Sabtu, 26 Mei 2012

SEMANGAT MAN JADDA WAJADA

Judul Film     : Negeri 5 Menara
Sutradara      :  Affandi Abdul Rahman
Penulis skenario  :  Salman Aristo
Pemain  :  Gazza Zubizzaretha, David Khoirul, Lulu Tobing, Ikang Fawzi, Donny Alamsyah, dll
Produksi  :  Kompas Gramedia Production dengan Miilion Pictures
Tahun Rilis  :  2012

Sebuah novel yang sukses di pasaran, biasa diangkat ke angkat layar lebar. Kali ini, giliran novel “Negeri 5 Menara”, yaitu novel yang fenomenal dengan mencatat angka cetak ulang yang fantastis. Dan seperti biasa pula, orang kemudian akan menghubungkan film tersebut dengan novelnya. Lalu bagaimana dengan film ini? Apakah tetap memiliki ruh yang ditiupkan novelnya? Ataukah keluar jalur lalu menjelma tak ubahnya sinetron? Atau berada di tengah-tengahnya?

Berbicara mengenai “Negeri 5 Menara” artinya berbicara tentang semangat Man Jadda Wajada. Semangat yang menggerakkan daya juang para tokoh dalam kisah ini untuk berusaha mewujudkan mimpi-mimpi mereka. Siapa yang bersungguh-sungguh, maka ia akan berhasil. Itulah makna kalimat berbahasa Arab tersebut. Maka, keinginan untuk menularkan semangat bersungguh-sungguh itu, yang mendorong A.Fuadi untuk menulis novel ini, berdasarkan pengalaman pribadinya.

Seperti novelnya, film ini berkisah tentang perjalanan Alif, seorang putra Minang yang mengembara ke Pulau Jawa demi menimba ilmu di pesantren bertajuk Pondok Madani, setara tingkat SMA. Di sana, ia berkarib dengan lima orang teman (Said, Raja, Dulmajid, Atang, Baso) yang lalu menahbiskan diri sebagai shahibul menara-karena kebiasaan berkumpul di bawah menara. Di bawah menara itu pula, mereka memancang mimpi untuk mengunjungi lima menara ternama di dunia, suatu saat kelak. Bagaimana perjuangan mereka selama belajar di Pondok Madani? Apakah keinginan Alif yang dulu, untuk bersekolah di SMA sudah sepenuhnya hilang setelah bersekolah di Pondok Madani? Lalu, apakah mimpi-mimpi keenam shahibul menara itu kelak mewujud nyata?

Film diawali dengan penolakan Alif untuk masuk pesantren seperti saran Amak (ibu)-nya. Pemeran Alif (Gazza Zubizzaretha) cukup berhasil mengekspresikan kegalauan akan pilihan sekolah itu, pun ketika ia sudah menjejakkan kaki di Pondok Madani. Sifat pendiamnya dapat tertangkap dari bahasa tubuhnya. Tokoh-tokoh lain memang tidak persis seperti yang ada di novel. Atang, misalnya. Tidak ada kacamata yang biasa melorot di hidungnya, karena Atang di film ternyata tidak berkacamata. Namun, logat bicara dan gerak-geriknya, pas mewakili tipikal orang Sunda. Juga tokoh-tokoh lain, namun perbedaan tersebut tidak terlalu prinsipil. Hanya cukup mengganggu juga, peran Kiai Rais diperankan oleh Ikang Fawzi. Aura kharisma kiai besar- Sang Renaissance Man- itu kurang tampak. Yang patut dihargai adalah usaha para artis untuk mampu berdialog khas Minang, sedang mereka bukan berasal dari sana, semisal Gazza Zubizzaretha (Alif), Lulu Tobing (Amak), dan Sakurta Ginting (Randai).

Mengharapkan isi novel akan terakomodir seluruhnya dalam film, tentu tidak fair. Jalinan cerita nan panjang tidak mungkin terangkum dalam film berdurasi kurang lebih 2 jam ini. Bukan hanya beberapa bagian yang tidak ditampilkan, namun ada juga bagian yang tidak ada di buku justru hadir dalam film. Improvisasi seperti pada adegan perdana di kelas, saat Ustadz Salman mendemonstrasikan keberhasilan memotong kayu dengan sebilah golok tumpul dan berkarat, lebih menguatkan ilustrasi semangat Man Jadda Wajada. Semangat yang mendidih itu terasa lebih menggelora.

Bagian shahibul menara yang berlibur ke Bandung, ke tempat tinggal Atang, sayang sekali tidak ditampilkan seperti dalam buku. Adegan mereka berkeliling bersepeda melintas sekolah khusus putri, tidak perlu dipasang dengan porsi panjang sampai Baso terjatuh dari sepeda. Yang penting justru menghadirkan bagian ketika Atang, Alif, dan Baso berceramah di masjid Unpad dalam 3 bahasa (Arab, Inggris, dan Indonesia) yang lebih mencirikan bahwa santri-santri itu piawai berpidato dalam bahasa asing. Penampilan mereka yang gemilang dan membuat hadirin terpukau, rasanya akan menjadi bagian dari film yang juga akan memikat penonton, dan nafas Pondok Madani akan lebih terasa. Entah apa pertimbangannya, bagian itu malah tidak ada.

Tampaknya film ini ingin menyiratkan bahwa Islam itu terbuka. Terlihat dari adegan saat Kiai Rais, pimpinan pondok pesantren yang kharismatik itu, dengan fasih membetot senar gitar dalam irama musik masa kini. Ini dilakukan beliau saat melihat Raja berlatih gitar dengan kurang mantap. Dan yang lebih ekstrim lagi adalah saat pertunjukan seni dari setiap kelas. Ternyata penampilan hip-hop hadir juga di sana.

Suasana persahabatan keenam shahibul menara, cukup asyik. Mereka saling mendukung, bahu membahu, dan bekerja sama dengan kompak. Kelucuan-kelucuan mewarnai interaksi mereka. Pun suasana mengharu biru terasa menyentuh, semisal kala perpisahan dengan Baso, tidak dapat terelakkan. Akting para pemain yang kesemuanya adalah artis baru, yang lolos dari audisi yang digelar di enam kota di Indonesia, cukup apik dan natural.

Beruntung, setting Pondok Madani benar-benar mengambil lokasi Pondok Modern Gontor. Kalau tidak, tentu akan menuai protes penonton, karena di situlah ruh kisah ini. Namun lagi-lagi sayang, suasana belajar yang keras, penuh perjuangan, bahkan melelahkan, tidak muncul di film. Tidak ada sahirul lail yaitu saat-saat belajar keras untuk menghadapi ujian pada waktu tengah malam hingga subuh. Santri-santri membuka buku pelajaran di tengah malam buta dengan semangat belajar yang menggila, ditemani kopi dan lampu semprong. Melawan kantuk yang hebat menyerang, semua bertekad untuk siap menghadapi ujian. Namun yang tampak, lebih banyak keenam shahibul menara itu beristirahat di bawah menara.

Terlepas dari bagian yang ada menjadi tidak, juga sebaliknya yang tidak ada menjadi ada, sesungguhnya spirit yang ingin disampaikan adalah tetap semangat Man Jadda Wajada. Maka, selagi menikmati film ini, dengan setting alam nan permai, atmosfer pesantren dengan ribuan santrinya, serta backsound musik yang manis, rasailah semangat itu menjalar ke dalam diri dan menginspirasi.

1 komentar: