Jumat, 15 Juni 2012

Mengering Airmata

Suatu ketika kau akan menghadapi tiba-tiba sebuah batu besar menghimpit. Ia menekan, demikian kuat, membuat sakit. Kadang batu itu diam, hingga yang terasa 'hanya' sesak.. namun adakalanya batu bergerak melompat-lompat, menusuk-nusuk, hingga kesakitan terasa bertambah-tambah.

Orang-orang akan bilang, bersabarlah.. suatu ketika batu akan bergeser dan menjauh, hingga kau bisa bernafas lega kembali. Apa yang kau bisa lakukan? Sangat boleh jadi, kau akan menangis.. meluruhkan titik-titik airmata seperti titik-titik air yang berkumpul di awan lalu memecah membasahi bumi. Sangat mungkin juga, pipimu kuyup oleh banjir airmata itu.

Namun rupanya batu masih bergeming. Bahkan ia membesar, turut menghimpit pula orang-orang di sekitar. Oh.. bagaimana menolong orang-orang itu, sedang diri ini pun tak berkutik mengenyahkan batu..? Lagi-lagi airmata meleleh, menangis tak habis-habis..

Detik demi detik berguguran, doa-doa dipanjatkan, namun belum berakhir kesabaran diujikan. Bahkan terasa bahwa kehadiran batu adalah campurtangan kesalahannya. Tudingan yang entah oleh siapa ditujukan, tapi terasa menohok. Mengapa sedari dulu tidak gigih menghalau batu yang menggelinding..?

Rasanya airmata mengering.. tapi harap masih terus berdenging..

1 komentar:

  1. Keep Spirit, mba linda...
    ayo terus nulis buat terapi yaaa

    BalasHapus