Sabtu, 09 Januari 2016

Kesibukan Orangtua Vs Undangan Rapat dari Sekolah

gambar diambil dari sini
 Sekolahku belum mulai KBM (Kegiatan Belajar Mengajar). Jadi anak-anak masih liburan. Baru mulai masuk hari Senin besok, 11 Januari.

Sebelum mengawali semester baru, aku berniat mengundang orangtua satu kelas (kelasku aja) untuk ketemuan dengan agenda utama adalah evaluasi semester lalu dan bagaimana menghadapi semester selanjutnya. Lalu aku bikin woro-woro di grup WA dan BBM. Segelintir Bunda menyambut baik, beberapa bilang maaf nggak bisa hadir, dan.. eh, malah ada seorang Ayah yang jaka sembung, dia posting iklan produk kecantikan. Hadeuh si bapak.. diundang rapat malah jualan.

Berhubung yang gabung di grup WA dan BBM rata-rata orangnya itu-itu juga, dan jumlahnya cuma setengah dari keseluruhan, maka aku pun mengirim sms satu-satu ke semua orangtua. Di akhir sms aku minta mereka agar sms balik untuk konfirmasi kehadiran.

Ada tuh satu Bunda yang di WA langsung bilang iya mau hadir. Aku seneng, karena pingin ketemu sama Bunda satu itu, secara foto profilnya blondie gitu rambutnya.. hihi.. nggak ding, emang pingin silaturahmi, pingin komunikasikan tentang anaknya. Trus nggak lama, dateng smsnya bilang maaf nggak bisa hadir karena ada acara lain. Hadeuh.. kebiasaan deh, waktu ambil raport juga gitu. PHP.

Lalu mulai pada sms deh, ada yang bilang mau hadir, ada juga yang nggak. Tapi itu jumlah ortu yang sms balik, nggak sampai setengahnya. Yang setengahnya lagi cuek beybeh.

Hmmph.. cukup sedih sama kondisi ini. Aku tuh pingin bisa ngomong ke semua ortu. Gini lho.. kondisi anak-anak sekarang. Yuk, kita lebih tingkatkan kualitas kebersamaan sama anak-anak. Kualitasnya lho yaa.. jadi jangan sampe isi komunikasi orangtua sama anak, cuma omelan dan tuduhan aja ke anak.

Beberapa anak kan curhatnya hampir sama. Mereka ngerasa kalo di rumah dimarahin or diomelin mulu sama ortu. Jadi mungkin ortu nasehatin atau menegur pake kalimat yang puanjang-panjang plus diulang-ulang. Akhirnya malah pesan nggak tersampaikan dengan baik. Yang ada malah anak nangkepnya, "aku dimarahin mulu".

Nah, aku tuh pingin komunikasikan hal itu ke orangtua. Supaya mereka bisa memahami sudut pandang anak. Lha, sebenernya kan kalo kita sendiri juga ya, ditunjukin kesalahan pake kalimat yang puanjaang trus diulang-ulang, pasti sebel kan? Anak juga gitu, brow..

Trus, soal gadget. Ini nih.. kudu banget orangtua kasih pengawasan. Di sekolahku akan diluncurkan GMH (bersamaan dengan GMT-Gerakan Matikan Televisi-yang udah launching duluan). GMH adalah Gerakan Matikan Hp. Waktunya dari mulai azan Magrib sampe sholat Isya. Rencananya bertahap. Sekarang sampai selesai sholat Isya, sekitar jam 7-an ya. Nanti ditingkatkan sampe jam 8. Ini untuk pembiasaan melepaskan diri dari ketergantungan sama Hp.

Pokoknya hal-hal yang menjadi pembahasan di pertemuan sama orangtua, semua tentu berkaitan sama kondisi anak. Namun sayang di sayang, orangtua yang hadir ternyata hanya 10 orang saja, yaitu 9 Bunda dan 1 Nenek (nenek lincah ini mah).

Aku sejujurnya kecewa dan sedih. Orangtua betul-betul lebih mementingkan pekerjaannya di kantor. Memang nggak semua. Ada 1 Bunda yang menejer toko roti dengan cabang di mana-mana, tetap menyempatkan hadir. Tapi yang lainnya tuh, maaf.. pekerjaan di kantor tak bisa ditinggalkan. Dan ketika aku bilang, nanti kalau pekerjaan di kantor nggak terlalu padat, saya tunggu di sekolah ya, kita ngobrol tentang ananda. Tanggapannya nggak antusias gitu, seolah 'lha, saya kan kerja!'

Kewajiban orangtua terhadap sekolah bukan hanya bayar SPP, tapi harus juga berkomunikasi dengan walikelas, membahas perkembangan anak. Memang sih beberapa anak dalam posisi aman, tapi bukan berarti orangtua lantas santai-santai saja. Anak-anak tetap perlu dikawal dan diperhatikan.

Kondisi sekarang yang serba instant dan serba mudah, membawa dampak juga ke anak. Mereka kurang tangguh, kurang punya daya juang. Ketika menghadapi tantangan dan kesulitan, semangatnya kendor, ujungnya menyerah. Nah, hal-hal semacam itu yang perlu diketahui orangtua, lalu kita bahas dan dicari model pendekatan yang tepat. Karena setiap anak kan berbeda.

Memang sih aku yakin, orangtua pasti nggak bermaksud abai sama anak. Mereka pikir, nggak memenuhi undangan rapat dari walikelas bukan merupakan bentuk nggak perhatian sama anak. Sebab mereka bekerja juga kan alasannya pasti demi anak. Dan yang nggak dateng rapat, bukan melulu orangtua yang kerja kantoran, tapi orangtua yang di rumah pun ada juga yang nggak dateng. Alasannya sih sama: sibuk dengan pekerjaannya juga.

Alasan yang sangat ampuh ya, sibuk. Lalu kenapa berkomunikasi langsung dengan walikelas tentang perkembangan anak, tidak dimasukkan ke dalam daftar kesibukan?

Jumat, 01 Januari 2016

Mau Ngapain di 2016?

 Aku termasuk orang yang nggak terlalu peduli sama ritual tahun baru. Bahkan ketika hari terakhir di tahun 2015, aku nggak sempet nggak nyadar. Aku heran, kenapa ponakanku yang kerja di luar kota kok pulang. Dan dia menjawab, "Kan besok libur tahun baru..!" Oh, aku baru ngeh, besok tanggal 1 Januari tahun baru. Begitu pun malamnya, aku sama sekali nggak terusik dengan hingar bingar keriaan ritual menyambut tahun baru. Aku lelap dari pukul 21 hingga subuh esok paginya.

Kira-kira jam 6 pagi, sahabat baikku mengirim sms, mengucapkan selamat tahun baru. Aku jawab, aku lupa kalau hari ini tahun baru. Trus dia kasih saran supaya aku bikin target di 2016 ini. Hmm.. kepingin sih, tapi ngeri juga.

Kenapa ngeri? Karena takut nggak terlaksana. Untuk dunia kepenulisan, aku sama sekali belum punya naskah utuh. Sementara di 2015 bukuku terbit 4, lalu di 2016 seenggaknya menyamai kan? masa' menurun ya? Duh, 4 buku lagi? rasanya nggak mungkiin..

Tapi, ketakutan itu perlahan meminggir. Percakapan di grup WA bersama teman-teman penulis, cukup menyuntik semangatku. Mereka itu hebat-hebat, bisa menjadi motivator andal. Bisa bikin aku tersentak dan sadar. Selama ini aku banyak memaklumi diri sehingga produktivitas menulis merosot tajam. Aku nggak pernah lagi meresensi buku. Apalagi ngisi blog. Aku ngerasa badanku ambruk sepulang kerja. Laptop lebih banyak menganggur di sudut kamar. Dan aku membiarkan diriku lelap selepas Isya.

Sekarang di hari pertama ini, aku ingin bertekad, menata hati dan pikiran, lalu me-manage waktu dengan baik. Aku selalu merasa disesaki oleh masalah-masalah internal yang menyebabkan kelelahan fisik dan psikis. Sungguh, aku ingin melawan semua alasan yang menyebabkan produktivitas menulisku terjun bebas.

Aku ingin seperti kawan-kawan yang lancar menulis dalam hitungan 1-2 jam saja, mampu menghasilkan tulisan yang runtut dan asik dibaca. Sementara aku suka ngerasa tulisanku garing aja.. haha..

Nah, ternyata perasaan nggak percaya diri itu diprotes berat sama temen-temenku. Ada yang bilang, aku ini punya banyak potensi tapi nggak tereksplor karena nggak pede itu. Aku tercenung. Ini menggedor kesadaranku. Aku harus mengubah diri.

Kukira, baiknya sebuah tulisan bisa terasah oleh jam terbang. Mungkin karena akhir-akhir ini aku jarang nulis, akhirnya aku merasa kaku, yang berefek pada rasa percaya diri yang menurun drastis. Selalu merasa tulisanku buruk sementara ketika aku membaca tulisan orang lain kok enak-enak ya.

So, beneran deh. Diawali postingan pertama ini, aku mau rutin nulis setiap hari. Terserah deh mau garing mau nggak, yang jelas aku mencoba mendokumentasikan sebuah kejadian yang mungkin bisa membawa pada kebaikan. Tiap hari harus nulis. Harus!
Aku juga harus memetakan rencana naskah yang akan aku wujudkan di 2016. Masih tetap di dunia anakkah? atau merambah ke cerita dewasakah? Semua harus aku ukur dan evaluasi. Karena sebuah mimpi jangan hanya menjadi mimpi kosong tersebab tak diiringi sebuah perencanaan pelaksanaan.

Ya Allah, bantu saya.

Selasa, 22 Desember 2015

Siapa Tidak Cerdas? Siswa atau Guru?

Saya membaca status teman tentang keponakannya. Si Om itu mengambil raport keponakannya yang klas 2 SD. Anak itu cerdas, daya ingatnya kuat, jago ngegambar, imajinasinya luar biasa, dan bisa menggambarkan sesuatu dengan sangat baik dan detil. Namun betapa kecewanya si Om ketika berdialog dengan guru keponakannya. Gurunya bilang, anak itu dikasih nilai cuma pemakluman aja, lalu disilakan cari sekolah lain karena anak itu beda dari anak normal lainnya.

Kebayang ya, gimana perasaan si Om? Lha, ponakannya cerdas gitu kok dibilang beda dari anak normal. It means, ponakannya nggak normal dong. Hadeuh..

Untuk masalah semacam itu, biasanya reaksi pertama orang-orang langsung menyalahkan sang guru. Wajar kan ya, mosok anak pinter dibilang nggak normal. Itu mah gurunya aja kali yang nggak normal. Tapi kalau menurut saya sih, nggak serta merta gitu juga. Dan bukan berarti ini dalam rangka membela korps ya, sesama guru saling membela. Nggak banget lah.

Jadi gini, kalau kita melihat lebih jauh, pertama kali dilihat dulu jumlah murid dalam satu kelas berapa orang. Kalau kisaran 30-40 anak, memang cukup masuk akal bila guru nggak sanggup menangani murid yang spesial. Secara anak-anak zaman sekarang lebih aktif dan kritis. Mungkin guru kewalahan jika ditambah dengan tugas mengawal anak yang spesial.

Lalu dilihat lagi gimana kesepakatan dengan sekolah. Saat awal masuk biasanya siswa ditest, bahkan ada juga yang menyeleggarakan psikotest. Tentu bisa diketahui kondisi setiap anak. Bila ada anak dengan kecerdasan luar biasa namun secara akademik agak tertinggal dari teman-temannya, maka pihak sekolah idealnya memahami konsekuensi saat menerima anak tersebut sebagai siswa di sekolahnya.

Yang diperlukan kemudian adalah komunikasi. Sungguh, komunikasi sangat memegang peranan penting. Jadi jangan seperti guru si Om yang langsung nge-judge kalo si anak nggak sama dengan anak normal, sehingga terkesan merendahkan dengan label normal-nggak normal. Seharusnya sejak awal sekolah hingga teruus selama masa belajar, komunikasi senantiasa hidup antara guru dengan orangtua. Bisa juga dengan mengadakan buku penghubung khusus yang setiap hari harus diisi guru dan dibaca serta direspons oleh orangtua di rumah. Orangtua harus menyadari bahwa si buah hati memiliki kecerdasan menonjol dalam bidang tertentu, namun perlu bimbingan khusus dalam materi-materi pelajaran di sekolah.
gambar diambil dari sini
 Walikelas harus memiliki kesadaran penuh bahwa di kelasnya ada siswa dengan catatan istimewa yang membutuhkan penanganan khusus. Kesadaran itu terbentuk setelah sebelumnya pihak kepala sekolah atau wakasek bidang kurikulum membahas kondisi siswa tersebut dengan sang walikelas. Komunikasi terbuka seperti itu, dapat lebih mudah menentukan bagaimana bentuk penanganan terhadap si anak.

Potensi cerdas yang dimiliki anak harus dapat tereksplorasi dengan baik. Anak itu perlu mendapat stimulasi yang tepat agar potensinya dapat dikembangkan ke arah yang positif. Sementara ketertinggalannya secara akademik tidak membuatnya malu atau minder di hadapan teman-temannya.
gambar diambil dari sini
Pihak sekolah harus jeli melihat kondisi tersebut. Jangan sampai potensi besar yang ada pada siswa, tidak terasah dengan baik. Sebaliknya, orangtua pun harus ekstra mengawal ketat putranya, mengetahui persis keadaan putranya, dan senantiasa menjalin komunikasi dengan sekolah. Bila ternyata pihak sekolah tidak kondusif memfasilitasi putranya, jangan memaksakan diri untuk membuat pihak sekolah berubah. Artinya, sekolah tersebut memang tidak siap menerima siswa demikian.

Maka carilah sekolah yang tepat, yang lebih ramah anak. Sekolah yang memahami konsekuensi saat menerima siswa dengan kecerdasan istimewa namun sedikit tertinggal secara akademik. Guru yang menjadi walikelas harus benar-benar siap, memiliki mental yang kuat, dan bersedia bekerja keras, karena harus mengulang secara pribadi, materi-materi yang diajarkan di kelas kepada anak tersebut. Guru pun harus mampu mengondisikan anak-anak di kelas agar bisa menerima siswa tersebut dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Setelah itu, guru secara intens berkomunikasi dengan orangtua, sehingga ia tidak capek sendiri di sekolah, namun orangtua di rumah pun harus terlibat penuh dalam mengawal anak tersebut.
gambar diambil dari sini
Dengan kerjasama yang baik seperti itu, insyaAllah tidak akan ada lagi misunderstanding antara pihak orangtua/wali siswa dengan pihak sekolah. Sang anak dapat nyaman bersekolah, dan potensinya mendapat penyaluran yang baik.
gambar diambil dari sini


Senin, 23 November 2015

Menyapa Kenangan

gambar diambil dari sini

Asiknya gabung di satu komunitas itu, bisa diskusi segala macem. Komunitas yang aku ikuti, bukan komunitas gaje ya, tapi membernya para penulis yang ramah dan baik hati. di sana bergabung berbagai kategori penulis. Ada yang namanya udah berkibar sebagai novelis, ada yang jawara dimuat di media, ada yang langganan juara lomba nulis, ada penulis cerita dewasa, cerita remaja cerita anak, ada blogger, pokoknya seru deh.

Awalnya komunitas itu ada di fb lalu beberapa member bikin grup WA-nya juga. Nah, di WA inilah yang wacana diskusi selalu asik dan variatif. Dari hal-hal yang memang bersinggungan langsung dengan dunia tulis menulis, berkombinasi dengan segala hal yang terlintas di benak. Bisa masalah kesehatan, pendidikan anak, politik, agama, sampai hal-hal yang remeh temeh. Tapi, catet yaa.. remeh temeh bukan berarti gosip nggak karuan lho.. tetap sesuatu yang bermakna.. tsaaah..

Nah, kemaren tuh entah dari mana mulanya, tetiba topik berputar pada masalah kenangan lalu. Ada Neida yang dikenal suka sekali 'mengunyah kenangan' alias termantan.. hahaa.. Terus, Hairi Yanti yang memulai cerita tentang kenangannya waktu kelas 6 SD. Semacam cinta monyet gitu lah.. hahaa..

Cerita Yanti itu seperti menyeret pada kenanganku sendiri waktu kelas 6 SD juga. Hahaayy..
Dulu, di depan mejaku, duduk anak cowok yang entah siapa yang mulai, katanya kami saling suka. Dia suka aku, begitu pun sebaliknya.. *senyum-senyum sendiri nih..

Dia itu perawakannya kecil, pinter, dan tulisannya baguus banget. Cocok sama aku yang juga pinter waktu itu (eh, sekarang juga masih pinter ah.. hahaa..). Namanya.. engh.. aku sebut nggak yaa.. Ah, nggak aja ah.. :)

Tampangnya lumayan manis. Matanya kadang menyipit kalau lagi ketawa. Punya jiwa pemimpin. Larinya kenceng (lagi-lagi idem sama aku, yang dulu jago lari jarak pendek). Mahir menggambar.

Nah, di penghujung kelas 6 kan ada ujian praktek olahraga. Setiap anak harus membuat sendiri nomor pesertanya, dari karton gitu. Maka beramai-ramai pada ngorder sama dia, minta dibikinin. Karena dia kan dah tepercaya pasti bikinnya bagus. Temen-temen pada nyetor nomor peserta masing-masing sama dia. "Aku nomor segini ya, saya nomor segini ya.."

Apakah aku ikut-ikutan minta dibikinin juga? Tidak, sodara-sodari. Aku diem aja. Lho, bukannya dia 'pacar' aku? Harusnya aku minta dibikinin juga dong. Hmm.. nggak gitu deh ceritanya. Jadi, walaupun kami berteman akrab, dan konon saling suka, tapi kami menyimpan rasa ini dalam diam.. haha.. Aku ngerasa nggak enak aja kalau ikut-ikutan ngerubutin dia. Lagipula, aku pingin tahu, apa dia bakal bikinin kartu nomor peserta itu buat aku..

Singkat cerita, dia sudah selesai membuatkan kartu nomor peserta untuk para pengorder. Semua dibagikan. Semua riuh bilang trimakasih sama dia. Aku diam, melihat dari jauh. Lalu ketika proses distribusi kartu selesai, dia menghampiriku. Sambil tertunduk malu-malu, dia menyerahkan kartu nomor peserta untukku. "Nih, buat kamu."

Aku menerimanya dengan malu-malu juga. "Kok kamu tahu nomor aku?" tanyaku. Dia mengangkat wajahnya. Menatapku sambil tersenyum manis. Tanpa kata. Dan aku mengerti, senyum itu adalah jawabannya.

"Makasih ya, kamu dah bikinin kartu buat aku," ujarku sambil membalas senyumnya.

Dia mengangguk. "Maaf ya, kalau kartunya jelek."

Aku menggeleng. "Nggak kok, kartunya bagus. Tulisan kamu bagus."

Lalu kami menunduk sambil terus tersenyum. Duhai, rasanya seperti berada di taman bunga.. hahaayy..

Kini, kita akan berada di bagian melow dari cerita ini. Saat hari perpisahan, kami semua tampil di atas panggung, menyanyikan lagu perpisahan. Sedih rasanya, karena dia mau melanjutkan SMP ke Bandung. Dan, setelah acara selesai, kami berdua bertemu di balik panggung. Saat itu aku memegang hadiah sebagai pemegang ranking 5 besar. Dia mengucapkan selamat kepadaku.

"Selamat, ya. Nanti kamu pasti keterima di SMP Negeri 2." (SMPN 2 adalah sekolah favorit di kotaku)

Aku mengangguk. Kami terdiam. Senyap.

"Kamu jadi pindah ke Bandung?"

Dia terdiam. Hening sesaat. Lalu dia mengangguk. "Iya," jawabnya lemah.

Kami bertatapan sejenak. Menunduk bersama, kemudian.

Suasana melow itu tak berlangsung lama. Beberapa anak menghampiri kami, seolah nggak menyadari bahwa kami lagi dirundung haru. Mereka ramai membicarakan rencana melanjutkan sekolah. Ya, untung juga sih mereka datang. Jadi bisa mengganti suasana.

Setelah sekian waktu berlalu, saat zaman kuliah, aku bertemu dengan seorang teman SMA. Yang aku tahu, ibunya telah meninggal. Lalu dia mengabarkan kalau ayahnya menikah lagi. And U know who is her new wife? Ternyata ibunya si dia. Rupanya ayah dia sudah lama meninggal. Spontan aku langsung menanyakan bagaimana kabarnya dia. Ternyata dia masih di Bandung, sibuk di sana, dan jarang pulang. Dan aku nggak berani nanya-nanya terus, karena takut temenku itu curiga.. ^^

Ketika facebook marak, dan orang-orang menemukan teman-teman TK, SD, SMP, SMA, dan akhirnya musim reuni, teman-teman SD-ku pun mulai mengontak aku. Mereka merencanakan reuni, dan mulai membicarakan si ini sekarang di kota ini, si itu di kota itu, dsb. Lagi-lagi aku langsung menanyakan tentang dia. Dan ternyata, teman-teman kehilangan kontak dengan dia. Terakhir kabar yang didengar, dia sudah menikah dan tetap tinggal di Bandung. Dia pun nggak ada kontak fb.

Yah sudahlah.. kenangan lebih indah bila tetap berwujud kenangan..

"Kita sepakat meninggalkan masa silam. tapi, diam-diam suka mengunjunginya" -- Krisna Pabichara
gambar diambil dari sini

Sabtu, 21 November 2015

ZIDAN LOMBA

Ini cerita tentang Zidan, anakku yang kedua. Sekarang dia kelas sembilan. Aturan sih, tahun ini masuk SMA. Tapi kemaren dia nggak ikut UN karena.. engh.. sakit.. dan.. dia tuh dah berbulan-bulan sebelumnya sering bolos sekolah.

Sedikit flashback, Zidan memang termasuk cukup rumit menjalani hari-harinya. Maklumlah, ketika musibah menimpa, dia lagi masa baru menginjak usia remaja. Jadi galaunya lumayan bikin pusing aku. Tapi aku nggak bisa nyalahin dia juga sih. Dengan segala hal 'ajaib' yang kita sekeluarga alami, wajar aja kalau terjadi keguncangan dalam dirinya.

Singkat cerita, akhirnya dia mengulang kelas sembilan. Sementara teman-temannya sudah duduk di bangku SMA. Alhamdulillah, dia nggak pernah bolos lagi. Dia sekolah dengan baik. Rupanya dia mulai menyadari telah ketinggalan waktu satu tahun.

Sujud syukur sama Allah melihat dia tiap hari berangkat sekolah. Mungkin bagi orang lain mah biasa aja ya, melihat anaknya sekolah. Tapi buat aku, subhanallah, bersyukur banget. Ya, begitulah, kadangg apa yang sederhana untuk seseorang, mugkin sangat berarti luar biasa bagi orang lain. Hal itu juga berlaku untuk sebuah kemalangan. Hal yang buruk bagi seseorang, mungkin bagi orang lain, segitu tuh sudah berupa sebuah pencapaian. Misal, Ibu yang punya anak cerewet, merasa kesal dengan kecerewetan anaknya. Sebaliknya, Ibu yang anaknya penderita autis, justru mendambakan anaknya kritis dan cerewet seperti itu.

Balik lagi ke Zidan. Aku lagi seneeeng banget. Gurunya sms, bilang bahwa Zidan menunjukkan kemajuan. Dia mau ikutan lomba bidang studi di sebuah SMA Negeri. Waah, surprise banget rasanya. Pantas saja, dia nanya-nanya lokasi SMA yang dimaksud. Trus, nanya-nanya juga soal Bahasa Indonesia.

Pada hari pelaksanaan test, aku dorong dia dengan doa. Katanya, dia ikutnya lomba mapel Bahasa Indonesia. Ok, sebagai guru Bahasa Indonesia, aku sudah membekali dia sebelumnya dengan soal-soal dan membahasnya.

Hingga siangnya, gurunya mengabarkan via sms, ternyata Zidan masuk peringkat 16, sehingga masuk semifinal. Subhanallah..

Kebayang nggak sih, tu anak dulunya boro-boro mikirin sekolah, lha tiap hari kan bolos aja. Eh, tiba-tiba sekarang ikut lomba mata pelajaran dan berhasil berprestasi. Lombanya pun ternyata berubah, jadi bukan hanya satu bidang studi, tapi lima: Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, IPA, Matematika, dan IPS.

Gurunya meminta aku agar melatih Zidan untuk persiapan menghadapi semifinal keesokan harinya. Ternyata semifinal berbentuk Lomba Cerdas Cermat perseorangan. Aku pun melatih dan menemaninya belajar. Untungnya punya buku soal-soal UN, jadi mempelajari buku soal itu. Cuma soal-soal IPS yang nggak ada. Zidan nyari sendiri di google.

Keesokan harinya aku ikut menemani ke lokasi lomba. Alhamdulillah, guru pendampingnya mensupport. Beliau mengajakku ikut. Jadi, kami berangkat bareng dalam mobil si Bapak Guru itu.

Pas aku lihat pengumuman di tempat lomba, ternyata jumlah peserta seluruhnya ada 158 orang. Zidan berada di peringkat 16. Sungguh pencapaian yang luar biasa.

Meski pada akhirnya Zidan gagal masuk final, tapi aku tetap mengapresiasinya dengan antusias. Masuk semifinal itu udah demikian membanggakan. Dan Alhamdulillah, bagi para semifinalis (16 besar) berhak mendapatkan fasilitas masuk SMA Negeri tersebut tanpa test lagi.

Sujud syukur banget, Zidan dah dapat tiket masuk SMA Negeri yang berkualitas bagus. Hanya sayangnya, lokasi sekolah itu cukup jauh, dan melewati pabrik garment yang rawan macet. Jadi kalau berangkat dari rumah harus pagi-pagi. Zidan sih mau-mau aja daftar ke SMA Negeri itu, tapi masih mikir-mikir juga.
Aku cuma berharap, yang terbaik untuk Zidan. Semoga.
Kenangan sama Zidan waktu masih imut.. :)



Sabtu, 10 Oktober 2015

Aku Nonton Bokep Sejak Kelas 2 SD!

Ini benar-benar harus menjadi perhatian para orang tua. Anak-anak kita.. oh, anak-anak kita yang lucu, baik, ceria, dan pintar, ternyata mereka mengalami hal yang sungguh di luar dugaan.

Saat itu, saya sedang asik ngobrol dengan anak-anak laki-laki kelas 7. Cerita demi cerita bergulir. Akhirnya saya tergelitik untuk melontarkan pertanyaan pancingan, "Kalau nonton bokep, udah pernah?"

Anak-anak itu ada yang tergelak, ada yang senyam-senyum. Satu sama lain saling pandang. Lalu meluncurlah cerita seputar pengalaman mereka menonton film-film yang tak pantas itu. Sejujurnya, saya mendengarkan sambil menahan debur pilu yang berdentum-dentum. Bayangkan, anak-anak di usia sekecil itu, berbicara fasih tentang situs-situs porno dan bagaimana cara mencari film-film itu dengan menyebutkan beberapa kata kuncinya.

Sepanjang mereka bercerita, saya berusaha tetap datar agar mereka leluasa terus bicara. Hampir semua mengawali nonton itu karena diajak teman. Dan itu dilakukan saat mereka masih duduk di bangku SD! Setelah sekali nonton, lalu ada yang kedua kali, ketiga kali, dst. Biasanya setelah rame-rame sama temen, mereka akan mengulanginya saat sendiri di kamar.

Setelah mereka banyak bercerita, saya mulai sisipkan pelan-pelan tentang bahaya besar yang akan menimpa mereka kalau kebiasaan ngebokep itu terus dilakoni. Saya katakan juga, Allah tidak suka perbuatan maksiat itu. Mereka rata-rata mengerti. Semua mengangguk-angguk. Katanya, sudah tahu. Tapi kalau lagi nggak ada kerjaan, di kamar sendirian, suka iseng ngeklik itu lagi, trus keasyikan. Duh, Gustiii...

Jangan terburu-buru menyalahkan orang tua, dengan mempertanyakan, "Itu ayah ibunya pada kemana sih?"
Beberapa dari mereka nggak sibuk-sibuk banget, kok. Mereka juga cukup perhatian sama anak-anak. Dari kalangan baik-baik dan rajin mengaji. Lalu, kenapa? Karenaa.. para orangtua itu sama sekali nggak terpikir bahwa anaknya yang imut akan melakukan hal menjijikkan seperti itu. Mungkin mereka hanya mengira, hp berada di tangan anak-anak dihabiskan untuk main games atau chatting sama teman saja.

Yang membuat dada saya sesak adalah, salah satu dari mereka bilang, "Aku kenal film bokep sejak kelas 2 SD!" Lemas rasanya seluruh persendian saya. Anak saya yang bungsu, duduk di kelas 2 SD. Nggak kebayang, anak sekecil itu melahap film biru.. :'(

Ketika saya katakan bahwa kebiasaan ngebokep itu bisa menimbulkan kerusakan atau gangguan otak, anak itu menukas, "Tapi aku tetep pinter! Nggak kenapa-kenapa!"

Believe it or not.. anak itu memang pinter. Terutama pada pelajaran matematika dan sains, sering mendapat nilai seratus. Pelajaran lain juga tetap bagus. Bahkan hafalan Al-Qurannya pun sudah melewati juz 30, dan sudah hafal beberapa surat di juz 29.

Nah, itulah yang mengecoh. Anak-anak itu tampak seperti baik-baik saja. Orangtua tidak curiga. Mereka memberikan hp atau gadget tanpa pengawasan. Bukan karena tidak perhatian, tapi karena ketidaktahuan. Bahwa kewaspadaan perlu ditingkatkan berkali lipat.

Tanpa diketahui, saat jam istirahat, ada juga beberapa anak yang 'praktik' di dalam kelas. Pintu kelas ditutup. Guru-guru tidak ada yang melihat, karena mereka pun beristirahat pula di ruang guru.

Kini saatnya kita semua bergerak. Orang tua, guru, keluarga, dan siapa pun, mari lindungi anak-anak kita. Tingkatkan pengawasan terhadap anak-anak. Waspadai gadget di tangan mereka. Pelajari tips cara mudah blokir situs porno. Tips-tips tersebut bisa di-search di Google. Jangan kalah canggih dengan anak-anak. Para orang tua sudah waktunya melek internet.

Gambar diambil dari sini



SENJA *)





        Senja membayang. Bola raksasa dengan campuran warna merah-orange tersenyum cerah dalam bulatnya yang sempurna. Angin semilir menyapa ramah. Namun suasana di rumah itu tampak tersaput mendung. Sebuah rumah tua nan asri.
        “Rumah ini dijual saja!"
        Mak Iyoh membeku. Mata cekungnya menyorot pilu. Air mukanya mengeruh. Anja, anak bungsu dan lelaki satu-satunya, menatap menunggu jawab. Namun Mak Iyoh tetap bergeming. Kata-katanya mengumpul di ujung bibir, tak mampu dilepaskannya
        “Mak setuju tidak?” tanya Anja, hati-hati.
Mata Mak Iyoh menerawang. Di dinding, seekor cicak tanpa ekor merayap cepat lalu menyelinap di balik bingkai. Mak Iyoh menghela napas. Bingkai itu memajang foto dirinya bersama suami tercinta, yang telah berpulang ke haribaanNya, setahun silam.
        “Mak pikir-pikir dulu ya...” lirih Mak Iyoh.
        Sepasang anak kembar, usia lima tahun, berlarian dari arah luar, berceloteh ribut.
       “Nini jadi ikut ke rumah kita, kan?”
       “Nini nanti tidur sama kita, ya!"
        Masing-masing lengan Mak Iyoh diguncang-guncang. Perempuan usia enampuluhan itu tersenyum penuh kasih kepada cucu-cucu tersayangnya.    
        “Nini jadi ikut kaan..?” si kembar mengulang pertanyaan.
        “Iya, Nini ke rumah kita, tapi enggak sekarang. Nanti, bulan depan!" tegas Anja.
        “Yaah..!” si kembar memandang kecewa kepada ayahnya.
        Di sudut ruangan, Teta, istri Anja, tenang menyuapi adik si kembar, tak terpengaruh keadaan.

*****

        Mak Iyoh meluruskan kaki kurusnya. Mata tuanya mengelilingi ruangan 2x2 meter yang kini menjadi kamarnya. Sebuah lemari plastik baru, berdiri tegak di samping ranjang yang sedang didudukinya. Aku harus betah di sini, demi anak cucu, tekadnya.
        Kamar baru Mak Iyoh terletak di bagian belakang rumah Anja. Dulunya kamar pembantu. Karena tidak ada lagi ruangan lain, Mak Iyoh tidak keberatan menempati kamar sempit itu.

       Malam belum beranjak tua. Mak Iyoh masih membaca Al-Qur’an dengan suara perlahan. Dari ruang keluarga terdengar gelak tawa. Anja dan keluarganya tengah asyik menyaksikan tayangan komedi dari televisi layar datar di ruangan tersebut.
       Mak Iyoh mengakhiri bacaan Qur’annya saat kaki mulai terasa kesemutan. Ia selalu menjaga sikap. Kaki yang berselonjor, menurutnya adalah posisi yang tidak patut bila sedang mengaji. Maka ditutuplah Qur’an usang miliknya. Hening menyergap. Seketika Mak Iyoh teringat malam-malam sepinya di kampung yang kadang ditingkahi suara jangkrik atau senandung burung hantu. Sebuah simfoni malam yang tak tergantikan keindahannya oleh orkestra mana pun.
        Kepindahan Mak Iyoh ke rumah Anja, kadang masih menyisakan tanya dalam benaknya sendiri. Tepatkah langkah ini? Namun segera dikuatkannya hati. Ini demi anak cucu.
        Teta, bekerja di bank swasta ternama. Ia sangat membutuhkan seseorang untuk menjaga anak-anaknya selama ia tidak di rumah. Pembantu yang ada sekarang, hanya datang pagi pulang sore, dan tidak jarang mangkir karena rupa-rupa alasan. Mak Iyoh diminta untuk menjaga cucu-cucunya. Maka, dipenuhinya permintaan itu, dengan meninggalkan segenap kenangannya di kampung.

*****

       Matahari belum mencapai ubun-ubun, namun kegarangannya mulai tampak. Jarum jam menunjukkan pukul sepuluh lewat lima menit. Seperti hari-hari kemarin, langkah kaki Mak Iyoh mengayun perlahan menuju taman kanak-kanak tempat cucunya bersekolah, memenuhi permintaan mereka.
       "Ni, jemput kita, ya! Aku nggak mau sama Mbak Lis lagi, ah!"
       “Iya, Ni.. Dia suka ngobrol lama di warung bakso Mas Acoy. Males banget!
       Ibu-ibu berkerumun di luar pagar sekolah sambil asyik bicara ngalor-ngidul. Saat tertangkap retina, sosok Mak Iyoh berjalan di kejauhan, seorang ibu membuka topik baru, dan segera disambut sahut menyahut.
        “Kasihan ya, neneknya Rani-Rina, tiap hari berpanas-panas ngejemput cucunya."
        “Malah paginya, sambil ngegendong adik si kembar, ikut antre di Mpok sayur. Tangan satu ngegendong, satunya lagi bawa kantong belanja!"
        “Orangtua, kok, dijadiin pembantu, ya? Ih, amit-amit!
        Padahal Bu Teta kan punya pembantu."

        “Pembantu ganjen! Pacaran mulu sama si Acoy tukang bakso."
        Dia sih enak,  datengnya jam delapanan.  Rumah sudah rapi, si kecil sudah dimandiin, disuapin. Malah yang masak juga sering Mak Iyoh itu."

*****

       Mak Iyoh baru saja mengucap salam pada rakaat terakhir shalat Ashar saat terdengar pintu kamarnya diketuk. Mbak Lis muncul, lalu tanpa dosa pamit pulang, sambil menitipkan jemuran.
       “Roni sudah dimandikan, Mbak?” tanya Mak Iyoh.
       “Belum Ni, masih nyenyak tidurnya. Si kembar juga belum, tuh, dari tadi anteng main Barbie,” jawab Mbak Lis, enteng, seraya berlalu.
        Mak Iyoh menghela napas. Diraihnya Al-Qur’an, lalu memulai tilawah. Belum satu halaman dirampungkan, terdengar tangis Roni memecah sore. Mak Iyoh melangkah tergesa. Rupanya, Roni bangun dalam keadaan mengompol. Sambil menenangkan tangis, Mak Iyoh mencopoti baju yang bau pesing itu lalu menuntun Roni ke kamar mandi. Selesai mandi, Roni minta digendong menuju kamarnya. Bocah tiga tahun berbobot sembilanbelas kilogram itu pun digendong.  Rasa sakit menjalari kaki yang kerap dirasakan Mak Iyoh, ditahannya kuat-kuat.
        Tiba-tiba dari arah halaman belakang, si kembar riuh berseru, "Hujaan.. Ni.. hujaan!"
        Teringat jemuran yang tadi dititipkan Mbak Lis, tanpa memedulikan rasa sakit pada kakinya, Mak Iyoh langsung tergopoh-gopoh menuju jemuran dan menyambar semua pakaian. Lalu semuanya ditaruh dalam boks plastik di ruang setrika. Yang masih agak basah, dipilih dan digantungnya pada gantungan berbentuk lingkaran. Sementara itu, hujan tanpa aba-aba terus mengalir deras.  Saat keluar dari ruang setrika, Mak Iyoh tercekat. Rani-Rina-Roni sempurna basah kuyup, sukses bermain hujan.

*****

       Teta menarik termometer dari ketiak Rina.
       “Hmm.. sama dengan Rani, 38 derajat!" gumamnya dengan nada gusar, memasukkan termometer ke dalam wadahnya.
        Mak Iyoh tertunduk lesu. Tangannya dengan kulit yang mengisut itu memijat lembut kaki Roni yang tertidur pulas di sofa.  Tidak demam seperti kakaknya, suhu Roni setelah diukur 'hanya' 36,5 derajat.
        Teta menyiapkan sirup penurun panas, “Kalian minum obat sekarang!” suaranya ketus.
       “Nini bantu minum obatnya,” Mak Iyoh beringsut dari kursi.
        Teta tak bereaksi. Raut mukanya tetap masam. Disodorkannya sesendok sirup penurun panas kepada putri kembarnya.
       “Kalau sudah minum obat, cepat tidur, supaya panasnya cepat turun!" ujar Teta dingin, tepat saat Mak Iyoh dengan lunglai kembali ke kamarnya.

*****

       Rasa sakit yang menusuk-nusuk kaki semakin ngilu dirasa oleh Mak Iyoh. Balsem yang membaluri sekujur kakinya tidak lagi berarti. Barangkali aku harus minum obat, pikirnya. Mak Iyoh pun membulatkan niat untuk mengungkapkan rasa skit yang dideritanya, namun selalu disembunyikannya itu. Hari Sabtu begini kan libur, mungkin anakku mau mengantar ke dokter, harap Mak Iyoh dalam hati.
       Saat tiba di ruang keluarga, terlihat Teta dalam penampilan rapi dan modis tengah sibuk membujuk si kembar. Sementara si bungsu asyik menonton film anak-anak dari TV Kabel.  Anja, dengan kemeja kotak-kotak dan celana jeans trendy yang membungkus tubuh atletisnya, mengenakan kaos kaki sambil berujar ringan,
      “Mak, aku mau mengantar Teta ke acara reuni temen-temen kuliahnya. Titip anak-anak di rumah, ya!”
       Teta berhasil membujuk Rani-Rina, kemudian mematut diri di depan cermin besar di atas bufet, memperbaiki letak bros, dan tanpa beban menambahkan,
       “Si kembar masih agak anget badannya. Nanti habis makan, suruh pada minum obat, terus langsung tidur!"
       Mak Iyoh mengangguk. Tatapan matanya meredup mengiringi kepergian anak dan menantunya. Ada sesak yang menggumpal di dada.
       Di luar, senja mulai turun. Lukisan alam akan berganti dengan semburat jingga yang anggun. Kehadirannya singkat saja. Ia penghujung waktu yang pantang disiakan, sebelum sang malam menutup hari.

*****

*) Cerpen ini menjadi Pemenang II Lomba Cerpen Majalah Ummi Tahun 2012