Minggu, 24 April 2016

My Children is Not Mine

Seorang teman baik bercerita tentang anak sulungnya yang sudah masuk di boarding school, namun kemudian menolak tinggal di asrama. Alhasil setiap hari sang bunda mengantarjemput si buah hati dengan jarak tempuh kurang lebih 40 km untuk satu kali perjalanan. Padahal sang bunda memiliki agenda yang padat setiap harinya. Namun di sela kesibukannya, ia rela berpayah-payah demi anaknya.

Sang bunda keukeuh menyekolahkan anaknya di sekolah yang jauh itu, karena menurutnya itulah yang terbaik buat si anak. Sekolah-sekolah di sekitar rumah dan lingkungan pergaulan di sana, tidak kondusif bagi perkembangan seorang remaja. Begitu, pendapat sang bunda. Ia tidak ingin anaknya jatuh terperangkap dalam pergaulan yang buruk. Karenanya, si anak harus dijauhkan dan ditempatkan di lingkungan yang baik.

Demikianlah naluri seorang Ibu. Selalu berusaha ingin melindungi dan memberikan yang terbaik untuk anak. Namun sayangnya, kerap niat tulus ini tak terbaca oleh anak. Ia menangkap isyarat lain. Gejolak jiwa remajanya tetap merasa bahwa bukan di sanalah pilihannya. Dan benturan pun tak terhindarkan.

Seketika aku teringat pada si sulung. Dulu, selepas SD, aku antarkan ia sepenuh cinta ke sebuah pesantren. Sejuta harap menggumpal di dada, anakku akan menjadi seorang yang shalih, cerdas, dan berkualitas. Tak tampak ada tanda-tanda perlawanan. Bahkan saat awal masuk sekolah itu, ia menjadi peserta MOS teladan. Ketika teman-teman seangkatannya riuh menangis ingin pulang, anakku tetap tegar dan bersikap manis.

Masih terekam baik dalam ingatanku, kala pertama meninggalkannya di hari aku mengantarkan ke pesantren. Rasanya ingin menangis berderai-derai, namun sekuat hati aku tahan. Anakku, cintaku, tak boleh melihat aku berurai air mata. Tampaknya aku bagai ibu yang kejam, tapi aku harus lakukan itu. Meski hatiku rasa terhimpit gunung saking beratnya meninggalkan anakku.

Hari demi hari aku lalui sambil tak sabar menunggu tiba hari Minggu. Hari dimana aku boleh menengok anakku. Saat itu kami belum punya mobil, maka aku berpayah-payah naik bis yang berderak-derak bunyinya. Kebanyakan bis-bis itu memang sudah butut. Dan aku pun harus merelakan diri berhimpitan di tengah sesaknya penumpang, sambil berdiri karena bis sudah sangat penuh.

Terkadang sebelum hari Minggu, aku tetap menuju ke pesantren. Sekadar membelikan makanan dan minuman, yang kemudian hanya bisa aku titip di Pak Satpam. Karena di luar hari Minggu, tidak diperkenankan bertemu dengan anak.

Setelah kehidupan kami membaik, dan sebuah mobil menempati garasi rumah, aku pun setiap Minggu menyetir ke pesantren. Membawa anakku jalan-jalan dan makan. Karena anak tidak boleh dibawa pulang, hanya boleh dibawa jalan-jalan hingga waktu yang telah ditentukan.

Seiring lipatan waktu, anakku terus menunjukkan prestasi. Berkali-kali ia menjadi juara dalam lomba. Lomba membuat komik berbahasa Inggris, lomba puisi, lomba membuat surat, dll. Dalam setiap acara pertemuan orangtua siswa pun, anakku selalu tampil, entah itu sebagai pembawa tashmi' maupun penampilan seni. Ah.. bahagianya hati ini.

Dari sisi akademik, anakku juga masuk 10 besar. Begitupun dalam pergaulan sosialnya, anakku terpilih sebagai kepala kamar.

Rasanya semua sempurna, bukan? Lalu, tibalah hari itu, tepatnya malam itu. Anakku tiba-tiba pulang ke rumah. Di sekolahnya sedang acara. Pengawasan melonggar. Anakku pergi tanpa ada yang mengetahui. Ia naik bis sendiri.

Bisa dibayangkan betapa remuk redam hatiku. Anakku, harapanku, cintakasihku, ternyata melakukan sesuatu yang tak terbayangkan sebelumnya. Tapi aku harus tetap hati-hati. Sekuat hati aku menahan diri untuk tidak mencecarnya. Hingga akhirnya, pengakuan darinya serasa menghantam jiwaku.

"Selama hampir setahun ini, aku udah melakukan apa yang Mama inginkan. Aku jadi juara ini itu, jadi ketua, hafal juz 1, semua demi Mama. Supaya nggak malu-maluin Mama, kan Mama sekretaris komite. Udah cukup, 1 tahun. Sekarang aku mau melakukan apa yang aku mau. Aku mau pindah sekolah, pas kelas 8."

Waktu itu memang sudah di akhir semester. Tinggal menunggu pembagian raport. Anakku sudah merencanakannya. Ia merasa saat itu adalah waktu yang tepat.

Sambil menahan gejolak rasa pedih perih, aku berpamitan pada pihak pesantren. Berterima kasih setulusnya atas segala bimbingan dan arahan untuk anakku. Ah.. rasanya ada yang tercerabut dari hatiku.

Setelah itu aku menawarkan beberapa sekolah untuk dipilih anakku. Aku tak mau lagi memilihkan. Biar semua keputusan berada di tangannya. Aku antarkan ia melihat-lihat beberapa sekolah. Hingga akhirnya pilihan jatuh pada sebuah boarding school di Sukabumi. Bukan pesantren, tapi boarding school yang islami.

Cerita tentang sekolah yang ini, nanti lagi deh. Satu yang pasti dari pengalamanku, apa pun yang kita idamkan untuk si buah hati, kadang tak selaras dengan kenyataan. Adakalanya semesta tak mendukung. Maka, selalulah berkomunikasi dengan anak. Libatkan ayahnya. Libatkan ayahnya. Libatkan ayahnya.
gambar diambil dari sini
 Anak kita bukan milik kita. Apa yang kita inginkan, harus dirundingkan bersama si anak. Karena anak pun berhak mengetahui dan turut menentukan. Setelah itu, intenslah terus membersamainya. Walau bagaimana pun, tugas kita lah untuk mengawalnya. Kerahkan segala usaha. Lalu sempurnakan dengan gempuran doa tiada putus. Mari senantiasa kita peluk erat anak-anak kita dengan doa.
gambar diambil dari sini



Kamis, 31 Maret 2016

Sebuah Peradaban Hilang!

Maaf, judulnya agak-agak lebay.. hehe.. Tapi memang itu menunjukkan ekspresiku yang sungguh kaget bukan kepalang. Ini terjadi ketika aku berkunjung ke Jatinangor setelah lebih dari 15 tahun meninggalkan wilayah penuh kenangan itu. Wah, kenangan apa tuh..? sstt.. fokus ah.. >0<

Ketika ada ajakan temen untuk silaturahmi ke rumah seorang penulis kondang di Jatinangor, aku mengiyakan sambil berpikir pingin napak tilas juga rasanya. Aku ngebayangin mau berangkat subuuh, trus di Bandungnya naik bis damri jurusan Jatinangor yang finishnya di Unpad. Dan karena aku nanti nggak mungkin sempet sarapan dulu, jadi yang kebayang tuh mau sarapan di warung nasi Sari Bundo atau Munggaran. Walaupun kecenderungan lebih ke Munggaran. Kayaknya lebih ngangenin, dengan menunya yang sederhana tapi beragam. Trus, suasana pinuhnya yang bikin hareudang itu.

Sayang disayang, aku terlambat. Jadi boro-boro subuh, yang ada malah berangkat di saat hari mulai terang, sekitar pukul 6. Yawdah, aku nikmati ajalah. Daripada nyesel-nyesel, nggak akan mengubah waktu, toh? Termasuk ketika maceeett menghadang, aku berusaha lapang sajo.

Singkat cerita, aku tiba di Cileunyi. Rasa waas mulai merayapi hati. Apalagi aku melanjutkan perjalanan dari Cileunyi dengan naik ojeg, jadi lebih bebas menikmati pemandangan.

Yang pertama, IPDN. Wah, udah beda nih, pikirku. Selanjutnya, Ikopin.. oh, tak ada lagi wajah lamanya. Lalu, kiri kanan semakin asing. Oh my.. Oh my.. Mana tempat kost Iyiek a.k.a Inkud? Kok ada apartemen segala..?

Seiring melajunya ojeg, aku makin terbengong-bengong. Toko-toko, kios-kios, kedai-kedai tampak semarak. Jatinangor-ku.. oh, Jatinangor-ku manaa..?

Foto diambil dari Grup Reuni Sastra di Facebook
Lalu, jreeng.. ada ITB. Setelah ituu.. U-eN-Pe-A-De.. is that U..? tanyaku. Huhuu.. benar-benar aneh..
Di mana gerbang Unpad yang jadi pangkalan Bis Damri..? Trus manaa jalan yang agak nanjak dikit ke arah luar gerbang menuju tempat kost aku, yang waktu malem itu aku hampir jatuh kepleset trus ditolong sama dia..? hahaayy..
Foto diambil dari Grup Reuni Sastra di Facebook
 Benar-benar hilaang, kawan! Tempat kost pertama aku, lalu tempat kost yang punya Pak Lurah, dan terakhir Pondok Kartika, semua hilaang.. PBB alias Pondok Babakan Bandung, tempat kost Zizi sama Emma, markas Himade, warung nasi Adi Ada Ajah.. lenyaap..

Kalo aku sebutin semua satu-satu tempat kost temen-temen sama tempat-tempat strategis lainnya, percuma deh kayaknya. Karena semua sungguh telah raib. Jadi spontan aku bilang, sebuah peradaban hilang. Sebuah masa dari sebuah generasi telah sirna. Generasi aku maksudnya, angkatan 90-an.

Entah hotel atau apartemen, tegak berdiri mentereng. Bangunan-bangunan keren lainnya menyesaki Jatinangor. Duhai, rasanya ada yang tercerabut dari hati..
Foto diambil dari sini


Kamis, 11 Februari 2016

Kisah Sepenggal Sore



Gambar diambil dari sini
           Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi pada perjalanan hidup seseorang. Seiring lipatan waktu, acap ditemui gesekan, benturan, hingga yang terberat serupa goncangan badai. Kesemuanya bisa dikategorikan ujian atau bisa juga hukuman, yang kejadiannya timbul dari sebuah sebab-akibat.
Seorang kawan, Runa namanya, tetiba ditimpa amuk badai dalam kehidupan rumah tangganya, yang berujung pada perpisahan. Kejadiannya sesungguhnya tidak tiba-tiba juga, karena ia bermula dari letupan-letupan kecil yang kemudian berakumulasi,hingga tak tertahankan yang berakibat pada perceraian.
Sore itu, kala langit membiru cerah bertabur awan, aku lihat dia duduk termangu. Pandangannya menerawang jauh. Menatap burung-burung yang mengepak di kejauhan. Perlahan  kuhampiri. Kami duduk bersisian. Sejenak senyap merayap. Lalu tanpa kuminta, ia menyodorkan androidnya. Sambil sedikit bingung, aku klik dan terbukalah linimasa twitternya. Terlihat dia me-retweet promtweet dari host sebuah buku. Buku itu berjudul “Sayap-Sayap Mawaddah” karya duet Afifah Afra dan Riawani Elyta.
        

“Baca!” ujarnya, lemah.
Aku membaca satu persatu status yang menginformasikan isi buku tersebut. Di situ dijelaskan tentang mawaddah. Bahwa mawaddah adalah salah satu pilar penting dalam menjaga kelanggengan sebuah rumah tangga. Mawaddah itu sendiri artinya cinta yang khusus terjalin antarsepasang manusia yang berlawanan jenis, yang telah sah sebagai suami istri. Pilar ini penting untuk dipahami, karena secara manusiawi, manusia memiliki hasrat terhadap lawan jenis. 
Selanjutnya, ulasan tentang urgensi mawaddah dalam menjaga api cinta agar tetap menyala. Disebutkan bahwa rumah tangga tanpa mawaddah akan menimbulkan suasana yang kering kerontang sehingga bukan nikmat yang didapat namun sengsara berkepanjangan.
“Tak ada mawaddah itu dalam hidupku.” Runa bergumam.
Aku menatapnya, menarik napas panjang kemudian. Memang tampak ada yang salah dalam pernikahan kawan baikku itu.
“Seharusnya dulu aku membaca buku itu,” lanjut Runa.
Dan mengalirlah kata-kata dari mulut Runa. Tak terbendung. Katanya, kalau saja dulu membaca buku itu, tak akan ia menelan pil pahit dalam kehidupan rumah tangganya. Karena di buku itu dibahas bahwa mawaddah merupakan cinta penuh gairah antara suami istri, sehingga hadirnya mawaddah dalam kehidupan berumah tangga merupakan sebuah faktor wajib dalam membangun rumah tangga yang harmonis dan menyenangkan. Mawaddah kemudian akan melahirkan rahmah atau perasaan kasih sayang. Dari sanalah, cinta mengabadi dalam rumah tangga yang langgeng.
Runa menyadari, pernikahannya dulu tak didasari cinta sebagaimana cinta yang terjadi di antara muda-mudi yang berpacaran. Tapi bukankah cinta akan muncul bila seseorang mau membuka hati lalu mengalirkan cinta pada pasangannya?
Begitu banyak pasangan yang mengawali pernikahan tanpa proses pacaran. Mereka berpacaran setelah menikah, dengan suami/istrinya yang halal. Perasaan cinta tumbuh seiring kebersamaan yang tulus ikhlas. Kata Runa, dalam buku itu dipaparkan detail bagaimana mencintai pasangan dengan show and prove your love. Itu yang nggak aku lakukan, sesalnya.
Komitmen, rasa percaya, dan tanggung jawab, ternyata tak cukup dalam sebuah rumah tangga. Harus tercipta romantisme di dalamnya. Di promtweet itu diuraikan bahwa romantisme bukan berarti selalu tindak dan aksi yang bikin pasangan melting. Hal-hal sederhana berupa perhatian tulus dan sedikit kejutan kecil pun bisa dikategorikan sebagai romantis. Seperti romantisnya Rasulullah kepada istri-istrinya. Sederhana tapi so sweet. Di buku itu diceritakan bagaimana indahnya romantisme Rasulullah dalam kehidupan rumah tangganya.
Selain kisah tentang Rasulullah, kata Runa, ada juga kisah tentang kisah cinta para shahabat yang bisa diambil hikmahnya. Dan yang tak kalah menarik, ada juga kisah nyata dari 5 orang kontributor yang bertajuk “Miracle of Love in Marriage”.
“Riwayat pengalaman seksual dalam pernikahanku juga dulu tidak sehat,” tukas Runa, tanpa tedeng aling-aling. Dalam buku itu rupanya dibahas juga tentang seksualitas dalam konteks mawaddah, oleh seorang narasumber yang capable dan tepercaya, yaitu dr. Ahmad Supriyanto. Wah, benar-benar buku yang lengkap, pikirku.
Menurut host promtweet itu, buku “Sayap-sayap Mawaddah” menggunakan bahasa yang relatif ringan dan mudah dicerna. Jadi, walaupun pembahasannya berat, nggak bikin kening berkerut-merut. Makanya, buku ini asyik dibaca.
“Aku mau bilang sama adik-adik dan keponakan-keponakan, sebelum nikah harus baca buku ini,” ucap Runa, pasti. Aku mengiyakan. Seketika Runa menoleh, “Hei, kamu juga harus baca, biar rumah tangga kalian makin mesra dan samara senantiasa.” Aku tersenyum.
Kulihat pandangan Runa kembali menerawang. “Semoga penulis buku ini juga nanti akan menerbitkan buku untuk pasangan yang telanjur gagal seperti aku. Mungkin judul bukunya “Sayap-sayap yang Patah”, lirihnya penuh harap.

“tulisan ini diikutsertakan dalam GA promtwit Sayap-sayap Mawaddah”
tema ke-2 :
Mengapa buku Sayap-sayap Mawaddah perlu dimiliki sebagai bekal pernikahan dan bekal menjalani rumah tangga



Sabtu, 09 Januari 2016

Kesibukan Orangtua Vs Undangan Rapat dari Sekolah

gambar diambil dari sini
 Sekolahku belum mulai KBM (Kegiatan Belajar Mengajar). Jadi anak-anak masih liburan. Baru mulai masuk hari Senin besok, 11 Januari.

Sebelum mengawali semester baru, aku berniat mengundang orangtua satu kelas (kelasku aja) untuk ketemuan dengan agenda utama adalah evaluasi semester lalu dan bagaimana menghadapi semester selanjutnya. Lalu aku bikin woro-woro di grup WA dan BBM. Segelintir Bunda menyambut baik, beberapa bilang maaf nggak bisa hadir, dan.. eh, malah ada seorang Ayah yang jaka sembung, dia posting iklan produk kecantikan. Hadeuh si bapak.. diundang rapat malah jualan.

Berhubung yang gabung di grup WA dan BBM rata-rata orangnya itu-itu juga, dan jumlahnya cuma setengah dari keseluruhan, maka aku pun mengirim sms satu-satu ke semua orangtua. Di akhir sms aku minta mereka agar sms balik untuk konfirmasi kehadiran.

Ada tuh satu Bunda yang di WA langsung bilang iya mau hadir. Aku seneng, karena pingin ketemu sama Bunda satu itu, secara foto profilnya blondie gitu rambutnya.. hihi.. nggak ding, emang pingin silaturahmi, pingin komunikasikan tentang anaknya. Trus nggak lama, dateng smsnya bilang maaf nggak bisa hadir karena ada acara lain. Hadeuh.. kebiasaan deh, waktu ambil raport juga gitu. PHP.

Lalu mulai pada sms deh, ada yang bilang mau hadir, ada juga yang nggak. Tapi itu jumlah ortu yang sms balik, nggak sampai setengahnya. Yang setengahnya lagi cuek beybeh.

Hmmph.. cukup sedih sama kondisi ini. Aku tuh pingin bisa ngomong ke semua ortu. Gini lho.. kondisi anak-anak sekarang. Yuk, kita lebih tingkatkan kualitas kebersamaan sama anak-anak. Kualitasnya lho yaa.. jadi jangan sampe isi komunikasi orangtua sama anak, cuma omelan dan tuduhan aja ke anak.

Beberapa anak kan curhatnya hampir sama. Mereka ngerasa kalo di rumah dimarahin or diomelin mulu sama ortu. Jadi mungkin ortu nasehatin atau menegur pake kalimat yang puanjang-panjang plus diulang-ulang. Akhirnya malah pesan nggak tersampaikan dengan baik. Yang ada malah anak nangkepnya, "aku dimarahin mulu".

Nah, aku tuh pingin komunikasikan hal itu ke orangtua. Supaya mereka bisa memahami sudut pandang anak. Lha, sebenernya kan kalo kita sendiri juga ya, ditunjukin kesalahan pake kalimat yang puanjaang trus diulang-ulang, pasti sebel kan? Anak juga gitu, brow..

Trus, soal gadget. Ini nih.. kudu banget orangtua kasih pengawasan. Di sekolahku akan diluncurkan GMH (bersamaan dengan GMT-Gerakan Matikan Televisi-yang udah launching duluan). GMH adalah Gerakan Matikan Hp. Waktunya dari mulai azan Magrib sampe sholat Isya. Rencananya bertahap. Sekarang sampai selesai sholat Isya, sekitar jam 7-an ya. Nanti ditingkatkan sampe jam 8. Ini untuk pembiasaan melepaskan diri dari ketergantungan sama Hp.

Pokoknya hal-hal yang menjadi pembahasan di pertemuan sama orangtua, semua tentu berkaitan sama kondisi anak. Namun sayang di sayang, orangtua yang hadir ternyata hanya 10 orang saja, yaitu 9 Bunda dan 1 Nenek (nenek lincah ini mah).

Aku sejujurnya kecewa dan sedih. Orangtua betul-betul lebih mementingkan pekerjaannya di kantor. Memang nggak semua. Ada 1 Bunda yang menejer toko roti dengan cabang di mana-mana, tetap menyempatkan hadir. Tapi yang lainnya tuh, maaf.. pekerjaan di kantor tak bisa ditinggalkan. Dan ketika aku bilang, nanti kalau pekerjaan di kantor nggak terlalu padat, saya tunggu di sekolah ya, kita ngobrol tentang ananda. Tanggapannya nggak antusias gitu, seolah 'lha, saya kan kerja!'

Kewajiban orangtua terhadap sekolah bukan hanya bayar SPP, tapi harus juga berkomunikasi dengan walikelas, membahas perkembangan anak. Memang sih beberapa anak dalam posisi aman, tapi bukan berarti orangtua lantas santai-santai saja. Anak-anak tetap perlu dikawal dan diperhatikan.

Kondisi sekarang yang serba instant dan serba mudah, membawa dampak juga ke anak. Mereka kurang tangguh, kurang punya daya juang. Ketika menghadapi tantangan dan kesulitan, semangatnya kendor, ujungnya menyerah. Nah, hal-hal semacam itu yang perlu diketahui orangtua, lalu kita bahas dan dicari model pendekatan yang tepat. Karena setiap anak kan berbeda.

Memang sih aku yakin, orangtua pasti nggak bermaksud abai sama anak. Mereka pikir, nggak memenuhi undangan rapat dari walikelas bukan merupakan bentuk nggak perhatian sama anak. Sebab mereka bekerja juga kan alasannya pasti demi anak. Dan yang nggak dateng rapat, bukan melulu orangtua yang kerja kantoran, tapi orangtua yang di rumah pun ada juga yang nggak dateng. Alasannya sih sama: sibuk dengan pekerjaannya juga.

Alasan yang sangat ampuh ya, sibuk. Lalu kenapa berkomunikasi langsung dengan walikelas tentang perkembangan anak, tidak dimasukkan ke dalam daftar kesibukan?

Jumat, 01 Januari 2016

Mau Ngapain di 2016?

 Aku termasuk orang yang nggak terlalu peduli sama ritual tahun baru. Bahkan ketika hari terakhir di tahun 2015, aku nggak sempet nggak nyadar. Aku heran, kenapa ponakanku yang kerja di luar kota kok pulang. Dan dia menjawab, "Kan besok libur tahun baru..!" Oh, aku baru ngeh, besok tanggal 1 Januari tahun baru. Begitu pun malamnya, aku sama sekali nggak terusik dengan hingar bingar keriaan ritual menyambut tahun baru. Aku lelap dari pukul 21 hingga subuh esok paginya.

Kira-kira jam 6 pagi, sahabat baikku mengirim sms, mengucapkan selamat tahun baru. Aku jawab, aku lupa kalau hari ini tahun baru. Trus dia kasih saran supaya aku bikin target di 2016 ini. Hmm.. kepingin sih, tapi ngeri juga.

Kenapa ngeri? Karena takut nggak terlaksana. Untuk dunia kepenulisan, aku sama sekali belum punya naskah utuh. Sementara di 2015 bukuku terbit 4, lalu di 2016 seenggaknya menyamai kan? masa' menurun ya? Duh, 4 buku lagi? rasanya nggak mungkiin..

Tapi, ketakutan itu perlahan meminggir. Percakapan di grup WA bersama teman-teman penulis, cukup menyuntik semangatku. Mereka itu hebat-hebat, bisa menjadi motivator andal. Bisa bikin aku tersentak dan sadar. Selama ini aku banyak memaklumi diri sehingga produktivitas menulis merosot tajam. Aku nggak pernah lagi meresensi buku. Apalagi ngisi blog. Aku ngerasa badanku ambruk sepulang kerja. Laptop lebih banyak menganggur di sudut kamar. Dan aku membiarkan diriku lelap selepas Isya.

Sekarang di hari pertama ini, aku ingin bertekad, menata hati dan pikiran, lalu me-manage waktu dengan baik. Aku selalu merasa disesaki oleh masalah-masalah internal yang menyebabkan kelelahan fisik dan psikis. Sungguh, aku ingin melawan semua alasan yang menyebabkan produktivitas menulisku terjun bebas.

Aku ingin seperti kawan-kawan yang lancar menulis dalam hitungan 1-2 jam saja, mampu menghasilkan tulisan yang runtut dan asik dibaca. Sementara aku suka ngerasa tulisanku garing aja.. haha..

Nah, ternyata perasaan nggak percaya diri itu diprotes berat sama temen-temenku. Ada yang bilang, aku ini punya banyak potensi tapi nggak tereksplor karena nggak pede itu. Aku tercenung. Ini menggedor kesadaranku. Aku harus mengubah diri.

Kukira, baiknya sebuah tulisan bisa terasah oleh jam terbang. Mungkin karena akhir-akhir ini aku jarang nulis, akhirnya aku merasa kaku, yang berefek pada rasa percaya diri yang menurun drastis. Selalu merasa tulisanku buruk sementara ketika aku membaca tulisan orang lain kok enak-enak ya.

So, beneran deh. Diawali postingan pertama ini, aku mau rutin nulis setiap hari. Terserah deh mau garing mau nggak, yang jelas aku mencoba mendokumentasikan sebuah kejadian yang mungkin bisa membawa pada kebaikan. Tiap hari harus nulis. Harus!
Aku juga harus memetakan rencana naskah yang akan aku wujudkan di 2016. Masih tetap di dunia anakkah? atau merambah ke cerita dewasakah? Semua harus aku ukur dan evaluasi. Karena sebuah mimpi jangan hanya menjadi mimpi kosong tersebab tak diiringi sebuah perencanaan pelaksanaan.

Ya Allah, bantu saya.

Selasa, 22 Desember 2015

Siapa Tidak Cerdas? Siswa atau Guru?

Saya membaca status teman tentang keponakannya. Si Om itu mengambil raport keponakannya yang klas 2 SD. Anak itu cerdas, daya ingatnya kuat, jago ngegambar, imajinasinya luar biasa, dan bisa menggambarkan sesuatu dengan sangat baik dan detil. Namun betapa kecewanya si Om ketika berdialog dengan guru keponakannya. Gurunya bilang, anak itu dikasih nilai cuma pemakluman aja, lalu disilakan cari sekolah lain karena anak itu beda dari anak normal lainnya.

Kebayang ya, gimana perasaan si Om? Lha, ponakannya cerdas gitu kok dibilang beda dari anak normal. It means, ponakannya nggak normal dong. Hadeuh..

Untuk masalah semacam itu, biasanya reaksi pertama orang-orang langsung menyalahkan sang guru. Wajar kan ya, mosok anak pinter dibilang nggak normal. Itu mah gurunya aja kali yang nggak normal. Tapi kalau menurut saya sih, nggak serta merta gitu juga. Dan bukan berarti ini dalam rangka membela korps ya, sesama guru saling membela. Nggak banget lah.

Jadi gini, kalau kita melihat lebih jauh, pertama kali dilihat dulu jumlah murid dalam satu kelas berapa orang. Kalau kisaran 30-40 anak, memang cukup masuk akal bila guru nggak sanggup menangani murid yang spesial. Secara anak-anak zaman sekarang lebih aktif dan kritis. Mungkin guru kewalahan jika ditambah dengan tugas mengawal anak yang spesial.

Lalu dilihat lagi gimana kesepakatan dengan sekolah. Saat awal masuk biasanya siswa ditest, bahkan ada juga yang menyeleggarakan psikotest. Tentu bisa diketahui kondisi setiap anak. Bila ada anak dengan kecerdasan luar biasa namun secara akademik agak tertinggal dari teman-temannya, maka pihak sekolah idealnya memahami konsekuensi saat menerima anak tersebut sebagai siswa di sekolahnya.

Yang diperlukan kemudian adalah komunikasi. Sungguh, komunikasi sangat memegang peranan penting. Jadi jangan seperti guru si Om yang langsung nge-judge kalo si anak nggak sama dengan anak normal, sehingga terkesan merendahkan dengan label normal-nggak normal. Seharusnya sejak awal sekolah hingga teruus selama masa belajar, komunikasi senantiasa hidup antara guru dengan orangtua. Bisa juga dengan mengadakan buku penghubung khusus yang setiap hari harus diisi guru dan dibaca serta direspons oleh orangtua di rumah. Orangtua harus menyadari bahwa si buah hati memiliki kecerdasan menonjol dalam bidang tertentu, namun perlu bimbingan khusus dalam materi-materi pelajaran di sekolah.
gambar diambil dari sini
 Walikelas harus memiliki kesadaran penuh bahwa di kelasnya ada siswa dengan catatan istimewa yang membutuhkan penanganan khusus. Kesadaran itu terbentuk setelah sebelumnya pihak kepala sekolah atau wakasek bidang kurikulum membahas kondisi siswa tersebut dengan sang walikelas. Komunikasi terbuka seperti itu, dapat lebih mudah menentukan bagaimana bentuk penanganan terhadap si anak.

Potensi cerdas yang dimiliki anak harus dapat tereksplorasi dengan baik. Anak itu perlu mendapat stimulasi yang tepat agar potensinya dapat dikembangkan ke arah yang positif. Sementara ketertinggalannya secara akademik tidak membuatnya malu atau minder di hadapan teman-temannya.
gambar diambil dari sini
Pihak sekolah harus jeli melihat kondisi tersebut. Jangan sampai potensi besar yang ada pada siswa, tidak terasah dengan baik. Sebaliknya, orangtua pun harus ekstra mengawal ketat putranya, mengetahui persis keadaan putranya, dan senantiasa menjalin komunikasi dengan sekolah. Bila ternyata pihak sekolah tidak kondusif memfasilitasi putranya, jangan memaksakan diri untuk membuat pihak sekolah berubah. Artinya, sekolah tersebut memang tidak siap menerima siswa demikian.

Maka carilah sekolah yang tepat, yang lebih ramah anak. Sekolah yang memahami konsekuensi saat menerima siswa dengan kecerdasan istimewa namun sedikit tertinggal secara akademik. Guru yang menjadi walikelas harus benar-benar siap, memiliki mental yang kuat, dan bersedia bekerja keras, karena harus mengulang secara pribadi, materi-materi yang diajarkan di kelas kepada anak tersebut. Guru pun harus mampu mengondisikan anak-anak di kelas agar bisa menerima siswa tersebut dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Setelah itu, guru secara intens berkomunikasi dengan orangtua, sehingga ia tidak capek sendiri di sekolah, namun orangtua di rumah pun harus terlibat penuh dalam mengawal anak tersebut.
gambar diambil dari sini
Dengan kerjasama yang baik seperti itu, insyaAllah tidak akan ada lagi misunderstanding antara pihak orangtua/wali siswa dengan pihak sekolah. Sang anak dapat nyaman bersekolah, dan potensinya mendapat penyaluran yang baik.
gambar diambil dari sini


Senin, 23 November 2015

Menyapa Kenangan

gambar diambil dari sini

Asiknya gabung di satu komunitas itu, bisa diskusi segala macem. Komunitas yang aku ikuti, bukan komunitas gaje ya, tapi membernya para penulis yang ramah dan baik hati. di sana bergabung berbagai kategori penulis. Ada yang namanya udah berkibar sebagai novelis, ada yang jawara dimuat di media, ada yang langganan juara lomba nulis, ada penulis cerita dewasa, cerita remaja cerita anak, ada blogger, pokoknya seru deh.

Awalnya komunitas itu ada di fb lalu beberapa member bikin grup WA-nya juga. Nah, di WA inilah yang wacana diskusi selalu asik dan variatif. Dari hal-hal yang memang bersinggungan langsung dengan dunia tulis menulis, berkombinasi dengan segala hal yang terlintas di benak. Bisa masalah kesehatan, pendidikan anak, politik, agama, sampai hal-hal yang remeh temeh. Tapi, catet yaa.. remeh temeh bukan berarti gosip nggak karuan lho.. tetap sesuatu yang bermakna.. tsaaah..

Nah, kemaren tuh entah dari mana mulanya, tetiba topik berputar pada masalah kenangan lalu. Ada Neida yang dikenal suka sekali 'mengunyah kenangan' alias termantan.. hahaa.. Terus, Hairi Yanti yang memulai cerita tentang kenangannya waktu kelas 6 SD. Semacam cinta monyet gitu lah.. hahaa..

Cerita Yanti itu seperti menyeret pada kenanganku sendiri waktu kelas 6 SD juga. Hahaayy..
Dulu, di depan mejaku, duduk anak cowok yang entah siapa yang mulai, katanya kami saling suka. Dia suka aku, begitu pun sebaliknya.. *senyum-senyum sendiri nih..

Dia itu perawakannya kecil, pinter, dan tulisannya baguus banget. Cocok sama aku yang juga pinter waktu itu (eh, sekarang juga masih pinter ah.. hahaa..). Namanya.. engh.. aku sebut nggak yaa.. Ah, nggak aja ah.. :)

Tampangnya lumayan manis. Matanya kadang menyipit kalau lagi ketawa. Punya jiwa pemimpin. Larinya kenceng (lagi-lagi idem sama aku, yang dulu jago lari jarak pendek). Mahir menggambar.

Nah, di penghujung kelas 6 kan ada ujian praktek olahraga. Setiap anak harus membuat sendiri nomor pesertanya, dari karton gitu. Maka beramai-ramai pada ngorder sama dia, minta dibikinin. Karena dia kan dah tepercaya pasti bikinnya bagus. Temen-temen pada nyetor nomor peserta masing-masing sama dia. "Aku nomor segini ya, saya nomor segini ya.."

Apakah aku ikut-ikutan minta dibikinin juga? Tidak, sodara-sodari. Aku diem aja. Lho, bukannya dia 'pacar' aku? Harusnya aku minta dibikinin juga dong. Hmm.. nggak gitu deh ceritanya. Jadi, walaupun kami berteman akrab, dan konon saling suka, tapi kami menyimpan rasa ini dalam diam.. haha.. Aku ngerasa nggak enak aja kalau ikut-ikutan ngerubutin dia. Lagipula, aku pingin tahu, apa dia bakal bikinin kartu nomor peserta itu buat aku..

Singkat cerita, dia sudah selesai membuatkan kartu nomor peserta untuk para pengorder. Semua dibagikan. Semua riuh bilang trimakasih sama dia. Aku diam, melihat dari jauh. Lalu ketika proses distribusi kartu selesai, dia menghampiriku. Sambil tertunduk malu-malu, dia menyerahkan kartu nomor peserta untukku. "Nih, buat kamu."

Aku menerimanya dengan malu-malu juga. "Kok kamu tahu nomor aku?" tanyaku. Dia mengangkat wajahnya. Menatapku sambil tersenyum manis. Tanpa kata. Dan aku mengerti, senyum itu adalah jawabannya.

"Makasih ya, kamu dah bikinin kartu buat aku," ujarku sambil membalas senyumnya.

Dia mengangguk. "Maaf ya, kalau kartunya jelek."

Aku menggeleng. "Nggak kok, kartunya bagus. Tulisan kamu bagus."

Lalu kami menunduk sambil terus tersenyum. Duhai, rasanya seperti berada di taman bunga.. hahaayy..

Kini, kita akan berada di bagian melow dari cerita ini. Saat hari perpisahan, kami semua tampil di atas panggung, menyanyikan lagu perpisahan. Sedih rasanya, karena dia mau melanjutkan SMP ke Bandung. Dan, setelah acara selesai, kami berdua bertemu di balik panggung. Saat itu aku memegang hadiah sebagai pemegang ranking 5 besar. Dia mengucapkan selamat kepadaku.

"Selamat, ya. Nanti kamu pasti keterima di SMP Negeri 2." (SMPN 2 adalah sekolah favorit di kotaku)

Aku mengangguk. Kami terdiam. Senyap.

"Kamu jadi pindah ke Bandung?"

Dia terdiam. Hening sesaat. Lalu dia mengangguk. "Iya," jawabnya lemah.

Kami bertatapan sejenak. Menunduk bersama, kemudian.

Suasana melow itu tak berlangsung lama. Beberapa anak menghampiri kami, seolah nggak menyadari bahwa kami lagi dirundung haru. Mereka ramai membicarakan rencana melanjutkan sekolah. Ya, untung juga sih mereka datang. Jadi bisa mengganti suasana.

Setelah sekian waktu berlalu, saat zaman kuliah, aku bertemu dengan seorang teman SMA. Yang aku tahu, ibunya telah meninggal. Lalu dia mengabarkan kalau ayahnya menikah lagi. And U know who is her new wife? Ternyata ibunya si dia. Rupanya ayah dia sudah lama meninggal. Spontan aku langsung menanyakan bagaimana kabarnya dia. Ternyata dia masih di Bandung, sibuk di sana, dan jarang pulang. Dan aku nggak berani nanya-nanya terus, karena takut temenku itu curiga.. ^^

Ketika facebook marak, dan orang-orang menemukan teman-teman TK, SD, SMP, SMA, dan akhirnya musim reuni, teman-teman SD-ku pun mulai mengontak aku. Mereka merencanakan reuni, dan mulai membicarakan si ini sekarang di kota ini, si itu di kota itu, dsb. Lagi-lagi aku langsung menanyakan tentang dia. Dan ternyata, teman-teman kehilangan kontak dengan dia. Terakhir kabar yang didengar, dia sudah menikah dan tetap tinggal di Bandung. Dia pun nggak ada kontak fb.

Yah sudahlah.. kenangan lebih indah bila tetap berwujud kenangan..

"Kita sepakat meninggalkan masa silam. tapi, diam-diam suka mengunjunginya" -- Krisna Pabichara
gambar diambil dari sini