Minggu, 27 Oktober 2013

Perjalanan Kisah Seorang Tokoh Fenomenal


Judul Buku                  :  Ayah …
Penulis                         :  Irfan Hamka
Penerbit                       :  Republika Penerbit
Terbit                           :  Cetakan I, Mei 2013
Tebal Buku                  :  xxviii + 321 halaman
ISBN                           :  978-602-8997-71-3

Buya Hamka layak disebut sebagai tokoh fenomenal. Betapa tidak, beliau seorang cendekiawan yang tidak hanya diakui kehebatannya di tanah air, namun hingga ke manca negara, sementara pendidikan formal di tingkat dasar pun justru tak dikecapnya hingga tamat.

Adalah Irfan Hamka, putra kelima Buya Hamka, menuliskan kisah tentang ayahnya dalam buku setebal 320 halaman. Di dalamnya memuat perjalanan lengkap sepanjang masa kecil kecil penulis hingga berpulangnya Buya Hamka ke haribaan Ilahi. Penulis memaparkan Buya Hamka sebagai ayah, ulama, pejuang, sastrawan, budayawan, dan politisi.

Sebagai ayah, Buya Hamka adalah sosok yang tegas namun lembut. Beliau tidak pernah memukul. Namun sangat marah bila anaknya lalai dalam shalat dan mengaji. Nasehat yang diberikan sangat bijak, berupa uraian yang dialogis, bukan semata perintah yang berlaku saklek.

Pahit getir perjuangan semasa agresi Belanda ke-2 tahun 1948, mengawali tuturan penulis. Sebagai seorang 
pimpinan Front Pertahanan Nasional (FPN), Buya Hamka termasuk orang yang dicari Belanda untuk ditangkap (halaman 15). Demi menghindari Belanda, keluarga harus mengungsi. Mereka menempuh perjalanan panjang dan melelahkan, masuk keluar hutan, menyeberangi sungai berarus deras. Di bagian lain, dituturkan juga pengalaman menegangkan saat Buya Hamka dan putranya menghindari patroli Belanda. Bagaimana mereka sekian lama berendam dalam kubangan, menunggu Belanda lewat. Dan ketika keluar dari kubangan, tubuh mereka telah dipenuhi lintah-lintah yang mengisap darah (halaman 240).

Kegigihan Buya Hamka dalam menimba ilmu, sungguh patut dijadikan teladan. Meski tidak tamat sekolah umum maupun sekolah agama, beliau mengejar ketinggalannya dengan belajar sendiri. Kegemarannya membaca menjadi jalan pembuka baginya untuk melahap segala ilmu pengetahuan. Ketika berusia 13-14 tahun, Buya Hamka telah membaca pemikiran-pemikiran Djamaludin Al-Afgani, dan Muhammad Abduh dari Arab. Sedang dari dalam negeri, pemikiran-pemikiran HOS Tjokroaminoto, KH Mas Mansur, dll, telah dikenalnya pula. Bagaimana kemudian Buya Hamka dengan tekad membaja merantau ke Jawa hingga melanglangbuana ke Mekah demi menimba ilmu, dipaparkan lengkap. Dan akhirnya Buya Hamka mendapat gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, pada tahun 1959.

Lika-liku memulai jalan dakwah di tanah air, turut mewarnai perjalanan kisah Buya Hamka. Salah satu yang bisa dilihat adalah keberadaan Masjid Al-Azhar beserta lembaga pendidikannya.

Dalam politik, Buya Hamka turut berperan. Beliau tokoh besar Masyumi dan Muhammadiyah. Tulisan-tulisan beliau pun turut berbicara. Dan sebagai sastrawan non komunis, beliau menjadi sasaran serangan strategis. Koran komunis memberitakan bahwa karyanya yang berjudul “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” adalah hasil jiplakan. Kemudian Buya Hamka ditangkap atas tuduhan terlibat dalam komplotan yang berencana membunuh Presiden Soekarno. Beliau dipenjara selama 2 tahun 4 bulan tanpa diadili.

Betapa Buya Hamka seorang yang berjiwa besar dan pemaaf, diperlihatkan dalam hubungannya dengan para penentang yang membencinya. Tidak tersisa dendam dalam hatinya, beliau tulus memaafkan Presiden Soekarno, Mohamad Yamin, dan Pramudya Ananta Toer. Sebuah episode yang mengharukan dan menyentuh.

Di balik kesuksesan laki-laki, ada perempuan hebat di dalamnya. Demikian pun Buya Hamka. Melengkapi kisah dalam buku ini, penulis menceritakan pula bagaimana sepak terjang istri beliau, yang dipanggil Ummi. Menelusuri kisahnya, tergambar betapa Buya Hamka sangat mencintai dan membanggakan istrinya.


Dari babak demi babak kehidupan seorang Buya Hamka, terhampar berjuta hikmah dan teladan. Keikhlasan dan keteguhan dalam berjuang, menjadi pegangan kuat. Kecintaannya pada buku menjadikannya seorang yang berilmu dan berpandangan luas. Dan karya tulisnya mengabadi dengan tinta emas sebagai warisan tak ternilai.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar