Senin, 07 Juli 2014

Misteri Celengan Salman




Bunda tersenyum-senyum sendiri. Tanpa sengaja Bunda menemukan sekeping pecahan celengan di kolong tempat tidur Salman. Sepertinya Salman diam-diam memecahkan celengannya. Hmm.. tiga hari lagi ulang tahunku, mungkin Salman memecahkan celengannya untuk membeli hadiah untukku, batin Bunda.
Keesokan paginya, saat sarapan, Salman minta izin untuk pulang terlambat kepada Bunda.
“Mau ke mana dulu? Ada kerja kelompok?” tanya Bunda.
Salman menggeleng. “Ada keperluan penting banget, Bunda. Nanti aku ceritakan sepulang sekolah. Janji!” Salman mengacungkan dua jari.
Bukan main game di rumah teman-temanmu, kan?” selidik Bunda.
“Nggak dong, Bun...!”
Bunda tersenyum, “Iya, Bunda percaya sama Salman,” rambut Salman dielus lembut.
Salman lega. Kemudian ia pamit berangkat ke sekolah, mengendarai sepeda kesayangannya.
         Sore hari, Bunda membuat pisang keju. Sambil memarut keju, Bunda bertanya-tanya dalam hati. Salman beli apa ya, untuk hadiah ulang tahunku? Bunda geli sendiri, karena merasa GR. Tapi buat apa Salman pecahkan celengan kalau bukan untuk membeli hadiah ulang tahun bundanya, pikir Bunda lagi.
          “Assalaamu’alaikum!” Seruan salam Salman membuyarkan lamunan Bunda. Sambil menjawab salam, Bunda bergegas menemui Salman sambil membawa sepiring pisang keju.
        “Hmm.. harumnyaa.. pasti lezat nih!” Salman melesat ke wastafel untuk mencuci tangan, tak sabar ingin segera mencicipi kudapan buatan bundanya yang selalu lezat.
         Setelah tangannya bersih, Salman duduk sambil makan kudapan favoritnya. Bunda tak sabar ingin segera mendengar cerita Salman mengenai keterlambatannya.
            “Jadi tadi, pulang sekolah Salman pergi ke mana dulu?”
            Senyum Salman melebar. “Oh iya, Bun... aku senang banget.”
            Bunda semakin penasaran.
            “Bunda masih ingat Nek Iyam, yang dulu pernah aku ceritakan?”
          Bunda mengangguk. Bunda masih ingat, Nek Iyam adalah nenek yang tinggal tidak jauh dari sekolah Salman. Pertemuan Salman dengan nenek itu terjadi ketika Salman terjatuh dari sepeda, lalu Nek Iyam menolongnya. Setelah itu, Salman kerap berkunjung ke rumah Nek Iyam, rumah yang lebih tepat disebut gubuk. Kadang Salman membawakan kue yang sengaja tidak dimakannya saat snack time di sekolah.
         “Nah, waktu kemarin aku ke rumahnya, Nek Iyam lagi sedih. Matanya makin sulit membaca Al-Quran. Karena Al-Quran milik Nek Iyam, ukurannya kecil. Nek Iyam tidak punya lagi yang lain.”
            “Lalu?” tanya Bunda, agak bingung.
        “Lalu, aku punya ide memecahkan celengan. Uangnya untuk membeli Al-Quran. Di koperasi sekolah, ada dijual Syamil Quran yang ukurannya besar. Bagus deh, berwarna-warni, ada petunjuk tajwidnya. Aku pikir, pasti Nek Iyam akan senang. Karena huruf dalam Al-Quran itu besar-besar, dan ada tajwidnya.”
             Bunda mengangguk-angguk, mulai paham tentang misteri celengan Salman.
         “Maaaf ya, Bun.. Aku nggak bilang dulu, mau pecahkan celengan. Bunda nggak marah, kan? Karena sebentar lagi Ramadan, jadi Nek Iyam pasti ingin bisa tilawah dengan baik saat Ramadan,” Suara Salman melemah.
            Bunda tersenyum seraya menggelengkan kepala.
            Mata Salman berbinar. Ia melanjutkan cerita dengan antusias.
        “Tadi Nek Iyam sampai nangis lho, Bun. Nek Iyam mendengarkan hafalanku sambil menyimaknya dari Al-Quran baru. Aku setor surat An-Naba. Nek Iyam bangga dan terharu, katanya, aku baru kelas empat, tapi sudah hafal juz 30.”
       Bunda juga, Sayang. Bunda pun memeluk Salman dengan perasaan bahagia. Tidak lagi memikirkan hadiah ulang tahun. Bunda sangat bahagia karena Salman peduli sesama dan cinta Al-Quran.

#FF 494 kata

16 komentar:

  1. Waah, Bunda-nya GR *eh. Salman anak yang baik ya, suka menolong, hafal juz 30 pula. Hihi, hebat (y)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak Syifa, anak kls 4 SDIT biasanya banyak yg sudah hafal juz 30, tapi bukan berarti semuanya.. :)
      Makasii yaa dah mampir..

      Hapus
    2. Oh, SDIT ya, ikutan acara hafidz di teve gitu dong Bunda :D

      Hapus
    3. hehe.. iya nanti saya bilangin.. :D

      Hapus
  2. sukaaaaa......................
    meski sih udah ketebak ne si bunda paling juga GR xixixi

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe.. ketebak ya, bundanya GR.. tapi nggak ketebak kan.. uang celengannya dibelikan apa? :)

      Hapus
  3. Duh, ceritanya indah banget mak, good luck ya

    BalasHapus
  4. FF sederhana yang bagus :))

    BalasHapus
  5. Good Luck, Mbak. Moga menang. FFnya bagusss :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin.. Aamiin..
      Makasiii doanya, Yant..

      Hapus
  6. Bagus Bu Linda, saya suka ceritanya. Nggak ketebak, hehe.. Setelah saya ikutan menebak hadiah Qur'an Syamil itu untuk ulang tahun Bunda, dan ternyata salah, saya mencoba menebak lagi kalau uangnya dibelikan kaca mata untuk Nek Iyam, hihihi... Habisnya, ada kalimat "Matanya makin sulit membaca Al-Quran". Tapi di kalimat berikutnya, semua terbantahkan, hihihi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah, melayang deh baca komen Arin.. :)

      Hapus
  7. wah kereeennn!
    Salman bener-bener anak yang sholeh (y)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Alhamdulillah Mbak, Salman anak yang sholeh.. :)

      Hapus