas samudera. Apakah kebahagiaan akan terus menyertai seorang ibu saat si buah hati telah lahir ke dunia? Sejatinya, iya. Membersamai buah hati adalah saat-saat yang tak kan terganti.

Sayangnya, keharmonisan hubungan ibu dan anak, tidak jarang menemui halang dan rintang. Anak yang beranjak remaja, bukan lagi anak manis seperti tahun-tahun silam. Gesekan dan friksi boleh jadi tak terhindarkan. Perubahan sikap si buah hati bisa saja membuat ibunda terbelalak. Suaranya meninggi dengan mata menyorot tajam disertai argumentasi yang seolah tak ingin dibantah. Bila sudah begini, hati ibunda tergugu pilu. Merasa diri menjadi ibu yang gagal.

Ibu yang gagal? Yup! Itulah yang saya rasakan. Mendapati anak kedua, laki-laki, bertubi-tubi menuai masalah. Ketika SD, saya rutin dipanggil guru BK. Konsultasi dijalani, solusi dicari. Tidak kurang-kurang saya pun konsultasi dengan psikolog. Kemudian saya temui juga seorang motivator dan terapis yang memiliki keahlian hipnotis. Anak saya dihujani motivasi, dan mendapat terapi hipnotis.

Begitu keluar dari tempat praktik, anak saya terbahak, “Hahaha.. mau sok-sok ngehipnotis aku...” Dan saya hanya mampu mengurut dada, menyaksikan anak saya mengolok-olok sang terapis. Ternyata anak saya tadi hanya berpura-pura. Sebelumnya, guru BK di sekolahnya, yang juga mengantongi sertifikat terapis hipnotis, menyampaikan bahwa anak saya tidak bisa dihipnotis karena tingkat konsentrasinya yang sangat rendah.

Dengan segala usaha yang saya lakukan, termasuk mundur dari beberapa organisasi, prestasi belajar anak saya tetap terjun bebas, emosi negatifnya sering meledak, dan kegandrungannya pada game terus menebal. Saya nyaris frustrasi. Benar-benar serasa tertampar. Saya yang kepala sekolah, penggiat kegiatan penyuluhan parenting, aktif di masyarakat dan organisasi sosial serta organisasi profesi, ternyata tak berdaya menghadapi ulah anak sendiri. Di mana-mana saya berkoar tentang pola asuh yang baik, sinergi ayah dan bunda, komunikasi terbuka, dan sebangsanya. Namun semuanya mental ketika diterapkan pada anak saya.

Saya terpuruk. Perasaan tertekan. Maka mungkin itu sebabnya saya jadi tidak bisa rileks, selalu tegang menghadapi anak saya itu. Akhirnya suasana malah bertambah panas. Duh...

Tidak bisa dipungkiri, saya pun merasa malu. Ini membuat saya semakin down. Bolak-balik saya berdiskusi dengan guru-guru di sekolah anak saya, mereka menyemangati saya, tapi perubahan tak kunjung nampak. Hingga saat wisuda hafalan Quran, anak saya tidak bisa ikut karena belum lulus. Mati-matian saya menahan malu di hadapan teman-teman sesama orangtua siswa, apalagi saya juga adalah pengurus inti komite sekolah.

Keadaan bertambah buruk ketika kemudian rumahtangga saya pun hancur, tersebab sesuatu dan lain hal. Anak saya semakin sulit ‘dipegang’. Ombak yang hebat seperti menerjang lalu menghempaskan saya dengan kejam di batu karang yang keras. Rasanya semesta menuding saya sebagai ibu yang tidak becus. Setelah gagal sebagai ibu, saya pun gagal mempertahankan seorang ayah baginya.

Hingga kemudian saya mendengar cerita teman baik saya tentang adik laki-lakinya. Sang adik sejak kecil hingga masa kuliah seringkali berbuat onar. Ibunya merasa ingin mati saja, saking itu anak seakan tiada henti membuatnya pusing. Namun apa yang terjadi berbilang tahun kemudian? Kini anak nakal tersebut menjadi kebanggaan bahkan sandaran keluarga. Ia menjadi pembela utama keluarga. Tutur  teman saya, mungkin itu tersebab doa ibu yang bergumpal-gumpal terus berdesakan menuju langit, sehingga saat dikabulkanNya, turun deras bagai hujan.

Belum lama juga saya membaca sebuah kisah inspiratif tentang seorang pemuda 20 tahun yang ditinggal pergi untuk selamanya oleh ibundanya. Semasa hidup ibunya, ia adalah troblemaker, bahkan ijazah SMA pun luput didapat. Seiring waktu, tumbuh kesadarannya untuk menjalani hidup sesuai harapan ibunya, dulu. Setapak demi setapak ia melakukan usaha mandiri, hingga lambat laun usahanya berkembang. Keberhasilan secara finansial pun diraihnya. Demikian juga perilakunya terus bertambah sholeh.

Saya membeku. Sesaat tercekat. Eureka. Jawaban telah didapat. Saya harus melewati itu. Menempuh perjalanan mengalahkan waktu. Dengan terus mengais kesabaran dan mengembuskan doa seiring napas. Demi ananda tercinta yang sekarang duduk di kelas delapan. Hidup saya kini untuk anak-anak saya. Kasih sayang hanya buat mereka. Bukankah kasih ibu sepanjang jalan? Dan perjalanan masih panjang...

(#GA_PMW)


Tulisan ini diikutsertakan dalam GA Perjalanan Mengalahkan Waktu


Original Soundtrack novel Perjalanan Mengalahkan Waktu, lyric and music by Jalu Kancana, ada di sini

Jumat, 31 Januari 2014

Jauhi Mubazir Bukan Kikir


“Kita nggak semiskin itu kali, Ma!”

Duh, protes anakku tajam banget. Lalu aku pun menjelaskan bahwa gerakan penghematan ini bukan tersebab kemiskinan yang tengah melanda. Halah! Tapi karena pemborosan yang selama ini tanpa sadar dilakukan, termasuk ke dalam perbuatan mubazir. Dan orang-orang golongan mubazir ini disebutkan dalam Al-Quran sebagai kawannya syaithan. Hii.. Na’udzubillah.

Anak-anakku memang sering sembarangan dan seenaknya memperlakukan bahan makanan dan keperluan mandi. Misalnya, kecap yang sudah hampir habis, dengan santai dilempar ke tempat sampah. Padahal seperti yang kubilang, ‘hampir habis’ jadi belum habis, masih ada yang tersisa cukup lumayan di dasar botolnya.

Begitu juga dengan barang-barang keperluan mandi. Shampo dan sabun liquid yang isinya masih ada tersisa di dasar botol, langsung saja botolnya menjadi penghuni tempat sampah.
Ketika aku menegur, anakku menjawab, “Beli aja yang baru, Ma!” Lalu kujawab, “Sayang kan, masih ada sedikit, kok dibuang-buang?” Dan anakku menyahut dengan kalimat yang tertera di awal tulisan ini, dengan ditimpali oleh adiknya bahwa aku pelit.

Aku pun mencontohkan bagaimana caranya agar tidak mubazir pada sesuatu yang masih bisa digunakan. Botol-botol kecap dan saus yang isinya tinggal sedikit, aku jungkirkan posisinya 180 derajat, sehingga isinya akan mengumpul di leher botol, dan akan membuatnya mudah untuk dituangkan.


Begitu juga dengan shampo dan sabun liquid. Saat isinya sudah hampir habis, segera aku balikkan botolnya. Posisi seperti ini benar-benar memudahkan dalam penggunaan shampo dan sabun tersebut. Karena cairannya menjadi lebih cepat mengalir.


Setelah posisinya dibalik , rata-rata pemakaian masih bisa sampai 2-3 kali, lumayan kan? Itu dari satu produk, kalau beberapa produk sekian persen isi terakhirnya  dibuang-buang.. wah mubazirnya berlipat-lipat.. duh.. dosanya juga dong nambah terus.. :(

Nah, demi menghindari dosa yang nggak berasa itu, langkah-langkah anti mubazir harus terus dilakukan. Alhamdulillah, melalui pembiasaan yang konsisten, anak-anakku sekarang mengerti dan melakukan gerakan anti mubazir ini. Tertanam dalam benak mereka bahwa tindakan mubazir akan memasukkan pelakunya ke dalam golongan syaithan. Siapa sih yang mau jadi kawannya syaithan? Amit-amit banget yaa.. menjadi kawan syathan itu kan pastinya di dalam neraka. Maka menjauhi mubazir, bukanlah tindakan pelit alias kikir. Tapi itu adalah usaha sadar yang dilakukan dalam rangka memanfaatkan sesuatu tanpa mubazir.

Boleh juga Anda coba lho.. Semoga bermanfaat.. :)

Sabtu, 11 Januari 2014

Wajahnya Dirawat Dong...

Sepanjang empatpuluh tahun hidupku, entah kenapa aku nggak pernah tergerak untuk merawat wajah. Bukan nggak pernah tergerak juga sebenernya, tapi nggak bisa konsisten. Bisa bertahan merawat wajah selama seminggu, itu udah top banget. Jadi segala cream malam, dan cream-cream apalah, cuma tercolek nggak lebih dari jumlah jari sebelah tangan. Setelah itu berjamur dan nasibnya berakhir di tong sampah.

Aku maunya rajin sih, tapi nggak tau tuh.. kok malees mulu. Kalau habis bepergian pun sering banget nggak pake cuci muka, tapi langsung brukk.. tiduurr! Padahal itu terlarang kan ya..? Makanya ya gitu deh.. wajahku kerap disambangi jerawat.. :P

Lagipula aku nggak pernah dandan pake make-up apa pun, lipstick pun nggak, jadi kupikir relatif aman lah, toh wajahku nggak pernah ditempeli macem-macem. Cuci muka sebelum tidur, kalau inget. Haduh.. parah deh!

Nah, tadi ada temenku nelpon. Temenku ini temen baik yang udah akrab sama aku. Setelah ngobrol kesana kemari, tercetuslah satu nama temen kami. Kata temenku, "Mbak itu kalau di foto kelihatan cantik, tapi pas ketemu beneran di darat, ternyata nggak begitu cantik. Abis, dia nggak suka dandan!"
Jleb! aku inget diriku sendiri.

"Aku juga nggak suka dandan, Mbak!" tukasku.

"Ya jangan atuh, Mbak!" sahut temenku.

"Aku nggak ngerti dandan, Mbak!" jawabku.

"Bukan dandan pake make-up, maksudku. Tapi Mbak merawat wajah lah. Mbak ini kan cantik. Harus dieman-eman tho, Mbak... sama Allah dikasih wajah yang bagus... harus disyukuri.." imbuh temenku.

Aku tercenung. Bukan soal dibilang cantik... itu mah aku tahu, menghibur aja kayaknya... hehe..
Tapi, aku baru tersadar rasanya, bahwa merawat wajah adalah bagian dari mensyukuri nikmat Allah. Duhai, betapa selama ini aku lalai.

Makasiih banget deh sama temenku itu. Mulai nanti malam aku mau cuci muka sebelum tidur, terus nggak lupa oles cream malam. Terus apalagi yaa perawatan wajah tuh..? hahaha.. ndak ngerti aku..
Tapi intinya, aku mau berusaha mensyukuri nikmat dengan merawat wajah. Meski wajahku bukan yang mentereng bin kinclong, tapi ya Alhamdulillah, letak hidung, mata, alis, bibir, kan berada di tempatnya yang tepat, pokoknya ya Alhamdulillah deh.. terima kasih ya Allah..

Kadang suara temen itu bisa terasa jleb di hati, ya? Padahal kukira temenku nggak niat-niat banget sih untuk memotivasi aku. Maksudku, dia ngasih saran biasa aja gitu. Tapi karena ia mengucapkannya dengan hati, maka terasanya pun sampai ke hatiku. Jadi betul ya, cari temen itu harus yang membawa pada kebaikan.. :)


Selasa, 07 Januari 2014

Menulis... Menulis...

Sekarang sudah tanggal 8 Januari 2014, artinya sudah sepekan berlalu di tahun baru ini. Hmm.. dan saya baru memulai menulis lagi di blog ini. Kemana ajaa..?

Bertumpuk ide hilir mudik di otak saya, tapi biasalah.. alasan klasik.. saya nyaris tersibukkan oleh hal lain. Menulis di blog pun tersingkirkan prioritasnya.

Mengawali tahun 2014 ini, saya inginnya menuntaskan hutang-hutang resensi. Alhamdulillah, resensi buku Inferno karya Dan Brown sudah tunai saya tulis dan dimuat di media indoleader.com. Saya sudah 'lapor' juga sama Mizan yang sudah dengan baik hati kasih saya buku itu. Lalu, buku lain dari Mizan, antologi tentang ketangguhan para bunda menghadapi beragam masalah, sudah diresensi pula, dan dimuat di nabawia.com. Ada satu lagi nih, buku hadiah Mizan, tapi anehnya kok nggak ada di rak buku.. duh duh sepertinya ada yang meminjam dan saya lupa siapa orangnya.. hiks.. padahal belum diresensi..

Sekarang lagi komat-kamit merapal doa untuk resensi saya yang sedang berlayar ke KorJak. Resensinya novel Mbak Riawani Elyta yang baru, berjudul "Dear Bodyguard". Semoga dimuat.. semoga dimuat.. setelah akhir tahun lalu, resensi saya terpental selalu di sana.

Oh ya, masih tentang resensi, ada lagi kabar gembira. Saya menang lomba resensi untuk buku "Menciptakan Keajaiban Finansial". Alhamdulillah, katanya berhadiah baju. Dan, ini betul-betul semakin membenarkan kalimat yang duluu pernah saya ucapkan bahwa saya nggak pernah membeli baju, tapi selalu ada pemberian orang lain. Sepertinya aneh ya, tapi demikianlah adanya. Adaa saja yang memberi saya hadiah berupa baju.

Kembali lagi pada keinginan untuk bisa rutin menulis di blog, pada akhirnya saya tidak bisa memaksakan diri juga. Jadi teringat postingan teman di BAW, yang berbagi tentang jam menulis bagi seorang emak yang rempong sama urusan rumah tangga. Banyak yang ingin mencoba menerapkan, ada juga yang sudah pernah menerapkan dan gagal konsisten. Yaah.. semua akan berpulang pada kondisi masing-masing ya, kondisi fisik, mental, dan lingkungan yang sangat mempengaruhi mobilitas.

Masih dalam postingan tersebut, ada seorang Bawers yang menampilkan icon murung karena dia merasa tidak mungkin melakukan kedisiplinan ketat pada jam menulis, tersebab kerepotannya mengurus keluarga. Katanya, dia mengurus segala sesuatunya sendiri, tanpa ART, karena tidak mungkin bisa menggaji seorang ART. Sedih juga melihatnya. Saya bisa merasakan itu. Seperti pengakuannya yang merasa lemah secara fisik, saya pun juga begitu. Ritme dahulu yang tidak terbiasa bekerja keras, membuat saya lekas lelah. Dulu, mana pernah mengurusi mencuci, menyapu, mengepel, dsb, sekarang semua itu harus saya lakukan. Dan tentu saja, saya pun mana mungkin pula bisa menggaji seorang ART, bisa-bisa jatah makan dan ongkos tergoyahkan.

Sebetulnya saya pingin komen dan menghibur Bawers yang sedih itu. Saya ingin bilang, menulislah semampunya. Kondisi yang berat jangan dijadikan beban. Nanti tambah sedih kan? Memikirkan pekerjaan rumah tangga yang seolah tak berujung, ditambah rasa bersalah karena tidak sempat menulis. Saya juga ingin bilang bahwa teman itu masih terbebas dari kewajiban mencari nafkah, sedangkan saya iya. Berarti dia masih sedikit bisa melonggarkan napas. Tapi, kemudian saya putuskan tidak jadi mengomen di sana. Khawatir jadi terkesan memperlihatkan penderitaan.. hehe..

Maka, ini tulisan pertama di tahun 2014 sepertinya juga ngelantur kesana kemari. Yang pasti sih, yang ingin saya bilang adalah saya ingin terus tetap menulis. Semampu saya. Biarlah orang melejit dengan kelahiran novelnya yang beruntun. Saya masih tetap begini-begini saja, toh orang-orang tidak tahu persis bagaimana keadaan saya yang sebenarnya, dan saya pun tidak mungkin memproklamirkannya kepada khalayak ramai.

Alhamdulillah sih, sepertinya orang mulai melihat saya sebagai seorang resensator. Saya syukuri saja. Meski ada teman yang bilang, "Ya, Mbak Linda dikenalnya 'cuma' sebagai resansator". Tidak apa-apa lah, mungkin baginya yang hebat itu haruslah menjadi seorang novelis, atau paling tidak, menerbitkan buku solo, entah fiksi maupun non-fiksi. Insya Allah saya pun ingin menuju ke sana. Bila sekarang jalur yang saya lewati adalah seperti ini, saya akan menempuhnya dengan sungguh hati.

Semoga tahun ini adalah tahun saya. Subhanallah.. itu kata sohib saya, Tuti Adhayati yang nama penanya: Adya Pramudhita. Dia bilang, semoga tahun ini menjadi tahun kita ya, Teh..  Ya Allah, saya Aminkan betul ucapannya. Semoga lomba-lomba resensi yang masih dalam penilaian, menobatkan saya sebaga salah satu pemenang. Lomba resensi novel Perjalanan Hati, Lomba resensi seri Love Flavour-nya Bentang, dan Lomba Indiva. Semoga menaang.. semoga menaang.. Aamiin.. Aamiin..

Minggu, 29 Desember 2013

Keajaiban Melalui Cara Sederhana



 Judul Buku                :  Menciptakan Keajaiban Finansial
Penulis                        :  Innuri Sulamono
Penerbit                      :  Indah Setya
Terbit                         :  Cetakan Pertama, Maret 2013
Tebal Buku                :  236 halaman
Ukuran                       :  12 x 18 cm
ISBN                           :  978-602-17304-1-6
Harga                         :  Rp. 50.000

Keberadaan blog pada masa kini tidak sekadar wadah menulis yang bisa dinikmati oleh sesama blogger. Beberapa penerbit melirik blog-blog yang menarik, lalu membukukannya, dan.. wow.. buku tersebut mendapat sambutan meriah dari pembaca. Sebut saja buku-buku Raditya Dika yang berseri-seri karena demikian digemari, dan ‘Perempuan Pencari Tuhan’-nya Rindu yang juga ada lanjutan seri-nya sebab seri pertama yang direspons dengan sangat baik oleh pembaca.

Belum lama ini hadir pula buku ‘Menciptakan Keajaiban Finansial’ yang berangkat dari kumpulan blog berisikan tulisan-tulisan ringan namun bertenaga. Adalah Innuri Sulamono yang bertutur tentang pengalaman dalam episode kehidupannya saat terpuruk secara finansial. Langkah-langkah yang ditempuhnya untuk bangkit, sikap yang dilakukannya, pemikiran yang dikembangkannya, semua terangkai dalam kalimat-kalimat sederhana yang terasa mengena dan mudah dipahami.

Buku ini terdiri dari lima bab. Bab pertama, bertajuk “Terlepas dari Jerat Hutang” yang berisi empat tulisan. Berkisah tentang episode terlilit hutang yang membuat hidup seakan terasa beraat. Namun sungguh mencengangkan bagaimana penulis menyikapinya. Jangan punya keinginan hutang itu segera lunas, tapi tumbuhkan keinginan untuk memperoleh ridha Allah saja (halaman 13). Untuk meraih ridho Allah itu haruslah diawali dari diri kita sendiri yang senantiasa merasa ridho dengan segala pemberianNya. Apa pun kondisi yang dialami, kita harus rela, harus suka, meski kondisi itu tidak menyenangkan. Termasuk di dalamnya kondisi berhutang.

Bab dua, diberi judul “Keajaiban Finansial”. Di dalamnya mengulas formula yang dilakukan penulis dalam geliat tumbuh kembang bisnisnya yang bangkit dari keterpurukan. Lalu Bab 3, berjudul “Kebaikan”, tentang bagaimana penulis konsisten (istiqomah) berbagi dan memanage kebaikan. Pada Bab 4, memuat “Kisah Inspirasi”. Ada kisah seorang buta huruf dengan 600 pekerja, perampok yang bertobat, juga bagaimana dulu penulis ‘menuhankan’ suaminya sendiri, serta beberapa kisah menyentuh lainnya. Terakhir, Bab 5 berisi “Renungan”, bagaimana kita menempatkan diri dalam hidup, sebagai hamba Allah-kah, atau sebagai hamba materi?

Saya betu-betul bersyukur bisa mendapatkan buku ini. Alhamdulillah hadiah lomba resensi. Tapi pertama kali mengetahui keberadaan buku ini dari tulisannya Mbak Leyla Hana di blognya tentang resolusi 2014, yang menukil buku ini. Pada waktu itu saya sudah tertarik, dan subhanallah.. Allah menghadiahkannya untuk saya melalui tangan Mbak Eni Martini.

Lembar demi lembar saya telusuri, seluruh tulisannya bernada inspiratif. Gaya penyampaiannya santai, tidak menggurui, tapi mengandung kompor alias memotivasi. Mengambil contoh-contoh dari kisah keseharian yang dekat dengan kita, tentang pengamen, tukang sayur, tetangga yang doyan ngutang, pedagang asongan, pun tak ketinggalan interaksinya dengan anak-anak dan suaminya.

Banyak quote bertaburan dalam buku ini. Lagi-lagi kalimat yang sederhana, tak berhias diksi yang penuh aksi. Semisal: Merugikan orang lain berarti merugikan diri sendiri, menolong dan membantu orang lain berarti menolong diri sendiri (halaman 78). Sederhana, bukan? Lalu diiringi dengan pemaparan peristiwa yang berkenaan dengan quote tersebut. Terasa mengena dan membukakan mata serta hati. Diajaknya pembaca mengikuti keajaiban-keajaiban yang menyertai peristiwa tersebut. Betapa Maha Kuasa Allah, maha mengejutkan anugerah dan rezeki yang dilimpahkan kepada hambaNya yang senantiasa ikhlas berbuat kebaikan.

Demikian yang mengalir dalam tulisan-tulisan seorang Innuri. Tidak sarat dengan teori-teori yang membuat kening berkerut. Meski ada menyelipkan nukilan pendapat para pakar, semisal: Quantum Ikhlas-nya Erbe Sentanu, Hukum Newton III, dan lainnya, namun bahasanya tetap membumi. Tak ketinggalan pula petikan ayat-ayat Al-Quran yang relevan dengan topik yang sedang dibahas. Semua menjadi lengkap, seperti sajian empat sehat lima sempurna.

Dari keseluruhan tulisan yang menyentuh dan menyemangati ini, saya paling terkesan pada tulisan yang berjudul “Tertipu Angka-angka”. Tulisan ini benar-benar menonjok saya, dalam pengertian positif. Betapa seringkali angka-angka itu menipu dan membuat susah.

Dalam tulisan tersebut diceritakan bahwa penulis mendengar keluh kesah seorang penjual nasi pecel yang terlilit hutang sebesar lima juta rupiah. Setelah itu penulis bertemu dengan temannya yang mengalami kebangkrutan parah. Tanahnya yang ‘berceceran’ di mana-mana, serta rumah megah laksana istana, harus direlakan demi melunasi hutang dan itu masih belum cukup. Sementara penulis sendiri hutangnya mencapai ratusan juta. Nah, bagi tukang pecel, hutangnya demikian menyulitkan, sedang bagi penulis jumlah segitu tidak sebanding dengan hutangnya yang ratusan juta. Namun bagi teman penulis, tentu hutangnya yang bermilyar rupiah itu pastilah paling berat. Ini membuat saya tercenung. Apalah arti angka-angka itu, karena sesungguhnya yang harus diyakini adalah Allah memberikan ujian itu sesuai dengan kapasitas masing-masing hambaNya. Yang penting kita yakini bahwa sebaik-baik penolong hanyalah Allah. Mau hutang seberapa pun jumlahnya, semua kecil saja bagi Allah. Apa sulitnya bagi Allah, menjadikan hutang itu lunas.

Saya lekas beristighfar. Teringat ketika pertama kali mengetahui buku ini, Mbak Leyla bilang, ini penulisnya terbebani hutang besar tapi mampu bangkit. Lalu ketika saya tahu hutangnya ratusan juta, sebuah pikiran buruk melintas, “Ooh.. baru ratusan juta.. belum M seperti keterpurukanku...” Astaghfirullah... betapa saya mengutamakan jumlah angka, merasa memiliki beban lebih berat, padahal bagi Allah, jumlah sebanyak apa pun bukan hal yang berat untuk menjadikannya lunas.

Setelah itu, saya jadi selalu teringat dan memegang contoh keikhlasan penulis dalam menyerahkan segenap permasalahan hutangnya kepada Allah. Sebuah lantunan kepasrahan yang indah: Ya Allah, aku sungguh tidak sanggup menyelesaikan hutangku, tapi Engkau bisa. Aku pasrahkan semua hutangku kepadaMu, terserah bagaimana Engkau menyelesaikannya. Biarkan aku bersenang-senang dengan banyak mensyukuri nikmatMu dan ijinkan aku berbuat kebaikan karenaMu (halaman 11-12).

Ajaib, saya pun menjalani hidup dengan lebih tenang. Setiap hari melakoni pekerjaan dengan lebih bahagia. Karena toh berkeluh berkesah tak mengubah masalah. Sekarang saatnya memantaskan diri di hadapan Allah. Apa yang ada dinikmati, disyukuri. Sehingga tumbuh rasa tanggung jawab untuk melakukan yang terbaik, mempersembahkan yang terbaik di hadapanNya.

Himpitan persoalan itu memang perlu kita alami, agar kita punya pengalaman bahwa Allah itu selalu menolong dan hanya Dia satu-satunya penolong (halaman 22). Subhanallah... dalam masalah yang begitu rumit dan pelik, di sana ada pertolongan Allah. Tak akan pernah Allah membiarkan kita terjerat masalah berat, tanpa campur tangan bantuanNya di dalamnya, asal kita sungguh-sungguh bergantung dan memohon dengan segenap ketundukan. Dalam kungkungan masalah, toh saya masih dapat berpikir, dapat mengatur langkah, menyelamatkan anak-anak, dan lainnya. Bukankah itu bentuk pertolongan Allah?

Ada lagi satu point yang saya garisbawahi dari buku ini, yaitu tentang bersedekah. Meski saya belum bisa seperti penulis yang ketika punya uang lima ratus ribu, sedekahnya empat ratus ribu. Pernah saya mengalami kebingungan, ketika masih di awal bulan, uang tinggal dua ratus ribu, lalu bismillah saya sedekahkan seratus ribu. Dan benar yang dikatakan penulis bahwa pertolongan Allah kemudian berjatuhan, penuh keajaiban dan kadang tidak masuk akal.

Maka buku ini benar-benar hadiah dari Allah untuk saya. Ia mengajarkan banyak hal dengan caranya yang sederhana namun menghunjam. Mencerahkan tapi tidak menyilaukan. Seperti judulnya yang mengandung kata keajaiban, saya pun kecipratan keajaiban itu. Dan semoga Anda pun mendapatkan keajaiban setelah membaca buku ini. 

*) Resensi ini diikutsertakan dalam Lomba Resensi Buku "Menciptakan Keajaiban Finansial"

Kamis, 26 Desember 2013

Menghimpun Repihan Hati yang Terserak


 
Judul Buku                :  Cinta yang Membawaku Pulang
Penulis                        :  Agung F. Aziz
Penerbit                      :  Indiva Media Kreasi
Terbit                         :  Cetakan Pertama, September 2012
Tebal Buku                :  296 halaman
Ukuran                       :  19 cm
ISBN                           :  978-602-8277-49-5
Harga                         :  Rp. 42.000
Adakalanya suatu peristiwa pahit yang tak terelakkan menjadi garis takdir yang harus dijalani. Ia hadir mengubah segala yang indah. Kehidupan yang nyaman, ayah-bunda yang penuh kasih, adik yang menyenangkan, suami sang pelindung dan penyejuk jiwa, anak si buah hati yang menggemaskan, tiba-tiba terenggut dan raib dari pandangan. Entah itu tersebab musibah amukan alam, seperti banjir, gempa tsunami, dsb, atau letusan perang yang membuat negeri tercinta remuk tak jelas bentuk.
Hal yang disebut terakhir itulah yang menimpa Shabana Ahmas, seorang perempuan Afghanistan yang menjadi tokoh utama dalam novel “Cinta yang Membawaku Pulang” karya Agung F.Aziz.  Shabana Ahmas yang terlunta, melanjutkan hidupnya di tanah kelahiran yang telah koyak itu dengan siraman kasih sayang pasangan Farrukhzad-Yasir yang dianggapnya sebagai pengganti orangtuanya. Ibu Shabana meninggal dalam kondisi mengenaskan di kamp pengungsian, sementara ayah, adik, suami, dan putra semata wayangnya, tercerai berai entah di mana.
Hingga suatu hari, tiba kabar yang menyebutkan bahwa ayah Shabana, Massoud Kamal, ternyata bermukim di Makkah. Kabar itu menerbitkan asa yang indah. Dan harapan berjumpa dengan sang ayah semakin membuncah ketika Shabana beroleh uang hasil penjualan tanah ayahnya, yang cukup sebagai ongkos untuk bertolak ke Makkah.
            Setibanya di Makkah, Shabana mendapati lebih dari yang diharapkan. Tak hanya informasi keberadaan ayahanda tercinta, namun tercium pula jejak adik, suami, dan putranya di sana. Shabana pun gegas menghimpun repihan belahan jiwanya yang terserak.
Bagaimana kisah perburuan Shabana demi berjumpa dengan keluarganya? Siapkah ia dengan banyaknya perubahan yang terjadi pada orang-orang tercintanya?
Kisah Shabana ini dikemas apik dalam jalinan konflik yang kerap meletup tak terduga. Penulis dengan cerdas menebar plant harvest di mana-mana, lalu ‘dipanen’ pada saat yang tepat. Tidak ada plot hole. Alur dibangun dengan rapi. Dialog dan narasi, berkombinasi dengan cantik. Bahasa yang digunakan kadang dihiasi dengan kiasan yang menawan, semisal:  Shabana merasa bulan seakan berdetak di dalam dadanya. Entah bagaimana dia harus melukiskan perasaan bahagia yang melambung-lambung (halaman 81), Sepasang mata perempuan Pakistan itu seakan mau mencuat dari rongganya (halaman 139), Tangis kakak beradik itu pecah menyobek langit (halaman 276).
Tokoh-tokoh yang hadir cukup banyak, namun tidak saling berebutan muncul. Penulis ‘memberi tugas’ kepada setiap tokohnya untuk menempati porsi yang mendukung jalan cerita, dan bukan menguasai semaunya. Karakter masing-masing pun terdeskripsikan dengan baik, melalui gambaran perilaku dan gesture yang ditampilkan.
Sekarang kita bicara setting, salah satu unsur yang membetot perhatian dari novel ini. Tampak penulis cukup cerdik memainkannya. Ketika ide utama adalah mengangkat kasus perang Afghanistan, namun setting Afghanistan justru tidak menonjol. Yang mendapat porsi lebih banyak malah kota Makkah dan sekitarnya. Maka jangan berharap novel ini akan mengajak kita menelusuri Afghanistan seperti pada novel “The Kite Runner” karya Khaled Hosseini. Pun suasana perang tidak tercium tajam. Hanya ada ilustrasi sekilas-sekilas, seperti pada sebuah peristiwa mencekam yang tak mau pergi dari ingatan Sabhana, saat dua tentara mujahidin secara bergantian menodai kehormatan ibunya dengan cara yang sangat keji, di hadapan mata kepalanya sendiri (halaman 29-30).
Boleh jadi penulis pernah menunaikan ibadah haji atau umroh di tanah suci, atau mungkin pernah tinggal di sana, maka setting Makkah dipilihnya untuk lebih dominan ketimbang Afghanistan. Karena, lagi-lagi mungkin, penulis belum pernah menginjakkan kaki di tanah Afghanistan, sehingga merasa cukup riskan bila menyoroti wilayah ini sebagai setting utama. Penggarapan setting dengan hanya mengandalkan googling akan jauh berbeda hasilnya dibanding dengan merasakan sendiri berinteraksi serta menghirup udara di tempat yang bersangkutan.
Suasana Makkah yang pekat dengan unsur ritual, dituturkan dengan takzim. Pembaca dibuat terhanyut dalam kemegahan Kabah serta Masjidilharamnya, Masjid Nabawi, dan tempat-tempat suci lainnya, dalam kesyahduan ritual haji. Tak ketinggalan suasana hiruk pikuk para pengemis dan pedagang di sekitar Makkah. Berbagai titik area yang bersinggungan dengan sejarah Rasulullah, disampaikan menyentuh penuh keagungan. Kesemuanya terpampang dalam deskripsi yang cukup detil.
Karena yang menjiwai sekujur kisah ini adalah perjalanan Shabana di Makkah, maka setting Makkah yang mendominasi, menjadi tidak janggal. Sementara setting Afghanistan sebagai pokok cerita ini bermula, hanya muncul di awal, dan tepercik ke dalam beberapa bab di tengah dan akhir, sebagai penguat. Setting Afghanistan, tidak hanya hadir sebagai latar tempat, namun juga dalam informasi mengenai bentuk tradisi dan kebiasaan yang dianut. Salah satu yang menarik adalah, di Afghanistan ternyata yang dilabeli sebagai pemilik sikap cengeng bukan perempuan, tetapi laki-laki. Perempuan justru merupakan sosok yang kuat. Seperti yang diucapkan Shabana kepada adiknya,  Kau tidak boleh bicara seperti itu, Maryam. Jadilah perempuan kuat. Kau tidak boleh cengeng menghadapi kenyataan hidup. Sebab, cengeng adalah sikap laki-laki (halaman 292). Mungkin itu sebabnya, Shabana yang didera oleh cobaan bertubi-tubi, tidak serta merta menjadi wanita pemurung. Sesekali ia tampak ceria dan terlihat luwes bercanda.
Dengan segala kelebihannya, pepatah ‘tak ada gading yang tak retak’ berlaku jua pada novel ini. Dengan setting luar negeri yang diampunya, penulis sedikit abai pada penjelasan mengenai beberapa sapaan yang berlaku di negeri Afghanistan. Mungkin penulis berpikir bahwa pembaca bisa saja mudah mengira-ngira, dan boleh jadi sebagian pembaca pun merasa tidak masalah dengan berbagai sapaan asing: khanum, khali, kaka, agha, dan lain-lain. Namun alangkah baiknya bila disertai dengan penjelasan yang bisa dipahami. Jikapun tidak melalui catatan kaki, dapat juga disampaikan dalam narasi. Seperti penjelasan tentang bachem pada halaman 198, ketika Shabana merasa senang dipanggil bachem oleh Aafia. Sayangnya, penjelasan itu pun tidak begitu terang.
Beberapa typo masih ditemui, meski tidak terlalu signifikan, sehingga tidak begitu mengganggu. Walau demikian, tentu akan lebih nyaman bila membaca sebuah buku yang bersih dari typo.
Cover buku ini Shabana sekali. Ilustrasi perempuan cantik dengan gurat khas Timur Tengah, dihiasi bunga-bunga, dalam nuansa warna pastel yang lembut. Sepertinya akan terasa lebih Afghanistan jika ditampilkan latar negeri yang muram akibat perang, dalam ilustrasi samar.
Sejatinya sebuah tulisan, ia membawa pesan kebaikan di dalamnya. Novel ini tampak jelas menyuarakan pesan perdamaian. Betapa perang berkepanjangan, konflik nan tak bertepi, hanya menyisakan lara. Dan yang membedakan novel ini dengan “The Kite Runner” adalah sikap yang diambil tokoh utama pada pilihan menjalani hidup masa depannya. Shabana tidak memilih Makkah, meski negeri itu menjanjikan keamanan, ketenangan, juga harapan. Ada alasan tak terbantahkan yang menggiringnya untuk pulang. Di tanah kelahiran itu, ada cinta yang menantinya. 

*) Resensi ini diikutsertakan dalam "Lomba Menulis Resensi Buku Indiva 2013"