![]() |
gambar diambil dari sini |
Sebelum mengawali semester baru, aku berniat mengundang orangtua satu kelas (kelasku aja) untuk ketemuan dengan agenda utama adalah evaluasi semester lalu dan bagaimana menghadapi semester selanjutnya. Lalu aku bikin woro-woro di grup WA dan BBM. Segelintir Bunda menyambut baik, beberapa bilang maaf nggak bisa hadir, dan.. eh, malah ada seorang Ayah yang jaka sembung, dia posting iklan produk kecantikan. Hadeuh si bapak.. diundang rapat malah jualan.
Berhubung yang gabung di grup WA dan BBM rata-rata orangnya itu-itu juga, dan jumlahnya cuma setengah dari keseluruhan, maka aku pun mengirim sms satu-satu ke semua orangtua. Di akhir sms aku minta mereka agar sms balik untuk konfirmasi kehadiran.
Ada tuh satu Bunda yang di WA langsung bilang iya mau hadir. Aku seneng, karena pingin ketemu sama Bunda satu itu, secara foto profilnya blondie gitu rambutnya.. hihi.. nggak ding, emang pingin silaturahmi, pingin komunikasikan tentang anaknya. Trus nggak lama, dateng smsnya bilang maaf nggak bisa hadir karena ada acara lain. Hadeuh.. kebiasaan deh, waktu ambil raport juga gitu. PHP.
Lalu mulai pada sms deh, ada yang bilang mau hadir, ada juga yang nggak. Tapi itu jumlah ortu yang sms balik, nggak sampai setengahnya. Yang setengahnya lagi cuek beybeh.
Hmmph.. cukup sedih sama kondisi ini. Aku tuh pingin bisa ngomong ke semua ortu. Gini lho.. kondisi anak-anak sekarang. Yuk, kita lebih tingkatkan kualitas kebersamaan sama anak-anak. Kualitasnya lho yaa.. jadi jangan sampe isi komunikasi orangtua sama anak, cuma omelan dan tuduhan aja ke anak.
Beberapa anak kan curhatnya hampir sama. Mereka ngerasa kalo di rumah dimarahin or diomelin mulu sama ortu. Jadi mungkin ortu nasehatin atau menegur pake kalimat yang puanjang-panjang plus diulang-ulang. Akhirnya malah pesan nggak tersampaikan dengan baik. Yang ada malah anak nangkepnya, "aku dimarahin mulu".
Nah, aku tuh pingin komunikasikan hal itu ke orangtua. Supaya mereka bisa memahami sudut pandang anak. Lha, sebenernya kan kalo kita sendiri juga ya, ditunjukin kesalahan pake kalimat yang puanjaang trus diulang-ulang, pasti sebel kan? Anak juga gitu, brow..
Trus, soal gadget. Ini nih.. kudu banget orangtua kasih pengawasan. Di sekolahku akan diluncurkan GMH (bersamaan dengan GMT-Gerakan Matikan Televisi-yang udah launching duluan). GMH adalah Gerakan Matikan Hp. Waktunya dari mulai azan Magrib sampe sholat Isya. Rencananya bertahap. Sekarang sampai selesai sholat Isya, sekitar jam 7-an ya. Nanti ditingkatkan sampe jam 8. Ini untuk pembiasaan melepaskan diri dari ketergantungan sama Hp.
Pokoknya hal-hal yang menjadi pembahasan di pertemuan sama orangtua, semua tentu berkaitan sama kondisi anak. Namun sayang di sayang, orangtua yang hadir ternyata hanya 10 orang saja, yaitu 9 Bunda dan 1 Nenek (nenek lincah ini mah).
Aku sejujurnya kecewa dan sedih. Orangtua betul-betul lebih mementingkan pekerjaannya di kantor. Memang nggak semua. Ada 1 Bunda yang menejer toko roti dengan cabang di mana-mana, tetap menyempatkan hadir. Tapi yang lainnya tuh, maaf.. pekerjaan di kantor tak bisa ditinggalkan. Dan ketika aku bilang, nanti kalau pekerjaan di kantor nggak terlalu padat, saya tunggu di sekolah ya, kita ngobrol tentang ananda. Tanggapannya nggak antusias gitu, seolah 'lha, saya kan kerja!'
Kewajiban orangtua terhadap sekolah bukan hanya bayar SPP, tapi harus juga berkomunikasi dengan walikelas, membahas perkembangan anak. Memang sih beberapa anak dalam posisi aman, tapi bukan berarti orangtua lantas santai-santai saja. Anak-anak tetap perlu dikawal dan diperhatikan.
Kondisi sekarang yang serba instant dan serba mudah, membawa dampak juga ke anak. Mereka kurang tangguh, kurang punya daya juang. Ketika menghadapi tantangan dan kesulitan, semangatnya kendor, ujungnya menyerah. Nah, hal-hal semacam itu yang perlu diketahui orangtua, lalu kita bahas dan dicari model pendekatan yang tepat. Karena setiap anak kan berbeda.
Memang sih aku yakin, orangtua pasti nggak bermaksud abai sama anak. Mereka pikir, nggak memenuhi undangan rapat dari walikelas bukan merupakan bentuk nggak perhatian sama anak. Sebab mereka bekerja juga kan alasannya pasti demi anak. Dan yang nggak dateng rapat, bukan melulu orangtua yang kerja kantoran, tapi orangtua yang di rumah pun ada juga yang nggak dateng. Alasannya sih sama: sibuk dengan pekerjaannya juga.
Alasan yang sangat ampuh ya, sibuk. Lalu kenapa berkomunikasi langsung dengan walikelas tentang perkembangan anak, tidak dimasukkan ke dalam daftar kesibukan?