Senin, 28 Mei 2012

Bermula Dari TK

Beberapa hari lalu saya menyaksikan anak-anak SMU merayakan kelulusan dengan mencoret-coret pakaian seragam yang dikenakannya dan menyemprot rambut mereka dengan cat warna-warni. Ketika saya dekati mereka, dan menanyakan apa rencana setelah lulus ini, dengan gaya seenaknya tanpa sopan santun mereka menjawab ‘nggak tau, yang penting lulus aja dulu’. Beberapa dari mereka terbahak mendengar jawaban temannya.

Sedih saya mendengar jawaban itu serta miris melihat sikap mereka terhadap orangtua yang seperti tidak mengenal tata krama.  Saya teringat murid-murid saya di TK, mereka lucu-lucu, manis, dan sopan. Saya jadi berpikir, tentu anak-anak SMU itu dulunya pun begitu. Lalu mengapa kebaikan-kebaikan itu seolah menguap saat usia mereka beranjak naik.

Rumit memang mengurai benang kusut sistem pendidikan di Indonesia. Bullying, manipulasi nilai, pelecehan seksual, adalah contoh-contoh kasus tidak senonoh yang terjadi di lingkungan sekolah. Saya tidak ingin mengajak anda untuk mencari siapa yang salah dalam masalah ini. Dan tidak ingin memaparkan argumentasi tentang mengapa kekisruhan di dunia pendidikan tak kunjung usai. Saya hanya mencoba berpikir sederhana, bermula dari TK.

Kita tentu tidak ingin hal-hal buruk di atas terus langgeng, dari generasi ke generasi. Maka, marilah kita menyelamatkannya, diawali dengan pendidikan dari jenjang TK. Mari kita benahi model pendidikan di TK. Penuhi keceriaan dunia kanak-kanak dengan rupa-rupa kegiatan yang mengasah kreativitas, mengeksplorasi potensi, dan mengkondisikan pada sebuah rancang bangun model karakter yang berbudi luhur. Pembinaan karakter ini, harus dikomunikasikan dengan orangtua, sehingga pendidikan berkesinambungan antara sekolah dan rumah.  Dengan suasana yang kondusif, anak-anak akan tumbuh dan berkembang dalam sebuah struktur rancang bangun karakter positif yang kuat. 


Kondisi yang baik ketika di TK, harus terus dipupuk dan dirawat, hingga tatkala si anak melangkah ke jenjang berikut, karakter baik itu tertanam kuat dan sudah menjadi gerak kehidupannya. Maka setelah TK, jenjang pendidikan selanjutnya harus sejalan dengan pendidikan dasar anak yang ditekankan pada pembangunan karakter positif yang kuat tersebut. Kerja keras para pendidik, yaitu orangtua dan guru, amat berperan penting.

Bisa dibayangkan, bila anak-anak kita itu kelak melanjutkan estafet kepemimpinan dan menjadi pelayan rakyat, tentu tak kan terdengar lagi model-model anggota dewan yang doyan jalan-jalan, hakim yang mudah disuap, guru yang disunat gajinya, mafia pajak yang santai berlenggang, dan aneka penyimpangan lain yang kini akrab kita jumpai beritanya di media.

Semoga Indonesia masa datang akan lebih bersinar dalam suasana aman, damai, sejahtera. Yang sesungguhnya. Bukan sekedar slogan.

1 komentar: