![]() |
Gambar diambil dari sini |
Tak
ada yang tahu apa yang akan terjadi pada perjalanan hidup seseorang. Seiring
lipatan waktu, acap ditemui gesekan, benturan, hingga yang terberat serupa
goncangan badai. Kesemuanya bisa dikategorikan ujian atau bisa juga hukuman,
yang kejadiannya timbul dari sebuah sebab-akibat.
Seorang
kawan, Runa namanya, tetiba ditimpa amuk badai dalam kehidupan rumah tangganya,
yang berujung pada perpisahan. Kejadiannya sesungguhnya tidak tiba-tiba juga,
karena ia bermula dari letupan-letupan kecil yang kemudian berakumulasi,hingga
tak tertahankan yang berakibat pada perceraian.
Sore
itu, kala langit membiru cerah bertabur awan, aku lihat dia duduk termangu.
Pandangannya menerawang jauh. Menatap burung-burung yang mengepak di kejauhan. Perlahan
kuhampiri. Kami duduk bersisian. Sejenak
senyap merayap. Lalu tanpa kuminta, ia menyodorkan androidnya. Sambil sedikit
bingung, aku klik dan terbukalah linimasa twitternya. Terlihat dia me-retweet
promtweet dari host sebuah buku. Buku itu berjudul “Sayap-Sayap Mawaddah” karya
duet Afifah Afra dan Riawani Elyta.
“Baca!”
ujarnya, lemah.
Aku
membaca satu persatu status yang menginformasikan isi buku tersebut. Di situ
dijelaskan tentang mawaddah. Bahwa mawaddah adalah salah satu pilar penting
dalam menjaga kelanggengan sebuah rumah tangga. Mawaddah itu sendiri artinya
cinta yang khusus terjalin antarsepasang manusia yang berlawanan jenis, yang
telah sah sebagai suami istri. Pilar ini penting untuk dipahami, karena secara
manusiawi, manusia memiliki hasrat terhadap lawan jenis.
Selanjutnya,
ulasan tentang urgensi mawaddah dalam menjaga api cinta agar tetap menyala.
Disebutkan bahwa rumah tangga tanpa mawaddah akan menimbulkan suasana yang
kering kerontang sehingga bukan nikmat yang didapat namun sengsara
berkepanjangan.
“Tak
ada mawaddah itu dalam hidupku.” Runa bergumam.
Aku
menatapnya, menarik napas panjang kemudian. Memang tampak ada yang salah dalam
pernikahan kawan baikku itu.
“Seharusnya
dulu aku membaca buku itu,” lanjut Runa.
Dan mengalirlah
kata-kata dari mulut Runa. Tak terbendung. Katanya, kalau saja dulu membaca
buku itu, tak akan ia menelan pil pahit dalam kehidupan rumah tangganya. Karena
di buku itu dibahas bahwa mawaddah merupakan cinta penuh gairah antara
suami istri, sehingga hadirnya mawaddah dalam kehidupan berumah tangga
merupakan sebuah faktor wajib dalam membangun rumah tangga yang harmonis dan menyenangkan.
Mawaddah kemudian akan melahirkan rahmah atau perasaan kasih sayang.
Dari sanalah, cinta mengabadi dalam rumah tangga yang langgeng.
Runa menyadari, pernikahannya dulu
tak didasari cinta sebagaimana cinta yang terjadi di antara muda-mudi yang
berpacaran. Tapi bukankah cinta akan muncul bila seseorang mau membuka hati
lalu mengalirkan cinta pada pasangannya?
Begitu banyak pasangan yang
mengawali pernikahan tanpa proses pacaran. Mereka berpacaran setelah menikah,
dengan suami/istrinya yang halal. Perasaan cinta tumbuh seiring kebersamaan
yang tulus ikhlas. Kata Runa, dalam buku itu dipaparkan detail bagaimana
mencintai pasangan dengan show and prove
your love. Itu yang nggak aku lakukan, sesalnya.
Komitmen, rasa percaya, dan tanggung
jawab, ternyata tak cukup dalam sebuah rumah tangga. Harus tercipta romantisme
di dalamnya. Di promtweet itu diuraikan bahwa romantisme bukan berarti selalu
tindak dan aksi yang bikin pasangan melting.
Hal-hal sederhana berupa perhatian tulus dan sedikit kejutan kecil pun bisa
dikategorikan sebagai romantis. Seperti romantisnya Rasulullah kepada
istri-istrinya. Sederhana tapi so sweet.
Di buku itu diceritakan bagaimana indahnya romantisme Rasulullah dalam
kehidupan rumah tangganya.
Selain kisah tentang Rasulullah,
kata Runa, ada juga kisah tentang kisah cinta para shahabat yang bisa diambil
hikmahnya. Dan yang tak kalah menarik, ada juga kisah nyata dari 5 orang
kontributor yang bertajuk “Miracle of Love in Marriage”.
“Riwayat pengalaman seksual dalam
pernikahanku juga dulu tidak sehat,” tukas Runa, tanpa tedeng aling-aling. Dalam
buku itu rupanya dibahas juga tentang seksualitas dalam konteks mawaddah, oleh
seorang narasumber yang capable dan
tepercaya, yaitu dr. Ahmad Supriyanto. Wah, benar-benar buku yang lengkap, pikirku.
Menurut host promtweet itu, buku
“Sayap-sayap Mawaddah” menggunakan bahasa yang relatif ringan dan mudah
dicerna. Jadi, walaupun pembahasannya berat, nggak bikin kening berkerut-merut.
Makanya, buku ini asyik dibaca.
“Aku mau bilang sama adik-adik dan
keponakan-keponakan, sebelum nikah harus baca buku ini,” ucap Runa, pasti. Aku
mengiyakan. Seketika Runa menoleh, “Hei, kamu juga harus baca, biar rumah tangga
kalian makin mesra dan samara senantiasa.” Aku tersenyum.
Kulihat pandangan Runa kembali menerawang.
“Semoga penulis buku ini juga nanti akan menerbitkan buku untuk pasangan yang
telanjur gagal seperti aku. Mungkin judul bukunya “Sayap-sayap yang Patah”,
lirihnya penuh harap.
“tulisan ini diikutsertakan dalam GA promtwit Sayap-sayap Mawaddah”
tema ke-2 :
Mengapa buku Sayap-sayap Mawaddah perlu dimiliki sebagai bekal pernikahan dan bekal menjalani rumah tangga
tema ke-2 :
Mengapa buku Sayap-sayap Mawaddah perlu dimiliki sebagai bekal pernikahan dan bekal menjalani rumah tangga