Minggu, 27 Mei 2012

Pembantu Cantik

     BRAKK..!!
     Peni tenggelam di balik pintu kamarnya yang bergetar hebat akibat gelegar amarahnya. Di sudut ruang keluarga yang berhadapan dengan kamar Peni, seorang gadis ranum jatuh menggelesot di lantai. Hatinya menggigil ngilu akibat sumpah serapah yang dimuntahkan dari mulut kotor Peni yang emosinya memuncak, tak terkendalikan.
     Gadis itu, Aryati namanya. Ia pembantu di rumah keluarga Rusady.  Usianya 16 tahun. Bening matanya dipenuhi genangan air mata. Lalu merembes mengalir di pipi indahnya yang bak pauh dilayang. Hidung bangirnya memerah. Bibir tipisnya bergerak-gerak menahan isak.
     Mbok Nah, pembantu senior di rumah itu, melangkah mendekati. Tangan keriputnya mengelus rambut Aryati yang legam dan panjang bak mayang terurai.
     “Sudah.. Nduk, yang sabar yaa.. Non Peni kan memang begitu adatnya,” hiburnya.
     “Yati nggak tahan, Mbok.. sering banget dicaci maki begini!” ujar Aryati, tersedu.
     “Non Peni itu selalu mendapatkan apapun yang diinginkannya. Sejak kecil, ayah ibunya pasti memenuhi semua permintaannya. Karena itulah, sekarang ia tumbuh menjadi seorang gadis yang keras,” kata Mbok Nah, berusaha memberi pengertian kepada Aryati.
     Aryati hanya membisu. Lalu keduanya bergegas ke belakang, ke area pembantu. Dapur, ruang mesin cuci, ruang setrika, gudang, dan kamar pembantu, di sanalah wilayah kerja mereka. Tak peduli apa suasana hati, semua pekerjaan harus rampung tak bercela.
     Kala malam beranjak menua, gelap merayap perlahan, adalah saat-saat Aryati merasa hidup. Ditemani semilir angin yang lembut membelai tubuh moleknya, Aryati biasa termenung di halaman belakang, tak jauh dari area pembantu. Ia pandangi air bergemericik jatuh ke kolam kecil yang ditata apik dalam sebuah taman mungil nan asri.
     Seketika matanya terbelalak. Bayangan air menampakkan seraut wajah pemuda tampan. Ia tersenyum manis dengan sorot lembut penuh cinta. Rona merah menjalari pipi Aryati. Ia tersipu, dengan binar bahagia benderang di matanya.
     Pemuda itu bernama Sena. Ia adalah guru privat Peni. Beberapa kali, dalam kehadirannya saat memberikan les, Sena mencuri-curi pandang mencari sosok Aryati. Pandangan yang mengirimkan getar-getar halus, membuat dada Aryati berdentam lebih cepat.
     Plukk..!
     Sesuatu terjatuh menimpa air, menimbulkan sedikit cipratan ke wajah Aryati. Refleks Aryati mengusap wajahnya. Lalu segera pandangannya kembali ke bayangan air dalam kolam. Ia tersentak. Ah.. raut wajah tampan itu telah menghilang. Tiba-tiba telinganya berdenging. Suara Peni menghantam pendengarannya bertubi-tubi.
     “Pembantu ga tau diri.. Ganjen.. Genit.. Merayu-rayu tamu majikannya! Menjijikkan! Seharusnya kamu ga ada di rumah ini, tapi di tempat sampah sana! Ngaca dong.. kamu ini siapa? Kamu pembantu! Tapi kamu pembantu sial..! Sok merebut hati tamuku.. Memuakkan..!”
     Aryati merapatkan tangannya menutup kedua telinga sekencang-kencangnya. Ia limbung. Terengah-engah menuju kamarnya. Lalu ia menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Dadanya naik turun, dengan nafas tidak teratur. Perlahan-lahan ia menghela nafas panjang, lalu menghembuskannya seolah ingin mengeluarkan segala kepenatan pikirannya. Ia berusaha merenungkan semua yang telah menimpanya. Lama-lama, mata cantik berbulu lentik itu pun terpejam.
     “Bangun.. Ti! Sudah shubuh.. ayo, sholat dulu!” Mbok Nah membangunkannya.
     Aryati menggeliat. Barisan semut beriring di atas matanya mengeriut. Lalu dibukanya mata lebar-lebar. Tubuhnya beringsut menuruni tempat tidur. Bersegera wudu, kemudian sholat. Dinginnya air serta segarnya udara subuh, membuat pikirannya terang.
     “Mbok, Yati mau pergi!”
     Mbok Nah terhenyak, menghentikan pekerjaannya yang tengah menyiapkan sarapan.
     “Kamu ngomong apa tho, Nduk?” tanya Mbok Nah.
     “Ini lebih baik, Mbok. Karena Yati nggak bisa di sini terus, selama Pak Sena masih mengajar Non Peni,” jawab Aryati, dengan suara tertahan.
     “Kamu jatuh cinta sama Pak Guru itu?” Mbok Nah bertanya lagi, hati-hati.
     Aryati menunduk. Mbok Nah tidak melanjutkan pembicaraan, ia sudah tahu jawabannya.
     Sebuah surat dititipkan Aryati kepada Mbok Nah untuk Ibu Rusady. Surat yang berisi permohonan maaf karena kepergiannya yang tiba-tiba.
     Mbok Nah mengikuti langkah Aryati dengan hati nelangsa. Delapan bulan lalu, Aryati ikut bersamanya saat mudik setelah lebaran.  Mereka bertetangga di kampung. Aryati bersikeras ingin bekerja, meski ibunya tak sepenuhnya setuju. Sebagai anak sulung, Aryati sangat diperlukan untuk mengurusi adik-adiknya yang masih kecil.
     Kepada Mbok Nah, Aryati mengatakan tujuan tempat kerjanya setelah keluar dari keluarga Rusady.  Ia akan bekerja di sebuah rumah di blok yang lumayan jauh dari kediaman keluarga Rusady. Kabar tentang adanya rumah yang membutuhkan pembantu, didapatnya beberapa hari lalu, dari tukang ayam keliling. Waktu itu, kabar tersebut tidak dihiraukannya. Namun rupanya, sekarang ia benar-benar membutuhkan pekerjaan itu.
     Letih kaki Aryati menyusuri alamat tempat calon majikan barunya. Keringat bercucuran dan tenggorokan kering. Sesampainya di rumah yang dituju, Aryati disambut oleh seorang ibu muda dengan gaya anak remaja.
     “Saya belum punya anak. Jadi kerjaan kamu nggak berat di sini. Tapi rumah harus selalu dalam keadaan rapi dan bersih!” perintah majikan baru yang bernama Selly itu.
     Aryati memulai tugas barunya. Kini ia tengah mengepel lantai. Di sebelah ruangan, riuh ibu-ibu muda sebaya Selly mengobrol.
     “Jadi sekarang kamu udah punya pembantu, Sel?” tanya ibu muda bercelana pendek dengan padanan kaos ketat melekat.
     “Ooh, perempuan berambut sepinggang itu, yang tadi kulihat di samping, membawa ember, itu pembantu baru kamu, Sel?” sambung yang lain sambil mengibaskan rambutnya yang menjuntai-juntai dengan cat oranye yang menjerit.
     “Aku juga tadi lihat. Hati-hati, Sel..” ujar perempuan bertato kupu-kupu di betisnya, seraya mengepulkan asap rokok.
     “Kenapa memangnya?” seorang ibu muda dengan wajah putih mengilat seperti pemain kabuki, tampak penasaran.
     “Cantik Boo..” sahut si tato.
     “Wah, kalau gitu urusannya, mendingan di-cut aja deh, cuma bikin perkara!”
     “Jangan sampe nunggu kejadian dulu, Sel!”
     “Yup! kalau bohay begitu, lagaknya pasti bikin rempong deh..”
     “Laki kita pasti di-embat!”
     “Udah Sel, cari yang lain aja..!”
     Aryati bergegas menyelesaikan pekerjaan mengepelnya. Ia tidak mau mendengar pembicaraan itu lebih lanjut. Tasnya yang masih rapi, segera dicangklongnya. Bersijingkat, ia keluar dari rumah itu melalui halaman samping. Tidak menunggu diusir, Aryati meninggalkan rumah Selly. Langkahnya tertatih. Hatinya meringis.
     Kini ia tidak tahu hendak kemana. Komplek perumahan yang luas itu, membuatnya seolah berputar-putar tanpa menemui jalan utama yang mengarah ke luar.
     Akhirnya Aryati menemui sebuah pos jaga yang kosong. Mungkin tempat arisan ibu-ibu di blok itu atau tempat bapak-bapak nongkrong di malam minggu. Ia duduk menepi. Pos jaga itu bersih. Lantai keramiknya licin bersinar. Nampaknya rutin dibersihkan. Di dindingnya terpasang sebuah cermin berukuran sedang. Aryati mendesah, menatap pantulan wajahnya. Ternyata wajah cantik, tidak seharusnya dimiliki oleh seorang pembantu seperti dirinya. Perempuan lain merasa terhina mencemburui dirinya. Ia hanya layak dicurigai, diolok-olok, ditertawakan. Benaknya dipenuhi tanya, mengapa ia harus cantik? Sedangkan ia hanya gadis desa yang miskin. Kalau bisa, ia ingin memberikan wajah cantiknya dan menukarnya dengan wajah lain yang tidak cantik, yang lebih pas dengan keadaannya sebagai pembantu yang sederhana. Bukankah wajah cantik akan lebih cocok menghiasi gadis-gadis kaya dan berpendidikan tinggi? Mengapa cantik bertengger di wajahnya?
     Sepoi angin menyapa lembut, nampaknya ingin mendamaikan hati Aryati. Seketika Aryati teringat Mbok Nah. Biasanya Mbok Nah memberi kata-kata penghiburan di kala hatinya kusut. Suaranya mengalun, berlatar cinta, terasa menyejukkan. Aryati jadi teringat ayah, ibu, dan adik-adiknya di kampung. Kangen. Seperti yang kerap ia rasakan. Nasehat Mbok Nah kembali terngiang.
     “Ti, aku sih senang kamu nemenin aku kerja di sini. Tapi sebetulnya kamu lebih diperlukan ibumu di kampung. Adik-adikmu kan masih kecil, sedangkan ibumu repot karena harus bekerja lebih keras, semenjak ayahmu sakit-sakitan. Lha, kalau aku kan anak-anakku sudah mentas semua, dan suamiku sudah meninggal. Jadi nggak ada yang harus diurusin lagi, toh? Nanti setelah pulang kampung saat lebaran, kamu nggak usah balik lagi ke sini ya, Ti. Di kampung juga kamu bisa kerja, bantu-bantu di rumah Bu Bidan Marni. Aku perhatikan waktu kamu membantunya, kelihatannya Bu Bidan suka sama kamu karena kamu sesungguhnya anak yang cerdas. Mana tahu kamu nanti disekolahkannya. Perempuan itu, harus pinter, Nduk!”
     Aryati memandang langit yang jernih membiru. Gemulung awan berarak perlahan, mempercantik lukisan alam itu. Sekelompok burung terbang beriringan. Ah, mungkin mereka mau pulang. Aku juga mau pulang, tidak usah menunggu lebaran, pikir Aryati, bersemangat.
     Tas yang berisi pakaian dan uang gajinya selama delapan bulan yang ditabungnya di Mbok Nah, didekapnya erat. Lalu Aryati mulai berjalan. Tak lama ditemuinya sebuah pangkalan ojek. Melesatlah ia menuju gerbang komplek yang berbatasan dengan jalan besar tempat angkot lalu lalang. Aryati naik angkot dengan tujuan terminal. Hatinya mantap untuk pulang.
     Sementara itu, di dalam kamar sejuknya yang ber-AC, wajah Peni bertekuk berlipat-lipat. Sena, guru privatnya menyatakan berhenti mengajarnya, dan mencarikan guru pengganti. Peni tidak mau guru lain. Ia hanya mau Sena, si ganteng yang lembut dengan rahang kokoh dan dagu terbelah. Ditambah dengan tubuh jangkung yang menopang badan atletisnya, membuat Peni terperangkap dalam pesonanya.
     Peni menelungkupkan wajahnya di atas bantal yang empuk. Airmata menderas mengiringi keping-keping hatinya yang hancur. Ia meratapi nasibnya. Mengapa cinta Sena tertambat pada Aryati? Ah, ya tentu saja karena pembantu sialan itu berwajah cantik, rutuknya dalam hati. Berputar-putar pertanyaan mendesing di benaknya. Buat apa Aryati memiliki wajah cantik? Tak ada gunanya, toh? Bukankah ia hanya pembantu? Cukuplah ia berwajah biasa-biasa saja. Aku lebih membutuhkan wajah cantik itu, teriak Peni, dalam hati.
     Tok.. tok.. tok.. terdengar ketukan lembut di pintu kamar Peni. Dengan malas, Peni membalikkan badannya.
     “Mbok Nah, ya..?” serunya.
     “Betul, Non. Ini minuman es jeruknya,” jawab Mbok Nah.
     Mbok Nah masuk kamar, setelah Peni menyuruhnya masuk. Ia meletakkan gelas berisi es jeruk di atas meja belajar dengan hati-hati.
     “Diminum Non.. es jeruknya, biar hatinya adem. Si Mbok ngerti, kalau hati Non Peni sedih karena kepergian Pak Gurunya”, suara Mbok Nah, tulus.
     Peni duduk menghadap Mbok Nah. Ditatapnya perempuan tua yang telah mengurusinya sejak kelas 2 SD hingga sekarang ia duduk di kelas 3 SMU.
     “Mbok, duduk sini,” pinta Peni. Tiba-tiba ia merindukan kehangatan saat ia dulu diasuh Mbok Nah. Lalu saat Mbok Nah duduk di sampingnya, Peni merebahkan kepalanya di atas pangkuan Mbok Nah.
     “Memang sakit.. ditinggal lelaki pujaan hati. Sedangkan kita tak punya sayap utuh untuk terbang mengejarnya. Karena sayap kita patah, oleh tikaman cintanya yang menukik sesaat, lalu terbang menjauh meninggalkan kita yang berdarah-darah,” suara Mbok Nah mengalir sejuk ke seluruh nadi.
     “Kecantikan Aryati telah memorakporandakan semuanya,” keluh Peni.
     “Tak ada yang salah dengan wajah cantik seseorang. Gusti Allah itu Maha Adil. Semua pasti berpasangan. Kamu nggak usah merasa tidak beruntung karena kalah cantik dari Aryati. Setiap perempuan itu sudah ditetapkan kadar cantiknya oleh Yang Maha Kuasa. Kita nggak boleh iri-iri-an. Kita cuma harus bersyukur atas segala pemberian nikmatNya. Non Peni punya ayah ibu yang baik, meskipun mereka sibuk. Punya rumah yang bagus. Orangtua kaya, sehingga Non Peni bisa sekolah tinggi di sekolah yang hebat. Lebih baik Non Peni sekarang memanfaatkan karunia Gusti Allah ini dengan belajar yang baik, biar jadi perempuan yang pinter, kayak cita-citanya Ibu Kartini itu lho. Jangan nambah-nambah perempuan bodoh kayak si Mbok” tutur Mbok Nah sambil terkekeh perlahan.
     “Si Mbok nggak bodoh, cuma nggak dapet kesempatan sekolah aja. Itu buktinya si Mbok tahu tentang cita-cita Ibu Kartini segala,” tukas Peni.
     “Si Mbok masih inget sedikit-sedikit tentang Ibu Kartini seperti yang diajarkan waktu sekolah dulu. Lagipula si Mbok lihat di TV kok, Non,” sahut Mbok Nah.
     “Itu berarti Mbok Nah pinter! Oh ya, sekarang Aryati di mana ya, Mbok?” tiba-tiba Peni jadi memikirkan gadis saingannya itu.
     “Gusti Allah telah menuntunnya pulang. Justru karena kecantikannya itulah, ia menemukan jalan pulang,” jawab Mbok Nah dengan yakin.
     “Jadi Aryati pulang kampung?”
     “Ya, pasti ia sedang dalam perjalanan pulang. Dia lebih dibutuhkan oleh keluarganya.”
     Belaian lembut tangan Mbok Nah mengusap rambut Peni, membuat Peni terbuai dalam kehangatan kasih sayang Mbok Nah. Hatinya melunak, ia menjadi tenang. Tak lama, kantuk mulai menggelayuti matanya. Ia pun tertidur pulas. Persis pada saat yang sama, Aryati terlelap dalam bis antarkota menuju kampungnya. Keduanya menyunggingkan senyum dalam nyenyak tidurnya.
*****



2 komentar: