Kamis, 17 Juli 2014

KAPOK




Wajah Salman cerah ceria. Ia akan berlibur di rumah Tante Ley. Libur sekolah kali ini bertepatan dengan libur awal Ramadan. Pasti seru ber-Ramadan bersama Kak Hanif, putra Tante Ley. Sepupunya ini hanya selisih 2 tahun dengan Salman. Kak Hanif kelas 5, sedang Salman kelas 3.

Tante Ley juga merasa senang kalau Salman menginap, karena rumah menjadi lebih ramai. Om Dicky, suami Tante Ley, seringkali ditugaskan ke luar kota, bahkan lintas propinsi, lintas pulau. Sedangkan putra Tante Ley hanya Kak Hanif seorang.

“Bun, semua perlengkapanku sudah masuk?” Salman memperhatikan isi tasnya.

“Sudah, Sayang.” Bunda tersenyum melihat semangat Salman.

Salman mengedarkan pandangan ke sekeliling kamarnya.

“Waduh, gawat nih, kalau ini ketinggalan!” Salman gegas memasukkan Syamil Quran yang tergeletak di pojok meja belajar, ke dalam tasnya.

“Oh iya, tadi masih dipakai Salman tilawah setelah sholat Subuh, ya.” Bunda tersenyum lega melihat putranya sangat cinta pada Al-Quran.

Setibanya di rumah Tante Ley, tak lama kemudian Bunda langsung meninggalkan Salman. Sejak kecil Salman sudah terbiasa menginap sendiri di rumah adik bundanya itu.

Salman tidur sekamar dengan Kak Hanif. Mereka akur sekali. Bermain berdua, hingga pergi teraweh dan sholat subuh ke masjid, selalu bersama. Menjelang berbuka dan selepas sholat Subuh, Salman selalu tilawah bersama Kak Hanif. Keduanya saling menyetorkan hafalan juga. Tante Ley sangat senang melihatnya. Namun jika bulan Ramadan, Tante Ley jarang bisa tadarus bersama di rumah atau saling mendengarkan hafalan. Karena Tante Ley sibuk beraktivitas sosial, mengurus ta’jil on the road, menyelenggarakan bazar Ramadan bagi kaum dhuafa, dan banyak lagi.

Tidak terasa, libur selesai. Salman kembali pulang.

“Bagaimana tilawah Al-Quranmu, Nak? Setiap hari selalu mengaji, kan?” Bunda tetap mengecek, meski yakin bahwa bacaan Al-Quran putranya senantiasa terjaga. Apalagi Hanif pun, menurut Tante Ley, selalu rajin membaca Al-Quran.

Salman mengangguk mantap. “Iya, Bun, setiap hari aku dan Kak Hanif selalu mengaji. Kak Hanif malah sering banget ngajinya. Katanya punya target untuk khatam Al-Quran lebih dari satu kali.”

“Subhanallah, bagus sekali itu. Alhamdulillah, jadi Salman pun ikut terbawa rajin mengaji, ya. Nanti libur berikutnya, Salman mau nginep lagi di sana?”

Spontan Salman menggeleng kuat. “Nggak, Bun... nggak deh, makasih! Salman bisa kok, tetap semangat tilawah sendiri, tanpa Kak Hanif.”

Bunda terperangah melihat penolakan tegas Salman. Tidak biasanya Salman begitu.

“Lho, kenapa?”

“Engh.. aku nggak tahan mencium bau Kak Hanif yang nggak mandi-mandi!”

“Tante Ley tidak menegurnya?” Bunda terheran-heran.

“Tante Ley kan sibuk, Bun. Mungkin nggak terlalu memperhatikan aroma tubuh Kak Hanif. Lha aku, kan sekamar dan selalu bersama dengan Kak Hanif. Ugh..!” Salman menutup hidungnya.

“Tapi kenapa Kak Hanif malas mandi? Apa karena sibuk baca Al-Quran?”

Salman mengedikkan bahu. “Kata Kak Hanif, dalam hadist riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Perumpaan seorang mu`min yang rajin membaca Al-Qur`an adalah seperti buah Utrujah, aromanya wangi dan rasanya enak. Jadi, Kak Hanif tenang-tenang saja meski tidak mandi. Katanya, toh aroma tubuhnya akan wangi.”

Bunda terbelalak. Lalu segera mengambil handphone untuk menelpon Tante Ley, agar menegur dan menasehati putranya.


#FF 479 kata. Diikutsertakan dalam Lomba Menulis (Cerita) FF Anak #AyoNgajiTiapHari


Senin, 07 Juli 2014

Misteri Celengan Salman




Bunda tersenyum-senyum sendiri. Tanpa sengaja Bunda menemukan sekeping pecahan celengan di kolong tempat tidur Salman. Sepertinya Salman diam-diam memecahkan celengannya. Hmm.. tiga hari lagi ulang tahunku, mungkin Salman memecahkan celengannya untuk membeli hadiah untukku, batin Bunda.
Keesokan paginya, saat sarapan, Salman minta izin untuk pulang terlambat kepada Bunda.
“Mau ke mana dulu? Ada kerja kelompok?” tanya Bunda.
Salman menggeleng. “Ada keperluan penting banget, Bunda. Nanti aku ceritakan sepulang sekolah. Janji!” Salman mengacungkan dua jari.
Bukan main game di rumah teman-temanmu, kan?” selidik Bunda.
“Nggak dong, Bun...!”
Bunda tersenyum, “Iya, Bunda percaya sama Salman,” rambut Salman dielus lembut.
Salman lega. Kemudian ia pamit berangkat ke sekolah, mengendarai sepeda kesayangannya.
         Sore hari, Bunda membuat pisang keju. Sambil memarut keju, Bunda bertanya-tanya dalam hati. Salman beli apa ya, untuk hadiah ulang tahunku? Bunda geli sendiri, karena merasa GR. Tapi buat apa Salman pecahkan celengan kalau bukan untuk membeli hadiah ulang tahun bundanya, pikir Bunda lagi.
          “Assalaamu’alaikum!” Seruan salam Salman membuyarkan lamunan Bunda. Sambil menjawab salam, Bunda bergegas menemui Salman sambil membawa sepiring pisang keju.
        “Hmm.. harumnyaa.. pasti lezat nih!” Salman melesat ke wastafel untuk mencuci tangan, tak sabar ingin segera mencicipi kudapan buatan bundanya yang selalu lezat.
         Setelah tangannya bersih, Salman duduk sambil makan kudapan favoritnya. Bunda tak sabar ingin segera mendengar cerita Salman mengenai keterlambatannya.
            “Jadi tadi, pulang sekolah Salman pergi ke mana dulu?”
            Senyum Salman melebar. “Oh iya, Bun... aku senang banget.”
            Bunda semakin penasaran.
            “Bunda masih ingat Nek Iyam, yang dulu pernah aku ceritakan?”
          Bunda mengangguk. Bunda masih ingat, Nek Iyam adalah nenek yang tinggal tidak jauh dari sekolah Salman. Pertemuan Salman dengan nenek itu terjadi ketika Salman terjatuh dari sepeda, lalu Nek Iyam menolongnya. Setelah itu, Salman kerap berkunjung ke rumah Nek Iyam, rumah yang lebih tepat disebut gubuk. Kadang Salman membawakan kue yang sengaja tidak dimakannya saat snack time di sekolah.
         “Nah, waktu kemarin aku ke rumahnya, Nek Iyam lagi sedih. Matanya makin sulit membaca Al-Quran. Karena Al-Quran milik Nek Iyam, ukurannya kecil. Nek Iyam tidak punya lagi yang lain.”
            “Lalu?” tanya Bunda, agak bingung.
        “Lalu, aku punya ide memecahkan celengan. Uangnya untuk membeli Al-Quran. Di koperasi sekolah, ada dijual Syamil Quran yang ukurannya besar. Bagus deh, berwarna-warni, ada petunjuk tajwidnya. Aku pikir, pasti Nek Iyam akan senang. Karena huruf dalam Al-Quran itu besar-besar, dan ada tajwidnya.”
             Bunda mengangguk-angguk, mulai paham tentang misteri celengan Salman.
         “Maaaf ya, Bun.. Aku nggak bilang dulu, mau pecahkan celengan. Bunda nggak marah, kan? Karena sebentar lagi Ramadan, jadi Nek Iyam pasti ingin bisa tilawah dengan baik saat Ramadan,” Suara Salman melemah.
            Bunda tersenyum seraya menggelengkan kepala.
            Mata Salman berbinar. Ia melanjutkan cerita dengan antusias.
        “Tadi Nek Iyam sampai nangis lho, Bun. Nek Iyam mendengarkan hafalanku sambil menyimaknya dari Al-Quran baru. Aku setor surat An-Naba. Nek Iyam bangga dan terharu, katanya, aku baru kelas empat, tapi sudah hafal juz 30.”
       Bunda juga, Sayang. Bunda pun memeluk Salman dengan perasaan bahagia. Tidak lagi memikirkan hadiah ulang tahun. Bunda sangat bahagia karena Salman peduli sesama dan cinta Al-Quran.

#FF 494 kata

Jumat, 27 Juni 2014

Mengantologi Lagi

Awal suka nulis dulu ditandai dengan ikut-ikut audisi antologi. Kalau lolos, seneeng banget karena akan dibukukan. Berturut-turut lahirlah antologiku, dengan beraneka tema dan genre. Ada fiksi dan nonfiksi. Ada parenting, romance, kisah inspiratif, dll. Itu gencar sekitar tahun 2011.

Menginjak ke tahun berikut, 2012, aku mulai jarang mengikuti audisi. Bahkan pada fase ini sempat agak terhenti menulis karena sesuatu dan lain hal yang terjadi di hidupku. Lalu, tahun 2013 mulai menata hati, pikir, dan rasa, untuk kembali menulis. Mencoba ingin sesuatu yang baru. Memancang niat untuk menulis buku solo. Tidak lagi melirik pengumuman-pengumuman audisi antologi.

Ternyata eternyata, menulis pendek itu tetep aja lebih menggoda buatku ketimbang menulis berpuanjang-panjang untuk novel. Dan, ketika seorang kawan baik dari BAW, Adya Tuti Pramudhita, menawarkan menulis antologi Ramadan, aku tergerak untuk ikut.

Ini salah satu sisi positif berada di sebuah komunitas penulis. Info-info cepat tersambung. Tuti ini, mendapat tawaran langsung dari editor Grasindo untuk menyusun antologi bertema Ramadan. Maksudnya kisah-kisah inspiratif berlatar Ramadan. Jadi, pasti terbit, nggak pake antri nunggu lama.

Maka, dalam waktu singkat terkumpullah sejumlah cerita. Semua penulis adalah anggota BAW. Kami berkomunikasi via inbox fb. Dan tanpa hitungan bulan berbulan, kabarnya sudah proses edit. Lalu nggak lama kemudian, sudah ada cover. Setelah itu, dalam waktu singkat sudah pula terdengar kabar akan terbit. Subhanallah..

Judul antologi ini: Once More Ramadan. Blurb-nya aku yang bikin lho.. hehe..
Semoga buku ini menginspirasi pada kebaikan, membawa pencerahan, dan berkah bagi semua, Aamiin..




Marhaban Yaa Ramadan

Ramadan tinggal hitungan jam, bahkan ada yang sudah makan sahur hari ini. Terlepas dari perbedaan awal waktu shaum yang senantiasa mewarnai, aku hanya ingin mengucap syukur. Alhamdulillah.. Alhamdulillah.. terima kasih ya Allah.. Kau tibakan aku menghirup aroma Ramadan yang sudah di ambang pintu. Semoga usiaku tiba hingga menjalani purna bulan suci ini.

Tahun ini, aku betul-betuul berharap (sebetulnya tahun-tahun kemarin juga berharap begini), bahwa Ramadan ini bukan sekadar pengulangan. Tapi Ramadan adalah masa di mana aku memantaskan diri di hadapanNya. Aku ingin berasyik masyuk dengan Al-Quran. Menyingkirkan malas, mengenyahkan kantuk. Meleburkan diri pada kesibukan menunjukkan cinta kepadaNya.

Pengalaman membuktikan, ketika aku sibuk oleh sesuatu hal sehingga abai pada muatan ibadah, maka teruus aja hal itu menyibukkan aku. Misal: mau tilawah bada sholat subuh, trus kepikir.. eh, mau ngerendem cucian dulu, akhirnya nyalain mesin cuci, ngisi air, nyabunin, dst, dst. Kelar itu, tiba-tiba kelihatan kompor belepotan, trus lap-lap dulu deh. Abis itu, adek bangun, minta dibikinin susu, dsb, dsb. Astaghfirullah.. nggak jadi deh itu tilawah akhirnya.

Padahal kalau tilawah itu ditunaikan, nggak akan sampai makan waktu setengah jam, paling 15-20 menit. Sementara kalau iklan yang lewat itu diikutin, malah makan waktu berjam-jam. Betul.. karena teruus aja akan ngerasa belum ngerjain ini belum beresin itu. Pekerjaan memang nggak ada habisnya, jadi jangan ia menjadi pengganggu saat mau melakukan amalan ritual. Mau sholat sunah, buruan kerjakan, jangan mikirin belom ngangkat jemuran. Mau menghafal Al-Quran, segera lakoni, jangan mikirin belom nyucii piring. Toh masing-masing amalan itu nggak akan menyita waktu.

Dan kalau sudah melaksanakan amalan-amalan itu.. sstt.. diem-diem aja. Kemarin tergelitik juga baca status Ecky. Ada orang yang mengurutkan kegiatannya: puasa nyampe, tarawih udah, tilawah udah juga, sedekah 300rb, laluu.. abislah pahala karena nulis status ini. Hehe.. nggak nyadar udah riya tuh. Untungnya sih aku nggak pernah nyetatus model begitu. Tapi mungkin sapa tau aku nggak ngeh membicarakan amalan yang kulakukan secara verbal. Duh.. jangaan deh..

Bismillah ya Allah.. tolong hambaMu ini.. ingin menyambut tamu agung, Sang Ramadan, dengan sebaik-baiknya. Ingin aku menggapai Lailatul Qadar, meraih derajat takwa.. Aamiin.

Selasa, 24 Juni 2014

Cerita Bersambung Blogger - NINA : Hati yang Berderak

Pas dapet tawaran estafet Cerita Bersambung Blogger dari Fitri, aku niat banget mengajukan diri. Ternyata eternyata, riweuh sama urusan raport, kenaikan kelas, perpisahan, sampe aku ambruk. Dan.. cerita bersambung ini belum kunjung aku sentuh. Hingga kemudian, Mas Adi Pradana bertindak sebagai debt kolektor cerbung, dan menagih lanjutannya kepadaku.. wkwkwk..

Seneng sih dapet timpukan macam begini. Jadinya, mau nggak mau blogku keisi.. haha.. ketauan malesnya. Tapi bukan males sembarang males lho.. maklumlah, ini Upik Abu masih beloom aja berubah menjadi Cinderella.. makanya rempong muluu.. :P

Kembali ke tema timpukan kali ini: Cerita Bersambung Blogger, ini nih syarat dan ketentuannya:


  1. Meneruskan cerita bersambung dari blogger sebelumnya dengan panjang cerita minimal 100 kata (Lanjutan cerita bebas baik dari segi plot dan alur cerita, dll);
  2. Point of view atau sudut pandang cerita menggunakan sudut pandang orang pertama, seolah-olah penulis/pembaca menjadi tokoh utama di dalam cerita;
  3. Berikan Judul artikel cerita dengan format, Cerita Bersambung Blogger : Judul Cerita;
  4. Pada akhir cerita cantumkan cerita sebelumnya  dengan format, Cerita Sebelumnya : Judul cerita oleh Nama Blogger dan sertakan pula link judul cerita ke artikel cerita dan nama blogger ke URL Blog;
  5. Setelah selesai menulis cerita, pilih satu teman blogger untuk meneruskan cerita selanjutnya dan beri link URL blog temanmu;
Yuk, bikin cerita ini lebih berwarna. Jangan berhenti di kamu ya…


*****


NINA : Hati yang Berderak

Tuhan! Mengapa Kau kirimkan dia kembali ke hadapanku? Mengapa Arya yang pingsan harus ditemukan Pak Bahri dan ditolongnya dengan dibawa kemari?

Mataku mengabut. Pikiranku limbung. Skenario apalagi ini? Mengapa babak demi babak yang kulalui serupa konflik-konflik tak berkesudahan?

Arya. Nama itu memenuhi ruang hatiku, saat SMA. Betapa aku mengharap untaian kata cinta meluncur dari bibirnya. Aku merasa tak bertepuk sebelah tangan, karena sinyal merah jambu kerap kutangkap dari sikapnya. Tapi entah kenapa, ia tak kunjung menyatakan cintanya kepadaku. Lalu kuputuskan menutup rapat pintu hatiku untuknya. Aku tak ingin menjadi si pungguk, berkepanjangan.

Hingga kemudian datanglah pemuda itu. Ia menjungkirbalikkan semuanya. Hatiku lumer oleh guyuran cinta dan perhatiannya. Aku tertawan. Kami menikah, meski untuk itu aku harus menentang keluargaku. Tapi aku rela, demi hidup bersamanya.

Hatiku membuncah ketika bersemayam dalam rahimku, buah cinta kami. Namun bahagiaku remuk, memorakporandakan segala. Ternyata dia tak lebih dari bajingan tengik. Ditinggalkannya aku yang tengah mengandung benihnya, demi perempuan laknat itu.

Perasaan terpuruk melumat hidupku. Janinku tak bisa bertahan. Purnalah penderitaanku. Ditambah dengan ketidakpedulian keluargaku, semakin terlunta-luntalah hidupku.

Dan di sinilah aku, mengais rupiah di rumah makan Pak Bahri. Lalu kini, datanglah ia. Cinta laluku. Membawa rindu masa silam. Tidak! Aku tidak boleh terhanyut. Aku harus...  (bersambung)

*****

Cerita sebelumnya : Penasaran by Fitri Gita Cinta

Cerita selanjutnya : Anne Adzkia

Happy blogging, happy writing.. :) 

Sabtu, 14 Juni 2014

Liebster Award, Makin Dekat Makin Cinta

Gambar diambil dari sini
 Karena dah lama banget nggak ngeblog, aku jadi kudet soal Liebster Award. Pernah sih lihat selewat ada emak blogger yang posting ini di KEB, tapi aku nggak terlalu perhatikan. Sampai akhirnya, aku dapet colekan dari kawan baikku yang manis dan imut, Hairi Yanti, untuk ber-Liebster ria. Baru deh, aku ngeh bahwa ini adalah ajang untuk lebih mengenal antar blogger. Lebih kenal, lebih dekat, lebih cinta deh.. :)  Dan ternyata, Mbak Naqiyyah Syam pun nyolek aku. Makasiiii yaa, Yanti dan Mbak Naqi.. I lup U, both.. :)

Begini nih aturan mainnya:
1. post award ke blog kamu.
2. ucapkan terima kasih kepada blogger yang memberikan award ini kepada kamu dan sertakan linkback ke blognya.
3. share 11 hal tentang diri kamu.
4. jawab 11 pertanyaan yang diberikan kepada kamu.
5. pilih 11 blogger lain dan berikan 11 pertanyaan yang kamu ingin mereka jawab.

Nah, poin 1 dan 2 udah, sekarang poin 3. Apa yaa 11 hal tentang diriku..? Moga-moga nyampe deh bisa dapet 11 poin.. hihi.. parah juga, berasa bingung mau nulis apa tentang diriku sebanyak itu. Let me try..

1. Aku anak bungsu dari 6 bersaudara. Seneng banget, disayang sama banyak kakak. Sampe aku dah emak-emak begini, kadang kakakku masih menganggap aku ini sebagai adik kecil.. hihi..
Enak sih enak, tapi ada nggak enaknya juga, jadi kurang terampil dalam pekerjaan-pekerjaan domestik, karena semua dulu sudah dilakukan kakak. Dan, 'parah'nya lagi, setelah menikah, suami pun memanjakan. Aku jaraaang banget turun ke dapur dan beres-beres rumah. Semua dikerjakan pembantu. Jadinya sekarang aku nggak pinter untuk urusan pekerjaan itu. Untuk ngepel dan nyuci baju saja, aku nggak bisa lho.. suka ngasal gitu. Ngepel yang penting basah, nyuci yang penting direndem lama.. hihi.. Apalagi urusan masak memasak.. jangan tanya deh, aku mah cupu secupu-cupunya..

2. Cinta banget sama anak-anak dan suka mengajar mereka. Makanya aku betah jadi guru taman kanak-kanak. Baru sekarang sih jadi guru yang megang kelas, sebelumnya aku kepala sekolah. Tapi meskipun aku kepsek, aku deket banget sama anak-anak muridku. Setiap akhir tahun, saat perpisahan sekolah, dah pasti aku berderai-derai air mata. Sediiih banget harus berpisah sama mereka.

3. Aku terlambat nyemplung di dunia menulis. Sejak dulu nggak kepikir banget untuk menjadi penulis. Temen-temen lamaku pasti pada bengong, kalau tahu sekarang tulisanku ada di beberapa buku (masih antologi sih.. :P ). Dulu, nggak kelihatan tanda-tanda aku bakal jadi penulis. Nggak pernah aktif di mading (di sekolahku dulu nggak ada Rangga, jadi aku nggak kepikir jadi Cinta.. #ter-AADC).

Awalnya, pas aku dibuatkan akun facebook sama anakku, sekitar penghujung 2010. Trus aku lihat orang-orang pada nulis di note-nya. Aku jadi kepingin juga. Dan ketika pertama kali mencoba, whaa.. susaaah rasanya. Bolak-balik ngetik-hapus-ngetik-hapus, padahal waktu itu fesbukannya di warnet. Tapi aku pantang menyerah.. tsaaaah..lalu semakin suka menulis, ketika tak disangka tak diduga, awal ikut audisi nulis, ternyata aku lolos. Audisinya cukup bergengsi lho. Pj-nya Tias Tatanka-Gola Gong. Peserta audisinya juga banyak para penulis senior. Sementara aku, bener-bener anak bawang. Akhirnya buku itu mewujud berjudul "Mother Bukan Monster".

4. Mudah tersentuh sama hal-hal yang sedih alias cengeng. Aku gampang banget nangis. Cuma lihat iklan layanan masyarakat di TV yang menayangkan tentang anak putus sekolah aja, airmataku menganaksungai di pipi. Apalagi film-film sedih, itu mah pastii nangis. Makanya susah kalau nonton film sedih di bioskop, suka maluu pas pulang. Karena nangisnya puol, jadi hidung merah dan mata merah nampak banget. Begitu juga kalau baca buku, sedih-sedih dikit pasti nangis, apalagi yang sedih banget, banjiirrr..

5. Sangat menikmati kalau berada sendirian di rumah. Aku suka suasana sepi. Dulu waktu jaman ngekost, paling seneng kalau temen-temen kost pada pulang, dan aku sendirian di tempat kost. Pernah juga, waktu baru nikah dan belum ada anak, suamiku dines seminggu ke luar negeri. Lalu, sepupuku yang masih lajang dan tinggalnya deket dari rumah kontrakanku, menawarkan diri untuk menemani dengan menginap, aku malah nolak. Dan sepupuku terbengong-bengong.. hihi.. aneh kali ya, aku..

6. Nggak terlalu suka ngomongin usia. Bukannya lupus alias lupa usia.. hehe.. tapi suka jadi nggak enak kalau kemudian orang jadi rikuh ketika tahu usiaku yang sebenarnya. Berapakaah..? :P
Entah kenapa, aku pribadi sih nggak terlalu risau sama usia, jadi suka berasa nggak masalah sama usia. Makanya berteman sama yg umur 20-an ya enak-enak aja. Apalagi di dumay, gaulnya banyak sama yang masih unyu, jadi berasa unyu juga.. hahaha.. ini mah bukan percaya diri kayaknya, tapi nggak tahu diri.. :P  Jadi menurutku, temenan ya temenan aja, nggak usah mikirin usia.. :)

7. Dari kecil, hobi berat sama membaca. Mungkin anak-anak yang lain, beli buku itu biasa, tapi buat aku kecil, sebuah hil yang mustahal untuk bisa beli buku cerita. Tapi ternyata itu nggak menjadi kendala buatku. Rajin ke perpustakaan dan jadi pelanggan setia tukang sewaan buku, menjadi bagian dari aktivitasku semasa kecil. Seneng banget rasanya bisa khatam membaca semua serial Lima Sekawan, Pasukan Mau Tahu, Si Kembar, dan buku-buku Enid Blyton lainnya. Juga Trio Detektif-nya Alfred Hitchcock, Hardy Boys, Asterix, Tintin, dll.

Meskipun banyak baca buku petualangan karya penulis luar, tapi yang bersemayam di hatiku adalah buku lokal, yaitu Serial Noni, karya Bung Smas. Aku terobsesi sama tokoh Si Godek. Rasanya pingiiinn banget ketemu sama dia. Betul-betul jatuh sayang sama sosok misterius itu. Pingin meluk dan cerita-cerita sama dia. Hahaha.. impian anak-anak!

8. Paling nggak suka sama perpisahan. Duh, padahal ini adalah sebuah keniscayaan, ya. Tapi begitulah, semenjak ibuku meninggal saat aku SMP, aku jeri sama yang namanya perpisahan. Bukan hanya perpisahan untuk selamanya tersebab kematian, tapi perpisahan sekolah, perpisahan tempat kerja, perpisahan temen karena mau pergi jauh, bahkan perpisahan sama abang-abang tukang jualan yang udah jadi langgananku, bisa membuat hatiku menceloss..

9. Cita-cita impianku yang nggak, eh belum tercapai adalah menjadi dubber. Hihi.. bukan ngerasa suaraku cakep (belum ada yang mengakui hal ini.. :P), tapi aku suka ngebayangin asyiknya berakting, menjadi orang lain. Terus kenapa nggak sekalian pingin jadi artis aja? whaaa.. nggak banget itu mah! Karena aku nih pada dasarnya pemalu, jadi lebih asyik kan akting tanpa harus dilihat banyak orang..? Lagian wajahku nggak cocok jadi artis, tidak menjual.. wkwkwk..

10. Ngefans banget sama orang-orang yang cerdas. Salah satunya : Anis Matta. Temenku ada yang bilang, ngapain suka sama Anis Matta, nggak ganteng gitu.. (temenku ini ngefansnya sama Gita Wiryawan). Aku jawab, dia tuh pinteerrr, tulisannya baguuss. Temenku langsung mingkem.
Eh, itu bukan berarti aku nggak suka sama yang ganteng, lho. Macam Anies Baswedan, ya aku jg ngefans lah.. cerdas, ganteng pula.. dan.. nggak poligami! Uhuk!

11.Selalu jatuh cinta pada langit. Selalu sukaaa memandang langit. Bagiku langit, adalah lambang kedamaian. Di kala hatiku gundah, maka memandang langit bisa membuatku tenaang. Langit, sungguh menggambarkan kehebatanNya. Seluas itu, nggak ada sambungannya. Bagaimana menghamparkannya? Subhanallah..


Sekarang, saatnya menjawab 11 pertanyaan..
1. Sejak kapan ngeblog?
Aku sih pemain baru. Belom lama, baru sekitar tahun 2011 atau 2012 gitu deh. Aku nggak ingat persisnya. Blognya dibikinin sama Mbak Anik Nuraeni. Karena begitulah.. aku kan emak gaptek stadium lanjut.. :P
Tahun 2014 ini, aku punya blog khusus buku, namanya Perpustakaan Linda.
Ngegaya deh, punya 1 blog aja jarang keisi, ini lagi punya 2.. hehe.. tapi seenggaknya ini bisa memotivasi aku untuk istiqomah menulis.. :D

2. Apa manfaat ngeblog?
Karena aku belom blogger-blogger banget, jadi manfaatnya baru sebatas seneng-seneng aja, bisa bebas nulis apa pun, dengan gaya suka-suka. Tapi, tentu saja aku nggak menafikan kalau dengan berteman sama blogger itu asyik, menambah wawasan dan pengalaman. Para blogger itu keren-kereenn.. pingiiin deh, bisa kayak mereka. Nah, itu berarti manfaat ngeblog juga ya, bisa menjadi penyemangat untuk berprestasi.

3. Hal bahagia dan sedih saat ngeblog?
Bahagianya pas menang lomba.. hehe.. meskipun bukan yang model Mbak Ela atau Windy atau Mbak Haya yang hadiahnya cihuy banget. Aku ikutan lomba-lomba blog yang sederhana-sederhana aja, jadi hadiahnya juga sederhana. Tapi, teuteup.. rasanya bahagiaaa..
Kalau sedihnya, apa ya? apakah blog yang sepi pengunjung dan senyap pengomen, membuatku sedih? iya juga sih.. tapi nggak sedih-sedih amat lah, karena aku sadar diri, emang belom jadi blogger yang menggiurkan untuk dilirik. Insya Allah suatu hari nanti.. :)

4. Tuliskan 3 tempat yang pingin dikunjungi dan sebutkan alasannya!
Yang pertama, so pasti tanah suci. Duh, merinduu masjidil haram dan masjid nabawi. Nggak bisa dilukiskan dengan kata-kata, betapa suasana di sana memerangkap hati dalam kekhusyuan dan kecintaan kepadaNya.

Lalu, karena aku ini orang yang teramat sangat jaraaang bepergian, jadi aku mah sederhana aja keinginannya. Tempat kedua, ingin mengunjungi sebuah tempat di tanah air, yang indaaah, yang di sana aku bisa lebih dekat dan merasakan keagungan ciptaanNya. Tempatnya mana aja lah, bisa Puncak Mahameru (ter-5 Cm), bisa Lombok, bisa Makasar, bisa Aceh, wherever, yang penting bukan di tanah Sunda!

Setelah mengunjungi tempat indah di tanah air, yang ketiga adalah tempat indah di luar negeri. Ini juga mana aja lah. Bisa berangkat ke luar negeri aja udah bersyukur banget.. hehe.. Tapi pinginnya sih yang jauhan, jangan Malaysia atau Singapur. Kalau boleh mah, ke Eropa atau Afrika.

5. Apa yang ingin dicapai tahun ini?
Ngebet banget pingin buku solo-ku terbit. Buku anak-anak yang dah di-acc, tapi ternyata proses terbitnya lama nian. Moga segera. Buku anak yang lain juga, yang lagi proses review, pingin di-acc trus terbit lalu difilmkan.. haha.. mimpi nggak tanggung-tanggung..
Dan, pingin juga novelku (novel dewasa) bisa terbit. Ini proyek duet, tapi bikinnya lelet beud.. huhuu.. aku kok ngerasa kesempitan waktu aja.. :'(
Satu lagi, pingin juga tulisan-tulisanku nampil di banyak media cetak.. Aamiin.

6. Buku atau film apa yang menjadi inspirasi selama ini?
Nggak ada yang spesifik satu atau dua judul. Banyak sih. Buku-buku bagus dan film-film bagus yang memotivasi, bisa jadi inspirasiku.

7. Hobi?
Masih teuteup membaca. Sekarang ditambah menulis.. :)

8. Siapa sosok yang menjadi inspirasi?
Mirip-mirip sama no.6 nih, nggak ada yang khusus juga. Kalau rasulullah, Muhammad SAW, itu jelas ya, karena beliau adalah panutan dan teladan umat muslim. Selain beliau, banyak lah. Masing-masing orang kadang memberikan selaksa pelajaran dari hidupnya yang bisa menjadi inspirasiku.

9. Momen paling bahagia?
Saat menjejak di tanah suci, mencium Ka'bah dan Hajar Aswad.

10. Momen sedih?
Ketika mengetahui hal-hal buruk yang terjadi pada anak-anak lelakiku.

11. Dua hal yang menggambarkan tentang diri saya?
Hadeuh.. apa ya? Sepertinya, aku nih pendiam, nggak berisik gitu deh, atau boleh kalau mau disebut kalem.. ehm.. :P
Yang kedua, aku suka sama anak-anak, selalu jatuh sayang sama mereka.

Ada lagi nih, pertanyaan dari Yanti:
Mana yang lebih penting buat kamu, bantal biasa atau bantal guling?
Aku tidur nggak suka pake bantal, tapi guling sering aku cari. Jadi, guling lebih penting, dan kalu boleh ditambah, selimut juga penting banget buatku.. :)

Selesailah sudah, PR dari Yanti dan Mbak Naqi telah kutunaikan. Selanjutnya aku harus nyolek 11 orang lagi. Maaf yaa.. yang dah pernah dicolek sebelomnya sama temen yang lain. Buat yang belum, seenggaknya jadi ngisi blognya deh.. :)

Ini dia ke-11 orang itu, semoga berkenan:
1. Mbak Dhani Pratiknyo
2. Yusi Rahmaniar
3. Sarah Amijaya
4. Ihan Sunrise
5. Triana Dewi
6. Rantau Anggun
7. Arinta Adiningtyas
8. Puji Kurnia Hamzah
9. Pangeran Senja
10. Cowie Edogawa
11. Binta Al-Mamba

Pertanyaannya:
1. Sejak kapan ngeblog?
2. Manfaat apa yang didapat dari ngeblog?
3. Momen apa yang paling terkenang-kenang hingga sekarang, ketika masa kecil?
4. Apa yang dilakukan saat mood terjun bebas?
5. Pernahkah membayangkan bakal hidup jadi orang miskin, dan apa yang akan dilakukan?
6. Pernahkah membayangkan bakal hidup menjadi seorang kaya raya, dan apa yang akan dilakukan?
7. Cita-cita atau keinginan apa yang belum tercapai, dan mengapa?
8. Apa yang ingin dicapai tahun ini?
9. Benda apa yang ingin dimiliki tahun ini?
10. Siapa guru yang paling berkesan saat di SD?
11. Jika sekarang diberi kesempatan dapet beasiswa, mau sekolah apa dan di mana? sebutkan alasannya!

Ok, skali lagi, thanx yaw.. Yanti dan Mbak Naqi, dengan nulis ini, blog-ku jadi keisi deh.. :)
Dan buat ke-11 teman baikku yang kena tag, selamat menuliiss..