Senin, 13 Mei 2013

SEWINDU, TAK MELULU BICARA RINDU


SEWINDU, TAK MELULU BICARA RINDU



Judul Buku                :  Sewindu
Penulis                        :  Tasaro GK
Penerbit                      :  Metagraf (creative imprint of Tiga Serangkai)
Website                      :  http://www.tigaserangkai.com/
Tebal Buku                :  x + 382 halaman
ISBN                           :  978-602-9212-78-5
Peresensi                    : Linda Satibi

Rentang perjalanan manusia tak mungkin berada pada satu titik yang konstan. Ia senantiasa bergerak. Memasuki fase demi fase. Sepandai apa seseorang mampu memaknai setiap fase yang dilewatinya, bergantung dari tingkat kesiapan dan kematangan pribadinya. Boleh jadi,  dua orang yang melampaui fase yang sama, menghasilkan kualitas hidup yang berbeda. Yang satu, kala nasib berubah buruk,  semangatnya turut remuk, hidupnya pun jadi terpuruk. Namun yang satu lagi, saat hidup terasa runtuh, ia berjuang bersimbah peluh, menempa jiwa menjadi tangguh, nasib baik pun tidak lagi menjauh.
Kemampuan memaknai lakon yang terjadi, lalu menangkap hikmah di dalamnya, dapat digali melalui perenungan dan senantiasa mengasah hati. Keberserahan diri kepadaNya, pun menentukan proses penerimaan setiap babak dalam kehidupan. Karena tidak ada penerimaan, tidak ada keikhlasan, tanpa melewati sebuah proses.  Sebuah proses yang dalam perjalanannya akan memperlihatkan seberapa baik ia mampu meng-up grade kualitas diri.
Adalah Tasaro GK, penulis cerdas asal Gunung Kidul, menuturkan proses perjalanan hidupnya dalam buku bertajuk “Sewindu”. Bilangan delapan tahun ini merupakan usia pernikahannya dengan seorang bernama Alit Tuti Marta, yang dengan penuh cinta disebut Tasaro sebagai wanita terpilih baginya. Panjang atau singkatkah rentang usia tersebut, menjadi tidak penting, karena justru ruh dari perjalanan itulah yang memiliki nilai lebih. Maka, “Sewindu” bukan melulu bicara tentang rindu, ia mengajak pembaca memaknai hikmah dari setiap fragmen kehidupan, di dalamnya memuat spirit mengisi hidup dengan semangat kebaikan. Dan semua itu bermuara pada satu titik: Cinta.
Buku ini terdiri dari dua bagian. Bagian Satu, mengisahkan periode awal pernikahan Tasaro. Masa-masa beradaptasi sebagai pasangan baru, menjalani hubungan jarak jauh, menumpang di rumah mertua, hingga akhirnya menempati rumah baru, lalu berinteraksi dengan tetangga baru. Sedang Bagian Dua, merupakan refleksi kurun sewindu dengan beberapa nostalgi turut mewarnai.
Pada babak awal pernikahannya, Tasaro-Alit berjibaku dengan keterbatasan finansial. Mereka pun beradu dalam perbedaan-perbedaan yang kemudian mendewasakan. Tanpa aksi yang muluk, Tasaro memperlihatkan kepada pembaca bahwa pada ujungnya cinta yang bicara, meski lewat jalan yang sederhana. Sejatinya, demikianlah cinta. Ia menjadi payung yang meneduhkan dan melindungi.
Semangat yang Tasaro bagi melalui episode demi episode yang dilalui, terasa menggebu dalam derap mimpi-mimpinya. Kegigihannya belajar mengaji Quran yang dimulai pada usia yang tak lagi muda, sungguh patut digarisbawahi. Bayangkan, ketika anak-anak usia SD sudah lancar mengaji, Tasaro baru mulai belajar huruf hijaiyah pada usia 22 tahun! Benar-benar mengeja ‘alif, ba, ta’. Setahun lewat, saat mengaji mulai tertata, meski masih acap tertukar antara huruf ‘nun’ dan ‘ba’, Tasaro mendaftar di Fakultas Syariah di sebuah sekolah tinggi agama Islam, demi memenuhi ghirah-nya yang sedang bergejolak. Konon seperti dagelan saja. Sementara kawan-kawannya kebanyakan alumni pondok pesantren yang fasih berbahasa Arab, ia baru bisa bilang ‘ana’ dan ‘antum’(halaman 105).
Bahwa lingkungan memegang peranan penting dalam pembentukan seseorang, itu yang dipegang Tasaro. Ia tidak ambil pusing soal ketertinggalannya, namun ia nekat masuk fakultas syariah dengan alasan agar berada di lingkungan yang pas untuk bersemangat mempelajari Islam.
Kesadaran beragama terus mengental. Tasaro berpikir, ia harus keras terhadap dirinya sendiri saat menyangkut kedisiplinan beragama (halaman 106). Para suami yang selama ini merasa tenang-tenang saja, harus tertampar dengan ini. Betapa seorang Tasaro yang merasa keawamannya soal agama termasuk kebangetan, memiliki kesadaran penuh untuk menjadi imam dalam keluarga. Ia ingin punya kemampuan untuk menuntun istrinya dalam ber-Islam. Ia malu kala shalat berjamaah, hafalan Qurannya hanya berputar sekitar empat-lima surat pendek saja. Tengok pula bagaimana Tasaro berproses kala mengaplikasikan ‘tercelup’ dalam konteks Q.S.Al-Baqarah:138.
Sisi lain yang menarik dari pola pandang Tasaro adalah hal pendidikan. Ia bukan dari barisan penggemar matematika. Dan kini ia mengelola lembaga pendidikan usia dini. Maka ia amat mendorong model pendidikan yang mengeksplor potensi anak. Di PAUD yang dikelolanya, anak-anak berinteraksi dengan buku. Belajar melalui dongeng. Jangan sampai anak miskin imajinasi. Dan ini berkaca dari pengalamannya. Tasaro tidak ingin standar pendidikan terlalu memuji otak kiri. Sudah saatnya meninggalkan konsep standar kepintaran anak-anak hanya diukur dengan angka semata (halaman 290). Tasaro membuktikan, menduduki jabatan General Manager ‘hanya’ dengan ijazah D2-nya. Karena kemampuan dan potensinya boleh jadi menyamai lulusan S2.
Selain sisi-sisi yang serius, banyak bagian dalam buku ini yang menampilkan sisi humanis, romantis dan sentimentil. Kenangan-kenangan tentang kehalusan budi serta ketangguhan Ibunda dan Ibu Mertua. Juga serpihan masa kecil yang menyenangkan, masa SMP yang tragis karena kerap di-bullying, masa SMA yang mulai mengubah dirinya untuk berprestasi, masa kuliah yang indah saat berkegiatan aneka rupa, hingga bagaimana menjadi ayah yang keren, lalu bagaimana berinteraksi dan bersosialisasi dalam masyarakat.  Kesemuanya meninggalkan jejak yang bisa menjadi inspirasi bagi pembaca.
Tak ketinggalan kisah-kisah dengan bumbu kocak dan konyol yang renyah. Menggelitik, mengundang senyum dan tawa. Disebutkan pula sahabat-sahabat yang mengiringi perjalanan hidupnya. Bagaimana mereka mengajarkan banyak hal tentang loyalitas, kebersamaan, dan kedewasaan. Secara khusus disebut nama Kang Momo yang mengajari tentang cinta yang total pada keluarga, dan Kanday yang membersamainya sejak mahasiswa, lalu memasuki dunia kerja, hingga saat ini.
Sebagai seorang yang berprofesi penulis, Tasaro bertutur tentang pilihan hidupnya untuk ‘hanya’ menjadi penulis. Ditinggalkannya dunia kerja, kantornya yang nyaman dan fasilitas yang mengikutinya. Sungguh sebuah kisah penuh semangat yang membangun.
Yang paling menyentuh adalah kisah tentang Bapak. Bagaimana Tasaro bisa mendamaikan hati dengan Bapak yang telah meninggalkan keluarga selagi usia remaja? Mengapa ia sulit menemukan catatan menyenangkan, indah, damai, untuk dikenang antara dirinya dan Bapak? (halaman 348) Inilah bagian yang paling menggedor jiwa.
Boleh dibilang, buku ini komplet. Ia membuat tersenyum, tertawa, hingga berderai air mata. Meski ada beberapa bagian yang sepertinya tidak perlu ikut serta. Semisal tulisan yang diambil dari note facebook berjudul “Penulis! Glamour atau Bersahaja?”, “Pembicara, Fee, dan Panitia”, “Generasi Kedua”. Bukan tersebab buruk, toh di dalamnya tetap lebat hikmah yang ranum untuk dipetik, namun membuat bagian tersebut menjadi terlalu berpanjang kata. Soal urutan kisah pun terasa ada yang ngaclok. Kisah ke-10 pada bagian satu, berjudul “Tempe, Sambal, dan Lalap Sawi” akan lebih pas bila ditaruh sebagai kisah ke-6.
Dengan cover berwarna hijau manis, bergambar sebatang pohon kehidupan dihiasi delapan daun berbentuk lambang cinta, buku ini merupakan buku inspiratif yang lezat dan bergizi. Ditulis dengan bahasa yang segar, mengalir, diiringi sentuhan yang mengharu biru. Tasaro GK dalam karya perdana di ranah non fiksi, tidak kalah mengasyikkan dengan buku-buku fiksinya yang selama ini memikat banyak pembaca.
Membaca buku ini, mengikuti sepanjang kurun delapan tahun, pembaca diajak menikmati proses pergerakan Tasaro dalam masa bertumbuhnya menjadi pribadi yang matang. Inilah tuturnya: Delapan tahun ini, sebagaimana waktu mengubah dunia, saya kira, banyak pula pergeseran pemikiran dan orientasi hidup yang menyertai kami. Jika dulu, saat rumah tangga muda habis waktu memikirkan bagaimana kami makan, memiliki tempat tinggal, atau berpakaian layak, kini ada kebutuhan lain yang lebih fundamental, di posisi mana kami berada di tengah-tengah masyarakat? Peran apa yang harus kami ambil? (halaman 166)
Energi semangat ditransfer oleh Tasaro kepada pembaca, untuk senantiasa bergerak dalam kebaikan atas dasar cinta, cinta kepada sesama. Seperti ide briliannya yang bersinergi dengan istri tercinta tentang “Proyek 1000 Jamaah” dan “Kampoeng Boekoe” yang kini dirintisnya. Juga kelas spesifik untuk kaum putri yang akan dikelola sang istri, bertajuk “Sakola Estri”, sebuah persembahan untuk mengenang pengabdian dua perempuan tercinta mereka, yaitu ibunda masing-masing, Ummi dan Mih.
Pernahkah Anda berpikir visioner semacam itu? Memikirkan peran diri bagi masyarakat? Jika belum, mari kita mulai sekarang!



*) Resensi ini diikutsertakan dalam "Lomba Resensi Sewindu Karya Tasaro GK" yang diselenggarakan oleh Penerbit Tiga Serangkai, Solo.

16 komentar:

  1. Ini biografi ya mbak ? Btw, resensinya keren bangeet , good luck ya mbak:-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Konon tidak dimaksudkan sbg auto-biografi, Mbak. Tasaro terbiasa mengikat kenangan perjalanan hidupnya dlm tulisan. Lalu kumpulan tulisan tsb mewujud sebuah buku yg diharapkn dpt menginspirasi pembaca dlm jalan kebaikan.

      Hapus
  2. Balasan
    1. Makasiiih Kak Tus dah mampir kemari.. :)

      Hapus
  3. keren yaaah baru baca resensinya aja semangat dari Tasaro dah tertular seperti ini apa lagi baca langsung ? like fot this one ! :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thanx ya Na.. dah mampir.
      Aku ga nyangka lho, klw Tasaro se-keren itu.. :)
      Semangatnya puoll..

      Hapus
  4. Baca review keren ini, jadi pengin baca Sewindu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasiih dah bilang keren.. hehe..
      Resensi dari peserta yg lain jg bagus2 lho, Mbak..

      Hapus
  5. mbak lin, as usual selalu menuliskan resensi dengan manis. kalo mas TGK selalu ya nulis tuwebel2

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak Anik, kyknya menjadi semacam 'keharusan' buat TGK, bukunya kudu tebbel.. :)

      Hapus
  6. Jadi pengen baca, ehm ...ada gratisan gak mb? hahaha *kebiasaan deh nguber serba gratis

    BalasHapus
    Balasan
    1. Baca deh.. bukunya bagus! engh.. klw soal gratisan, aku ga tau.. hehe..
      Thanx yaa dah mampir..

      Hapus
  7. hwaaa... runut banget, mamah... keren keren! *baru baca setelah resensi tertunaikan juga :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasiiih Ai..
      Resensimu jg keren.. aku tadinya mau masukin jg ttg "Ini Wajah Cintaku, Honey", tapi aku blm baca buku itu, cuma tau ada-nya. Jadi, yo wis.. ndak kusinggung aja.. :)

      Hapus