Itu yang diteriakkan Nadia ketika tiba di rumah. Hari itu, hari Senin, Nadia tidak masuk sekolah. Padahal seminggu sebelumnya dia libur karena kelas 6 menjalani Ujian Sekolah. Pagi hari, aku bilang sama Nadia, Teh, nggak usah sekolah aja, gimana? Ikut sama Mama, ke seminar Ustadz Felix Siauw. Jadi nanti Teteh temenin adek di sana.
Nadia mengangguk mantap. Pingin ketemu juga sama Ustadz Felix, ucapnya dengan mata berbinar.
Awalnya aku berpikir untuk berangkat sendiri. Duh, males banget kalau seminar sambil bawa krucil. Tapi lantaran kemarin Salman baru saja kutinggalkan dari pagi sampai malem, karena aku pergi ke Bogor, maka tidak adil rasanya bila keesokan harinya pun ia ditinggalkan lagi. Maka si bungsu itu aku ajak saja, sambil kubawa Nadia untuk menemaninya.
Seminar ini aku nantikan betul. Infonya sudah aku dapat sejak beberapa minggu lalu. Tiketnya bikin bengong deh.. murah banget. Untuk early bird I cuma 25 ribu saja, setelah itu early bird II naik dikit 30 ribu, dan on the spot 35 ribu.
Karena beberapa kali nomor contact person panitia acara itu sulit dihubungi, aku pikir yo wes on the spot aja. Teringat percakapanku dengan seorang teman ketika pertama kali aku dapat info ini.
Ini harus daftar buru-buru, ya?
Ah, nggak juga...
Oh, emang kalau di Sukabumi, seminar-seminar kurang diminati?
Iya...
Tadinya kukira harus buru-buru, takut nggak kebagian tempat..
Halah, tenang aja.. on the spot juga, nggak apa-apa...
Makanya jadi aku tenang-tenang ae. Malah kemudian Zidan juga kuajak sekalian. Biar dia tahu, seminar itu macam mana, dan materinya juga kan pasti bagus. Kalaupun ada khilafah-khilafahnya, ya nggak apa-apa lah buat nambah pengetahuan.
Pas hari 'h' berbondong-bondonglah aku sama anak-anak. Kami siap untuk mendengarkan materi dari Ustadz Felix.
Begitu tiba di Gedung Islamic Centre tempat acara itu diselenggarakan, kulihat di parkiran lumayan banyak motor. Ada juga beberapa gerombol orang yang tampaknya seperti mahasiswa. Di gerbang berdiri seorang panitia, yang langsung menyapa kami, menanyakan tiket. Ketika kami bilang baru mau beli, panitia itu mengatakan tiket sudah sold out. Tidak bisa on the spot,tidak lagi bisa menjadi peserta pada hari 'h'.
Tentu saja aku protes. Kenapa panitia sulit dihubungi. Padahal aku juga sudah ingin memesan tiket sebelum acara dimulai. Panitia itu terus saja minta maaf.
Akhirnya, shikata ga nai, we have no choice, ya sudah balik kanan grak. Kembali pulang.
Sepanjang jalan pulang. Nadia diam saja. Wajahnya menekuk. Bibirnya manyun. Lalu keluar gerutuannya. Ngapain coba, aku nggak sekolah. Huh! padahal aku pingin sekolah, soalnya kemaren kan libur lama.
Puncak kekesalannya, setiba di rumah, ia berteriak, "Aku jadi sebel sama Ustadz Felix Siauw!"
Sejujurnya aku juga kesel banget sih sama panitia yang kurang rapi kerjanya. Udah jelas jadi contact person, lha ini malah nggak bisa dihubungi.. :(
Tapi yo wes lah, emang belum berjodoh sama Ustadz Felix kali itu. Maybe next time...
Rabu, 28 Mei 2014
Minggu, 18 Mei 2014
Ulang Tahun Yang Ketiga Sejak Saat Itu
Menjelang hari lahirku, aku menulis status di facebook, berharap akan terjadi hal yang istimewa. Mungkin bukuku terbit, tulisan-tulisanku dimuat di media massa, dan yang lagi antri di penerbit hasilnya di-acc. Lalu bertaburan respons dari teman-teman. Sesuatu yang menyenangkan, bukan? Mendapati teman-teman meniupkan semangat, mengalirkan energi positif, melantunkan harap, mengamini doa-doa kebaikan.
Setelah menulis status itu, hari-hariku berlalu seperti biasa. Pun ketika hari kelahiranku, 15 Mei itu tiba. Aku tetap berangkat mengajar. Sesi pagi mengajar di taman kanak-kanak. Siangnya memberi les bahasa Inggris kepada anak-anak SD, hingga menjelang magrib. Pulangnya naik kendaraan umum, serupa mobil van besar, berhimpitan penuh sesak, tanpa ada kesempatan punggungku menyandar sekadar meminimalisir rasa pegal. Macet berat menghadang di jalan.
Hingga kemudian di suatu hari Minggu pagi, 18 Mei, ponselku berbunyi. Sms masuk. Kulihat namanya: Mbak Dhani. Ada apa nih?
Yang terjadi kemudian adalah.. aku memekik, rasanya tak percaya pada apa yang tertulis di sandek itu. Resensiku dimuat di Kompas Anak. Subhanallah. Sujud syukur.
Mbak Dhani sms lagi, ini hadiah yang manis dari Allah ya, Dik..
Aku tertegun. Teringat kembali pada statusku yang kemarin itu. Ya Allah... Kau kabulkan inginku. Subhanallah. Terima kasih Ya Allah.
Ingatanku terlempar pada proses pengiriman resensi itu. Aku menulisnya saat laptop rusak, sehingga aku menumpang di komputer keponakanku. Lalu kubawa hasil ketikannya di flashdisk ke warnet. Pas aku buka, lho.. kok berantakan..? Rupanya komputer ponakanku itu windows 2010, sementara di warnet masih 2007.
Dengan katroknya aku ubah-ubah semua. Lalu kata si bapak warnet, nggak usah diubah, langsung aja. Akhirnya dengan bantuan bapak warnet itu, resensiku terkirim.
Mengenang hal yang susah ketika berbuah manis, terasa nyess gitu deh. Betul-betul bersyukur sama Allah.
Kebahagiaanku hari ini dilengkapi juga dengan kabar dari sekolah anakku, bahwa dia hari ini masuk sekolah hingga jam terakhir. Ini hari pertamanya setelah sekitar dua bulan nggak pernah masuk sekolah. Duhai, betapa indahnya dunia.. :)
Semoga masih akan ada terus kabar-kabar yang membuat bibirku melengkungkan senyum. Seperti yang Nadia bilang, kalau Mama bibirnya membentuk huruf U, cantik deh.. ^^
Setelah menulis status itu, hari-hariku berlalu seperti biasa. Pun ketika hari kelahiranku, 15 Mei itu tiba. Aku tetap berangkat mengajar. Sesi pagi mengajar di taman kanak-kanak. Siangnya memberi les bahasa Inggris kepada anak-anak SD, hingga menjelang magrib. Pulangnya naik kendaraan umum, serupa mobil van besar, berhimpitan penuh sesak, tanpa ada kesempatan punggungku menyandar sekadar meminimalisir rasa pegal. Macet berat menghadang di jalan.
Hingga kemudian di suatu hari Minggu pagi, 18 Mei, ponselku berbunyi. Sms masuk. Kulihat namanya: Mbak Dhani. Ada apa nih?
Yang terjadi kemudian adalah.. aku memekik, rasanya tak percaya pada apa yang tertulis di sandek itu. Resensiku dimuat di Kompas Anak. Subhanallah. Sujud syukur.
Mbak Dhani sms lagi, ini hadiah yang manis dari Allah ya, Dik..
Aku tertegun. Teringat kembali pada statusku yang kemarin itu. Ya Allah... Kau kabulkan inginku. Subhanallah. Terima kasih Ya Allah.
Ingatanku terlempar pada proses pengiriman resensi itu. Aku menulisnya saat laptop rusak, sehingga aku menumpang di komputer keponakanku. Lalu kubawa hasil ketikannya di flashdisk ke warnet. Pas aku buka, lho.. kok berantakan..? Rupanya komputer ponakanku itu windows 2010, sementara di warnet masih 2007.
Dengan katroknya aku ubah-ubah semua. Lalu kata si bapak warnet, nggak usah diubah, langsung aja. Akhirnya dengan bantuan bapak warnet itu, resensiku terkirim.
Mengenang hal yang susah ketika berbuah manis, terasa nyess gitu deh. Betul-betul bersyukur sama Allah.
Kebahagiaanku hari ini dilengkapi juga dengan kabar dari sekolah anakku, bahwa dia hari ini masuk sekolah hingga jam terakhir. Ini hari pertamanya setelah sekitar dua bulan nggak pernah masuk sekolah. Duhai, betapa indahnya dunia.. :)
Semoga masih akan ada terus kabar-kabar yang membuat bibirku melengkungkan senyum. Seperti yang Nadia bilang, kalau Mama bibirnya membentuk huruf U, cantik deh.. ^^
Kamis, 17 April 2014
Keajaiban Itu Ada
Hai Day, aku lagi terbengong-bengong setelah beberapa saat lalu, mendapat sms dari kakakku yang tinggal nun jauh di Pekanbaru sana. Nda, besok mau ditransfer, itu bunyi smsnya. Bener-bener takjub, betapa Allah menurunkan pertolonganNya sungguh di saat yang persis tepat banget.
Kalimat 'Allah akan memberikan rezeki dari arah yang tak disangka-sangka' memang sudah sangat familiar. Tapi ketika saat terdesak itu tiba, aku kok selalu lupa pada kalimat itu. Maka aku sibuk bergumam sendiri, bagaimana caranya bisa memperoleh rupiah demi mememenuhi kebutuhan sehari-hari.
Dompet isinya tinggal beberapa lembar warna abu-abu dengan wajah Pangeran Antasari yang berwibawa. Aku termangu. Hari-hari ke depan, anak-anak sekolah ongkosnya bagaimana? Kalau beras masih ada, karena biasa beli untuk jatah sepekan. Buat teman nasi, ada telur yang baru aku beli kemarinnya, cukup banyak sebagai persediaan. Berarti masalah perut, aman.
Nah, ketika aku sedang termenung itu-lah, sms itu tiba. Subhanallah.. siapa coba yang menggerakkan hati kakakku untuk transfer uang buat aku dan anak-anak. Terbukti banget kan, Allah itu tidak tidur, tidak akan mungkin menzhalimi hambaNya. Dari kemarin, nggak kepikir sama kakak yang satu itu, karena jarak yang memisahkan kami, sehingga komunikasi nggak se-intens kakak-kakak yang ada di sini. Tapi ternyata, dia-lah yang Allah pilih sebagai jalan untuk pembuka rupiahku,
Allah maha tahu sepak terjangku. Aku hanya berusaha berjuang sekuat yang aku bisa. Meski sejujurnya, kadang aku merasa kurang gambatte. Acap aku kurang keras pada diri sendiri. Aku sering mengalah pada tubuhku. Menyerah pada kantuk, sehingga percepatan menulisku kedodoran. Tak berdaya pada letih dan pegal anggota badan.
Aku nggak tahu Day, ujung kisah terpurukku ini akan memiliki ending seperti apa. Jelas aku tak ingin selamanya hanya menadah tangan di bawah. Kamu nggak pernah bisa ngebayangin kan, Day.. gimana rasanya menjadi orang yang diberi sedekah oleh orang lain?
Tapi aku yakin, keajaiban itu ada. Aku harus yakin itu. Kekuatanku mengandalkan doa. Berharap aku-lah yang akan mendapat keajaiban mengesankan dariNya.
Kalimat 'Allah akan memberikan rezeki dari arah yang tak disangka-sangka' memang sudah sangat familiar. Tapi ketika saat terdesak itu tiba, aku kok selalu lupa pada kalimat itu. Maka aku sibuk bergumam sendiri, bagaimana caranya bisa memperoleh rupiah demi mememenuhi kebutuhan sehari-hari.
Dompet isinya tinggal beberapa lembar warna abu-abu dengan wajah Pangeran Antasari yang berwibawa. Aku termangu. Hari-hari ke depan, anak-anak sekolah ongkosnya bagaimana? Kalau beras masih ada, karena biasa beli untuk jatah sepekan. Buat teman nasi, ada telur yang baru aku beli kemarinnya, cukup banyak sebagai persediaan. Berarti masalah perut, aman.
Nah, ketika aku sedang termenung itu-lah, sms itu tiba. Subhanallah.. siapa coba yang menggerakkan hati kakakku untuk transfer uang buat aku dan anak-anak. Terbukti banget kan, Allah itu tidak tidur, tidak akan mungkin menzhalimi hambaNya. Dari kemarin, nggak kepikir sama kakak yang satu itu, karena jarak yang memisahkan kami, sehingga komunikasi nggak se-intens kakak-kakak yang ada di sini. Tapi ternyata, dia-lah yang Allah pilih sebagai jalan untuk pembuka rupiahku,
Allah maha tahu sepak terjangku. Aku hanya berusaha berjuang sekuat yang aku bisa. Meski sejujurnya, kadang aku merasa kurang gambatte. Acap aku kurang keras pada diri sendiri. Aku sering mengalah pada tubuhku. Menyerah pada kantuk, sehingga percepatan menulisku kedodoran. Tak berdaya pada letih dan pegal anggota badan.
Aku nggak tahu Day, ujung kisah terpurukku ini akan memiliki ending seperti apa. Jelas aku tak ingin selamanya hanya menadah tangan di bawah. Kamu nggak pernah bisa ngebayangin kan, Day.. gimana rasanya menjadi orang yang diberi sedekah oleh orang lain?
Tapi aku yakin, keajaiban itu ada. Aku harus yakin itu. Kekuatanku mengandalkan doa. Berharap aku-lah yang akan mendapat keajaiban mengesankan dariNya.
Minggu, 13 April 2014
Catatan Harian
Dari dulu hingga sekarang banyak orang yang suka menuliskan apa pun yang dirasakan, dialami, dan diidamkannya dalam tulisan. Bentuk yang paling sederhana adalah dalam buku harian atau diary.
Aku juga dulu punya buku harian. Kusimpan baik-baik, kurahasiakan, jangan sampai ada orang lain yang membacanya. Setelah menjadi emak, kegiatan itu sudah aku stop sama sekali. Entah aku sudah kehilangan gairah mungkin ya, soalnya dulu diary-ku banyak bercerita tentang 'dia'.. hihi.. Dan beberapa hari sebelum menikah, aku menutup kisah laluku dengan membakar semua diary-ku, tak bersisa. Hingga mungkin semangat menulis diary pun ikut terkubur bersama abu diary-ku. Oh ya, namanya Dayri.
Berbilang tahun kemudian, ketika aku mulai melek pada dunia sosmed, aku mulai tergerak untuk kembali menulis. Termasuk keinginanku untuk menulis diary. Aku kangen si Dayri.
Males aja kan, kalau harus menulis dengan pulpen seperti dulu. Maka aku pun mulai berpikir untuk menulisnya di komputer, di sebuah ruang yang orang lain tidak bisa melihatnya. Sepertinya, blog bisa menjadi Dayri-ku.
Ternyata eternyata aku melihat bahwa blog itu dengan leluasa dikunjungi orang-orang. Siapa pun bisa membaca. Hmm.. akhirnya aku setengah-setengah menulis ala diary di blog. Tulisanku beraneka, ada resensi, ada cerpen, ada tulisan lomba-lomba, dll. Belakangan, resensi dah ada blog tersendiri. Laluu.. sekarang aku mulai memikirkan untuk mulai ngobrol lagi sama Dayri-ku. Ah, aku tak hirau dengan orang-orang, karena kukira blogku ini sunyi senyap, siapa pula yang mau melirik. So, aku akan mulai menuliskan apa yang terjadi dalam dunia sekitarku.
Semoga bisa setiap hari. Jadi aku punya catatan yang terdokumentasi, yang mungkin suatu saat akan berguna. Tentang Ghulam, sulungku yang merasa punya suara merdu, atau Zidan, anak keduaku yang sering bolos sekolah, atau Nadia, my princess, yang masih sulit untuk nggak ngompol kalau malam, dan terakhir bungsuku, Salman, yang aku nggak bisa nggak untuk memanjakannya.
Oh ya, mungkin juga aku akan menulis tentang murid-murid di sekolahku, murid-murid les bahasa Inggrisku, proyek menulisku, tetanggaku, saudara-saudaraku, dan siapa juga apa saja.
Ok, Dayri.. sampai ketemu nanti yaa.. :)
Aku juga dulu punya buku harian. Kusimpan baik-baik, kurahasiakan, jangan sampai ada orang lain yang membacanya. Setelah menjadi emak, kegiatan itu sudah aku stop sama sekali. Entah aku sudah kehilangan gairah mungkin ya, soalnya dulu diary-ku banyak bercerita tentang 'dia'.. hihi.. Dan beberapa hari sebelum menikah, aku menutup kisah laluku dengan membakar semua diary-ku, tak bersisa. Hingga mungkin semangat menulis diary pun ikut terkubur bersama abu diary-ku. Oh ya, namanya Dayri.
Berbilang tahun kemudian, ketika aku mulai melek pada dunia sosmed, aku mulai tergerak untuk kembali menulis. Termasuk keinginanku untuk menulis diary. Aku kangen si Dayri.
Males aja kan, kalau harus menulis dengan pulpen seperti dulu. Maka aku pun mulai berpikir untuk menulisnya di komputer, di sebuah ruang yang orang lain tidak bisa melihatnya. Sepertinya, blog bisa menjadi Dayri-ku.
Ternyata eternyata aku melihat bahwa blog itu dengan leluasa dikunjungi orang-orang. Siapa pun bisa membaca. Hmm.. akhirnya aku setengah-setengah menulis ala diary di blog. Tulisanku beraneka, ada resensi, ada cerpen, ada tulisan lomba-lomba, dll. Belakangan, resensi dah ada blog tersendiri. Laluu.. sekarang aku mulai memikirkan untuk mulai ngobrol lagi sama Dayri-ku. Ah, aku tak hirau dengan orang-orang, karena kukira blogku ini sunyi senyap, siapa pula yang mau melirik. So, aku akan mulai menuliskan apa yang terjadi dalam dunia sekitarku.
Semoga bisa setiap hari. Jadi aku punya catatan yang terdokumentasi, yang mungkin suatu saat akan berguna. Tentang Ghulam, sulungku yang merasa punya suara merdu, atau Zidan, anak keduaku yang sering bolos sekolah, atau Nadia, my princess, yang masih sulit untuk nggak ngompol kalau malam, dan terakhir bungsuku, Salman, yang aku nggak bisa nggak untuk memanjakannya.
Oh ya, mungkin juga aku akan menulis tentang murid-murid di sekolahku, murid-murid les bahasa Inggrisku, proyek menulisku, tetanggaku, saudara-saudaraku, dan siapa juga apa saja.
Ok, Dayri.. sampai ketemu nanti yaa.. :)
Sabtu, 12 April 2014
Ibu Macam Apah Akuh?
Dinihari tadi aku membaca tulisan temanku. Ia bercerita tentang ibunya yang single mom. Ayahnya menikah lagi, meninggalkan ibunya dengan anak-anaknya yang mesih kecil. Temanku masih sekitar 5-6 tahun usianya saat kejadian itu. Lalu mengalirlah cerita temanku tentang ibunya yang berjibaku demi kelangsungan hidup mereka. Ibunya yang kuat, tegar, dengan setiap tetes cinta dalam peluh lelahnya.
Aku tercenung seiring titik air yang meluruh dari pelupuk membasahi pipi. Temanku demikian membanggakan ibunya. Ibu yang tangguh dengan kasih sayang tak terbilang.
Selalu ada yang bergetar di hati setiap membaca tulisan seorang anak tentang ibunya. Aku ibu macam apa? Tetiba aku merasa jaauuuh belum melakukan seperti yang ibu temanku lakukan. Meski aku merasa terengah-engah, terseok-seok, terhuyung-huyung. Tapi aku belum bekerja sekeras yang dilakukan para ibu, yang senasib denganku, harus mengepak dengan satu sayap.
Secara kebetulan juga, selesai aku membaca tulisan temanku, aku nge-chat dengan teman, yang tanpa disetting sebelumnya, temanku bercerita tentang ibunya yang single mom dengan 5 anak. Lagi-lagi beliau ibu yang luar biasa.
Duhai, betapa yang aku lakukan masih belum ada apa-apanya. Menjadi single mom itu sesuatu banget. Meski.. yaa.. bukan single mom pun, keluarga komplet sekali pun, mereka tetap ditimpa masalah toh?
Aku harus bekerja keras lagi. Bekerja keras secara fisik, mencari nafkah. Pun bekerja secara psikis, mengendalikan emosi. Di tengah tekanan pekerjaan di sekolah, proyek-proyek menulis, dan segala urusan domestik, emosi tegangan tinggi acap sulit dihindarkan. Dengan beragam hal yang harus dilakukan, aku tidak jarang merasa sulit menentukan skala prioritas.
Harapanku, anak-anakku bisa merasakan betapa aku menyayangi mereka. Bahwa apa yang aku lakukan tiada lain hanya untuk mereka. Tak ada keinginan rasanya untuk diriku sendiri, semua semata demi mereka. Rasanya aku tidak butuh apa-apa lagi setelah semua kegagalan ini. Aku hanya ingin anak-anak meraih kebahagiaan sejati, jangan sampai mereka mengecap bagian pahit seperti yang kurasakan sekarang. Bahwa semua kecerewetan dan kebawelanku, sama sekali bukan karena aku marah, melainkan demikian sayangku kepada mereka. Anak-anakku harus mandiri dan punya tanggung jawab. Mereka harus 'menjadi'.
Semoga kenangan mereka tentangku kelak, meninggalkan hal yang menyenangkan dan baik-baik. Kalaupun ada hal yang terasa menyebalkan, lantas mereka sadari itu sebagai proses pendewasaan. Hanya doa-doa panjang kurajut demi kebahagiaan hidup anak-anakku, karena apalah setitik keringat yang muncul dari kulit jangat, tak lain tempat bergantung hanyalah Allah..
Aku tercenung seiring titik air yang meluruh dari pelupuk membasahi pipi. Temanku demikian membanggakan ibunya. Ibu yang tangguh dengan kasih sayang tak terbilang.
Selalu ada yang bergetar di hati setiap membaca tulisan seorang anak tentang ibunya. Aku ibu macam apa? Tetiba aku merasa jaauuuh belum melakukan seperti yang ibu temanku lakukan. Meski aku merasa terengah-engah, terseok-seok, terhuyung-huyung. Tapi aku belum bekerja sekeras yang dilakukan para ibu, yang senasib denganku, harus mengepak dengan satu sayap.
Secara kebetulan juga, selesai aku membaca tulisan temanku, aku nge-chat dengan teman, yang tanpa disetting sebelumnya, temanku bercerita tentang ibunya yang single mom dengan 5 anak. Lagi-lagi beliau ibu yang luar biasa.
Duhai, betapa yang aku lakukan masih belum ada apa-apanya. Menjadi single mom itu sesuatu banget. Meski.. yaa.. bukan single mom pun, keluarga komplet sekali pun, mereka tetap ditimpa masalah toh?
Aku harus bekerja keras lagi. Bekerja keras secara fisik, mencari nafkah. Pun bekerja secara psikis, mengendalikan emosi. Di tengah tekanan pekerjaan di sekolah, proyek-proyek menulis, dan segala urusan domestik, emosi tegangan tinggi acap sulit dihindarkan. Dengan beragam hal yang harus dilakukan, aku tidak jarang merasa sulit menentukan skala prioritas.
Harapanku, anak-anakku bisa merasakan betapa aku menyayangi mereka. Bahwa apa yang aku lakukan tiada lain hanya untuk mereka. Tak ada keinginan rasanya untuk diriku sendiri, semua semata demi mereka. Rasanya aku tidak butuh apa-apa lagi setelah semua kegagalan ini. Aku hanya ingin anak-anak meraih kebahagiaan sejati, jangan sampai mereka mengecap bagian pahit seperti yang kurasakan sekarang. Bahwa semua kecerewetan dan kebawelanku, sama sekali bukan karena aku marah, melainkan demikian sayangku kepada mereka. Anak-anakku harus mandiri dan punya tanggung jawab. Mereka harus 'menjadi'.
Semoga kenangan mereka tentangku kelak, meninggalkan hal yang menyenangkan dan baik-baik. Kalaupun ada hal yang terasa menyebalkan, lantas mereka sadari itu sebagai proses pendewasaan. Hanya doa-doa panjang kurajut demi kebahagiaan hidup anak-anakku, karena apalah setitik keringat yang muncul dari kulit jangat, tak lain tempat bergantung hanyalah Allah..
Selasa, 25 Maret 2014
Memaknai Kekalahan
Dalam rentang perjalanan hidup yang demikian panjang ini,
pastilah ada fase saat kita mengalami kekalahan. Nggak ada dong yang bilang, “Kita?”,
karena saya yakin semua pasti mengalami lah yang namanya ‘kalah’. Kalah dalam
konteks apa pun ya, entah itu suatu perlombaan resmi, maupun bentuk-bentuk
persaingan lain dalam pergaulan sehari-hari. Ada yang yang kalah taruhan, ada
yang kalah dalam ranking di kelas, ada yang kalah dalam rebutan pacar (hiii..
yang ini bukan gue banget dah!), ada lagi yang kalah dalam bisnis, dan
rupa-rupa kekalahan lain.
Keragaman kekalahan ini, berbanding lurus dengan reaksi
seseorang dalam menyikapi kekalahan tersebut. Artinya, reaksi ini juga
beraneka. Ada yang kesel, ada yang kesel banget, ada yang marah-marah, mungkin
ada juga yang biasa-biasa saja, atau boleh jadi ada yang sampai bunuh diri
segala..na’udzubillah..
Kalimat yang terdengar klise yang mengiringi sebuah
kekalahan, biasanya: Kalah menang itu
biasa, Kekalahan adalah sukses yang tertunda, Orang yang kalah dan mampu
menerima kekalahan sesungguhnya ia-lah orang yang menang, dan macam-macam
kata bijak lainnya (cari aja di Google deh, saya nggak sempet.. :D)
Berapa kali ya, saya mengalami kalah? Wah, nggak pernah
ngitung deh! Tapi dari sekian banyak kekalahan itu, pasti ada yang masih
terkenang-kenang ya.. terkenang-kenang pedihnya.. uhuk!
Memang betul, kekalahan bukan untuk diingat sedihnya aja,
apalagi sampai diratapi.. jangan banget itu mah. Ya buat apa lah? Untung nggak,
rugi iya. Toh nggak akan kemenangan tiba-tiba jadi beralih.
Jadi, kalau sudah kalah, langkah yang tepat adalah
introspeksi. Meskipun kalau ada kesel-kesel, sedikit nyesek, masih wajar dong,
namanya juga manusia kan punya perasaan. Kalau pinjam istilah motivator
kondang, Pak Jamil Azzaini, yang penting menggerakkan epos alias energi
positif. Jangan sampai jadi mutung nanti malah timbulnya eneg alias energi
negatif. Lagian kalau eneg nanti bisa muntah.. huek!
Nah, masalahnya bukan pekerjaan gampang untuk bisa menerima
kekalahan dengan ikhlas hingga memunculkan epos tadi. Namun bukan berarti juga
itu adalah pekerjaan sulit yang tidak mungkin dilakukan. Kalau kita
bersungguh-sungguh, apa sih yang nggak bisa? Jadi kuatkan niat dulu.
Contoh nih ya.. kekalahan yang masih segar dalam ingatan
adalah kekalahan telak saya dalam Lomba Resensi Indiva beberapa waktu lewat.
Sejujurnya, karena memang saya ngarep waktu itu, ketika jreng! baca pengumuman,
nama saya tidak ada, hmm.. nelongso deh rasanya.. haha.. Bisa dimaklumi dong..
saya kirim lima resensi.. coba bayangkan sidara-sodari.. lima! Dan tidak ada
satu pun yang lolos. Gile deh.. ternyataa.. gue cemen bikin resensi! Sementara selama
ini, teman-teman terus saja menyematkan diri saya sebagai peresensi yang boleh
dibilang wokeh lah.. ehm!
Kebayang kan, bagaimana berkeping-kepingnya hati saya? Hahaha..
Walaupun waktu itu sih, saya tutup-tutupi di hadapan khalayak ramai,
seolah-olah no problemo. Dan masih nggak sedih-sedih amat karena ada 2 orang
teman yang senasib.. hihi.. sebut namanya, jangan yaa..? nggak usah deh! :D
Tapi yaa.. demikianlah hidup. Layaknya sebuah perlombaan.
Adakalanya berjalan sesuai harapan , dan sebaliknya bisa saja bergerak di luar
dugaan. Semua berkontribusi dalam proses pendewasaan.
Dalam kasus kekalahan saya di Indiva, tentu saya dituntut
berpikir dewasa, artinya bukan lantas seperti anak kecil yang ngambek tidak mau
lagi menulis resensi. Meski saat itu saya memberi kesempatan pada diri saya
untuk menjeda (Tuti, pinjam judul novelmu ya? :D)
Yang tidak bisa dihindari saat menerima kekalahan adalah
rupa-rupa bentuk kotornya hati. Bisa berbentuk suudz dzhan, bisa juga takabur.
Berprasangka bahwa juri atau panitia yang tidak fair, atau melintas sebuah
kesangsian yang arogan, “Kok punya si itu
menang sih, padahal bagusan juga punya aku.” Astaghfirullah.
Penerimaan mutlak adalah bentuk keikhlasan yang harus
dimiliki saat menghadapi kenyataan berupa kekalahan. Saya juga tidak paham
seberapa dalam ikhlas yang sudah saya coba terapkan. Saya hanya berusaha
berlapang dada dan melakukan koreksi diri.
And.. here I am.. masih tetap setia meresensi, terutama buku-buku Mizan,
karena senang rasanya, kalau dapat surat dari Mizan, di bawah nama saya diberi
keterangan: Peresensi Mizan.. :)
Sabtu, 22 Maret 2014
Bahasa Ibu
Selazimnya, orang Sunda tentu bahasa ibunya adalah bahasa Sunda. Tapi seiring waktu, ada pergeseran kelaziman itu. Orang-orang Sunda tidak lagi menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa ibu. Mereka lebih suka berbahasa Indonesia ketimbang bahasa Sunda. Saya tidak tahu, apakah di daerah lain pun demikian. Orang-orang Jawa, misalnya, apakah generasi jaman kini masih juga berbahasa Jawa?
Saya lahir dan besar di sebuah kota kecil di Jawa Barat. Bapak saya sangat Sunda, dan membiasakan kami berbahasa Sunda dengan halus. Saya pun terbentuk dalam kehalusan bahasa tersebut. Maka ketika mendengar ada orang yang berbahasa Sunda kasar, saya merasa sangat risih. Saya pun terbiasa menggunakan tingkatan-tingkatan bahasa Sunda dengan benar. Kata-kata bahasa Sunda klasik yang kuno pun saya paham.
Selepas SMA, saya kuliah di Bandung. Tapi ternyata kesundaan saya mulai terkikis. Meski Bandung adalah ibukota Jawa Barat yang notabene bahasa pergaulannya adalah bahasa Sunda, namun kenyataannya dalam keseharian saya selama di Bandung, justru bahasa Sunda saya teronggok tak berdaya. Saya lebih banyak berbahasa Indonesia. Ini tersebab teman-teman kuliah seangkatan saya di Jurusan Sastra Jepang, hampir 90% anak Jakarta. Kalaupun berbahasa Sunda, ya gitu deh.. alakadarnya.
Lulus kuliah, saya mengadu nasib di Jakarta. Semakin membentang jarak saya dengan bahasa Sunda. Ini dalam arti berkomunikasi, sementara kosa kata, undak usuk basa, dan sebagainya masih tersimpan rapi dalam memori saya.
Menginjak masa emak-emak, saya tinggal di Bogor. Lagi-lagi meskipun masih berada di tanah Sunda, interaksi berbahasa Sunda sangat minim. Saya berada di kawasan agak luar dari Bogor. Di sana, bahasa Sunda sudah terkontaminasi dengan bahasa Betawi yang ala Mandra. Sementara itu, tempat tinggal saya berlokasi di komplek perumahan yang boleh dibilang warganya didominasi oleh masyarakat pendatang yang berasal dari berbagai daerah di tanah air. Bahasa sehari-hari yang digunakan tentu saja adalah bahasa pemersatu, yaitu bahasa Indonesia.
Demikian yang terjadi, sehingga lidah anak-anak saya tidak terbiasa melafalkan bahasa Sunda. Tapi di dalam rumah, saya kerap menggunakan bahasa Sunda, agar telinga anak-anak terbiasa mendengar kata-kata dalam bahasa Sunda. Jadi anak-anak saya, saeutik-saeutik mah ngartos bahasa Sunda.
Meski saya tetap menguasai bahasa Sunda dengan baik, namun memang ketika menyampaikan sesuatu yang cukup panjang, atau menanggapi sesuatu, tidak jarang secara refleks saya menggunakan bahasa Indonesia. Duh, kenapa jadi kagok ya, bicara bahasa Sunda panjang-panjang? Kecuali bila berada dalam forum atau lingkungan yang sejak awal pertemuan sudah menggunakan bahasa Sunda.
Sekarang saya tidak lagi tinggal di Bogor. Di sini dominasi bahasa Sunda masih sangat kuat dibanding ketika saya tinggal di Bogor dulu. Dan.. saya pun harus belajar membiasakan diri kembali berbahasa Sunda dalam forum atau suasana yang banyak dihadiri oleh orang-orang Sunda. Kalau percakapan sehari-hari dengan rekan kerja sih, berbahasa Sunda, karena bahasa Sundanya pun yang bahasa pergaulan biasa.
Saya baru sadar ketika belum lama diminta menjadi pembawa acara pada acara tasyakuran khitanan. Dengan tanpa dosa saya cuap-cuap menggunakan bahasa Indonesia. Lalu tiba acara pembacaan doa/hadiah untuk almarhum almarhumah para orangtua dan leluhur, sang pemimpin doa langsung berbahasa Sunda. Sejujurnya saya terkesiap, benar-benar baru sadar, kalau dari tadi saya melakukan 'kesalahan' dengan tidak menyapa pemirsa dalam bahasa Sunda. Dan ini bukan yang pertama. Sebelumnya pada acara tasyakuran milad seorang anak, saya pun mengawal acara dalam bahasa Indonesia full.
Hadeuh.. tepok jidat deh.. sekarang harus belajar ngemsi pake bahasa Sunda.. :)
Saya lahir dan besar di sebuah kota kecil di Jawa Barat. Bapak saya sangat Sunda, dan membiasakan kami berbahasa Sunda dengan halus. Saya pun terbentuk dalam kehalusan bahasa tersebut. Maka ketika mendengar ada orang yang berbahasa Sunda kasar, saya merasa sangat risih. Saya pun terbiasa menggunakan tingkatan-tingkatan bahasa Sunda dengan benar. Kata-kata bahasa Sunda klasik yang kuno pun saya paham.
Selepas SMA, saya kuliah di Bandung. Tapi ternyata kesundaan saya mulai terkikis. Meski Bandung adalah ibukota Jawa Barat yang notabene bahasa pergaulannya adalah bahasa Sunda, namun kenyataannya dalam keseharian saya selama di Bandung, justru bahasa Sunda saya teronggok tak berdaya. Saya lebih banyak berbahasa Indonesia. Ini tersebab teman-teman kuliah seangkatan saya di Jurusan Sastra Jepang, hampir 90% anak Jakarta. Kalaupun berbahasa Sunda, ya gitu deh.. alakadarnya.
Lulus kuliah, saya mengadu nasib di Jakarta. Semakin membentang jarak saya dengan bahasa Sunda. Ini dalam arti berkomunikasi, sementara kosa kata, undak usuk basa, dan sebagainya masih tersimpan rapi dalam memori saya.
Menginjak masa emak-emak, saya tinggal di Bogor. Lagi-lagi meskipun masih berada di tanah Sunda, interaksi berbahasa Sunda sangat minim. Saya berada di kawasan agak luar dari Bogor. Di sana, bahasa Sunda sudah terkontaminasi dengan bahasa Betawi yang ala Mandra. Sementara itu, tempat tinggal saya berlokasi di komplek perumahan yang boleh dibilang warganya didominasi oleh masyarakat pendatang yang berasal dari berbagai daerah di tanah air. Bahasa sehari-hari yang digunakan tentu saja adalah bahasa pemersatu, yaitu bahasa Indonesia.
Demikian yang terjadi, sehingga lidah anak-anak saya tidak terbiasa melafalkan bahasa Sunda. Tapi di dalam rumah, saya kerap menggunakan bahasa Sunda, agar telinga anak-anak terbiasa mendengar kata-kata dalam bahasa Sunda. Jadi anak-anak saya, saeutik-saeutik mah ngartos bahasa Sunda.
Meski saya tetap menguasai bahasa Sunda dengan baik, namun memang ketika menyampaikan sesuatu yang cukup panjang, atau menanggapi sesuatu, tidak jarang secara refleks saya menggunakan bahasa Indonesia. Duh, kenapa jadi kagok ya, bicara bahasa Sunda panjang-panjang? Kecuali bila berada dalam forum atau lingkungan yang sejak awal pertemuan sudah menggunakan bahasa Sunda.
Sekarang saya tidak lagi tinggal di Bogor. Di sini dominasi bahasa Sunda masih sangat kuat dibanding ketika saya tinggal di Bogor dulu. Dan.. saya pun harus belajar membiasakan diri kembali berbahasa Sunda dalam forum atau suasana yang banyak dihadiri oleh orang-orang Sunda. Kalau percakapan sehari-hari dengan rekan kerja sih, berbahasa Sunda, karena bahasa Sundanya pun yang bahasa pergaulan biasa.
Saya baru sadar ketika belum lama diminta menjadi pembawa acara pada acara tasyakuran khitanan. Dengan tanpa dosa saya cuap-cuap menggunakan bahasa Indonesia. Lalu tiba acara pembacaan doa/hadiah untuk almarhum almarhumah para orangtua dan leluhur, sang pemimpin doa langsung berbahasa Sunda. Sejujurnya saya terkesiap, benar-benar baru sadar, kalau dari tadi saya melakukan 'kesalahan' dengan tidak menyapa pemirsa dalam bahasa Sunda. Dan ini bukan yang pertama. Sebelumnya pada acara tasyakuran milad seorang anak, saya pun mengawal acara dalam bahasa Indonesia full.
Hadeuh.. tepok jidat deh.. sekarang harus belajar ngemsi pake bahasa Sunda.. :)
Langganan:
Postingan (Atom)
