Selasa, 22 Desember 2015

Siapa Tidak Cerdas? Siswa atau Guru?

Saya membaca status teman tentang keponakannya. Si Om itu mengambil raport keponakannya yang klas 2 SD. Anak itu cerdas, daya ingatnya kuat, jago ngegambar, imajinasinya luar biasa, dan bisa menggambarkan sesuatu dengan sangat baik dan detil. Namun betapa kecewanya si Om ketika berdialog dengan guru keponakannya. Gurunya bilang, anak itu dikasih nilai cuma pemakluman aja, lalu disilakan cari sekolah lain karena anak itu beda dari anak normal lainnya.

Kebayang ya, gimana perasaan si Om? Lha, ponakannya cerdas gitu kok dibilang beda dari anak normal. It means, ponakannya nggak normal dong. Hadeuh..

Untuk masalah semacam itu, biasanya reaksi pertama orang-orang langsung menyalahkan sang guru. Wajar kan ya, mosok anak pinter dibilang nggak normal. Itu mah gurunya aja kali yang nggak normal. Tapi kalau menurut saya sih, nggak serta merta gitu juga. Dan bukan berarti ini dalam rangka membela korps ya, sesama guru saling membela. Nggak banget lah.

Jadi gini, kalau kita melihat lebih jauh, pertama kali dilihat dulu jumlah murid dalam satu kelas berapa orang. Kalau kisaran 30-40 anak, memang cukup masuk akal bila guru nggak sanggup menangani murid yang spesial. Secara anak-anak zaman sekarang lebih aktif dan kritis. Mungkin guru kewalahan jika ditambah dengan tugas mengawal anak yang spesial.

Lalu dilihat lagi gimana kesepakatan dengan sekolah. Saat awal masuk biasanya siswa ditest, bahkan ada juga yang menyeleggarakan psikotest. Tentu bisa diketahui kondisi setiap anak. Bila ada anak dengan kecerdasan luar biasa namun secara akademik agak tertinggal dari teman-temannya, maka pihak sekolah idealnya memahami konsekuensi saat menerima anak tersebut sebagai siswa di sekolahnya.

Yang diperlukan kemudian adalah komunikasi. Sungguh, komunikasi sangat memegang peranan penting. Jadi jangan seperti guru si Om yang langsung nge-judge kalo si anak nggak sama dengan anak normal, sehingga terkesan merendahkan dengan label normal-nggak normal. Seharusnya sejak awal sekolah hingga teruus selama masa belajar, komunikasi senantiasa hidup antara guru dengan orangtua. Bisa juga dengan mengadakan buku penghubung khusus yang setiap hari harus diisi guru dan dibaca serta direspons oleh orangtua di rumah. Orangtua harus menyadari bahwa si buah hati memiliki kecerdasan menonjol dalam bidang tertentu, namun perlu bimbingan khusus dalam materi-materi pelajaran di sekolah.
gambar diambil dari sini
 Walikelas harus memiliki kesadaran penuh bahwa di kelasnya ada siswa dengan catatan istimewa yang membutuhkan penanganan khusus. Kesadaran itu terbentuk setelah sebelumnya pihak kepala sekolah atau wakasek bidang kurikulum membahas kondisi siswa tersebut dengan sang walikelas. Komunikasi terbuka seperti itu, dapat lebih mudah menentukan bagaimana bentuk penanganan terhadap si anak.

Potensi cerdas yang dimiliki anak harus dapat tereksplorasi dengan baik. Anak itu perlu mendapat stimulasi yang tepat agar potensinya dapat dikembangkan ke arah yang positif. Sementara ketertinggalannya secara akademik tidak membuatnya malu atau minder di hadapan teman-temannya.
gambar diambil dari sini
Pihak sekolah harus jeli melihat kondisi tersebut. Jangan sampai potensi besar yang ada pada siswa, tidak terasah dengan baik. Sebaliknya, orangtua pun harus ekstra mengawal ketat putranya, mengetahui persis keadaan putranya, dan senantiasa menjalin komunikasi dengan sekolah. Bila ternyata pihak sekolah tidak kondusif memfasilitasi putranya, jangan memaksakan diri untuk membuat pihak sekolah berubah. Artinya, sekolah tersebut memang tidak siap menerima siswa demikian.

Maka carilah sekolah yang tepat, yang lebih ramah anak. Sekolah yang memahami konsekuensi saat menerima siswa dengan kecerdasan istimewa namun sedikit tertinggal secara akademik. Guru yang menjadi walikelas harus benar-benar siap, memiliki mental yang kuat, dan bersedia bekerja keras, karena harus mengulang secara pribadi, materi-materi yang diajarkan di kelas kepada anak tersebut. Guru pun harus mampu mengondisikan anak-anak di kelas agar bisa menerima siswa tersebut dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Setelah itu, guru secara intens berkomunikasi dengan orangtua, sehingga ia tidak capek sendiri di sekolah, namun orangtua di rumah pun harus terlibat penuh dalam mengawal anak tersebut.
gambar diambil dari sini
Dengan kerjasama yang baik seperti itu, insyaAllah tidak akan ada lagi misunderstanding antara pihak orangtua/wali siswa dengan pihak sekolah. Sang anak dapat nyaman bersekolah, dan potensinya mendapat penyaluran yang baik.
gambar diambil dari sini


5 komentar:

  1. Kalo sekolah umum memang udah resikonya generalis thdp anak didik ya mbak. Sulungku waktu SD pernah pindah sekolah. Habisnya dia mank aktif bgt. Kepseknya bilang anakku punya kelainan syaraf dan hrs dirujuk ke dokter. Oalah. Sempet nangis aku kepsek kok tega ngomong gt. Trus pindah sekolah umum jg. Kls 5 dia ikut osn. Alhamdulillah juara tk nas. Kakakku blg bawa tuh piala anakmu ke kepsek yg dl. Aku ketawa aja. Udah lupa pun hehe. Skrg anakku udh smp. Dan masih byk guru yg pola pikir lama. Jadi kalo guru wali kelasnya blg anakku bandel bla3 aku senyum2 aja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah keren banget, juara tingkat nasional. Yg repot itu kalau kemampuan daya tangkap untuk materi pelajaran tergolong rendah. Ada siswaku di kelas yg hafalannya kuat (tahfidznya udah juz 28) tapi tertinggal dalam pelajaran-pelajaran di kelas. Ini butuh effort yg kuat dari pihak sekolah dan orangtua.

      Hapus
  2. Semoga bisa jadi pembelajaran

    BalasHapus