Rabu, 29 Juni 2016

Tentang Tangguh

Ada rekan kerja saya, namanya Bu Irma. Pembawaannya tenang, lembut, pokoknya super kalem. Amanah kerjanya cukup besar. Tanggungjawabnya adalah QA Kurikulum. Saya sungguh kagum melihat sikapnya, meski kadang greget juga sama ketenangan sikapnya. Soalnya kalau saya mungkin dah pingin mrepet sana-sini, tapi beliau tetap cool abizz..

Bu Irma nggak tau kalau saya diam-diam adalah pengagumnya. Sampai suatu ketika saat bukber, kebetulan saya dan Bu Irma lagi 'cuti', jadi tinggal kami berdua di meja karena yang lain sedang sholat magrib. Saya bilang, "Pingin lihat deh, paniknya Bu Irma kayak gimana?" Bu Irma cuma tersenyum lalu menutup muka. Ia merasa malu karena saya memujinya.

Tak lama, datanglah Ibu owner, yang juga ternyata sedang 'cuti'. Saya tanya sama beliau, "Bu, pernah melihat Bu Irma panik, nggak?"

Bu Irma lagi-lagi tersipu lalu menutup muka. Sedang Bu owner pun tersenyum bijak lalu memandang saya. "Bu Irma ini orang hebat. Beliau selalu berusaha melakukan the best that she could. Setelah segala upaya dilakukan, ia akan berserah. Jadi baginya, tak ada alasan untuk bersikap panik."

Saya tercengang. "Saya belum nyampe ke maqom itu."

Bu Irma tersenyum. "Subhanallah, sungguh betapa maha hebatnya Allah yang telah menutup aib-aib saya, sehingga yang tampak di mata Bu Linda seolah-olah saya begitu baik. Padahal mah ..."

Bu owner menanggapi. "Bu Irma pandai menyembunyikan apa yang tengah bergejolak, sehingga semua nampak adem ayem."

Pembicaraan terhenti. Teman-teman yang selesai sholat magrib mulai berdatangan. Tak lama kemudian kami selesai bukber dan keluar dari resto menuju tempat parkir. Dalam perjalanan menuju tempat parkir itu, Bu owner menjejeri saya. "Ada wanita-wanita yang diuji demikian berat. Seperti Bu Irma. Tapi beliau mampu menerimanya dengan sabar. Maka Allah menganugerahkan ketangguhan baginya."

Saya tercenung. Bu owner melanjutkan, "Selain Bu Irma, ada juga yang lain kan?" Saya mengangguk, teringat cerita beliau tentang salah seorang rekan yang mengalami perpisahan dalam rumahtangganya.

"Demikianlah setiap orang mendapat ujian yang berbeda-beda. Bukan kita yang menentukan apakah ujian si A lebih berat dari si B, atau sebaliknya. Karena masing-masing sesuai kadar beratnya dengan kesanggupan yang sudah terukur oleh Allah, nihil salah," lanjut Bu owner. "Dan Bu Linda juga. Wanita tangguh lainnya yang saya kenal." Bu owner lalu membuka pintu mobil dan duduk di balik kemudi, siap membawa kami pulang.

Saya pun mengulang kata-kata Bu Irma.. "Subhanallah, sungguh betapa maha hebatnya Allah yang telah menutup aib-aib saya.."

sumber gambar
Semoga menjadi doa.. saya benar-benar tangguh menjalani sisa hidup ini. Mendampingi anak-anak dengan segala problematikanya. Menekuni pekerjaan dengan segudang amanah yang besar. Menjadi wanita shalihah dengan akhir yang baik...

Minggu, 26 Juni 2016

Perjalanan Cinta

       Usiaku terpaut sepuluh tahun dengan suami. Ia seorang yang berwibawa dan.. ganteng. Itu salah satu hal yang membuatku bersedia dijodohkan dengannya. Maklumlah, remaja putri seusiaku biasanya masih mengandalkan wajah rupawan untuk cowok idaman. Di penghujung masa SMA, seorang lelaki mapan dan ganteng sudah menungguku. Siapa tak bangga? Maka tak lama selepas kelulusan SMA-ku, segera aku beranjak ke pelaminan.
Gambar diambil dari sini
       Hari-hari bergulir. Aku mulai merasakan getir karena suamiku ternyata seorang yang kaku dan dingin. Sikapnya sangat komandan. Pendapat dan kehendaknya harus selalu diikuti. Otoriter sekali.
Gambar diambil dari sini
       Demikian seperti itu hingga tahun demi tahun berganti. Anak-anak mulai hadir menghangatkan keluarga. Merekalah pelipur laraku.
       Keinginanku untuk bisa bermanja-manja selayaknya seorang istri kepada suami, mulai menipis. Sudahlah, suamiku memang sepertinya tak pernah menganggap penting hal itu. Baginya, memenuhi segala kebutuhanku dan anak-anak, sudah cukup. Kadang terlintas di benak, apakah ia mencintaiku?
       Berbilang tahun kemudian, Alhamdulillah kami berkesempatan pergi umroh ke tanah suci. Saat tiba di Mekkah, kakiku yang memang kerap bermasalah, mulai beraksi. Ketika akan melaksanakan sa’i (lari-lari kecil antara bukit Shafa dan Marwah), rasanya aku benar-benar nggak sanggup, bahkan hanya untuk sekedar berjalan sekalipun. Lalu suamiku sibuk mencarikan kursi roda. Kebetulan saat itu banyak jemaah yang menggunakan kursi roda. Sulit sekali mencari kursi roda yang kosong. Suamiku tampak kalang kabut. Akhirnya setelah berhasil mendapatkan, ia bersungguh-sungguh mendorongku dengan kursi roda. Ia menolak tawaran jasa pendorong kursi roda.
       Selanjutnya, suamiku tiada kenal lelah, dengan setia selalu mendorongku dengan kursi roda, kemana pun kami pergi.  Kebetulan pihak hotel menyediakan. Suamiku selalu tampak khawatir bila aku bilang ingin mencoba berjalan. Pada saat itulah aku merasakan tatapannya yang penuh cinta. Aku bisa merasakan cintanya yang begitu dalam. Ia sungguh menjagaku dengan segenap jiwanya.  Itu membuatku meleleh. Perjalanan ibadah agung itu pun kemudian menjadi perjalanan penuh cinta. Aku merasakan suamiku sungguh mencintaiku. Dan betapa itu sangat berarti bagiku.
       Setelah pulang kembali ke tanah air, hatiku lebih cair. Aku tidak lagi merasa kesal dengan sikap kakunya. Aku tahu, ia mencintaiku, dengan caranya sendiri.
Gambar diambil dari sini

*diangkat dari kisah seorang teman baik* 


 



Selasa, 10 Mei 2016

EUFORIA 30 JUTA



BURUNG KOLEANGKAK MINTA HUJAN *)
(Ditulis kembali dari cerita rakyat Banten)

“Beberapa hari ini, kulihat kau termenung saja. Mengapa?” Seekor burung koleangkak bertanya kepada kawannya yang bertengger tak jauh darinya.
“Yaah... ada sesuatu yang kuinginkan,” jawab burung koleangkak yang ditanya. Ia menghela napas. Kepalanya terangkat, bulu-bulu lehernya yang putih keperakan berkilau tertimpa cahaya matahari.
“Apa lagi yang kau inginkan? Kau burung koleangkak paling cantik. Banyak yang iri padamu. Hmm... terkadang aku juga.”
Burung koleangkak cantik terdiam. Di benaknya masih terbayang sosok manusia yang menurutnya adalah makhluk paling cantik. “Aku ingin menjadi manusia,” desahnya.
“Ah, kau tak pernah puas dengan apa yang telah kau miliki.” Ditinggalkannya burung koleangkak cantik itu sendiri.
Sepeninggal kawannya, burung koleangkak cantik itu menguatkan hati untuk menghadap Dewa. Ia kumpulkan kekuatan untuk memberanikan diri bermohon kepada Sang Dewa demi mewujudkan keinginannya. Dan ternyata Dewa mengabulkan keinginannya. Betapa bahagia membuncah di hati.
“Tapi ada sesuatu yang harus kau tahu.” Dewa mengajukan syarat.
“Saya siap mendengar,” sahut burung koleangkak. Binar matanya yang cemerlang menunjukkan rasa ingin tahu.
“Saat kau tiba di akhir hidupmu kelak, kau harus diperlakukan sebagaimana jenazah manusia, dan disegerakan pengurusannya. Setelah itu kau akan kembali menjadi burung koleangkak.”
Setelah Dewa berucap demikian, burung koleangkak merasakan tubuhnya bergetar. Perlahan helai demi helai sayap eloknya menghilang, dan wujudnya berubah menjadi seorang perempuan. Burung koleangkak merasakan hatinya bergemuruh. Kini ia menjadi seorang manusia. Tubuhnya yang semampai dengan wajah bak purnama, dihiasi oleh bibir yang memerah delima, pipi seranum apel, dan mata bersinar secerlang bintang kejora. Kecantikan itu semakin purna dengan rambut legam tergerai bagai mayang terurai.
Tak henti ucapan terima kasih disampaikannya kepada Dewa. Namun tak lama kemudian ia kembali mengajukan permohonan. Ia ingin ditemani seorang anak. Dewa mengabulkannya. Seorang gadis kecil hadir di hadapannya. Tapi lagi-lagi Dewa menyebutkan sebuah syarat, berupa pantangan yang harus dihindari anak semata wayangnya. Jelmaan burung koleangkak menyanggupi.
Setelah itu dimulailah hari sang burung sebagai manusia. Tanah Banten menjadi tempat hidupnya.
Ia melihat orang-orang bekerja sebagai buruh tani untuk mendapatkan uang. Maka ikutlah ia menjadi buruh tani. Namun karena kecantikannya, ia dimusuhi teman-temannya sesama buruh. Ia lebih banyak dibebani pekerjaan. Tidak ada daya baginya untuk melawan. Semua bersekongkol membuatnya susah.
Dengan hati perih, ia pindah ke desa lain bersama anaknya. Sebuah desa nelayan. Ia kemudian menjadi pembantu pada seorang juragan ikan. Dan keadaan yang sama seperti di desa sebelumnya, terulang lagi. Ia dimusuhi dan dicurigai akan merebut perhatian mandor karena kecantikannya. Maka, dengan perasaan remuk redam, ia kembali pindah ke desa lain.
Di desa yang baru, ia berusaha mencari pekerjaan baru. Namun ia selalu disergap rasa takut, sehingga tak ada satu pekerjaan pun yang dilakoninya. Lantas ia memilih mencari kayu bakar di hutan lalu menjualnya di pasar.
Dengan pekerjaan kasar nan berat, kecantikannya kian memudar. Namun ia merasa lebih bahagia karena tidak ada yang memusuhi. Ditambah lagi anak semata wayangnya demikian sayang dan cinta kepadanya. Ia anak yang baik, patuh, dan rajin membantu.
Meski orang-orang tidak memusuhi, namun mereka tidak terlalu memedulikannya. Jelmaan burung koleangkak itu hanya dikenal sebagai janda miskin, karena ia datang beserta anak tanpa suami. Tetangga bersikap acuh tak acuh saja. Mereka tidak begitu suka pada orang baru. Ditambah status janda membuat orang menjaga jarak. Tapi ada satu tetangga yang selalu bersikap baik kepadanya. Seorang petani dan istrinya. Keduanya kerap memberikan nasi dan lauk pauk seadanya bila dilihatnya janda miskin itu tak punya makanan. Sayangnya, tetangga yang baik hati itu kemudian pindah ke desa lain yang jauh, karena orangtuanya sudah renta dan butuh ditemani.
Sekian tahun berselang, janda miskin jelmaan burung koleangkak berjumpa lagi dengan tetangganya yang baik itu.  Petani sederhana itu telah berubah hidupnya menjadi petani kaya raya. Bakti dan cintanya kepada orangtua, mengantarkan usaha taninya menjadi sukses. Keikhlasannya mengurus orangtua yang sudah renta hingga akhir hayatnya, melahirkan keridhoan orangtua. Ridho orangtua itu berbuah kemudahan-kemudahan dari Tuhan. Panennya melimpah dengan hasil yang baik. Hasil taninya laris di pasaran.
“Wah, aku hampir tidak mengenali sampeyan!1” Janda miskin itu menatap takjub pada petani, tetangganya dulu. Matanya tak berkedip memandang baju petani yang berhiaskan sulaman emas dan kancing perak.
Petani itu tersenyum. Lalu matanya tertuju pada kayu bakar yang teronggok di samping kaki si janda yang tak beralas kaki. “Masih berjualan kayu bakar?”
Janda miskin itu mengangguk lesu. Namun secepat sambaran elang, ia menjawab, “Ya, hidupku masih begini. Tapi aku tetap bahagia. Meski aku tak berharta, namun aku punya satu harta yang tak ternilai.”
Sang petani mengernyit. Sambil membetulkan letak kain sutra yang menyampir di pundaknya, ia bertanya, “Maksudmu?”
“Anakku. Dia harta yang paling berharga. Kelembutan hati dan keindahan perangainya senantiasa membuatku bahagia memilikinya.”
“Aku ingin bertemu putrimu. Tentu ia telah menjadi gadis dewasa sekarang.”
Tak berapa lama, seorang gadis menghampiri. Tangannya yang satu memikul seikat kayu bakar, dan satunya lagi bersiap menenteng ikatan kayu bakar yang ada di dekat kaki si janda. “Aku bawa sekarang ya, kayu-kayu ini.”
“Nah, ini putriku.” Ucapan tersebut menghentikan gerakan si gadis. Ia menoleh ke arah ibunya. “Nok 2, ini tetangga kita dulu. Tetangga yang selalu baik kepada kita.”
Si gadis melihat sejenak, lalu bibir tipisnya melengkungkan senyum. Ia segera mencium tangan si petani sambil mengucap salam penuh khidmat.
“Putrimu cantik. Cocok rasanya dengan putraku.”
Semburat merah jambu tampak di wajah gadis itu. Ia teringat putra tetangganya yang tampan. Sambil tersipu, ia mengucap salam, kemudian berlalu seraya mengangkut kayu bakar.
Petani itu kembali mengutarakan niatnya. “Aku ingin mengambil menantu, anak gadismu.”
 “Oh, terima kasih sudah menjatuhkan pilihan pada putriku. Tapi bagaimana dengan putra sampeyan?” Janda miskin itu menundukkan kepala. Kain penutup kepalanya yang usang jatuh menjuntai.
“Aku yakin putraku setuju dengan pilihanku. Seorang gadis cantik nan lembut dan berbudi.”
Lega hati Si Janda Miskin mendengar jawaban tersebut. Namun kembali mendung nampak di wajahnya. “Bagaimana dengan keadaanku yang miskin? Kami masih tinggal di gubuk yang dulu.”
Sebaris senyum tulus tersungging di wajah Si Petani. “Tidak usah khawatir. Aku memaklumi keadaanmu. Tidak penting beunghar3, yang penting mah bageur4.”
Kesepakatan pun dicapai. Pertunangan dilangsungkan tak berapa lama kemudian. Putra petani jatuh cinta seketika kepada putri koleangkak. Kecantikan serta kelembutannya telah menawan hati sang putra petani. Tanggal pernikahan ditentukan beberapa bulan kemudian.
Setelah kembali pulang ke desanya selepas acara pertunangan, janda miskin dan putrinya menjalani hari-hari seperti biasa. Hingga pada suatu hari, janda miskin itu jatuh sakit. Putrinya dengan telaten menemani dan melayani.
Nok, Ibu ingin makan pisang.”
Gadis yang baik itu menatap ibunya penuh kasih. Ia tidak ingin menampakkan keresahan hatinya, karena tidak ada uang untuk membeli pisang.  Namun ibunya bisa memahami arti helaan napas panjang putrinya.
“Tidak ada uang ya, untuk membeli pisang?”
Gadis itu mengerjapkan mata. Setitik bulir bening membasahi pipinya. Ia ingin sekali memenuhi keinginan ibunya tercinta. Seketika bibirnya melengkungkan senyum manis, penyejuk hati ibunya.
“Tak apa, Mak. Aku bisa minta kepada tetangga. Siapa tahu ada yang punya dan mau memberikannya kepada kita.”
Ibunya mengangguk. Matanya sendu mengiringi putrinya yang beranjak menuju keluar, menemui tetangga.
Dari rumah ke rumah, gadis baik hati itu berkeliling. Namun tak ada seorang pun tetangga yang berkenan memberinya pisang. Gadis itu pun berjalan lunglai, pulang dengan tangan hampa.
“Maafkan aku, Mak. Tak ada pisang untuk emak. Mungkin ada baiknya aku pergi ke rumah calon mertua. Mereka orangtua yang baik hati. Tentu tak berat bagi mereka memberikan sebuah pisang untuk emak,” usul gadis itu.
Ibunya menggeleng lemah. “Jangan, Nok. Rumah besan terlalu jauh dari sini.”
Gundah hati gadis itu. Rumah calon mertuanya memang jauh. Bagaimanalah nanti bila ia pergi ke sana? Siapa yang akan menemani ibunya?
Akhirnya ibunya terlelap di atas bale-bale reyot di sudut kamarnya. Gadis itu ikut rebah di sampingnya, menjaganya. Angin semilir menyelusup melalui lubang-lubang di bilik kamar. Seekor cicak tanpa buntut mengendap-endap hendak memangsa nyamuk di dekatnya.
Menjelang tengah malam, gadis itu terjaga. Segera dilihatnya ibunya. Anehnya, napas ibunya tak terlihat turun naik. Ia segera mengamati lebih saksama. Ternyata tubuh ibunya telah dingin. Seketika menjalar rasa perih menusuk hati, karena ditinggal pergi untuk selamanya oleh ibunda tercinta. Matanya mendanau. Kemudian pipinya membasah. Airmata menderas mengiringi pilu hatinya.
Mak, jangan pergi. Jangan tinggalkan aku. Perpisahan ini terlalu cepat. Aku ingin emak menyaksikan pernikahanku. Aku ingin emak merasakan bahagiaku bersama suamiku nanti. Mak, aku rinduu... aku rindu belaian sayang emak.. aku rindu nyanyian merdu emak...”
Gadis itu merintih dalam kesenyapan. Dengan hati hancur, ditutupnya jenazah ibunya dengan tikar. Ia terus menangis sepanjang malam. Lalu ia mendatangi tetangga mengabarkan wafatnya ibunya. Namun tetangga tak ada yang peduli. Gadis itu tak berputus asa. Ia tetap berharap ada yang tergerak hatinya untuk mengurusi jenazah ibunya, namun harapannya tak terkabul.
Saat fajar menyingsing, gadis itu tidak mendengar suara-suara kemerosak dari tempat jenazah ibunya dibaringkan. Ia baru pulang ketika sinar sang raja siang mulai menampakkan diri. Gegas ia menuju jenazah ibunya. Namun betapa terkejutnya ia, saat membuka tikar penutup jenazah, ternyata ibunya telah raib. Dengan pikiran bagai benang kusut, ia mencari ke seluruh pojok tempat di dalam gubuknya, namun hasilnya nihil.
Lunglai kakinya melangkah ke luar rumah. Mendung menggelayut di wajahnya. Ia duduk bersimpuh di dekat pohon randu besar di halaman gubuknya.
Dalam gulana yang menyekapnya, ia mendengar suara dari atas pohon randu besar. Seekor burung koleangkak hinggap di sana dan terus menerus bernyanyi melantunkan kata-kata yang menyayat hati.
Koleangkak! Anak, ulah sok ceurik cumeurik, tuturkeun kalangkang indung.”  (Koleangkak! Anak, berhentilah, jangan menangis terus menerus. Ikutilah bayangan Ibu)
Gadis itu menoleh ke kiri dan ke kanan, tak ada orang. Lalu nyanyian burung koleangkak di atas dahan pohon randu kembali terdengar. Gadis itu menengadah, mencari asal suara. Tampaklah seekor burung koleangkak yang memandang kepadanya dengan pandangan kasih sayang seorang ibu. Sejenak ia terpaku. Dipandangnya burung itu. Lalu yakinlah ia, bahwa burung koleangkak itu adalah jelmaan ibunya.
Burung koleangkak itu terus menerus bernyanyi. Ia berharap anaknya mengikuti apa yang diucapkannya. Dan gadis itu mulai beringsut. Ia melangkah mengikuti bayangan burung itu. Meski sang burung terus saja terbang dari pohon ke pohon, ia tetap mengikuti tanpa menghiraukan rasa lapar dan dahaga yang menyerang.
Akhirnya, tibalah burung koleangkak di desa petani, calon besannya. Ia hinggap di atas pohon randu, dekat rumah bakal mertua anaknya. Di sana ia bernyanyi. “Koleangkak! Ki Warang.. Koleangkak! Nyi warang.. Geus sakieu bagja kula. Anak mah, nyerenkeun bae.” (Koleangkak! Ki Besan.. Koleangkak! Nyi Besan.. Telah cukup kebahagiaanku. Kuserahkan saja anakku kepada kalian)
Suami istri petani itu saling pandang. Keduanya merasa heran. Suara burung koleangkak itu seperti sengaja ditujukan kepada mereka. Maka segeralah keduanya menghambur keluar rumah, mencari asal suara burung tersebut.
Saat dilihatnya seekor burung koleangkak bertengger di atas dahan pohon randu, yakinlah mereka suara tadi berasal dari burung itu. Sang petani berusaha menangkapnya, tetapi burung tersebut berhasil lolos dan terus terbang membubung ke angkasa. Lalu hilang dari pandangan.
Pasangan suami istri itu kebingungan. Di tengah rasa bingungnya, datanglah calon menantu perempuannya. Gadis itu terhuyung-huyung di sela napasnya yang tersengal-sengal. Ia berlari sepanjang jalan, mengikuti ke mana pun burung koleangkak terbang.
“Kenapa, Nok? Ada apa?” Istri petani bertanya penuh rasa cemas. Suaminya memberi isyarat agar membawa gadis itu masuk ke dalam rumah.
Setelah minum dan duduk dengan tenang, berceritalah gadis itu tentang kepergian ibunya, diiringi isak sedih. Calon mertuanya jatuh iba. Gadis itu sebatang kara kini.
Nok, nggak usah kembali ke kampungmu. Sudah, tinggallah di sini, hingga hari pernikahanmu tiba.”
Maka tinggallah gadis itu di rumah calon mertuanya. Setelah beberapa waktu, ia menikah dengan anak laki-laki pasangan petani itu. Mereka pun resmi menjadi suami istri.
Kehidupan anak perempuan janda miskin itu senantiasa bertabur kasih sayang. Suaminya demikian cinta kepadanya.
“Aku bersyukur kepada Tuhan, memiliki suami sepertimu.”
“Akulah yang lebih bersyukur, karena kau adalah anugrah terindah yang Tuhan berikan untukku. Tak ada yang lain melebihimu. Bagiku, cukup hanya dirimu.”
Selalu kata-kata lembut nan romantis yang terucap di antara keduanya. Mereka benar-benar pasangan mesra yang bahagia.
Duabelas purnama berlalu. Pada sebuah sore yang tenang, kala langit membiru terang dalam bentangannya, berkatalah si suami kepada istrinya. “Sayang, kepalaku terasa gatal. Coba lihat sebentar!”
Demi mendengar permintaan suaminya, si istri membeku. Di benaknya terngiang ucapan ibunya, yang mewanti-wanti sebuah pantangan yang harus dijauhinya.
“Kenapa diam? Sirah Akang ararateul saja5.”
Si istri menghela napas panjang dan berat. “Kalau kita ingin hidup berdampingan selamanya, janganlah kau minta dicarikan kutu. Itu pantangan yang tak bisa kulanggar. Pantangan itu adalah pesan terakhir ibuku sebelum ia meninggal.”
“Ibumu bilang apa?”
Sambil menunduk lemas, si istri berkata, “Ibuku bilang begini: “Bila engkau bersuami nanti, hati-hatilah, jangan sekali-kali engkau mengutui suamimu. Itu pantangan bagimu. Bila engkau tak mengindahkan kata-kataku ini, kau akan menjadi koleangkak, membubung tinggi ke angkasa mengikuti ibumu.”
Suaminya menyimak kisah istrinya dengan hati masygul. Ia ingin bermanja di pangkuan istrinya sambil dikutui. Ia bersikeras agar keinginannya dipenuhi istrinya. Maka dengan berat hati, sang istri menuruti kehendak suaminya.
Sambil mengutui suaminya, si istri menyenandungkan sebuah nyanyian: “Koleangkak! Indung.. Ulah mulang ka khayangan, mun tacan reujeung kula” (Koleangkak! Ibu.. Jangan engkau pulang dulu ke khayangan, bila tidak bersamaku)
Suaminya menikmati betul dikutui. Apalagi sambil mendengar senandung merdu istrinya. Saking terbuainya, ia pun tertidur. Ia tidak menyadari perubahan pada istrinya. Perlahan-lahan tumbuh bulu pada badan istrinya. Menjelmalah ia menjadi burung koleangkak seperti ibunya. Ia pun terbang dan hinggap di bubungan atap.
Ketika sang suami terbangun, ia merasa heran istrinya tak ada di sampingnya. Ah, mungkin sedang membuat emping di dapur, batinnya. Ia pun beringsut menuju dapur. Ternyata tak ada. Berpindah ke ruang lain, tetap tak ada. Suaminya mulai merasakan jantungnya berdentam tak karuan. Tidak pernah selama ini istrinya pergi tanpa meminta izinnya. Hatinya gundah, khawatir terjadi sesuatu yang buruk dengan istrinya. Ia pun melangkah ke luar rumah. Namun tak ada jejak istrinya di sana.
Dari atas bubungan atap, terdengar nyanyian pilu yang disuarakan burung koleangkak berulang-ulang. “Koleangkak Kaka.. Koleangkak Bapa.. Koleangkak Ambu.. Kula mah ulah disiar.. Deuk nuturkeun sakadang indung” (Koleangkak Suamiku.. Koleangkak Bapak.. Koleangkak Ibu.. Aku tidak usah dicari. Aku hendak mengikuti ibuku)
Sang suami menegakkan telinga. Matanya mengelana, berusaha menangkap sosok istrinya. Senandung burung koleangkak itu membuatnya merasa bahwa istrinya tak jauh dari situ. Sementara itu, sang burung koleangkak demi melihat suaminya, langsung menghentikan senandungnya. Burung koleangkak itu memanggil suaminya. Ia mengatakan tak akan lagi mengutui suaminya, karena akan menyusul ibunya sekarang juga. Lalu burung koleangkak itu mengepakkan sayapnya.
Seiring kepakan sayap burung itu, si suami terpana. Ia menatap sayap burung koleangkak yang terus mengepak, hingga melayang semakin jauh, jauh, lalu menghilang dari pandangan. Ia merasa terhempas. Ada yang tercerabut dari hatinya. Danau di matanya meluruh membasahi pipi.
“Istriku.. istriku... “ suara hatinya menjerit pilu.
Dari hari ke hari, tak ada yang bisa mengobati perih hatinya. Ia menyesali suratan nasib yang telah menimpa. Meranalah ia sepanjang waktu.
“Istriku... aku menyesal, tak mengindahkan pantangan ibumu..”
Apa hendak di kata, penyesalan selalu datang terlambat. Sang suami hanya bisa meratap. Cintanya telah hilang. Rindu yang pekat terasa mencekiknya.
Bentang langit luas tak lepas ditatapnya, berharap istrinya akan muncul dan kembali kepadanya. Namun hanya angin yang membalas kerinduannya.
Segala yang ada di dalam rumah, turut berduka. Peralatan masak yang biasa digunakan untuk membuat emping, teronggok bisu di sudut dapur. Baju-baju yang terlipat rapi di dalam lemari, tampak muram. Suara derit pintu seperti pengantar kidung lara bagi luka hatinya yang terus membasah.
Tak ada daya hatinya untuk melawan nestapa. Ia tersungkur sakit. Kian hari badannya kian lemah. Ia sungguh terpukul. Tak ada obat penyembuhnya. Akhirnya ia tak sanggup menanggung derita hatinya. Napasnya pun terhenti. Hidupnya berakhir dalam duka.
Sekian waktu berlalu, dari kisah itu, dalam masyarakat Banten muncul sebuah kepercayaan. Bila ada burung koleangkak berbunyi, itu adalah burung koleangkak yang melanjutkan suara burung koleangkak yang dulu. Burung koleangkak yang dulu mewujud janda miskin, saat meninggal tidak ada yang mengurusi, tidak ada yang memandikan. Maka burung koleangkak itu terus menerus berseru minta dimandikan. Sehingga masyarakat percaya bahwa pekikan burung koleangkak itu adalah seruan minta hujan.
_______
GLOSARIUM
1)        Sampeyan : Anda
2)        Nok : panggilan kepada anak perempuan
3)        Beunghar : Kaya
4)        Bageur : Baik
5)        Ararateul saja : Gatal sekali  

*) ikut serta bertarung dalam Lomba Penulisan Cerita rakyat Kemendikbud 2015
 



Minggu, 24 April 2016

My Children is Not Mine

Seorang teman baik bercerita tentang anak sulungnya yang sudah masuk di boarding school, namun kemudian menolak tinggal di asrama. Alhasil setiap hari sang bunda mengantarjemput si buah hati dengan jarak tempuh kurang lebih 40 km untuk satu kali perjalanan. Padahal sang bunda memiliki agenda yang padat setiap harinya. Namun di sela kesibukannya, ia rela berpayah-payah demi anaknya.

Sang bunda keukeuh menyekolahkan anaknya di sekolah yang jauh itu, karena menurutnya itulah yang terbaik buat si anak. Sekolah-sekolah di sekitar rumah dan lingkungan pergaulan di sana, tidak kondusif bagi perkembangan seorang remaja. Begitu, pendapat sang bunda. Ia tidak ingin anaknya jatuh terperangkap dalam pergaulan yang buruk. Karenanya, si anak harus dijauhkan dan ditempatkan di lingkungan yang baik.

Demikianlah naluri seorang Ibu. Selalu berusaha ingin melindungi dan memberikan yang terbaik untuk anak. Namun sayangnya, kerap niat tulus ini tak terbaca oleh anak. Ia menangkap isyarat lain. Gejolak jiwa remajanya tetap merasa bahwa bukan di sanalah pilihannya. Dan benturan pun tak terhindarkan.

Seketika aku teringat pada si sulung. Dulu, selepas SD, aku antarkan ia sepenuh cinta ke sebuah pesantren. Sejuta harap menggumpal di dada, anakku akan menjadi seorang yang shalih, cerdas, dan berkualitas. Tak tampak ada tanda-tanda perlawanan. Bahkan saat awal masuk sekolah itu, ia menjadi peserta MOS teladan. Ketika teman-teman seangkatannya riuh menangis ingin pulang, anakku tetap tegar dan bersikap manis.

Masih terekam baik dalam ingatanku, kala pertama meninggalkannya di hari aku mengantarkan ke pesantren. Rasanya ingin menangis berderai-derai, namun sekuat hati aku tahan. Anakku, cintaku, tak boleh melihat aku berurai air mata. Tampaknya aku bagai ibu yang kejam, tapi aku harus lakukan itu. Meski hatiku rasa terhimpit gunung saking beratnya meninggalkan anakku.

Hari demi hari aku lalui sambil tak sabar menunggu tiba hari Minggu. Hari dimana aku boleh menengok anakku. Saat itu kami belum punya mobil, maka aku berpayah-payah naik bis yang berderak-derak bunyinya. Kebanyakan bis-bis itu memang sudah butut. Dan aku pun harus merelakan diri berhimpitan di tengah sesaknya penumpang, sambil berdiri karena bis sudah sangat penuh.

Terkadang sebelum hari Minggu, aku tetap menuju ke pesantren. Sekadar membelikan makanan dan minuman, yang kemudian hanya bisa aku titip di Pak Satpam. Karena di luar hari Minggu, tidak diperkenankan bertemu dengan anak.

Setelah kehidupan kami membaik, dan sebuah mobil menempati garasi rumah, aku pun setiap Minggu menyetir ke pesantren. Membawa anakku jalan-jalan dan makan. Karena anak tidak boleh dibawa pulang, hanya boleh dibawa jalan-jalan hingga waktu yang telah ditentukan.

Seiring lipatan waktu, anakku terus menunjukkan prestasi. Berkali-kali ia menjadi juara dalam lomba. Lomba membuat komik berbahasa Inggris, lomba puisi, lomba membuat surat, dll. Dalam setiap acara pertemuan orangtua siswa pun, anakku selalu tampil, entah itu sebagai pembawa tashmi' maupun penampilan seni. Ah.. bahagianya hati ini.

Dari sisi akademik, anakku juga masuk 10 besar. Begitupun dalam pergaulan sosialnya, anakku terpilih sebagai kepala kamar.

Rasanya semua sempurna, bukan? Lalu, tibalah hari itu, tepatnya malam itu. Anakku tiba-tiba pulang ke rumah. Di sekolahnya sedang acara. Pengawasan melonggar. Anakku pergi tanpa ada yang mengetahui. Ia naik bis sendiri.

Bisa dibayangkan betapa remuk redam hatiku. Anakku, harapanku, cintakasihku, ternyata melakukan sesuatu yang tak terbayangkan sebelumnya. Tapi aku harus tetap hati-hati. Sekuat hati aku menahan diri untuk tidak mencecarnya. Hingga akhirnya, pengakuan darinya serasa menghantam jiwaku.

"Selama hampir setahun ini, aku udah melakukan apa yang Mama inginkan. Aku jadi juara ini itu, jadi ketua, hafal juz 1, semua demi Mama. Supaya nggak malu-maluin Mama, kan Mama sekretaris komite. Udah cukup, 1 tahun. Sekarang aku mau melakukan apa yang aku mau. Aku mau pindah sekolah, pas kelas 8."

Waktu itu memang sudah di akhir semester. Tinggal menunggu pembagian raport. Anakku sudah merencanakannya. Ia merasa saat itu adalah waktu yang tepat.

Sambil menahan gejolak rasa pedih perih, aku berpamitan pada pihak pesantren. Berterima kasih setulusnya atas segala bimbingan dan arahan untuk anakku. Ah.. rasanya ada yang tercerabut dari hatiku.

Setelah itu aku menawarkan beberapa sekolah untuk dipilih anakku. Aku tak mau lagi memilihkan. Biar semua keputusan berada di tangannya. Aku antarkan ia melihat-lihat beberapa sekolah. Hingga akhirnya pilihan jatuh pada sebuah boarding school di Sukabumi. Bukan pesantren, tapi boarding school yang islami.

Cerita tentang sekolah yang ini, nanti lagi deh. Satu yang pasti dari pengalamanku, apa pun yang kita idamkan untuk si buah hati, kadang tak selaras dengan kenyataan. Adakalanya semesta tak mendukung. Maka, selalulah berkomunikasi dengan anak. Libatkan ayahnya. Libatkan ayahnya. Libatkan ayahnya.
gambar diambil dari sini
 Anak kita bukan milik kita. Apa yang kita inginkan, harus dirundingkan bersama si anak. Karena anak pun berhak mengetahui dan turut menentukan. Setelah itu, intenslah terus membersamainya. Walau bagaimana pun, tugas kita lah untuk mengawalnya. Kerahkan segala usaha. Lalu sempurnakan dengan gempuran doa tiada putus. Mari senantiasa kita peluk erat anak-anak kita dengan doa.
gambar diambil dari sini



Kamis, 31 Maret 2016

Sebuah Peradaban Hilang!

Maaf, judulnya agak-agak lebay.. hehe.. Tapi memang itu menunjukkan ekspresiku yang sungguh kaget bukan kepalang. Ini terjadi ketika aku berkunjung ke Jatinangor setelah lebih dari 15 tahun meninggalkan wilayah penuh kenangan itu. Wah, kenangan apa tuh..? sstt.. fokus ah.. >0<

Ketika ada ajakan temen untuk silaturahmi ke rumah seorang penulis kondang di Jatinangor, aku mengiyakan sambil berpikir pingin napak tilas juga rasanya. Aku ngebayangin mau berangkat subuuh, trus di Bandungnya naik bis damri jurusan Jatinangor yang finishnya di Unpad. Dan karena aku nanti nggak mungkin sempet sarapan dulu, jadi yang kebayang tuh mau sarapan di warung nasi Sari Bundo atau Munggaran. Walaupun kecenderungan lebih ke Munggaran. Kayaknya lebih ngangenin, dengan menunya yang sederhana tapi beragam. Trus, suasana pinuhnya yang bikin hareudang itu.

Sayang disayang, aku terlambat. Jadi boro-boro subuh, yang ada malah berangkat di saat hari mulai terang, sekitar pukul 6. Yawdah, aku nikmati ajalah. Daripada nyesel-nyesel, nggak akan mengubah waktu, toh? Termasuk ketika maceeett menghadang, aku berusaha lapang sajo.

Singkat cerita, aku tiba di Cileunyi. Rasa waas mulai merayapi hati. Apalagi aku melanjutkan perjalanan dari Cileunyi dengan naik ojeg, jadi lebih bebas menikmati pemandangan.

Yang pertama, IPDN. Wah, udah beda nih, pikirku. Selanjutnya, Ikopin.. oh, tak ada lagi wajah lamanya. Lalu, kiri kanan semakin asing. Oh my.. Oh my.. Mana tempat kost Iyiek a.k.a Inkud? Kok ada apartemen segala..?

Seiring melajunya ojeg, aku makin terbengong-bengong. Toko-toko, kios-kios, kedai-kedai tampak semarak. Jatinangor-ku.. oh, Jatinangor-ku manaa..?

Foto diambil dari Grup Reuni Sastra di Facebook
Lalu, jreeng.. ada ITB. Setelah ituu.. U-eN-Pe-A-De.. is that U..? tanyaku. Huhuu.. benar-benar aneh..
Di mana gerbang Unpad yang jadi pangkalan Bis Damri..? Trus manaa jalan yang agak nanjak dikit ke arah luar gerbang menuju tempat kost aku, yang waktu malem itu aku hampir jatuh kepleset trus ditolong sama dia..? hahaayy..
Foto diambil dari Grup Reuni Sastra di Facebook
 Benar-benar hilaang, kawan! Tempat kost pertama aku, lalu tempat kost yang punya Pak Lurah, dan terakhir Pondok Kartika, semua hilaang.. PBB alias Pondok Babakan Bandung, tempat kost Zizi sama Emma, markas Himade, warung nasi Adi Ada Ajah.. lenyaap..

Kalo aku sebutin semua satu-satu tempat kost temen-temen sama tempat-tempat strategis lainnya, percuma deh kayaknya. Karena semua sungguh telah raib. Jadi spontan aku bilang, sebuah peradaban hilang. Sebuah masa dari sebuah generasi telah sirna. Generasi aku maksudnya, angkatan 90-an.

Entah hotel atau apartemen, tegak berdiri mentereng. Bangunan-bangunan keren lainnya menyesaki Jatinangor. Duhai, rasanya ada yang tercerabut dari hati..
Foto diambil dari sini


Kamis, 11 Februari 2016

Kisah Sepenggal Sore



Gambar diambil dari sini
           Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi pada perjalanan hidup seseorang. Seiring lipatan waktu, acap ditemui gesekan, benturan, hingga yang terberat serupa goncangan badai. Kesemuanya bisa dikategorikan ujian atau bisa juga hukuman, yang kejadiannya timbul dari sebuah sebab-akibat.
Seorang kawan, Runa namanya, tetiba ditimpa amuk badai dalam kehidupan rumah tangganya, yang berujung pada perpisahan. Kejadiannya sesungguhnya tidak tiba-tiba juga, karena ia bermula dari letupan-letupan kecil yang kemudian berakumulasi,hingga tak tertahankan yang berakibat pada perceraian.
Sore itu, kala langit membiru cerah bertabur awan, aku lihat dia duduk termangu. Pandangannya menerawang jauh. Menatap burung-burung yang mengepak di kejauhan. Perlahan  kuhampiri. Kami duduk bersisian. Sejenak senyap merayap. Lalu tanpa kuminta, ia menyodorkan androidnya. Sambil sedikit bingung, aku klik dan terbukalah linimasa twitternya. Terlihat dia me-retweet promtweet dari host sebuah buku. Buku itu berjudul “Sayap-Sayap Mawaddah” karya duet Afifah Afra dan Riawani Elyta.
        

“Baca!” ujarnya, lemah.
Aku membaca satu persatu status yang menginformasikan isi buku tersebut. Di situ dijelaskan tentang mawaddah. Bahwa mawaddah adalah salah satu pilar penting dalam menjaga kelanggengan sebuah rumah tangga. Mawaddah itu sendiri artinya cinta yang khusus terjalin antarsepasang manusia yang berlawanan jenis, yang telah sah sebagai suami istri. Pilar ini penting untuk dipahami, karena secara manusiawi, manusia memiliki hasrat terhadap lawan jenis. 
Selanjutnya, ulasan tentang urgensi mawaddah dalam menjaga api cinta agar tetap menyala. Disebutkan bahwa rumah tangga tanpa mawaddah akan menimbulkan suasana yang kering kerontang sehingga bukan nikmat yang didapat namun sengsara berkepanjangan.
“Tak ada mawaddah itu dalam hidupku.” Runa bergumam.
Aku menatapnya, menarik napas panjang kemudian. Memang tampak ada yang salah dalam pernikahan kawan baikku itu.
“Seharusnya dulu aku membaca buku itu,” lanjut Runa.
Dan mengalirlah kata-kata dari mulut Runa. Tak terbendung. Katanya, kalau saja dulu membaca buku itu, tak akan ia menelan pil pahit dalam kehidupan rumah tangganya. Karena di buku itu dibahas bahwa mawaddah merupakan cinta penuh gairah antara suami istri, sehingga hadirnya mawaddah dalam kehidupan berumah tangga merupakan sebuah faktor wajib dalam membangun rumah tangga yang harmonis dan menyenangkan. Mawaddah kemudian akan melahirkan rahmah atau perasaan kasih sayang. Dari sanalah, cinta mengabadi dalam rumah tangga yang langgeng.
Runa menyadari, pernikahannya dulu tak didasari cinta sebagaimana cinta yang terjadi di antara muda-mudi yang berpacaran. Tapi bukankah cinta akan muncul bila seseorang mau membuka hati lalu mengalirkan cinta pada pasangannya?
Begitu banyak pasangan yang mengawali pernikahan tanpa proses pacaran. Mereka berpacaran setelah menikah, dengan suami/istrinya yang halal. Perasaan cinta tumbuh seiring kebersamaan yang tulus ikhlas. Kata Runa, dalam buku itu dipaparkan detail bagaimana mencintai pasangan dengan show and prove your love. Itu yang nggak aku lakukan, sesalnya.
Komitmen, rasa percaya, dan tanggung jawab, ternyata tak cukup dalam sebuah rumah tangga. Harus tercipta romantisme di dalamnya. Di promtweet itu diuraikan bahwa romantisme bukan berarti selalu tindak dan aksi yang bikin pasangan melting. Hal-hal sederhana berupa perhatian tulus dan sedikit kejutan kecil pun bisa dikategorikan sebagai romantis. Seperti romantisnya Rasulullah kepada istri-istrinya. Sederhana tapi so sweet. Di buku itu diceritakan bagaimana indahnya romantisme Rasulullah dalam kehidupan rumah tangganya.
Selain kisah tentang Rasulullah, kata Runa, ada juga kisah tentang kisah cinta para shahabat yang bisa diambil hikmahnya. Dan yang tak kalah menarik, ada juga kisah nyata dari 5 orang kontributor yang bertajuk “Miracle of Love in Marriage”.
“Riwayat pengalaman seksual dalam pernikahanku juga dulu tidak sehat,” tukas Runa, tanpa tedeng aling-aling. Dalam buku itu rupanya dibahas juga tentang seksualitas dalam konteks mawaddah, oleh seorang narasumber yang capable dan tepercaya, yaitu dr. Ahmad Supriyanto. Wah, benar-benar buku yang lengkap, pikirku.
Menurut host promtweet itu, buku “Sayap-sayap Mawaddah” menggunakan bahasa yang relatif ringan dan mudah dicerna. Jadi, walaupun pembahasannya berat, nggak bikin kening berkerut-merut. Makanya, buku ini asyik dibaca.
“Aku mau bilang sama adik-adik dan keponakan-keponakan, sebelum nikah harus baca buku ini,” ucap Runa, pasti. Aku mengiyakan. Seketika Runa menoleh, “Hei, kamu juga harus baca, biar rumah tangga kalian makin mesra dan samara senantiasa.” Aku tersenyum.
Kulihat pandangan Runa kembali menerawang. “Semoga penulis buku ini juga nanti akan menerbitkan buku untuk pasangan yang telanjur gagal seperti aku. Mungkin judul bukunya “Sayap-sayap yang Patah”, lirihnya penuh harap.

“tulisan ini diikutsertakan dalam GA promtwit Sayap-sayap Mawaddah”
tema ke-2 :
Mengapa buku Sayap-sayap Mawaddah perlu dimiliki sebagai bekal pernikahan dan bekal menjalani rumah tangga