Rabu, 23 Januari 2013

Ketika Semua Tak Lagi Sama

Dalam perjalanan hidup, dulu aku merasa hidupku begitu datarnya. Bersekolah selalu di sekolah negeri terbaik dan mengalami masa jaya berada di top ranking. Kemudian berhasil duduk di PTN dan lulus sebagai lulusan tercepat dan termuda, dengan nilai yang menenangkan. Bekerja, menikah, punya anak. Memutuskan resign, lalu tahun berikutnya mengelola sebuah sekolah taman kanak-kanak. Hidupku secara umum, lancar. Meski pernah juga jatuh terjerembab, namun bisa kembali bangun dan berdiri.

Lalu, muncullah prahara itu. Keluarga kecilku dihantam badai. Aku dan anak-anak terlempar. Kami terdampar di kampung halaman. Dan di sinilah sekarang kami, aku, Ghulam, Zidan, Nadia, Salman, memulai hidup baru.

Aku tidak suka! Aku benci! Aku marah! Tinggal di tempat terpencil seperti ini tidak enak! Aku harus meninggalkan rumahku, kehilangan sahabat, teman dekat, tetangga baik, anak-anak didik, semuanya.. Tidak ada Gramedia, jauh ke ibukota, sulit menghadiri Book Fair, etc, etc.

Aku harus mengucapkan selamat tinggal pada sekolah yang kurintis dari bawah sekali hingga sekarang cukup berkibar. Guru-guru yang masih polos itu, kini kelabakan sepeninggalku. Bahkan aku tidak sempat menatap wajah imut milik anak-anak sekolahku. Juga para orangtua yang selalu mendukung dan siaga membantu. Sayonara semua..

Tidak hanya itu, aku kehilangan banyak partner. Abang tukang ayam, abang bubur, mpok sayur, abang ikan,   Pak Ibnu aqua, Tante Hety pulsa dan token, Bu Ruhyat lontong sayur, Bu Mul gorengan, Mamah Ary nasi uduk, Bu Nanik susu kedelai, Mamah Dory siomay, Acoy Bakso, Mas dan Mbak warung depan, dan semuanya.

Tapi demikianlah Allah memperjalankan hidup ini. Sangat boleh jadi, inilah masanya sekolah tercinta, aku tinggalkan. Saat aku Alhamdulillah telah mengantarkan prestasi 'terakreditasi A'. Inilah waktunya Ibu-ibu guru bangkit berjuang mandiri, menerapkan segala ilmu yang telah didapat selama bersamaku. Insya Allah semua akan berjalan baik. All iz well..

Diri ini memang harus senantiasa siap menghadapi kondisi terburuk, yang sebelumnya bahkan tak pernah terbersit selintas pun. Betapa Allah menguji tingkat keimanan dengan rupa-rupa hal berat. Beginilah Allah memperlihatkan rasa cemburunya, agar kita sungguh-sungguh mendekat dan bermesraan denganNya. DibalikkanNya hidup sehingga semua tak lagi sama.. namun satu hal yang tetap sama, adalah bahwa Allah selalu ada bersama hambaNya yang sepenuhnya bergantung hanya kepadaNya.

Maka, jangan takut ketika semua tak lagi sama.. cintaNya kepada kita tak kan berubah, selama kita meyakininya.

3 komentar:

  1. Mba Lindaaaa
    huuhuhuhu
    speechless and sediiih bangeeet

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak Elaaaaa...
      doain aku dan anak2 yaa..

      Hapus
  2. tetap semangat ya mba yu.....i pray for u

    BalasHapus