Minggu, 08 Maret 2015

Cerita Tentang Jalu

Sekolahku setiap tahun menyelenggarakan kegiatan Expo. Kegiatan itu berupa unjuk karya dan penampilan siswa. Sebagai guru baru, aku excited menyambut kegiatan ini.

Karya dan penampilan siswa harus ditampilkan oleh setiap grade. Kami, grade 7 menyepakati tampilannya adalah tari Saman untuk akhwat dan puisi berantai untuk ikhwan. Tapi itu baru 7A, 7B, dan 7C. Aku mengusulkan satu tampilan lagi dengan personil dari 7D dan 7E. Kasian dong.. masa’ mereka nggak diajak tampil. Aku keukeuh pingin menampilkan musik, dengan dibantu oleh 7C sebagai andalan pemain musiknya, yaitu Keanu dan Jalu.

Tarik ulur-tarik ulur dilakukan, akhirnya aku mengusulkan perkusi. Apalagi Usth.Widi bilang, suaminya bisa ngelatih. Deal, akhirnya tampilan perkusi dari barang bekas.

Saat pengondisian pertama, aku yang mengumpulkan anak-anak yang kupilih untuk ikut perkusi. Ada banyak anak yang aku rekrut. Ada yang antusias, ada yang nyebelin karena slanga-slenge.

Singkat cerita, ternyata pihak sekolah nggak mengizinkan pelatih dari luar. Maka aku pun terceburlah melatih perkusi. Untungnya ada Keanu dan Jalu. Taste musik mereka bagus banget. Jadi lebih memudahkanku karena banyak membantu. Keduanya bisa kuandalkan untuk bantu aku cari nada buat lagu yang akan kami tampilkan, atau cari ketukan-ketukan yang asyik buat tabuhan perkusi kami.

Keanu dan Jalu, sama-sama mungil. Mereka bener-bener a nice couple.. hihi.. Sama-sama jago main gitar juga. Keren bangeet..

Kalau Keanu lebih bisa diajak bicara karena lebih komunikatif. Jalu, lebih pendiam. Gayanya Jalu cool banget. Bikin penasaran dan bikin gemes cewek-cewek di sekolah. Dulu sih, dia sama sekali nggak ada yang tahu. Maklum, pendiam banget. Tapi apa yang terjadi saat kami, tim perkusi, tampil dalam gladi bersih Expo? OMG! Cewek-cewek menjerit histeris lihat dia. Ck.. ck.. ck.. udah kayak show musik beneran. Jalu banyak fansnya!

Gaya mukul perkusinya Jalu emang keren. Mainin sticknya juga cakep. Personil lain nggak ada yang kayak gitu. Eh, ada juga sih, sebenernya Haidar juga. Tapi Jalu lebih asyik kelihatannya.

Hadeuh... pas hari ‘h’ tiba, Jalu lagi-lagi jadi bintang. Penampilannya menyihir penonton, terutama para akhwat. Semua merangsek maju ke depan panggung. Tangan mereka semua pegang gadget merekam penampilan tim perkusi.

Aku kebanjiran pujian. “Ustadzaah.. perkusi kereeen bangeet! Apalagi Jalu... whaaa.. bikin jatuh cinta!” Dan aneka kalimat senada, yang kesemuanya pasti ada menyebut Jalu.

Para penggemar Jalu itu bukan cuma akhwat kelas 7, tapi kakak kelas 8 dan 9 juga! Jadinya anak-anak kelas 7 pada merengut, “Iih Ustadzah, ngapain sih kakak-kakak kelas pada ngefans sama Jalu juga...?” Hmm... justru kakak-kakak kelas itu yang lebih heboh.

Aku melihat fenomena ini sebagai bentuk takdir Allah yang begitu rahasia. Ketika Allah menghendaki terjadi, ya terjadi lah. Kebayang, dulu tuh Jalu yang culun, nggak ada yang kenal siapa dia. Tapi sekarang? Cuma akhwat kudet aja yang nggak tahu siapa Jalu.

Kepopuleran Jalu yang sangat melejit itu membuat personil lain di tim perkusi agak kurang nyaman sepertinya. Bisa dipahami juga sih. Penampilan perkusi itu kan penampilan tim. Yang bagus ya semuanya. Karena semua berkontribusi. Tapi reaksi penonton seolah cuma Jalu yang hebat. Ketika ada sesi nge-jam sendiri-sendiri, pas giliran Jalu yang menabuh, jeritan para akhwat membahana. Begitupun setiap Jalu melakukan aksi memainkan stick.

Untungnya Jalu memang asli pendiam. Dia sama sekali nggak nampak sombong dengan fans yang bejibun itu. Jadi sikapnya tetap biasa di hadapan teman-teman satu tim. Bahkan saat di panggung pun, setiap jeritan yang dialamatkan kepadanya, sikap Jalu tetap cool. Jadi, Alhamdulillah tidak ada friksi dalam tim. Kebayang kalau Jalu-nya belagu, pasti temen-temen satu tim jadi bete.

Aku berharap semoga Jalu tetap down to earth. Tetap cool seperti dulu. Dan buat Keanu, semoga nggak iri berkepanjangan.. :) Demikianlah roda berputar. Keanu yang juga lucu dan jago main musik, mungkin pada saatnya nanti akan punya banyak fans juga. I love both of U..
Hayoo.. yang mana Jalu, yang mana Keanu..? :)


Rabu, 18 Februari 2015

Save Ust.Felix Siauw!



Kalau ada barisan pengagum Ustadz Felix Siauw, maka aku pasti ada dalam barisan itu. Sebenernya sih ngefansnya nggak yang sampe ngikutin banget gimana sepak terjang beliau. Tapi yang jelas, aku kagum banget sama beliau. Gimana nggak kagum? Masih muda, pinter, dengan pemahaman Islamnya yang wow banget. 


Kekagumanku pada Ust. Felix hampir mirip lah sama suka-nya aku ke Ustadz Antonio Syafei, meskipun teuteup lebih besar cintaku pada ustadz yang pakar ekonomi syariah itu..  
Tapi sekarang aku lagi bukan mau ngebahas Ust. Antonio, so.. back to Ust.Felix.
Beliau itu ya, bukunya udah lumayan banyak, wuih.. tambah suka aja sama orang yang pinter dan suka nulis. Aku baru baca dua bukunya. “How to Master Your Habits” dan “Udah, Putusin Aja!”. Buku yang pertama itu kereeen abiz! Kekagumanku berlipat deh. Ust.Felix yang baru mengenal Islam saat dia kuliah, tapi udah begitu dalem pemahamannya. Resensiku untuk buku ini, ada di sini.

Buku kedua, “Udah, Putusin Aja!” bagus banget buat segmennya, yaitu para remaja dan lajangers. Nah, sebenernya buku ini nih yang membuat aku pingin nulis note ini. Belum lama aku dengar kabar bahwa buku ini akan di-filmkan. Ustadz Felix konon heran kenapa bukunya yang nonfiksi itu kok diminati buat jadi film. Dan setelah dipertimbangkan dari berbagai sisi dengan beberapa persyaratan yang diajukan Ustadz Felix, akhirnya deal disepakati buku itu akan diangkat ke layar lebar.

Alasan paling kuat yang dikemukakan Ustadz Felix tentu agar pesan buku tersebut bisa sampai lebih luas menjangkau kalangan bukan penggemar baca. Agar dakwah bisa lebih berkembang. Agar para pelaku pacaran lebih banyak yang tertonjoq. Agar angka kemaksiatan akibat perzinahan terus menurun. Pokoknya semua tujuan mulia itu masuk akal banget, kan?

Konon Ustadz Felix mengajukan syarat bahwa proses pembuatan film itu harus dikawal ketat agar tetap syar’i. Dan pihak film sudah setuju. Karena itulah makanya Ustadz Felix berani menyetujui bukunya difilmkan.

Tapi sebagai seorang pengagum, aku justru khawatir. Ustadz Felix yang selama ini konsisten, teguh, bahkan terkesan sangat keras pada penegakan nilai-nilai Islam, apakah tidak sedang digoyang? Ketegasan sikapnya itulah yang membuatku salut dan menjura pada beliau. Lalu sekarang beliau akan bersentuhan dengan dunia film? Duh, maaf ya.. menurutku, mana ada yang syar’i dari sebuah film? Dalam arti benar-benar memegang nilai-nilai Islam, semisal: hubungan mahrom. Dalam film Kang Abik aja, pemeran suami istri diperankan oleh pasangan artis yang bukan mahromnya.

Aku takut nanti niat baik Ustadz Felix akhirnya malah akan berbalik buruk untuknya. Aku khawatir banget Ustadz Felix masuk perangkap. Filmnya nanti malah mengundang kontroversi. Orang-orang mengecam, dan para haters bersorak. Bukan tujuan dan pesan mulia dari buku itu yang menjadi sorotan, tapi di luar itu, proses filmnya, artis-artisnya, jalan ceritanya, dan sebagainya. Akhirnya pesan kebaikan dan nilai syar’i yang ingin digaungkan malah tenggelam oleh hal-hal yang bersifat teknis. Belum lagi nanti artisnya setelah selesai main film itu, tetap dengan gaya hidupnya yang ngartis dan nggak menjaga aurat.. hadeuh.. mancing omongan aja deh. Seolah film itu akhirnya cuma omong kosong aja.

Menurutku, better Ustadz Felix nggak usah menyetujui tawaran itu. Kalau dakwah yang luas, kukira dakwah beliau di twitter dan fb sudah cukup menjangkau banyak kalangan. Nggak usah merambah ke dunia film segala. Jadi aku akan senang kalau ternyata rencana memfilmkan “Udah, Putusin Aja!” mengalami kegagalan.

Mungkin kekhawatiranku terlalu berlebihan. Tapi ini tersebab kecintaanku pada beliau. I love him coz Allah..

Sabtu, 14 Februari 2015

Sekali Lagi Tentang Sabar


Setiap manusia akan diuji sesuai kadar kesanggupannya. Kalimat itu familiar banget, ya. Tapi aplikasinya. Subhanallah.. luar biasa sulit. Acap aku merasa, masalahku demikian rumit. Sudahlah masalah bapaknya anak-anak, masalah ekonomi keluarga, ditambah pula dengan masalah anakku yang mogok sekolah.

Apa sih yang harus dilakukan ketika anak mogok sekolah? Anakku kelas 9, tinggal 3 bulanan lagi belajar di sekolah sebelum pelaksanaan UN. Kenapa sih nggak memaksa diri untuk sekolah, toh setelah UN bisa bebas? Tapi ternyata pikiran anakku nggak kayak gitu. Dia merasa dirinya sakit dan harus dimaklumi. Betul, dia punya penyakit. Dari hasil rontgen thorax, dokter bilang bahwa anakku mengidap enfisema pulmonum, suatu keadaan paru-paru yang lemah. Tapi bukan berarti hidupnya tak bisa berkembang seperti orang lain. Kondisi mudah capek, harus dilawan. Dokter bahkan menyarankan anakku untuk rutin berenang. Dokter juga menyemangati anakku agar punya keinginan kuat untuk sembuh. Tapi anakku malah seolah merasa punya pembenaran dengan sakitnya itu. Setiap pagi kondisi badannya nge-drop (begitu istilah anakku). Dia merasa nggak enak badan dan memilih diam di rumah.

Selain masalah kesehatan, juga ada latar psikologis yang menjadi pemicu. Dan itu butuh pendekatan persuasif. Tapi ternyata susah bangeet. Mental mulu kalau aku bicara sama anakku itu.

Kadang pingin rasanya menghadirkan para pakar psikolog remaja, macam Kak Bendri Jaisyurrahman, ayah Irwan Rinaldi, di hadapan anakku. Apa ya, yang akan mereka lakukan untuk menaklukkan anakku? Tapi, gimana caranya bisa kontak dengan dua bapak keren itu? Ah, orang beken macam mereka mana mungkin bisa melayani orang kayak aku.. da aku mah apa atuh.. :P


Aku betul-betul sudah nyaris menyerah menghadapi ini. Usahaku untuk bicara baik-baik, membuka komunikasi, selalu berakhir dengan situasi yang panas. Aku merasa gagal menjadi ibu. Apa aku terlalu ngotot menjadi single mom? Tapi sesekali aku melibatkan ayahnya juga, kok. Enak aja, masa' aku pusing sendiri..

Beneran bikin pusing. Masalah ini sangat berpengaruh pada pekerjaanku di sekolah dan pada konsentrasiku untuk menulis. OMG! aku lelah.. :P

Tapi aku berasa nyess saat mendapat sms dari sahabat baikku, sesaat setelah aku curhat tentang masalah ini. Begini bunyi smsnya: Intinya mah ini ujian dari Allah. Ujian yang akan berlanjut sampai dikau lulus. Tetap semangat sampai Allah memberi keputusanNya. Hasbunallah wa ni'mal wakiil ni'mal maula wa ni'mannashiir. Saat semua jalan begitu buntu dan semua pintu seolah tertutup, ketuklah pintuNya di sepertiga malam. Banyak dzikir dan istighfar.

Gemetar rasanya.. seperti apakah ini nanti kesudahannya.. bagaimana keputusanNya? Ya, sekali lagi ini tentang sabar...

Kamis, 05 Februari 2015

Mainkan Saja Peranmu *)



Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?
Ketika ijazah S1 sudah di tangan, teman-temanmu yang lain sudah berpenghasilan,
Sedangkan kamu, dari pagi hingga malam sibuk membentuk karakter bagi makhluk yang akan menjadi jalan surga bagi masa depan.
Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?
 Tak ada yang tak berguna dari pendidikan yang kau raih,
dan bahwa rezeki Allah bukan hanya tentang penghasilan kan?
Memiliki anak-anak penuh cinta pun adalah rezeki-Nya.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?
Ketika pasangan lain mengasuh bersama dalam cinta untuk buah hati,
Sedang kau terpisah jarak karena suatu sebab.
Mainkan saja peranmu, suatu hari percayalah bahwa Allah akan membersamai kalian kembali.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?
Ketika nyatanya kondisi memaksamu untuk bekerja, meninggalkan buah hati yang tiap pagi melepas pergimu dengan tangis.
Mainkan saja peranmu, ya mainkan saja, sambil memikirkan cara agar waktu bersamanya tetap berkualitas.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?
Ketika katamu lelah ini seakan tiada habisnya, menjadi punggung padahal rusuk.
Mainkan saja peranmu, bukankah semata-mata mencari ridha Allah?
Lelah yang liLLah berujung maghfirah.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?
Ketika belahan jiwa nyatanya bukan seperti imajinasimu dulu.
Mainkan saja peranmu, bukankah Allah yang lebih tahu mana yang terbaik untukmu?
Tetap berjalan bersama ridhaNya dan ridhanya, untuk bahagia buah cinta.
Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Mainkan saja peranmu, ketika timbul iri pada mereka yang dalam hitungan dekat setelah pernikahannya, langsung Allah beri anugerah kehamilan, sedangkan kau kini masih menanti titipan tersebut.
Mainkan saja peranmu dengan sebaik-baiknya sambil tetap merayu Allah dalam sepertiga malam menengadah mesra bersamanya.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?
Ketika hari-hari masih sama dalam angka menanti, menanti suatu bahagia yang katamu bukan hanya untuk satu hari dan satu hati.
Mainkan saja peranmu sambil perbaiki diri semata-mata murni karena ketaatan kepadaNya hingga laksana Zulaikha yang sabar menanti Yusuf tambatan hati, atau bagai Adam yan g menanti Hawa di sisi.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?
Ketika ribuan pasang pengantin mrngharapkan amanah Ilahi, membesarkan anak kebanggaan hati, dan kau kini, membesarkan, mengasuh dan mendidik anak yang meski bukan dari rahimmu.
Mainkan saja peranmu, sebagai ibu untuk anak dari rahim saudarimu.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan? Ya, taat. Bagai Nabiyullah Ibrahim, melaksanakan peran dari Allah untuk membawa istri dan anaknya ke padang yang kering. Kemudian rencana Allah luar biasa, menjadikannya kisah penuh hikmah, catatan takdir manusia.
Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan? Ya, taat.  Bagai Nabiyullah Ayub yang nestapa adalah bagian dari hidupnya, dan kau dapati ia tetap mempesona, menjadikannya kisah sabar yang tanpa batas berujung surga.
Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?
Ya, taat. Bagai nabiyullah lainnya. Berkacalah pada mereka, dan jejaki kisah ketaatannya, maka taat adalah cinta.
Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?
Taat yang dalam suka maupun tidak suka.
Taat yang bukan tanpa keluh, namun mengupayakan agar keluh menguap bersama doa-doa yang mengangkasa menjadikan kekuatan untuk tetap taat.
Mainkan saja peranmu, dalam taat kepada-Nya, dan karena-Nya.
*) big thanx for my dear ukhti, Ila... this message from her.. 

Rabu, 12 November 2014

Hadiah Sang Juara

Beberapa waktu lalu, anakku, Ghulam, sibuk banget sama kegiatan ekskulnya, IT. Katanya mau bikin video klip musik. Bolak-balik shooting setelah sebelumnya kesana kemari survey tempat cari lokasi yang cocok. Acara nge-lobby band yang mau diajak kerja sama, konon relatif nggak sulit, karena band tersebut sangat kooperatif.
 Setelah shooting selesai, dimulailah proses editing. Hadeuh.. aku mah mending ngedit naskah deh. Ngelihatin anakku ngedit hasil filmnya itu, rasanya bosen banget. Lamaaa.. berhari-hari pula. Tapi anakku serieus beud..

Akhirnya, selesailah video klip itu lalu dikirimkan ke panitia lomba. Jangkauan peserta lomba terbuka untuk SMU se-Indonesia. Meski panitianya adalah panitia lokal dari Sukabumi.

Sekian hari berlalu, suatu sore Ghulam pinjam laptopku. Dia buka twitter. Dan.. ternyata pengumuman tentang lomba video itu. Subhanallah, Ghulam masuk nominasi sepuluh besar. Wah, keren deh, nama Ghulam tercantum sebagai sutradara. Peserta lain beneran dari berbagai kota lho.

Selanjutnya pemenang juara 1, 2, 3 akan diumumkan saat malam puncak. Daan.. surprise banget buat aku, ternyata Ghulam meraih juara 2 atau istilahnya Terfavorit II. Sukacita dia pulang membawa trophy. Katanya nanti ada hadiah uang juga, tapi mau dibagi-bagi dulu untuk sekolah, untuk ekskul, barulah untuk crew.
Tadinya aku nggak mau ikut campur soal berapa rupiah yang akan diterima anakku. Tapi ketika aku tahu pembagian alokasinya, aku tak bisa menyembunyikan kesal. Kebetulan anakku hp-nya lagi error, jadi dia numpang ke nomorku dulu. Dan guru pembina ekskulnya ngesms ke hpku. Maka aku baca duluan, karena takutnya sms penting, sementara anakku lagi mandi.

Aku langsung ngomel penuh rasa sebal sama guru pembina ekskul. Kok bagian buat sekolah gede banget? Please deh .. yang bener aja, masa anakku sama crew cuma dapet 150rb alias 50rb/orang, karena jumlah mereka bertiga.

Lalu, inilah respons anakku saat kuberitahu soal sms gurunya itu:
"Ya, nggak apa-apa, Ma. Itu bukan untuk sekolah, tapi lebih tepatnya untuk ekskul, buat beli alat slider, dll. Lagian tanpa ekskul di sekolah, aku nggak bakal bisa ikutan lomba itu. Alat-alat yang dipake shooting juga kan punya sekolah, segala kamera dan properti lainnya. Dan alat yang mau dibeli itu akan sangat membantu dan memudahkan kami untuk nanti bisa bikin karya yang lebih bagus lagi. Nggak apa-apa kok, dapet segitu. Aku udah dapet ilmu yang berharga. Udah dapet kepercayaan dari guru-guru dan temen-temen. Karena lomba itu juga, aku dapet nama baik di sekolah. Dan ini pengalaman yang luar biasa buat aku."

Mendengar jawaban itu, aku cuma bisa nganga...





Selasa, 11 November 2014

Penulis yang Berprofesi Lain

Ketika memutuskan untuk pindah kerja, aku sudah membayangkan konsekuensinya. Dengan mengajar di sekolah full day, tentu waktu menulis akan berkurang. Dulu mah bisa pulang jam 11 atau sesekali jam 12, maka dari siang sampe sore ada waktu luang. Kalau di full day school, pulangnya sore, tapi aku pikir bisa lah nulisnya malem.

Benarkah malam hari aku bisa menulis? Ternyata tidak, sodara-sodara. Badan rasanya lemess.. bawaannya pingin baring-baring aja di tempat tidur. Belom lagi, krucil pada seru berceloteh. Aku kan harus mendengarkan dan menanggapi. Rasanya bersalah kalau nggak meratiin celotehannya.

Jam 8 waktunya Salman tidur. Seperti biasa minta dikelonin.. dan.. aku pun ikutlah tertidur. Biasanya aku setel alarm hp supaya aku bangun tengah malam. Niatnya pingin nulis.

Tengah malam aku betul-betul bangun, tapii.. hanya sekadar mematikan alarm, lalu kembali terlelap dengan sukses. Saat dinihari terjaga, aku menegakkan badan penuh rasa sesal. Kenapa nggak bangun tengah malam tadi?

Kalau bangun dinihari mah udah nggak bisa ngapa-ngapain, nyuci piring, masak nasi, nyuci baju, dll deh. Waktu terasa singkat kalau pagi-pagi. Tau-tau udah jam 6 aja.. fyuuh.. nyiapin Salman dan kakak-kakaknya sekolah, rasanya menyita waktu.

Jadi yaah gitu deh.. kepinginnya bisa kayak para penulis lain, yang teuteup bisa produktif meski berprofesi lain. Kayak Mbak Riawani Elyta, PNS yang sibuk, tapi daftar tulisan resensinya dah panjaaang. Belom lagi mungkin ada juga calon novelnya. Trus, Teh Ifa Avianty juga, sibuuk ngerjain ini-itu, tapi nulisnya banyaak..

Kapan atuh ya, aku bisa gitu? Urusan anak-anak beserta rumah dan segala isinya, kelar. Urusan nulis juga tetep jalan. Belum lagi urusan internal.. ups! ini mah nggak usah dibilang-bilang dah.. cuma bikin pingin nangis jadinya.

Aku tetap berharap bisa menulis dengan baik. Semoga allah meridoi.

Senin, 03 November 2014

Launching Perdana Buku "Aku Sayang Nabi Muhammad"

Ini benar-benar pengalaman pertama yang bersejarah. Launching buku karya sendiri! Rasanya dulu nggak kebayang deh. Biasanya jadi penonton, sekarang jadi pelaku.. :)

Kesempatan ini bermula dari grup PBA (Penulis Bacaan Anak) di facebook. Kang Ali Muakhir, suhu di sana, mengabarkan bahwa PBA dipercaya untuk mengisi acara di IIBF (Indonesia International Book Fair). Acara itu berupa launching buku anak secara berjamaah pada hari Sabtu tanggal 1 November. Lowongan dibuka. Dan, berduyun-duyunlah temen-temen penulis pada daftar. Termasuk aku. Tapi Kang Ali hanya akan mengambil 10 penulis saja.

Buat para penulis lain, mungkin menunggu keputusan Kang Ali, terasa biasa aja. Tapi buat aku, hmm.. lumayan H2C. Dan, pengumumannya lamaaa.. Hingga akhirnya, saat itu pun tiba. Kang Ali menetapkan nama-nama yang diajak serta nge-launching. Salah satunya.. akuu.. :)

Wah.. perasaanku campur aduk deh. Antara seneng dan gemeter, antara bahagia dan dagdigdug.. hihi..

Terus aku nginbox Ibu Boss alias Mbak Yeni. Aku ceritakan kabar gembira ini. Dan, luar biasa... dukungan dari Indiva, top banget deh. Aku dikasih biaya akomodasi sama buku untuk doorprize. Asyiik.. :)

Tapi.. oh ternyataa.. hari H itu adalah hari Sabtu masuk. Jadi, Sabtu itu dua: Sabtu libur dan Sabtu masuk. Berarti aku harus izin untuk nggak masuk sekolah. Duh, paling males kalo musti izin-izin begitu. Dan, benarlah, aku harus tetep masuk, karena Sabtu itu akan ada rapat konsolidasi. Sebagai walikelas, aku harus hadir. Akhirnya, solusi didapat, aku masuk tapi boleh pulang jam 10.

Singkat cerita, berangkatlah aku dengan naik kereta api menuju Bogor. Dari Bogor dilanjut naik kereta api lagi ke Jakarta. Aku turun di stasiun Cawang. Dari Cawang aku naik taksi ke lokasi. Dan, maceeett.. :(

Acara kan dimulai jam 15.00. Jam 14.30 aku masih di jalan. Hiks.. jalan masuk ke Senayan ditutup jadi harus muter.. whaaa.. tambah lama atuh. Akhirnya, aku turun trus naik ojek. Abang ojek pinter deh, cariin jalan pintas. Aku pun tiba pas-pasan, jam 15 kurang dikit.

Segera aku cari Ruang Kenanga. Lho, kok banyak Kenanga-nya..? Ada Kenanga 1, Kenanga 2, sampe Kenanga 6. Oh rupanya di Kenanga 5. Srat sret beres-beres ruangan, karena baru aja dipakai untuk lomba tahfidz, akhirnya launching berjamaah 10 buku pun dimulai.

Aku dan 9 penulis lainnya duduk berjejer di depan. Acara dipandu sama MC yang asik banget, Teh Ina Inong. Setiap penulis diminta untuk menceritakan proses kreatif penulisan bukunya, dan menjawab beberapa pertanyaan seputar bukunya yang dilemparkan oleh MC.



Sejujurnya, aku nggak nyiapin gimana ngomongnya. Tapi aku cukup ngerasa punya bekal karena beberapa kali menuliskan materi promo tentang bukuku. Jadi kupikir, ya aku ngomong kayak yang aku tulis aja.. :)




Oh ya, para penulis yang tampil kece di depan adalah: Wylvera Windayana (Ke Tanah Suci, Yuk - Qibla. Buku duet dengan Dian Kristiani), aku (Aku Sayang Nabi Muhammad - Indiva), Arif Y. Pranata (Mencari Jejak Si Kumbang - Mitra Bocah Muslim), Devi Raissa R (Asal Mula Namaku - Rabbit Hole), Triani Retno (Cermin dan The Shy - Anak Kita), Gabriel Fabiano (Fixiano - Sinotif Publishing), Anisa Widiyarti (Aku Bisa Begini, Aku Bisa Begitu - Tiga Ananda), Susanti Hara (Bintang Jindo), Chitra Savitri (Masya Allah, Ciptaan Allah yang Kecil Tapi Ajaib - Adi Bintang), dan Kay Arikunto (Surga dan Neraka - Dar! Mizan).

Di deretan kursi penonton, kulihat ada Mbak Dhani. Seneng banget ada temen BAW. Yang lain-lain lagi pada sibuk, jadi nggak bisa hadir. Belakangan kemudian hadir Saepullah sama Vita. Meskipun Mas Saepullah itu tetiba ngilang menjelang akhir acara, sementara Vita nongol setelah acara selesai.


Acara berlangsung sekitar dua jam. Penonton dikasi kesempatan nanya ke penulis yang dipilihnya. Ada juga yang bertanya ke aku, seorang bapak yang ternyata berasal dari Sukabumi. Setiap penonton yang bertanya, dapet hadiah buku. Trus ada juga kuis buat penonton berhadiah buku pun. Pokoknya doorprizenya bikin ngiler deh. 



Penontonnya lumayan banyak juga, dengan berbagam varian.. hehe.. ada ibu-ibu, bapak-bapak, mbak-mbak, tante-tante, om-om, dan tentu anak-anak. Memang buku yang dilaunching pun beragam. Ada buku untuk balita, anak-anak SD awal, sampe SD akhir menjelang remaja. Ada fiksi dan nonfiksi juga. Yang bergenre horor pun ada. Tapi horornya soft lah. Kata penulisnya, Mbak Eno, ini horor yang nggak bikin ilang selera makan.


Selain penulis dewasa, ada juga penulis anak, namanya Ian. Kayaknya tulisannya bagus. Tapi anehnya, dia nggak suka membaca, cuma kadang suka nonton film. Ide yang dia dapet katanya ya dateng gitu aja, bukan pula dari film yang dia tonton. Ayah ibunya kebingungan, karena mereka pada nggak bisa nulis, katanya. Wuih.. tapi anaknya pinter nulis. Keren..!

Dari launching ini aku berusaha belajar. Aku menyerap pengalaman hari itu sebagai bekal pengetahuan yang berharga. Kata Mbak Dhani, cara aku menjawab pertanyaan masih kurang bagus. Katanya lagi, aku belum tampak santai, jadi mungkin karena itu maka jawabannya kurang Oke. Kata Mbak Dhani, aku bisa jauh lebih baik lagi, sebab kecerdasanku belum tereksplor. Cieee..

Selesai acara, para penulis signing book.. termasuk aku.. ehm! Dilanjut dengan sesi foto-foto. Dan, saking sibuknya, sampe-sampe aku lupa nggak foto-foto bareng kakakku.. huhuu.. padahal kakakku jauh-jauh dateng dari Bekasi dan sangat men-support aku.


Anyway, aku sangat bersyukur kepada Allah, karena hari itu berjalan baik dan lancar. Dari mulai perjalanan hingga acara selesai.Subhanallah.. Alhamdulillah..

Diantara lelah dan penatku, terselip doa dan harap, agar ada launching kedua, ketiga, dan seterusnya. Semoga bukuku berikutnya menyusul, tak lama lagi.. Aamiin.