Senin, 25 Agustus 2014

Nge-Kuis Yuk..


Dalam rangka bersyukur atas terbitnya buku perdanaku, buku cerita anak yang berjudul "Aku Sayang Nabi Muhammad", aku ingin berbagi kepada teman-teman dengan membuat kuis berhadiah. Hadiahnya, ya tentu saja bukuku ini.. :)

Kuis ini aku tulis di facebook, seperti ini:

#‎Kuis_Buku_AkuSayangNabiMuhammad‬
Masih tergambar jelas dalam pada ingatan saya, ketika guru di sekolah agama (madrasah diniyah) menceritakan kisah masa kanak-kanak Nabi Muhammad. Saya kecil (sekitar 8 tahun) sungguh takjub mendengar episode nabi Muhammad dibelah dadanya oleh malaikat Jibril. Lalu betapa inginnya saya agar anak nakal yang suka membully saya dicuci juga hatinya, sehingga berubah menjadi anak baik.

Nah, temans.. yuk, berbagi cerita.. Ada 3 buku ‪#‎AkuSayangNabiMuhammad‬ yang akan menjadi hadiah. Ini nih ketentuan lengkapnya:
1. Pasang cover buku #AkuSayangNabiMuhammad di wall teman-teman. Tag saya dan 3 orang teman.
2. Ceritakan pengalaman ketika mendengar/membaca kisah nabi Muhammad yang berkesan. Boleh ketika kecil, remaja, dewasa, kapan saja.
3. Tuliskan juga alasan teman-teman ingin memiliki buku ini.
4. Periode kuis ini hingga tanggal 30 Agustus 2014, pukul 00.00.

Ditunggu yaa, temans..

Oh iya, bila nanti terpilih sebagai pemenang, saya akan meminta kesediaannya untuk menuliskan kesan tentang buku #AkuSayangNabiMuhammad setelah teman-teman atau si buah hati membacanya. Lebih disukai bila disertai fotonya juga..
Trimakasiih..

Sapa mau ikutan..? Yuk.. ^_^

Sabtu, 23 Agustus 2014

Bukuku Terbit..!


Udah lama banget pingin cerita, tapi kok sibuk terus ya, rasanya. Ditambah kemarin lappy tersayang sempat koma dalam waktu yang cukup panjang, dan kini akhirnya sembuh setelah mengalami operasi berat karena diagnosisnya cukup parah, sehingga membutuhkan biaya operasi yang sungguh besaarr.. huhuu.. nggak ada Kartu Sehat untuk keringanan biaya, ya... ups! malah jadi curcol laptop.. :P

Akhirnyaa.. bukuku terbit. Buku yang merupakan karyaku sendiri, nggak keroyokan lagi bareng teman-teman, seperti yang selama ini terjadi. Tapi bukan berarti aku akan meninggalkan antologi. Kalau ada tema menarik dan ada waktu luang untuk ikutan, ya aku akan ikutan lagi lah. Ada lho, penulis yang sampai mengharamkan antologi, dia bilang, saya sudah tobat sama antologi. Itu bukan aku lah.. :)

Back to my book. Alhamdulillah, buku ini diterbitkan oleh Lintang, lini anak dari penerbit Indiva, setelah melalui perjalanan panjang. Proses penulisannya sih nggak lama, sekitar sebulanan, tapi perjalanan untuk mewujud buku.. aduhai.. sampai setahun lebih.

Memang demikian perjalanan sebuah buku. Dari awal mengirimkan naskah, maka dimulailah masa penantian. Standar penerbit adalah tiga bulan. Setelah ada respons positif, dilanjut dengan penantian berikut, yaitu proses edit. Alhamdulillah, buku ini nggak melalui proses editing yang ribet dari editor. Aku hanya diminta untuk menambah cerita, agar bukunya nanti tidak terlalu tipis. Aku pun menambah sekitar 10 cerita. Setelah itu antri layout, ilustrasi, hingga naik cetak. Intinya, harus sabar.. :)

Buku ini merupakan sebuah kumpulan cerita. Tapi bukan cerita yang saling berlepasan. Ia padu, dengan tokoh utama yang sama, yaitu kakak beradik Alfi dan Salman. Keduanya berlibur selama sepekan di desa kakek, dan pengalaman berlibur itulah yang menjadi setting sepanjang cerita.

Dalam setiap interaksi kakak beradik itu dengan saudara-saudaranya di desa dan juga penduduk desa, selalu terselip percakapan tentang kisah Rasul. Jadi anak-anak bisa belajar mengenai kehidupan nabinya melalui cerita-cerita keseharian yang sederhana namun menyenangkan. Dan pengetahuan tentang Nabi Muhammad itu, tidak didapat hanya dari ustadz atau guru agama saja, namun dari penduduk biasa, seperti ibu rumah tangga, tukang bubur, pedagang kelinci, dan lain-lain. Hal ini dimaksudkan agar anak-anak mengetahui bahwa setiap orang memang sudah selayaknya mempelajari kisah Rasul dan meneladaninya. Selain itu, untuk menyadarkan pembaca dewasa bahwa siapa pun dengan profesi apa pun, harus menyadari dan tergerak menelusuri kisah kehidupan Rasul. Sehingga memiliki bekal untuk mengajak putra-putrinya atau anak didiknya atau siapa pun, agar meneladani Rasulullah.

Beberapa hal yang dikupas tentang kisah Rasul, di antaranya: tentang keluarganya, mukjizatnya, kepribadiannya, dan sebagainya. Dan tentu saja untuk menuliskan bagian kisah Rasul, dibutuhkan referensi tepercaya. Karena pastinya tidak boleh gegabah dalam menyampaikan sejarah kehidupan Rasul.

Setelah buku ini terbit, aku berharap, anak-anak akan mengetahui lebih banyak mengenai kehidupan nabinya, dan tumbuh cinta kepada manusia terpuji itu. Sesungguhnya, menanamkan kecintaan kepada Rasulullah adalah kewajiban setiap orangtua kepada putra-putrinya. Semoga buku ini dapat menjadi jembatan penghubung sebagai media penyampai yang efektif, yang bisa digunakan para orangtua.

Harapan lain, semoga dengan terbitnya buku ini, semangat menulis semakin meledak-ledak. Semangat untuk menebar kebaikan.

Akhirul kalam, jangan lupa.. beli buku ini yaa.. :D

Kamis, 17 Juli 2014

KAPOK




Wajah Salman cerah ceria. Ia akan berlibur di rumah Tante Ley. Libur sekolah kali ini bertepatan dengan libur awal Ramadan. Pasti seru ber-Ramadan bersama Kak Hanif, putra Tante Ley. Sepupunya ini hanya selisih 2 tahun dengan Salman. Kak Hanif kelas 5, sedang Salman kelas 3.

Tante Ley juga merasa senang kalau Salman menginap, karena rumah menjadi lebih ramai. Om Dicky, suami Tante Ley, seringkali ditugaskan ke luar kota, bahkan lintas propinsi, lintas pulau. Sedangkan putra Tante Ley hanya Kak Hanif seorang.

“Bun, semua perlengkapanku sudah masuk?” Salman memperhatikan isi tasnya.

“Sudah, Sayang.” Bunda tersenyum melihat semangat Salman.

Salman mengedarkan pandangan ke sekeliling kamarnya.

“Waduh, gawat nih, kalau ini ketinggalan!” Salman gegas memasukkan Syamil Quran yang tergeletak di pojok meja belajar, ke dalam tasnya.

“Oh iya, tadi masih dipakai Salman tilawah setelah sholat Subuh, ya.” Bunda tersenyum lega melihat putranya sangat cinta pada Al-Quran.

Setibanya di rumah Tante Ley, tak lama kemudian Bunda langsung meninggalkan Salman. Sejak kecil Salman sudah terbiasa menginap sendiri di rumah adik bundanya itu.

Salman tidur sekamar dengan Kak Hanif. Mereka akur sekali. Bermain berdua, hingga pergi teraweh dan sholat subuh ke masjid, selalu bersama. Menjelang berbuka dan selepas sholat Subuh, Salman selalu tilawah bersama Kak Hanif. Keduanya saling menyetorkan hafalan juga. Tante Ley sangat senang melihatnya. Namun jika bulan Ramadan, Tante Ley jarang bisa tadarus bersama di rumah atau saling mendengarkan hafalan. Karena Tante Ley sibuk beraktivitas sosial, mengurus ta’jil on the road, menyelenggarakan bazar Ramadan bagi kaum dhuafa, dan banyak lagi.

Tidak terasa, libur selesai. Salman kembali pulang.

“Bagaimana tilawah Al-Quranmu, Nak? Setiap hari selalu mengaji, kan?” Bunda tetap mengecek, meski yakin bahwa bacaan Al-Quran putranya senantiasa terjaga. Apalagi Hanif pun, menurut Tante Ley, selalu rajin membaca Al-Quran.

Salman mengangguk mantap. “Iya, Bun, setiap hari aku dan Kak Hanif selalu mengaji. Kak Hanif malah sering banget ngajinya. Katanya punya target untuk khatam Al-Quran lebih dari satu kali.”

“Subhanallah, bagus sekali itu. Alhamdulillah, jadi Salman pun ikut terbawa rajin mengaji, ya. Nanti libur berikutnya, Salman mau nginep lagi di sana?”

Spontan Salman menggeleng kuat. “Nggak, Bun... nggak deh, makasih! Salman bisa kok, tetap semangat tilawah sendiri, tanpa Kak Hanif.”

Bunda terperangah melihat penolakan tegas Salman. Tidak biasanya Salman begitu.

“Lho, kenapa?”

“Engh.. aku nggak tahan mencium bau Kak Hanif yang nggak mandi-mandi!”

“Tante Ley tidak menegurnya?” Bunda terheran-heran.

“Tante Ley kan sibuk, Bun. Mungkin nggak terlalu memperhatikan aroma tubuh Kak Hanif. Lha aku, kan sekamar dan selalu bersama dengan Kak Hanif. Ugh..!” Salman menutup hidungnya.

“Tapi kenapa Kak Hanif malas mandi? Apa karena sibuk baca Al-Quran?”

Salman mengedikkan bahu. “Kata Kak Hanif, dalam hadist riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Perumpaan seorang mu`min yang rajin membaca Al-Qur`an adalah seperti buah Utrujah, aromanya wangi dan rasanya enak. Jadi, Kak Hanif tenang-tenang saja meski tidak mandi. Katanya, toh aroma tubuhnya akan wangi.”

Bunda terbelalak. Lalu segera mengambil handphone untuk menelpon Tante Ley, agar menegur dan menasehati putranya.


#FF 479 kata. Diikutsertakan dalam Lomba Menulis (Cerita) FF Anak #AyoNgajiTiapHari


Senin, 07 Juli 2014

Misteri Celengan Salman




Bunda tersenyum-senyum sendiri. Tanpa sengaja Bunda menemukan sekeping pecahan celengan di kolong tempat tidur Salman. Sepertinya Salman diam-diam memecahkan celengannya. Hmm.. tiga hari lagi ulang tahunku, mungkin Salman memecahkan celengannya untuk membeli hadiah untukku, batin Bunda.
Keesokan paginya, saat sarapan, Salman minta izin untuk pulang terlambat kepada Bunda.
“Mau ke mana dulu? Ada kerja kelompok?” tanya Bunda.
Salman menggeleng. “Ada keperluan penting banget, Bunda. Nanti aku ceritakan sepulang sekolah. Janji!” Salman mengacungkan dua jari.
Bukan main game di rumah teman-temanmu, kan?” selidik Bunda.
“Nggak dong, Bun...!”
Bunda tersenyum, “Iya, Bunda percaya sama Salman,” rambut Salman dielus lembut.
Salman lega. Kemudian ia pamit berangkat ke sekolah, mengendarai sepeda kesayangannya.
         Sore hari, Bunda membuat pisang keju. Sambil memarut keju, Bunda bertanya-tanya dalam hati. Salman beli apa ya, untuk hadiah ulang tahunku? Bunda geli sendiri, karena merasa GR. Tapi buat apa Salman pecahkan celengan kalau bukan untuk membeli hadiah ulang tahun bundanya, pikir Bunda lagi.
          “Assalaamu’alaikum!” Seruan salam Salman membuyarkan lamunan Bunda. Sambil menjawab salam, Bunda bergegas menemui Salman sambil membawa sepiring pisang keju.
        “Hmm.. harumnyaa.. pasti lezat nih!” Salman melesat ke wastafel untuk mencuci tangan, tak sabar ingin segera mencicipi kudapan buatan bundanya yang selalu lezat.
         Setelah tangannya bersih, Salman duduk sambil makan kudapan favoritnya. Bunda tak sabar ingin segera mendengar cerita Salman mengenai keterlambatannya.
            “Jadi tadi, pulang sekolah Salman pergi ke mana dulu?”
            Senyum Salman melebar. “Oh iya, Bun... aku senang banget.”
            Bunda semakin penasaran.
            “Bunda masih ingat Nek Iyam, yang dulu pernah aku ceritakan?”
          Bunda mengangguk. Bunda masih ingat, Nek Iyam adalah nenek yang tinggal tidak jauh dari sekolah Salman. Pertemuan Salman dengan nenek itu terjadi ketika Salman terjatuh dari sepeda, lalu Nek Iyam menolongnya. Setelah itu, Salman kerap berkunjung ke rumah Nek Iyam, rumah yang lebih tepat disebut gubuk. Kadang Salman membawakan kue yang sengaja tidak dimakannya saat snack time di sekolah.
         “Nah, waktu kemarin aku ke rumahnya, Nek Iyam lagi sedih. Matanya makin sulit membaca Al-Quran. Karena Al-Quran milik Nek Iyam, ukurannya kecil. Nek Iyam tidak punya lagi yang lain.”
            “Lalu?” tanya Bunda, agak bingung.
        “Lalu, aku punya ide memecahkan celengan. Uangnya untuk membeli Al-Quran. Di koperasi sekolah, ada dijual Syamil Quran yang ukurannya besar. Bagus deh, berwarna-warni, ada petunjuk tajwidnya. Aku pikir, pasti Nek Iyam akan senang. Karena huruf dalam Al-Quran itu besar-besar, dan ada tajwidnya.”
             Bunda mengangguk-angguk, mulai paham tentang misteri celengan Salman.
         “Maaaf ya, Bun.. Aku nggak bilang dulu, mau pecahkan celengan. Bunda nggak marah, kan? Karena sebentar lagi Ramadan, jadi Nek Iyam pasti ingin bisa tilawah dengan baik saat Ramadan,” Suara Salman melemah.
            Bunda tersenyum seraya menggelengkan kepala.
            Mata Salman berbinar. Ia melanjutkan cerita dengan antusias.
        “Tadi Nek Iyam sampai nangis lho, Bun. Nek Iyam mendengarkan hafalanku sambil menyimaknya dari Al-Quran baru. Aku setor surat An-Naba. Nek Iyam bangga dan terharu, katanya, aku baru kelas empat, tapi sudah hafal juz 30.”
       Bunda juga, Sayang. Bunda pun memeluk Salman dengan perasaan bahagia. Tidak lagi memikirkan hadiah ulang tahun. Bunda sangat bahagia karena Salman peduli sesama dan cinta Al-Quran.

#FF 494 kata

Jumat, 27 Juni 2014

Mengantologi Lagi

Awal suka nulis dulu ditandai dengan ikut-ikut audisi antologi. Kalau lolos, seneeng banget karena akan dibukukan. Berturut-turut lahirlah antologiku, dengan beraneka tema dan genre. Ada fiksi dan nonfiksi. Ada parenting, romance, kisah inspiratif, dll. Itu gencar sekitar tahun 2011.

Menginjak ke tahun berikut, 2012, aku mulai jarang mengikuti audisi. Bahkan pada fase ini sempat agak terhenti menulis karena sesuatu dan lain hal yang terjadi di hidupku. Lalu, tahun 2013 mulai menata hati, pikir, dan rasa, untuk kembali menulis. Mencoba ingin sesuatu yang baru. Memancang niat untuk menulis buku solo. Tidak lagi melirik pengumuman-pengumuman audisi antologi.

Ternyata eternyata, menulis pendek itu tetep aja lebih menggoda buatku ketimbang menulis berpuanjang-panjang untuk novel. Dan, ketika seorang kawan baik dari BAW, Adya Tuti Pramudhita, menawarkan menulis antologi Ramadan, aku tergerak untuk ikut.

Ini salah satu sisi positif berada di sebuah komunitas penulis. Info-info cepat tersambung. Tuti ini, mendapat tawaran langsung dari editor Grasindo untuk menyusun antologi bertema Ramadan. Maksudnya kisah-kisah inspiratif berlatar Ramadan. Jadi, pasti terbit, nggak pake antri nunggu lama.

Maka, dalam waktu singkat terkumpullah sejumlah cerita. Semua penulis adalah anggota BAW. Kami berkomunikasi via inbox fb. Dan tanpa hitungan bulan berbulan, kabarnya sudah proses edit. Lalu nggak lama kemudian, sudah ada cover. Setelah itu, dalam waktu singkat sudah pula terdengar kabar akan terbit. Subhanallah..

Judul antologi ini: Once More Ramadan. Blurb-nya aku yang bikin lho.. hehe..
Semoga buku ini menginspirasi pada kebaikan, membawa pencerahan, dan berkah bagi semua, Aamiin..




Marhaban Yaa Ramadan

Ramadan tinggal hitungan jam, bahkan ada yang sudah makan sahur hari ini. Terlepas dari perbedaan awal waktu shaum yang senantiasa mewarnai, aku hanya ingin mengucap syukur. Alhamdulillah.. Alhamdulillah.. terima kasih ya Allah.. Kau tibakan aku menghirup aroma Ramadan yang sudah di ambang pintu. Semoga usiaku tiba hingga menjalani purna bulan suci ini.

Tahun ini, aku betul-betuul berharap (sebetulnya tahun-tahun kemarin juga berharap begini), bahwa Ramadan ini bukan sekadar pengulangan. Tapi Ramadan adalah masa di mana aku memantaskan diri di hadapanNya. Aku ingin berasyik masyuk dengan Al-Quran. Menyingkirkan malas, mengenyahkan kantuk. Meleburkan diri pada kesibukan menunjukkan cinta kepadaNya.

Pengalaman membuktikan, ketika aku sibuk oleh sesuatu hal sehingga abai pada muatan ibadah, maka teruus aja hal itu menyibukkan aku. Misal: mau tilawah bada sholat subuh, trus kepikir.. eh, mau ngerendem cucian dulu, akhirnya nyalain mesin cuci, ngisi air, nyabunin, dst, dst. Kelar itu, tiba-tiba kelihatan kompor belepotan, trus lap-lap dulu deh. Abis itu, adek bangun, minta dibikinin susu, dsb, dsb. Astaghfirullah.. nggak jadi deh itu tilawah akhirnya.

Padahal kalau tilawah itu ditunaikan, nggak akan sampai makan waktu setengah jam, paling 15-20 menit. Sementara kalau iklan yang lewat itu diikutin, malah makan waktu berjam-jam. Betul.. karena teruus aja akan ngerasa belum ngerjain ini belum beresin itu. Pekerjaan memang nggak ada habisnya, jadi jangan ia menjadi pengganggu saat mau melakukan amalan ritual. Mau sholat sunah, buruan kerjakan, jangan mikirin belom ngangkat jemuran. Mau menghafal Al-Quran, segera lakoni, jangan mikirin belom nyucii piring. Toh masing-masing amalan itu nggak akan menyita waktu.

Dan kalau sudah melaksanakan amalan-amalan itu.. sstt.. diem-diem aja. Kemarin tergelitik juga baca status Ecky. Ada orang yang mengurutkan kegiatannya: puasa nyampe, tarawih udah, tilawah udah juga, sedekah 300rb, laluu.. abislah pahala karena nulis status ini. Hehe.. nggak nyadar udah riya tuh. Untungnya sih aku nggak pernah nyetatus model begitu. Tapi mungkin sapa tau aku nggak ngeh membicarakan amalan yang kulakukan secara verbal. Duh.. jangaan deh..

Bismillah ya Allah.. tolong hambaMu ini.. ingin menyambut tamu agung, Sang Ramadan, dengan sebaik-baiknya. Ingin aku menggapai Lailatul Qadar, meraih derajat takwa.. Aamiin.

Selasa, 24 Juni 2014

Cerita Bersambung Blogger - NINA : Hati yang Berderak

Pas dapet tawaran estafet Cerita Bersambung Blogger dari Fitri, aku niat banget mengajukan diri. Ternyata eternyata, riweuh sama urusan raport, kenaikan kelas, perpisahan, sampe aku ambruk. Dan.. cerita bersambung ini belum kunjung aku sentuh. Hingga kemudian, Mas Adi Pradana bertindak sebagai debt kolektor cerbung, dan menagih lanjutannya kepadaku.. wkwkwk..

Seneng sih dapet timpukan macam begini. Jadinya, mau nggak mau blogku keisi.. haha.. ketauan malesnya. Tapi bukan males sembarang males lho.. maklumlah, ini Upik Abu masih beloom aja berubah menjadi Cinderella.. makanya rempong muluu.. :P

Kembali ke tema timpukan kali ini: Cerita Bersambung Blogger, ini nih syarat dan ketentuannya:


  1. Meneruskan cerita bersambung dari blogger sebelumnya dengan panjang cerita minimal 100 kata (Lanjutan cerita bebas baik dari segi plot dan alur cerita, dll);
  2. Point of view atau sudut pandang cerita menggunakan sudut pandang orang pertama, seolah-olah penulis/pembaca menjadi tokoh utama di dalam cerita;
  3. Berikan Judul artikel cerita dengan format, Cerita Bersambung Blogger : Judul Cerita;
  4. Pada akhir cerita cantumkan cerita sebelumnya  dengan format, Cerita Sebelumnya : Judul cerita oleh Nama Blogger dan sertakan pula link judul cerita ke artikel cerita dan nama blogger ke URL Blog;
  5. Setelah selesai menulis cerita, pilih satu teman blogger untuk meneruskan cerita selanjutnya dan beri link URL blog temanmu;
Yuk, bikin cerita ini lebih berwarna. Jangan berhenti di kamu ya…


*****


NINA : Hati yang Berderak

Tuhan! Mengapa Kau kirimkan dia kembali ke hadapanku? Mengapa Arya yang pingsan harus ditemukan Pak Bahri dan ditolongnya dengan dibawa kemari?

Mataku mengabut. Pikiranku limbung. Skenario apalagi ini? Mengapa babak demi babak yang kulalui serupa konflik-konflik tak berkesudahan?

Arya. Nama itu memenuhi ruang hatiku, saat SMA. Betapa aku mengharap untaian kata cinta meluncur dari bibirnya. Aku merasa tak bertepuk sebelah tangan, karena sinyal merah jambu kerap kutangkap dari sikapnya. Tapi entah kenapa, ia tak kunjung menyatakan cintanya kepadaku. Lalu kuputuskan menutup rapat pintu hatiku untuknya. Aku tak ingin menjadi si pungguk, berkepanjangan.

Hingga kemudian datanglah pemuda itu. Ia menjungkirbalikkan semuanya. Hatiku lumer oleh guyuran cinta dan perhatiannya. Aku tertawan. Kami menikah, meski untuk itu aku harus menentang keluargaku. Tapi aku rela, demi hidup bersamanya.

Hatiku membuncah ketika bersemayam dalam rahimku, buah cinta kami. Namun bahagiaku remuk, memorakporandakan segala. Ternyata dia tak lebih dari bajingan tengik. Ditinggalkannya aku yang tengah mengandung benihnya, demi perempuan laknat itu.

Perasaan terpuruk melumat hidupku. Janinku tak bisa bertahan. Purnalah penderitaanku. Ditambah dengan ketidakpedulian keluargaku, semakin terlunta-luntalah hidupku.

Dan di sinilah aku, mengais rupiah di rumah makan Pak Bahri. Lalu kini, datanglah ia. Cinta laluku. Membawa rindu masa silam. Tidak! Aku tidak boleh terhanyut. Aku harus...  (bersambung)

*****

Cerita sebelumnya : Penasaran by Fitri Gita Cinta

Cerita selanjutnya : Anne Adzkia

Happy blogging, happy writing.. :)