Kebayang ya, gimana perasaan si Om? Lha, ponakannya cerdas gitu kok dibilang beda dari anak normal. It means, ponakannya nggak normal dong. Hadeuh..
Untuk masalah semacam itu, biasanya reaksi pertama orang-orang langsung menyalahkan sang guru. Wajar kan ya, mosok anak pinter dibilang nggak normal. Itu mah gurunya aja kali yang nggak normal. Tapi kalau menurut saya sih, nggak serta merta gitu juga. Dan bukan berarti ini dalam rangka membela korps ya, sesama guru saling membela. Nggak banget lah.
Jadi gini, kalau kita melihat lebih jauh, pertama kali dilihat dulu jumlah murid dalam satu kelas berapa orang. Kalau kisaran 30-40 anak, memang cukup masuk akal bila guru nggak sanggup menangani murid yang spesial. Secara anak-anak zaman sekarang lebih aktif dan kritis. Mungkin guru kewalahan jika ditambah dengan tugas mengawal anak yang spesial.
Lalu dilihat lagi gimana kesepakatan dengan sekolah. Saat awal masuk biasanya siswa ditest, bahkan ada juga yang menyeleggarakan psikotest. Tentu bisa diketahui kondisi setiap anak. Bila ada anak dengan kecerdasan luar biasa namun secara akademik agak tertinggal dari teman-temannya, maka pihak sekolah idealnya memahami konsekuensi saat menerima anak tersebut sebagai siswa di sekolahnya.
Yang diperlukan kemudian adalah komunikasi. Sungguh, komunikasi sangat memegang peranan penting. Jadi jangan seperti guru si Om yang langsung nge-judge kalo si anak nggak sama dengan anak normal, sehingga terkesan merendahkan dengan label normal-nggak normal. Seharusnya sejak awal sekolah hingga teruus selama masa belajar, komunikasi senantiasa hidup antara guru dengan orangtua. Bisa juga dengan mengadakan buku penghubung khusus yang setiap hari harus diisi guru dan dibaca serta direspons oleh orangtua di rumah. Orangtua harus menyadari bahwa si buah hati memiliki kecerdasan menonjol dalam bidang tertentu, namun perlu bimbingan khusus dalam materi-materi pelajaran di sekolah.
![]() |
gambar diambil dari sini |
Potensi cerdas yang dimiliki anak harus dapat tereksplorasi dengan baik. Anak itu perlu mendapat stimulasi yang tepat agar potensinya dapat dikembangkan ke arah yang positif. Sementara ketertinggalannya secara akademik tidak membuatnya malu atau minder di hadapan teman-temannya.
![]() |
gambar diambil dari sini |
Maka carilah sekolah yang tepat, yang lebih ramah anak. Sekolah yang memahami konsekuensi saat menerima siswa dengan kecerdasan istimewa namun sedikit tertinggal secara akademik. Guru yang menjadi walikelas harus benar-benar siap, memiliki mental yang kuat, dan bersedia bekerja keras, karena harus mengulang secara pribadi, materi-materi yang diajarkan di kelas kepada anak tersebut. Guru pun harus mampu mengondisikan anak-anak di kelas agar bisa menerima siswa tersebut dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Setelah itu, guru secara intens berkomunikasi dengan orangtua, sehingga ia tidak capek sendiri di sekolah, namun orangtua di rumah pun harus terlibat penuh dalam mengawal anak tersebut.
![]() |
gambar diambil dari sini |
![]() |
gambar diambil dari sini |